2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Anak Nelayan Keracunan Ikan

Hilda Aulia by Hilda Aulia
March 14, 2023
in Esai
Ketika Anak Nelayan Keracunan Ikan

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

SEUMUR-UMUR, saya tak pernah merasakan keracunan makanan (apalagi makanan olahan dari ikan).  Rumah saya itu sangat dekat dengan laut. Sedangkan pengetahuan tentang ikan mana yang beracun dan tidak, sudah saya serap sejak kecil. Tetapi hari itu memang sial.

Saya lahir dari orangtua yang bekerja sebagai nelayan. Ya, ayah saya adalah nelayan yang setiap pagi dan sore hari selalu mendorong perahunya ke laut untuk mencari ikan.

Tentu saja, karena ayah seorang nelayan, hal yang paling dekat dengan saya sedari kecil sampai saat ini adalah pantai dan juga ikan.

Sejak kecil saya menghabiskan waktu dengan bermain ombak, memancing ikan, menjaring ikan, mencari udang dan kerang. Berbagai jenis ikan sudah pernah saya coba, baik itu ikan selah polo yang merupakan jenis ikan paling mungil, sampai ikan raksasa yang biasa disebut dengan ikan marlin.

Banyak kenangan masa kecil saya bersama laut. Lain kali saya ceritakan. Dan tetang keracunan ikan ini, begini ceritanya.

Saya sudah kuliah. Sebagai mahasiswa di universitas negeri di Kota Singaraja—yang lumayan jauh dari kampung halaman saya, Celukan Bawang. Jarak antara rumah saya dengan kampus kurang lebih sekitar 40 menit, karena itu saya memutuskan menyewa kos untuk memudahkan saat berangkat ke kampus.

Suatu hari saya mendapatkan telpon dari ibu saya. “Nak, sini pulang, mamak kangen sama kamu,” katanya. Tanpa berpikir panjang saya segera menjawab “iya”.

Bagi saya, pulang ke kampung halaman adalah sebuah kegembiraan. Selain berkumpul bersama keluarga, di sana pula saya berusaha kembali memunguti kenangan yang tercecer, menyimpannya ke dalam laci ingatan, dan berharap dapat menuliskannya suatu hari nanti.

Saat itu bapak menjemput saya dengan menggunakan motornya yang berwarna ungu janda (saya tak paham alasan bapak memilih warna itu.)

Setibanya saya di rumah, layaknya adegan di sinetron, saya langsung memeluk ibu dan adik-adik saya—untuk melepaskan rindu yang selama ini terpendam. Empat hari saya habiskan untuk bermain bersama adik-adik saya, hingga tiba saatnya saya harus balik ke kota karena ada tanggung jawab yang harus saya selesaikan di organisasi pada saat itu.

(Saya juga aktif di organisasi mahasiswa, internal maupun eksternal kampus. Saya aktif di organisasi karena banyak hal yang saya dapat di sana. Selain kawan baru, juga ilmu dan pengalaman baru tentu saja. Menurut saya, aneh rasanya kalau menjadi mahasiswa tapi tidak berorganisasi.)

***

Kembali ke cerita. Sebelum saya berangkat, ibu membuatkan ikan goreng bumbu merah kesukaan saya sedangkan bibi membuatkan bakso ikan—karena kebetulan pada saat itu di rumah saya lagi banjir ikan.

“Ini, mamak buatkan ikan bumbu merah kesukaanmu, untuk lauk makan di kos nanti,” kata ibu.

Setelah berpamitan dan sedikit basa-basi dengan tetangga, saya berangkat ke kota dengan seorang teman. Singkat cerita, setibanya di kos, dengan gembira saya menemui teman sekamar saya, Kak Alfil, untuk memberikan oleh-oleh ikan goreng bumbu merah dan bakso ikan.

Waktu itu kami tidak sempat makan bersama karena saya harus segera menyelesaikan tanggung jawab saya di organisasi.

 “Kak, saya harus pergi sekarang, kakak makan duluan saja,” ucap saya setelah di telpon ketua panitia agar segera merapat untuk melakukan gladi acara pelantikan pada saat itu.

Selesai gladi saya bergegas balik ke kos karena perut sudah bernyanyi akibat belum sempat makan dari pagi.

Setibanya di kos saya sangat kaget—dan ini awal petaka itu—melihat Kak Alfil sudah tepar di tempat tidur. Ia merasa pusing, lidah gatal, dan mual. Jangan-jangan, ini karena… pikir saya sambil menyantap ikan goreng bumbu merah dan bakso goreng yang terbuat dari ikan itu. Sungguh lezat sampai-sampai saya tidak sadar sudah menghabiskan kurang lebih sepuluh butir bakso.

Aneh, kok saya merasakan sesuatu dalam diri saya, yang bermula dari bibir dan lidah terasa gatal, perut sakit dan mual, sampai saya merasa pusing. Ah, mungkin kecapean, pikir saya sambil memaksakan diri untuk bisa tidur— walapaun itu sangat sulit dilakukan.

Pagi hari, setelah bersih-bersih tempat tidur, kami—saya dan Kak Alfil—menghangatkan sisa lauk ikan dan bakso untuk sarapan. Sebenarnya, sebelum makan pagi itu kami sempat khawatir bahwa semalam sepertinya kami keracunan ikan. Ah, masa, si?

Dasar sial, karena masih penasaran (apakah benar  ikan dan bakso yang saya bawa dari rumah itu beracun), dengan sedikit bebal kami menyantap ikan bumbu merah dan bakso ikan itu dengan lahap.

Dan benar, setelah memakannya, kami kembali merasakan hal-hal yang aneh—seperti semalam. Kak Alfil sakit perut dan bibir serta lidahnya yang gatal-gatal. Saya pun demikian.  Pada saat itulah, kami baru benar-benar yakin, bahwa ikan dan bakso itu beracun. Kami tepar. Tetapi beruntung, sebelum istirahat saya sempat meminum obat paracetamol.

***

Beberapa hari setelah kejadian naas itu, saya kembali mendapatkan telpon dari ibu—yang mengabari bahwa di rumah lagi ada ikan banyak, dan ia menyuruh saya untuk mengambilnya.

Agak trauma sebenarnya. Tapi karena teman-teman saya di Singaraja sangat doyan ikan bakar, saya mengajak satu-satunya orang yang saya panggil dengan sebutan “Mas” untuk mengantarkan saya mengambil ikan di rumah.

Saya menceritakan penglaman keracunan ikan itu kepada kedua orangtua saya. Karena sebelumnya tidak pernah menglami ini, orangtua saya kaget dan heran, sebab ikan yang diberikan untuk saya saat itu adalah ikan yang masih sangat segar.

Lalu ibu mencoba mengingat sesuatu. “Oh, pasti kamu keracunan itu bukan karena ikan goreng bumbu merah yang mamak bikin, tapi karena bakso buatan bibimu,” katanya sedikit kaget.

Mendengar itu spontan saya teringat, sebelum bibi saya memberikan bakso (beracun) itu, ia sempat berkata, “Baksonya sedikit membuat lidah gatal.”— dan saya curiga bakso itu terbuat dari ikan tongkol yang sempat diam lama tanpa es batu.

Setelah saya bertanya kepada bibi, kecurigaan saya dan orangtua saya itu memang benar. Saya keracunan bukan karena ikan goreng bumbu merah buatan ibu tapi bakso ikan buatan bibi saya.

Mengingat, ikan tongkol memiliki racun histamin (scombroid fish poisoning)—karena ikan jenis ini mengandung asam amino histidin yang dikontaminasi oleh bakteri dengan mengeluarkan enzim histidin dekarboksilase sehingga menghasilkan histamin.

Jadi, Anda jangan coba-coba untuk menyantap ikan tongkol yang sudah lama didiamkan tanpa es batu atau tidak disimpan di lemari pendingin atau tanpa diasapi terlebih dulu.

Jangan! Meskipun Anda seorang nelayan atau anak nelayan; meskipun rumah Anda sangat dekat dengan laut dan pengetahuan tentang ikan mana yang beracun dan tidak, sudah Anda serap sejak kecil.[T]

Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya
Ke Kampus Mengejar Cinta atau Cita-Cita? Nah, Lho?!
Ya Kuliah, Ya Kerja | Tips Membagi Waktu Kuliah Sambil Bekerja
Hal-hal yang Membuat Aku Kuat dari Segala Hal yang Bisa Membuat Aku Patah
Tags: balibulelenglautmahasiswamemancingnelayanPendidikanUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kecerdasan Bukan Tujuan Manusia

Next Post

Berkomunikasi dalam Kebisuan: Haru Biru Media Baru

Hilda Aulia

Hilda Aulia

Mahasiswi Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Sejarah. Berasal dari Celukan Bawang, Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Berkomunikasi dalam Kebisuan: Haru Biru Media Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co