22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banjar Pagi dan Ritual Padi

Jaswanto by Jaswanto
April 5, 2024
in Tualang
Banjar Pagi dan Ritual Padi

Seorang perempuan tua sedang menebar air suci setelah upacara Pamungkah | Foto: Hizkia

SENGANAN kuyup pagi itu, termasuk di wilayah Banjar Pagi. Aspal basah mengilat dan tampak licin. Seekor anjing jalanan melingkarkan tubuh di teras warung klontong yang sepi. Sedang ekornya tak berhenti bergerak, mengusir lalat nakal yang hinggap di borok dekat pinggangnya.

Musim memang nyaris tak bisa ditebak. Tiba-tiba panas, sekelebat hujan deras. Dan tak jarang itu terjadi secara berbarengan. “Hujan seperti ini bisa bikin sakit,” ujar Made, pemuda setempat, yang mengantarkan kami (saya dan Tim Tatkala) ke Pura Subak Ganggangan, Banjar Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, pagi itu.

Gerimis kembali mendaulat Banjar Pagi. Sekejap datang, selintas pergi. Tapi di tengah gerimis yang penuh dengan ketidakpastian itu, para perempuan tua, paruh baya, dan setengah baya, berbondong-bondong mengular di jalan menuju Pura Subak Ganggangan.

Mereka menyembul dari balik tanjakan, kelokan setapak, dan dari ujung jalan yang jauh. Dengan pakaian adat dan banten yang disunggi di kepala, mereka berjalan kaki. Sedang beberapa lainnya memilih mengendarai motor bergigi bikinan Jepang yang sudah tua.

Pura Subak Ganggangan teronggok sederhana dan kecil saja, tak megah dan jauh dari kata mewah. Tapi lumut hijau yang menyelimuti pagar temboknya, membuat kesan tua dan kemagisannya tak bisa disembunyikan.

Sepertinya anggota Subak Ganggangan tak terlalu peduli dengan bentuk, tapi esensi yang lebih penting. Padahal, umumnya hari ini, tempat-tempat ibadah—nyaris di agama apa pun—dipermak mewah dan megah. Tak apa kehilangan esensi, yang penting tampilan tak boleh diabaikan. Yang miris, demi mendapat kesan mewah, pembangunan tempat ibadah sampai membuat umatnya susah.

Di depan pintu dan di samping kanan pagar Pura Ganggangan, sawah terhampar, lengkap dengan padi yang baru saja hidup setelah dipindah-tanamkan, parit yang deras mengalir, pohon kelapa yang melambai, setapak berkelok, dan bunga-bunga mekar basah berembun, bagaikan lukisan di kanvas maestro naturalis.

Bak negeri impian, di sekitar Pura Ganggangan tentu saja juga ada kicau burung, capung, gubuk kecil di pertigaan pematang, dan keramah-tamahan manusianya yang tulus—bukan jenis keramah-tamahan sebagaimana yang sering kita jumpai di berbagai tempat elit di kota-kota.

Di sana lah, di pura kecil yang magis itu, sedang berlangsung upacara Pamungkah—upacara pertama yang dilakukan petani Banjar Pagi setelah 42 hari (abulan pitung dina) padi dipindah-tanamkan dari persemaian ke lahan yang lebih luas.

“Untuk memohon berkah, agar padi yang telah ditanam di subak kami tumbuh subur. Kami juga memohon doa di Pura Ulun Siwi Batu Lumbung,” ujar seorang lelaki tua yang menunggu sang istri di luar pura—istri bapak tua itu sedang menghaturkan doa dan menunggu air suci yang akan dibagikan oleh pemangku agama di Pura Ganggangan.

Desa Adat Pagi sebagai krama Subak Ganggangan, masih memiliki hubungan dengan Pura Batu Lumbung yang berdiri diDesa Adat Soka. Secara fisik, sampai saat ini, orang-orang Pagi masih mengakui bahwa salah satu bangunan palinggih yang ada di Pura Batu Lumbung adalah milik krama Ganggangan.

Tapi terlepas dari itu semua, sebagaimana telah diketahui banyak orang, Tabanan merupakan rumah subur bagi padi. Di beberapa wilayahnya, termasuk di Banjar Pagi, padi tak hanya dianggap sebagai tanaman pokok yang menyuplai hampir seluruh perut manusia Indonesia, tapi juga dihormati sebagai manifestasi Dewi Sri, sang dewi kesuburan.

Tak jauh dari Senganan, di Subak Aya Pemanis, misalnya, petani menganggap sawah sebagai tempat yang tak main-main. Di sana sawah sangat dijaga. Tak sembarang orang dapat mendirikan bangunan apa pun di atasnya. Begitu pula di Subak Ganggangan di Banjar Pagi, para petani berusaha untuk tidak mengalihfungsikan lahan-lahan pertanian mereka menjadi hunian atau bagunan lainnya.

***

Di Tabanan, lumbung adalah identitas. Tabanan menempati peringkat pertama dalam produksi padi dibandingkan wilayah lain di Provinsi Bali. Orang-orang BPS Bali tahun 2021 mencatat, Tabanan menghasilkan 169.562 ton padi. Sedangkan produktivitasnya mencapai 5,76 ton per ha. Sampai tahun 2023, Tabanan masih menempati podium pertama dengan 171.023 ton, meningkat daripada tahun sebelumnya.

Namun, di balik melimpahnya produksi padi dan beras di Tabanan, alih fungsi lahan juga cukup masif di sini. Aktivitas manusia yang mengancam luas area persawahan itu, sejak 2008 telah menggerogoti Tabanan sampai hari ini. Selama tiga tahun terakhir, periode tahun 2019 sampai dengan tahun 2022, luas alih fungsi lahan pertanian di Tabanan mencapai 322,15 hektar.

Di Kecamatan Kediri, misalnya, alih fungsi lahan sawah sebagian besar masuk kategori terbangun (sektor perumahan) dengan luas mencapai 11,64 hektar. Ini diprediksi akan terus bertambah di tahun-tahun yang akan datang.

Pada 2019, menurut catatan Kementerian Pertanian, Bali memiliki luas baku sawah (LBS) 70.996 ha. Sedangkan kebutuhan lahan untuk pangan masyarakat Bali pada tahun tersebut idealnya 81.195 ha. Dan angka ini diperhitungkan meningkat menjadi 87.639 ha pada 2025; naik lagi menjadi 93.541 ha pada 2030; dan menjadi 99.981 ha pada tahun 2035.

Dengan perhitungan seperti ini, neraca kebutuhan lahan pangan di Bali mulai tahun 2019 sudah mengalami defisit. Untuk mengatasi hal ini, sekaligus tak hanya menggantungkan perekonomian kepada sektor pariwisata, pemerintah Bali berkomitmen untuk meningkatkan luas baku sawah (LBS) untuk LP2B dengan mencetak sawah baru di Buleleng dan Karangasem seiring selesainya pembangunan bendungan di kedua kabupaten tersebut.

Namun, pada kenyataannya, nyaris setiap tahun, 600 hingga 1000 hektar lahan pertanian Bali beralih fungsi menjadi perumahan, hotel, restoran maupun bangunan lain yang menopang industri pariwisata dan industri lainnya. Dampak dari itu, tak banyak petani di Bali memiliki lahan yang luas.

“Tapi di subak ini, kami berusaha untuk tidak membangun apa-apa di sawah. Kalau satu sudah membangun, nanti bakal merembet, yang lain akan ikut-ikutan,” kata lelaki tua yang mengaku pensiunan kepala sekolah dasar itu.

Gerimis belum beranjak. Parit di sisi setapak deras mengalir. Airnya keruh, tak sejernih zaman dulu, kata Made. Mahasiswa Universitas Udayana itu berusaha mengingat-ingat masa kecilnya, saat parit-parit di Banjar Pagi masih bisa digunakan membersihkan badan. Saat ini, katanya, air yang deras mengalir itu sudah tercemar banyak hal, termasuk kotoran yang dikirim dari peternakan ayam yang berjibun di sana. “Kalau mandi di situ gatal-gatal sekarang,” kata Made.

Meski demikian, petani Banjar Pagi sebenarnya masih dapat mengontrol penggunaan pupuk maupun pestisida kimia. Mereka lebih banyak menggunakan pupuk organik berupa kotoran sapi, kambing, atau kompos. Oleh karena itulah, masih banyak serangga sawah yang dapat ditemui di Banjar Pagi.

Capung masih banyak di sana. Begitu pula dengan kumbang air—orang Bali menyebutnya klipes. Ada juga belut, belalang, keong sawah, dan serangga lainnya. Hewan-hewan kecil ini adalah tanda bahwa lingkungan Banjar Pagi masih bisa dibilang layak huni. Artinya, ekosistem di sana masih terjaga.

Ritual di Pura Subak Ganggangan masih berlangsung. Setiap ibu-ibu yang datang, sebelum masuk ke dalam pura atau sebelum pulang meninggalkan pura, tak lupa memetik ranting bambu tali—orang setempat menyebutnya tiying buluh—yang berisi daun barang tiga atau empat lembar yang tumbuh tepat di depan pintu masuk pura. “Ini sudah dilakukan dari dulu,” ujar seorang bapak lainnya yang juga sedang menunggu istrinya yang sembahyang.

Setelah ritual Pamungkah selesai, ranting tiying buluh itu akan diikat kasah merajah di sanggah badeng yang berdiri di sawah masing-masing petani anggota Subak Ganggangan. Para petani itu, selain meletakkan tiying buluh, juga akan menyiramkan air suci yang sudah didoakan di Pura Subak Ganggangan ke petak sawah masing-masing.

Tetapi, selama upacara Pamungkah berlangsung, tak satu pun saya melihat anak muda yang berpartisipasi. Entah laki-laki maupun perempuan. Saya tidak tahu, apakah upacara ini memang hanya dilakukan orang tua atau justru, dan ini yang mengkhawatirkan, di Banjar Pagi tak banyak pemuda yang menjadi petani?

Entahlah. Saya tak menanyakan hal tersebut kepada bapak tua pensiunan kepala sekolah itu. Mungkin lain kali, atau malah tidak sama sekali. Saya belum memikirkannya lagi.[T]

Tabanan dan Elegi Padi Bali
Menengok Desa Tembok
Menggigil di Belantara Gunung Batukaru
Tags: Banjar PagiDesa SengananpadiPenebeltabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyuarakan Warisan: Sanggar Seni Kuta Kumara Agung dan Karya Palegongan Sebagai Identitas Seni Kuta

Next Post

Pameran “Prana” Lima Perupa Bali di Titik Dua, Ubud: Refleksi dan Pengakuan Pada Kekuatan Prana  

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Pameran “Prana” Lima Perupa Bali di Titik Dua, Ubud: Refleksi dan Pengakuan Pada Kekuatan Prana  

Pameran “Prana” Lima Perupa Bali di Titik Dua, Ubud: Refleksi dan Pengakuan Pada Kekuatan Prana  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co