6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rujak Cingur Bu Mah, Kuliner Hibrid yang Unik dan Legendaris di Pasar Atom Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
November 9, 2024
in Kuliner
Rujak Cingur Bu Mah, Kuliner Hibrid yang Unik dan Legendaris di Pasar Atom Surabaya

Warung Rujak Madura "Bu Mah" | Foto: tatkala.co/Jaswanto

TEPAT di bawah plang toko kue dan roti Kim Sen-Pia yang sudah berdiri sejak 1983 itu, di lantai dasar Pasar Atom Surabaya, berdempetan dengan lapak jeruk peras Oma dan lapak jamu tradisional AMM, terletak sebuah warung rujak sederhana dengan pengunjung yang tak putus-putus. Pergi satu datang tiga; mungkur empat antrean masih berlipat. Ya, orang-orang itu rela antre dan berdesak-desakan hanya untuk sebuah rujak.

“Yang mana ini duluan? Mbak yang sabar, ya. Antre!” seru seorang ibu bermasker sambil terus menggerakkan ulekannya. Ia sedang menghaluskan bumbu rujak di sebuah cobek berukuran raksasa. Melihat caranya ngulek, jelas ia bukan seorang amatiran.

Dan lihat, bahkan kedua kakinya tak berpijak di lantai, melainkan berdiri di atas kursi plastik mini yang kerap kita temui di tempat-tempat kolam pemancingan anak-anak—yang ikan-ikannya terbuat dari plastik dengan magnet di mulutnya itu.

Sementara seorang bapak bermata sipit—di sini banyak orang peranakan Tionghoa (Cindo) yang suka makan rujak cingur—mengunyah kerupuk sambil menunggu pesanan, sembari tertawa heran seorang ibu merekam perempuan yang ngulek bumbu dan berdiri di atas kursi cebol itu dengan telepon genggamnya.

“Soalnya mejanya tinggi,” ucap sosok yang direkam sambil terkekeh. Ialah Bu Mah, perempuan di balik Warung Rujak Madura “Bu Mah”—warung rujak cingur yang tak pernah sepi itu.

Warung rujak Bu Mah berdiri sekira 20 tahun yang lalu, sekitar 2004. Dan sejak itu pula, karena rasanya yang khas, menarik banyak orang untuk kembali dan membeli lagi, sampai menjadi pelanggan setia. Belakangan, warung rujak ini menjadi viral di media sosial sebab banyak direkam dan masuk konten para food vloger dari mana-mana, tak hanya asal Surabaya.

Rujak cingur Bu Mah memiliki dua varian. Pertama disebut matengan; kedua mentahan. Matengan berisi lontong, tahu, tempe, sayur (kangkung dan kecambah rebus), cingur, dan mentimun krai (blungko dalam bahasa orang Tuban bagian barat). Sedangkan mentahan terdiri dari bengkuang, pepaya, nanas, dan kedondong.

“Tapi campur [matengan dan mentahan] juga bisa,” terang Bu Mah.

Kunci rahasia kelezatan rujak Bu Mah ada pada petis yang digunakan, yaitu petis madura yang hitam pekat dan cenderung asin-gurih. Tak sampai di situ, yang membuatnya unik adalah, di dalam racikan bumbunya yang terdiri dari petis madura, gula merah, cabai, asam jawa, dan kacang tanah, ada pisang batu (kluthuk) muda yang diparut sekulit-kulitnya—ya, tanpa dikupas, kata yang punya warung.

Rujak cingur Bu Mah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tak jelas apa alasan di balik penggunaan pisang muda yang tak dikupas itu. Yang terang, sang penjual hanya mengatakan pokoknya seperti ada yang kurang kalau dikupas atau malah tidak memakainya sama sekali. “Kurang lengkap rasanya,” ujarnya.

Selain itu, satu lagi yang khas dari rujak cingur Bu Mah, tempenya digoreng hingga kering, kriuk dan gurih—dan memang sudah begitu dari dulu.

Kuliner Hibrid

Rujak cingur merupakan kuliner khas Jawa Timur yang banyak ditemui di jalan-jalan Kota Surabaya dan sekitarnya. Cingur dalam bahasa Jawa Timur berarti congor atau mulut/moncong—tepatnya di daerah sekitar hidung, bibir, dan dagu—sapi. Cingur akan direbus lama dengan mempertahankan tekstur kekenyalannya. Cingur merupakan bahan utama dalam pembuatan rujak unik ini. Dari sanalah namanya disematkan.

Petis madura di warung Bu Mah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Beberapa penjual rujak cingur, kadang memasang cingur secara utuh sebagai bagian dari kepala sapi, untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar memakai cingur dan bukan hanya kulit (kikil) atau kaki sapi.

Sebagaimana telah disinggung di atas, rujak cingur adalah makanan yang terdiri dari sayuran, seperti kangkung dan kecambah rebus, irisan tahu, tempe, lontong, cingur rebus, dan beberapa irisan buah, yang disiram dengan bumbu kacang dan petis sehingga warnanya cokelat/kehitaman.

Dalam kasuk-kusuk warganet di media sosial, rujak cingur disebut berasal dari Mesir dan merupakan makanan kesukaan Raja Firaun. Itu jelas lelucon alih-alih data sejarah. Tak ada sumber pasti terkait hal konyol semacam itu. Dan belakangan terbukti itu hanya ulah seorang yang hendak mencari sensasi.

Rujak cingur merupakan kuliner yang unik. Ia disebut rujak tapi penampilannya lebih mirip pecel. Dan menurut dugaan Ary Budiyanto, dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, sebagaimana dituliskan Dahlia Irawati dalam Rujak Cingur, Hibriditas Rujak Buah dan “Djanganan” dari Jawa yang terbit di Kompas (2021), makanan ini adalah bentuk hibrid (persilangan) antara rujak buah dan djanganan.

“Djanganan”, dalam buku yang ditulis Nonna Cornelia, Kokki Bitja, atau, Kitab Masak-Masakan (H)India, Jang Baharoe dan Samporna (tahun 1864) terbitan Cornell University, merupakan salah satu resep kuliner kolonial.

Menurut buku tersebut, djanganan adalah masakan yang terdiri dari kacang panjang, tauge, kol, daun kacang, mentimun, kangkung, dan buncis, yang disiram dengan campuran bumbu cabe, gula merah, terasi, kemiri bakar, asam, dan petis. Dan bisa jadi, rujak cingur juga merupakan gabungan antara pecel sayur dan rujak buah.

Ragam Budaya

Penggunaan petis sebagai bumbu penting dalam rujak cingur, termasuk warung rujak Bu Mah, dapat dilihat sebagai bentuk keragaman produk budaya. Dan dalam buku Monggo Dipun Badhog, Duku Imam Widodo menyebut petis sebagai bagian dari makanan khas orang Surabaya.

Bahkan, petis digambarkan menjadi simbol interaksi antarsuku di sana. Petis banyak didatangkan dari daerah lain, seperti Sidoarjo, Madura, Gresik, atau Lamongan. Selat Madura yang kaya beragam hasil laut membuat kota pesisir ini kaya akan jenis-jenis petis. Ada petis ikan, petis udang, ataupun petis lorjuk.

Warung Rujak Madura “Bu Mah” yang selalu ramai | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tapi menurut ahli gastronomi peranakan Tionghoa, Aji Chen Bromokusumo, dalam tulisannya di web Budaya Tionghoa, bahwa petis yang enak selama ini merupakan buatan keturunan Tionghoa di pesisir utara Jawa, seperti Brebes, Tegal, Pekalongan, Semarang, termasuk Sidoarjo. Dan ia menduga petis sudah ada di pesisir utara Jawa pada abad ke-7.

Saat itu, pelabuhan-pelabuhan di utara Jawa menjadi hub atau penghubung antara masyarakat lokal dan dunia internasional. Jelas, selain berdagang, pun terjadi tukar menukar ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pengawetan makanan, dalam hal ini untuk produk perikanan.

Sedangkan menurut Ary Budiyanto, dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, petis sudah banyak dipakai untuk sebagai sambal sejak dahulu kala—dan itu tertuang dalam Serat Centhini.

Banyak orang berpendapat, masyarakat Surabaya menyukai petis udang berwarna kehitaman (petis madura), seperti yang digunakan Bu Mah dalam rujak cingurnya. Di Surabaya dan sekitarnya, petis banyak digunakan dalam bumbu masakan, dibandingkan dengan daerah lain yang juga memproduksi petis. Selain rujak cingur, ada pula sajian yang menggunakan petis sebagai bumbu utamanya, yakni asinan sayur—yang merupakan akulturasi dengan budaya Tionghoa.

Sampai di sini, terlepas dari narasi di atas, bagi penyukanya, rujak cingur adalah surga. Perpaduan kesegaran buah dan sayuran, serta daging cingur kenyal namun tidak alot, kemudian disiram bumbu (terdiri dari petis, kacang, cabe, dan terasi yang dilumat halus pakai ulekan batu), sungguh tak ada duanya.

Jangan terlalu pedas, sebab sensasi petisnya akan terasa sia-sia. Untuk melengkapi sepiring rujak cingur, bisa ditambah dengan kerupuk uyel renyah yang sesekali bisa dicocolkan ke bumbu. Kriuk… gurih, asin, manis, pedas, bercampur menjadi satu.

Bumbu rujak cingur Bu Mah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Rujak cingur sudah menjadi semacam landmark Kota Surabaya. Ia seperti gudeg yang menjadi “nama lain” Yogyakarta. Atau lalapan yang selalu melekat di nama depan Lamongan—yang selalu ada di mana-mana. Dan rujak cingur Bu Mah di Pasar Atom Surabaya, jelas tak boleh dilupakan.

Berkunjunglah ke sana, selain karena rasa rujaknya yang enak, siapa tahu Anda bernasib baik seperti lirik lagu Is Haryanto berjudul “Rek Ayo Rek” yang booming tahun 1970-an itu: Sopo ngerti nasib Awak lagi mujur. Kenal anake sing dodol rujak cingur.

Di Warung Rujak Bu Mah, selain menyediakan rujak cingur, juga ada rujak madura, rujak manis, rujak tolet, dan rujak gobet.[T]

Semangkuk Gule dan 20 Ekor Kambing Muda untuk Kenikmatan Menonton Voli Tajun Cup
Ayam Gecok: Kuliner Khas Desa Wisata Cikakak di Banyumas
Roti Kembang Waru, Ikon Kuliner Khas Kotagede Yogyakarta

Tags: kulinerkuliner nusantararujak cingurSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Subak Spirit Festival 2024, Pesta Rakyat, dan Usaha Pemuliaan Air

Next Post

Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita: [Aksioma Gen Z di Negeri Sakura]

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
0
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa...

Read moreDetails

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

by Dian Suryantini
October 5, 2025
0
Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

SEJAK pukul 16.00 wita, anak-anak di Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan, telah berkumpul di sawah. Mereka sedang menanti...

Read moreDetails

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

by Nyoman Budarsana
September 15, 2025
0
Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Makan di Warung Badak, serasa ada di desa tradisional yang damai. Restoran yang terletak di Jalan Badak I No.15, Desa...

Read moreDetails

Mencicipi 70 Varian Sambal Kerajaan dari 9 Puri di Bali Royal Chili Festival 2025

by Nyoman Budarsana
September 1, 2025
0
Mencicipi 70 Varian Sambal Kerajaan dari 9 Puri di Bali Royal Chili Festival 2025

ADA pemandangan menarik ketika para undangan dan pengunjung The Amazing Taman Safari Bali dipersilakan mencicipi sambal serangkaian dengan Bali Royal...

Read moreDetails
Next Post
Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita: [Aksioma Gen Z di Negeri Sakura]

Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita: [Aksioma Gen Z di Negeri Sakura]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co