4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pantai, Tempat Hidup, dan Warung Pak Udin

Hilda Aulia by Hilda Aulia
November 12, 2023
in Esai
Pantai, Tempat Hidup, dan Warung Pak Udin

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

SEBAGAI ANAK yang bertempat tinggal di pinggir pantai, tentu saya sudah akrab dengan pantai dan seisinya, juga kebiasaan masyarakatnya. Saya akrab dengan perahu, pasang surut air laut, dan hilir mudik para nelayan. Saya juga mengerti kapan waktu yang pas untuk menangkap ikan, dan kapan musim ikan melimpah.

Karena memang dilahirkan di sebuah rumah yang barangkali hanya sekedipan mata dari pantai—ya rumah saya bisa dibilang mepet pantai—maka apa yang saya sampaikan di atas benar-benar saya alami sejak kecil.

Maka, pantai bagi saya bukan hanya sebagai tempat rekreasi—atau meminjam istilah sekarang, healing—tapi, pantai saya ibaratkan sebuah taman di tengah-tengah pusat kota, di mana saya bisa menghabiskan waktu di sana, dari bermain pasir, berlarian mengejar ombak, tiduran di pasir pantai dan tentu sebagai tempat merenung juga.

Selama sembilan belas tahun ini, pantai adalah saksi perjalanan kehidupan keluarga saya. Sebab, orang tua saya, selain memilih rumah di pinggir pantai, kami juga hidup dan mencari rejeki dari hasil lautnya. Ya, orang tua saya adalah nelayan. Saya hidup dari orang tua yang setiap paginya harus mendorong sampan dan menunggu di sore hari sembari berharap bapak pulang dengan ikan yang banyak di atas perahunya.

Kehidupan seorang anak pesisir, sejauh yang saya alami, sangatlah unik. Karena, tidak ada seorang pun yang saya temui—mereka yang rumahnya tidak di pinggir pantai, tentunya—mengatakan bahwa dirinya tidak suka dengan pantai. Bahkan, mereka sampai berkeinginan suatu saat bisa memiliki rumah di dekat pantai.

“Kamu enak, ya, rumahnya dekat pantai” atau “Wah, seru dong rumah di pinggir pantai, bisa nyunset setiap sore”. Barangkali, kalimat tersebut sudah sering saya dengar dari mulut teman-teman saya. Tapi saya juga yakin, mereka tidak tahu kalau rumah di pinggir pantai ada tidak enaknya juga.

Selain rumah di pinggir pantai dapat menimbulkan rasa iri teman-teman saya, tentu mereka juga merasa iri dengan kebiasaan masyarakat pesisirnya. Sebab, jika saat musim ikan, mereka sering bilang “Enak banget kamu makan ikan setiap hari”. Ya, sekali lagi saya berpikir bahwa mereka tidak tahu kalau keseringan makan ikan juga tetap ada rasa bosannya.

Ini yang barangkali tidak semua orang tahu tentang kehidupan masyarakat di pesisir pantai. Begini, di tempat saya tinggal, hampir setiap pagi orang-orang yang rumahnya jauh dari pantai, mereka selalu datang dengan membawa kantung plastik atau wadah lainnya untuk berburu ikan gratis hasil tangkapan para nelayan.

Ya, gratis. Ikan yang mereka cari adalah ikan yang telah disortir oleh nelayan setempat, dan merupakan ikan yang bukan ikan target yang nelayan cari. Memang hal tersebut sangatlah wajar bagi kami, kalau ikan yang tidak masuk kategori ikan jual, maka ikan-ikan itu akan dibagi-bagikan kepada siapa pun yang datang.

Bagi kami, masyarakat pesisir pantai di Desa Celukanbawang, sudah akrab dengan hal-hal semacam itu. Hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat pesisir di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, itu. Mereka menyebut kegiatan tersebut dengan istilah blantik. Sebab, kalau tidak ada yang mengambilnya, maka ikan-ikan itu akan dibiarkan membusuk begitu saja di pinggir pantai.

Selain mencari ikan sebagai mata pencaharian bagi keluarga saya, kami juga memiliki usaha kecil-kecilan di rumah. Kami memiliki warung kecil yang namanya diambil dari nama Bapak. Warung Pak Udin, namanya. Membuat warung di pinggir pantai bukan tanpa alasan, karena Bapak memiliki prinsip “kita harus bisa memanfaatkan momen, di mana hal itu dapat membantu orang lain, dan memberikan rezeki untuk keluarga kita”.

Warung Pak Udin tak seperti warung-warung pada umumnya. Kami hanya buka ketika hasil tangkapan ikan sedang melimpah, atau saat musim ikan saja. Sebab, kami memiliki sebuah balai yang memiliki kamar, yang biasanya digunakan para nelayan beristirahat—bahkan menginap ketika musim ikan. Maka, ketika musim ikan dan banyak nelayan menginap di balai kami, maka hasil penjualan Warung Pak Udin pun meningkat

Kebetulan tempat penampungan ikan atau Balai Nelayan terletak tepat di depan rumah saya. Oleh karena itu, ketika musim ikan melimpah, Warung Pak Udin biasanya hanya membutuhkan waktu satu hari saja untuk menghabiskan seluruh dagangannya. Sebab, yang datang ke Balai Nelayan bukan hanya masyarakat sekitar saja, melainkan dari berbagai daerah seperti para nelayan dari Jembrana.

Tampaknya realitas warung pelabuhan memang seperti itu, selalu ramai pada saat musim ikan saja. Meskipun hanya dengan menu kopi hitam dan mi rebus plus telur, sudah cukup menghangatkan badan nelayan yang basah sepulang menangkap ikan di tengah laut.

Warung Pak Udin, meskipun tidak buka seperti warung-warung pada umumnya, ketika musim ikan, bisa buka sampai 24 jam, setiap harinya. Ya, itu karena banyak nelayan yang menginap di balai kami dan biasanya mereka memesan makanan di tengah malam sesaat sebelum mereka berangkat mencari ikan. Dan itu merupakan keberkahan tersendiri bagi Warung Pak Udin.

Biasanya, untuk mengisi waktu luang sebelum berangkat memancing, mereka bisa bermain kartu atau karaoke di Warung Pak Udin. Ya, bapak memang suka menyanyi. Oleh sebab itu biasanya mereka bernyanyi-nyanyi sembari menunggu giliran untuk berangkat berlayar menangkap ikan. Baik memancing atau menjaring ikan.

Keberadaan Warung Pak Udin sangat dimanfaatkan betul oleh nelayan yang berkumpul di Balai Nelayan. Selain warung kami menyediakan berbagai makanan yang bisa untuk mengganjal perut, adanya balai di warung kami juga merupakan sebuah keuntungan bagi para nelayan. Sebab, mereka tak perlu pulang-pergi ke rumah mereka yang notabennya lumayan jauh jaraknya dari Balai Nelayan.

Sejak adanya warung itu, bagi saya sangat memberikan keberkahan di keluarga kami. Sebab, menurut saya, sebuah kebahagiaan itu terletak pada senyuman orang tua. Dan senyuman itu menjadi senyum bahagia ketika dagangan mereka laku dan habis.[T]

Ketika Anak Nelayan Keracunan Ikan
Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya
Gitar Butanza dan Kenangan di Baliknya
Tags: esaiGerokgaknelayan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Nitya Rupa: Usaha Mempopulerkan Kembali Sastra Jawa Kuna

Next Post

Jero Dalang Wijana, Dalang Genjek dan Seniman Serba Bisa dari Padang Bulia

Hilda Aulia

Hilda Aulia

Mahasiswi Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Sejarah. Berasal dari Celukan Bawang, Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali.

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Jero Dalang Wijana, Dalang Genjek dan Seniman Serba Bisa dari Padang Bulia

Jero Dalang Wijana, Dalang Genjek dan Seniman Serba Bisa dari Padang Bulia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co