3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesenian Joged Bumbung, Warisan Budaya yang Populer dan Problematik

Jaswanto by Jaswanto
July 6, 2024
in Liputan Khusus
Kesenian Joged Bumbung, Warisan Budaya yang Populer dan Problematik

Merry Gita saat menari Joged | Foto: Dok. Merry

MALAM baru saja mendaulat Kota Denpasar saat I Made Yoga Suputra, Ketua Sekaa Gita Semara, menyambut beberapa peneliti kesenian dan kebudayaan di rumahnya di Desa Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, Jumat (21/7/2023).

Para peneliti itu hendak menanyakan beberapa hal terkait ekosistem Tari Joged Bumbung yang berkembang di Denpasar. Penelitian tersebut merupakan salah satu program dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV yang bekerja sama dengan Mulawali Institute.

Di sebuah sekepat atau balai bengong itu, Yoga mempersilakan para peneliti untuk duduk dan menunggunya barang sebentar. Di sana, di sekepat itu, terdapat beberapa buah rindik—alat musik tradisional Bali dari bambu yang dimainkan dengan cara dipukul—yang bagus sekali. Wadahnya diukir dengan motif khas Bali.

Tak berselang lama Yoga keluar dari rumahnya dengan membawa beberapa minuman untuk para tamunya. Sebuah keramah-tamahan orang Bali pada umumnya. Dan setelah sedikit berbasa-basi, proses wawancara dilakukan dengan santai, cair, mengalir, seperti ngobrol biasa di warung kopi.

“Daerah Penatih adalah salah satu wilayah yang cukup aktif dalam pelestarian kesenian Joged Bumbung di Denpasar,” ungkap Yoga menjawab pertanyaan peneliti sekaligus mengawali ceritanya.

Menurut Yoga, beberapa sekaa Tari Joged di Penatih tak hanya sekadar melestarikan tariannya; tapi juga sebagai distributor alat-alat gamelan iringannya. “Meskipun untuk pembuatan alat musik iringan Joged di Denpasar sudah sulit ditemukan. Pengrajin alat gamelan Joged umumnya berasal dari kabupaten lain,” ujarnya.

Kesenian Joged Bumbung merupakan tarian dengan gerakan yang cenderung lembut dan alunan musik yang tidak menegangkan seperti yang ditemukan di tarian Bali pada umumnya. Dalam terminologi Bali, Joged Bumbung termasuk ke dalam kesenian balih-balihan.

Berbeda dengan tari wali dan bebali, tari balih-balihan cenderung fokus pada aspek artistik, yang kemunculannya di masyarakat sebagai sarana hiburan atau media melepas penat. Meski demkian, Joged Bumbung juga mengandung pesan atau nilai-nilai di dalamnya.

Salah satu nilai yang terkandung dalam kesenian tersebut adalah nilai sosial yang menggambarkan ciri khas masyarakat Bali yang dikenal sebagai masyarakat cinta damai, ramah, dan memiliki tingkat kebersamaan yang tinggi—dengan kata lain dapat merangkul perbedaan.

Di samping itu, terdapat juga beberapa unsur yang terkandung dalam Joged Bumbung, yakni etika (kaitannya dengan nilai-nilai kesopanan), logika (kaitannya dengan gerak dan teknik), dan estetika (terkait keindahan tari).

Nilai-nilai yang terkandung dalam Joged Bumbung diwujudkan pada konteks di mana tari ini dipentaskan. Sehingga, kehadiran Joged Bumbung kerap dimunculkan dalam kegiatan atau acara perayaan oleh masyarakat Bali dengan maksud untuk membawa kesenangan dan menunjukkan aspek menyama braya. Maka tak salah jika masyarakat Bali menyertakan Joged Bumbung dalam kegiatan atau perayaan pernikahan, HUT organisasi, dan kegiatan perayaan lainnya.

Dikutip dari laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Joged Bumbung—tari pertunjukan yang muncul pada abad ke-19—memiliki fungsi sebagai tari pergaulan atau hiburan (entertainment) yang ditampilkan di luar halaman pura atau di tempat-tempat pertunjukan lainnya.

Pada mulanya, sebagaimana Kadek Suartaya—pemerhati seni budaya sekaligus dosen ISI Denpasar—menulis dalam artikelnya di tatkala.co yang berjudul Tari Joged, Dulu Dipingit, Kini Diumbar, Tari Joged adalah kesenian kesayangan kaum bangsawan era keemasan kerajaan di Pulau Bali.

Pada masa lampau, tulis Suartaya, Joged hanya dipentaskan di lingkungan keraton. Masing-masing puri mengayomi penari Joged. Bahkan, hanya raja yang boleh ngibing penari yang dikoleksinya.

“Pada tahun 1881, seorang petugas kesehatan Belanda, Dokter Yacobs, ketika bertamu di Kerajaan Mengwi, terpesona dengan para penari Joged privat sang raja yang elok-cantik berambut panjang  tersenyum ramah. Para penari Joged yang dijamin hidupnya tersebut, dipingit di lingkungan puri,” tulis Suartaya lagi.

Keberadaan Tari Joged yang tidak boleh dipentaskan di luar tembok keraton itu, lanjut Suartaya, juga dapat ditemukan di Sukawati. Tersebut, seorang penari Joged bernama Ni Wati milik Kerajaan Sukawati yang dijadikan permaisuri (diberi gelar Jero Nyeri) oleh Raja Gianyar, Dewa Manggis VII (1847–1884).

Dalam perkembangannya, kata Suartaya, pada pertengahan abad ke-19 Tari Joged menyebar luas dengan beragam ciri khas (Gudegan, Leko, Adar, Tongkohan, Gandrung). Tari Joged yang pernah dikawal ketat keluarga raja pun tetap bertahan—bahkan hingga kini—dengan sebutan Joged Pingitan dalam pemaknaan sebagai mustika seni tari luhur.

Namun, hari ini, sebagai tarian hiburan yang interaktif, praktik kesenian Joged Bumbung di Bali menjadi hal yang lumrah ditemukan dalam segala acara. Hal tersebut juga diiringi dengan pertumbuhan sekaa Joged di Bali—walaupun hingga saat artikel ini ditulis masih belum ada data statistik yang menyebutkan jumlah pastinya.

Kesenian Joged Bumbung menyebar dengan pesat dan menjadi bagian lekat dengan kegiatan hiburan masyarakat Bali. Selain penyebarannya yang pesat, kesenian Joged Bumbung juga telah banyak bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Sehingga, tidak sedikit tari kreasi Joged Bumbung yang marak ditemukan di masyarakat.

“Persebaran penari Joged Bumbung di Denpasar cukup tinggi, walau tidak semasif di daerah Badung dan Gianyar,” kata Yoga.

Tetapi, meski persebaran Joged Bumbung di Denpasar cukup tinggi, nyatanya jumlah pertunjukan dan pengibing tidak sebanding dengan persebarannya. Sebagaimana disebutkan oleh I Made Yoga Suputra, permintaan terkait pementasan kesenian Joged cenderung lebih banyak berasal dari luar Kota Denpasar. Menurutnya, Joged Bumbung di Denpasar dihidupkan masyarakat melalui acara-acara tiga bulanan, naur sesangi, ulang tahun STT, dll.

“Kadang malah nggak ada penontonnya sama sekali, berbeda dengan di luar Denpasar. Pertunjukan Joged di luar Denpasar itu selalu penuh dengan penonton, termasuk pengibing,” ungkap Yoga sambil tersenyum getir.

Seperti yang telah dijelaskan Yoga sebelumnya, pengibing di Denpasar cukup sedikit dan cenderung itu-itu saja orangnya. Bahkan, dalam beberapa pertunjukan, walau penari sudah melakukan jemput bola untuk menarik penonton laki-laki, nyatanya hanya sedikit saja yang mau mengibing—bahkan kadang nihil.

Sebagai perbandingan, menurut Ni Luh Meriyanti—atau yang akrab dipanggil Merry Gita—seorang penari Joged Bumbung profesional, di kabupaten lain di Bali jumlah pengibing tidak pernah kekurangan.

“Selama saya melakukan pementasan Joged Bumbung di kabupaten lain, pengibing selalu menunjukkan antusiasme yang tinggi. Tidak seperti saat pentas di Denpasar,” katanya, saat ditemui di rumahnya di Desa Adat Jenah, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Sabtu (22/7/2023) sore.

Perubahan dan Problematika yang Terjadi

Bentuk kesenian Joged telah mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Sebagaimana disebutkan oleh Merry Gita, agem (sikap) Tari Joged kini sudah banyak menggunakan sikap Tari Legong yang cenderung lebih kaku.

Menurut Merry, kini pakem gerakan kesenian Joged ada dua versi. Pertama, pakem gerak asli, di mana agem-ageman-nya (sikap/posturnya) tidak kaku atau lebih lembut. Kedua, pakem gerak legong, yang agem-ageman-nya mengikuti agem Tari Legong yang kaku. Sayangnya, pakem gerak yang kedua cenderung lebih banyak digunakan dibandingkan dengan sikap (agem) aslinya.

“Hal ini disebabkan dari pengaruh ajaran dasar yang umumnya mengajarkan Tari Legong atau Condong. Sehingga, ketika beralih untuk menarikan Joged Bumbung, agem yang seharusnya lebih lembut, jadi kaku, mengikuti kebiasaan agem Tari Legong,” jelas Merry.

Dalam kesenian Joged Bumbung, gerakan tari yang lincah sebagai suatu elemen, menggambarkan perasaan suka/riang/gembira, yang merangsang penonton untuk ikut menari bersama. Selain itu, beberapa gerak dalam kesenian Joged yang lebih tenang menggambarkan suasana sedih.

Merry Gita saat menari Joged | Foto: Dok. Merry

Menurut I. G. A Sugiartha dalam “Innovations of Governance in Balinese Joged Bumbung Dance in the Era Of Globalization” (2018), selain perubahan dalam segi agem, dalam beberapa tahun terakhir, praktik Joged Bumbung juga telah mengalami sejumlah perubahan pada aspek etika dan gerakan pada tari.

Pada awal 2000-an, kancah musik Indonesia dihebohkan dengan munculnya artis dangdut pendatang baru bernama Inul Daratista yang populer dengan goyang ngebor-nya. Eksisnya goyang ngebor di Tanah Air, secara tidak langsung, juga memberi pengaruh pada kesenian tradisional Bali seperti Joged.

Pengaruh popularitas goyang ngebor kemudian diadopsi oleh kesenian Joged di Bali dan melahirkan identitas, bentuk baru, yaitu kesenian Joged ngebor yang vulgar dan erotis. Hal tersebut tentu sudah menjadi isu besar bahwa kini Joged Bumbung kerap ditarikan dengan gerakan erotis dengan pakaian yang tidak seharusnya—pakaian kurang bahan.

Kemunculan kesenian JogedNgebor ini diyakini disebabkan oleh hadirnya perkembangan teknologi audio-visual yang menyebabkan konten-konten dengan unsur pornografi menjadi lebih mudah untuk diakses, ditiru, dan dikonsumsi.

Selain mudahnya akses terhadap konten pornografi, pesepsi sejumlah orang yang menganggap bahwa Joged Ngebormerupakan norma yang wajar-wajar saja juga menjadi legitimasi bentuk baru tersebut. Seperti halnya goyang ngebor yang bebas berkembang dan lolos dari sensor.

Akibatnya, masyarakat penggemar kesenian Joged kini memiliki preferensi yang berbeda. Seperti diungkapkan oleh beberapa seniman Jogeddi Denpasar, pesanan atau permintaan pertunjukan JogedNgebor lebih banyak datang dari luar Kota Denpasar. Tidak hanya preferensi penonton atau pengibing yang berubah, tapi preferensi penarinya juga ikut tergerus.

Tidak bisa dimungkiri bahwa kini terdapat beberapa penari yang lebih menggemari kesenian JogedNgebor daripada Joged Bumbung. Atas perubahan tersebut, tidak sedikit pula ditemukan laki-laki yang bertingkah seperti perempuan (queer) yang menjadi penari Joged.

“Biasanya kaum banci atau bencong ini yang mementaskan Joged Ngebor dengan lebih ‘berani’. Mereka seperti tak tahu malu. Nah, perubahan yang tidak terkendali ini telah membawa citra yang kurang baik terhadap kesenian dan pelaku Joged Bumbung,” ujar Merry, yang menari Joged sejak 2014 itu.

Perubahan yang terjadi tidak berhenti sampai di situ. Aspek tabuhan atau gending Joged sebagai musik pengiring juga mengalami perubahan. Bahkan, kini, gending Joged dapat diakses di internet melalui smartphone.

Kecanggihan teknologi menyebabkan banyak penari Joged tidak lagi menggunakan jasa pengiring musik, mereka bisa pentas sendiri dengan hanya mengandalkan gending yang direkam. Hal ini berakibat lesunya sekaa Joged di Bali.

Sebelum teknologi digital berkembang pesat, sekaa atau sanggar Joged Bumbung di Denpasar memang memegang peranan penting dalam distribusi. Namun, setelah teknologi digital menjalar seperti virus, penari bisa mendistribusikan Joged Bumbung sendiri.

Celakanya, pengguna jasa lebih banyak mengundang penari tanpa penabuh—banyak penari Joged menggunakan MP3, tabuh digital, sebagai pengiring—daripada mengundang Joged Bumbung lengkap dengan penabuh. Seperti Merry, berkat teknologi digital, saat sebelum menikah, ia bisa tampil setiap hari dengan intensitas 10 kali pentas dalam sehari tanpa sekaa.

Distribusi Joged Bumbung lengkap dengan penabuh biasanya lebih banyak pentas di pura atau acara festival seperti Denpasar Festival (Denfes) atau Pesta Kesenian Bali (PKB). Meskipun masih ada masyarakat yang mengundang Joged Bumbung lengkap dengan penabuhnya, tapi jumlahnya tidak banyak.

Kondisi ini membuat distribusi kesenian Joged Bumbung menjadi timpang. Pada saat penari Joged tumbuh di mana-mana, penabuh Joged justru mengalami penurunan. Artinya, kenaikan jumlah penari tak sebanding dengan kenaikan jumlah penabuh iringan Joged Bumbung.

Akibatnya, jumlah sekaa yang bertahan tinggal sedikit karena kalah saing dengan tabuh digital dan pendistribusian kesenian Joged Bumbung menjadi tidak lengkap. Dengan begitu, pendistribusian nilai-nilai yang terkandung dalam Joged Bumbung tak lagi menjadi persoalan penting.

Hal di atas yang menjadi kekhawatiran I Made Yoga Suputra. Saat diwawancarai, dia menyesalkan Joged Bumbung yang menggunakan iringan kaset, MP3, sebab itu menjadikan sekaa yang menggunakan gamelan asli kalah saing karena harga sekali pentas lebih mahal daripada mengundang penari tanpa penabuh.

“Kalau menari Joged tanpa penabuh pendapatannya kan diambil sendiri. Tapi kalau pentas sama penabuh atau lewat sekaa, honornya dibagi-bagi. Dan biasanya, masyarakat itu lebih banyak mengundang penari aja, tanpa penabuh, soalnya tarifnya lebih terjangkau,” kata Merry menjelaskan.

Padahal, sebagaimana telah disampaikan Merry Gita, distribusi kesenian Joged Bumbung pada awalnya dimulai dari sekaa (kelompok) atau sanggar Joged Bumbung—yang mengorbitkan penari, entah saat pentas (ngayah) di pura, festival, perlombaan, maupun di acara masyarakat.

Merry Gita sendiri dikenal pada saat pentas di Parade Joged Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2014. Merry mengaku, dari tahun 2014 sampai 2022 dirinya selalu pentas di PKB. Sejak saat itulah, nama Merry Gita dikenal masyarakat luas dan kebanjiran undangan pentas.

Sampai di sini, pemerintah, sekaa, atau sanggar bisa dikatakan menempati posisi penting dalam proses distribusi Joged Bumbung. Hal tersebut dibenarkan oleh I Made Yoga Suputra yang mengatakan bahwa banyak penari Joged Bumbung memang lahir dari sekaa atau sanggar.

Namun, meski lebih banyak mendapatkan honor, menurut pengakuan Merry, menjadi penari Joged tanpa sekaa sebenarnya cukup membahayakan, rawan—terlalu banyak risiko untuk dilecehkan, katanya. Biasanya, karena penari hanya datang sendiri, banyak pengibing yang akhirnya semena-mena memperlakukan penari. “Biasanya pengibing lebih berani kalau kami datang tanpa membawa teman atau kelompok penabuh,” ujarnya.

Meski kondisinya demikian, sejauh ini, Joged Bumbung—khususnya dari Denpasar—sudah dipentaskan di seluruh Bali melalui Sekaa Joged Bumbung Gita Semara. Bahkan, I Made Yoga Suputra mengatakan, pada tahun 2000-an sekaa-nya pernah tampil di TIM, Jakarta.

Menurutnya, Joged Bumbung Gita Semara selalu dinanti karena masih sarat akan nilai-nilai tradisi—walaupun ada beberapa instrumen tambahan seperti simbal, itu pun berfungsi sebatas untuk meramaikan penampilan—tidak sampai erotis. Namun, meski begitu, Yoga mengatakan bahwa di Denpasar Joged Bumbung tidak begitu diminati seperti di Tabanan, misalnya.[T]

Baca juga artikel terkait LIPUTAN KHUSUS atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon
Tari Barong Ket Kunti Sraya di Denpasar: Yang Sakral, Profan, dan Seragam
Gambuh Pedungan: Kesenian Klasik yang Dilematis dan Persoalan Lain di Baliknya
Tags: Kota DenpasarMerry GitaTari Joged Bumbung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Limbah Bunga Canang Menjadi Bahan Diagnostik Kecacingan – Ditemukan Tim Kato-Katz FK Undiksha Singaraja

Next Post

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata | Ketika Sajak Itu Jejak di Sungai

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

by Jaswanto
February 28, 2025
0
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

SEBAGAIMANA Banyuwangi di Pulau Jawa, secara geografis, letak Pulau Lombok juga cukup dekat dengan Pulau Bali, sehingga memungkinkan penduduk kedua...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Jang Sukmanbrata | Ketika Sajak Itu Jejak di Sungai

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata | Ketika Sajak Itu Jejak di Sungai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co