6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes

Jaswanto by Jaswanto
February 27, 2024
in Ulas Film
Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes

Tangkapan layar adegan film Society of the Snow

SEORANG jurnalis dan kritikus film, Roger Ebert, memulai kritik pendeknya terhadap film Alive (1993) garapan Frank Marshall dengan penyangsian “There are some stories you simply can’t tell. The story of the Andes survivors may be one of them.” Barangkali pria Amerika itu benar. Jatuhnya pesawat Angkatan Udara Uruguay Penerbangan 571 di pegunungan Andes pada tanggal 13 Oktober 1972 itu tetap memiliki sisi yang tak dapat diceritakan sepenuhnya oleh siapa pun, termasuk penyintas.

Tapi sebagai sebuah cerita yang spektakuler, kisah survival para penyintas kecelakaan pesawat 571 di lembah salju Andes yang mengerikan itu telah diceritakan dan diceritakan kembali dan diceritakan kembali dalam bentuk tulisan maupun audiovisual dengan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda—meskipun apa yang dimaksud dengan “sukses” tergantung pada interpretasi. Alive yang dikritik Ebert adalah salah satunya.

Pada 2023, dua puluh tujuh tahun setelah Alive—film yang diangkat dari novel Alive: The Story of the Andes Survivors (1974) karya Piers Paul Read—tayang, seorang sutradara Spanyol Juan Antonio García Bayona mencoba menceritakannya kembali dengan judul “Society of the Snow”. Tapi dia tidak menjadikan buku Paul sebagai patokan, Bayona memilih mengadaptasinya dari buku Pablo Vierci tahun 2009.

Saya tidak menonton film garapan Marshall, tentu saja, tapi saya membaca ulasan-ulasannya di internet. Saya merasa perlu membacanya sebab hendak membandingkannya dengan film Bayona yang lahir di zaman di mana kemajuan teknologi dan sinematografi sudah makin canggih—di mana batas antara animasi dan live action makin tipis.

Setelah membaca beberapa ulasan film Alive, dan menuntaskan film Society of the Snow di Netflix, harus saya akui bahwa Bayona berhasil menghindari banyak kesalahan yang dibuat dalam versi sebelumnya (khususnya film Frank Marshall tahun 1993), meski mungkin kata-kata peringatan Ebert tetap benar. Ada sesuatu yang sulit dipahami dalam cerita ini, sesuatu yang luput dari ekspresi.

Saya mengatakan demikian bukan hendak memuji Bayona, sebab itu memang sudah keharusan. Sungguh sangat memalukan jika misalnya film yang belakangan lahir—di zaman teknologi CGI yang canggih pula—tidak bisa lebih bagus daripada film yang diproduksi tahun 1993. Maka wajar saja jika Society of the Snow menang dari segi apa pun dari Alive.

Society of the Snow, sebagaimana Alive, juga mengisahkan perjuangan para penyintas kecelakaan pesawat 571 di lembah Andes yang beku dalam bertahan hidup. Meski bukan film horor, kisah ini begitu mengerikan.

Pada menit-menit sebelum pesawat jatuh, kamera menyorot tajuk surat kabar yang memperingatkan pemirsa akan adanya kapal yang tenggelam di lepas pantai Montevideo. Para remaja putra—yang sebagian adalah pemain rugby amatiran—mendiskusikan betapa berbahayanya terbang melalui Andes karena daya isap yang ditimbulkan oleh angin hangat dari Argentina dan udara pegunungan yang dingin. Percakapan ini seolah adalah kutukan untuk diri sendiri. Pesawat itu benar-benar disedot oleh pegunungan es yang mengerikan. Badan pesawat terbelah menjadi dua.

Bulu saya meremang. Salju, puing-puing, dan angin berputar melalui badan pesawat yang terbuka. Deretan kursi runtuh seperti akordeon, menusuk beberapa penumpang. Soundtrack-nya adalah desiran logam yang berderak. Tapi setelah puing-puing berhenti, Bayona memotret momen pertama dalam jarak dekat yang membingungkan, saat para pemain berjuang untuk memahami apa yang baru saja terjadi dan berusaha mengetahui lokasi mereka berada.

Pesawat carteran itu membawa 40 penumbang dan 5 orang awak. Pada saat pesawat jatuh, hanya 32 orang yang selamat—terutama anggota tim rugby amatir Old Christians Club dan keluarga serta teman-teman mereka. Pilot dan awak pesawat tewas seketika. Nama-nama mereka yang tidak selamat tergores di layar lengkap dengan umur masing-masing.

Selanjutnya, sudah dapat ditebak, mereka yang selamat harus mengambil tindakan ekstrem untuk tetap hidup. Mereka berusaha bertahan hidup melalui perpaduan antara kecerdasan, daya tahan, keyakinan, dan—yang terkenal—keputusan untuk memakan mayat teman sendiri. Para penyintas yang kelaparan terpaksa melakukan kanibalisme—oh maaf, maksud saya anthropophagy.

(Roberto Canessa, seorang penyintas yang menjadi ahli jantung, anak terkemuka dan kandidat presiden Uruguay tahun 1994, mengatakan kepada National Geographic bahwa “anthropophagy” adalah kata yang lebih tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi daripada “kanibalisme”—yang berarti membunuh orang untuk konsumsi.)

Setelah mereka terkubur di bawah longsoran salju, ketika es mulai mencair, dua anggota tim rugby, dengan sisa keyakinan dan tenaga, berangkat ke barat untuk mencoba mencapai Chili. Mereka tidak memiliki peralatan dan pengalaman mendaki. Tapi keduanya berhasil mencapai peradaban, dan mampu memandu helikopter penyelamat kembali ke pesawat yang jatuh.

Setelah 72 hari menderita, mereka akhirnya diselamatkan, namun hanya 16 orang yang selamat dari kondisi sangat berbahaya itu, suhu di bawah nol derajat, longsoran salju saat badai, keputusasaan, dan kelaparan. Enam belas penumpang diangkat dalam keadaan hidup. Kisah ini menjadi berita internasional. Aspek kanibalisme segera memberikan nada sensasional dan berpotensi seram pada laporan tersebut. Banyak dari mereka yang selamat merasa malu karena melanggar tabu.

Sedikit Masalah

Film Bayona tidak membuang banyak waktu untuk membangun karakter. Di awal saya langsung bertemu dengan sekelompok pemain rugby yang bersemangat saat berangkat ke Chile untuk bertanding. Banyak dari mereka tidak pernah meninggalkan rumah.

Film ini dinarasikan oleh Numa Turcatti (Enzo Vogrincic). Dan ini menurut saya agak aneh. Numa menjadi salah satu korban yang meninggal, tapi dia menjadi narator—bahkan saat adegan ia meninggal, Numa masih berbicara dan memberitahu saya bahwa dirinya telah meninggal. Oh, Society of the Snow ternyata dinarasikan oleh seorang hantu. Numa memberikan beberapa komentar, tapi dia bukan pemeran utama.

Bayona menghadirkan kembali kecelakaan itu secara mengerikan—dinding gunung di belakang jendela pesawat seperti raksasa jahat berkulit putih—sebagaimana adanya. Sinematografi Pedro Luque sangat menakjubkan dalam arti paling klasik. Pegunungan menjulang, hamparan salju putih tak berujung dengan orang-orang kecil berjuang melewati arus, nyaris tak terlihat dengan mata telanjang.

Luque mendekati lanskap tersebut dengan rasa hormat yang tinggi terhadap kualitasnya yang tidak menyenangkan: “Manusia tidak dapat bertahan hidup di sini. Tidak ada yang bisa bertahan di sini.”

Jika film Frank Marshall sangat bersandar pada aspek kuasi-religius dalam ceritanya, sebagaimana ditertuang dalam beberapa ulasan—dengan kanibalisme sebagai versi komuni (sebuah pembenaran penting bagi para penyintas yang sebagian besar beragama Katolik)—“Society of the Snow” tidak melakukan hal tersebut.

Pendekatan Bayona jauh lebih menarik, kata Ben Kenigsberg. Beberapa hari setelah tragedi mengerikan itu, seorang pemimpin memang muncul. Dia bertanggung jawab mengosongkan pesawat, mencari makanan di dalam koper, memberi semangat, memberitahu orang-orang untuk beriman. Seorang pemimpin seperti ini diperlukan dalam fase awal kekacauan.

“Tapi ‘memiliki iman’ tidak akan bertahan seiring berjalannya waktu dalam beberapa minggu. Dia pingsan dan dua anak laki-laki lainnya—Roberto (Matías Recalt) dan Nando (Agustín Pardella)—mengambil tugas berat untuk mencoba memperbaiki radio pesawat, dan ketika gagal, mereka berangkat ke pegunungan menuju Chili—mereka berharap,” tulis Ben di The New York Times.

Ben juga menulis, mirip dengan versi lain dari cerita ini, hari-hari diberi label di layar, dan mereka yang binasa diberi tulisan di batu nisan di layar. Senang rasanya melihat nama aslinya, tapi karena kita belum pernah benar-benar bertemu mereka, itu adalah bagian dari masalah mendasar yang diungkapkan oleh Roger Ebert pada tahun 1993. Ada sesuatu dalam tragedi ini yang tidak dapat ditafsirkan atau dijelaskan.

Film ini memang dapat dilihat dan didengar dengan baik, namun tampaknya kurang efektif dalam menangkap rasa lapar, kedinginan, dan durasinya—setidaknya jika durasinya diukur dalam hari dan minggu.

Meski gambaran kecelakaan, suasana lokasi, begitu mengagumkan; riasan dan penampakan luka yang meyakinkan; meskipun setidaknya ada satu tulang rusuk dengan sisa daging yang menempel—walaupun muncul dengan malu-malu; tetap saja ada sesuatu yang luput dipikirkan Bayona, yakni beberapa pemeran yang  tak memiliki kumis dan jenggot setelah terdampar selama 10 minggu. Apakah mereka sempat bercukur? Sepertinya adegan itu memang tidak tertuang dalam naskah skenario.

Tidak ada cerita yang menggambarkan keputusan para penyintas untuk memakan daging manusia sebagai tindakan yang terburu-buru atau ceroboh. Setelah pilihan dibuat, awalnya tiga pria melakukan pembantaian tanpa terlihat orang lain. Namun, ketika salju longsor menimpa kelompok tersebut, menewaskan beberapa dari mereka, tiba-tiba memakan daging tanpa nama dan wajah menjadi hal yang mustahil, kata Numa dalam sulih suara.

Bayona kemudian menunjukkan Roberto (Matías Recalt) memotong daging yang tampaknya tidak disebutkan namanya, tapi dengan bijaksana menyembunyikan apa pun yang dapat diidentifikasi tentang tubuh tersebut.

Materi film ini pada dasarnya mengerikan, mencekam, mengharukan, dan sebagian sulit ditolak, termasuk penampakan orang lain dengan kuda di seberang sungai untuk pertama kalinya yang dilihat oleh Nando Parrado (Agustín Pardella) dan Roberto setelah mereka berdua menghabiskan waktu berhari-hari mendaki jalan menuju peradaban.

Namun, Society of the Snow adalah film yang buruk untuk ditonton sebagaimana kebanyakan orang menikmatinya, termasuk saya—di Netflix, dalam kenyamanan rumah, barangkali juga dengan cemilan melimpah di dekatnya.

Kisah seperti ini menarik karena berbagai alasan. Bagi saya, daya tariknya adalah yang utama dan empati yang gugup: Akan jadi siapa saya jika diuji seperti ini? Apakah saya akan menjadi seorang yang selamat? Atau justru malah menjadi pihak yang tak berdaya disantap mereka?

Bagaimana rasanya meringkuk di dalam pesawat yang rusak selama 10 minggu dalam cuaca dingin sambil memakan daging manusia? Saya tidak bisa membayangkannya, tapi sejujurnya film ini sedikit-banyak dapat membantu saya.[T]

In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Tags: filmUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KUMARA YAJÑA:  Dharma Memelihara Fasilitas Publik Pascaperebutan Kekuasaan

Next Post

Semesta Buku “Nusa Membaca” Gramedia dan Hal-Hal yang Perlu Kamu Ketahui

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Semesta Buku “Nusa Membaca” Gramedia dan Hal-Hal yang Perlu Kamu Ketahui

Semesta Buku "Nusa Membaca" Gramedia dan Hal-Hal yang Perlu Kamu Ketahui

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co