3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gitar Butanza dan Kenangan di Baliknya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
November 5, 2023
in Esai
Gitar Butanza dan Kenangan di Baliknya

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

BELAKANGAN ini saya dibuat geram dengan satu gitar yang ada di kontrakan. Sebab, setelah saya perbaiki, tetap saja tak ada suara indah yang dikeluarkannya. Padahal, tak satu pun bagian dari gitar itu terlewati untuk saya betulkan. Dari headstock, nut, tuner, fret, neck, heel, bridge, dan body, sudah saya pastikan aman. Oh iya, satu lagi, senar satu set pun sudah saya belikan baru. Namun, tetap saja, suara fals-nya sepertinya sudah tidak bisa diganggu-gugat.

Gitar itu milik salah seorang teman saya. Yang entah dengan ikhlas atau karena sebab lain, sehingga gitar itu tak dibawanya pulang. Barangkali sudah memasuki tahun ke-3 gitar akustik dengan merk Cole Clark Custom itu ada di kontrakan.

Selama ini, gitar itu hanya jadi pajangan di salah satu kamar teman saya. Gitar itu tepat berada di tengah-tengah rak buku miliknya. Hampir kurang lebih satu tahun gitar itu tak tersentuh. Dicantolkan begitu saja. Padahal, dulu, gitar itu sering kami mainkan beramai-ramai. Dan terakhir saya mainkan, suaranya masih aman-aman saja. Bahkan bisa dibilang suaranya lumayan bagus untuk ukuran gitar custom.

Berbagai cara sudah saya lakukan untuk membetulkan gitar sialan itu. Padahal, saya juga sudah menjemurnya. Sebab, selama ini saya berkeyakinan, kalau menjemur gitar akan mengurangi kelembapan pada gitar dan meluruskan stang yang sedikit bengkok. Namun, saya juga lupa, entah ilmu itu saya dapatkan dari mana asal-usulnya. Tapi, selama ini pula, cara itu sering saya lakukan jika gitar saya bermasalah. Dan, pastinya sedikit membantu.

Bagi saya, gitar bukan hanya sekadar alat musik saja. Melainkan banyak kenangan dalam hidup saya yang berkaitan dengan gitar. Ya, karena sejak kecil saya sudah dekat dengan alat musik yang konon dari Negeri Matador itu.

Saya masih ingat dengan gitar pertama saya, jenis ukulele. Gitar kecil dengan empat senar itu adalah hadiah untuk saya—karena saya mendapat rangking ke-5 dari 30 siswa, sewaktu naik kelas empat. Sebentar, kok 5 rangking sih? Ya, sebab, sebelum-sebelumnya, saya biasanya berada di peringkat 20-an dari total keseluruhan siswa di kelas. Hahaha.

Entah kenapa, sebagai hadiah untuk naiknya taraf kepintaran saya waktu itu, orang tua saya malah membelikan gitar alih-alih sebuah buku bacaan atau kamus lengkap bahasa Inggris yang 900 triliyun itu. Saya tak tahu alasan pastinya. Mungkin, ini menurut saya, sepertinya Bapak menginginkan anaknya menjadi gitaris top seperti idolanya, Stevie Ray Vaughan, gitaris Blues dari Amerika, yang tewas dalam kecelakaan helikopter itu.

Dari hadiah itulah, kegemaran saya pada gitar mulai tumbuh. Padahal, sebelum dibelikan gitar tersebut, saya tak pernah sekalipun belajar tentang gitar. Jangankan belajar, untuk sekadar tahu kalau bermain gitar itu harus menggunakan susunan nada dan kunci dasar pun, saya tak tahu.

Alhasil, setelah saya mempunyai gitar itu, ke mana-mana saya tak pernah lupa untuk membawa gitar tersebut. Meskipun, pada saat itu, saya hanya sekadar genjrang-genjreng tidak jelas. Mungkin, waktu itu banyak orang yang terganggu dengan ulah saya. Ya jelas terganggu, kan main gitarnya ngawur. Tapi tak masalah. Toh, saya masih kecil kan waktu itu.

***

Entah berapa lama gitar itu bersama saya. Terakhir saya melihatnya pas lebaran kemarin. Tersimpan di dalam lemari, lengkap dengan stiker yang memenuhi bodinya, dan bolong pada bagian tabung bawahnya. Saya lupa, waktu itu ada kejadian seperti apa, yang menyebabkan gitar itu jadi berlubang.

Namun, seingat saya, gitar itu tak pernah saya mainkan karena saya sudah punya gitar baru. Gitar yang benar-benar gitar—senar enam tentunya—yang saya beli dari hasil mengumpulkan sisa bekal sekolah, dengan harga tujuh puluh ribu rupiah. Murah kan? Tapi tenang, nanti akan saya jelaskan kenapa harganya murah.

Gitar dengan merk Butanza itu saya beli dari seorang bapak dari teman saya—sebut saja namanya Pak Usa (nama samaran). Meskipun gitar itu tak seterkenal dengan gitar merk lain, seperti Cowboy, Yamaha, Gibson, Fender, Ibanez, dan Taylor; tapi, sepengalaman pribadi saya, gitar merk Butanza tak kalah bagus suaranya dengan gitar-gitar yang saya sebutkan barusan.

Ia memiliki ciri khas suara yang nyaring dan merdu. Semacam perpaduan antara Banjo—gitar untuk musik Country—dengan gitar jenis resonator. Sehingga menghasilkan suara yang keras, jelas, dan nyaring. Bunyinya jring… jring… bukan jreng… jreng..

Lalu, kenapa gitar itu bisa murah?

Begini ceritanya. Waktu itu saya memang sedang semangat-semangatnya belajar bermain gitar. Saya selalu meminjam gitar milik Pak Usa untuk belajar. Karena belajar dengan ukulele, bagi saya kurang memuaskan. Jadinya, saya yang belum mempunyai gitar, terpaksa belajar dengan gitar hasil pinjaman.

Kadang, gitar milik Pak Usa itu, juga saya bawa pulang. Sebab, belajar dengan Pak Usa, selain orangnya jarang sadar, dia selalu mengajarkan kunci-kunci yang bagi saya waktu itu sangat menyiksa. Kunci B! Kunci itu, selain memainkannya harus dengan menekan senar dengan keras—agar bunyinya tidak mati—juga menyebabkan pergelangan tangan saya menjadi ngilu.

Sehingga, alasan saya membawa gitar itu pulang, selain untuk belajar kepada Bapak, juga untuk menghindari kunci B-nya Pak Usa. Namun, ternyata saya salah. Agar bisa dan jago bermain gitar, saya tak bisa menganak tirikan kunci B. Sebab, belajar dengan Bapak pun saya tetap harus dipaksa untuk menguatkan pergelangan tangan, agar suara dari kunci B-nya tidak mati.

Namun, lama-kelamaan saya tak diberi izin lagi untuk membawa gitar itu pulang ke rumah. Dan parahnya, Pak Usa berkata, “Percuma belajar gitar kalau masih gitar pinjaman,” ujarnya, menyindir. “Kamu beli aja gitarku ini! buat kamu, tujuh puluh ribu saja.”

Karena saya telah mengorbankan ujung jari saya sampai kapalan—karena sering menekan senar gitar—sehingga, tanpa berpikir panjang saya menjawab, “Oke, tiga hari lagi saya ambil gitarnya!” Ya, saya memberinya waktu tiga hari itu bukan tanpa sebab. Itu karena saya masih belum mempunyai uang untuk membelinya. Dan, tiga hari itu adalah waktu untuk mengumpulkan sisa bekal sekolah untuk membeli gitar itu.

Setelah gitar itu terbeli, saya menjadi semakin giat belajar bermain gitar. Dalam hal belajar bermain gitar, saya tak pernah les sekalipun. Dan saya tak mempunyai guru tetap untuk belajar memainkannya. Saya bisa ke mana saja belajar mengenal kunci-kunci dasar. Bisa belajar dari Bapak, dari pengamen yang kebetulan bertandang ke kampung saya, dan tentu saja teman-teman yang sudah lebih dulu jago bermain gitar.

Bahkan, karena terlalu kepinginnya bisa bermain gitar, saya juga tidur dengan gitar itu. Jadi, sebelum tidur saya bermain gitar, pas bangun tidur pun saya langsung menyentuh gitar.

Tapi, akhirnya saya mengerti, kenapa gitar itu dijual dengan harga murah oleh Pak Usa? Begini kisah lengkapnya. Setelah saya lumayan jago bermain gitar, saya pun sering diajak teman-teman untuk mengamen ke desa-desa tetangga.

Bagi kami, anak kampung yang hidup di tahun 2000-an, mengamen adalah jalan alternatif untuk mendapatkan uang. Agar bisa membeli rokok, kopi, dan mi instan untuk dimakan bersama. Kegiatan mengamen bisa kami lakukan sehari dua kali dengan sistem bergantian.

Tapi, ketika kami sampai disalah satu rumah dan bersiap untuk menyanyikan lagu dangdut berbahasa Osing, belum juga sampai pada reff-nya, si pemilik rumah keluar. Pemuda dengan rambut gondrong dan berbadan tegap dengan tato di lengan kirinya itu, seketika mengurungkan niatnya untuk memberi kami uang receh. Ia malah tampak serius memperhatikan gitar yang sedang saya mainkan.

“Itu kan gitar saya!”

Seketika saya menghentikan genjrengan saya.

“Ha? Ini gitarku!” tegasku waktu itu.

Kami hanya bisa saling lirik. Sebab, setelah ia meyakinkan bahwa gitar Butanza yang saya beli dari Pak Usa itu miliknya, dan saya telah menjelaskan secara rinci kronologisnya, ternyata memang benar gitar itu adalah mliknya. Saya menjadi yakin setelah ia menunjukkan fotonya, dan teman-temannya dengan gitar itu.

Ternyata, gitar yang saya beli dari Pak Usa itu, adalah gitar milik pemuda tersebut—yang Pak Usa pinjam beberapa bulan lalu ketika mereka teler sehabis mabuk bersama. Pemuda itu selama ini sudah menanyakan gitar itu ke Pak Usa, dan setiap ditanyakan, jawaban Pak Usa selalu sama, “Masih di rumah saudara, dan orangnya lagi keluar rumah, nanti malam kalau orangnya sudah pulang gitarnya saya kembalikan.”

Sialan. Ternyata gitar pertama yang saya beli dari uang saya sendiri adalah gitar curian. Itulah kenapa nama orang yang menjual gitar itu kepada saya, saya samarkan menjadi Pak Usa.

Namun tetap, saya tak mau tahu waktu itu, toh saya sudah membelinya dan ada ijab-kabuldalam transaksinya. Sehingga, gitar itu tetap menjadi milik saya. Dan perihal masalah Pak Usa dengan pemuda itu, saya tak mau tahu.

Sekarang, meskipun gitar Butanza itu sudah rusak dan retak dibagian sana-sininya, saya tetap menyimpannya. Tentu suaranya sudah tak se-ngejring dulu. Namun, saya tetap menyimpannya karena dari gitar itu saya bisa bermain gitar. Dan, tentu cerita di balik gitar itulah yang menjadi alasan saya untuk terus menyimpannya, sampai kapan pun.[T]

Gitaris Muda, Gitar Ibanez, dan Dangdut
Puasa di Masa Kecil dan Kenakalan-kenakalan yang Mewarnainya
Kebaikan Tanpa Pengetahuan Adalah Kesalahan
Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya
Tags: ceritaCerita Masa Kecilesai
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jelajah Aksara Dalam Sarira : Catatan dari Tutur Sang Hyang Aji Saraswati

Next Post

Ayu Windi dan Usaha Melestarikan Kain Tenun Tradisional

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Ayu Windi dan Usaha Melestarikan Kain Tenun Tradisional

Ayu Windi dan Usaha Melestarikan Kain Tenun Tradisional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co