14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Anak Nelayan Keracunan Ikan

Hilda Aulia by Hilda Aulia
March 14, 2023
in Esai
Ketika Anak Nelayan Keracunan Ikan

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

SEUMUR-UMUR, saya tak pernah merasakan keracunan makanan (apalagi makanan olahan dari ikan).  Rumah saya itu sangat dekat dengan laut. Sedangkan pengetahuan tentang ikan mana yang beracun dan tidak, sudah saya serap sejak kecil. Tetapi hari itu memang sial.

Saya lahir dari orangtua yang bekerja sebagai nelayan. Ya, ayah saya adalah nelayan yang setiap pagi dan sore hari selalu mendorong perahunya ke laut untuk mencari ikan.

Tentu saja, karena ayah seorang nelayan, hal yang paling dekat dengan saya sedari kecil sampai saat ini adalah pantai dan juga ikan.

Sejak kecil saya menghabiskan waktu dengan bermain ombak, memancing ikan, menjaring ikan, mencari udang dan kerang. Berbagai jenis ikan sudah pernah saya coba, baik itu ikan selah polo yang merupakan jenis ikan paling mungil, sampai ikan raksasa yang biasa disebut dengan ikan marlin.

Banyak kenangan masa kecil saya bersama laut. Lain kali saya ceritakan. Dan tetang keracunan ikan ini, begini ceritanya.

Saya sudah kuliah. Sebagai mahasiswa di universitas negeri di Kota Singaraja—yang lumayan jauh dari kampung halaman saya, Celukan Bawang. Jarak antara rumah saya dengan kampus kurang lebih sekitar 40 menit, karena itu saya memutuskan menyewa kos untuk memudahkan saat berangkat ke kampus.

Suatu hari saya mendapatkan telpon dari ibu saya. “Nak, sini pulang, mamak kangen sama kamu,” katanya. Tanpa berpikir panjang saya segera menjawab “iya”.

Bagi saya, pulang ke kampung halaman adalah sebuah kegembiraan. Selain berkumpul bersama keluarga, di sana pula saya berusaha kembali memunguti kenangan yang tercecer, menyimpannya ke dalam laci ingatan, dan berharap dapat menuliskannya suatu hari nanti.

Saat itu bapak menjemput saya dengan menggunakan motornya yang berwarna ungu janda (saya tak paham alasan bapak memilih warna itu.)

Setibanya saya di rumah, layaknya adegan di sinetron, saya langsung memeluk ibu dan adik-adik saya—untuk melepaskan rindu yang selama ini terpendam. Empat hari saya habiskan untuk bermain bersama adik-adik saya, hingga tiba saatnya saya harus balik ke kota karena ada tanggung jawab yang harus saya selesaikan di organisasi pada saat itu.

(Saya juga aktif di organisasi mahasiswa, internal maupun eksternal kampus. Saya aktif di organisasi karena banyak hal yang saya dapat di sana. Selain kawan baru, juga ilmu dan pengalaman baru tentu saja. Menurut saya, aneh rasanya kalau menjadi mahasiswa tapi tidak berorganisasi.)

***

Kembali ke cerita. Sebelum saya berangkat, ibu membuatkan ikan goreng bumbu merah kesukaan saya sedangkan bibi membuatkan bakso ikan—karena kebetulan pada saat itu di rumah saya lagi banjir ikan.

“Ini, mamak buatkan ikan bumbu merah kesukaanmu, untuk lauk makan di kos nanti,” kata ibu.

Setelah berpamitan dan sedikit basa-basi dengan tetangga, saya berangkat ke kota dengan seorang teman. Singkat cerita, setibanya di kos, dengan gembira saya menemui teman sekamar saya, Kak Alfil, untuk memberikan oleh-oleh ikan goreng bumbu merah dan bakso ikan.

Waktu itu kami tidak sempat makan bersama karena saya harus segera menyelesaikan tanggung jawab saya di organisasi.

 “Kak, saya harus pergi sekarang, kakak makan duluan saja,” ucap saya setelah di telpon ketua panitia agar segera merapat untuk melakukan gladi acara pelantikan pada saat itu.

Selesai gladi saya bergegas balik ke kos karena perut sudah bernyanyi akibat belum sempat makan dari pagi.

Setibanya di kos saya sangat kaget—dan ini awal petaka itu—melihat Kak Alfil sudah tepar di tempat tidur. Ia merasa pusing, lidah gatal, dan mual. Jangan-jangan, ini karena… pikir saya sambil menyantap ikan goreng bumbu merah dan bakso goreng yang terbuat dari ikan itu. Sungguh lezat sampai-sampai saya tidak sadar sudah menghabiskan kurang lebih sepuluh butir bakso.

Aneh, kok saya merasakan sesuatu dalam diri saya, yang bermula dari bibir dan lidah terasa gatal, perut sakit dan mual, sampai saya merasa pusing. Ah, mungkin kecapean, pikir saya sambil memaksakan diri untuk bisa tidur— walapaun itu sangat sulit dilakukan.

Pagi hari, setelah bersih-bersih tempat tidur, kami—saya dan Kak Alfil—menghangatkan sisa lauk ikan dan bakso untuk sarapan. Sebenarnya, sebelum makan pagi itu kami sempat khawatir bahwa semalam sepertinya kami keracunan ikan. Ah, masa, si?

Dasar sial, karena masih penasaran (apakah benar  ikan dan bakso yang saya bawa dari rumah itu beracun), dengan sedikit bebal kami menyantap ikan bumbu merah dan bakso ikan itu dengan lahap.

Dan benar, setelah memakannya, kami kembali merasakan hal-hal yang aneh—seperti semalam. Kak Alfil sakit perut dan bibir serta lidahnya yang gatal-gatal. Saya pun demikian.  Pada saat itulah, kami baru benar-benar yakin, bahwa ikan dan bakso itu beracun. Kami tepar. Tetapi beruntung, sebelum istirahat saya sempat meminum obat paracetamol.

***

Beberapa hari setelah kejadian naas itu, saya kembali mendapatkan telpon dari ibu—yang mengabari bahwa di rumah lagi ada ikan banyak, dan ia menyuruh saya untuk mengambilnya.

Agak trauma sebenarnya. Tapi karena teman-teman saya di Singaraja sangat doyan ikan bakar, saya mengajak satu-satunya orang yang saya panggil dengan sebutan “Mas” untuk mengantarkan saya mengambil ikan di rumah.

Saya menceritakan penglaman keracunan ikan itu kepada kedua orangtua saya. Karena sebelumnya tidak pernah menglami ini, orangtua saya kaget dan heran, sebab ikan yang diberikan untuk saya saat itu adalah ikan yang masih sangat segar.

Lalu ibu mencoba mengingat sesuatu. “Oh, pasti kamu keracunan itu bukan karena ikan goreng bumbu merah yang mamak bikin, tapi karena bakso buatan bibimu,” katanya sedikit kaget.

Mendengar itu spontan saya teringat, sebelum bibi saya memberikan bakso (beracun) itu, ia sempat berkata, “Baksonya sedikit membuat lidah gatal.”— dan saya curiga bakso itu terbuat dari ikan tongkol yang sempat diam lama tanpa es batu.

Setelah saya bertanya kepada bibi, kecurigaan saya dan orangtua saya itu memang benar. Saya keracunan bukan karena ikan goreng bumbu merah buatan ibu tapi bakso ikan buatan bibi saya.

Mengingat, ikan tongkol memiliki racun histamin (scombroid fish poisoning)—karena ikan jenis ini mengandung asam amino histidin yang dikontaminasi oleh bakteri dengan mengeluarkan enzim histidin dekarboksilase sehingga menghasilkan histamin.

Jadi, Anda jangan coba-coba untuk menyantap ikan tongkol yang sudah lama didiamkan tanpa es batu atau tidak disimpan di lemari pendingin atau tanpa diasapi terlebih dulu.

Jangan! Meskipun Anda seorang nelayan atau anak nelayan; meskipun rumah Anda sangat dekat dengan laut dan pengetahuan tentang ikan mana yang beracun dan tidak, sudah Anda serap sejak kecil.[T]

Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya
Ke Kampus Mengejar Cinta atau Cita-Cita? Nah, Lho?!
Ya Kuliah, Ya Kerja | Tips Membagi Waktu Kuliah Sambil Bekerja
Hal-hal yang Membuat Aku Kuat dari Segala Hal yang Bisa Membuat Aku Patah
Tags: balibulelenglautmahasiswamemancingnelayanPendidikanUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kecerdasan Bukan Tujuan Manusia

Next Post

Berkomunikasi dalam Kebisuan: Haru Biru Media Baru

Hilda Aulia

Hilda Aulia

Mahasiswi Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Sejarah. Berasal dari Celukan Bawang, Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Berkomunikasi dalam Kebisuan: Haru Biru Media Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co