23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serunya Lomba Ngibing PSB Buleleng: Dari Gaya Merayu Cewek, Odong-odong, hingga Macan Tutul

Son Lomri by Son Lomri
November 4, 2024
in Khas
Serunya Lomba Ngibing PSB Buleleng: Dari Gaya Merayu Cewek, Odong-odong, hingga Macan Tutul

Komang Hendi Darmawan ngibing bersama penari Komang Erni Sri Wahyuni | Foto: tatkala.co/Son

DI atas panggung, penari memiliki hak dalam mengeksplorasi gerakan dengan tubuh yang ia punya juga pakemnya sebagai penari. Dan pada perlombaan ngibing di Sasana Budaya oleh Paguyuban Seniman Bali (PSB) Buleleng pada Minggu, 3 November 2024 malam itu, seakan mengembalikan tarian Joged Bumbung dari nilai sempit, Joged Jaruh—alias porno itu, kepada ranahnya yang sesuai: keindahan dan hiburan rakyat.

Erotisme pada tubuh penari, terutama dalam tarian Joged Bumbung, tidak bisa dielakkan. Tapi, bagaimana cara pengibing memandang, adalah bagian terpenting menjadikan tarian itu sebagai gerak estetika dan merdeka.

Penari perempuan dan pengibing—yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan—umumnya membangun cerita di atas panggung secara spontan, dan menarik.

Di panggung Sasana Budaya malam itu, misalnya. Para penonton yang di dalamnya terdiri dari anak-anak dan para orang tua itu, seakan mendapat satu hiburan yang hidup. Mereka menebak-nebak cerita si penari dan si pengibing di atas panggung menceritakan apa.

Ketika alat musik gamelan (rindik) dari bambu itu sudah ditabuh, Komang Erni Sri Wahyuni (28), penari Joged dari Seka Joged Karya Remaja, Desa Sari Mekar, Buleleng, sebagai penampil pertama datang dengan gerakan yang realtif pelan, lemah gemulai.

Komang Hendi Darmawan ngibing bersama penari Komang Erni Sri Wahyuni | Foto: tatkala.co/Son

Tangannya meliuk dengan jari-jari yang lentik. Kakinya pelan, dengan anggun membawakan tarian dan tubuh cantiknya. Puspa Winangun, itulah nama tabuh yang mengiringi Komang Erni menari.

Tabuh dan tarian itu mempresentasikan gadis desa yang sedang kasmaran. Perawan. Komang Erni membawakannya dengan penuh perasaan dan penghayatan. Di tengah tarian, setelah ia menggibaskan slendangnya—yang seperti menggibaskan rambutnya yang panjang itu—kipas dikibarkannya di tengah tarian. Ia menari dengan kipas. Ia menari dengan cantik dengan jiwanya yang berbunga-bunga.

Sementara Erni masih menari, dari arah barat, Komang Hendi Darmawan (48), penonton, di dorong teman-temannya untuk segera ngibing. Tampaknya, ia agak malu-malu. Itulah barangkali cerita yang hendak dibangun.

Komang Erni Sri Wahyuni mendapat ibingan macan tutul dari seorang pengibing | Foto: tatkala.co/Son

Di atas panggung, beberapa langkah ia berjauhan dengan Komang Erni, seperti memberi space percakapan batin barangkali.

Lelaki paruh baya itu kemudian ngibing dengan lihai. Tangannya meliuk dengan badannya yang lincah berpindah pijak. Matanya penuh rayuan. Sebuah awalan yang bagus untuk menyambung cerita: didorong-dorong teman.

Sederhananya Etika Ngibing

“Saya suka ngibing. Tadi itu gaya merayu..” kata Komang Hendi. “Bahwa lelaki, saat mendekati perempuan, itu tidak boleh terburu-buru, kita harus memberikan waktu dan membuat penasaran si perempuan,” lanjutnya.

Pandangan Komang Erni seketika tajam, seperti mempertanyakan siapa lelaki yang datang itu, sebagaimana ia mencitrakan sebagai gadis desa dalam buruan lelaki yang misterius. Ia lalu menarikan, sesuai apa yang diwacanakan—cerita yang dibangun Komang Hendi.

Mula-mula mereka berjauhan, musik seketika berubah menjadi cepat. Mereka berdekatan kemudian, seakan memberi isyarat, lelaki itu telah berhasil membujuknya—untuk didekati. penonton bersorak, anak-anak bersorak. Tarian itu selesai dengan salaman.

Tu Meli ngibing dengan Fitri Yudiastuti | Foto: tatkala.co/Son

“Dalam ngibing, yang penting tidak boleh melakukan tindakan yang tidak senonoh. Itu gak boleh. Harus sopan, harus berseni, menghibur!” tegas Komang Hendi.

Berbeda dengan Dida (20) dalam gaya ngibing-nya. Ia justru melakukan gaya tarian macan tutul—istilahnya sendiri—yang agresif. Dari arah yang sama, barat, ia menekuk lututnya dan sorot matanya sangat tajam seakan macan sedang melihat mangsanya.

Tetabuhan semakin keras—melihat agresifitas Dida. Ia menarikan gaya macan kemudian. Tangan seperti hendak mencakar. Ia seperti mempresentasikan sebagai lelaki penuh energik dan kesatria. Sesekali ia mengelilingi tubuh sang penari. Ketika musik pelan, ia mendekati penari itu.

Di sini, Komang Erni seperti ketakuan. Ia mencitrakan gadis desa yang difensif. Tetapi di tengah cerita bahwa lelaki itu ksatria, ia menari mendekati Didu. Mereka menari dengan harmonis.

Ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak saat menonton lomba ngibing PSB | Foto: tatkala.co/Son

Di sini, gaya tarian pada pengibing dan penari, memiliki kontak sosial dalam membangun cerita, barangkali melalui batin tadi. Bagaimana konflik diciptakan dengan plot yang spontan. Tentu, ini tidak mudah dan di situlah salah satu bagian menghiburnya. Bercerita.

Seperti pada penari yang ke dua, Fitri Yudiastuti (40), di sana ia menarikkan tarian Sekarjepun lebih dulu.

Pada tarian yang ia bawakan, lebih energik dari tarian Puspa Winangun. Tarian Sekarjepun adalah tarian yang mengisahkan tentang bentuk kegembiraan para petani pasca panen. “Sebab itulah tariannya energik. Berbeda dengan tarian sebelumnya yang lebih lembut,” kata Fitri.

Sebagai peserta ngibing, Tu Meli (25) yang juga memiliki latar belakang penari, seolah tahu apa yang harus dilakukan. Ia ngibing dengan energik pula. Bahkan, di tengah mengibing, seperti sudah paham, si penari meladeni Tu Meli dengan gerakan odong-odong (numpak jaran), pergi mengitari space di panggung dengan cara berantai, atau sebagaimana odong-odong itu pergi berjalan. Hepi. Geyal-geyol, Semeton.[T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Kesenian Joged Bumbung, Warisan Budaya yang Populer dan Problematik
Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda
Tari Joged, Dulu Dipingit, Kini Diumbar
Ratih Ayu Apsari Kampanye Joged Bumbung di Jalanan Berkeley, California
Seribu Mahasiswi Undiksha Menari Joged Bumbung Serentak, Bayangkan Betapa Hebohnya…
Tags: joged bumbungjoged jaruhngibingPaguyuban Seniman BaliTari Joged Bumbung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Bahasa Bali dari Komik Beluluk

Next Post

Merajut Keberagaman, Belajar Buddhisme Hingga ke Negeri Gajah Putih Bersama Para Bikkhu

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Merajut Keberagaman, Belajar Buddhisme Hingga ke Negeri Gajah Putih Bersama Para Bikkhu

Merajut Keberagaman, Belajar Buddhisme Hingga ke Negeri Gajah Putih Bersama Para Bikkhu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co