13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PKB Kehilangan Sekuni, Berkeliaran di Luar Panggung

Kadek Suartaya by Kadek Suartaya
June 14, 2023
in Esai
PKB Kehilangan Sekuni, Berkeliaran di Luar Panggung

Tokoh Sekuni dan Bima dalam sendratari di ajang Pesta Kesenian Bali era tahun 1980 hingga 1990-an | Foto: Dok Kadek Suartaya

SEKUNI ADALAH PROVOKATOR meletusnya Bharatayuda, perang saudara maha dahsyat Korawa versus Pandawa. Dituturkan dalam  epos Mahabharata, jalan damai yang ditawarkan Pandawa sama sekali tidak digubris Duryadana, sulung Korawa, semuanya atas bisikan licik dari Sekuni. 

Tanah Kuruksetra kemudian menjadi saksi pertumpahan darah, ladang pembantaian sesama saudara sebangsa, akibat hasutan keji politikus busuk Sekuni.  Namun otak kotor dan mulut berbisa pejabat tinggi Hastinapura ini akhirnya dapat diberangus Bima. Dikisahkan dalam sebuah perang tanding yang sengit, mulut Sekuni dirobek dan kepalanya dikepruk hancur oleh Bima.

Seni pertunjukan Bali mengenal tokoh ini dengan sebutan Sekuni. Jagat pewayangan Jawa dengan fasih menamai Sengkuni. Sedangkan masyarakat Hindustan  (India),  mengeja nama tokoh antagonis Mahabharata ini dengan Shakuni.

Sekuni adalah paman sekaligus pengasuh dan penasihat para Korawa. Adik Sekuni, Dewi Gandari yang menjadi permaisuri Raja Drestarasta, memuluskan karier Sekuni menempati posisi di lingkaran utama penguasa kerajaan. Sejak belia, putra-putra dari pasangan Drestarasta dan Gandari, dididik oleh Sakuni mencurangi dan memusuhi Pandawa, anak-anak Pandu. Disulut bara kedengkian Korawa yang menghalalkan segala keculasan, Sakuni  sukses mendepak dan mencampakkan Pandawa dalam jurang nista lahir dan batin, berkepanjangan.

Masyarakat Bali yang gandrung menyaksikan pagelaran sendratari di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB), sangat familiar dengan sepak terjang Sekuni. Sendratari Mahabharata yang dipentaskan di panggung Ardha Candra, Taman Budaya Bali, sering menampilkan tokoh Sekuni dalam sajiannya.

Era tahun 1980-2000, dapat disebut masa jaya sendratari PKB dengan salah daya tarik tokohnya, Sekuni. Tidak sedikit penonton begitu antusias menunggu-nunggu kemunculan Sekuni. Bahkan, tak jarang penonton yang awam akan cerita, mengharap tampilnya Sakuni dalam sendratari yang lakonnya bersumber dari cerita Ramayana.

Seni pentas yang sempat menjadi primadona PKB itu tanpa sengaja melumuri karakter Sekuni jadi humoris dan kocak. Sekuni digambarkan tidak hitam pekat tetapi agak abu-abu, cenderung bagaikan pendagel. Masyarakat penonton yang dalam seni pedalangan memahami Sekuni sebagai tokoh sombong, sirik dan dengki, di panggung pesta seni justru jadi  remeh, tukang canda, suka guyon.

Masih ingat? Sekuni yang diperankan dengan khas oleh penari I Made Mundra dalam pengendalian Dalang I Dewa Ngakan Sayang, selalu mampu mengundang gelak ribuan penonton. Adegan yang sering membuat penonton terbahak adalah perang tanding Sekuni menghadapi Bima.

Namun, setidaknya pada lima tahun belakangan, PKB telah kehilangan Sekuni. Pementasan sendratari kolosal yang senantiasa mengundang antusiasisme penonton itu, cenderung mengangkat cerita alternatif di luar epos Mahabharata sebagai sumber lakon.  Tetapi, bayang-bayang Sekuni, kini, kiranya lebih banyak berkelebat di luar panggung, dalam centang perenang alam nyata, khususnya di tengah intrik aneka tikungan-selingkuhan jagat sosial politik.

Sebelum ketokohan Sekuni dieksploitasi miring menghibur di arena PKB, secara tradisional, masyarakat penonton tergiring benci dan antipati dengan tokoh-tokoh antagonis, pada dramatikal seni pertunjukan Bali. Kiranya tidak ada penonton wayang yang meneladani polah Sekuni.

Demikianlah, sekitar tahun 1970-an, tidak sedikit penonton terbawa emosi membenci tokoh antagonis, termasuk hingga kepada pelaku seni yang membawakan peran itu di luar panggung. Sebaliknya, para penonton sangat berempati hingga sampai berurai air mata menyaksikan lara yang dialami tokoh protagonis, misalnya, apakah dalam dramatari Arja atau pun Drama Gong di tahun 1980-an. Ini semua sebagai cermin, nilai moral dalam kandungan sebuah cerita atau dalam seni pertunjukan disetujui kearifan dan saripati pesannya.

Tokoh Bima dan Sekuni dalam sendratari di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB )era tahun 1980-an | Foto: Dok Kadek Suartaya

Rumus konsepsi klasik, kebajikan mengalahkan kebatilan masih berlanjut dijadikan resep lakon seni masa kini yang diulang-ulang dengan berbagai variasi, baik dalam sinetron ataupun dalam kemasan film. Termasuk yang berkaitan dengan tokoh Sekuni dalam garapan film dan sinetron buatan India maupun karya sines tanah air.

Namun jika dicermati secara sekilas, tak terasa adanya letupan emosi penonton yang berlebihan memusuhi Sekuni seperti dulu terjadi pada tokoh-tokoh antagonis seni pertunjukan tradisional kita. Jika bukan hanya dinikmati sebagai sajian pengisi waktu belaka, kiranya telah terjadi pergeseran cara pandang masyarakat di tengah relativitas moral yang simpang siur di dunia nyata, terpampang pada prilaku tokoh-tokoh nyata di sekitar kita.

Jika ditempatkan sebagai tokoh nyata, ada argumentasi atau motivasi “manusiawi”, kenapa Sekuni begitu tega membuat Pandawa hina dan melarat, dikarenakan sakit hatinya kepada Pandu, ayah para Pandawa. Sekuni dan adiknya, Gandari, pernah menjadi tawanan perang Pandu. Sekuni remaja sangat berharap Gandari mau diperistri Pandu yang tampan. Lacur, Pandu yang telah beristri tak hirau dengan kecantikan Gandari. Sekuni tersinggung dan kian dendam, ketika Gandari diserahkan oleh Pandu kepada Drestarasta yang buta.

Gandari sendiri juga merasa dilecehkan dan tidak lagi mau melihat wajah Pandu, lalu menutup matanya dengan kain hitam. Demikian pula Sekuni, dendam dan bencinya pada Pandu menumpuk berkecamuk. Ketika berhasil menjadi pejabat Hastinapura, ia mengpatgulipatkan segala ramuan siasat busuk untuk menghancurkan para Pandawa, anak-anak Pandu.

Di dunia nyata, ulah politikus ala Sekuni bukanlah sesuatu yang tabu. Bahkan tidak sedikit dengan penuh kesadaran yang melakoninya dan berhasil meraup segala hasrat politiknya. Politikus yang menepikan moral ini lazim disebut dengan Machiavellian. Ajaran dari pemikir Italia abad ke-16, Niccolo Machiavelli inilah yang dianut secara sadar dan sengaja oleh  sejumlah politikus dunia dalam merengkuh kekuasaan dengan prinsip “tujuan membenarkan cara”. Tanpa berpretensi memburukkan citra politik, Machiavelli memberikan arah dan gambaran realistis terkait dengan cara-cara pemimpin agar berhasil.

Ajaran  dari  Machiavelli yang menggunakan kontes politik dengan segala cara ini, menjadi perdebatan seru bila dibenturkan dengan moral. Menurut Machiavelli, pemimpin-pemimpin yang baik harus belajar untuk tidak menjadi  baik, berkemauan untuk menyingkirkan moral dari politik, termasuk soal kebaikan, keadilan dan kejujuran. Rupanya, pemikiran Machiavelli ini sebelumnya telah dituturkan dalam epos masyur Mahabharata, seperti yang diejawantahkan Sekuni bersama keponakannya, Duryadana cs.

Kini, dalam pengap gerahnya jagat politik dunia nyata di tanah air Indonesia, gelagat para Sekuni mengemuka begitu pongah, bebal, keblinger, amoral, congkak, sarat intrik, yang, semuanya berujung adalah untuk merengkuh kekuasaan. Ironisnya, mereka sumeringah bangga bila berhasil mengobarkan kegaduhan, kerusuhan, polarisasi dan perpecahan bangsa.

Bharatayuda melukiskan, Sekuni menerima karmanya yang sekarat meregang nyawa secara mengenaskan. Setelah ditumbangkan Sahadewa, dilanjutkan oleh Bima, memporakporandakan tubuh Sekuni yang masih menyisakan nafas. Anggota badannya dilepas-lepas, dicabik-cabik dan dikuliti dengan geram oleh Bima.

Isi kepala Sekuni dihamburkan dan setelah mulutnya dibelah hingga ke bagian telinga, lidahnya ditarik keluar.  Para dalang wayang kulit di Jawa dan Bali juga ada yang menggambarkan percikan daging dari tulang belulang mayat Sakuni berserakan amis, membusuk dengan bau memuakkan di tanah Kusuksetra yang lembab oleh genangan darah manusia.

Anehnya, anjing yang berkeliaran mencari bangkai tak ada yang berselera dengan daging dan tulang Sekuni. Demikian pula burung gagak yang berterbangan memburu santapan, tak ada yang bernapsu dengan bangkai Sekuni. [T]

Tags: kisah pewayanganMahabharataPesta Kesenian BaliSekunisendratariseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Komunikasi dalam Seni Rupa

Next Post

Terus Berkolaborasi, Minikino Mempertegas Posisi Budaya Film Pendek Indonesia

Kadek Suartaya

Kadek Suartaya

Pemerhati seni budaya, dosen ISI Denpasar.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Terus Berkolaborasi, Minikino Mempertegas Posisi Budaya Film Pendek Indonesia

Terus Berkolaborasi, Minikino Mempertegas Posisi Budaya Film Pendek Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co