23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 13, 2023
in Esai
Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

INI BUKAN SEBUAH gosip. Bukan pula rasan-rasan. Ini cerita betulan.

Di Singaraja, saya memiliki banyak teman.  Tapi, dari sekian banyak itu, tampaknya tak ada yang lebih gila dan nyeleneh  ketimbang teman yang satu ini. Huda, namanya. Pemuda dari Pulau Kangean itu benar-benar gila memancing. Ini hal yang wajar, mengingat, Huda memang “anak pulau”.

Kami dipertemukan di tanah rantau, Singaraja, untuk tujuan yang sama, yakni kuliah.  Berteman sejak awal masuk kuliah sampai sekarang. Pertemanan kami sudah  masuk tahun ke 7—dan itu membuat kami kenyang akan cerita-cerita (pahit-manis) kehidupan di tanah rantau.

Sekadar informasi, Pulau Kangean itu jauh dari Jawa maupun Bali. Salah satu dari beberapa pulau yang masuk ke dalam wilayah kepulauan Madura, Jawa Timur. Pulau yang jarak tempuhnya hampir 10 jam menggunakan transportasi laut dari pelabuhan Ketapang Banyuwangi—bahkan dari Pelabuhan Kalianget Madura saja, memerlukan kurang lebih 9 jam untuk sampai ke Pulau Kangean. Benar-benar pulau yang sangat terpencil dan jauh dari pusat kota.

Saya sering mendengarkan cerita-cerita Huda tentang ironisnya keadaan masyarakat di pulaunya. Untuk akses kesehatan saja, mereka lebih memilih untuk ke Bali dengan menggunakan perahu kecil yang jauh dari kata Safety. Maklum saja, jarak tempuh dari Pulau Kangean ke Buleleng lebih singkat daripada ke Jawa.

“Hanya 7 jam,” katanya. Meski begitu, kita akan menjadi manusia paling alim juga soleh saat melakukan perjalanan ke sana. “Segala macam doa akan kamu baca. Dan seketika itu kamu akan mengingat Tuhan—karena goncangan ombak yang sampai membasahi sekujur tubuh,” kata Huda mejelaskan. (Sepertinya pemerintah harus lebih banyak mendengar dan membaca kisah-kisah masyarakat Kangean.)

Tapi kali ini saya tak akan membahas tentang Kangean yang dianak tirikan itu. Saya hanya ingin menceritakan sahabat saya, Huda—pemuda dekil dari Kangean itu.

***

Entah setan apa yang telah menyerang ketenangan hidup pemuda yang serba selow itu. Setiap kali kami bertemu, sapaan pertama yang terlontar dari mulut berbisanya bukan menanyakan kabar, “sudah makan apa belum?” atau sapaan klise lainnya. Tetapi, sapaannya saat bertemu saya pasti, “Cuk, ayo mancing!”

(Kami berdua memang saling memanggil satu sama lain dengan sapaan “cuk”. Rasanya aneh saja kalau pertemanan yang sudah kami bangun 7 tahun ini masih memanggil satu sama lain dengan sebutan nama. Menurut saya itu kurang ada kemistri.)

Hampir setiap hari kami memancing. Entah pagi maupun sore (kadang sampai lupa waktu—bahkan kami pernah memancing di Pantai Skip, dari matahari baru nongol sampai matahari tepat di atas kepala kami. Berapa jam itu?)

Kami tinggal di kos yang berbeda. Saya di Perumahan Jalak Putih, dia kos di kamar belakang sekretariat HMI Cabang Singaraja di Jalan Abimanyu. Meskipun berbeda tempat tinggal, rutinitas pertemuan kami (inten) hampir setiap hari—karena satu kegiatan: memancing.

Awalnya saya kira memancing adalah caranya menghilangkan kejenuhan lantaran lamaran kerjanya tak kunjung mendapatkan hasil (Huda lulus lebih dulu daripada saya). Tapi, lama kelamaan saya menaruh curiga dengannya dan kegiatan memancingnya.

Begini. Ia, setiap kali ngajak mancing, selalu request umpan udang. Tak mau dia memancing dengan umpan lain. Memang benar. Hal ini tampak biasa. Secara teori dunia permancingan, di kalangan angler mania, umpan udang memang umpan istimewa. Selain gampang penggunannya, biasanya hasil yang diperoleh juga ikan-ikan predator yang berukuran lumayan besar.

Tetapi bangsatnya, teori itu tak berlaku untuk teman saya ini. Meskipun umpan udang, seingat saya, tak pernah joran pancingnya melengkung drastis karena sambaran ikan. (Kalau melengkung karena nyangkut di batang kayu atau sampah itu sudah pasti.)

Kalaupun ada sambaran, itu hanya ikan karang yang kecil-kecil itu. Alih-alih kenyang, kalau digoreng, itu hanya akan mencemari minyak goreng saja. Memang lebih cocok sebagai ikan hias.

Tapi kecurigaan saya benar-benar terbukti. Ternyata, umpan udang yang selalu jadi permintaannya sebagai umpan memancing itu adalah solusi alternatifnya kalau tak dapat ikan. Begini ucapannya yang selalu saya ingat sampai sekarang di saat memancing tak membuahkan hasil: “Kan masih ada udang, Cuk,” dengan senyum licik yang terpancar dari raut wajah yang nggatheli itu.

Benar-benar jawaban yang sangat menjengkelkan. Tampaknya bagi kami, mahasiswa perantauan, kalau tidak memiliki uang, memancing adalah pilihan terbaik. Selain untuk mencari kesenangan, juga menjadi ajang mencari tambahan nutrisi kalau dapat ikan.

***

Terlepas dari alasannya memancing dengan umpan udang itu, saya juga merasakan betul tentang kenehan teman saya ini. Tampaknya kekecewaan dan nasib buruk telah utuh menjadi takdir hidupnya selama di Singaraja.

Pernah satu waktu, pas di kampus, nasi sebungkus yang dia gantung di motor hasil pinjaman itu, raib di santap seekor anjing. Padahal, bungkusan nasi itu hanya ia tinggal sebentar masuk ke dalam kampus yang entah untuk urusan apa. Dan tragisnya, itu adalah uang terakhirnya di minggu itu. Benar-benar sial sekali hidupnya.

Atau tentang sepatu pantofel hitam yang sekilas mirip sepatu Aladinkarena tampilannya yang runcing dan melengkung ke atas.  Ini benar-benar menggelikan dan tidak masuk akal. Sepatu yang menjadi andalannya untuk kuliah itu—ia sangat menyayangi sepatu itu—telah terkoyak dengan sangat memprihatinkan karena keganasan anjing di kosnya yang sebelumnya. Sebelah kiri kalau tidak salah ingat.

Saat itu, umpatan dan hinaan ia lontarkan via telpon bukan kepada hewan najis yang telah mengkoyak sepatunya, tapi kepada saya. Ia bercerita dengan penuh amarah. Awalnya saya tertawa terpingkal-pingkal sebelum saya iba kepadanya.

Sebenarnya banyak kegilaan lainnya yang lahir dari perjalanan hidup pemuda dengan postur tubuh yang serba kurang itu selama di Singaraja. Dari ikut demo menggunakan baju bertuliskan Transformer dan kemeja coklat yang sangat Prabowo itu benar-benar melekat diingatan saya. Mengingatnya membuat saya tersenyum geli.

Terakhir, dari tulisan ini, setidaknya ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, saya sedih karena faktanya dia lulus terlebih dahulu dan memutuskan untuk pulang ke pulaunya (Kangean), dan kedua, saya bersyukur, karena saya tidak akan pernah memancing lagi dengannya.[T]

Mie Ayam Uncle Sam: Anda Kenyang, Saya Bahagia
Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan
Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya
Tags: bulelengKepulauan KangeanmahasiswamemancingSingarajaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berbagi Makanan atau Berbagi Postingan Makanan

Next Post

Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co