23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialog Galungan

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
September 24, 2024
in Esai
Besakih dan Medsos

“APA makna Galungan buatmu?” tanya Wedia kepada Olog.

“Jawaban serius atau becanda?” Olog memberi opsi.

“Ya, keduanya!” jawab Wedia.

“Becanda dulu, ya. Hehehe. Dulu saat masih anak-anak, saat hidup masih susah—susah makan, susah beli baju baru, susah pergi rekreasi, Galungan adalah momen untuk makan enak daging babi. Lawar, tum, sate, jukut balung isi nangka atau atau don blimbing, urab kacang panjang, kadang komoh. Satenya saja ada dua, sate daging dan sate lilit nyuh. Itu cuma sekali dalam enam bulan. Galungan adalah jadwal beli baju baru dan saat manis Galungan sudah pasti plesir ke kota, ke air panas Banjar, air Sanih, pabean, atau ke kebun raya Bedugul,” terang Olog.

“Apa lagi candaanmu?” tanya Widia.

“Saat ini, saat kita sudah pada kaya, Galungan menemukan kita dengan keluarga. Untuk bisa kaya kita harus pergi jauh dari keluarga. Apalagi kalau di desa tidak punya kebun atau sawah yang luas, untuk hidup mandiri mau tak mau harus merantau. Itu membuat kita terpisah jauh dengan keluarga. Apalagi saudara kita yang memilih bekerja di kapal pesiar di Amerika atau Eropa, Galungan pun belum tentu bisa pulang. Mungkin perlu beberapa Galungan untuk bisa bertemu lagi dengan kerabat dan sanak keluarga, sahabat atau tetangga.”

“Candaan yang kedua sudah mulai terasa serius. Lalu makna seriusnya apa, Log?”

“Melaksanakan kewajiban ajaran agama!” jawab Olog.

“Oh, dengan memberi label sebagai kewajiban, itu menjadi hal yang serius?”

“Hehehe, betul. Kewajiban membuat apa pun menjadi serius, bahkan seram. Pernah dengar sekelompok orang yang mengklaim sedang menjalankan kewajiban agama merasa perlu menghentikan kendaraan lain, bahkan dengan cara paksa dan memukulnya? Konon itu perintah para dewa.”

Wedia mengangguk-angguk, lalu menggeleng-geleng kecewa.

Olog melanjutkan. “Sementara alasan candaanku di atas, begitu terasa sebagai hak. Suasana yang begitu membahagiakan, sepenuhnya.”

“Itu artinya kalau kita tidak melaksanakan ibadah Galungan berarti tidak menjalankan kewajiban agama?” Wedia menimpalinya.

“Begitulah menurut kebanyakan orang. Padahal sehari-hari kita bisa bertemu orang lain. Di kantor, di balai RT, di pasar atau antre di bank.”

“Maksudmu, itu juga ibadah?”

“Oh ya, pasti. Jika kau perlakukan orang yang kau temui itu dengan baik dan penuh rasa kemanusiaan. Melayani dengan baik dan sepenuh hati yang ada urusan di kantormu, menghargai pendapat yang lain di balai RT, membantu mengangkat barang seorang ibu yang keberatan di pasar atau tertib antre di bank.”

“Artinya kita tidak perlu ke pura atau tempat ibadah?” tanya Wedia dengan sedikit menyudutkan.

“Aku tidak bilang begitu,” sanggah Olog. “Pura atau tempat ibadah jelas tempat yang sangat baik buat beribadah, karena setiap orang yang datang pasti dengan hati dan pikiran yang bersih. Namun bukankah Tuhan ada di mana-mana? Di kantor, di balai RT, di pasar atau di bank. Itu artinya kita membawanya ke mana-mana, karena ada di hati kita semua,” sambung Olog.

“Lalu untuk apa lagi ke pura, ke merajan, pelinggih, atau tirta yatra?”

“Bukankah hal baik mempertemukan banyak hati dan pikiran yang bersih? Menyatukan doa, bersama kerabat dan sanak keluarga?” jawab Olog.

“Jadi semuanya baik?”

“Jelas.”

“Apa yang selama ini, kadang membuat hal menjadi buruk?” tanya Wedia lagi.

“Cara pandang dan cara memperlakukannya. Cara pandang yang buruk dan cara memperlakukan dengan buruk membuat hal menjadi buruk.”

“Sesederhana itu?”

“Ambil contoh, alkohol. Apakah itu sedemikian buruknya sampai harus dilarang dan ditakuti? Karena kita memperlakukannya dengan cara buruk: mabuk, ketagihan, bikin onar, kecelakaan lalu lintas, cedera bahkan kematian, tak sedikit pemerkosaan dan pembunuhan. Lalu alkohol menciptakan cara pandang manusia yang buruk.”

“Berarti orang yang main judi untuk mengisi hari libur saat Galungan tidak buruk?”

“Kalau judi sampai dua malam, pulang kampung tapi tak pernah tampak di rumah karena judi, bagaimana itu tidak buruk? Itu cara memperlakukan kesenangan dengan cara yang sangat buruk. Alih-alih bertemu kerabat atau kawan dalam kehangatan bermain kartu atau domino hiburan semata, kalau yang ada adalah menghabiskan anggaran hari raya, pinjam sana sini, jual ini itu, bagaimana mau bilang baik? Bahkan Panca Pandawa pun sampai tega mempertaruhkan istri mereka di meja perjudian.” 

“Bagaimana simbol Galungan sebagai kemenangan Dharma, dalam fenomena ini?”

“Itu falsafah yang sangat unggul. Kita cenderung membutuhkan musuh di luar untuk dikalahkan, untuk menjadi pemenang. Padahal kemenangan Dharma di hari Galungan itu, filosofinya adalah kemenangan melawan Adharma dalam diri sendiri. Musuh terbesar dan terkuat manusia adalah dirinya sendiri. Saat berhasil menaklukan diri sendiri, maka tak ada lagi musuh lain yang perlu dikalahkan. Sebab, musuh terkuat telah takluk. Sebesar apa pun tantangan dari luar, itu takkan mampu mengguncang emosi kita lagi.”

“Wah, saat diri sudah bisa dikalahkan, ritual sudah tak diperlukan lagi, ya?”

“Kenapa tidak? Melakukan ritual memerlukan kekuatan untuk melawan keengganan dan skeptisisme diri yang ego dan terlampau pintar secara spiritual, hehehe. Bukankan dengan ritual kita dapat bertemu kerabat dalam senda gurau dan keriangan? Berbagai cerita di rantau atau berbagi surudan/saranam  upacara. Lebih-lebih setelah bertemu, kita dapat memperbaiki hubungan dengan kerabat lain yang sebelumnya sempat retak misalnya. Itulah makna serius dari ibadah Galungan ini.”

“Oh, Galungan yang upacara Dewa Yadnya, tapi dari penjelasanmu lebih ke manusia?”

“Hehehe, memang Tuhan dan para dewa butuh apa sih dari kita? Puja puji? Meski kau memaki Tuhan dan para dewa pun, mereka takkan peduli.”

“Bukannya kita bakal menemukan celaka jika berani-berani menghina Tuhan atau para dewa?”

“Ya, celaka, sudah pasti itu. Tapi bukan karena dikutuk oleh Tuhan atau para dewa yang murka. Namun jelas karena energi buruk dalam dirimu sendiri yang penuh benci dan amarah. Itulah yang membuatmu celaka. Kembali lagi pada perkara mengalahkan diri sendiri. Memaki atau menghina, jelas hal yang buruk. Entah itu ditujukan kepada Tuhan dan para dewa atau kepada seorang tukang sapu atau kepada seekor anjing, itu semua sama. Semuanya membuatmu celaka.”

“Berarti, Tuhan sebetulnya tak butuh dipuja ya?”

“Ya, tidak sama sekali. Justru kita yang sangat butuh untuk memuja. Memuja Tuhan, para dewa, orang lain, lebih-lebih orang yang kekurangan, anjing terlantar atau rimbun pepohonan. Maka, dalam hal ini memuja adalah hak, bukan kewajiban. Memuja, membiasakan cara pandang yang baik, terlebih lagi memperlakukan yang lain dengan etis dan penuh rasa kemanusiaan, adalah makna serius Galungan dan perayaan hari suci yang lain.

“Sepertinya ini konsep Tri Hita Karana.”

“Tri Hita Karana, kerangka dasar Hindu. Jika hubungan sudah harmonis dengan alam dan sesama, dengan sang pencipta akan sendirinya harmonis. Karena Tuhanlah yang telah menciptakan alam dan mahluk hidup. Dari kerangka dasar ajaran Hindu, jelas ini elemen etika yang memang bagian terbesar dari komposisi sebutir telur, yaitu bagian putih telurnya. Kuning telur adalah filsafatnya atau tatwa dan bagian paling tipis yaitu cangkangnya adalah ritual.”

“Kalau cangkannya dihilangkan, kan telur tetap bernilai? Tapi kalau cuma cangkang saja, rasanya sudah tak bernilai apa-apa.”

“Persis, apalagi kalau cangkangnya itu dipenuhi tahi ayam. Hehehe. Namun, gagasan itu benar setelah telur sudah dikeluarkan dari tubuh ayam. Saat masih dalam proses pembentukan, justru cangkanyalah yang menjadi pelindung sampai proses pembentukan telur selesai.”

“Bagaimana dengan cangkang telur yang ternoda kotoran?” Wedia kembali bertanya.

“Hehehe. Ini pertanyaan pancingan. Ya, biar tampak lebih estetik, ayo kita bersihkan cangkang yang kotor itu. Meskipun takkan pernah kita makan nantinya.”

“Artinya, ritual yang cenderung merugikan dan sudah tak cocok lagi dengan era, baiknya diperbarui ya?”

“Ya, sesederhana itu.”

“Sementara, bagian putih dan kuningnya atau etika dan filsafat harus terus dijaga dan diterapkan karena itulah bagian utamanya yang akan kita makan dan menjaga kesehatan tubuh dan pikiran kita?”

“Nah, itu kau makin pintar!”

“Masak kalah pintar sama Olog. Hehehe.”

Wedia dan Olog tertawa bersama.[T]

Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA

GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH
Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih
Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati
Tags: hari raya galunganTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu

Next Post

Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat

Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co