2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mie Ayam Uncle Sam: Anda Kenyang, Saya Bahagia

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 10, 2023
in Kuliner
Mie Ayam Uncle Sam: Anda Kenyang, Saya Bahagia

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

Anda kenyang, saya bahagia.

Tagline di atas tidak lahir dari rumah makan mewah. Tidak juga lahir dari warteg kelas menengah. Ia lahir dari pedagang mie ayam pinggiran lorong sempit Jalak Putih.Ya, mie ayam dengan nama yang sangat Biden itu: Uncle Sam.

Di Singaraja, untuk urusan perut, setidaknya ada dua tempat yang sering saya kunjungi. Pertama Warung Portugal; dan kedua, sudah dapat ditebak, mie ayam Uncle Sam tentu saja.

Portugal itu tidak ada hubungannya dengan kesebelasan sepak bola, kelahiran CR7, atau penjualnya Bule Portugal. Bukan. Melainkan singkatan dari “porsi tukang gali”. Alasannya jelas, kami menyebutnya begitu karena porsinya yang tidak wajar. Banyak sekali!

Pernah saking banyaknya, pada saat saya membeli 3 bungkus—sebungkus hanya 10 ribu sudah lengkap nasi serta kemeriahan lauk pauknya—kira-kira berbobot 2 kg lebih. Dan benar, alih-alih kenyang, justru saya sering dibuat payah, kewalahan ketika makan nasi Portugal. (Sayang, akhir-akhir ini Portugal sering tutup.)

Tetapi ini bukan tentang Warung Portugal, ini tentang warung mie ayam yang mepet sawah itu, mie ayam Uncle Sam.

Mie ayam Uncle Sam berada tidak jauh dari Warung Portugal. Hanya saja letak Uncle Sam lebih tersembunyi dan jauh dari jalan besar—atau dalam bahasa kerennya, hidden gems. Tepatnya di Kelurahan Banyuasri, Perumahan Jalak Putih V atas, ujung jalan dekat persawahan.

Uncle Sam, dengan segala kesederhanaannya, bagi saya adalah mie ayam terbaik. Bukan hanya rasanya yang nikmat, tapi juga porsinya yang menyalahi kodrat. Tetapi ini yang terpenting: harganya tak lebih mahal dari sebungkus rokok Sampurna non-filter.

Ya, hanya 10 ribu, bapak-ibu. Sepuluh ribu! Tak lebih. Dengan uang bergambar Frans Kaisiepo itu, Anda sudah mendapat mie ayam porsi (super) jumbo lengkap dengan toping bakso sapi, pangsit kering, dan siomay (kadang masih ada tahu gorengnya.)

Saya masih ingat betul saat pertama kali mencobanya.Waktu itu salah seorang teman mengajak saya makan mie ayam. Sejak sebelum berangkat sampai di perjalanan, teman saya ini selalu menceritakan betapa nikmatnya sajian mie ayam Uncle Sam itu. Tentu saja, perihal urusan makanan, imajinasi saya tak perlu diajarkan lagi untuk membayangkan kenikmatan-kenikmatan tersebut.

Tetapi, imajinasi yang saya bangun sejak di perjalanan tadi, porak poranda ketika sampai di tempat Uncle Sam berjualan. Ini bukan tentang makanannya, tapi lebih kepada ketidaksiapan saya kalau harus makan di samping aliran selokan (waktu itu suasana masih PPKM, jadi pelanggan harus makan sambil ngumpet di dekat selokan itu supaya luput dari Satpol PP.)

Meskipun kesan pertama sangat menjengkelkan, tetapi sejak saat itu, saya sepakat dengan teman saya, bahwa mie ayam Uncle Sam memang nikmat.

Tempatnya tak semewah nama dan rasanya

Uncle Sam diambil dari nama pedagangnya: Samsul. Sungguh sangat nggatheli. Dan, harus saya akui, tempatnya memang tak semewah rasa dan namanya.

Tempatnya itu, di pinggir jalan gang sempit Jalak Putih V, gancet dengan gerbang tua berkarat. Dua meja dan kursi panjangnya, sepintas mirip bangku zaman SD. Atap plastik yang kadang kalau hujan, rembesan air bisa membasahi ubun-ubun padahal sedang asik makan.

Atau lampu yang tiba-tiba mati bukan karena mistis, tapi lebih tepatnya kekurangan daya karena energinya harus berbagi dengan radio tape yang meneriakkan lagu-lagu dangdut,  gambus, sampai lagu-lagu dengan genre tak jelas. Dan itu, gerobaknya itu, yang redup karena catnya sudah pudar, tampak letih menahan beban bawaan.

Ya, tempatnya memang sederhana (atau lebih tepatnya, serba kurang). Tapi, ketragisan-ketragisan yang sangat fundamental itu, seketika lenyap dan termaafkan dengan rasa (harga dan porsi) mie ayamnya.

Memang benar masih sama-sama kuliner mie yang berisi irisan daging ayam. Tapi tetap, ini beda dan lebih spektakuler.

Begini, saya mulai dari porsinya. Mangkuk standar bergambar ayam yang sangat klasikal itu, terlihat gemuk, memaksakan diri untuk menampung satu porsi mie ayam saja. Di dalam mangkuk itu, tersaji mie ayam dengan irisan daging ayam yang besar-besar, bertoping 4 pangsit goreng, 4 siomay rebus, 3 tahu goreng dan 1 pentol sapi dengan ukuran segenggam tangan balita. Lengkap, seperti sebuah acara karnaval Agustusan.

Dan semua itu, makin nikmat dengan kuah kaldunya yang kental—yang kalau beruntung, bisa dapat lemak juga tulang muda di dalamnya.

Saya tidak sedang membual atau melebih-lebihkan. Sama sekali tidak. Mie ayam Kang Sul— begitu saya memanggilnya (karena belakangan saya tahu kalau dia berasal dari Banyuwangi dan bersuku Osing)—memang benar-benar seperti yang sudah saya gambarkan di atas. Ini adalah ungkapan jujur saya terhadap mie ayam buatannya.

Saya terkadang bingung, sehingga sering bertanya kepada Kang Sul. “Nggak rugi, Kang?” tanya saya. Kemudian, seperti biasa, ia akan menjawab sambil tersenyum, “Namanya rezeki sudah ada yang atur. Segini sudah cukup, Mas.” Jawaban templet yang terkesan Sufi.

Nampaknya bagi laki-laki berumur 50-an itu, porsi dan harga segitu memang sudah paten dan tidak bisa diganggu-gugat. Saya sampai menduga, kalau sebenarnya dia ini tidak niat berjualan. Melainkan sedang shodaqoh atau beramal dengan kedok berjualan. Atau, dan ini yang membuat saya was-was, jangan-jangan dia… Ah, siapa yang tahu.

Tapi bodoh amat, yang jelas, mie ayamanya enak, mantap, banyak dan murah. Sudah pas!

Limabelas tahun berjualan

Suatu kali Kang Sul bercerita tentang bagaimana ia memulai jualan di Singaraja. Dulu, sebelum berjualan mie ayam, ia sempat juga bekerja di Malang, Jawa Timur. Ikut orang berjualan bakso, katanya. Tapi, entah apa sebabnya, kemudian pindah ke Bali dan berjualan kerupuk di sekitaran Pasar Anyar Singaraja.

Dari pengalaman-pengalaman itu ia dapat membuat makanan lezat dan pada akhirnya memutuskan untuk membangun usaha kuliner sendiri dengan mie ayam sebagai menu andalanya.

Kang Sul sudah berjualan mie ayam kurang lebih 15 tahun lamanya. Dan ia bercerita, sebelum menetap di Perumahan Jalak Putih, ia sempat berkeliling menjajakan dagangannya di sekitaran asrama Polisi di Jalan Skip. Limabelas tahun, ah, tentu ia sudah sangat berpengalaman dalam meracik mie ayam.

Dan ini yang membuat saya kagum, meskipun tempat jualannya tersembunyi, pelanggannya tetap banyak dan berasal dari berbagai status, dari masyarakat biasa, tentara, polisi, dokter, hingga mahasiswa. Banyak mahasiswa Undiksha yang makan di sini. Biasanya mereka tahu dari mulut ke mulut (Kang Sul tak mungkin promosi di media sosial.)

Akhirnya, untuk urusan mie ayam, saya sarankan Anda mencoba mie ayam Uncle Sam ini. Dari sekian banyak pedagang mie ayam di Singaraja yang pernah saya coba, mie ayam Uncle Sam adalah yang paling the best.

Di samping murah, tempat makannya yang sederhana (dengan suara-suara katak di persawahan), juga porsi yang menggilanya itu akan memanjakan lidah Anda. Saya jamin, apa yang saya rasakan di awal tentang kegilaan porsinya, juga akan Anda alami. Apalagi pada saat hujan. Ah, benar-benar kenikmatan yang hakiki, sebagaimana tulisan di kaos bajunya: MIE AYAM UNCLE SAM, ANDA KENYANG, SAYA BAHAGIA.

Cobalah![T]

Nasi Kuning Bu Ayu di Baktiseraga, Sambal Nikmat untuk Nasi Kuning yang Nikmat
Ketut Suci dari Tejakula, dan Kesetiaan Menjual Bubur Mengguh
Babi Guling Tidak Boleh, Ayam Guling pun Jadi di Warung Mbok Eka Banyuning Singaraja
Nasi Bayam, Makanan Legendaris yang Sederhana dari Desa Bungkulan
Tags: kulinerkuliner khas balikuliner legendarismakananmakanan cepat saji
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Keutuhan Bali | Epilog Suteja Neka untuk Buku Puisi Air Mata (Tanah) Bali

Next Post

Yowana Manik Asta Gina, Desa Adat Sangket,  Tampilkan Ogoh-Ogoh “Nandisuara”

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails
Next Post
Yowana Manik Asta Gina, Desa Adat Sangket,  Tampilkan Ogoh-Ogoh “Nandisuara”

Yowana Manik Asta Gina, Desa Adat Sangket,  Tampilkan Ogoh-Ogoh "Nandisuara"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co