23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyambangi Keindahan Alam Pantai Pidakan di Pacitan — Benarkah Pacitan jadi Bali-nya Jawa?

Karisma Nur Fitria by Karisma Nur Fitria
June 21, 2024
in Tualang
Menyambangi Keindahan Alam Pantai Pidakan di Pacitan — Benarkah Pacitan jadi Bali-nya Jawa?

Suasana Pantai Berhiaskan Pohon Kelapa/Karisma Nur Fitria

MENGISI cuti bersama kenaikan Isa Al Masih lalu, saya memutuskan untuk berkunjung ke Pacitan. Cukup dengan merogoh kantung sejumlah Rp. 80.000 saya sudah nyaman duduk di dalam mobil travel sambil menikmati perjalanan. Suasana sejuk ditemani pemandangan perbukitan menemani perjalanan saya dari Yogyakarta menuju Pacitan. Selama kurang lebih tiga jam perjalanan jalur darat, akhirnya saya tiba di Pacitan, Jawa Timur.

Terkenal dengan keindahan pantainya membuat saya penasaran dengan ungkapan “Pacitan adalah Balinya Jawa”. Melalui beberapa media saya mencari pantai-pantai yang sekiranya menarik. Melihat ulasan yang ada saya akhirnya tertarik memasukkan pantai Pidakan dalam daftar. Saya rasa orang-orang perlu tahu keindahan alam pacitan terutama pantai Pidakan.

Sehari setelah tiba di Pacitan, saya segera menuju pantai Pidakan. Sekitar pukul 10:00 WIB  saya tiba di pantai Pidakan. Belum terlalu siang dan suasana pantai masih sepi dari pengunjung. Kesan pertama saya turun dari mobil dan memandang pantai Pidakan adalah “indah sekali ciptaan Tuhan”. Saya sangat terkesan dengan keindahan pantai ini dalam sekali pandang.

Menempuh jarak sekitar 20 kilometer dari kota Pacitan, rasanya setimpal dengan pemandangan yang disuguhkan oleh pantai Pidakan. Akses menuju pantai ini mudah untuk dijangkau baik menggunakan motor atau mobil pribadi. Sepanjang perjalanan menuju pantai, saya disuguhkan dengan pemadangan pantai-pantai yang indah. Ditemani dinding tebing yang menghiasi sisi jalan lainnya menambah kekaguman saya kepada alam Pacitan.

Hamparan Keindahan di Pantai Pidakan Pacitan

Hamparan Bebatuan di Sepanjang Bibir Pantai Pidakan | Foto: Karisma Nur Fitria

Tibalah saya di pantai Pidakan, disambut ramah oleh penjaga dan membayar uang retribusi sebesar Rp. 10.000 saja. Pantai Pidakan memiliki keindahan dan ciri khas tersendiri dibanding pantai biasanya. Terdapat bebatuan yang menghiasi sepanjang bibir pantai dan menambah pesona pantai ini. Ketika deburan ombak bertemu di bibir pantai dan bertumburan dengan bebatuan itu memberikan efek suara seperti air sedang membawa bebatuan ke arah laut. Hal ini memberikan ketenangan tersendiri bagi saya atau mungkin pengunjung lain dengan menikmati suara itu.

Apabila diungkapkan dengan kata-kata, pantai Pidakan adalah pantai yang ada dalam bayangan saya selama ini. Di sekitar pantai ditumbuhi banyak pohon kelapa. Lingkungannya yang sangat bersih akan membuat siapa saja nyaman berlama-lama di pantai ini. Air laut yang jernih menampilkan warna biru kehiijauan dengan pasir yang putih menambah suasana pantai sesungguhnya.

Terlalu sibuk memandangi keindahan pantai dengan hamparan bebatuannya, saya berpaling mengagumi hal lain. Terdapat sebuah mercusuar kecil yang berada di tengah pantai. Mercusuar yang kokoh bewarna putih di atas hamparan ombak laut menambah pesona indah pantai ini.

Mercusuar di Tengah Laut Pantai Pidakan | Foto: Karisma Nur Fitria

Pantai yang terletak di Desa Jetak, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, ini menyediakan fasilitas yang cukup lengkap seperti, gazebo, tempat duduk di sepanjang pantai, tempat sampah yang memadai, mushola, dan kantin. Tergiur dengan bau cilok dari seorang penjual, saya membutuskan untuk membelinya “Ciloknya 5.000 nggih, Pak”. Si bapak dengan riang melayani dan diluar dugaan pentol cilok yang diberikan sangat banyak, jelas harganya bukan sebiji Rp.500 perak seperti di Yogyakarta. Hal ini membuat culture shock bagi saya.

Di tempat wisata seperti pantai sudah biasa menjumpai para pedagang makanan dengan seenaknya menaikkan harga, tetapi tidak di pantai Pidakan. Hal ini menjadi nilai plus tersendiri bagi pengalaman saya berkunjung ke pantai Pidakan, Pacitan, Jawa Timur. Uang Rp. 20.000 sudah sangat cukup mulai dari biaya masuk dan membeli makanan ringan seperti es kopi dan cilok.

Pantai ini cocok dijadikan sebagai desnitasi wisata yang dapat dikunjungi bersama keluarga, teman, atau pasangan. Ketika mengitari pantai, tidak jarang saya menemukan pengunjung yang datang bersama keluarganya dan menggelar tikar lalu makan bersama. Sebuah piknik yang menyenangkan, makan bersama ditemani keindahan pantai Pidakan.

Suasana Pantai Berhiaskan Pohon Kelapa | Foto: Karisma Nur Fitria

Tidak cukup dengan menikmatinya saja. Pastikan kamera atau handphone memiliki ruang dan baterai yang cukup untuk mengabadikan setiap momen di pantai ini. Dengan pemandangan indah dan fotogenik akan sangat layak menyebut pantai Pidakan ini sebagai tempat yang instagramable. Saya tidak berhenti memotret setiap sudut keindahan pantai Pidakan.

Melihat keindahan pantai Pidakan ada satu hal yang semestinya diperhatikan oleh pihak pengelola. Ketika tiba di pantai dengan situasi ombak cukup tinggi, penting untuk dihadirkan pengawas yang siap berjaga di pantai guna menghimbau pengunjung. Terdapat pos keamanan akan tetapi tidak ada pengawas yang menjaga di sana. Hal ini menjadi perhatian tersendiri demi keamanan dan kenyamanan pengunjung. Menghindari hal yang tidak diinginkan tentu perlu diwaspadai seperti dengan adanya himbauan, seperti aturan, atau larangan dalam papan pengumuman.

Berbagai daya tarik yang ditawarkan oleh pantai ini memberikan kesan tersendiri bagi saya. Perjalanan dari Yogyakarta ke Pacitan tidak mengecewakan sama sekali dengan suguhan keindahan alam terutama pantainya. Pantai Pidakan sangat layak dijadikan salah satu tujuan ketika mengunjungi Pacitan. [T]

Berlabuh Sejenak di Pantai Labuhan Amuk: Ada Tenangnya, Ada Sedihnya
Menikmati Pasang-Surut Dinamika Hidup — Renungan dari Pantai Sanur
Pantai Segara Wilis, Pasir Hitam yang Lembut dan Langit Penuh Warna
Pantai, Tempat Hidup, dan Warung Pak Udin
Tags: Jawa TimurPacitanPantai BidakanPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [1]: Kepemimpinan dan Joged Jaruh

Next Post

Pukul Dua Air Mata | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria

Mahasiswi berusia 20 tahun yang sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Memiliki ketertarikan dalam bidang kepenulisan berbagai genre baik fiksi maupun non fiksi. Tengah berusaha mengembangkan project humanity @katabantu_ dengan konsep menjual e-book karya sastra dan 100% hasil penjualannya akan didonasikan untuk aksi kemanusiaan.

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Pukul Dua Air Mata | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Pukul Dua Air Mata | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co