23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 6, 2024
in Esai
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 

Foto : Pemancar TVRI Bukit Bakung di Desa Adat Kutuh. Foto I Nyoman Tingkat

DESA Adat Kutuh adalah salah satu desa adat di Gumi Delod Ceking dari 9 desa adat yang berada di Kecamatan Kuta Selatan.Secara kedinasan, Desa Kutuh adalah salah satu desa dinas termuda dari 6 desa/kelurahan di Kecamatan Kuta Selatan. Berdiri sejak 12 Maret 2002, setelah sebelumnya selama 3 tahun menjadi Desa Persiapan bergabung dengan induknya, Desa Ungasan.

Bersyukurlah Desa Kutuh menjadi Desa Adat sekaligus sehingga otonomi di antara keduanya sebagai Purusa-Pradana disepakati sebagai mana layaknya suami istri sedapur, sekasur, sesumur bersama.

Itu berbeda dengan desa lian, seperti Kelurahan Benoa yang mengampu tiga desa adat yakni Bualu, Peminge, dan Kampial. Demikian pula dengan Kelurahan Tanjung Benoa, mengampu dua desa adat yakni Desa Adat Tanjung dan Tengkulung.

Desa Adat Tengkulung adalah desa adat baru sebagai pemekaran dari Desa Adat Tanjung. Istimewanya, Desa Adat Tengkulung terdiri atas satu banjar adat, yaitu Banjar Tengkulung sekaligus menjadi Desa Adat Tengkulung. Mirip secara penamaan, Desa Adat Bualu, selain menjadi nama banjar adat sekaligus menjadi nama Desa Adat Bualu, tetapi ditopang oleh 8 banjar adat, yakni Banjar Adat Bualu, Peken, Terora, Celuk, Penyarikan, Bale Kembar, Pande, dan Banjar Adat Mumbul. 

Kompleksitas kelurahan/desa dengan beberapa desa adat pastilah berbeda dengan kelurahan/desa dengan satu desa adat. Dengan analogi, purusa-pradana, kelurahan/desa dengan beberapa desa adat, ibarat laki-laki berpolygami. Pastilah tidak mudah mengelolanya. Mengurus yang satu saja susah, apalagi banyak. Kecuali istrinya baik hati tidak pencemburu dan suaminya adil dan beradab sedapur, sesumur, dan sekasur. Syuuuur.

Namun apa pun itu, Bali dengan dualisme desa itu secara kasat mata sejak dulu hingga kini terkesan  baik-baik saja. Kalau pun ada riak-riak kecil, itu adalah bumbu romantis untuk menemukan kesepakatan pada gelahang, mencari titik temu.

Kembali ke Desa Kutuh dengan Desa Adat Kutuh, patutlah  bersyukur di tengah kemajuan zaman bergerak telah menjadi pilihan tempat tower besar tinggi sejak awal Orde Baru.

Di desa ini, tercatat ada sejumlah tower Pemancar TVRI, SCTV, ANTV, Metro TV, dan Bali TV.  Selain itu, Tower Pemancar Seluler juga banyak, sehingga jaringan komunikasi tersambung baik, dengan pengecualian beberapa tempat yang blank spot. Makna tower pemancar itu bagi Desa Adat Kutuh berdimensi jamak. Di satu sisi negatif, di sisi lain positif.  

Makna negatif yang bertalian dengan kemandegan literasi.

Pertama, di tengah keterbelakangan dan kemiskinan pada awal Tower Pemancar TVRI Bukit Bakung berdiri (1977), Desa Adat Kutuh telah diproyeksikan menjadi terdepan dalam akses budaya visual (menonton TV). Pada awal  gempuran televisi itu, tingkat baca masyarakatnya masih rendah.

Lompatan budaya visual nyata-nyata menenggelamkan budaya membaca. Suguhan acara TV yang bervariasi  memanjakan penontonnya. Bersamaan dengan itu, penonton “gagal” mengambil pesan (amanat) tontonan yang dikelabui melalui gaya hidup hedonis metropolitan.  Akibatnya, akselerasi budaya menonton tak terkejar oleh budaya membaca yang menekankan kedalaman pemaknaan. Sebuah ironi dalam peringatan Hari Aksara Internasional 8 September tiap tahun.

Kedua, idealnya tawaran kemajuan itu menjernihkan kualitas informasi dan memperluas relasi secara humanis. Namun kemajuan yang mendahului zaman, membuat gagap budaya akibat ketidaksiapan akan perubahan yang cepat bahkan makin supercepat pada abad digital kini. Akar masalahnya, lagi-lagi kurangnya literasi.

Sisi positif  kehadiran Tower Pemancar TV di Desa Adat Kutuh bertalian dengan akses informasi yang cepat dan bervariasi.

Pertama, kehadiran tower pemancar TV dan Seluler yang terpusat di Desa Adat Kutuh memberikan kesempatan lebih luas dan lebih cepat bagi upaya  mengedukasi masyarakatnya melalui hiburan dan tayangan edukatif yang menjangkau segala usia melalui saluran kotak ajaib yang dapat dinikmati dalam kebersamaan guyub sosial kemasyarakatan.

Itu pada awalnya ketika masyarakatnya masih homogen berbondong-bondong menonton siaran TVRI dengan suguhan terfilter Orde Baru. Orang tua desa menerima begitu saja apa kata TVRI tanpa berpikir kritis. Masyarakat seakan  “dilarang” berpikir kritis dengan tunduk pada kotak ajaib.

Kedua, seiring bergeraknya zaman kemajuan dan arah angin politik yang menawarkan kebebasan mulai 1990-an bermuncullah Stasiun TV Swasta yang gencar mengkritisi program pemerintah. Berkah pun jatuh kembali ke Desa Adat Kutuh dengan makin banyaknya Tower Pemancar TV Swasta.

Warga Desa Kutuh dapat menerima siaran TV secara variatif dari chanel ke chanel, padahal di kabupaten lain belum tentu terjangkau. Keterjangkauannya pun mesti dengan parabola yang hanya bisa dimiliki orang kaya perkotaan. Jadi, Desa Kutuh selangkah lebih maju mendapat tontonan dan tuntunan bila dimanfaatkan sebesar-besarnya sebagai pendidikan.

Begitulah, kehadiran Tower Pemancar TV di Desa Adat Kutuh mengakhiri masa romantisme bajang-bajang nembang sambil ngalih saang “gadis desa berlagu dendang sambil mencari kayu bakar”. Bersamaan dengan itu siaran Radio makin ditinggalkan. Padahal, sebelumnya Radio (terkenal: Menara, AR) menghadirkan hiburan dan request lagu bagi orang-orang Delod Ceking melalui kupon yang dibeli di Denpasar.

Pesan penyiar pun terngiang-ngiang hingga kini, “Koling-Koling adan tiangne”, begitulah Mbok Santi penyiar AR  melekat di hati pemuda kala itu, tak terkecuali bagi pemuda Delod Ceking.

Zaman berubah dan terus berproses. Kita tidak mungkin memutar jarum waktu. Namun peradaban perlu diingat dan dicatat untuk bahan refleksi bagi anak cucu kita kelak. Bahwa “kemajuan” hari ini adalah garis linieritas  dari trisemaya: atita (dulu), wartamana (kini), nagata (nanti).

Perjuangan yang harus dimenangkan oleh orang-orang Delod Ceking khususnya dan Orang Bali umumnya adalah hari ini lebih baik dari masa lalu. Masa depan lebih baik dari masa kini. Begitulah seyogyanya manfaat yang diraih desa-desa di Gumi Delod Ceking dengan makin banyaknya Tower Pemancar TV dan Tower Seluler di Desa Adat Kutuh  yang menawarkan kejernihan informasi dan memerlukan kebeningan pikiran untuk menyerapnya. Salam hangat dari Gumi Delod Ceking! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Di Puncak Tegeh Kaman 
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Tags: desa adat kutuhDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Minikino Film Week 10 Tahun 2024, Memberdayakan Komunitas Lokal Melalui Budaya Sinema

Next Post

Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co