24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PKB Kehilangan Sekuni, Berkeliaran di Luar Panggung

Kadek Suartaya by Kadek Suartaya
June 14, 2023
in Esai
PKB Kehilangan Sekuni, Berkeliaran di Luar Panggung

Tokoh Sekuni dan Bima dalam sendratari di ajang Pesta Kesenian Bali era tahun 1980 hingga 1990-an | Foto: Dok Kadek Suartaya

SEKUNI ADALAH PROVOKATOR meletusnya Bharatayuda, perang saudara maha dahsyat Korawa versus Pandawa. Dituturkan dalam  epos Mahabharata, jalan damai yang ditawarkan Pandawa sama sekali tidak digubris Duryadana, sulung Korawa, semuanya atas bisikan licik dari Sekuni. 

Tanah Kuruksetra kemudian menjadi saksi pertumpahan darah, ladang pembantaian sesama saudara sebangsa, akibat hasutan keji politikus busuk Sekuni.  Namun otak kotor dan mulut berbisa pejabat tinggi Hastinapura ini akhirnya dapat diberangus Bima. Dikisahkan dalam sebuah perang tanding yang sengit, mulut Sekuni dirobek dan kepalanya dikepruk hancur oleh Bima.

Seni pertunjukan Bali mengenal tokoh ini dengan sebutan Sekuni. Jagat pewayangan Jawa dengan fasih menamai Sengkuni. Sedangkan masyarakat Hindustan  (India),  mengeja nama tokoh antagonis Mahabharata ini dengan Shakuni.

Sekuni adalah paman sekaligus pengasuh dan penasihat para Korawa. Adik Sekuni, Dewi Gandari yang menjadi permaisuri Raja Drestarasta, memuluskan karier Sekuni menempati posisi di lingkaran utama penguasa kerajaan. Sejak belia, putra-putra dari pasangan Drestarasta dan Gandari, dididik oleh Sakuni mencurangi dan memusuhi Pandawa, anak-anak Pandu. Disulut bara kedengkian Korawa yang menghalalkan segala keculasan, Sakuni  sukses mendepak dan mencampakkan Pandawa dalam jurang nista lahir dan batin, berkepanjangan.

Masyarakat Bali yang gandrung menyaksikan pagelaran sendratari di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB), sangat familiar dengan sepak terjang Sekuni. Sendratari Mahabharata yang dipentaskan di panggung Ardha Candra, Taman Budaya Bali, sering menampilkan tokoh Sekuni dalam sajiannya.

Era tahun 1980-2000, dapat disebut masa jaya sendratari PKB dengan salah daya tarik tokohnya, Sekuni. Tidak sedikit penonton begitu antusias menunggu-nunggu kemunculan Sekuni. Bahkan, tak jarang penonton yang awam akan cerita, mengharap tampilnya Sakuni dalam sendratari yang lakonnya bersumber dari cerita Ramayana.

Seni pentas yang sempat menjadi primadona PKB itu tanpa sengaja melumuri karakter Sekuni jadi humoris dan kocak. Sekuni digambarkan tidak hitam pekat tetapi agak abu-abu, cenderung bagaikan pendagel. Masyarakat penonton yang dalam seni pedalangan memahami Sekuni sebagai tokoh sombong, sirik dan dengki, di panggung pesta seni justru jadi  remeh, tukang canda, suka guyon.

Masih ingat? Sekuni yang diperankan dengan khas oleh penari I Made Mundra dalam pengendalian Dalang I Dewa Ngakan Sayang, selalu mampu mengundang gelak ribuan penonton. Adegan yang sering membuat penonton terbahak adalah perang tanding Sekuni menghadapi Bima.

Namun, setidaknya pada lima tahun belakangan, PKB telah kehilangan Sekuni. Pementasan sendratari kolosal yang senantiasa mengundang antusiasisme penonton itu, cenderung mengangkat cerita alternatif di luar epos Mahabharata sebagai sumber lakon.  Tetapi, bayang-bayang Sekuni, kini, kiranya lebih banyak berkelebat di luar panggung, dalam centang perenang alam nyata, khususnya di tengah intrik aneka tikungan-selingkuhan jagat sosial politik.

Sebelum ketokohan Sekuni dieksploitasi miring menghibur di arena PKB, secara tradisional, masyarakat penonton tergiring benci dan antipati dengan tokoh-tokoh antagonis, pada dramatikal seni pertunjukan Bali. Kiranya tidak ada penonton wayang yang meneladani polah Sekuni.

Demikianlah, sekitar tahun 1970-an, tidak sedikit penonton terbawa emosi membenci tokoh antagonis, termasuk hingga kepada pelaku seni yang membawakan peran itu di luar panggung. Sebaliknya, para penonton sangat berempati hingga sampai berurai air mata menyaksikan lara yang dialami tokoh protagonis, misalnya, apakah dalam dramatari Arja atau pun Drama Gong di tahun 1980-an. Ini semua sebagai cermin, nilai moral dalam kandungan sebuah cerita atau dalam seni pertunjukan disetujui kearifan dan saripati pesannya.

Tokoh Bima dan Sekuni dalam sendratari di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB )era tahun 1980-an | Foto: Dok Kadek Suartaya

Rumus konsepsi klasik, kebajikan mengalahkan kebatilan masih berlanjut dijadikan resep lakon seni masa kini yang diulang-ulang dengan berbagai variasi, baik dalam sinetron ataupun dalam kemasan film. Termasuk yang berkaitan dengan tokoh Sekuni dalam garapan film dan sinetron buatan India maupun karya sines tanah air.

Namun jika dicermati secara sekilas, tak terasa adanya letupan emosi penonton yang berlebihan memusuhi Sekuni seperti dulu terjadi pada tokoh-tokoh antagonis seni pertunjukan tradisional kita. Jika bukan hanya dinikmati sebagai sajian pengisi waktu belaka, kiranya telah terjadi pergeseran cara pandang masyarakat di tengah relativitas moral yang simpang siur di dunia nyata, terpampang pada prilaku tokoh-tokoh nyata di sekitar kita.

Jika ditempatkan sebagai tokoh nyata, ada argumentasi atau motivasi “manusiawi”, kenapa Sekuni begitu tega membuat Pandawa hina dan melarat, dikarenakan sakit hatinya kepada Pandu, ayah para Pandawa. Sekuni dan adiknya, Gandari, pernah menjadi tawanan perang Pandu. Sekuni remaja sangat berharap Gandari mau diperistri Pandu yang tampan. Lacur, Pandu yang telah beristri tak hirau dengan kecantikan Gandari. Sekuni tersinggung dan kian dendam, ketika Gandari diserahkan oleh Pandu kepada Drestarasta yang buta.

Gandari sendiri juga merasa dilecehkan dan tidak lagi mau melihat wajah Pandu, lalu menutup matanya dengan kain hitam. Demikian pula Sekuni, dendam dan bencinya pada Pandu menumpuk berkecamuk. Ketika berhasil menjadi pejabat Hastinapura, ia mengpatgulipatkan segala ramuan siasat busuk untuk menghancurkan para Pandawa, anak-anak Pandu.

Di dunia nyata, ulah politikus ala Sekuni bukanlah sesuatu yang tabu. Bahkan tidak sedikit dengan penuh kesadaran yang melakoninya dan berhasil meraup segala hasrat politiknya. Politikus yang menepikan moral ini lazim disebut dengan Machiavellian. Ajaran dari pemikir Italia abad ke-16, Niccolo Machiavelli inilah yang dianut secara sadar dan sengaja oleh  sejumlah politikus dunia dalam merengkuh kekuasaan dengan prinsip “tujuan membenarkan cara”. Tanpa berpretensi memburukkan citra politik, Machiavelli memberikan arah dan gambaran realistis terkait dengan cara-cara pemimpin agar berhasil.

Ajaran  dari  Machiavelli yang menggunakan kontes politik dengan segala cara ini, menjadi perdebatan seru bila dibenturkan dengan moral. Menurut Machiavelli, pemimpin-pemimpin yang baik harus belajar untuk tidak menjadi  baik, berkemauan untuk menyingkirkan moral dari politik, termasuk soal kebaikan, keadilan dan kejujuran. Rupanya, pemikiran Machiavelli ini sebelumnya telah dituturkan dalam epos masyur Mahabharata, seperti yang diejawantahkan Sekuni bersama keponakannya, Duryadana cs.

Kini, dalam pengap gerahnya jagat politik dunia nyata di tanah air Indonesia, gelagat para Sekuni mengemuka begitu pongah, bebal, keblinger, amoral, congkak, sarat intrik, yang, semuanya berujung adalah untuk merengkuh kekuasaan. Ironisnya, mereka sumeringah bangga bila berhasil mengobarkan kegaduhan, kerusuhan, polarisasi dan perpecahan bangsa.

Bharatayuda melukiskan, Sekuni menerima karmanya yang sekarat meregang nyawa secara mengenaskan. Setelah ditumbangkan Sahadewa, dilanjutkan oleh Bima, memporakporandakan tubuh Sekuni yang masih menyisakan nafas. Anggota badannya dilepas-lepas, dicabik-cabik dan dikuliti dengan geram oleh Bima.

Isi kepala Sekuni dihamburkan dan setelah mulutnya dibelah hingga ke bagian telinga, lidahnya ditarik keluar.  Para dalang wayang kulit di Jawa dan Bali juga ada yang menggambarkan percikan daging dari tulang belulang mayat Sakuni berserakan amis, membusuk dengan bau memuakkan di tanah Kusuksetra yang lembab oleh genangan darah manusia.

Anehnya, anjing yang berkeliaran mencari bangkai tak ada yang berselera dengan daging dan tulang Sekuni. Demikian pula burung gagak yang berterbangan memburu santapan, tak ada yang bernapsu dengan bangkai Sekuni. [T]

Tags: kisah pewayanganMahabharataPesta Kesenian BaliSekunisendratariseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Komunikasi dalam Seni Rupa

Next Post

Terus Berkolaborasi, Minikino Mempertegas Posisi Budaya Film Pendek Indonesia

Kadek Suartaya

Kadek Suartaya

Pemerhati seni budaya, dosen ISI Denpasar.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Terus Berkolaborasi, Minikino Mempertegas Posisi Budaya Film Pendek Indonesia

Terus Berkolaborasi, Minikino Mempertegas Posisi Budaya Film Pendek Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co