13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 1, 2023
in Esai
Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

“Panas yang disangka sampai petang, ternyata gerimis turun di siang hari.“

PENGGALAN KALIMAT di atas saya dapat dari esai berjudul Turis, karya Mahbub Djunaidi dalam buku Asal Usul , catatan-catatan pilihan yang terbit di Kompas, dulu. Penggalan kalimat itu membuat saya mematung─dan menggerakkan saya untuk menulis catatan yang sedang Anda baca saat ini.

Begini. Kuliah saya sudah di ujung tanduk, semester akhir, belum lulus. Padahal, banyak yang menyangka saya bisa lulus normal, delapan semester. Tetapi siapa sangka, seperti panas yang disangka sampai petang, ternyata gerimis turun di siang hari.

Barang sudah kepalang tanggung, apa boleh buat. Daripada  basah sedikit, nyebur saja sekalian. Kalimat itu rasanya sangat pantas untuk menggambarkan bagaimana saya berproses kali ini.

Saya masuk kuliah tahun 2016, dan sialnya, sampai tahun 2023─empat belas semester, bapak-ibu─belum lulus juga. Tetapi jangan tanya kenapa, sebab tak ada jawaban apa-apa selain itu adalah pilihan saya sendiri.

Mungkin, sebagian orang, jika ditanya hal serupa terkait lambatnya dalam menyelesaikan studi akan menjawab dengan kalimat klise seperti misalnya, “Wah iya, aku masih sibuk berorganisasi. Jadinya masih mempunyai tanggung jawab di sana”─seolah-olah menyelesaikan studi bukan soal tanggung jawab. Atau, ada juga yang menjawab dengan tidak masuk akal seperti, “Oh iya, aku menghilang kemarin karena masih dalam proses berdamai dengan diri sendiri─aku gagal dalam percintaan”. Dan jawaban-jawaban pembelaan─yang mungkin lebih tidak masuk akal─lainnya.

Sekali lagi, alasan saya terlambat lulus bukan karena putus cinta, galau terus nglesot, bodoh, dsb, tidak sama sekali. Saya memperlambat kelulusan karena memang itu pilihan yang saya buat, secara sadar. Anda boleh mengatakan itu sebagai pembelaan atau pembenaran. Silakan, saya tidak keberatan. Yang jelas, mau bagaimana pun, saya harus tetap bertanggung jawab atas pilihan saya sendiri.

Saya kasih tahu, kalau saya mau, saya bisa saja lulus tahun 2020. Semua mata kuliah, kecuali skripsi, sudah saya habiskan. Bahkan, kalau boleh sombong, tak ada satu mata kuliah pun yang mendapatkan nilai C, apalagi sampai mengulang, tidak sama sekali. Sampai sini saya tekankan, sekali lagi, bahwa saya telat lulus bukan karena bodoh.

Oh iya, kenapa, si, orang Indonesia senang sekali menganggap mahasiswa yang telat lulus itu bodoh, hidupnya gagal? ─dan memangnya kenapa kalau gagal? Bukankah dalam hidup ini, kita tak harus bisa mengatasi segala hal; tak harus memenangi segala hal; tak harus melewati proses dengan gemilang, dan hal lain semacam itu? Seperti kata Puthut EA, kita boleh menyerah kalah, kok.

Saya memilih telat lulus karena ingin mengeksplor banyak hal. Sebab, menurut saya, ilmu yang saya dapat dari kampus saja tidak cukup untuk bermasyarakat. Dan selama proses itu berlangsung, tentu banyak teman dan saudara sangat menyayangkan hal itu─mereka menganggap saya memilih “jalan yang salah”. Saya tak ambil pusing, saya menjalaninya dengan senyuman dan tentu tetap berkomedi. Hahaha.

Nyatanya, telat lulus tak selamanya buruk. Saya berkesempatan untuk mengenal banyak hal yang sebelumnya tak pernah saya ketahui. Barangkali pengetahuan yang tak akan pernah saya peroleh di kampus─pengetahuan yang tak menggunakan sistem SKS.

Bukan hanya pengetahuan baru, tetapi juga teman baru, ilmu baru. Dalam hal ini wajib hukumnya saya bersyukur.

Salah satu orang yang saya kenal saat proses “pencarian” itu bernama Jaswanto, seorang pemuda yang lahir dari dusun yang jauh.

Mas Jas, begitu saya memanggilnya. Saya memanggilnya “Mas” bukan hanya semata-mata ia lebih tua dari saya─umur kami hanya selisih 1 tahun. Lebih dari itu, saya akui, dalam hal keilmuan ia lebih mumpuni. Selain saya anggap sebagai kakak, ia juga saya anggap sebagai guru─meskipun di antara kami belum ada pembicaraan yang menghasilkan kesepakatan akan klaim saya itu. Singkatnya, dari dia lah saya terinspirasi untuk melanjutkan perjalanan sakral ini.

Saya sering diajak Mas Jas mengunjungi orang-orang yang mempunyai fashion unik dengan disiplinan ilmu yang berbeda-beda. Tak hanya sekadar diajak, tapi juga diperkenalkan dengan orang-orang tersebut. Seperti Om Wirawan, misalnya, seorang chef yang tinggal di Lovina─yang kerap kali mengajak kami makan di rumahnya. Atau Pak Ole, Made Adnyana Ole, wartawan senior, sastrawan, penyair, dan Pimred tatkala.co.

Atau, sekadar menyebut nama sekali lagi, Bang Ricky Dhamparan Putra, seorang penyair dari Sumatera Utara, murid Sang Maestro, Umbu Landu Paranggi. Dari cerita-ceritanya, saya tahu kalau Bang Ricky juga sangat ngefans dengan Buya Syafii Maarif.

Nampaknya Mas Jas tahu kalau akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan dunia sastra, makanya ia mengajak saya ke Komunitas Mahima dan berkenalan dengan orang-orang yang terlibat, berkunjung, dan belajar di sana. Bli Kardian, misalnya, atau yang lebih akrab di sapa Cotek, jurnalis Kompas sekaligus pegiat film dan mengelola platform Singaraja Menonton. Dan tentu masih banyak orang hebat yang saya temui─yang tidak mungkin saya sebutkan namanya satu per satu di sini.

Saya menikmati betul pertemuan dengan orang-orang hebat tersebut─setidaknya menurut saya─karena saya teringat dengan apa yang pernah di sampaikan Ki Hadjar Dewantara, bahwa “setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”.

Ya. Saking seringnya saya berinteraksi dengan orang-orang hebat itu, saya merasa apa yang selama ini saya pelajari di kampus, sekali lagi, ternyata masih belum cukup sebagai pegangan hidup di tengah masyarakat. Ibarat mau menanam jagung, benihnya masih belum siap untuk di tanam. Alih-alih tumbuh, malah membusuk di dalam tanah.

Maka dari itu saya sering berkata kepada diri sendiri, bahwa benar saya mulai kuliah dari tahun 2016, tapi seolah proses saya berpikir baru dimulai tahun 2020. Tetapi tak masalah, itu bukan berarti saya bodoh. Sudah saya sampaikan di awal, bahwa saya tak pernah mendapat nilai C, apalagi mengulang mata kuliah.

Hal itu sudah cukup menjadi bukti, kalau saya sebenarnya tak jauh berbeda dengan teman-teman seangkatan─yang sudah lulus terlebih dahulu. Dan ya, sekali lagi saya katakan, saya memilih telat lulus memang bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman, tak ada hubungannya dengan saya bodoh atau tidak─kalau agak malas sedikit memang saya akui.

Untuk menutup catatan ini, terlepas dari apa yang saya ungkapkan di atas, saya ingin menyampaikan: tak jarang teman-teman lama saya menanyakan kabar─meskipun bagi saya itu hanya sekadar basa-basi─atau bertanya tentang proses skripsi, kadang juga sampai ke hal-hal yang berkaitan  tentang asmara.

Saya bersyukur─dan berterima kasih─mereka masih mengingat saya yang belum menjadi apa-apa, jika dibanding mereka yang sudah mapan menjadi guru atau malah melanjutkan S2. Saya hargai itu. Tetapi kalau pertanyaannya sudah melebar ke mana-mana, hingga tak ada ujungnya, saya jawab sewajarnya saja. Memang benar, pepatah lama bilang “malu bertanya sesat di jalan”, toh Mahbub Djunaidi tetap menambahkan “…kebanyakan bertanya pun membingungkan”.

Jadi, pada akhirnya, daripada bertanya kapan saya lulus, lebih baik doakan saja supaya cepat lulus.[T]

Untuk Mahasiswa Akhir – Inilah Tips Super Bikin Skripsi jadi Lancar
Malas Menghantui Mahasiswa Semester Akhir? Ah, Itu Biasa…
Mahasiswa Berguna itu Tak Harus “Wah”, Minimal Bisa Memberantas Hoax di Grup WA Keluarga
Tags: bulelengesaimahasiswamahasiswa baruPendidikanSkripsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Screening Film “Expect the Unexpected” di Tabanan: Mengupas Rasa Penasaran Manusia

Next Post

Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co