24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pantai, Tempat Hidup, dan Warung Pak Udin

Hilda Aulia by Hilda Aulia
November 12, 2023
in Esai
Pantai, Tempat Hidup, dan Warung Pak Udin

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

SEBAGAI ANAK yang bertempat tinggal di pinggir pantai, tentu saya sudah akrab dengan pantai dan seisinya, juga kebiasaan masyarakatnya. Saya akrab dengan perahu, pasang surut air laut, dan hilir mudik para nelayan. Saya juga mengerti kapan waktu yang pas untuk menangkap ikan, dan kapan musim ikan melimpah.

Karena memang dilahirkan di sebuah rumah yang barangkali hanya sekedipan mata dari pantai—ya rumah saya bisa dibilang mepet pantai—maka apa yang saya sampaikan di atas benar-benar saya alami sejak kecil.

Maka, pantai bagi saya bukan hanya sebagai tempat rekreasi—atau meminjam istilah sekarang, healing—tapi, pantai saya ibaratkan sebuah taman di tengah-tengah pusat kota, di mana saya bisa menghabiskan waktu di sana, dari bermain pasir, berlarian mengejar ombak, tiduran di pasir pantai dan tentu sebagai tempat merenung juga.

Selama sembilan belas tahun ini, pantai adalah saksi perjalanan kehidupan keluarga saya. Sebab, orang tua saya, selain memilih rumah di pinggir pantai, kami juga hidup dan mencari rejeki dari hasil lautnya. Ya, orang tua saya adalah nelayan. Saya hidup dari orang tua yang setiap paginya harus mendorong sampan dan menunggu di sore hari sembari berharap bapak pulang dengan ikan yang banyak di atas perahunya.

Kehidupan seorang anak pesisir, sejauh yang saya alami, sangatlah unik. Karena, tidak ada seorang pun yang saya temui—mereka yang rumahnya tidak di pinggir pantai, tentunya—mengatakan bahwa dirinya tidak suka dengan pantai. Bahkan, mereka sampai berkeinginan suatu saat bisa memiliki rumah di dekat pantai.

“Kamu enak, ya, rumahnya dekat pantai” atau “Wah, seru dong rumah di pinggir pantai, bisa nyunset setiap sore”. Barangkali, kalimat tersebut sudah sering saya dengar dari mulut teman-teman saya. Tapi saya juga yakin, mereka tidak tahu kalau rumah di pinggir pantai ada tidak enaknya juga.

Selain rumah di pinggir pantai dapat menimbulkan rasa iri teman-teman saya, tentu mereka juga merasa iri dengan kebiasaan masyarakat pesisirnya. Sebab, jika saat musim ikan, mereka sering bilang “Enak banget kamu makan ikan setiap hari”. Ya, sekali lagi saya berpikir bahwa mereka tidak tahu kalau keseringan makan ikan juga tetap ada rasa bosannya.

Ini yang barangkali tidak semua orang tahu tentang kehidupan masyarakat di pesisir pantai. Begini, di tempat saya tinggal, hampir setiap pagi orang-orang yang rumahnya jauh dari pantai, mereka selalu datang dengan membawa kantung plastik atau wadah lainnya untuk berburu ikan gratis hasil tangkapan para nelayan.

Ya, gratis. Ikan yang mereka cari adalah ikan yang telah disortir oleh nelayan setempat, dan merupakan ikan yang bukan ikan target yang nelayan cari. Memang hal tersebut sangatlah wajar bagi kami, kalau ikan yang tidak masuk kategori ikan jual, maka ikan-ikan itu akan dibagi-bagikan kepada siapa pun yang datang.

Bagi kami, masyarakat pesisir pantai di Desa Celukanbawang, sudah akrab dengan hal-hal semacam itu. Hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat pesisir di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, itu. Mereka menyebut kegiatan tersebut dengan istilah blantik. Sebab, kalau tidak ada yang mengambilnya, maka ikan-ikan itu akan dibiarkan membusuk begitu saja di pinggir pantai.

Selain mencari ikan sebagai mata pencaharian bagi keluarga saya, kami juga memiliki usaha kecil-kecilan di rumah. Kami memiliki warung kecil yang namanya diambil dari nama Bapak. Warung Pak Udin, namanya. Membuat warung di pinggir pantai bukan tanpa alasan, karena Bapak memiliki prinsip “kita harus bisa memanfaatkan momen, di mana hal itu dapat membantu orang lain, dan memberikan rezeki untuk keluarga kita”.

Warung Pak Udin tak seperti warung-warung pada umumnya. Kami hanya buka ketika hasil tangkapan ikan sedang melimpah, atau saat musim ikan saja. Sebab, kami memiliki sebuah balai yang memiliki kamar, yang biasanya digunakan para nelayan beristirahat—bahkan menginap ketika musim ikan. Maka, ketika musim ikan dan banyak nelayan menginap di balai kami, maka hasil penjualan Warung Pak Udin pun meningkat

Kebetulan tempat penampungan ikan atau Balai Nelayan terletak tepat di depan rumah saya. Oleh karena itu, ketika musim ikan melimpah, Warung Pak Udin biasanya hanya membutuhkan waktu satu hari saja untuk menghabiskan seluruh dagangannya. Sebab, yang datang ke Balai Nelayan bukan hanya masyarakat sekitar saja, melainkan dari berbagai daerah seperti para nelayan dari Jembrana.

Tampaknya realitas warung pelabuhan memang seperti itu, selalu ramai pada saat musim ikan saja. Meskipun hanya dengan menu kopi hitam dan mi rebus plus telur, sudah cukup menghangatkan badan nelayan yang basah sepulang menangkap ikan di tengah laut.

Warung Pak Udin, meskipun tidak buka seperti warung-warung pada umumnya, ketika musim ikan, bisa buka sampai 24 jam, setiap harinya. Ya, itu karena banyak nelayan yang menginap di balai kami dan biasanya mereka memesan makanan di tengah malam sesaat sebelum mereka berangkat mencari ikan. Dan itu merupakan keberkahan tersendiri bagi Warung Pak Udin.

Biasanya, untuk mengisi waktu luang sebelum berangkat memancing, mereka bisa bermain kartu atau karaoke di Warung Pak Udin. Ya, bapak memang suka menyanyi. Oleh sebab itu biasanya mereka bernyanyi-nyanyi sembari menunggu giliran untuk berangkat berlayar menangkap ikan. Baik memancing atau menjaring ikan.

Keberadaan Warung Pak Udin sangat dimanfaatkan betul oleh nelayan yang berkumpul di Balai Nelayan. Selain warung kami menyediakan berbagai makanan yang bisa untuk mengganjal perut, adanya balai di warung kami juga merupakan sebuah keuntungan bagi para nelayan. Sebab, mereka tak perlu pulang-pergi ke rumah mereka yang notabennya lumayan jauh jaraknya dari Balai Nelayan.

Sejak adanya warung itu, bagi saya sangat memberikan keberkahan di keluarga kami. Sebab, menurut saya, sebuah kebahagiaan itu terletak pada senyuman orang tua. Dan senyuman itu menjadi senyum bahagia ketika dagangan mereka laku dan habis.[T]

Ketika Anak Nelayan Keracunan Ikan
Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya
Gitar Butanza dan Kenangan di Baliknya
Tags: esaiGerokgaknelayan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Nitya Rupa: Usaha Mempopulerkan Kembali Sastra Jawa Kuna

Next Post

Jero Dalang Wijana, Dalang Genjek dan Seniman Serba Bisa dari Padang Bulia

Hilda Aulia

Hilda Aulia

Mahasiswi Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Sejarah. Berasal dari Celukan Bawang, Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Jero Dalang Wijana, Dalang Genjek dan Seniman Serba Bisa dari Padang Bulia

Jero Dalang Wijana, Dalang Genjek dan Seniman Serba Bisa dari Padang Bulia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co