6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Komang Berata by Komang Berata
January 14, 2024
in Bahasa
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

PERTENGAHAN tahun 1990-an saya mulai menulis sajak dan cerita pendek berbahasa Bali. Sebagai buah karma saya menulis karya sastra berbahasa Bali, tahun 1999 saya mendapatkan ganjaran Hadiah Sastera Rancagé atas Lekad Tumpek Wayang, buku kumpulan cerita pendek dan sajak berbahasa Bali. IDK Raka Kusuma, mendiang, menjadi biang menjerumuskan saya menulis karya sastra berbahasa Bali. Mendiang juga yang mulanya bersemangat membawa saya menulis karya sastra berbahasa Indonesia mendekati tahun 1990-an.

Saya mengakui bahwa Lekad Tumpek Wayang bukanlah karya dengan ciri khas bahasa Bali yang saya tuturkan, bahasa yang ditransfer oleh ayah dan lingkungan pergaulan ayah saya. Muncul kesangsian saya ketika itu. Maklumlah, saya penulis yang sing nawang langkah-langkahan, belum kenal wilayah di luar tempat tinggal. Pergaulan berkutat sebatas tempat tinggal. Jika saya menulis dengan ciri lokal Karangasem saya, jangan-jangan pembaca tidak menangkap makna kata yang saya tulis. Saya kurang percaya diri meski Nyoman Tusthi Eddy, mendiang, berpendapat bahasa Bali saya tidak terpengaruh bahasa Indonesia. Sebuah jerat yang setia menganga untuk saya.

Pada akhirnya Lekad Tumpek Wayang saya bumbui kosakata yang saya tangkap dari luar diri saya. Kosakata sadin (biasanya saya menuturkan gugu atau gega), misalnya, saya dapatkan dari pergaulan selama tiga bulan saya dengan teman yang berasal dari wilayah Jembrana. Sesekali saya mencuri dengar kosakata IDK Raka Kusuma yang berasal dari Getakan, Klungkung. Saya ambil juga kosakata penulis yang berasal dari Denpasar. Saya pungut juga tutur kata teman ayah dari Geriyana Kauh, Selat, Karangasem.

Setiap terbuka peluang untuk saya, selalu siap saya memungut kata. Hanya saja tidak selalu saya tulis kata yang saya pungut. Saya belum menulis kosakata yang saya dapatkan dari Seraya, Karangasem, seperti kénto (begitu) atau tang kija (hendak ke mana). Saya tulis kata yang saya rasa sudah nyarira.

Sejak tahun 2018 saya bersemangat kembali menulis cerita pendek berbahasa Bali. Saya sangat bersemangat mencatatkan kosakata dari dua wilayah yang sangat dekat dengan hati saya, Basangalas dan Susuan, pada cerita pendek saya. Sengaja memang saya membatasi diri menulis sajak berbahasa Bali. Saya tidak mendapatkan ruang bertele-tele dalam sajak.

Baik, saya kenalkan. Basangalas terletak di kaki bukit Lempuyang, Abang. Susuan terletak di pinggir kota Karangasem. Basangalas adalah asal ayah dan ibu saya, Susuan adalah tempat lahir saya, tempat saya dibesarkan, dan tempat tinggal saya. Memang ada perbedaan makna kosakata yang dituturkan di Basangalas dan di Susuan. Kosakata mel, misalnya.

Di Susuan mel itu sawah. Jika ayah saya mengatakan akan kamel maka ayah saya akan ke sawah. Sedikit berbeda jika paman saya di Basangalas mengatakan akan kamel maka paman saya hendak menuju tempat tinggalnya. Di Basangalas mel adalah ladang dengan hunian tempat tinggal orang berumah tangga yang lengkap terdiri dari bangunan tempat memasak, bangunan tempat tinggal, dan bangunan tempat pemujaan.

Saya mendapatkan kosakata tiya (baca seperti dialog pemeran orang Madura yang terkenal di layar televisi dulu itu: taiye) di Susuan dan di Basangalas, dituturkan ketika belum yakin dengan informasi yang disampaikannya. Biasa saya dengar nyén tiya, kija tiya, apa tiya, dija tiya, atau ngujang tiya.

Kosakata tiya semakna dengan kapa seperti nyén kapa, kija kapa, apa kapa, dija kapa, atau ngujang kapa. Kosakata tiya semakna juga dengan kadén seperti nyén kadén, kija kadén, apa kadén, dija kadén, atau ngujang kadén. Semakna juga kosakata tiya dengan jenenga, maka nyén jenenga, kija jenenga, apa jenenga, dija jenenga, atau ngujang jenenga. Tiya, kapa, kadén, dan jengenga sangat dekat dengan makna entah, entah siapa, entah ke mana, entah di mana, juga entah mengapa.

Saya menduga tiya itu berasal dari kata ta iya: ta adalah entah, iya adalah ia, dia, atau itu, maka nyén tiya (entah siapa dia), kija tiya (entah ke mana dia), apa tiya (entah apa itu), dija tiya (entah di mana dia), dan ngujang tiya (entah mengapa dia).

Selain berusaha menulis sajak dan cerita pendek dengan perbendaharaan bahasa Bali yang saya miliki, sesekali saya menampilkan perbendaharaan kosakata bahasa Bali saya pada akun media sosial saya. Mempunyai teman dengan beragam latar di media sosial, saya berusaha menanggapi mereka, entah serius, entah bercanda, entah juga nyampahin dan nyampahang. Sesuatu yang tidak bisa dihindari ketika orang bertemu layar beku, tidak bertemu klisat orang.

Ini tidak terlepas dari raos ngémpélin yang kerap digunakan untuk menjebak atau bahkan majengahin. Dengan ruang seperti itu, ada yang memilih tampil dengan ciri penganut aliran Pan Balang Tamak versi kiri atau aliran Pan Bongkling versi kiri, yang diingat cuma versi kurang dan negatifnya. Tentu tidak sedikit juga yang bersikap Pan Balang Tamak versi kanan dan Pan Bongkling versi kanan. Rwa bhinnéda tidak terpisahkan, memang. Anggap daripada tidak mendapatkan tanggapan.

Yang belum saya pahami, setiap perbendaharaan kata saya yang belum menjadi perbendaharaan kata pembaca, kerap dianggap dialek daerah saya, bahkan dianggap idiolek saya, belum diterima untuk memperkaya perbendaharaan kata pembaca. Kamus daring yang ada dan yang paling mudah diakses memang belum menampilkan kosakata yang saya tampilkan dalam tulisan saya. Menjadi-jadilah derita dialek dan idiolek saya.

Kamus mungkin tidak pernah akan menjadi sempurna karena penutur bahasa selalu kreatif dan tanpa henti melakukan terobosan berbahasa. Saya mencatat pada draft email saya tanggal 29 April 2022 kosakata terhenyak belum tercantum dalam KBBI V versi daring, akan tetapi sudah muncul dalam KBBI VI versi daring.

Di antara kosakata yang dianggap dialek bahkan idiolek saya oleh pembaca tulisan saya seperti lempuraan atau mapasah. Lempuraan adalah derita akibat dalam kurun waktu yang boleh dikatakan lama tidak mengirimkan makanan ke alat pencernaan sehingga alat pencernaan menjadi kosong, dan terjadilah kelaparan, lempuraan itu. Lalu mapasah itu nénten matedung, akibat mapasah maka derita yang ditanggung adalah diguyur hujan dan diterpa sinar matahari.

Saya sangat tidak berharap dialek atau idiolek tidak dialamatkan kepada saya jika ada yang terbiasa dengan cingak tiyang atau pireng tiyang, sementara saya terbiasa dengan ton tityang, tonin tityang, dingeh tiyang, atau piragin tityang. Jika terjadi juga, ya sudahlah.

Apa pun kendala yang ada, saya terus berusaha menampilkan kosakata bahasa Bali yang menghuni kepala saya, meski saya sempat mendapat teguran di tiktok akibat saya menampilkan komentar buwung. Saya tidak memilih buwung, tidak memilih buwung payu, tidak juga payu buwung, maka saya tidak mamuwung. Saya memilih payu, maka saya mamayu untuk bahasa Bali. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis KOMANG BERATA
Menyongsong Bulan Bahasa Bali Tahun 2024: Sebuah Catatan Kecil tentang Aferesis, Sinkope, dan Paragog dalam Bahasa Bali
Bahasa Bali Warna Sasak di Karangasem
Nyaru Basa
Tags: BahasaBahasa Balidialek baliidiolek balikarangasem
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berdialog dengan Pemikiran Riri Satria Tentang Algoritma, Metaverse, dan Sastra

Next Post

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Takjil

by Ahmadul Faqih Mahfudz
February 22, 2026
0
Takjil

MASJID-MASJID di kota atau masjid-masjid di sisi jalan raya menggelar buka puasa Bersama selama Ramadan. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga...

Read moreDetails

Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

by I Made Sudiana
February 14, 2026
0
Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

Wira, seorang pegiat TikTok dengan nama Si Bli Wira, melalui konten media sosialnya belakangan ini sering mengungkapkan tabik sugra dalam...

Read moreDetails

Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

by Angga Wijaya
September 15, 2025
0
Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

ESAI “Saling Rujak” karya Dahlan Iskan yang terbit di Disway.id pada Senin, 15 September 2025, berangkat dari suasana Forum GREAT...

Read moreDetails

Sudahkah Bahasa Kita Berdaulat?

by Ahmad Sihabudin
July 30, 2025
0
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Dalam  tulisan ini yang maksud kedaulatan bahasa adalah, digunakannya suatu bahasa dalam hal ini bahasa Indonesia secara sadar dan bertanggung...

Read moreDetails

Sebaiknya Anak Dipanggil dengan Nama Dirinya

by I Ketut Suar Adnyana
July 21, 2025
0
Sebaiknya Anak Dipanggil dengan Nama Dirinya

MASYARAKAT Bali  pada umumnya berkomunikasi dengan anaknya dengan menggunakan nama diri. Misalnya anak perempuannya bernama  Indah, orang tua akan memanggilnya...

Read moreDetails

Istilah Pertanian yang Hilang: “Slisihan”,  Sistem Gotong Royong dalam Menggarap Tegalan Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
July 18, 2025
0
Istilah Pertanian yang Hilang: “Slisihan”,  Sistem Gotong Royong dalam Menggarap Tegalan Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

DESA Pucaksari, yang terletak di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi robusta di wilayah...

Read moreDetails

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

by I Ketut Suar Adnyana
July 18, 2025
0
Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

PERKEMBANGAN bahasa Bali  saat ini sangat dinamis. Hal itu diakibatkan adanya kontak  dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kontak bahasa...

Read moreDetails

Bahasa Chat Makin Bebas, Huruf Kapital Jadi Korban Tren Digital

by Vivit Arista Dewi
June 27, 2025
0
Bahasa Chat Makin Bebas, Huruf Kapital Jadi Korban Tren Digital

Dari bangku sekolah dasar hingga bangku perkuliahan, selalu diajarkan bahwa setiap awal kalimat harus berhuruf kapital. Namun, jika dicermati percakapan...

Read moreDetails

Cepat Terampil “Sor” dan “Singgih” Bahasa Bali

by Komang Berata
March 2, 2025
0
Cepat Terampil “Sor” dan “Singgih” Bahasa Bali

ANDA kuasai ragam sor dan singgih bahasa Bali yang dimunculkan panca indra, Anda terampil berbahasa Bali. Saya meyakini hal ini....

Read moreDetails

Truni Itu Truna

by Komang Berata
February 26, 2025
0
Truni Itu Truna

SENJA lebih dari dua puluh tahun yang lalu, saya berkunjung ke rumah Ida I Dewa Gde Catra. Sekadar berkunjung saja....

Read moreDetails
Next Post
Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co