24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gitar Butanza dan Kenangan di Baliknya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
November 5, 2023
in Esai
Gitar Butanza dan Kenangan di Baliknya

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

BELAKANGAN ini saya dibuat geram dengan satu gitar yang ada di kontrakan. Sebab, setelah saya perbaiki, tetap saja tak ada suara indah yang dikeluarkannya. Padahal, tak satu pun bagian dari gitar itu terlewati untuk saya betulkan. Dari headstock, nut, tuner, fret, neck, heel, bridge, dan body, sudah saya pastikan aman. Oh iya, satu lagi, senar satu set pun sudah saya belikan baru. Namun, tetap saja, suara fals-nya sepertinya sudah tidak bisa diganggu-gugat.

Gitar itu milik salah seorang teman saya. Yang entah dengan ikhlas atau karena sebab lain, sehingga gitar itu tak dibawanya pulang. Barangkali sudah memasuki tahun ke-3 gitar akustik dengan merk Cole Clark Custom itu ada di kontrakan.

Selama ini, gitar itu hanya jadi pajangan di salah satu kamar teman saya. Gitar itu tepat berada di tengah-tengah rak buku miliknya. Hampir kurang lebih satu tahun gitar itu tak tersentuh. Dicantolkan begitu saja. Padahal, dulu, gitar itu sering kami mainkan beramai-ramai. Dan terakhir saya mainkan, suaranya masih aman-aman saja. Bahkan bisa dibilang suaranya lumayan bagus untuk ukuran gitar custom.

Berbagai cara sudah saya lakukan untuk membetulkan gitar sialan itu. Padahal, saya juga sudah menjemurnya. Sebab, selama ini saya berkeyakinan, kalau menjemur gitar akan mengurangi kelembapan pada gitar dan meluruskan stang yang sedikit bengkok. Namun, saya juga lupa, entah ilmu itu saya dapatkan dari mana asal-usulnya. Tapi, selama ini pula, cara itu sering saya lakukan jika gitar saya bermasalah. Dan, pastinya sedikit membantu.

Bagi saya, gitar bukan hanya sekadar alat musik saja. Melainkan banyak kenangan dalam hidup saya yang berkaitan dengan gitar. Ya, karena sejak kecil saya sudah dekat dengan alat musik yang konon dari Negeri Matador itu.

Saya masih ingat dengan gitar pertama saya, jenis ukulele. Gitar kecil dengan empat senar itu adalah hadiah untuk saya—karena saya mendapat rangking ke-5 dari 30 siswa, sewaktu naik kelas empat. Sebentar, kok 5 rangking sih? Ya, sebab, sebelum-sebelumnya, saya biasanya berada di peringkat 20-an dari total keseluruhan siswa di kelas. Hahaha.

Entah kenapa, sebagai hadiah untuk naiknya taraf kepintaran saya waktu itu, orang tua saya malah membelikan gitar alih-alih sebuah buku bacaan atau kamus lengkap bahasa Inggris yang 900 triliyun itu. Saya tak tahu alasan pastinya. Mungkin, ini menurut saya, sepertinya Bapak menginginkan anaknya menjadi gitaris top seperti idolanya, Stevie Ray Vaughan, gitaris Blues dari Amerika, yang tewas dalam kecelakaan helikopter itu.

Dari hadiah itulah, kegemaran saya pada gitar mulai tumbuh. Padahal, sebelum dibelikan gitar tersebut, saya tak pernah sekalipun belajar tentang gitar. Jangankan belajar, untuk sekadar tahu kalau bermain gitar itu harus menggunakan susunan nada dan kunci dasar pun, saya tak tahu.

Alhasil, setelah saya mempunyai gitar itu, ke mana-mana saya tak pernah lupa untuk membawa gitar tersebut. Meskipun, pada saat itu, saya hanya sekadar genjrang-genjreng tidak jelas. Mungkin, waktu itu banyak orang yang terganggu dengan ulah saya. Ya jelas terganggu, kan main gitarnya ngawur. Tapi tak masalah. Toh, saya masih kecil kan waktu itu.

***

Entah berapa lama gitar itu bersama saya. Terakhir saya melihatnya pas lebaran kemarin. Tersimpan di dalam lemari, lengkap dengan stiker yang memenuhi bodinya, dan bolong pada bagian tabung bawahnya. Saya lupa, waktu itu ada kejadian seperti apa, yang menyebabkan gitar itu jadi berlubang.

Namun, seingat saya, gitar itu tak pernah saya mainkan karena saya sudah punya gitar baru. Gitar yang benar-benar gitar—senar enam tentunya—yang saya beli dari hasil mengumpulkan sisa bekal sekolah, dengan harga tujuh puluh ribu rupiah. Murah kan? Tapi tenang, nanti akan saya jelaskan kenapa harganya murah.

Gitar dengan merk Butanza itu saya beli dari seorang bapak dari teman saya—sebut saja namanya Pak Usa (nama samaran). Meskipun gitar itu tak seterkenal dengan gitar merk lain, seperti Cowboy, Yamaha, Gibson, Fender, Ibanez, dan Taylor; tapi, sepengalaman pribadi saya, gitar merk Butanza tak kalah bagus suaranya dengan gitar-gitar yang saya sebutkan barusan.

Ia memiliki ciri khas suara yang nyaring dan merdu. Semacam perpaduan antara Banjo—gitar untuk musik Country—dengan gitar jenis resonator. Sehingga menghasilkan suara yang keras, jelas, dan nyaring. Bunyinya jring… jring… bukan jreng… jreng..

Lalu, kenapa gitar itu bisa murah?

Begini ceritanya. Waktu itu saya memang sedang semangat-semangatnya belajar bermain gitar. Saya selalu meminjam gitar milik Pak Usa untuk belajar. Karena belajar dengan ukulele, bagi saya kurang memuaskan. Jadinya, saya yang belum mempunyai gitar, terpaksa belajar dengan gitar hasil pinjaman.

Kadang, gitar milik Pak Usa itu, juga saya bawa pulang. Sebab, belajar dengan Pak Usa, selain orangnya jarang sadar, dia selalu mengajarkan kunci-kunci yang bagi saya waktu itu sangat menyiksa. Kunci B! Kunci itu, selain memainkannya harus dengan menekan senar dengan keras—agar bunyinya tidak mati—juga menyebabkan pergelangan tangan saya menjadi ngilu.

Sehingga, alasan saya membawa gitar itu pulang, selain untuk belajar kepada Bapak, juga untuk menghindari kunci B-nya Pak Usa. Namun, ternyata saya salah. Agar bisa dan jago bermain gitar, saya tak bisa menganak tirikan kunci B. Sebab, belajar dengan Bapak pun saya tetap harus dipaksa untuk menguatkan pergelangan tangan, agar suara dari kunci B-nya tidak mati.

Namun, lama-kelamaan saya tak diberi izin lagi untuk membawa gitar itu pulang ke rumah. Dan parahnya, Pak Usa berkata, “Percuma belajar gitar kalau masih gitar pinjaman,” ujarnya, menyindir. “Kamu beli aja gitarku ini! buat kamu, tujuh puluh ribu saja.”

Karena saya telah mengorbankan ujung jari saya sampai kapalan—karena sering menekan senar gitar—sehingga, tanpa berpikir panjang saya menjawab, “Oke, tiga hari lagi saya ambil gitarnya!” Ya, saya memberinya waktu tiga hari itu bukan tanpa sebab. Itu karena saya masih belum mempunyai uang untuk membelinya. Dan, tiga hari itu adalah waktu untuk mengumpulkan sisa bekal sekolah untuk membeli gitar itu.

Setelah gitar itu terbeli, saya menjadi semakin giat belajar bermain gitar. Dalam hal belajar bermain gitar, saya tak pernah les sekalipun. Dan saya tak mempunyai guru tetap untuk belajar memainkannya. Saya bisa ke mana saja belajar mengenal kunci-kunci dasar. Bisa belajar dari Bapak, dari pengamen yang kebetulan bertandang ke kampung saya, dan tentu saja teman-teman yang sudah lebih dulu jago bermain gitar.

Bahkan, karena terlalu kepinginnya bisa bermain gitar, saya juga tidur dengan gitar itu. Jadi, sebelum tidur saya bermain gitar, pas bangun tidur pun saya langsung menyentuh gitar.

Tapi, akhirnya saya mengerti, kenapa gitar itu dijual dengan harga murah oleh Pak Usa? Begini kisah lengkapnya. Setelah saya lumayan jago bermain gitar, saya pun sering diajak teman-teman untuk mengamen ke desa-desa tetangga.

Bagi kami, anak kampung yang hidup di tahun 2000-an, mengamen adalah jalan alternatif untuk mendapatkan uang. Agar bisa membeli rokok, kopi, dan mi instan untuk dimakan bersama. Kegiatan mengamen bisa kami lakukan sehari dua kali dengan sistem bergantian.

Tapi, ketika kami sampai disalah satu rumah dan bersiap untuk menyanyikan lagu dangdut berbahasa Osing, belum juga sampai pada reff-nya, si pemilik rumah keluar. Pemuda dengan rambut gondrong dan berbadan tegap dengan tato di lengan kirinya itu, seketika mengurungkan niatnya untuk memberi kami uang receh. Ia malah tampak serius memperhatikan gitar yang sedang saya mainkan.

“Itu kan gitar saya!”

Seketika saya menghentikan genjrengan saya.

“Ha? Ini gitarku!” tegasku waktu itu.

Kami hanya bisa saling lirik. Sebab, setelah ia meyakinkan bahwa gitar Butanza yang saya beli dari Pak Usa itu miliknya, dan saya telah menjelaskan secara rinci kronologisnya, ternyata memang benar gitar itu adalah mliknya. Saya menjadi yakin setelah ia menunjukkan fotonya, dan teman-temannya dengan gitar itu.

Ternyata, gitar yang saya beli dari Pak Usa itu, adalah gitar milik pemuda tersebut—yang Pak Usa pinjam beberapa bulan lalu ketika mereka teler sehabis mabuk bersama. Pemuda itu selama ini sudah menanyakan gitar itu ke Pak Usa, dan setiap ditanyakan, jawaban Pak Usa selalu sama, “Masih di rumah saudara, dan orangnya lagi keluar rumah, nanti malam kalau orangnya sudah pulang gitarnya saya kembalikan.”

Sialan. Ternyata gitar pertama yang saya beli dari uang saya sendiri adalah gitar curian. Itulah kenapa nama orang yang menjual gitar itu kepada saya, saya samarkan menjadi Pak Usa.

Namun tetap, saya tak mau tahu waktu itu, toh saya sudah membelinya dan ada ijab-kabuldalam transaksinya. Sehingga, gitar itu tetap menjadi milik saya. Dan perihal masalah Pak Usa dengan pemuda itu, saya tak mau tahu.

Sekarang, meskipun gitar Butanza itu sudah rusak dan retak dibagian sana-sininya, saya tetap menyimpannya. Tentu suaranya sudah tak se-ngejring dulu. Namun, saya tetap menyimpannya karena dari gitar itu saya bisa bermain gitar. Dan, tentu cerita di balik gitar itulah yang menjadi alasan saya untuk terus menyimpannya, sampai kapan pun.[T]

Gitaris Muda, Gitar Ibanez, dan Dangdut
Puasa di Masa Kecil dan Kenakalan-kenakalan yang Mewarnainya
Kebaikan Tanpa Pengetahuan Adalah Kesalahan
Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya
Tags: ceritaCerita Masa Kecilesai
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jelajah Aksara Dalam Sarira : Catatan dari Tutur Sang Hyang Aji Saraswati

Next Post

Ayu Windi dan Usaha Melestarikan Kain Tenun Tradisional

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Kontributor tatkala.co

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Ayu Windi dan Usaha Melestarikan Kain Tenun Tradisional

Ayu Windi dan Usaha Melestarikan Kain Tenun Tradisional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co