3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Joged, Dulu Dipingit, Kini Diumbar

Kadek Suartaya by Kadek Suartaya
July 12, 2023
in Esai
Tari Joged, Dulu Dipingit, Kini Diumbar

Seorang penari joged bumbung di Taman budaya Bali | Foto: Dok. Kadek Suartaya | Foto hanya ilustrasi

TARI JOGED adalah kesenian kesayangan kaum bangsawan era keemasan kerajaan di Pulau Bali. Pada masa lampau, joget hanya dipentaskan di lingkungan keraton. Masing-masing  puri mengayomi penari joged. Bahkan, hanya raja yang boleh ngibing penari yang dikoleksinya.

Pada tahun 1881, seorang petugas kesehatan Belanda, dokter Yacobs, ketika bertamu di Kerajaan Mengwi, terpesona dengan para penari joged  privat sang raja yang elok-cantik berambut panjang  tersenyum ramah. Para penari joged yang dijamin hidupnya tersebut, dipingit di lingkungan puri.

Keberadaan tari joged yang tidak boleh dipentaskan di luar tembok keraton itu juga dapat ditemukan di Sukawati. Tersebut,  seorang penari joged bernama Ni Wati milik Kerajaan Sukawati yang dijadikan permaisuri (diberi gelar Jero Nyeri) oleh Raja Gianyar, Dewa Manggis VII (1847–1884).

Dalam perkembangannya, pada pertengahan abad ke-19, tari joged menyebar luas dengan beragam ciri khasnya (Gudegan, Leko, Adar, Tongkohan, Gandrung). Tari joged yang pernah dikawal ketat keluarga raja pun, tetap bertahan, bahkan hingga kini,  dengan sebutan Joged Pingitan dalam pemaknaan sebagai mustika seni tari luhur, bahkan bergeser posisinya sebagai tari sakral.

Setelah kemerdekaan RI, keberadaan Joged Pingitan  ditemukan di sejumlah tempat wilayah Sukawati seperti di Pekuwudan, Batuan, dan Tegenungan. Kemudian pada awal kemerdekaan, Joged Pingitan terlihat kewingitan tariannya dan rancak teduh iringan gamelan bambunya di Peliatan. Konstruksi artistik Joged Pingitan  dibingkai alur dramatik, yang lakonnya bersumber dari cerita Calonarang.

Salah satu penari Joged Pingitan legendaris yang dikagumi penonton di tahun 1990-an adalah Ni Ketut Cenik. Di usia rentanya, 88 tahun, ia masih sanggup tampil secara tunggal membawakan sekian peran karakter-karakter pokok cerita Calonarang. Karena  totalitas berkesenian yang ditunjukkan Cenik itulah kiranya seni pentas warisan zaman kerajaan Bali tersebut (Joged Pingitan) masih mencoba bernafas ketika itu.

Namun, setelah berpulangnya seniwati sepuh yang dimasa hidupnya selalu tampak ceria ini, Joged Pingitan terpuruk dan ambruk terkubur. Keberadaan sekaa Joged Pingitan, kini, dapat dihitung dengan satu jari tangan saja yang ironisnya, semuanya pingsan. Diantara sekaa itu adalah yang ada di Banjar Pakuwudan, Sukawati, di mana Ni Ketut Cenik menari utamanya.  Dulu, bersama Cenik,  komunitas seni ini, sesekali masih tampil di lingkungan desanya.

Dilihat dari segi ansambel  pengiringnya Joged Pingitan menggunakan barungan karawitan Bali yang termasuk golongan tua. Instrumentasi dari gamelan Joged Pingitan terdiri dari alat-alat berbilah (xylophone) dari bambu berlaras pelog lima nada. Permainan instrumen-instrumen ini mempergunakan sepasang pemukul dengan tehnik yang jalin menjalin.

Salah satu ciri khas repertoar sajian instrumental gamelan ini disebut gandrangan.  Saat mengiringi tari, gamelan bambu ini memainkan tabuh-tabuh palegongan (genre tari legong atau Legong Keraton).  Selain menyajikan palegongan, Joged Pingitan Pakuwudan selalu menyuguhkan tari Calonarang di mana Ni Ketut Cenik menjadi maskotnya.

Pada masa lalu, diduga kuat antara tari joged   dan perseliran  mempunyai interaksi yang sangat erat. Joged  yang diayomi kaum  bangsawan ini harus setia dan siap mengabdi serta  mentaati segala perintah raja. Menjadi  penari joged milik istana pada saat  itu  merupakan sebuah kebanggaan  yang  tiada  taranya.  Di  samping   menjadi kebanggaan keluarga, juga  menjadi  idola  masyarakat.  

Seorang penari  joged koleksi raja, selain kehidupannya  dan  keluarganya terjamin juga mendapat hadiah sawah. Hadiah-hadiah dan sawah yang diterimanya  inilah  kemudian menjadi tumpuan hidup  para  penari  bila sudah tak terpakai lagi atau sudah tua dan kembali  ke desanya masing-masing.

Joged Bumbung yang kini bergelinjang girang adalah jejak terakhir dari Joged Pingitan. Tapi bila Joged Bumbung khusus mementaskan keriangan ibing-ibingan pasangan penari dan penonton, sedangkan Joged Pingitan tampil serius klasik. Bagian ibing-ibingan-nya berlangsung formal santun. Sajian andalannya, seperti tampak pada Joged Pingitan Pakuwudan adalah tari legong dan drama tari Calonarang-nya.

Foto: Dok. Kadek Suartaya

Dramatari Calonarang Joged Pingitan yang ditampilkan, diawali dengan peragaan tari Sisian (murid-murid Calonarang) dan dilanjutkan dengan tari Matah Gede (Calonarang). Ada pula penokohan Pandung yang bertugas membunuh Calonarang dan terakhir adalah sajian Rangda dan Barong.

Adegen di pekuburan yaitu saat Calonarang unjuk ilmu hitam adalah bagian yang dinanti-nanti penonton. Segenap penghayatan dan interpretasi ngereh yaitu  melukiskan proses ngelingse menjadi  leak  bercanda ria sembari menimang dan mempermainkan mayat orok di tengah malam, membuat penonton bergidik. Sorot matanya yang tajam dan jinjit gerak-geriknya sungguh menyeramkan.

 Bila Joged Pingitan menyeramkan dalam pengejawantahan tafsir estetiknya, kini dengan mudah dapat dipergoki tari Joged Bumbung yang tak kalah “garang” dalam mengumbar ketaksononohan jaruh aksinya. Efek joged porno ini sangat “menyeramkan” secara kultural,  yang begitu bablas mencoreng moreng kesopansantunan serta mengoyak-ngoyak nilai keindahan martabat salah satu kesenian masyarakat Bali.

Memang, di persada Nusantara ini, gelora  birahi  tak  hanya identik dengan tari joged.  Hal serupa dapat pula  dijumpai dalam  seni  pertunjukan  Indonesia sejenis lainnya. Pementasan tayub (Jawa Tengah) tak akan  lengkap tanpa  disertai ulah pengibing yang merogoh kutang dengan  alasan menyelipkan  hadiah  uang di sela payudara penari.  Bahkan  Ronggeng  dan Dombret (Jawa Barat) lebih berbau mesum, akan tetapi biasanya merupakan kesepakan pribadi yang tersembunyi.

Berbeda dengan erotisme vulgar tingkah sejumlah penari dan ulah pengibing tari joged di Bali yang belakangan ini mendunia. Betapa, hand phone (HP) pintar yang kini hampir setiap orang menggenggamnya seakan terasa panas oleh gairah goyang seronok liar konten tari Joged Bumbung belakangan ini, yang berseliweran sambung menyambung. [T]

PKB Kehilangan Sekuni, Berkeliaran di Luar Panggung
Dikisahkan Pengibing yang Jatuh Hati pada Penari Joged Bumbung…
Ratih Ayu Apsari Kampanye Joged Bumbung di Jalanan Berkeley, California
Tiga Upaya yang Sebaiknya Dilakukan Untuk Menyelamatkan Joged Bumbung Klasik
Tags: joged bumbungkesenian baliseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Next Post

Sekaa Gong Belaluan Sadmerta, Gong Kebyar Pertama di Bali Selatan

Kadek Suartaya

Kadek Suartaya

Pemerhati seni budaya, dosen ISI Denpasar.

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Sekaa Gong Belaluan Sadmerta, Gong Kebyar Pertama di Bali Selatan

Sekaa Gong Belaluan Sadmerta, Gong Kebyar Pertama di Bali Selatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co