12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puasa di Masa Kecil dan Kenakalan-kenakalan yang Mewarnainya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
April 11, 2023
in Esai
Puasa di Masa Kecil dan Kenakalan-kenakalan yang Mewarnainya

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

SUDAH TAHUN ke 7 saya menjalani puasa di Singaraja. Tak ada yang istimewa, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Entah karena keimanan saya yang setipis tisu atau saya yang tak pernah menyambut Ramadan dengan khidmat (barangkali alasan pertama itu paling tepat), yang jelas, menjalankan puasa di Singaraja tak pernah berkesan.

Selama menjalani puasa di kota kecil ini, seingat saya, tidur menjadi aktivitas yang sering saya kerjakan—bahkan menjadi rutinitas. Bukan karena tidur diwaktu puasa itu dihitung sebagai ibadah, tapi memang tak ada hal lain yang bisa saya lakukan selama puasa. Tidur pagi bangun sore hari.

Kalau cuaca sedang bagus, sesekali saya memancing. Tapi, kalau sedang malas-malasnya, ya saya hanya rebahan saja sambil nunggu adzan Maghrib—dan itu terulang saban hari. Jadi, sekali lagi, puasa di Singaraja tak ada yang istimewa. Justru terasa membosankan.

Tetapi, berbeda saat saya masih di kampung halaman di Banyuwangi, dulu. Di Banyuwangi , bulan Ramadan menjadi momen yang paling saya nantikan. Saya masih SD waktu itu.

Namun, sebelumnya harus saya jelaskan, untuk ukuran anak sekolah dasar, menantikan bulan Ramadan yang saya maksud tentu bukan bertujuan untuk mencari berkah, apalagi berlomba-lomba meminta tanda tangan imam tarawih sebagai tugas Pondok Ramadan dari sekolah, bukan. Tapi, ini yang saya maksud, kami menanti bulan Ramadan sebab akan kembali mengulang “kenakalan-kenakalan” yang kami lakukan setiap bulan suci itu.

Seperti misalnya, setiap sehabis buka puasa, saya dan teman-teman disibukkan membungkus air dengan plastik ukuran es lilin. Kami melakukan itu dengan riang gembira dan penuh semangat.

***

Kami mendapatkan plastik dengan cara patungan. Ada yang menyumbang 500, 1000, dan ada juga yang… eh, seingat saya memang cuma segitu. Namanya juga anak kampung, apalagi di umur segitu, tidak mungkin kami memiliki uang lebih daripada itu. Itu saja sisa bekal sekolah kami.

Setelah uang terkumpul, kami membeli plastik es di warung di ujung kampung, Warung Bik Is, namanya.

Setelah semua plastik terisi air—benda itu tampak mengembung seperti balon—saya dan teman-teman berangkat ke tempat di mana kami hendak memainkan plastik air itu. Ya, ini tentang permainan, atau lebih tepatnya sarana kenakalan kami.  Dan kami menyebut permainan ini: Bom air plastik. (Plastik berisi air itu memang bukan untuk hiasan.)

Sebelum saya lanjutkan, sebentar saya absen dulu nama teman-teman saya yang terlibat. (Karena setelah tulisan ini rampung kalian baca, saya tak mau dianggap nakal sendiri di kampung.)

Nama-nama yang terlibat antara lain: Rosadi, Aris, Imam, Muhlisin (Muhlisin ini jarang terlibat, karena Lik Agus, bapaknya Muhlisin galak. Pernah, bola yang sering kami mainkan di bacok sampai belah dua oleh Lik Agus, karena Muhlisin tak mau disuruh pulang).

Sekarang sedang ngetrend perang sarung sebagai permainan di bulan Puasa, tapi bagi kami itu kurang menantang. Tentu bom air lebih menantang.

***

Kami bermain bom air itu di pinggir jalan tepian sawah, di perbatasan kampung. Tempatnya memang sepi, karena tak ada lampu yang meneranginya, dan kami memainkan permainan itu ketika salat Tarawih sedang berlangsung. Artinya, sudah satu kenakalan yang kami lakukan—kami bolos salat Tarawih.

Aturan permainannya begini. Pertama kami membagi plastik berisi air itu dengan rata, adil. Kemudian kami merayap di antara semak-semak persawahan. Selanjutnya kami menunggu musuh yang datang. Kami mengintai musuh bak prajurit PETA yang sedang bergerilya melawan Belanda, benar-benar mendebarkan.

Nah, ketika ada sorot lampu motor dari kejauhan, itulah target kami. Ya, benar, orang-orang yang sedang lalu-lalang itulah musuh kami. Ketika musuh sudah tepat di hadapan kami, dengan aba-aba Rosadi sebagai pemimpin, dengan hitungan 1 2 3… secepat yang kami bisa, plastik berisi air itu kami lempar ke arah orang yang lewat.

Kadang lemparan kami meleset mengenai body motornya saja; kadang pas headshot, menghujam telak,  terkena kepala orang itu. Byurr. Basah menjadi ukuran kepuasan kami.

Mereka yang terkena bom air itu ada yang kaget kemudian ngebut secepat kilat. Tapi, naasnya, tak jarang, ada yang berhenti mencari arah darimana asal plastik-plastik berisi air itu melesat. Jikalau kami ketahuan, sekuat tenaga kami merayap menjauh, dan jika tetap dikejar, berarti sudah saatnya kami lari terbirit-birit menghindari amukan musuh.

Pernah satu ketika, bom plastik habis tapi kami masih belum puas. Kami tak habis akal, batang-batang padi yang sudah dipanen itu kami cabut sebagai penggantinya. Naasnya, kami tak berpikir panjang akibatnya akan seperti apa. Satu musuh terkapar nyungsep di jalan setelah kampalan bletok (batang padi sehabis panen dengan tanah-lumpur yang menempel di bonggolnya itu) melesat dengan telak mengenai kepalanya.

Kami yang belum tuntas dengan ketakutan melihat orang terkapar, dipaksa menerima rasa ketakutan lainnya. Korban kali ini tahu di mana tempat persembunyian kami. kemudian ia berlari kearah kami dengan balok kayu di tangan. Umpatan dan segala bentuk ancaman terlontar darinya. Tunggang langgang kami dibuatnya.

Saat itu, teman saya yang bernama Imam, malah berniat tidur di kandang kerbau, atau tepatnya bersembunyi di tempat makan kerbau. Tak mau ia pulang, sebab ketakutannya sudah berlipat-lipat. Setidaknya ada dua alasan dia melakukan itu. Pertama, kalau dia keluar, takut ketahuan orang tadi; kedua, alih-alih rumah bisa jadi tempat aman, malah omelan ibunya yang akan ia dapat. Sebab, baju dan sarungnya sudah penuh dengan lumpur sawah—barangkali juga kotoran dan kencing kerbau.

Kami terpingkal-pingkal menyaksikan Imam berada di tempat makan kerbau itu. Ingatan itu masih melekat jelas dalam kepala saya. Kira-kira, Imam ingat, ya?

***

Tunggu dulu, itu hanya satu dari sekian banyak “kenakalan” yang kami lakukan. Sekadar menyebut satu kenakalan lagi, kami pernah membakar tumpukan batang pohon cabai yang sudah kering. Pohon cabai itu kami lempar ke jalan dan kami membakarnya. Api yang cepat membesar kemudian menutupi jalan. Tak ada orang yang berani melewatinya.

Atau, sekadar mengingat kenakalan lainnya, kalau di Loloan, Jembrana, ada Ngotek (kegiatan untuk membangunkan sahur), di kampung kami di Banyuwangi juga ada, Patrol namanya.

Ngotek dan Patrol sama-sama kegiatan membangunkan orang sahur. Bedanya, kalau di Loloan di sambut dengan meriah–bahkan sampai di lombakan—karena itu dilakukan di waktu yang tepat, sebaliknya, orang-orang di kampung kami justru mengutuk kami habis-habisan.

Bukan karena warga di kampung kami tidak suka di bangunkan sahur, tapi karena kami membangunkan mereka di waktu yang tidak tepat. Ya, kami membangunkan mereka tepat jam 12 malam—jam orang kampung baru akan tidur. Hahaha…wajar jika mereka mengutuk kami.

Oh, dan ini, apalagi yang kami gunakan itu alat-alat musik jaranan seperti: gong, kenung, kendang dan kecrek. Keributan inilah yang menjadi alasan warga memarahi kami.

Saya juga ingat, Man Kuwan, tetangga saya, dengan nada Osing-nya, memarahi kami, “Byekk siro iki lare, mageh jam sakmene wis royak. Mulio!” “Aduh, kalian ini, masih jam segini sudah rame. Pulang!” Hahaha… benar-benar bulan puasa yang penuh dengan adrenalin.

Karena semarak Ramadan seperti pawai obor atau pasar tumpah yang ada di kota-kota tak pernah sampai di kampung kami, jadi kenakalan macam itulah yang kami lakukan. Dan anehnya, kami tak pernah takut seandainya kami tertangkap karena melempari orang dengan bom air atau tanah lumpur itu. 

Hah, setelah jauh dari kampung halaman, saya benar-benar merindukan momen-momen kebersamaan dengan teman masa kecil. Apalagi ketika puasa begini. Saya sadar apa yang kami lakukan itu adalah salah, dan membahayakan orang lain. Tapi, bagi kami dulu itu sangat menyenangkan.

Sekarang saya bersyukur, untunglah anak-anak di kampung saya tak ada yang mengikuti jejak kenakalan kami. Mereka hanya disibukkan dengan perang onlinenya–perang game PUBG dan Mobile Legend.

Tak apa mereka sibuk dengan gawai masing-masing—walaupun kadang mereka juga sering terkena penyakit pendengaran. Ketika sedang asik bermain game, setiap ada yang mengajak berbicara, sahutnya selalu diawali dengan…“Ha? Ha?”…dan itu sudah pasti pertanda telinganya sedikit bermasalah—yang penting, setidaknya apa yang kami perbuat dulu tak menular kepada mereka sekarang.[T]

Dimensi Komunikasi Puasa dan Lebaran

Puasa & Kesehatan
Bulan “Akting”
Tags: bulan puasaCerita Masa KecilPuasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setelah Tes Membuat Canang dan Klakat, Terpilih 10 Pasang Finalis Jegeg Bagus Tabanan

Next Post

Winda dari Blahkiuh, Usia 22 Tahun, Mantap Bertani, Susun Jadwal Kerja Bak Pegawai Kantor

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Winda dari Blahkiuh, Usia 22 Tahun, Mantap Bertani, Susun Jadwal Kerja Bak Pegawai Kantor

Winda dari Blahkiuh, Usia 22 Tahun, Mantap Bertani, Susun Jadwal Kerja Bak Pegawai Kantor

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co