23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perlindungan Sastra untuk Kekerasan Terhadap Anak:  Catatan dari Pustaka Adiparwa

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
July 23, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

KASUS pembuangan orok atau bayi seolah tak pernah berhenti. Kejadian ini tentu ironis, sebab di tengah-tengah tak semua orang tua beruntung mendapatkan titipan anak biologis dari Tuhan, sejumlah oknum orang tua justru tega mengakhiri hidup anak-anaknya yang nirdosa. Kita tentu bisa saja berasumsi ada kejadian luar biasa yang menyebabkan mereka memilih untuk menempuh jalan ini. Motif yang paling lumbrah pasti hamil di luar nikah. Akan tetapi, dengan motif apapun tindakan yang berujung pada pembunuhan sangat disayangkan dan tidak boleh ditiru!

Perbuatan itu jelas melanggar hukum dan bertentangan dengan nilai-nilai sastra yang kita warisi di Bali. Kita tidak akan membahas lebih jauh pasal-pasal hukum yang bisa menjerat seorang ibu apabila melakukan tindakan seperti ini. Melainkan mencoba mencari jejak perlindungan terhadap anak yang kemungkinan terselip dalam warisan-warisan sastra kita.

Jejak perlindungan anak sejatinya telah diwacanakan dalam pustaka Adiparwa. Karya sastra tersebut mengisahkan satu fragmen penting tentang penetapan hukuman terhadap anak melalui kisah seorag pertapa bernama Bhagawan Animandawya dengan hakim surgai, yaitu Yamadipati.

Yamadipati yang menjabat sebagai hakim memang bertugas untuk menjatuhkan hukuman bagi jiwa-jiwa manusia setelah mati. Akan tetapi, sebagai tokoh yang dipercaya menjatuhkan hukuman, Yamadipati sendiri juga tidak luput dari hukuman. Pada suatu saat, Resi Animandawya tengah melakukan tapa, brata, yoga, dan samadhi. Secara lebih khusus, beliau menggelar brata yang mahaberat yaitu diam atau monabrata. Suatu brata yang berat dapat dipastikan juga akan mendapatkan godaan yang berat. Seseorang baru berhak mendapatkan pujian, setelah lulus dari berbagai ujian. Begitulah siklusnya.

Kala Sang Pendeta melakukan tapa brata, ternyata pada saat yang bersamaan ada seorang pencuri yang bersembunyi di pertapaannya. Para pasukan kerajaan yang berusaha menyisir pencuri tersebut hingga sampai pertapaan Resi Animandawya akhirnya bertemu dengan Sang Pendeta.

Para pasukan tersebut bertanya kepada Sang Pendeta apakah beliau melihat pencuri yang melarikan berbagi barang berharga dari kerajaan. Meskipun barangkali Sang Pendeta mendengar pertanyaan para pasukan, beliau ternyata teguh melakukan tapa brata. Berkali-kali para pasukan bertanya, tetapi tidak mendapatkan sepatah katapun. Oleh sebab itulah mereka kemudian masuk ke dalam pertapaan. Betapa mereka terperangah, ternyata pencuri itu benar ada di tengah katyagan, tempat sang pendeta melakukan aktivitas kebrahmanaan.

Karena situasi inilah para pasukan tersebut menuduh Resi Animandawya bersekongkol dengan si pencuri. Akibat kemarahan raja yang kecewa atas dugaan persekongkolan Sang Resi, akhirnya beliau dijatuhi hukuman dengan cara yang sangat kejam, yaitu menusuk pantat beliau dengan tombok.

Meski menahan rasa sakit yang luar biasa, yoga Sang Pendeta yang sudah matang mampu membuat beliau tahan atas sakit tusukan tombak itu. Tombak raja tentu tidak hanya menyakiti fisik Resi Animandawya, tetapi juga batinnya. Karena beliau memang tidak bersalah. Terlebih, beliau tengah melakukan janji diri yaitu mona brata ‘diam’.

Para Resi lainnya yang tahu kejadian ini tidak hanya protes kepada Sang Raja, tetapi juga segera mengonfirmasi Raja Alam Baka yang menetapkan hukuman kepada manusia, Yamadipati. Kaum Resi itu paham betul bahwa segala kejadian di dunia ini tidak akan berlangsung tanpa intervensi dari Yamadipati. Ketika ditanyai soal alasan penjatuhan hukuman terhadap Resi itu, Yamadipati mengatakan bahwa saat Resi Animandawya masih anak-anak, beliau  sempat menusuk-nusuk pantat capung. Oleh karena itulah, ketika dewasa Sang Resi harus mendapatkan hukuman yang setimpal akibat perbuatannya,

Mendengar pernyataan Yamadipati, para Resi itu tidak setuju. Sebab, seorang anak yang belum berumur empat belas tahun tidak dapat dijatuhi hukuman (yadikang rare magawe doşa ri padblas tahun wayahnya, yogya tibāna daņdha). Di umur itu, anak-anak tidak sepantasnya mendapatkan hukuman, karena mereka belum paham baik dan buruk (tan yogya tibāna danda, ikang rare yan tuning kinahanan ing idĕp hala hayu). Dengan alasan itulah, para Resi kemudian mengutuk Yamadipati agar bereinkarnasi ke dunia menjadi seseorang yang berkaki pincang. Ia adalah Widura, Perdana menteri kerajaan Hastina Pura.

Membaca fragmen kisah Yamadipati dalam pustaka Adiparwa di atas kita merasa ada jejak-jejak purba perlindungan terhadap anak. Dalam karya sastra tersebut secara terang benderang disebutkan bahwa seorang anak yang belum berumur empat belas tahun tidak boleh dijatuhi hukuman.

Pada saat yang bersamaan, kita juga dapat memaknai pustaka ini sebagai bentuk perlindungan sastra terhadap anak. Di usianya yang belum lebih dari empat belas tahun, pantang memberikan hukuman dan tindakan kekerasan lainnya terhadap seorang anak, meskipun orang tua dengan berbagai alasan dan otoritas kadang melakukan hal itu terhadap putranya. Sampai di sini, barangkali penting bagi kita merenungkan petikan Kakawin Niti Sastra tentang pendidikan anak sesuai dengan tingkat umurnya.

Karya sastra yang dalam tradisi Bali diyakini karya Dang Hyang Nirartha ini menjelaskan bahwa anak yang berumur lima tahun patut diperlakukan seperti anak raja (Tiŋkahiŋ sutaśasaneka kadi rāja tanaya ri sĕdĕŋ limaŋ tawun). Apabila ia sudah berumur tujuh tahun patut diperlakukan seperti pelayan (saptaŋ warṣa warā hulun).  

Sementara itu, ketika usianya sudah menginjak sepuluh tahun, ia mulai diajarkan aksara (sapuluhiŋ tahun ika wurukĕn riŋ akṣara). Jika sudah enam belas tahun perlakukan seperti sahabat baik, dan berhati-hati menunjukkan kesalahannya (yapwan sodaṣawarṣa tulya wara mitra tinaha taha denta mīdana). Jika ia sendiri sudah berkeluarga dan berputra, orang tuanya cukup hanya mengamat-amati saja tingkahnya. Apabila dalam keadaan tertentu orang tua ingin memberikan nasihat, ia cukup menyampaikannya dengan isyarat (yan wus putra suputra yiŋhalana solahika wurukĕn iŋ nayeŋ gita).

Penjalasan pustaka Niti Sastra di atas adalah ilmu parenting cara Jawa Kuno dan Bali.  Kenapa kita perlu menerapkan pola pendidikan tersebut kepada sang anak? Sebab, pustaka Slokantara menyatakan bahwa membuat seratus sumur kalah pahalanya dengan membuat satu telaga, membuat seratus telaga kalah pahalanya dengan membuat satu yadnya, seratus yadnya dikahkan dengan kelahiran satu putra yang teguh melaksanakan tapa, brata, yoga, samadhi dan berbagai kebagikan untuk sesamanya.

Selamat Hari Anak Nasional.   

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Dari Ujung Lidah sampai Ujung Pangrupak: Membaca Saraswati sebagai Momentum Literasi
Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira
Patibrata: Pesan Teduh dan Teguh dari Sita dalam Kakawin Rāmāyana
Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali
Tags: anak-anakhari anak nasionalkekerasan terhadap perempuan dan anaksastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arja “Alas Langit Peteng”: Manis & Pangus — Catatan TA Mahasiswa Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Next Post

Pedagang Kaki Lima di Pinggiran Danau Beratan: Dianggap Mengganggu, Dikejar-kejar Petugas

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Pedagang Kaki Lima di Pinggiran Danau Beratan: Dianggap Mengganggu, Dikejar-kejar Petugas

Pedagang Kaki Lima di Pinggiran Danau Beratan: Dianggap Mengganggu, Dikejar-kejar Petugas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co