23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berlabuh Sejenak di Pantai Labuhan Amuk: Ada Tenangnya, Ada Sedihnya

Pande Putu Jana Wijnyana by Pande Putu Jana Wijnyana
May 14, 2024
in Tualang
Berlabuh Sejenak di Pantai Labuhan Amuk: Ada Tenangnya, Ada Sedihnya

Pantai Labuhan Amuk dengan panorama cantiknya | Foto: Pande

“BESOK gas healing ke pantai!” begitu kata Sugik di Whatsapp kemarin malam. Dalam benak saya, mungkin sudah saatnya melepaskan penat setelah begitu padat jadwal kuliah. Beruntung punya teman seperti Sugik, mungkin hanya sekadar mengingatkan, tapi hal sesederhana itu sangat luar biasa saya rasa. Tidak menutup kesempatan, dengan penuh semangat saya langsung terima ajakannya.

Bisa dibilang, tak semua orang seberuntung saya. Setiap ada waktu luang untuk berlibur, selalu saja saya sempatkan mengunjungi tempat wisata yang saya suka. Bisa berganti-ganti, kadang di wilayah timur, sesekali juga berkunjung ke barat. Untuk itu, ketika belum banyak manusia yang tahu tempatnya, sekali saya upload foto di media sosial, seketika itu juga kadang postingan berubah menjadi selebriti, meskipun riuhnya cuman sehari.

Karangasem, sebuah tempat di mana saya dilahirkan, entah dengan siapa saya menang gunting-batu-kertas (sebuah permainan tangan untuk menentukan pemenang) ketika memperebutkan tempat secantik ini. Seakan tak mau kalah dengan yang lainnya, kabupaten di ujung timur Pulau Bali ini juga memiliki beragam destinasi wisata yang tak kalah keren.

“Ah, bukannya hanya Gunung Agung saja destinasi di Karangasem?” begitu ucap seseorang yang hanya telisik dari sedikit informasi. Awalnya saya juga berpikir begitu, tapi berubah bak power rangers ketika sudah tahu bagaimana realitanya.

Anak-anak mandi di Pantai Labuhan Amuk | Foto: Pande

Kawan, ayo cepat merapat sebentar, kamu perlu tahu Karangasem dan jangan hanya berhenti sampai di sana. Hijaunya bukit dan persawahan sudah tidak diragukan lagi, 87 kilometer panjang garis pantai, masing-masing memiliki daya tarik wisata tersendiri.

***

Saya pernasaran dengan panjang garis pantai itu dan Google Maps membantu mencarikan jawabannya. Sayang sekali, penasaran saya semakin bertambah ketika mengetahui setiap jengkal pantai yang memiliki warna pasir berbeda-beda. Ada yang berwarna hitam, di sebelahnya malah berwarna putih, padahal hanya dibatasi sebuah bukit. Malahan, ada pula yang saya temui tidak berpasir, melainkan penuh dengan bebatuan kecil hingga besar.

Terdengar begitu aneh, tapi ini nyata adanya. “Tergantung pada karang yang mendiami laut itu, jika karangnya kebetulan putih, pasti pasirnya ikut berwarna putih,” begitu kata Sugik, teman saya, meyakinkan saya ketika memegang butiran-butiran pasir yang masih basah terkena deburan ombak. Awalnya saya berpikir Sugik membaca detail informasinya, tapi ternyata, pemuda berkumis tipis nan klimis itu mendapat informasi dari bapaknya ketika ia masih kecil dulu.

Terbilang, dua kilometer dari rumah saya sebenarnya sudah berjumpa dengan pantai, namun acap kali saya merasa jenuh dengan suasana yang begitu-begitu saja. Sudah sedari kecil saya bermain ke pantai di dekat rumah. Tapi kali ini saya mau yang berbeda. “Pantai ini lebih indah dan lebih cantik,” kata Sugik berani menjamin untuk itu. Jadilah saya janjian berangkat dengannya.

Tumben saya bangun tidur jam 06.00 WITA, biasanya jam delapan ke atas. Sugik belum bangun waktu itu. Awalnya saya hendak menunggu dengan bermain game ringan, tapi entalah, mungkin faktor masih mengantuk, malah keblablasan tertidur lagi. Bangun-bangun sudah jam setengah tujuh pagi. Dan ternyata Sugik sudah lebih dulu bercengkrama dengan kopi hitam buatan bapak.

“Sudah kesiangan, kamu terlambat,” begitu bapak bergurau, ia ditemani kopi dan smartphone miliknya.

Awalnya saya sedikit ragu untuk melanjutkan perjalanan karena pagi itu matahari telah terbangun dari mimpinya. Tapi saya teringat apa yang dikatakan Eren Yaeger, “Di balik tembok itu ada kebebasan dan keindahan.” Bersama ucapan karakter utama anime Attack on Titan (kartun Jepang) itu saya bergegas.

***

Dermaga Terminal Bahan Bakar Minyak Manggis | Foto: Pande

Perjalanan waktu itu kami tempuh sekiranya 15 menit dari rumah. Tanpa perlu Google Maps, Sugik meliuk-liuk dengan lincah membawa motor saya. Sekejap sudah tiba di jalan raya Candidasa, sekejap lagi sudah tiba di pertigaan menuju lokasi.

Mari saya beri tahu, patokannya itu ada di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) di Kecamatan Manggis. Jika kalian datang dari arah Denpasar, posisi jalannya tepat di sebelah kanan jalan raya Ulakan-Karangasem.

Lurus saja, sekitar 700 meter jauhnya, di ujung jalan itu kalian akan dihadapkan pertigaan kedua, ambil arah ke kiri. Tapi jika berbelok ke kanan, itu jalan menuju bukit dengan view tidak kalah bagusnya. “Next trip tujuan kita ke sana,” begitu saya katakan kepada Sugik ketika ia menawarkan pilihan lain.

Dari pertigaan itu, tujuan akhir berada tepat di depan saya. Bagi saya, pantai ini sangat berbeda dari pantai yang lain, kapal-kapal dengan ukuran yang begitu besar mencoba bersandar di dermaga panjang yang menjorok ke tengah laut. Perahu-perahu kecil milik nelayan juga tampak berseliweran di tengah birunya laut. Baguslah, minggu pagi ini ternyata tidak begitu ramai. Jika terlalu ramai, sama saja tidak bisa menikmati heningnya pantai.

Sekilas saya menoleh, tepat di samping kiri saya, terdapat tulisan Pantai Labuhan Amuk di plang dengan huruf timbul yang saya baca sebelum menginjak pasir putih bercampur batuan kecil. Deburan ombak itu seperti memberi sinyal, perlahan memanggil saya agar cepat turun dari panggung kayu dan merasakan dingin airnya.

Sugik menuruni panggung kayu menuju pantai | Foto: Pande

Turun dari panggung? Ya, memang benar, pantai ini mengalami abrasi yang begitu besar. Ada sebuah panggung tidak begitu panjang dan cukup lumayan tinggi, bahkan menutupi sebagian badan pantai yang terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem itu. Kayunya sudah tidak begitu terawat, beberapa sudah mulai keropos. Ada dua pilihan tangga yang bisa kita pakai turun untuk berinteraksi dengan ombak dan pasir pantainya.

Saya mencoba menuruni setiap anak tangganya, begitu pelan karena saya lihat masih basah, takut kiranya licin. Kaki telah menapak di pasir putihnya, dengan cepat langsung disapa deburan ombak yang dingin. Memandang ke arah kanan, mata dimanjakan dengan bukit tinggi dengan lereng karang yang begitu hitam. Ada banyak anak-anak kecil bermain riang sembari mandi dan bermain voli air. Saya yakin, itu akan menjadi kisah berjilid-jilid, yang akan mereka ceritakan selama hidup mereka.

Lebih terkejut saya ketika melihat anak kecil bermain sepeda sembari menyusuri pantai itu. Ah, mungkin ia sudah terbiasa. Sepertinya anak kecil itu tinggal dan tumbuh di sekitar sini. Mandi di pantai mungkin sudah ia anggap sebagai aktivitas rutin yang kurang menantang. Tetapi bisa-bisanya dia malah bermain sepeda di sana. Apakah itu sebuah eksperimen? Pikir saya sembari memandangi anak kecil itu.

Tapi lupakan masalah anak kecil dengan sepedanya itu. Mencoba menoleh ke arah kiri, mata saya kembali disuguhi panorama jejeran bukit dan Gunung Agung yang seharusnya terlihat megah, seperti yang ditampilkan beberapa foto wisatawan di Google Maps. Tapi sayang, kami tidak mendapatkan momen terbaik itu. Giri Tohlangkir, sebutan warga Bali untuk Gunung Agung, lebih memilih berselimut awan pagi itu.

Anak kecil bersepeda santai di tepi pantai Labuhan Amuk | Foto: Pande

Poouummm. Terdengar klakson kapal pengangkut bahan bakar yang telah berhasil bersender di dermaga TBBM. Baru pertama kali saya menyaksikan secara langsung BBM yang sering saya pakai akan di-drop pada bak penampungan besar yang sudah siap dengan berbagai macam jenis BBM.

Melihat ke arah laut, saya berpikir, dekat dengan dermaga itu apakah air laut tidak ikut tercemar? Lalu apakah ekosistem bawah laut masih terjaga dengan baik?

Secara tidak sengaja ketika memikirkan hal itu, sepintas saya perhatikan beberapa wisatawan manca negara naik ke perahu nelayan secara perlahan. Ia sudah lengkap memakai alat tempur, bersiap bertemu penghuni laut. Sepertinya di sini tempat terbaik untuk melakukan aktivitas snorkeling.

Saya menyambangi nelayan yang sedang merawat perahu kecilnya. Pak Made, salah seorang nelayan di sana, mengatakan ekosistem di sini masih terjaga. Makanya alam bawah lautnya masih indah.

Tarif snorkeling di sini masih standar, berkisar Rp. 150,000 per orang untuk wisatawan lokal ber-KTP Bali dan Rp. 200,000 per orang untuk wisatawan dari luar Bali—untuk wisatawan manca negara Pak Made tidak begitu tahu tarifnya.

Di sini saya merasa tenang. Ketenangan ini yang saya cari-cari selama ini. Hanya ada suara deburan ombak dan burung-burung kecil yang saling bersahutan. Suara kapal-kapal itu? Tidak. Itu alami ketika kita berada di pantai, apalagi tempatnya dekat dengan pelabuhan, selagi tidak merugikan, pikir saya.

***

Warung kecil di atas panggung pantai Labuhan Amuk | Foto: Pande

Kami duduk sejenak di salah satu warung kecil di atas panggung kayu itu. Saya rasa ini satu-satunya warung tepi pantai dengan view yang begitu cantik. Saya memesan secangkir kopi hangat ditemani roti kecil, sementara Sugik memesan sepiring mi goreng, sepertinya cacing-cacing di dalam perutnya sudah mulai memberontak.

Pulang ke rumah tentu menjadi tujuan utama kami setelah berlabuh di Labuhan Amuk dua jam lamanya. Ternyata, semakin tinggi mentari semakin tajam sengatan panasnya.

Oh, sebelum benar-benar meninggalkan tempat ini, terlintas sejenak di dalam ingatan. Sedih rasanya jika diceritakan, pantai dengan panorama yang begitu indah, masih saja saya temukan sampah-sampah berserakan, begitu banyak sampai mengotori setiap sudut bibir pantai.

“Mungkin saja sampah-sampah kiriman,” pikir saya. Perlu diingat, laut tidak akan pernah membuat dirinya kotor, ia akan membersihkan serta mengembalikan apa pun yang merusak dan mengotori keindahannya. Rasanya perlu ada pengelolaan sampah yang lebih serius dari pihak desa, atau dari pihak manam pun, agar pantai itu benar-benar memilki keindahan yang sempurna.

Kondisi sampah yang mengotori pantai Labuhan Amuk | Foto: Pande

Melihat yang seperti ini, saya lebih setuju tempat wisata itu dikenakan biaya tiket masuk, asalkan tempatnya tertata rapi dan terjaga kebersihannya. Sangat perlu membentuk kelompok desa sadar wisata, apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini, sayang sekali jika pantai secantik ini, harus rela bersolek noda yang penuh dengan sampah-sampah di setiap sudutnya.

“Cepat, Nde, biar tidak keburu panas lagi!” Sugik memanggil-memanggil saya dari tadi, bergegas saya pamit meninggakan pantai ini.

Menjaga dan menata, sudah semesetinya dari sekarang dilakukan, bahkan sangat perlu saya pikir, agar tidak menjadi sesal dikemudian hari.

Nah, apa yang saya katakan di atas? Hanya membuat story singkat di Whatsapp saja, tidak perlu waktu lama, banyak saudara hingga teman bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Wah, cantik sekali, di mana tempatnya?” Sayangnya saya hanya menampilkan cantiknya saja, tidak sempat mengirim bagian cemarnya.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Banjar Pagi dan Ritual Padi
Menggigil di Belantara Gunung Batukaru
Tabanan dan Elegi Padi Bali
Tags: karangasemPantai Labuhan Amuk
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Next Post

Pesta Kesenian Bali 2024 Akan Diikuti 13.561 Seniman dan 90 Persen Seniman Muda

Pande Putu Jana Wijnyana

Pande Putu Jana Wijnyana

Mahasiswa STAH Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Kesenian Bali 2024 Akan Diikuti 13.561 Seniman dan 90 Persen Seniman Muda

Pesta Kesenian Bali 2024 Akan Diikuti 13.561 Seniman dan 90 Persen Seniman Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co