2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PKB Kehilangan Sekuni, Berkeliaran di Luar Panggung

Kadek Suartaya by Kadek Suartaya
June 14, 2023
in Esai
PKB Kehilangan Sekuni, Berkeliaran di Luar Panggung

Tokoh Sekuni dan Bima dalam sendratari di ajang Pesta Kesenian Bali era tahun 1980 hingga 1990-an | Foto: Dok Kadek Suartaya

SEKUNI ADALAH PROVOKATOR meletusnya Bharatayuda, perang saudara maha dahsyat Korawa versus Pandawa. Dituturkan dalam  epos Mahabharata, jalan damai yang ditawarkan Pandawa sama sekali tidak digubris Duryadana, sulung Korawa, semuanya atas bisikan licik dari Sekuni. 

Tanah Kuruksetra kemudian menjadi saksi pertumpahan darah, ladang pembantaian sesama saudara sebangsa, akibat hasutan keji politikus busuk Sekuni.  Namun otak kotor dan mulut berbisa pejabat tinggi Hastinapura ini akhirnya dapat diberangus Bima. Dikisahkan dalam sebuah perang tanding yang sengit, mulut Sekuni dirobek dan kepalanya dikepruk hancur oleh Bima.

Seni pertunjukan Bali mengenal tokoh ini dengan sebutan Sekuni. Jagat pewayangan Jawa dengan fasih menamai Sengkuni. Sedangkan masyarakat Hindustan  (India),  mengeja nama tokoh antagonis Mahabharata ini dengan Shakuni.

Sekuni adalah paman sekaligus pengasuh dan penasihat para Korawa. Adik Sekuni, Dewi Gandari yang menjadi permaisuri Raja Drestarasta, memuluskan karier Sekuni menempati posisi di lingkaran utama penguasa kerajaan. Sejak belia, putra-putra dari pasangan Drestarasta dan Gandari, dididik oleh Sakuni mencurangi dan memusuhi Pandawa, anak-anak Pandu. Disulut bara kedengkian Korawa yang menghalalkan segala keculasan, Sakuni  sukses mendepak dan mencampakkan Pandawa dalam jurang nista lahir dan batin, berkepanjangan.

Masyarakat Bali yang gandrung menyaksikan pagelaran sendratari di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB), sangat familiar dengan sepak terjang Sekuni. Sendratari Mahabharata yang dipentaskan di panggung Ardha Candra, Taman Budaya Bali, sering menampilkan tokoh Sekuni dalam sajiannya.

Era tahun 1980-2000, dapat disebut masa jaya sendratari PKB dengan salah daya tarik tokohnya, Sekuni. Tidak sedikit penonton begitu antusias menunggu-nunggu kemunculan Sekuni. Bahkan, tak jarang penonton yang awam akan cerita, mengharap tampilnya Sakuni dalam sendratari yang lakonnya bersumber dari cerita Ramayana.

Seni pentas yang sempat menjadi primadona PKB itu tanpa sengaja melumuri karakter Sekuni jadi humoris dan kocak. Sekuni digambarkan tidak hitam pekat tetapi agak abu-abu, cenderung bagaikan pendagel. Masyarakat penonton yang dalam seni pedalangan memahami Sekuni sebagai tokoh sombong, sirik dan dengki, di panggung pesta seni justru jadi  remeh, tukang canda, suka guyon.

Masih ingat? Sekuni yang diperankan dengan khas oleh penari I Made Mundra dalam pengendalian Dalang I Dewa Ngakan Sayang, selalu mampu mengundang gelak ribuan penonton. Adegan yang sering membuat penonton terbahak adalah perang tanding Sekuni menghadapi Bima.

Namun, setidaknya pada lima tahun belakangan, PKB telah kehilangan Sekuni. Pementasan sendratari kolosal yang senantiasa mengundang antusiasisme penonton itu, cenderung mengangkat cerita alternatif di luar epos Mahabharata sebagai sumber lakon.  Tetapi, bayang-bayang Sekuni, kini, kiranya lebih banyak berkelebat di luar panggung, dalam centang perenang alam nyata, khususnya di tengah intrik aneka tikungan-selingkuhan jagat sosial politik.

Sebelum ketokohan Sekuni dieksploitasi miring menghibur di arena PKB, secara tradisional, masyarakat penonton tergiring benci dan antipati dengan tokoh-tokoh antagonis, pada dramatikal seni pertunjukan Bali. Kiranya tidak ada penonton wayang yang meneladani polah Sekuni.

Demikianlah, sekitar tahun 1970-an, tidak sedikit penonton terbawa emosi membenci tokoh antagonis, termasuk hingga kepada pelaku seni yang membawakan peran itu di luar panggung. Sebaliknya, para penonton sangat berempati hingga sampai berurai air mata menyaksikan lara yang dialami tokoh protagonis, misalnya, apakah dalam dramatari Arja atau pun Drama Gong di tahun 1980-an. Ini semua sebagai cermin, nilai moral dalam kandungan sebuah cerita atau dalam seni pertunjukan disetujui kearifan dan saripati pesannya.

Tokoh Bima dan Sekuni dalam sendratari di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB )era tahun 1980-an | Foto: Dok Kadek Suartaya

Rumus konsepsi klasik, kebajikan mengalahkan kebatilan masih berlanjut dijadikan resep lakon seni masa kini yang diulang-ulang dengan berbagai variasi, baik dalam sinetron ataupun dalam kemasan film. Termasuk yang berkaitan dengan tokoh Sekuni dalam garapan film dan sinetron buatan India maupun karya sines tanah air.

Namun jika dicermati secara sekilas, tak terasa adanya letupan emosi penonton yang berlebihan memusuhi Sekuni seperti dulu terjadi pada tokoh-tokoh antagonis seni pertunjukan tradisional kita. Jika bukan hanya dinikmati sebagai sajian pengisi waktu belaka, kiranya telah terjadi pergeseran cara pandang masyarakat di tengah relativitas moral yang simpang siur di dunia nyata, terpampang pada prilaku tokoh-tokoh nyata di sekitar kita.

Jika ditempatkan sebagai tokoh nyata, ada argumentasi atau motivasi “manusiawi”, kenapa Sekuni begitu tega membuat Pandawa hina dan melarat, dikarenakan sakit hatinya kepada Pandu, ayah para Pandawa. Sekuni dan adiknya, Gandari, pernah menjadi tawanan perang Pandu. Sekuni remaja sangat berharap Gandari mau diperistri Pandu yang tampan. Lacur, Pandu yang telah beristri tak hirau dengan kecantikan Gandari. Sekuni tersinggung dan kian dendam, ketika Gandari diserahkan oleh Pandu kepada Drestarasta yang buta.

Gandari sendiri juga merasa dilecehkan dan tidak lagi mau melihat wajah Pandu, lalu menutup matanya dengan kain hitam. Demikian pula Sekuni, dendam dan bencinya pada Pandu menumpuk berkecamuk. Ketika berhasil menjadi pejabat Hastinapura, ia mengpatgulipatkan segala ramuan siasat busuk untuk menghancurkan para Pandawa, anak-anak Pandu.

Di dunia nyata, ulah politikus ala Sekuni bukanlah sesuatu yang tabu. Bahkan tidak sedikit dengan penuh kesadaran yang melakoninya dan berhasil meraup segala hasrat politiknya. Politikus yang menepikan moral ini lazim disebut dengan Machiavellian. Ajaran dari pemikir Italia abad ke-16, Niccolo Machiavelli inilah yang dianut secara sadar dan sengaja oleh  sejumlah politikus dunia dalam merengkuh kekuasaan dengan prinsip “tujuan membenarkan cara”. Tanpa berpretensi memburukkan citra politik, Machiavelli memberikan arah dan gambaran realistis terkait dengan cara-cara pemimpin agar berhasil.

Ajaran  dari  Machiavelli yang menggunakan kontes politik dengan segala cara ini, menjadi perdebatan seru bila dibenturkan dengan moral. Menurut Machiavelli, pemimpin-pemimpin yang baik harus belajar untuk tidak menjadi  baik, berkemauan untuk menyingkirkan moral dari politik, termasuk soal kebaikan, keadilan dan kejujuran. Rupanya, pemikiran Machiavelli ini sebelumnya telah dituturkan dalam epos masyur Mahabharata, seperti yang diejawantahkan Sekuni bersama keponakannya, Duryadana cs.

Kini, dalam pengap gerahnya jagat politik dunia nyata di tanah air Indonesia, gelagat para Sekuni mengemuka begitu pongah, bebal, keblinger, amoral, congkak, sarat intrik, yang, semuanya berujung adalah untuk merengkuh kekuasaan. Ironisnya, mereka sumeringah bangga bila berhasil mengobarkan kegaduhan, kerusuhan, polarisasi dan perpecahan bangsa.

Bharatayuda melukiskan, Sekuni menerima karmanya yang sekarat meregang nyawa secara mengenaskan. Setelah ditumbangkan Sahadewa, dilanjutkan oleh Bima, memporakporandakan tubuh Sekuni yang masih menyisakan nafas. Anggota badannya dilepas-lepas, dicabik-cabik dan dikuliti dengan geram oleh Bima.

Isi kepala Sekuni dihamburkan dan setelah mulutnya dibelah hingga ke bagian telinga, lidahnya ditarik keluar.  Para dalang wayang kulit di Jawa dan Bali juga ada yang menggambarkan percikan daging dari tulang belulang mayat Sakuni berserakan amis, membusuk dengan bau memuakkan di tanah Kusuksetra yang lembab oleh genangan darah manusia.

Anehnya, anjing yang berkeliaran mencari bangkai tak ada yang berselera dengan daging dan tulang Sekuni. Demikian pula burung gagak yang berterbangan memburu santapan, tak ada yang bernapsu dengan bangkai Sekuni. [T]

Tags: kisah pewayanganMahabharataPesta Kesenian BaliSekunisendratariseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Komunikasi dalam Seni Rupa

Next Post

Terus Berkolaborasi, Minikino Mempertegas Posisi Budaya Film Pendek Indonesia

Kadek Suartaya

Kadek Suartaya

Pemerhati seni budaya, dosen ISI Denpasar.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Terus Berkolaborasi, Minikino Mempertegas Posisi Budaya Film Pendek Indonesia

Terus Berkolaborasi, Minikino Mempertegas Posisi Budaya Film Pendek Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co