23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Joged, Dulu Dipingit, Kini Diumbar

Kadek Suartaya by Kadek Suartaya
July 12, 2023
in Esai
Tari Joged, Dulu Dipingit, Kini Diumbar

Seorang penari joged bumbung di Taman budaya Bali | Foto: Dok. Kadek Suartaya | Foto hanya ilustrasi

TARI JOGED adalah kesenian kesayangan kaum bangsawan era keemasan kerajaan di Pulau Bali. Pada masa lampau, joget hanya dipentaskan di lingkungan keraton. Masing-masing  puri mengayomi penari joged. Bahkan, hanya raja yang boleh ngibing penari yang dikoleksinya.

Pada tahun 1881, seorang petugas kesehatan Belanda, dokter Yacobs, ketika bertamu di Kerajaan Mengwi, terpesona dengan para penari joged  privat sang raja yang elok-cantik berambut panjang  tersenyum ramah. Para penari joged yang dijamin hidupnya tersebut, dipingit di lingkungan puri.

Keberadaan tari joged yang tidak boleh dipentaskan di luar tembok keraton itu juga dapat ditemukan di Sukawati. Tersebut,  seorang penari joged bernama Ni Wati milik Kerajaan Sukawati yang dijadikan permaisuri (diberi gelar Jero Nyeri) oleh Raja Gianyar, Dewa Manggis VII (1847–1884).

Dalam perkembangannya, pada pertengahan abad ke-19, tari joged menyebar luas dengan beragam ciri khasnya (Gudegan, Leko, Adar, Tongkohan, Gandrung). Tari joged yang pernah dikawal ketat keluarga raja pun, tetap bertahan, bahkan hingga kini,  dengan sebutan Joged Pingitan dalam pemaknaan sebagai mustika seni tari luhur, bahkan bergeser posisinya sebagai tari sakral.

Setelah kemerdekaan RI, keberadaan Joged Pingitan  ditemukan di sejumlah tempat wilayah Sukawati seperti di Pekuwudan, Batuan, dan Tegenungan. Kemudian pada awal kemerdekaan, Joged Pingitan terlihat kewingitan tariannya dan rancak teduh iringan gamelan bambunya di Peliatan. Konstruksi artistik Joged Pingitan  dibingkai alur dramatik, yang lakonnya bersumber dari cerita Calonarang.

Salah satu penari Joged Pingitan legendaris yang dikagumi penonton di tahun 1990-an adalah Ni Ketut Cenik. Di usia rentanya, 88 tahun, ia masih sanggup tampil secara tunggal membawakan sekian peran karakter-karakter pokok cerita Calonarang. Karena  totalitas berkesenian yang ditunjukkan Cenik itulah kiranya seni pentas warisan zaman kerajaan Bali tersebut (Joged Pingitan) masih mencoba bernafas ketika itu.

Namun, setelah berpulangnya seniwati sepuh yang dimasa hidupnya selalu tampak ceria ini, Joged Pingitan terpuruk dan ambruk terkubur. Keberadaan sekaa Joged Pingitan, kini, dapat dihitung dengan satu jari tangan saja yang ironisnya, semuanya pingsan. Diantara sekaa itu adalah yang ada di Banjar Pakuwudan, Sukawati, di mana Ni Ketut Cenik menari utamanya.  Dulu, bersama Cenik,  komunitas seni ini, sesekali masih tampil di lingkungan desanya.

Dilihat dari segi ansambel  pengiringnya Joged Pingitan menggunakan barungan karawitan Bali yang termasuk golongan tua. Instrumentasi dari gamelan Joged Pingitan terdiri dari alat-alat berbilah (xylophone) dari bambu berlaras pelog lima nada. Permainan instrumen-instrumen ini mempergunakan sepasang pemukul dengan tehnik yang jalin menjalin.

Salah satu ciri khas repertoar sajian instrumental gamelan ini disebut gandrangan.  Saat mengiringi tari, gamelan bambu ini memainkan tabuh-tabuh palegongan (genre tari legong atau Legong Keraton).  Selain menyajikan palegongan, Joged Pingitan Pakuwudan selalu menyuguhkan tari Calonarang di mana Ni Ketut Cenik menjadi maskotnya.

Pada masa lalu, diduga kuat antara tari joged   dan perseliran  mempunyai interaksi yang sangat erat. Joged  yang diayomi kaum  bangsawan ini harus setia dan siap mengabdi serta  mentaati segala perintah raja. Menjadi  penari joged milik istana pada saat  itu  merupakan sebuah kebanggaan  yang  tiada  taranya.  Di  samping   menjadi kebanggaan keluarga, juga  menjadi  idola  masyarakat.  

Seorang penari  joged koleksi raja, selain kehidupannya  dan  keluarganya terjamin juga mendapat hadiah sawah. Hadiah-hadiah dan sawah yang diterimanya  inilah  kemudian menjadi tumpuan hidup  para  penari  bila sudah tak terpakai lagi atau sudah tua dan kembali  ke desanya masing-masing.

Joged Bumbung yang kini bergelinjang girang adalah jejak terakhir dari Joged Pingitan. Tapi bila Joged Bumbung khusus mementaskan keriangan ibing-ibingan pasangan penari dan penonton, sedangkan Joged Pingitan tampil serius klasik. Bagian ibing-ibingan-nya berlangsung formal santun. Sajian andalannya, seperti tampak pada Joged Pingitan Pakuwudan adalah tari legong dan drama tari Calonarang-nya.

Foto: Dok. Kadek Suartaya

Dramatari Calonarang Joged Pingitan yang ditampilkan, diawali dengan peragaan tari Sisian (murid-murid Calonarang) dan dilanjutkan dengan tari Matah Gede (Calonarang). Ada pula penokohan Pandung yang bertugas membunuh Calonarang dan terakhir adalah sajian Rangda dan Barong.

Adegen di pekuburan yaitu saat Calonarang unjuk ilmu hitam adalah bagian yang dinanti-nanti penonton. Segenap penghayatan dan interpretasi ngereh yaitu  melukiskan proses ngelingse menjadi  leak  bercanda ria sembari menimang dan mempermainkan mayat orok di tengah malam, membuat penonton bergidik. Sorot matanya yang tajam dan jinjit gerak-geriknya sungguh menyeramkan.

 Bila Joged Pingitan menyeramkan dalam pengejawantahan tafsir estetiknya, kini dengan mudah dapat dipergoki tari Joged Bumbung yang tak kalah “garang” dalam mengumbar ketaksononohan jaruh aksinya. Efek joged porno ini sangat “menyeramkan” secara kultural,  yang begitu bablas mencoreng moreng kesopansantunan serta mengoyak-ngoyak nilai keindahan martabat salah satu kesenian masyarakat Bali.

Memang, di persada Nusantara ini, gelora  birahi  tak  hanya identik dengan tari joged.  Hal serupa dapat pula  dijumpai dalam  seni  pertunjukan  Indonesia sejenis lainnya. Pementasan tayub (Jawa Tengah) tak akan  lengkap tanpa  disertai ulah pengibing yang merogoh kutang dengan  alasan menyelipkan  hadiah  uang di sela payudara penari.  Bahkan  Ronggeng  dan Dombret (Jawa Barat) lebih berbau mesum, akan tetapi biasanya merupakan kesepakan pribadi yang tersembunyi.

Berbeda dengan erotisme vulgar tingkah sejumlah penari dan ulah pengibing tari joged di Bali yang belakangan ini mendunia. Betapa, hand phone (HP) pintar yang kini hampir setiap orang menggenggamnya seakan terasa panas oleh gairah goyang seronok liar konten tari Joged Bumbung belakangan ini, yang berseliweran sambung menyambung. [T]

PKB Kehilangan Sekuni, Berkeliaran di Luar Panggung
Dikisahkan Pengibing yang Jatuh Hati pada Penari Joged Bumbung…
Ratih Ayu Apsari Kampanye Joged Bumbung di Jalanan Berkeley, California
Tiga Upaya yang Sebaiknya Dilakukan Untuk Menyelamatkan Joged Bumbung Klasik
Tags: joged bumbungkesenian baliseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Next Post

Sekaa Gong Belaluan Sadmerta, Gong Kebyar Pertama di Bali Selatan

Kadek Suartaya

Kadek Suartaya

Pemerhati seni budaya, dosen ISI Denpasar.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Sekaa Gong Belaluan Sadmerta, Gong Kebyar Pertama di Bali Selatan

Sekaa Gong Belaluan Sadmerta, Gong Kebyar Pertama di Bali Selatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co