23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 15, 2025
in Bahasa
Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

ESAI “Saling Rujak” karya Dahlan Iskan yang terbit di Disway.id pada Senin, 15 September 2025, berangkat dari suasana Forum GREAT Institute di Bidakara, Jakarta. Forum itu sejatinya dirancang untuk membahas transformasi ekonomi nasional, namun berubah menjadi ajang “saling rujak”, dengan tepuk tangan, tawa, kritik, bahkan guyonan di antara tokoh-tokoh publik.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tampil sebagai pembicara utama, mengungkapkan kelesuan ekonomi Indonesia dan risiko middle-income trap. Ia sekaligus membalas kritik tokoh-tokoh oposisi seperti Rocky Gerung, Jumhur Hidayat, dan Syahganda Nainggolan dengan cara yang segar dan terbuka. Di titik itulah istilah “saling rujak” menemukan konteks sosialnya. Bukan lagi sekadar makanan, melainkan metafora untuk situasi saling menguliti dan menguji argumen di ruang publik.

Tulisan pendek itu memberi kita bahan renungan. Istilah “saling rujak” ternyata tidak hanya hadir sebagai ekspresi populer di media sosial, melainkan juga dianggap sahih dalam ruang wacana formal. Kata itu kini dapat dimengerti hampir semua orang tanpa perlu penjelasan tambahan.

Fenomena ini menyingkap sifat dasar bahasa: cair, lentur, selalu bergerak mengikuti pemakainya. Dari sudut pandang linguistik, kasus rujak bisa dibaca sebagai gejala perluasan makna, metaforisasi, hingga proses slang yang akhirnya masuk ke register formal.

Dari Buah ke Bahasa

Rujak, secara kuliner, adalah campuran berbagai buah segar yang disiram bumbu gula merah, cabai, garam, dan terkadang terasi. Di banyak daerah, rujak punya variasi bentuk: rujak buah, rujak cingur, rujak kuah pindang, rujak bebeg, hingga rujak gobet. Intinya, rujak selalu mengandaikan campuran.

Dalam dunia bahasa, kata rujak pun mengalami transformasi. Ia tidak lagi hanya menunjuk makanan, tetapi juga menjadi metafora untuk hal-hal yang campur-aduk, semrawut, atau bahkan konflik. Ungkapan “dirujak” sering dipakai dalam konteks seseorang yang habis dikritik, diserang, atau ditelanjangi kesalahannya, terutama di media sosial. Sementara “saling rujak” menunjuk pada suasana debat yang tidak lagi sekadar argumentatif, melainkan penuh serangan balik.

Fenomena semacam ini lazim dalam bahasa. Kata yang semula netral atau konkrit, melalui asosiasi sosial dan budaya, beralih menjadi abstrak. Dalam linguistik, ini disebut sebagai perluasan makna (semantic broadening). Dari sekadar makanan, ia melebar menjadi kategori pengalaman sosial.

Bahasa Indonesia kaya akan metafora kuliner. Kita mengenal istilah gado-gado politik, gado-gado budaya, asin-manis kehidupan, atau panas-dingin hubungan. Kuliner dijadikan rujukan karena sifatnya dekat dengan keseharian dan mudah dipahami.

Rujak punya posisi khusus karena secara konseptual ia merepresentasikan campuran rasa:, yaitu pedas, manis, asam, asin. Kombinasi itu menjadikannya simbol untuk sesuatu yang penuh warna, kompleks, bahkan chaos. Ketika seseorang berkata, “diskusi tadi kayak rujak,” maka maksudnya adalah diskusi itu penuh campuran argumen, mungkin enak, mungkin bikin kening berkerut.

Kata “dirujak” lalu berkembang menjadi metafora untuk kondisi dihajar habis-habisan. Analoginya sederhana, buah dalam cobek yang ditumbuk bersama bumbu hingga lumat. Itulah yang terjadi pada seseorang yang diserang opini publik. Sedangkan “saling rujak” menggambarkan dua pihak atau lebih yang saling melumat satu sama lain, sebagaimana buah dan bumbu yang saling bertemu dalam ulekan.

Dalam linguistik kognitif, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori metaphor conceptual mapping (Lakoff & Johnson). Manusia memahami hal-hal abstrak dengan meminjam domain pengalaman konkret. Rujak sebagai pengalaman kuliner menjadi basis untuk memahami pengalaman sosial berupa konflik dan interaksi keras.

Dari Slang ke Bahasa Formal

Istilah “dirujak” mula-mula muncul dalam percakapan santai, terutama di media sosial dan forum daring. Ia bagian dari slang perkotaan, bahasa gaul yang cair, kadang dianggap tidak baku. Namun, cepat sekali ia naik kelas. Kini, wartawan politik, akademisi, bahkan pejabat bisa dengan santai memakai kata itu dalam forum resmi.

Proses ini disebut sebagai register shift, yakni ketika suatu bentuk bahasa berpindah dari register informal ke formal. Kasus serupa juga terjadi pada istilah seperti “curhat”, “baper”, “julid”, atau “ngegas”. Semula slang, lama-lama diterima luas, bahkan masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

KBBI edisi V, misalnya, sudah memasukkan “curhat” dan “baper”. Tidak menutup kemungkinan, pada edisi berikutnya “dirujak” juga akan masuk sebagai entri baru. Hal ini menunjukkan bagaimana kamus bukanlah sumber mutlak, melainkan refleksi dari pemakaian nyata masyarakat.

Mengapa istilah seperti rujak cepat populer? Dalam perspektif sosiolinguistik, jawabannya terletak pada prestise bahasa dan komunitas tutur. Media sosial mempercepat penyebaran istilah, sementara tokoh publik yang memakainya memberi legitimasi.

Ketika Dahlan Iskan menulis “saling rujak”, istilah itu mendapat pengakuan. Seorang mantan menteri dan bos media memakainya tanpa tanda kutip, seolah-olah semua orang sudah tahu artinya. Inilah mekanisme enregisterment: sebuah bentuk bahasa diidentifikasi, diberi label, lalu dipahami sebagai ciri gaya tertentu.

Selain itu, ada unsur humor dan ironi. Bahasa gaul sering bertahan karena mengandung efek lucu, nyeleneh, atau ringan. Kata rujak tidak hanya tepat secara semantik, tetapi juga mengundang senyum ketika dipakai dalam konteks politik.

Rujak dan Dinamika Identitas

Dalam kajian antropologi linguistik, metafora kuliner seperti rujak juga merefleksikan identitas budaya. Rujak adalah makanan Nusantara yang lintas etnis: ada di Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi. Variasi resepnya menandakan keragaman lokal, namun kata “rujak” tetap menjadi payung nasional.

Ketika istilah itu dipakai dalam percakapan nasional, ia membawa serta nuansa inklusif. Semua orang merasa mengenalnya. Ini berbeda misalnya dengan istilah makanan lokal yang spesifik seperti tinoransak atau papeda, yang mungkin hanya dimengerti sebagian kelompok.

Dengan demikian, rujak tidak hanya sekadar metafora linguistik, tetapi juga simbol kebangsaan yang cair. Ia mencerminkan masyarakat Indonesia yang plural, penuh campuran, kadang riuh, kadang harmonis.

Fenomena serupa bisa ditemukan di banyak bahasa. Dalam bahasa Inggris, ada ungkapan salad bowl atau melting pot untuk menggambarkan masyarakat multikultural. Dalam bahasa Tionghoa, istilah luàn (乱) berarti kacau, campur aduk, sering juga disandingkan dengan metafora makanan.

Namun, yang khas dari bahasa Indonesia adalah pilihan kata rujak dengan citra rasa pedas-manis-asam. Metafora ini lebih emosional daripada sekadar salad. Salad netral, sehat, rapi. Rujak justru berantakan, menimbulkan sensasi lidah yang campur aduk. Maka, “dirujak” punya efek makna yang lebih tajam, bukan sekadar campuran, melainkan penghancuran, pelumatan, bahkan perlawanan rasa.

Dalam ranah akademik, sudah ada beberapa studi linguistik yang mengamati bagaimana bahasa gaul masuk ke bahasa baku. Penelitian tentang “bahasa media sosial” memperlihatkan bahwa kata-kata slang punya umur panjang bila memenuhi tiga syarat, yakni mudah diingat, relevan dengan pengalaman bersama, dan memiliki nilai ekspresif tinggi.

Rujak memenuhi semuanya. Ia sederhana, dekat dengan keseharian, sekaligus kaya asosiasi. Maka, tidak berlebihan jika ke depan ia menjadi objek kajian serius di bidang semantik maupun pragmatik.

Ketika kita makan rujak, lidah merasakan pedas, manis, asam, asin, bahkan getir. Sensasi itu bercampur, saling bertubrukan, namun justru menghadirkan kenikmatan. Demikian pula bahasa: kata-kata saling bertubrukan, makna bercampur, slang merembes ke formal. Hasilnya adalah bahasa Indonesia yang terus hidup, segar, penuh rasa.

Esai singkat Dahlan Iskan hanyalah pintu masuk untuk melihat fenomena lebih besar: bagaimana bahasa terus menciptakan metafora dari hal-hal sederhana. Dari buah di cobek, lahirlah istilah sosial. Dari rujak, kita belajar bahwa bahasa bukan benda mati, melainkan organisme yang selalu bergerak mengikuti denyut zaman.

Dan mungkin, ketika kelak anak-anak sekolah membaca kamus lalu menemukan entri “dirujak” atau “saling rujak”, mereka akan tersenyum. Betapa bahasa Indonesia tidak pernah kehilangan kreativitasnya, selalu mampu meracik bumbu kata seperti rujak di pinggir jalan.

Bahasa Indonesia adalah rujak besar, dengan campuran dialek, serapan, slang, formal, dan gaul. Setiap hari, kata-kata saling rujak dalam ruang publik. Ada yang tumbang, ada yang bertahan, ada pula yang naik kelas. Kata rujak sendiri adalah bukti: dari cobek dapur, ia meloncat ke meja rapat, ke ruang politik, ke dunia akademik.

Mungkin, seperti makan rujak, berbahasa pun perlu keberanian. Menikmati pedas, menerima asam, menghargai manis, dan merangkul asin. Semua itu adalah bagian dari perjalanan kita sebagai bangsa yang lidahnya tak pernah lelah bereksperimen dengan kata. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasabuahrujak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Kader Terdampak Banjir, DPC IPeKB bersama Forum GenRe Denpasar pun Hadir Membawa Bantuan

Next Post

BALI MENGALAMI STROKE

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

BALI MENGALAMI STROKE

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co