23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 13, 2023
in Esai
Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

INI BUKAN SEBUAH gosip. Bukan pula rasan-rasan. Ini cerita betulan.

Di Singaraja, saya memiliki banyak teman.  Tapi, dari sekian banyak itu, tampaknya tak ada yang lebih gila dan nyeleneh  ketimbang teman yang satu ini. Huda, namanya. Pemuda dari Pulau Kangean itu benar-benar gila memancing. Ini hal yang wajar, mengingat, Huda memang “anak pulau”.

Kami dipertemukan di tanah rantau, Singaraja, untuk tujuan yang sama, yakni kuliah.  Berteman sejak awal masuk kuliah sampai sekarang. Pertemanan kami sudah  masuk tahun ke 7—dan itu membuat kami kenyang akan cerita-cerita (pahit-manis) kehidupan di tanah rantau.

Sekadar informasi, Pulau Kangean itu jauh dari Jawa maupun Bali. Salah satu dari beberapa pulau yang masuk ke dalam wilayah kepulauan Madura, Jawa Timur. Pulau yang jarak tempuhnya hampir 10 jam menggunakan transportasi laut dari pelabuhan Ketapang Banyuwangi—bahkan dari Pelabuhan Kalianget Madura saja, memerlukan kurang lebih 9 jam untuk sampai ke Pulau Kangean. Benar-benar pulau yang sangat terpencil dan jauh dari pusat kota.

Saya sering mendengarkan cerita-cerita Huda tentang ironisnya keadaan masyarakat di pulaunya. Untuk akses kesehatan saja, mereka lebih memilih untuk ke Bali dengan menggunakan perahu kecil yang jauh dari kata Safety. Maklum saja, jarak tempuh dari Pulau Kangean ke Buleleng lebih singkat daripada ke Jawa.

“Hanya 7 jam,” katanya. Meski begitu, kita akan menjadi manusia paling alim juga soleh saat melakukan perjalanan ke sana. “Segala macam doa akan kamu baca. Dan seketika itu kamu akan mengingat Tuhan—karena goncangan ombak yang sampai membasahi sekujur tubuh,” kata Huda mejelaskan. (Sepertinya pemerintah harus lebih banyak mendengar dan membaca kisah-kisah masyarakat Kangean.)

Tapi kali ini saya tak akan membahas tentang Kangean yang dianak tirikan itu. Saya hanya ingin menceritakan sahabat saya, Huda—pemuda dekil dari Kangean itu.

***

Entah setan apa yang telah menyerang ketenangan hidup pemuda yang serba selow itu. Setiap kali kami bertemu, sapaan pertama yang terlontar dari mulut berbisanya bukan menanyakan kabar, “sudah makan apa belum?” atau sapaan klise lainnya. Tetapi, sapaannya saat bertemu saya pasti, “Cuk, ayo mancing!”

(Kami berdua memang saling memanggil satu sama lain dengan sapaan “cuk”. Rasanya aneh saja kalau pertemanan yang sudah kami bangun 7 tahun ini masih memanggil satu sama lain dengan sebutan nama. Menurut saya itu kurang ada kemistri.)

Hampir setiap hari kami memancing. Entah pagi maupun sore (kadang sampai lupa waktu—bahkan kami pernah memancing di Pantai Skip, dari matahari baru nongol sampai matahari tepat di atas kepala kami. Berapa jam itu?)

Kami tinggal di kos yang berbeda. Saya di Perumahan Jalak Putih, dia kos di kamar belakang sekretariat HMI Cabang Singaraja di Jalan Abimanyu. Meskipun berbeda tempat tinggal, rutinitas pertemuan kami (inten) hampir setiap hari—karena satu kegiatan: memancing.

Awalnya saya kira memancing adalah caranya menghilangkan kejenuhan lantaran lamaran kerjanya tak kunjung mendapatkan hasil (Huda lulus lebih dulu daripada saya). Tapi, lama kelamaan saya menaruh curiga dengannya dan kegiatan memancingnya.

Begini. Ia, setiap kali ngajak mancing, selalu request umpan udang. Tak mau dia memancing dengan umpan lain. Memang benar. Hal ini tampak biasa. Secara teori dunia permancingan, di kalangan angler mania, umpan udang memang umpan istimewa. Selain gampang penggunannya, biasanya hasil yang diperoleh juga ikan-ikan predator yang berukuran lumayan besar.

Tetapi bangsatnya, teori itu tak berlaku untuk teman saya ini. Meskipun umpan udang, seingat saya, tak pernah joran pancingnya melengkung drastis karena sambaran ikan. (Kalau melengkung karena nyangkut di batang kayu atau sampah itu sudah pasti.)

Kalaupun ada sambaran, itu hanya ikan karang yang kecil-kecil itu. Alih-alih kenyang, kalau digoreng, itu hanya akan mencemari minyak goreng saja. Memang lebih cocok sebagai ikan hias.

Tapi kecurigaan saya benar-benar terbukti. Ternyata, umpan udang yang selalu jadi permintaannya sebagai umpan memancing itu adalah solusi alternatifnya kalau tak dapat ikan. Begini ucapannya yang selalu saya ingat sampai sekarang di saat memancing tak membuahkan hasil: “Kan masih ada udang, Cuk,” dengan senyum licik yang terpancar dari raut wajah yang nggatheli itu.

Benar-benar jawaban yang sangat menjengkelkan. Tampaknya bagi kami, mahasiswa perantauan, kalau tidak memiliki uang, memancing adalah pilihan terbaik. Selain untuk mencari kesenangan, juga menjadi ajang mencari tambahan nutrisi kalau dapat ikan.

***

Terlepas dari alasannya memancing dengan umpan udang itu, saya juga merasakan betul tentang kenehan teman saya ini. Tampaknya kekecewaan dan nasib buruk telah utuh menjadi takdir hidupnya selama di Singaraja.

Pernah satu waktu, pas di kampus, nasi sebungkus yang dia gantung di motor hasil pinjaman itu, raib di santap seekor anjing. Padahal, bungkusan nasi itu hanya ia tinggal sebentar masuk ke dalam kampus yang entah untuk urusan apa. Dan tragisnya, itu adalah uang terakhirnya di minggu itu. Benar-benar sial sekali hidupnya.

Atau tentang sepatu pantofel hitam yang sekilas mirip sepatu Aladinkarena tampilannya yang runcing dan melengkung ke atas.  Ini benar-benar menggelikan dan tidak masuk akal. Sepatu yang menjadi andalannya untuk kuliah itu—ia sangat menyayangi sepatu itu—telah terkoyak dengan sangat memprihatinkan karena keganasan anjing di kosnya yang sebelumnya. Sebelah kiri kalau tidak salah ingat.

Saat itu, umpatan dan hinaan ia lontarkan via telpon bukan kepada hewan najis yang telah mengkoyak sepatunya, tapi kepada saya. Ia bercerita dengan penuh amarah. Awalnya saya tertawa terpingkal-pingkal sebelum saya iba kepadanya.

Sebenarnya banyak kegilaan lainnya yang lahir dari perjalanan hidup pemuda dengan postur tubuh yang serba kurang itu selama di Singaraja. Dari ikut demo menggunakan baju bertuliskan Transformer dan kemeja coklat yang sangat Prabowo itu benar-benar melekat diingatan saya. Mengingatnya membuat saya tersenyum geli.

Terakhir, dari tulisan ini, setidaknya ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, saya sedih karena faktanya dia lulus terlebih dahulu dan memutuskan untuk pulang ke pulaunya (Kangean), dan kedua, saya bersyukur, karena saya tidak akan pernah memancing lagi dengannya.[T]

Mie Ayam Uncle Sam: Anda Kenyang, Saya Bahagia
Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan
Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya
Tags: bulelengKepulauan KangeanmahasiswamemancingSingarajaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berbagi Makanan atau Berbagi Postingan Makanan

Next Post

Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co