2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 13, 2023
in Esai
Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

INI BUKAN SEBUAH gosip. Bukan pula rasan-rasan. Ini cerita betulan.

Di Singaraja, saya memiliki banyak teman.  Tapi, dari sekian banyak itu, tampaknya tak ada yang lebih gila dan nyeleneh  ketimbang teman yang satu ini. Huda, namanya. Pemuda dari Pulau Kangean itu benar-benar gila memancing. Ini hal yang wajar, mengingat, Huda memang “anak pulau”.

Kami dipertemukan di tanah rantau, Singaraja, untuk tujuan yang sama, yakni kuliah.  Berteman sejak awal masuk kuliah sampai sekarang. Pertemanan kami sudah  masuk tahun ke 7—dan itu membuat kami kenyang akan cerita-cerita (pahit-manis) kehidupan di tanah rantau.

Sekadar informasi, Pulau Kangean itu jauh dari Jawa maupun Bali. Salah satu dari beberapa pulau yang masuk ke dalam wilayah kepulauan Madura, Jawa Timur. Pulau yang jarak tempuhnya hampir 10 jam menggunakan transportasi laut dari pelabuhan Ketapang Banyuwangi—bahkan dari Pelabuhan Kalianget Madura saja, memerlukan kurang lebih 9 jam untuk sampai ke Pulau Kangean. Benar-benar pulau yang sangat terpencil dan jauh dari pusat kota.

Saya sering mendengarkan cerita-cerita Huda tentang ironisnya keadaan masyarakat di pulaunya. Untuk akses kesehatan saja, mereka lebih memilih untuk ke Bali dengan menggunakan perahu kecil yang jauh dari kata Safety. Maklum saja, jarak tempuh dari Pulau Kangean ke Buleleng lebih singkat daripada ke Jawa.

“Hanya 7 jam,” katanya. Meski begitu, kita akan menjadi manusia paling alim juga soleh saat melakukan perjalanan ke sana. “Segala macam doa akan kamu baca. Dan seketika itu kamu akan mengingat Tuhan—karena goncangan ombak yang sampai membasahi sekujur tubuh,” kata Huda mejelaskan. (Sepertinya pemerintah harus lebih banyak mendengar dan membaca kisah-kisah masyarakat Kangean.)

Tapi kali ini saya tak akan membahas tentang Kangean yang dianak tirikan itu. Saya hanya ingin menceritakan sahabat saya, Huda—pemuda dekil dari Kangean itu.

***

Entah setan apa yang telah menyerang ketenangan hidup pemuda yang serba selow itu. Setiap kali kami bertemu, sapaan pertama yang terlontar dari mulut berbisanya bukan menanyakan kabar, “sudah makan apa belum?” atau sapaan klise lainnya. Tetapi, sapaannya saat bertemu saya pasti, “Cuk, ayo mancing!”

(Kami berdua memang saling memanggil satu sama lain dengan sapaan “cuk”. Rasanya aneh saja kalau pertemanan yang sudah kami bangun 7 tahun ini masih memanggil satu sama lain dengan sebutan nama. Menurut saya itu kurang ada kemistri.)

Hampir setiap hari kami memancing. Entah pagi maupun sore (kadang sampai lupa waktu—bahkan kami pernah memancing di Pantai Skip, dari matahari baru nongol sampai matahari tepat di atas kepala kami. Berapa jam itu?)

Kami tinggal di kos yang berbeda. Saya di Perumahan Jalak Putih, dia kos di kamar belakang sekretariat HMI Cabang Singaraja di Jalan Abimanyu. Meskipun berbeda tempat tinggal, rutinitas pertemuan kami (inten) hampir setiap hari—karena satu kegiatan: memancing.

Awalnya saya kira memancing adalah caranya menghilangkan kejenuhan lantaran lamaran kerjanya tak kunjung mendapatkan hasil (Huda lulus lebih dulu daripada saya). Tapi, lama kelamaan saya menaruh curiga dengannya dan kegiatan memancingnya.

Begini. Ia, setiap kali ngajak mancing, selalu request umpan udang. Tak mau dia memancing dengan umpan lain. Memang benar. Hal ini tampak biasa. Secara teori dunia permancingan, di kalangan angler mania, umpan udang memang umpan istimewa. Selain gampang penggunannya, biasanya hasil yang diperoleh juga ikan-ikan predator yang berukuran lumayan besar.

Tetapi bangsatnya, teori itu tak berlaku untuk teman saya ini. Meskipun umpan udang, seingat saya, tak pernah joran pancingnya melengkung drastis karena sambaran ikan. (Kalau melengkung karena nyangkut di batang kayu atau sampah itu sudah pasti.)

Kalaupun ada sambaran, itu hanya ikan karang yang kecil-kecil itu. Alih-alih kenyang, kalau digoreng, itu hanya akan mencemari minyak goreng saja. Memang lebih cocok sebagai ikan hias.

Tapi kecurigaan saya benar-benar terbukti. Ternyata, umpan udang yang selalu jadi permintaannya sebagai umpan memancing itu adalah solusi alternatifnya kalau tak dapat ikan. Begini ucapannya yang selalu saya ingat sampai sekarang di saat memancing tak membuahkan hasil: “Kan masih ada udang, Cuk,” dengan senyum licik yang terpancar dari raut wajah yang nggatheli itu.

Benar-benar jawaban yang sangat menjengkelkan. Tampaknya bagi kami, mahasiswa perantauan, kalau tidak memiliki uang, memancing adalah pilihan terbaik. Selain untuk mencari kesenangan, juga menjadi ajang mencari tambahan nutrisi kalau dapat ikan.

***

Terlepas dari alasannya memancing dengan umpan udang itu, saya juga merasakan betul tentang kenehan teman saya ini. Tampaknya kekecewaan dan nasib buruk telah utuh menjadi takdir hidupnya selama di Singaraja.

Pernah satu waktu, pas di kampus, nasi sebungkus yang dia gantung di motor hasil pinjaman itu, raib di santap seekor anjing. Padahal, bungkusan nasi itu hanya ia tinggal sebentar masuk ke dalam kampus yang entah untuk urusan apa. Dan tragisnya, itu adalah uang terakhirnya di minggu itu. Benar-benar sial sekali hidupnya.

Atau tentang sepatu pantofel hitam yang sekilas mirip sepatu Aladinkarena tampilannya yang runcing dan melengkung ke atas.  Ini benar-benar menggelikan dan tidak masuk akal. Sepatu yang menjadi andalannya untuk kuliah itu—ia sangat menyayangi sepatu itu—telah terkoyak dengan sangat memprihatinkan karena keganasan anjing di kosnya yang sebelumnya. Sebelah kiri kalau tidak salah ingat.

Saat itu, umpatan dan hinaan ia lontarkan via telpon bukan kepada hewan najis yang telah mengkoyak sepatunya, tapi kepada saya. Ia bercerita dengan penuh amarah. Awalnya saya tertawa terpingkal-pingkal sebelum saya iba kepadanya.

Sebenarnya banyak kegilaan lainnya yang lahir dari perjalanan hidup pemuda dengan postur tubuh yang serba kurang itu selama di Singaraja. Dari ikut demo menggunakan baju bertuliskan Transformer dan kemeja coklat yang sangat Prabowo itu benar-benar melekat diingatan saya. Mengingatnya membuat saya tersenyum geli.

Terakhir, dari tulisan ini, setidaknya ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, saya sedih karena faktanya dia lulus terlebih dahulu dan memutuskan untuk pulang ke pulaunya (Kangean), dan kedua, saya bersyukur, karena saya tidak akan pernah memancing lagi dengannya.[T]

Mie Ayam Uncle Sam: Anda Kenyang, Saya Bahagia
Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan
Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya
Tags: bulelengKepulauan KangeanmahasiswamemancingSingarajaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berbagi Makanan atau Berbagi Postingan Makanan

Next Post

Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co