2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 1, 2023
in Esai
Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

“Panas yang disangka sampai petang, ternyata gerimis turun di siang hari.“

PENGGALAN KALIMAT di atas saya dapat dari esai berjudul Turis, karya Mahbub Djunaidi dalam buku Asal Usul , catatan-catatan pilihan yang terbit di Kompas, dulu. Penggalan kalimat itu membuat saya mematung─dan menggerakkan saya untuk menulis catatan yang sedang Anda baca saat ini.

Begini. Kuliah saya sudah di ujung tanduk, semester akhir, belum lulus. Padahal, banyak yang menyangka saya bisa lulus normal, delapan semester. Tetapi siapa sangka, seperti panas yang disangka sampai petang, ternyata gerimis turun di siang hari.

Barang sudah kepalang tanggung, apa boleh buat. Daripada  basah sedikit, nyebur saja sekalian. Kalimat itu rasanya sangat pantas untuk menggambarkan bagaimana saya berproses kali ini.

Saya masuk kuliah tahun 2016, dan sialnya, sampai tahun 2023─empat belas semester, bapak-ibu─belum lulus juga. Tetapi jangan tanya kenapa, sebab tak ada jawaban apa-apa selain itu adalah pilihan saya sendiri.

Mungkin, sebagian orang, jika ditanya hal serupa terkait lambatnya dalam menyelesaikan studi akan menjawab dengan kalimat klise seperti misalnya, “Wah iya, aku masih sibuk berorganisasi. Jadinya masih mempunyai tanggung jawab di sana”─seolah-olah menyelesaikan studi bukan soal tanggung jawab. Atau, ada juga yang menjawab dengan tidak masuk akal seperti, “Oh iya, aku menghilang kemarin karena masih dalam proses berdamai dengan diri sendiri─aku gagal dalam percintaan”. Dan jawaban-jawaban pembelaan─yang mungkin lebih tidak masuk akal─lainnya.

Sekali lagi, alasan saya terlambat lulus bukan karena putus cinta, galau terus nglesot, bodoh, dsb, tidak sama sekali. Saya memperlambat kelulusan karena memang itu pilihan yang saya buat, secara sadar. Anda boleh mengatakan itu sebagai pembelaan atau pembenaran. Silakan, saya tidak keberatan. Yang jelas, mau bagaimana pun, saya harus tetap bertanggung jawab atas pilihan saya sendiri.

Saya kasih tahu, kalau saya mau, saya bisa saja lulus tahun 2020. Semua mata kuliah, kecuali skripsi, sudah saya habiskan. Bahkan, kalau boleh sombong, tak ada satu mata kuliah pun yang mendapatkan nilai C, apalagi sampai mengulang, tidak sama sekali. Sampai sini saya tekankan, sekali lagi, bahwa saya telat lulus bukan karena bodoh.

Oh iya, kenapa, si, orang Indonesia senang sekali menganggap mahasiswa yang telat lulus itu bodoh, hidupnya gagal? ─dan memangnya kenapa kalau gagal? Bukankah dalam hidup ini, kita tak harus bisa mengatasi segala hal; tak harus memenangi segala hal; tak harus melewati proses dengan gemilang, dan hal lain semacam itu? Seperti kata Puthut EA, kita boleh menyerah kalah, kok.

Saya memilih telat lulus karena ingin mengeksplor banyak hal. Sebab, menurut saya, ilmu yang saya dapat dari kampus saja tidak cukup untuk bermasyarakat. Dan selama proses itu berlangsung, tentu banyak teman dan saudara sangat menyayangkan hal itu─mereka menganggap saya memilih “jalan yang salah”. Saya tak ambil pusing, saya menjalaninya dengan senyuman dan tentu tetap berkomedi. Hahaha.

Nyatanya, telat lulus tak selamanya buruk. Saya berkesempatan untuk mengenal banyak hal yang sebelumnya tak pernah saya ketahui. Barangkali pengetahuan yang tak akan pernah saya peroleh di kampus─pengetahuan yang tak menggunakan sistem SKS.

Bukan hanya pengetahuan baru, tetapi juga teman baru, ilmu baru. Dalam hal ini wajib hukumnya saya bersyukur.

Salah satu orang yang saya kenal saat proses “pencarian” itu bernama Jaswanto, seorang pemuda yang lahir dari dusun yang jauh.

Mas Jas, begitu saya memanggilnya. Saya memanggilnya “Mas” bukan hanya semata-mata ia lebih tua dari saya─umur kami hanya selisih 1 tahun. Lebih dari itu, saya akui, dalam hal keilmuan ia lebih mumpuni. Selain saya anggap sebagai kakak, ia juga saya anggap sebagai guru─meskipun di antara kami belum ada pembicaraan yang menghasilkan kesepakatan akan klaim saya itu. Singkatnya, dari dia lah saya terinspirasi untuk melanjutkan perjalanan sakral ini.

Saya sering diajak Mas Jas mengunjungi orang-orang yang mempunyai fashion unik dengan disiplinan ilmu yang berbeda-beda. Tak hanya sekadar diajak, tapi juga diperkenalkan dengan orang-orang tersebut. Seperti Om Wirawan, misalnya, seorang chef yang tinggal di Lovina─yang kerap kali mengajak kami makan di rumahnya. Atau Pak Ole, Made Adnyana Ole, wartawan senior, sastrawan, penyair, dan Pimred tatkala.co.

Atau, sekadar menyebut nama sekali lagi, Bang Ricky Dhamparan Putra, seorang penyair dari Sumatera Utara, murid Sang Maestro, Umbu Landu Paranggi. Dari cerita-ceritanya, saya tahu kalau Bang Ricky juga sangat ngefans dengan Buya Syafii Maarif.

Nampaknya Mas Jas tahu kalau akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan dunia sastra, makanya ia mengajak saya ke Komunitas Mahima dan berkenalan dengan orang-orang yang terlibat, berkunjung, dan belajar di sana. Bli Kardian, misalnya, atau yang lebih akrab di sapa Cotek, jurnalis Kompas sekaligus pegiat film dan mengelola platform Singaraja Menonton. Dan tentu masih banyak orang hebat yang saya temui─yang tidak mungkin saya sebutkan namanya satu per satu di sini.

Saya menikmati betul pertemuan dengan orang-orang hebat tersebut─setidaknya menurut saya─karena saya teringat dengan apa yang pernah di sampaikan Ki Hadjar Dewantara, bahwa “setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”.

Ya. Saking seringnya saya berinteraksi dengan orang-orang hebat itu, saya merasa apa yang selama ini saya pelajari di kampus, sekali lagi, ternyata masih belum cukup sebagai pegangan hidup di tengah masyarakat. Ibarat mau menanam jagung, benihnya masih belum siap untuk di tanam. Alih-alih tumbuh, malah membusuk di dalam tanah.

Maka dari itu saya sering berkata kepada diri sendiri, bahwa benar saya mulai kuliah dari tahun 2016, tapi seolah proses saya berpikir baru dimulai tahun 2020. Tetapi tak masalah, itu bukan berarti saya bodoh. Sudah saya sampaikan di awal, bahwa saya tak pernah mendapat nilai C, apalagi mengulang mata kuliah.

Hal itu sudah cukup menjadi bukti, kalau saya sebenarnya tak jauh berbeda dengan teman-teman seangkatan─yang sudah lulus terlebih dahulu. Dan ya, sekali lagi saya katakan, saya memilih telat lulus memang bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman, tak ada hubungannya dengan saya bodoh atau tidak─kalau agak malas sedikit memang saya akui.

Untuk menutup catatan ini, terlepas dari apa yang saya ungkapkan di atas, saya ingin menyampaikan: tak jarang teman-teman lama saya menanyakan kabar─meskipun bagi saya itu hanya sekadar basa-basi─atau bertanya tentang proses skripsi, kadang juga sampai ke hal-hal yang berkaitan  tentang asmara.

Saya bersyukur─dan berterima kasih─mereka masih mengingat saya yang belum menjadi apa-apa, jika dibanding mereka yang sudah mapan menjadi guru atau malah melanjutkan S2. Saya hargai itu. Tetapi kalau pertanyaannya sudah melebar ke mana-mana, hingga tak ada ujungnya, saya jawab sewajarnya saja. Memang benar, pepatah lama bilang “malu bertanya sesat di jalan”, toh Mahbub Djunaidi tetap menambahkan “…kebanyakan bertanya pun membingungkan”.

Jadi, pada akhirnya, daripada bertanya kapan saya lulus, lebih baik doakan saja supaya cepat lulus.[T]

Untuk Mahasiswa Akhir – Inilah Tips Super Bikin Skripsi jadi Lancar
Malas Menghantui Mahasiswa Semester Akhir? Ah, Itu Biasa…
Mahasiswa Berguna itu Tak Harus “Wah”, Minimal Bisa Memberantas Hoax di Grup WA Keluarga
Tags: bulelengesaimahasiswamahasiswa baruPendidikanSkripsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Screening Film “Expect the Unexpected” di Tabanan: Mengupas Rasa Penasaran Manusia

Next Post

Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co