23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Temu Misti: “Saya Ingin Menari Sampai Akhir Hayat”

Jaswanto by Jaswanto
October 2, 2024
in Persona
Temu Misti: “Saya Ingin Menari Sampai Akhir Hayat”

Temu Misti | Foto: Poeticpicture

IA duduk tenang di antara seniman, pelaku budaya, dan komunitas dari berbagai daerah di Indonesia yang menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024. Didampingi kerabatnya, perempuan 71 tahun itu tampak lebih banyak diam daripada berbicara. Ia begitu anteng—walaupun sesekali terlihat berbincang dengan Tatang Setiadi, seniman tradisi, dengan suara pelan.

Dengan menggunakan pakaian Tari Gandrung lengkap; dengan sisa-sia kecantikan, aura, dan kekuatannya, Temu Misti, seniman tua yang duduk tenang tersebut, kini berjalan pelan dan hati-hati. Digandeng seorang pria muda, ia melangkah menuju panggung sesaat setelah namanya disebutkan oleh pembawa acara. Dari jauh, Mbok Temu, sebagaimana ia akrab dipanggil, tampak tersenyum.

Ya, di The Tribrata Hotel and Convention, Jakarta, Selasa (17/9/2024) malam itu, Mbok Temu menjadi sorotan sebab negara, melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), mendakunya sebagai salah satu seniman yang berhak, juga layak, mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024 untuk kategori maestro seni tradisi bersama Kartolo (seniman Ludruk), Rusini (penyusun dan penari tradisi), Tatang Setiadi (seniman tradisi), dan Baiya (pedendang nyanyian sastra lisan Panjang).

Temu Misti duduk di antara seniman dan pelaku budaya penerima AKI 2024 saat gladi bersih | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di atas panggung, saat ia menerima piagam penghargaan, Mbok Temu tersenyum lebar, menampilkan giginya yang putih dan masih utuh—ia tampak sangat bahagia. Di usianya yang tak lagi muda, maestro Gandrung itu masih tampak cantik, bugar, dan nyenengke.

Temu Misti lahir di Dusun Kedaleman, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, pada 20 April 1953. Dalam khazanah Tari Gandrung di Banyuwangi, namanya sering disebut. Ia meniti perjalanan panjang menjadi seorang seniman Gandrung.

Mbok Temu merupakan anak dari pasangan Mustari dan Supiah. Temu kecil sering sakit, menurut kisah-kisah yang banyak beredar di kanal berita online. Karena khawatir, ibunya bernazar kalau sembuh dan sudah besar Temu akan ia jadikan sebagai penari Gandrung. Kisah ini mirip dengan Semi—yang dikenal sebagai penari Gandrung pertama.

Berawal dari seorang juragan Gandrung bernama Mbah Ti’ah, Temu akhirnya belajar menari Gandrung saat usianya 15 tahun. Dalam beberapa tahun saja, ia menjadi mahir, terkenal, dan lantas menjalani hari-hari yang padat dengan pentas ke berbagai tempat; bisa sampai 20 kali dalam sebulan. Temu menjadi primadona.

“Saya manggung pertama kali itu di Dusun Gadok, tak jauh dari tempat tinggal saya,” terang Temu. “Pementasan itu merupakan ritual meras—langkah awal sebagai penari Gandrung,” lanjutnya dengan bahasa Jawa logat Banyuwangian yang khas.

Sejak masih gadis, Temu telah dikenal sebagai penari dan penyanyi Gandrung dengan ciri khas vokal lantang dan suara timbre padat, serta penguasaan penuh terhadap lagu-lagu Gandrung Osing. Artinya, hingga saat ini, Temu sudah menari Gandrung selama hampir enam dekade.

Tapi Temu memang lahir dari keluarga seniman. Darah seninya mengalir dari sosok sang ayah yang merupakan pemain Ludruk, dan kakek Temu yang bernama Samin adalah seorang yang ahli dalam seni tradisi membaca lontar di Banyuwangi.

Oleh karena itu, pantas saja Temu berhasil menjadi maestro Gandrung Banyuwangi—dan itu juga berkat kemampuannya dalam menari, menembang, dengan suaranya yang khas, melengking tinggi, gaya khas masyarakat Suku Osing.

Pada masa awal perkembangan rekaman kaset, suara Temu termasuk menjadi bagian awal yang menghiasi pita rekaman. Sejumlah lagu Gandrung direkam dan dijual dalam bentuk kaset dan CD. Penjualannya lumayan laris di pasaran.

Menurut Farida Indiriastuti dalam Dari Kemiren ke Hollywood yang terbit di Kompas, 3 November 2007, album kompilasi Temu Disco Etnik Banyuwangi yang direkam Sandi Record mampu menembus angka penjualan fantastis: 50 ribu VCD dan 10 ribu kaset dengan distribusi meliputi Jawa, Madura, dan Bali.

Suara Temu juga telah melengking sampai ke mancanegara. Pada 1980-an, suara Temu diabadikan oleh Smithsonian Institution dari Amerika Serikat dalam proyek pendokumentasian dan penerbitan musik rakyat yang bekerjasama dengan Masyarakat Musikologi Indonesia—sekarang Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Smithsonian membuat 20 volume atau album yang dilabeli Music of Indonesia dan Gandrung Banyuwangi berada di volume pertama yang berjudul Songs Before Dawn dan dirilis tahun 1991.

“Tapi penari Gandrung sekarang ada yang bisa menyanyi tapi tak bisa menari, atau ada yang bisa menari tapi tak bisa menyanyi—sehingga yang menyanyi harus orang lain,” ujar Temu dalam wawancara yang dimuat dalam buku Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan suntingan Philip Yampolsky.

Namun, sebagaimana kisah-kisah maestro kesenian gong kebyar di Bali yang sering diajak pentas di luar negeri oleh para orientalis, popularitas Temu tak berbanding lurus dengan penghasilan yang didapatkan dan kondisi kehidupannya di Banyuwangi. Meski, misalnya, Songs Before Dawn terjual sebanyak 284.999 keping CD dalam tempo 24 jam—sebagaimana catatan Farida mengacu pada data amazon.com—Temu tetap hidup sederhana.

Konsistensinya dalam menjalani karier sebagai seniman Gandrung membuatnya tak hanya mendapat panggung di ranah lokal dan nasional, tetapi juga mendapat sorotan dunia internasional. Pada tahun 2015 lalu, tak main-main, Mbok Temu menarikan Gandrung di Frankfurt, Jerman.

Dan baru-baru ini, di panggung tak berundak di ruangan yang gelap dan dingin dalam ajang Panggung Maestro di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (13/6/2024) itu, Temu seperti dibawa kembali ke masa lampau ketika ia menjadi bintang. Tubuhnya yang dipulas riasan wajah dan kostum merah bak bersinar disorot lampu. Tubuhnya bergerak otomatis saat musik mengalun.

Berkat Temu, Gandrung Banyuwangi kian dikenal dunia. Berkat dedikasi Temu pula, Gandrung tetap lestari sampai ditetapkan sebagai Warusan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. “Padahal saya memulai karier sebagai seniman Gandrung itu dari panggung acara hajatan warga,” Temu menerangkan.

Keberhasilan Mbok Temu melestarikan, mengajarkan, dan memperkenalkan tarian Gandrung kepada generasi muda, khususnya Banyuwangi, menjadi salah satu alasan utama ia dinilai layak menerima AKI 2024. Mbok Temu dianggap menginspirasi banyak orang untuk terus melestarikan seni tari tradisional tersebut.

“Bagi saya, Gandrung merupakan ladang penghidupan sekaligus sarana mengekspresikan diri,” ujar Temu, seniman yang sempat tenar sebagai penari populer, tapi kini dikenal sebagai maestro seni tradisi itu.

Kini, selain masih aktif menari, Temu juga mengelola Sanggar Tari Sopo Ngiro—yang berarti “siapa mengira” atau “siapa sangka”—yang melestarikan dan mewariskan seni Gandrung. Dan berkat dedikasinya dalam bidang ini, ia menerima banyak penghargaan sebagai bukti kontribusinya terhadap seni Gandrung, salah satunya adalah penghargaan Maestro Gandrung yang diberikan di Taman Ismail Marzuki pada tahun 2012 silam.

Sampai sekarang Temu masih aktif menari dan tampil di berbagai pertunjukan tari. Ia menunjukkan konsistensi dan kesinambungan yang tinggi—yang berkiprah pada seni Gandrung sekurangnya 4 generasi Gandrung Banyuwangi. “Saya ingin menari sampai akhir hayat,” ujar Mbok Temu dengan senyum yang meyakinkan.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan
Dua Jam Bersama Luh Menek
Wayan Sukerena, Sang Pewaris Kesenian Renganis
Nyoman Arya Suriawan, Generasi Penerus Gde Manik
Tags: Anugerah Kebudayaan IndonesiaTari Gandrung BanyuwangiTemu Misti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Band Indie Asal Taiwan Mencuri Perhatian di AXEAN Festival 2024

Next Post

Mengurai Ekosistem Wayang Wong Tejakula dan Usaha Menjaga Eksistensinya

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Mengurai Ekosistem Wayang Wong Tejakula dan Usaha Menjaga Eksistensinya

Mengurai Ekosistem Wayang Wong Tejakula dan Usaha Menjaga Eksistensinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co