2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 15, 2025
in Bahasa
Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

ESAI “Saling Rujak” karya Dahlan Iskan yang terbit di Disway.id pada Senin, 15 September 2025, berangkat dari suasana Forum GREAT Institute di Bidakara, Jakarta. Forum itu sejatinya dirancang untuk membahas transformasi ekonomi nasional, namun berubah menjadi ajang “saling rujak”, dengan tepuk tangan, tawa, kritik, bahkan guyonan di antara tokoh-tokoh publik.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tampil sebagai pembicara utama, mengungkapkan kelesuan ekonomi Indonesia dan risiko middle-income trap. Ia sekaligus membalas kritik tokoh-tokoh oposisi seperti Rocky Gerung, Jumhur Hidayat, dan Syahganda Nainggolan dengan cara yang segar dan terbuka. Di titik itulah istilah “saling rujak” menemukan konteks sosialnya. Bukan lagi sekadar makanan, melainkan metafora untuk situasi saling menguliti dan menguji argumen di ruang publik.

Tulisan pendek itu memberi kita bahan renungan. Istilah “saling rujak” ternyata tidak hanya hadir sebagai ekspresi populer di media sosial, melainkan juga dianggap sahih dalam ruang wacana formal. Kata itu kini dapat dimengerti hampir semua orang tanpa perlu penjelasan tambahan.

Fenomena ini menyingkap sifat dasar bahasa: cair, lentur, selalu bergerak mengikuti pemakainya. Dari sudut pandang linguistik, kasus rujak bisa dibaca sebagai gejala perluasan makna, metaforisasi, hingga proses slang yang akhirnya masuk ke register formal.

Dari Buah ke Bahasa

Rujak, secara kuliner, adalah campuran berbagai buah segar yang disiram bumbu gula merah, cabai, garam, dan terkadang terasi. Di banyak daerah, rujak punya variasi bentuk: rujak buah, rujak cingur, rujak kuah pindang, rujak bebeg, hingga rujak gobet. Intinya, rujak selalu mengandaikan campuran.

Dalam dunia bahasa, kata rujak pun mengalami transformasi. Ia tidak lagi hanya menunjuk makanan, tetapi juga menjadi metafora untuk hal-hal yang campur-aduk, semrawut, atau bahkan konflik. Ungkapan “dirujak” sering dipakai dalam konteks seseorang yang habis dikritik, diserang, atau ditelanjangi kesalahannya, terutama di media sosial. Sementara “saling rujak” menunjuk pada suasana debat yang tidak lagi sekadar argumentatif, melainkan penuh serangan balik.

Fenomena semacam ini lazim dalam bahasa. Kata yang semula netral atau konkrit, melalui asosiasi sosial dan budaya, beralih menjadi abstrak. Dalam linguistik, ini disebut sebagai perluasan makna (semantic broadening). Dari sekadar makanan, ia melebar menjadi kategori pengalaman sosial.

Bahasa Indonesia kaya akan metafora kuliner. Kita mengenal istilah gado-gado politik, gado-gado budaya, asin-manis kehidupan, atau panas-dingin hubungan. Kuliner dijadikan rujukan karena sifatnya dekat dengan keseharian dan mudah dipahami.

Rujak punya posisi khusus karena secara konseptual ia merepresentasikan campuran rasa:, yaitu pedas, manis, asam, asin. Kombinasi itu menjadikannya simbol untuk sesuatu yang penuh warna, kompleks, bahkan chaos. Ketika seseorang berkata, “diskusi tadi kayak rujak,” maka maksudnya adalah diskusi itu penuh campuran argumen, mungkin enak, mungkin bikin kening berkerut.

Kata “dirujak” lalu berkembang menjadi metafora untuk kondisi dihajar habis-habisan. Analoginya sederhana, buah dalam cobek yang ditumbuk bersama bumbu hingga lumat. Itulah yang terjadi pada seseorang yang diserang opini publik. Sedangkan “saling rujak” menggambarkan dua pihak atau lebih yang saling melumat satu sama lain, sebagaimana buah dan bumbu yang saling bertemu dalam ulekan.

Dalam linguistik kognitif, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori metaphor conceptual mapping (Lakoff & Johnson). Manusia memahami hal-hal abstrak dengan meminjam domain pengalaman konkret. Rujak sebagai pengalaman kuliner menjadi basis untuk memahami pengalaman sosial berupa konflik dan interaksi keras.

Dari Slang ke Bahasa Formal

Istilah “dirujak” mula-mula muncul dalam percakapan santai, terutama di media sosial dan forum daring. Ia bagian dari slang perkotaan, bahasa gaul yang cair, kadang dianggap tidak baku. Namun, cepat sekali ia naik kelas. Kini, wartawan politik, akademisi, bahkan pejabat bisa dengan santai memakai kata itu dalam forum resmi.

Proses ini disebut sebagai register shift, yakni ketika suatu bentuk bahasa berpindah dari register informal ke formal. Kasus serupa juga terjadi pada istilah seperti “curhat”, “baper”, “julid”, atau “ngegas”. Semula slang, lama-lama diterima luas, bahkan masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

KBBI edisi V, misalnya, sudah memasukkan “curhat” dan “baper”. Tidak menutup kemungkinan, pada edisi berikutnya “dirujak” juga akan masuk sebagai entri baru. Hal ini menunjukkan bagaimana kamus bukanlah sumber mutlak, melainkan refleksi dari pemakaian nyata masyarakat.

Mengapa istilah seperti rujak cepat populer? Dalam perspektif sosiolinguistik, jawabannya terletak pada prestise bahasa dan komunitas tutur. Media sosial mempercepat penyebaran istilah, sementara tokoh publik yang memakainya memberi legitimasi.

Ketika Dahlan Iskan menulis “saling rujak”, istilah itu mendapat pengakuan. Seorang mantan menteri dan bos media memakainya tanpa tanda kutip, seolah-olah semua orang sudah tahu artinya. Inilah mekanisme enregisterment: sebuah bentuk bahasa diidentifikasi, diberi label, lalu dipahami sebagai ciri gaya tertentu.

Selain itu, ada unsur humor dan ironi. Bahasa gaul sering bertahan karena mengandung efek lucu, nyeleneh, atau ringan. Kata rujak tidak hanya tepat secara semantik, tetapi juga mengundang senyum ketika dipakai dalam konteks politik.

Rujak dan Dinamika Identitas

Dalam kajian antropologi linguistik, metafora kuliner seperti rujak juga merefleksikan identitas budaya. Rujak adalah makanan Nusantara yang lintas etnis: ada di Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi. Variasi resepnya menandakan keragaman lokal, namun kata “rujak” tetap menjadi payung nasional.

Ketika istilah itu dipakai dalam percakapan nasional, ia membawa serta nuansa inklusif. Semua orang merasa mengenalnya. Ini berbeda misalnya dengan istilah makanan lokal yang spesifik seperti tinoransak atau papeda, yang mungkin hanya dimengerti sebagian kelompok.

Dengan demikian, rujak tidak hanya sekadar metafora linguistik, tetapi juga simbol kebangsaan yang cair. Ia mencerminkan masyarakat Indonesia yang plural, penuh campuran, kadang riuh, kadang harmonis.

Fenomena serupa bisa ditemukan di banyak bahasa. Dalam bahasa Inggris, ada ungkapan salad bowl atau melting pot untuk menggambarkan masyarakat multikultural. Dalam bahasa Tionghoa, istilah luàn (乱) berarti kacau, campur aduk, sering juga disandingkan dengan metafora makanan.

Namun, yang khas dari bahasa Indonesia adalah pilihan kata rujak dengan citra rasa pedas-manis-asam. Metafora ini lebih emosional daripada sekadar salad. Salad netral, sehat, rapi. Rujak justru berantakan, menimbulkan sensasi lidah yang campur aduk. Maka, “dirujak” punya efek makna yang lebih tajam, bukan sekadar campuran, melainkan penghancuran, pelumatan, bahkan perlawanan rasa.

Dalam ranah akademik, sudah ada beberapa studi linguistik yang mengamati bagaimana bahasa gaul masuk ke bahasa baku. Penelitian tentang “bahasa media sosial” memperlihatkan bahwa kata-kata slang punya umur panjang bila memenuhi tiga syarat, yakni mudah diingat, relevan dengan pengalaman bersama, dan memiliki nilai ekspresif tinggi.

Rujak memenuhi semuanya. Ia sederhana, dekat dengan keseharian, sekaligus kaya asosiasi. Maka, tidak berlebihan jika ke depan ia menjadi objek kajian serius di bidang semantik maupun pragmatik.

Ketika kita makan rujak, lidah merasakan pedas, manis, asam, asin, bahkan getir. Sensasi itu bercampur, saling bertubrukan, namun justru menghadirkan kenikmatan. Demikian pula bahasa: kata-kata saling bertubrukan, makna bercampur, slang merembes ke formal. Hasilnya adalah bahasa Indonesia yang terus hidup, segar, penuh rasa.

Esai singkat Dahlan Iskan hanyalah pintu masuk untuk melihat fenomena lebih besar: bagaimana bahasa terus menciptakan metafora dari hal-hal sederhana. Dari buah di cobek, lahirlah istilah sosial. Dari rujak, kita belajar bahwa bahasa bukan benda mati, melainkan organisme yang selalu bergerak mengikuti denyut zaman.

Dan mungkin, ketika kelak anak-anak sekolah membaca kamus lalu menemukan entri “dirujak” atau “saling rujak”, mereka akan tersenyum. Betapa bahasa Indonesia tidak pernah kehilangan kreativitasnya, selalu mampu meracik bumbu kata seperti rujak di pinggir jalan.

Bahasa Indonesia adalah rujak besar, dengan campuran dialek, serapan, slang, formal, dan gaul. Setiap hari, kata-kata saling rujak dalam ruang publik. Ada yang tumbang, ada yang bertahan, ada pula yang naik kelas. Kata rujak sendiri adalah bukti: dari cobek dapur, ia meloncat ke meja rapat, ke ruang politik, ke dunia akademik.

Mungkin, seperti makan rujak, berbahasa pun perlu keberanian. Menikmati pedas, menerima asam, menghargai manis, dan merangkul asin. Semua itu adalah bagian dari perjalanan kita sebagai bangsa yang lidahnya tak pernah lelah bereksperimen dengan kata. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasabuahrujak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Kader Terdampak Banjir, DPC IPeKB bersama Forum GenRe Denpasar pun Hadir Membawa Bantuan

Next Post

BALI MENGALAMI STROKE

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

by I Made Sudiana
August 9, 2026
0
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

Read moreDetails

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

BALI MENGALAMI STROKE

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co