22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 1, 2023
in Esai
Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

“Panas yang disangka sampai petang, ternyata gerimis turun di siang hari.“

PENGGALAN KALIMAT di atas saya dapat dari esai berjudul Turis, karya Mahbub Djunaidi dalam buku Asal Usul , catatan-catatan pilihan yang terbit di Kompas, dulu. Penggalan kalimat itu membuat saya mematung─dan menggerakkan saya untuk menulis catatan yang sedang Anda baca saat ini.

Begini. Kuliah saya sudah di ujung tanduk, semester akhir, belum lulus. Padahal, banyak yang menyangka saya bisa lulus normal, delapan semester. Tetapi siapa sangka, seperti panas yang disangka sampai petang, ternyata gerimis turun di siang hari.

Barang sudah kepalang tanggung, apa boleh buat. Daripada  basah sedikit, nyebur saja sekalian. Kalimat itu rasanya sangat pantas untuk menggambarkan bagaimana saya berproses kali ini.

Saya masuk kuliah tahun 2016, dan sialnya, sampai tahun 2023─empat belas semester, bapak-ibu─belum lulus juga. Tetapi jangan tanya kenapa, sebab tak ada jawaban apa-apa selain itu adalah pilihan saya sendiri.

Mungkin, sebagian orang, jika ditanya hal serupa terkait lambatnya dalam menyelesaikan studi akan menjawab dengan kalimat klise seperti misalnya, “Wah iya, aku masih sibuk berorganisasi. Jadinya masih mempunyai tanggung jawab di sana”─seolah-olah menyelesaikan studi bukan soal tanggung jawab. Atau, ada juga yang menjawab dengan tidak masuk akal seperti, “Oh iya, aku menghilang kemarin karena masih dalam proses berdamai dengan diri sendiri─aku gagal dalam percintaan”. Dan jawaban-jawaban pembelaan─yang mungkin lebih tidak masuk akal─lainnya.

Sekali lagi, alasan saya terlambat lulus bukan karena putus cinta, galau terus nglesot, bodoh, dsb, tidak sama sekali. Saya memperlambat kelulusan karena memang itu pilihan yang saya buat, secara sadar. Anda boleh mengatakan itu sebagai pembelaan atau pembenaran. Silakan, saya tidak keberatan. Yang jelas, mau bagaimana pun, saya harus tetap bertanggung jawab atas pilihan saya sendiri.

Saya kasih tahu, kalau saya mau, saya bisa saja lulus tahun 2020. Semua mata kuliah, kecuali skripsi, sudah saya habiskan. Bahkan, kalau boleh sombong, tak ada satu mata kuliah pun yang mendapatkan nilai C, apalagi sampai mengulang, tidak sama sekali. Sampai sini saya tekankan, sekali lagi, bahwa saya telat lulus bukan karena bodoh.

Oh iya, kenapa, si, orang Indonesia senang sekali menganggap mahasiswa yang telat lulus itu bodoh, hidupnya gagal? ─dan memangnya kenapa kalau gagal? Bukankah dalam hidup ini, kita tak harus bisa mengatasi segala hal; tak harus memenangi segala hal; tak harus melewati proses dengan gemilang, dan hal lain semacam itu? Seperti kata Puthut EA, kita boleh menyerah kalah, kok.

Saya memilih telat lulus karena ingin mengeksplor banyak hal. Sebab, menurut saya, ilmu yang saya dapat dari kampus saja tidak cukup untuk bermasyarakat. Dan selama proses itu berlangsung, tentu banyak teman dan saudara sangat menyayangkan hal itu─mereka menganggap saya memilih “jalan yang salah”. Saya tak ambil pusing, saya menjalaninya dengan senyuman dan tentu tetap berkomedi. Hahaha.

Nyatanya, telat lulus tak selamanya buruk. Saya berkesempatan untuk mengenal banyak hal yang sebelumnya tak pernah saya ketahui. Barangkali pengetahuan yang tak akan pernah saya peroleh di kampus─pengetahuan yang tak menggunakan sistem SKS.

Bukan hanya pengetahuan baru, tetapi juga teman baru, ilmu baru. Dalam hal ini wajib hukumnya saya bersyukur.

Salah satu orang yang saya kenal saat proses “pencarian” itu bernama Jaswanto, seorang pemuda yang lahir dari dusun yang jauh.

Mas Jas, begitu saya memanggilnya. Saya memanggilnya “Mas” bukan hanya semata-mata ia lebih tua dari saya─umur kami hanya selisih 1 tahun. Lebih dari itu, saya akui, dalam hal keilmuan ia lebih mumpuni. Selain saya anggap sebagai kakak, ia juga saya anggap sebagai guru─meskipun di antara kami belum ada pembicaraan yang menghasilkan kesepakatan akan klaim saya itu. Singkatnya, dari dia lah saya terinspirasi untuk melanjutkan perjalanan sakral ini.

Saya sering diajak Mas Jas mengunjungi orang-orang yang mempunyai fashion unik dengan disiplinan ilmu yang berbeda-beda. Tak hanya sekadar diajak, tapi juga diperkenalkan dengan orang-orang tersebut. Seperti Om Wirawan, misalnya, seorang chef yang tinggal di Lovina─yang kerap kali mengajak kami makan di rumahnya. Atau Pak Ole, Made Adnyana Ole, wartawan senior, sastrawan, penyair, dan Pimred tatkala.co.

Atau, sekadar menyebut nama sekali lagi, Bang Ricky Dhamparan Putra, seorang penyair dari Sumatera Utara, murid Sang Maestro, Umbu Landu Paranggi. Dari cerita-ceritanya, saya tahu kalau Bang Ricky juga sangat ngefans dengan Buya Syafii Maarif.

Nampaknya Mas Jas tahu kalau akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan dunia sastra, makanya ia mengajak saya ke Komunitas Mahima dan berkenalan dengan orang-orang yang terlibat, berkunjung, dan belajar di sana. Bli Kardian, misalnya, atau yang lebih akrab di sapa Cotek, jurnalis Kompas sekaligus pegiat film dan mengelola platform Singaraja Menonton. Dan tentu masih banyak orang hebat yang saya temui─yang tidak mungkin saya sebutkan namanya satu per satu di sini.

Saya menikmati betul pertemuan dengan orang-orang hebat tersebut─setidaknya menurut saya─karena saya teringat dengan apa yang pernah di sampaikan Ki Hadjar Dewantara, bahwa “setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”.

Ya. Saking seringnya saya berinteraksi dengan orang-orang hebat itu, saya merasa apa yang selama ini saya pelajari di kampus, sekali lagi, ternyata masih belum cukup sebagai pegangan hidup di tengah masyarakat. Ibarat mau menanam jagung, benihnya masih belum siap untuk di tanam. Alih-alih tumbuh, malah membusuk di dalam tanah.

Maka dari itu saya sering berkata kepada diri sendiri, bahwa benar saya mulai kuliah dari tahun 2016, tapi seolah proses saya berpikir baru dimulai tahun 2020. Tetapi tak masalah, itu bukan berarti saya bodoh. Sudah saya sampaikan di awal, bahwa saya tak pernah mendapat nilai C, apalagi mengulang mata kuliah.

Hal itu sudah cukup menjadi bukti, kalau saya sebenarnya tak jauh berbeda dengan teman-teman seangkatan─yang sudah lulus terlebih dahulu. Dan ya, sekali lagi saya katakan, saya memilih telat lulus memang bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman, tak ada hubungannya dengan saya bodoh atau tidak─kalau agak malas sedikit memang saya akui.

Untuk menutup catatan ini, terlepas dari apa yang saya ungkapkan di atas, saya ingin menyampaikan: tak jarang teman-teman lama saya menanyakan kabar─meskipun bagi saya itu hanya sekadar basa-basi─atau bertanya tentang proses skripsi, kadang juga sampai ke hal-hal yang berkaitan  tentang asmara.

Saya bersyukur─dan berterima kasih─mereka masih mengingat saya yang belum menjadi apa-apa, jika dibanding mereka yang sudah mapan menjadi guru atau malah melanjutkan S2. Saya hargai itu. Tetapi kalau pertanyaannya sudah melebar ke mana-mana, hingga tak ada ujungnya, saya jawab sewajarnya saja. Memang benar, pepatah lama bilang “malu bertanya sesat di jalan”, toh Mahbub Djunaidi tetap menambahkan “…kebanyakan bertanya pun membingungkan”.

Jadi, pada akhirnya, daripada bertanya kapan saya lulus, lebih baik doakan saja supaya cepat lulus.[T]

Untuk Mahasiswa Akhir – Inilah Tips Super Bikin Skripsi jadi Lancar
Malas Menghantui Mahasiswa Semester Akhir? Ah, Itu Biasa…
Mahasiswa Berguna itu Tak Harus “Wah”, Minimal Bisa Memberantas Hoax di Grup WA Keluarga
Tags: bulelengesaimahasiswamahasiswa baruPendidikanSkripsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Screening Film “Expect the Unexpected” di Tabanan: Mengupas Rasa Penasaran Manusia

Next Post

Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co