3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puasa di Masa Kecil dan Kenakalan-kenakalan yang Mewarnainya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
April 11, 2023
in Esai
Puasa di Masa Kecil dan Kenakalan-kenakalan yang Mewarnainya

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

SUDAH TAHUN ke 7 saya menjalani puasa di Singaraja. Tak ada yang istimewa, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Entah karena keimanan saya yang setipis tisu atau saya yang tak pernah menyambut Ramadan dengan khidmat (barangkali alasan pertama itu paling tepat), yang jelas, menjalankan puasa di Singaraja tak pernah berkesan.

Selama menjalani puasa di kota kecil ini, seingat saya, tidur menjadi aktivitas yang sering saya kerjakan—bahkan menjadi rutinitas. Bukan karena tidur diwaktu puasa itu dihitung sebagai ibadah, tapi memang tak ada hal lain yang bisa saya lakukan selama puasa. Tidur pagi bangun sore hari.

Kalau cuaca sedang bagus, sesekali saya memancing. Tapi, kalau sedang malas-malasnya, ya saya hanya rebahan saja sambil nunggu adzan Maghrib—dan itu terulang saban hari. Jadi, sekali lagi, puasa di Singaraja tak ada yang istimewa. Justru terasa membosankan.

Tetapi, berbeda saat saya masih di kampung halaman di Banyuwangi, dulu. Di Banyuwangi , bulan Ramadan menjadi momen yang paling saya nantikan. Saya masih SD waktu itu.

Namun, sebelumnya harus saya jelaskan, untuk ukuran anak sekolah dasar, menantikan bulan Ramadan yang saya maksud tentu bukan bertujuan untuk mencari berkah, apalagi berlomba-lomba meminta tanda tangan imam tarawih sebagai tugas Pondok Ramadan dari sekolah, bukan. Tapi, ini yang saya maksud, kami menanti bulan Ramadan sebab akan kembali mengulang “kenakalan-kenakalan” yang kami lakukan setiap bulan suci itu.

Seperti misalnya, setiap sehabis buka puasa, saya dan teman-teman disibukkan membungkus air dengan plastik ukuran es lilin. Kami melakukan itu dengan riang gembira dan penuh semangat.

***

Kami mendapatkan plastik dengan cara patungan. Ada yang menyumbang 500, 1000, dan ada juga yang… eh, seingat saya memang cuma segitu. Namanya juga anak kampung, apalagi di umur segitu, tidak mungkin kami memiliki uang lebih daripada itu. Itu saja sisa bekal sekolah kami.

Setelah uang terkumpul, kami membeli plastik es di warung di ujung kampung, Warung Bik Is, namanya.

Setelah semua plastik terisi air—benda itu tampak mengembung seperti balon—saya dan teman-teman berangkat ke tempat di mana kami hendak memainkan plastik air itu. Ya, ini tentang permainan, atau lebih tepatnya sarana kenakalan kami.  Dan kami menyebut permainan ini: Bom air plastik. (Plastik berisi air itu memang bukan untuk hiasan.)

Sebelum saya lanjutkan, sebentar saya absen dulu nama teman-teman saya yang terlibat. (Karena setelah tulisan ini rampung kalian baca, saya tak mau dianggap nakal sendiri di kampung.)

Nama-nama yang terlibat antara lain: Rosadi, Aris, Imam, Muhlisin (Muhlisin ini jarang terlibat, karena Lik Agus, bapaknya Muhlisin galak. Pernah, bola yang sering kami mainkan di bacok sampai belah dua oleh Lik Agus, karena Muhlisin tak mau disuruh pulang).

Sekarang sedang ngetrend perang sarung sebagai permainan di bulan Puasa, tapi bagi kami itu kurang menantang. Tentu bom air lebih menantang.

***

Kami bermain bom air itu di pinggir jalan tepian sawah, di perbatasan kampung. Tempatnya memang sepi, karena tak ada lampu yang meneranginya, dan kami memainkan permainan itu ketika salat Tarawih sedang berlangsung. Artinya, sudah satu kenakalan yang kami lakukan—kami bolos salat Tarawih.

Aturan permainannya begini. Pertama kami membagi plastik berisi air itu dengan rata, adil. Kemudian kami merayap di antara semak-semak persawahan. Selanjutnya kami menunggu musuh yang datang. Kami mengintai musuh bak prajurit PETA yang sedang bergerilya melawan Belanda, benar-benar mendebarkan.

Nah, ketika ada sorot lampu motor dari kejauhan, itulah target kami. Ya, benar, orang-orang yang sedang lalu-lalang itulah musuh kami. Ketika musuh sudah tepat di hadapan kami, dengan aba-aba Rosadi sebagai pemimpin, dengan hitungan 1 2 3… secepat yang kami bisa, plastik berisi air itu kami lempar ke arah orang yang lewat.

Kadang lemparan kami meleset mengenai body motornya saja; kadang pas headshot, menghujam telak,  terkena kepala orang itu. Byurr. Basah menjadi ukuran kepuasan kami.

Mereka yang terkena bom air itu ada yang kaget kemudian ngebut secepat kilat. Tapi, naasnya, tak jarang, ada yang berhenti mencari arah darimana asal plastik-plastik berisi air itu melesat. Jikalau kami ketahuan, sekuat tenaga kami merayap menjauh, dan jika tetap dikejar, berarti sudah saatnya kami lari terbirit-birit menghindari amukan musuh.

Pernah satu ketika, bom plastik habis tapi kami masih belum puas. Kami tak habis akal, batang-batang padi yang sudah dipanen itu kami cabut sebagai penggantinya. Naasnya, kami tak berpikir panjang akibatnya akan seperti apa. Satu musuh terkapar nyungsep di jalan setelah kampalan bletok (batang padi sehabis panen dengan tanah-lumpur yang menempel di bonggolnya itu) melesat dengan telak mengenai kepalanya.

Kami yang belum tuntas dengan ketakutan melihat orang terkapar, dipaksa menerima rasa ketakutan lainnya. Korban kali ini tahu di mana tempat persembunyian kami. kemudian ia berlari kearah kami dengan balok kayu di tangan. Umpatan dan segala bentuk ancaman terlontar darinya. Tunggang langgang kami dibuatnya.

Saat itu, teman saya yang bernama Imam, malah berniat tidur di kandang kerbau, atau tepatnya bersembunyi di tempat makan kerbau. Tak mau ia pulang, sebab ketakutannya sudah berlipat-lipat. Setidaknya ada dua alasan dia melakukan itu. Pertama, kalau dia keluar, takut ketahuan orang tadi; kedua, alih-alih rumah bisa jadi tempat aman, malah omelan ibunya yang akan ia dapat. Sebab, baju dan sarungnya sudah penuh dengan lumpur sawah—barangkali juga kotoran dan kencing kerbau.

Kami terpingkal-pingkal menyaksikan Imam berada di tempat makan kerbau itu. Ingatan itu masih melekat jelas dalam kepala saya. Kira-kira, Imam ingat, ya?

***

Tunggu dulu, itu hanya satu dari sekian banyak “kenakalan” yang kami lakukan. Sekadar menyebut satu kenakalan lagi, kami pernah membakar tumpukan batang pohon cabai yang sudah kering. Pohon cabai itu kami lempar ke jalan dan kami membakarnya. Api yang cepat membesar kemudian menutupi jalan. Tak ada orang yang berani melewatinya.

Atau, sekadar mengingat kenakalan lainnya, kalau di Loloan, Jembrana, ada Ngotek (kegiatan untuk membangunkan sahur), di kampung kami di Banyuwangi juga ada, Patrol namanya.

Ngotek dan Patrol sama-sama kegiatan membangunkan orang sahur. Bedanya, kalau di Loloan di sambut dengan meriah–bahkan sampai di lombakan—karena itu dilakukan di waktu yang tepat, sebaliknya, orang-orang di kampung kami justru mengutuk kami habis-habisan.

Bukan karena warga di kampung kami tidak suka di bangunkan sahur, tapi karena kami membangunkan mereka di waktu yang tidak tepat. Ya, kami membangunkan mereka tepat jam 12 malam—jam orang kampung baru akan tidur. Hahaha…wajar jika mereka mengutuk kami.

Oh, dan ini, apalagi yang kami gunakan itu alat-alat musik jaranan seperti: gong, kenung, kendang dan kecrek. Keributan inilah yang menjadi alasan warga memarahi kami.

Saya juga ingat, Man Kuwan, tetangga saya, dengan nada Osing-nya, memarahi kami, “Byekk siro iki lare, mageh jam sakmene wis royak. Mulio!” “Aduh, kalian ini, masih jam segini sudah rame. Pulang!” Hahaha… benar-benar bulan puasa yang penuh dengan adrenalin.

Karena semarak Ramadan seperti pawai obor atau pasar tumpah yang ada di kota-kota tak pernah sampai di kampung kami, jadi kenakalan macam itulah yang kami lakukan. Dan anehnya, kami tak pernah takut seandainya kami tertangkap karena melempari orang dengan bom air atau tanah lumpur itu. 

Hah, setelah jauh dari kampung halaman, saya benar-benar merindukan momen-momen kebersamaan dengan teman masa kecil. Apalagi ketika puasa begini. Saya sadar apa yang kami lakukan itu adalah salah, dan membahayakan orang lain. Tapi, bagi kami dulu itu sangat menyenangkan.

Sekarang saya bersyukur, untunglah anak-anak di kampung saya tak ada yang mengikuti jejak kenakalan kami. Mereka hanya disibukkan dengan perang onlinenya–perang game PUBG dan Mobile Legend.

Tak apa mereka sibuk dengan gawai masing-masing—walaupun kadang mereka juga sering terkena penyakit pendengaran. Ketika sedang asik bermain game, setiap ada yang mengajak berbicara, sahutnya selalu diawali dengan…“Ha? Ha?”…dan itu sudah pasti pertanda telinganya sedikit bermasalah—yang penting, setidaknya apa yang kami perbuat dulu tak menular kepada mereka sekarang.[T]

Dimensi Komunikasi Puasa dan Lebaran

Puasa & Kesehatan
Bulan “Akting”
Tags: bulan puasaCerita Masa KecilPuasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setelah Tes Membuat Canang dan Klakat, Terpilih 10 Pasang Finalis Jegeg Bagus Tabanan

Next Post

Winda dari Blahkiuh, Usia 22 Tahun, Mantap Bertani, Susun Jadwal Kerja Bak Pegawai Kantor

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Winda dari Blahkiuh, Usia 22 Tahun, Mantap Bertani, Susun Jadwal Kerja Bak Pegawai Kantor

Winda dari Blahkiuh, Usia 22 Tahun, Mantap Bertani, Susun Jadwal Kerja Bak Pegawai Kantor

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co