3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banjar Pagi dan Ritual Padi

Jaswanto by Jaswanto
April 5, 2024
in Tualang
Banjar Pagi dan Ritual Padi

Seorang perempuan tua sedang menebar air suci setelah upacara Pamungkah | Foto: Hizkia

SENGANAN kuyup pagi itu, termasuk di wilayah Banjar Pagi. Aspal basah mengilat dan tampak licin. Seekor anjing jalanan melingkarkan tubuh di teras warung klontong yang sepi. Sedang ekornya tak berhenti bergerak, mengusir lalat nakal yang hinggap di borok dekat pinggangnya.

Musim memang nyaris tak bisa ditebak. Tiba-tiba panas, sekelebat hujan deras. Dan tak jarang itu terjadi secara berbarengan. “Hujan seperti ini bisa bikin sakit,” ujar Made, pemuda setempat, yang mengantarkan kami (saya dan Tim Tatkala) ke Pura Subak Ganggangan, Banjar Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, pagi itu.

Gerimis kembali mendaulat Banjar Pagi. Sekejap datang, selintas pergi. Tapi di tengah gerimis yang penuh dengan ketidakpastian itu, para perempuan tua, paruh baya, dan setengah baya, berbondong-bondong mengular di jalan menuju Pura Subak Ganggangan.

Mereka menyembul dari balik tanjakan, kelokan setapak, dan dari ujung jalan yang jauh. Dengan pakaian adat dan banten yang disunggi di kepala, mereka berjalan kaki. Sedang beberapa lainnya memilih mengendarai motor bergigi bikinan Jepang yang sudah tua.

Pura Subak Ganggangan teronggok sederhana dan kecil saja, tak megah dan jauh dari kata mewah. Tapi lumut hijau yang menyelimuti pagar temboknya, membuat kesan tua dan kemagisannya tak bisa disembunyikan.

Sepertinya anggota Subak Ganggangan tak terlalu peduli dengan bentuk, tapi esensi yang lebih penting. Padahal, umumnya hari ini, tempat-tempat ibadah—nyaris di agama apa pun—dipermak mewah dan megah. Tak apa kehilangan esensi, yang penting tampilan tak boleh diabaikan. Yang miris, demi mendapat kesan mewah, pembangunan tempat ibadah sampai membuat umatnya susah.

Di depan pintu dan di samping kanan pagar Pura Ganggangan, sawah terhampar, lengkap dengan padi yang baru saja hidup setelah dipindah-tanamkan, parit yang deras mengalir, pohon kelapa yang melambai, setapak berkelok, dan bunga-bunga mekar basah berembun, bagaikan lukisan di kanvas maestro naturalis.

Bak negeri impian, di sekitar Pura Ganggangan tentu saja juga ada kicau burung, capung, gubuk kecil di pertigaan pematang, dan keramah-tamahan manusianya yang tulus—bukan jenis keramah-tamahan sebagaimana yang sering kita jumpai di berbagai tempat elit di kota-kota.

Di sana lah, di pura kecil yang magis itu, sedang berlangsung upacara Pamungkah—upacara pertama yang dilakukan petani Banjar Pagi setelah 42 hari (abulan pitung dina) padi dipindah-tanamkan dari persemaian ke lahan yang lebih luas.

“Untuk memohon berkah, agar padi yang telah ditanam di subak kami tumbuh subur. Kami juga memohon doa di Pura Ulun Siwi Batu Lumbung,” ujar seorang lelaki tua yang menunggu sang istri di luar pura—istri bapak tua itu sedang menghaturkan doa dan menunggu air suci yang akan dibagikan oleh pemangku agama di Pura Ganggangan.

Desa Adat Pagi sebagai krama Subak Ganggangan, masih memiliki hubungan dengan Pura Batu Lumbung yang berdiri diDesa Adat Soka. Secara fisik, sampai saat ini, orang-orang Pagi masih mengakui bahwa salah satu bangunan palinggih yang ada di Pura Batu Lumbung adalah milik krama Ganggangan.

Tapi terlepas dari itu semua, sebagaimana telah diketahui banyak orang, Tabanan merupakan rumah subur bagi padi. Di beberapa wilayahnya, termasuk di Banjar Pagi, padi tak hanya dianggap sebagai tanaman pokok yang menyuplai hampir seluruh perut manusia Indonesia, tapi juga dihormati sebagai manifestasi Dewi Sri, sang dewi kesuburan.

Tak jauh dari Senganan, di Subak Aya Pemanis, misalnya, petani menganggap sawah sebagai tempat yang tak main-main. Di sana sawah sangat dijaga. Tak sembarang orang dapat mendirikan bangunan apa pun di atasnya. Begitu pula di Subak Ganggangan di Banjar Pagi, para petani berusaha untuk tidak mengalihfungsikan lahan-lahan pertanian mereka menjadi hunian atau bagunan lainnya.

***

Di Tabanan, lumbung adalah identitas. Tabanan menempati peringkat pertama dalam produksi padi dibandingkan wilayah lain di Provinsi Bali. Orang-orang BPS Bali tahun 2021 mencatat, Tabanan menghasilkan 169.562 ton padi. Sedangkan produktivitasnya mencapai 5,76 ton per ha. Sampai tahun 2023, Tabanan masih menempati podium pertama dengan 171.023 ton, meningkat daripada tahun sebelumnya.

Namun, di balik melimpahnya produksi padi dan beras di Tabanan, alih fungsi lahan juga cukup masif di sini. Aktivitas manusia yang mengancam luas area persawahan itu, sejak 2008 telah menggerogoti Tabanan sampai hari ini. Selama tiga tahun terakhir, periode tahun 2019 sampai dengan tahun 2022, luas alih fungsi lahan pertanian di Tabanan mencapai 322,15 hektar.

Di Kecamatan Kediri, misalnya, alih fungsi lahan sawah sebagian besar masuk kategori terbangun (sektor perumahan) dengan luas mencapai 11,64 hektar. Ini diprediksi akan terus bertambah di tahun-tahun yang akan datang.

Pada 2019, menurut catatan Kementerian Pertanian, Bali memiliki luas baku sawah (LBS) 70.996 ha. Sedangkan kebutuhan lahan untuk pangan masyarakat Bali pada tahun tersebut idealnya 81.195 ha. Dan angka ini diperhitungkan meningkat menjadi 87.639 ha pada 2025; naik lagi menjadi 93.541 ha pada 2030; dan menjadi 99.981 ha pada tahun 2035.

Dengan perhitungan seperti ini, neraca kebutuhan lahan pangan di Bali mulai tahun 2019 sudah mengalami defisit. Untuk mengatasi hal ini, sekaligus tak hanya menggantungkan perekonomian kepada sektor pariwisata, pemerintah Bali berkomitmen untuk meningkatkan luas baku sawah (LBS) untuk LP2B dengan mencetak sawah baru di Buleleng dan Karangasem seiring selesainya pembangunan bendungan di kedua kabupaten tersebut.

Namun, pada kenyataannya, nyaris setiap tahun, 600 hingga 1000 hektar lahan pertanian Bali beralih fungsi menjadi perumahan, hotel, restoran maupun bangunan lain yang menopang industri pariwisata dan industri lainnya. Dampak dari itu, tak banyak petani di Bali memiliki lahan yang luas.

“Tapi di subak ini, kami berusaha untuk tidak membangun apa-apa di sawah. Kalau satu sudah membangun, nanti bakal merembet, yang lain akan ikut-ikutan,” kata lelaki tua yang mengaku pensiunan kepala sekolah dasar itu.

Gerimis belum beranjak. Parit di sisi setapak deras mengalir. Airnya keruh, tak sejernih zaman dulu, kata Made. Mahasiswa Universitas Udayana itu berusaha mengingat-ingat masa kecilnya, saat parit-parit di Banjar Pagi masih bisa digunakan membersihkan badan. Saat ini, katanya, air yang deras mengalir itu sudah tercemar banyak hal, termasuk kotoran yang dikirim dari peternakan ayam yang berjibun di sana. “Kalau mandi di situ gatal-gatal sekarang,” kata Made.

Meski demikian, petani Banjar Pagi sebenarnya masih dapat mengontrol penggunaan pupuk maupun pestisida kimia. Mereka lebih banyak menggunakan pupuk organik berupa kotoran sapi, kambing, atau kompos. Oleh karena itulah, masih banyak serangga sawah yang dapat ditemui di Banjar Pagi.

Capung masih banyak di sana. Begitu pula dengan kumbang air—orang Bali menyebutnya klipes. Ada juga belut, belalang, keong sawah, dan serangga lainnya. Hewan-hewan kecil ini adalah tanda bahwa lingkungan Banjar Pagi masih bisa dibilang layak huni. Artinya, ekosistem di sana masih terjaga.

Ritual di Pura Subak Ganggangan masih berlangsung. Setiap ibu-ibu yang datang, sebelum masuk ke dalam pura atau sebelum pulang meninggalkan pura, tak lupa memetik ranting bambu tali—orang setempat menyebutnya tiying buluh—yang berisi daun barang tiga atau empat lembar yang tumbuh tepat di depan pintu masuk pura. “Ini sudah dilakukan dari dulu,” ujar seorang bapak lainnya yang juga sedang menunggu istrinya yang sembahyang.

Setelah ritual Pamungkah selesai, ranting tiying buluh itu akan diikat kasah merajah di sanggah badeng yang berdiri di sawah masing-masing petani anggota Subak Ganggangan. Para petani itu, selain meletakkan tiying buluh, juga akan menyiramkan air suci yang sudah didoakan di Pura Subak Ganggangan ke petak sawah masing-masing.

Tetapi, selama upacara Pamungkah berlangsung, tak satu pun saya melihat anak muda yang berpartisipasi. Entah laki-laki maupun perempuan. Saya tidak tahu, apakah upacara ini memang hanya dilakukan orang tua atau justru, dan ini yang mengkhawatirkan, di Banjar Pagi tak banyak pemuda yang menjadi petani?

Entahlah. Saya tak menanyakan hal tersebut kepada bapak tua pensiunan kepala sekolah itu. Mungkin lain kali, atau malah tidak sama sekali. Saya belum memikirkannya lagi.[T]

Tabanan dan Elegi Padi Bali
Menengok Desa Tembok
Menggigil di Belantara Gunung Batukaru
Tags: Banjar PagiDesa SengananpadiPenebeltabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyuarakan Warisan: Sanggar Seni Kuta Kumara Agung dan Karya Palegongan Sebagai Identitas Seni Kuta

Next Post

Pameran “Prana” Lima Perupa Bali di Titik Dua, Ubud: Refleksi dan Pengakuan Pada Kekuatan Prana  

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails
Next Post
Pameran “Prana” Lima Perupa Bali di Titik Dua, Ubud: Refleksi dan Pengakuan Pada Kekuatan Prana  

Pameran “Prana” Lima Perupa Bali di Titik Dua, Ubud: Refleksi dan Pengakuan Pada Kekuatan Prana  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co