23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 6, 2024
in Esai
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 

Foto : Pemancar TVRI Bukit Bakung di Desa Adat Kutuh. Foto I Nyoman Tingkat

DESA Adat Kutuh adalah salah satu desa adat di Gumi Delod Ceking dari 9 desa adat yang berada di Kecamatan Kuta Selatan.Secara kedinasan, Desa Kutuh adalah salah satu desa dinas termuda dari 6 desa/kelurahan di Kecamatan Kuta Selatan. Berdiri sejak 12 Maret 2002, setelah sebelumnya selama 3 tahun menjadi Desa Persiapan bergabung dengan induknya, Desa Ungasan.

Bersyukurlah Desa Kutuh menjadi Desa Adat sekaligus sehingga otonomi di antara keduanya sebagai Purusa-Pradana disepakati sebagai mana layaknya suami istri sedapur, sekasur, sesumur bersama.

Itu berbeda dengan desa lian, seperti Kelurahan Benoa yang mengampu tiga desa adat yakni Bualu, Peminge, dan Kampial. Demikian pula dengan Kelurahan Tanjung Benoa, mengampu dua desa adat yakni Desa Adat Tanjung dan Tengkulung.

Desa Adat Tengkulung adalah desa adat baru sebagai pemekaran dari Desa Adat Tanjung. Istimewanya, Desa Adat Tengkulung terdiri atas satu banjar adat, yaitu Banjar Tengkulung sekaligus menjadi Desa Adat Tengkulung. Mirip secara penamaan, Desa Adat Bualu, selain menjadi nama banjar adat sekaligus menjadi nama Desa Adat Bualu, tetapi ditopang oleh 8 banjar adat, yakni Banjar Adat Bualu, Peken, Terora, Celuk, Penyarikan, Bale Kembar, Pande, dan Banjar Adat Mumbul. 

Kompleksitas kelurahan/desa dengan beberapa desa adat pastilah berbeda dengan kelurahan/desa dengan satu desa adat. Dengan analogi, purusa-pradana, kelurahan/desa dengan beberapa desa adat, ibarat laki-laki berpolygami. Pastilah tidak mudah mengelolanya. Mengurus yang satu saja susah, apalagi banyak. Kecuali istrinya baik hati tidak pencemburu dan suaminya adil dan beradab sedapur, sesumur, dan sekasur. Syuuuur.

Namun apa pun itu, Bali dengan dualisme desa itu secara kasat mata sejak dulu hingga kini terkesan  baik-baik saja. Kalau pun ada riak-riak kecil, itu adalah bumbu romantis untuk menemukan kesepakatan pada gelahang, mencari titik temu.

Kembali ke Desa Kutuh dengan Desa Adat Kutuh, patutlah  bersyukur di tengah kemajuan zaman bergerak telah menjadi pilihan tempat tower besar tinggi sejak awal Orde Baru.

Di desa ini, tercatat ada sejumlah tower Pemancar TVRI, SCTV, ANTV, Metro TV, dan Bali TV.  Selain itu, Tower Pemancar Seluler juga banyak, sehingga jaringan komunikasi tersambung baik, dengan pengecualian beberapa tempat yang blank spot. Makna tower pemancar itu bagi Desa Adat Kutuh berdimensi jamak. Di satu sisi negatif, di sisi lain positif.  

Makna negatif yang bertalian dengan kemandegan literasi.

Pertama, di tengah keterbelakangan dan kemiskinan pada awal Tower Pemancar TVRI Bukit Bakung berdiri (1977), Desa Adat Kutuh telah diproyeksikan menjadi terdepan dalam akses budaya visual (menonton TV). Pada awal  gempuran televisi itu, tingkat baca masyarakatnya masih rendah.

Lompatan budaya visual nyata-nyata menenggelamkan budaya membaca. Suguhan acara TV yang bervariasi  memanjakan penontonnya. Bersamaan dengan itu, penonton “gagal” mengambil pesan (amanat) tontonan yang dikelabui melalui gaya hidup hedonis metropolitan.  Akibatnya, akselerasi budaya menonton tak terkejar oleh budaya membaca yang menekankan kedalaman pemaknaan. Sebuah ironi dalam peringatan Hari Aksara Internasional 8 September tiap tahun.

Kedua, idealnya tawaran kemajuan itu menjernihkan kualitas informasi dan memperluas relasi secara humanis. Namun kemajuan yang mendahului zaman, membuat gagap budaya akibat ketidaksiapan akan perubahan yang cepat bahkan makin supercepat pada abad digital kini. Akar masalahnya, lagi-lagi kurangnya literasi.

Sisi positif  kehadiran Tower Pemancar TV di Desa Adat Kutuh bertalian dengan akses informasi yang cepat dan bervariasi.

Pertama, kehadiran tower pemancar TV dan Seluler yang terpusat di Desa Adat Kutuh memberikan kesempatan lebih luas dan lebih cepat bagi upaya  mengedukasi masyarakatnya melalui hiburan dan tayangan edukatif yang menjangkau segala usia melalui saluran kotak ajaib yang dapat dinikmati dalam kebersamaan guyub sosial kemasyarakatan.

Itu pada awalnya ketika masyarakatnya masih homogen berbondong-bondong menonton siaran TVRI dengan suguhan terfilter Orde Baru. Orang tua desa menerima begitu saja apa kata TVRI tanpa berpikir kritis. Masyarakat seakan  “dilarang” berpikir kritis dengan tunduk pada kotak ajaib.

Kedua, seiring bergeraknya zaman kemajuan dan arah angin politik yang menawarkan kebebasan mulai 1990-an bermuncullah Stasiun TV Swasta yang gencar mengkritisi program pemerintah. Berkah pun jatuh kembali ke Desa Adat Kutuh dengan makin banyaknya Tower Pemancar TV Swasta.

Warga Desa Kutuh dapat menerima siaran TV secara variatif dari chanel ke chanel, padahal di kabupaten lain belum tentu terjangkau. Keterjangkauannya pun mesti dengan parabola yang hanya bisa dimiliki orang kaya perkotaan. Jadi, Desa Kutuh selangkah lebih maju mendapat tontonan dan tuntunan bila dimanfaatkan sebesar-besarnya sebagai pendidikan.

Begitulah, kehadiran Tower Pemancar TV di Desa Adat Kutuh mengakhiri masa romantisme bajang-bajang nembang sambil ngalih saang “gadis desa berlagu dendang sambil mencari kayu bakar”. Bersamaan dengan itu siaran Radio makin ditinggalkan. Padahal, sebelumnya Radio (terkenal: Menara, AR) menghadirkan hiburan dan request lagu bagi orang-orang Delod Ceking melalui kupon yang dibeli di Denpasar.

Pesan penyiar pun terngiang-ngiang hingga kini, “Koling-Koling adan tiangne”, begitulah Mbok Santi penyiar AR  melekat di hati pemuda kala itu, tak terkecuali bagi pemuda Delod Ceking.

Zaman berubah dan terus berproses. Kita tidak mungkin memutar jarum waktu. Namun peradaban perlu diingat dan dicatat untuk bahan refleksi bagi anak cucu kita kelak. Bahwa “kemajuan” hari ini adalah garis linieritas  dari trisemaya: atita (dulu), wartamana (kini), nagata (nanti).

Perjuangan yang harus dimenangkan oleh orang-orang Delod Ceking khususnya dan Orang Bali umumnya adalah hari ini lebih baik dari masa lalu. Masa depan lebih baik dari masa kini. Begitulah seyogyanya manfaat yang diraih desa-desa di Gumi Delod Ceking dengan makin banyaknya Tower Pemancar TV dan Tower Seluler di Desa Adat Kutuh  yang menawarkan kejernihan informasi dan memerlukan kebeningan pikiran untuk menyerapnya. Salam hangat dari Gumi Delod Ceking! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Di Puncak Tegeh Kaman 
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Tags: desa adat kutuhDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Minikino Film Week 10 Tahun 2024, Memberdayakan Komunitas Lokal Melalui Budaya Sinema

Next Post

Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co