24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Kemerdekaan dan Warisan Diplomasi Indonesia untuk Dunia

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
August 16, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

TERKADANG, memandang Merah-Putih berkibar megah di cakrawala Agustus, membangkitkan perasaan sentimentil. Barangkali karena bulan ini dipenuhi oleh kilatan sejarah, resonansi perjuangan, dan gema harapan yang menggelora.

Dua tahun terakhir, setelah sebelumnya sempat dibegal pandemi, kita menyaksikan lagi semarak perayaan hari kemerdekaan; pengecatan ulang jalan-jalan, pemasangan umbul-umbul, serta penyelenggaraan berbagai lomba dan pertunjukan tradisional. Ada pula panggung malam tasyakuran yang tak kalah heboh itu.

Selain itu, kalau boleh sedikit menyinggung, lebih-lebih bagi kami pekerja kampus, Agustus tiada lain merupakan bulan yang sangat sibuk, terutama bertepatan dengan masa penerimaan mahasiswa baru, yang artinya bertambah-tambah pula pekerjaan, mulai dari pelaksanaan orientasi mahasiswa hingga persiapan akademis jelang pergantian tahun ajaran.

Kelak dalam hitungan hari, seluruh mahasiswa itu, (mungkin) sepanjang masa studinya, akan familiar dengan kata yang umumnya kita pekikkan dalam semangat agustusan; Merdeka! Ya, mereka akan bersitungkin dengan program Kementerian yang masyhur itu, bernama Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Program MBKM ini sebenarnya mencerminkan semangat kemerdekaan dalam konteks pendidikan tinggi. Ia memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk mengeksplorasi minat mereka di luar program studi, mengasah kemampuan praktis melalui magang, dan mengembangkan perspektif global melalui pertukaran pelajar. Namun, seperti halnya kemerdekaan bangsa yang harus diisi dengan kerja keras dan tanggung jawab, kebebasan dalam MBKM juga menuntut kedewasaan dan komitmen dari seluruh operatornya.

Agustus tahun ini kiranya esensial pula dalam politik nasional. Saat ini, masyarakat di berbagai daerah, mungkin sedang gelisah menanti, siapa gerangan Calon Gubernur, Bupati, atau Wali Kota, yang akan berlaga dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Balihonya berserakan dimana-mana. Tapi siapa yang resmi didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum, sejauh ini, masih rahasia Ilahi, tersimpan rapi di kantong celana Para Ketua Umum partai.

 Saya terus terang penasaran, siapa yang bakal diusung di Pilkada Jawa Tengah dan Jakarta. Bukan hanya karena kedua daerah itu memiliki nilai historis bagi saya, namun faktanya mereka adalah barometer politik nasional. Seru sekali pastinya melihat pesta rakyat berjalin kelindan dengan pesta demokrasi.

Warisan Diplomasi Indonesia

Dalam pada itu, di luar segala mukadimah diatas, patut pula kita renungkan, dengan peristiwa kemerdekaan ini, adakah warisan diplomasi Indonesia dalam hubungan internasional modern? Tentulah ada. Bahkan kontribusinya tak dapat disepelekan.

Perjuangan kemerdekaan Indonesia bukan sekadar usaha memerdekakan diri dari penjajahan, tetapi juga manifestasi idealisme yang mendalam tentang keadilan, kemandirian, dan solidaritas. Prinsip-prinsip ini tidak hanya menjadi fondasi bagi negara yang baru merdeka, tetapi juga menjadi panduan dalam menghadapi tantangan global.

Kenanglah kembali Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, katalisator utama terbentuknya Gerakan Non-blok, sebuah jalan tengah, di bawah bayang-bayang Perang Dingin yang mencekam. Itulah tonggak dalam sejarah diplomasi Indonesia sekaligus jati diri kita di hadapan dunia. Konferensi ini tidak hanya mengukuhkan solidaritas di antara negara-negara berkembang, tetapi juga memicu gerakan yang memperjuangkan keadilan global dan menantang hegemoni kekuatan besar dunia.

Dari rahim Konferensi Bandung, lahirlah Dasasila Bandung, sepuluh prinsip emas yang menjadi kompas dalam navigasi hubungan internasional. Prinsip-prinsip ini, laksana bintang-bintang di langit diplomasi, menjadi penunjuk arah bagi lebih dari seratus negara dalam merumuskan kebijakan luar negeri mereka. Menghormati kedaulatan, menolak intervensi, dan mengutamakan jalan damai. Inilah warisan Indonesia untuk dunia.

Prinsip-prinsip Bandung, meski telah berusia lebih dari setengah abad, masih berdenyut relevan dalam nadi zaman. Di era di mana globalisasi menjanjikan kemakmuran bersama, ketimpangan justru menganga semakin lebar.

Sistem perdagangan internasional masih condong pada yang kuat. Teknologi, yang seharusnya menjadi jembatan kemajuan, malah menjadi tembok pemisah antara yang berpunya dan tidak. Lembaga-lembaga internasional, alih-alih menjadi wadah kesetaraan, masih saja menjadi panggung bagi peragaan kekuatan.

Inilah wajah kolonialisme modern yang harus kita tantang dengan keberanian yang sama seperti para pendahulu kita. Namun, tantangan ini tidak bisa dihadapi dengan cara-cara tradisional. Diperlukan pendekatan yang lebih canggih, yang memadukan idealisme dengan pragmatisme, ketegasan dengan fleksibilitas.

Tantangan

Seiring dengan berputarnya roda zaman, tantangan yang kita hadapi semakin kompleks. Munculnya kekuatan-kekuatan baru seperti China dan India mengubah peta kekuatan dunia. Pusat gravitasi politik dan ekonomi perlahan bergeser dari Barat ke Timur. Di tengah pergolakan ini, Indonesia berdiri dengan potensi yang menjanjikan. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan ekonomi yang terus bertumbuh, kita memiliki modal untuk memainkan peran yang lebih besar di panggung global.

Pada masa kini, mewarisi gagasan non-blok terdahulu, sebagai respon terhadap perubahan geopolitik global, Indonesia kembali menampilkan mahakarya diplomasi melalui konsep “Indo-Pasifik yang Inklusif“. Gagasan ini menawarkan pendekatan yang lebih kooperatif dan menghindari konfrontasi di kawasan yang semakin bergejolak. Konsep ini mendapat dukungan dari ASEAN dan menjadi alternatif dari strategi “Free and Open Indo-Pacific” yang dipromosikan AS dan sekutunya. Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu menghasilkan gagasan cemerlang yang memengaruhi dinamika geopolitik regional.

Terakhir, pesan bagi kita semua, sebagaimana yang disampaikan Bung Karno, “Perjuangan kita belum selesai. Bahkan perjuangan tidak akan pernah selesai.” Tantangan ke depan menuntut lebih dari sekedar melanggengkan warisan. Indonesia perlu mengadaptasi prinsip-prinsip historisnya dalam konteks isu-isu kontemporer seperti perubahan iklim, ketimpangan ekonomi global, dan revolusi teknologi.

Dengan kekayaan pengalaman diplomatik dan posisinya yang strategis, Indonesia akan selamanya terpanggil untuk bangkit sebagai mercusuar harapan, pembawa pesan perdamaian dan keadilan global. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Pesan untuk Pak Presiden Baru: Jangan Hanya Berusaha Mencegah Perang, Kita Harus Bersiap untuk Berperang
Pengunduran Biden dan Tantangan Berat Harris Menuju AS-1
‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
“Putin-Kim Summit”: Manuver Geopolitik Rusia Mengimbangi AS
Hijab vs Identitas Nasional: Pertaruhan Besar Tajikistan
Tags: HUT Kemerdekaan RIkemerdekaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Milpil Arsip: Catatan GURATGURIT 2024

Next Post

Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co