13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Anak Nelayan Keracunan Ikan

Hilda Aulia by Hilda Aulia
March 14, 2023
in Esai
Ketika Anak Nelayan Keracunan Ikan

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

SEUMUR-UMUR, saya tak pernah merasakan keracunan makanan (apalagi makanan olahan dari ikan).  Rumah saya itu sangat dekat dengan laut. Sedangkan pengetahuan tentang ikan mana yang beracun dan tidak, sudah saya serap sejak kecil. Tetapi hari itu memang sial.

Saya lahir dari orangtua yang bekerja sebagai nelayan. Ya, ayah saya adalah nelayan yang setiap pagi dan sore hari selalu mendorong perahunya ke laut untuk mencari ikan.

Tentu saja, karena ayah seorang nelayan, hal yang paling dekat dengan saya sedari kecil sampai saat ini adalah pantai dan juga ikan.

Sejak kecil saya menghabiskan waktu dengan bermain ombak, memancing ikan, menjaring ikan, mencari udang dan kerang. Berbagai jenis ikan sudah pernah saya coba, baik itu ikan selah polo yang merupakan jenis ikan paling mungil, sampai ikan raksasa yang biasa disebut dengan ikan marlin.

Banyak kenangan masa kecil saya bersama laut. Lain kali saya ceritakan. Dan tetang keracunan ikan ini, begini ceritanya.

Saya sudah kuliah. Sebagai mahasiswa di universitas negeri di Kota Singaraja—yang lumayan jauh dari kampung halaman saya, Celukan Bawang. Jarak antara rumah saya dengan kampus kurang lebih sekitar 40 menit, karena itu saya memutuskan menyewa kos untuk memudahkan saat berangkat ke kampus.

Suatu hari saya mendapatkan telpon dari ibu saya. “Nak, sini pulang, mamak kangen sama kamu,” katanya. Tanpa berpikir panjang saya segera menjawab “iya”.

Bagi saya, pulang ke kampung halaman adalah sebuah kegembiraan. Selain berkumpul bersama keluarga, di sana pula saya berusaha kembali memunguti kenangan yang tercecer, menyimpannya ke dalam laci ingatan, dan berharap dapat menuliskannya suatu hari nanti.

Saat itu bapak menjemput saya dengan menggunakan motornya yang berwarna ungu janda (saya tak paham alasan bapak memilih warna itu.)

Setibanya saya di rumah, layaknya adegan di sinetron, saya langsung memeluk ibu dan adik-adik saya—untuk melepaskan rindu yang selama ini terpendam. Empat hari saya habiskan untuk bermain bersama adik-adik saya, hingga tiba saatnya saya harus balik ke kota karena ada tanggung jawab yang harus saya selesaikan di organisasi pada saat itu.

(Saya juga aktif di organisasi mahasiswa, internal maupun eksternal kampus. Saya aktif di organisasi karena banyak hal yang saya dapat di sana. Selain kawan baru, juga ilmu dan pengalaman baru tentu saja. Menurut saya, aneh rasanya kalau menjadi mahasiswa tapi tidak berorganisasi.)

***

Kembali ke cerita. Sebelum saya berangkat, ibu membuatkan ikan goreng bumbu merah kesukaan saya sedangkan bibi membuatkan bakso ikan—karena kebetulan pada saat itu di rumah saya lagi banjir ikan.

“Ini, mamak buatkan ikan bumbu merah kesukaanmu, untuk lauk makan di kos nanti,” kata ibu.

Setelah berpamitan dan sedikit basa-basi dengan tetangga, saya berangkat ke kota dengan seorang teman. Singkat cerita, setibanya di kos, dengan gembira saya menemui teman sekamar saya, Kak Alfil, untuk memberikan oleh-oleh ikan goreng bumbu merah dan bakso ikan.

Waktu itu kami tidak sempat makan bersama karena saya harus segera menyelesaikan tanggung jawab saya di organisasi.

 “Kak, saya harus pergi sekarang, kakak makan duluan saja,” ucap saya setelah di telpon ketua panitia agar segera merapat untuk melakukan gladi acara pelantikan pada saat itu.

Selesai gladi saya bergegas balik ke kos karena perut sudah bernyanyi akibat belum sempat makan dari pagi.

Setibanya di kos saya sangat kaget—dan ini awal petaka itu—melihat Kak Alfil sudah tepar di tempat tidur. Ia merasa pusing, lidah gatal, dan mual. Jangan-jangan, ini karena… pikir saya sambil menyantap ikan goreng bumbu merah dan bakso goreng yang terbuat dari ikan itu. Sungguh lezat sampai-sampai saya tidak sadar sudah menghabiskan kurang lebih sepuluh butir bakso.

Aneh, kok saya merasakan sesuatu dalam diri saya, yang bermula dari bibir dan lidah terasa gatal, perut sakit dan mual, sampai saya merasa pusing. Ah, mungkin kecapean, pikir saya sambil memaksakan diri untuk bisa tidur— walapaun itu sangat sulit dilakukan.

Pagi hari, setelah bersih-bersih tempat tidur, kami—saya dan Kak Alfil—menghangatkan sisa lauk ikan dan bakso untuk sarapan. Sebenarnya, sebelum makan pagi itu kami sempat khawatir bahwa semalam sepertinya kami keracunan ikan. Ah, masa, si?

Dasar sial, karena masih penasaran (apakah benar  ikan dan bakso yang saya bawa dari rumah itu beracun), dengan sedikit bebal kami menyantap ikan bumbu merah dan bakso ikan itu dengan lahap.

Dan benar, setelah memakannya, kami kembali merasakan hal-hal yang aneh—seperti semalam. Kak Alfil sakit perut dan bibir serta lidahnya yang gatal-gatal. Saya pun demikian.  Pada saat itulah, kami baru benar-benar yakin, bahwa ikan dan bakso itu beracun. Kami tepar. Tetapi beruntung, sebelum istirahat saya sempat meminum obat paracetamol.

***

Beberapa hari setelah kejadian naas itu, saya kembali mendapatkan telpon dari ibu—yang mengabari bahwa di rumah lagi ada ikan banyak, dan ia menyuruh saya untuk mengambilnya.

Agak trauma sebenarnya. Tapi karena teman-teman saya di Singaraja sangat doyan ikan bakar, saya mengajak satu-satunya orang yang saya panggil dengan sebutan “Mas” untuk mengantarkan saya mengambil ikan di rumah.

Saya menceritakan penglaman keracunan ikan itu kepada kedua orangtua saya. Karena sebelumnya tidak pernah menglami ini, orangtua saya kaget dan heran, sebab ikan yang diberikan untuk saya saat itu adalah ikan yang masih sangat segar.

Lalu ibu mencoba mengingat sesuatu. “Oh, pasti kamu keracunan itu bukan karena ikan goreng bumbu merah yang mamak bikin, tapi karena bakso buatan bibimu,” katanya sedikit kaget.

Mendengar itu spontan saya teringat, sebelum bibi saya memberikan bakso (beracun) itu, ia sempat berkata, “Baksonya sedikit membuat lidah gatal.”— dan saya curiga bakso itu terbuat dari ikan tongkol yang sempat diam lama tanpa es batu.

Setelah saya bertanya kepada bibi, kecurigaan saya dan orangtua saya itu memang benar. Saya keracunan bukan karena ikan goreng bumbu merah buatan ibu tapi bakso ikan buatan bibi saya.

Mengingat, ikan tongkol memiliki racun histamin (scombroid fish poisoning)—karena ikan jenis ini mengandung asam amino histidin yang dikontaminasi oleh bakteri dengan mengeluarkan enzim histidin dekarboksilase sehingga menghasilkan histamin.

Jadi, Anda jangan coba-coba untuk menyantap ikan tongkol yang sudah lama didiamkan tanpa es batu atau tidak disimpan di lemari pendingin atau tanpa diasapi terlebih dulu.

Jangan! Meskipun Anda seorang nelayan atau anak nelayan; meskipun rumah Anda sangat dekat dengan laut dan pengetahuan tentang ikan mana yang beracun dan tidak, sudah Anda serap sejak kecil.[T]

Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya
Ke Kampus Mengejar Cinta atau Cita-Cita? Nah, Lho?!
Ya Kuliah, Ya Kerja | Tips Membagi Waktu Kuliah Sambil Bekerja
Hal-hal yang Membuat Aku Kuat dari Segala Hal yang Bisa Membuat Aku Patah
Tags: balibulelenglautmahasiswamemancingnelayanPendidikanUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kecerdasan Bukan Tujuan Manusia

Next Post

Berkomunikasi dalam Kebisuan: Haru Biru Media Baru

Hilda Aulia

Hilda Aulia

Mahasiswi Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Sejarah. Berasal dari Celukan Bawang, Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Berkomunikasi dalam Kebisuan: Haru Biru Media Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co