12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 1, 2023
in Esai
Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

“Panas yang disangka sampai petang, ternyata gerimis turun di siang hari.“

PENGGALAN KALIMAT di atas saya dapat dari esai berjudul Turis, karya Mahbub Djunaidi dalam buku Asal Usul , catatan-catatan pilihan yang terbit di Kompas, dulu. Penggalan kalimat itu membuat saya mematung─dan menggerakkan saya untuk menulis catatan yang sedang Anda baca saat ini.

Begini. Kuliah saya sudah di ujung tanduk, semester akhir, belum lulus. Padahal, banyak yang menyangka saya bisa lulus normal, delapan semester. Tetapi siapa sangka, seperti panas yang disangka sampai petang, ternyata gerimis turun di siang hari.

Barang sudah kepalang tanggung, apa boleh buat. Daripada  basah sedikit, nyebur saja sekalian. Kalimat itu rasanya sangat pantas untuk menggambarkan bagaimana saya berproses kali ini.

Saya masuk kuliah tahun 2016, dan sialnya, sampai tahun 2023─empat belas semester, bapak-ibu─belum lulus juga. Tetapi jangan tanya kenapa, sebab tak ada jawaban apa-apa selain itu adalah pilihan saya sendiri.

Mungkin, sebagian orang, jika ditanya hal serupa terkait lambatnya dalam menyelesaikan studi akan menjawab dengan kalimat klise seperti misalnya, “Wah iya, aku masih sibuk berorganisasi. Jadinya masih mempunyai tanggung jawab di sana”─seolah-olah menyelesaikan studi bukan soal tanggung jawab. Atau, ada juga yang menjawab dengan tidak masuk akal seperti, “Oh iya, aku menghilang kemarin karena masih dalam proses berdamai dengan diri sendiri─aku gagal dalam percintaan”. Dan jawaban-jawaban pembelaan─yang mungkin lebih tidak masuk akal─lainnya.

Sekali lagi, alasan saya terlambat lulus bukan karena putus cinta, galau terus nglesot, bodoh, dsb, tidak sama sekali. Saya memperlambat kelulusan karena memang itu pilihan yang saya buat, secara sadar. Anda boleh mengatakan itu sebagai pembelaan atau pembenaran. Silakan, saya tidak keberatan. Yang jelas, mau bagaimana pun, saya harus tetap bertanggung jawab atas pilihan saya sendiri.

Saya kasih tahu, kalau saya mau, saya bisa saja lulus tahun 2020. Semua mata kuliah, kecuali skripsi, sudah saya habiskan. Bahkan, kalau boleh sombong, tak ada satu mata kuliah pun yang mendapatkan nilai C, apalagi sampai mengulang, tidak sama sekali. Sampai sini saya tekankan, sekali lagi, bahwa saya telat lulus bukan karena bodoh.

Oh iya, kenapa, si, orang Indonesia senang sekali menganggap mahasiswa yang telat lulus itu bodoh, hidupnya gagal? ─dan memangnya kenapa kalau gagal? Bukankah dalam hidup ini, kita tak harus bisa mengatasi segala hal; tak harus memenangi segala hal; tak harus melewati proses dengan gemilang, dan hal lain semacam itu? Seperti kata Puthut EA, kita boleh menyerah kalah, kok.

Saya memilih telat lulus karena ingin mengeksplor banyak hal. Sebab, menurut saya, ilmu yang saya dapat dari kampus saja tidak cukup untuk bermasyarakat. Dan selama proses itu berlangsung, tentu banyak teman dan saudara sangat menyayangkan hal itu─mereka menganggap saya memilih “jalan yang salah”. Saya tak ambil pusing, saya menjalaninya dengan senyuman dan tentu tetap berkomedi. Hahaha.

Nyatanya, telat lulus tak selamanya buruk. Saya berkesempatan untuk mengenal banyak hal yang sebelumnya tak pernah saya ketahui. Barangkali pengetahuan yang tak akan pernah saya peroleh di kampus─pengetahuan yang tak menggunakan sistem SKS.

Bukan hanya pengetahuan baru, tetapi juga teman baru, ilmu baru. Dalam hal ini wajib hukumnya saya bersyukur.

Salah satu orang yang saya kenal saat proses “pencarian” itu bernama Jaswanto, seorang pemuda yang lahir dari dusun yang jauh.

Mas Jas, begitu saya memanggilnya. Saya memanggilnya “Mas” bukan hanya semata-mata ia lebih tua dari saya─umur kami hanya selisih 1 tahun. Lebih dari itu, saya akui, dalam hal keilmuan ia lebih mumpuni. Selain saya anggap sebagai kakak, ia juga saya anggap sebagai guru─meskipun di antara kami belum ada pembicaraan yang menghasilkan kesepakatan akan klaim saya itu. Singkatnya, dari dia lah saya terinspirasi untuk melanjutkan perjalanan sakral ini.

Saya sering diajak Mas Jas mengunjungi orang-orang yang mempunyai fashion unik dengan disiplinan ilmu yang berbeda-beda. Tak hanya sekadar diajak, tapi juga diperkenalkan dengan orang-orang tersebut. Seperti Om Wirawan, misalnya, seorang chef yang tinggal di Lovina─yang kerap kali mengajak kami makan di rumahnya. Atau Pak Ole, Made Adnyana Ole, wartawan senior, sastrawan, penyair, dan Pimred tatkala.co.

Atau, sekadar menyebut nama sekali lagi, Bang Ricky Dhamparan Putra, seorang penyair dari Sumatera Utara, murid Sang Maestro, Umbu Landu Paranggi. Dari cerita-ceritanya, saya tahu kalau Bang Ricky juga sangat ngefans dengan Buya Syafii Maarif.

Nampaknya Mas Jas tahu kalau akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan dunia sastra, makanya ia mengajak saya ke Komunitas Mahima dan berkenalan dengan orang-orang yang terlibat, berkunjung, dan belajar di sana. Bli Kardian, misalnya, atau yang lebih akrab di sapa Cotek, jurnalis Kompas sekaligus pegiat film dan mengelola platform Singaraja Menonton. Dan tentu masih banyak orang hebat yang saya temui─yang tidak mungkin saya sebutkan namanya satu per satu di sini.

Saya menikmati betul pertemuan dengan orang-orang hebat tersebut─setidaknya menurut saya─karena saya teringat dengan apa yang pernah di sampaikan Ki Hadjar Dewantara, bahwa “setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”.

Ya. Saking seringnya saya berinteraksi dengan orang-orang hebat itu, saya merasa apa yang selama ini saya pelajari di kampus, sekali lagi, ternyata masih belum cukup sebagai pegangan hidup di tengah masyarakat. Ibarat mau menanam jagung, benihnya masih belum siap untuk di tanam. Alih-alih tumbuh, malah membusuk di dalam tanah.

Maka dari itu saya sering berkata kepada diri sendiri, bahwa benar saya mulai kuliah dari tahun 2016, tapi seolah proses saya berpikir baru dimulai tahun 2020. Tetapi tak masalah, itu bukan berarti saya bodoh. Sudah saya sampaikan di awal, bahwa saya tak pernah mendapat nilai C, apalagi mengulang mata kuliah.

Hal itu sudah cukup menjadi bukti, kalau saya sebenarnya tak jauh berbeda dengan teman-teman seangkatan─yang sudah lulus terlebih dahulu. Dan ya, sekali lagi saya katakan, saya memilih telat lulus memang bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman, tak ada hubungannya dengan saya bodoh atau tidak─kalau agak malas sedikit memang saya akui.

Untuk menutup catatan ini, terlepas dari apa yang saya ungkapkan di atas, saya ingin menyampaikan: tak jarang teman-teman lama saya menanyakan kabar─meskipun bagi saya itu hanya sekadar basa-basi─atau bertanya tentang proses skripsi, kadang juga sampai ke hal-hal yang berkaitan  tentang asmara.

Saya bersyukur─dan berterima kasih─mereka masih mengingat saya yang belum menjadi apa-apa, jika dibanding mereka yang sudah mapan menjadi guru atau malah melanjutkan S2. Saya hargai itu. Tetapi kalau pertanyaannya sudah melebar ke mana-mana, hingga tak ada ujungnya, saya jawab sewajarnya saja. Memang benar, pepatah lama bilang “malu bertanya sesat di jalan”, toh Mahbub Djunaidi tetap menambahkan “…kebanyakan bertanya pun membingungkan”.

Jadi, pada akhirnya, daripada bertanya kapan saya lulus, lebih baik doakan saja supaya cepat lulus.[T]

Untuk Mahasiswa Akhir – Inilah Tips Super Bikin Skripsi jadi Lancar
Malas Menghantui Mahasiswa Semester Akhir? Ah, Itu Biasa…
Mahasiswa Berguna itu Tak Harus “Wah”, Minimal Bisa Memberantas Hoax di Grup WA Keluarga
Tags: bulelengesaimahasiswamahasiswa baruPendidikanSkripsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Screening Film “Expect the Unexpected” di Tabanan: Mengupas Rasa Penasaran Manusia

Next Post

Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co