23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 15, 2025
in Bahasa
Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

ESAI “Saling Rujak” karya Dahlan Iskan yang terbit di Disway.id pada Senin, 15 September 2025, berangkat dari suasana Forum GREAT Institute di Bidakara, Jakarta. Forum itu sejatinya dirancang untuk membahas transformasi ekonomi nasional, namun berubah menjadi ajang “saling rujak”, dengan tepuk tangan, tawa, kritik, bahkan guyonan di antara tokoh-tokoh publik.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tampil sebagai pembicara utama, mengungkapkan kelesuan ekonomi Indonesia dan risiko middle-income trap. Ia sekaligus membalas kritik tokoh-tokoh oposisi seperti Rocky Gerung, Jumhur Hidayat, dan Syahganda Nainggolan dengan cara yang segar dan terbuka. Di titik itulah istilah “saling rujak” menemukan konteks sosialnya. Bukan lagi sekadar makanan, melainkan metafora untuk situasi saling menguliti dan menguji argumen di ruang publik.

Tulisan pendek itu memberi kita bahan renungan. Istilah “saling rujak” ternyata tidak hanya hadir sebagai ekspresi populer di media sosial, melainkan juga dianggap sahih dalam ruang wacana formal. Kata itu kini dapat dimengerti hampir semua orang tanpa perlu penjelasan tambahan.

Fenomena ini menyingkap sifat dasar bahasa: cair, lentur, selalu bergerak mengikuti pemakainya. Dari sudut pandang linguistik, kasus rujak bisa dibaca sebagai gejala perluasan makna, metaforisasi, hingga proses slang yang akhirnya masuk ke register formal.

Dari Buah ke Bahasa

Rujak, secara kuliner, adalah campuran berbagai buah segar yang disiram bumbu gula merah, cabai, garam, dan terkadang terasi. Di banyak daerah, rujak punya variasi bentuk: rujak buah, rujak cingur, rujak kuah pindang, rujak bebeg, hingga rujak gobet. Intinya, rujak selalu mengandaikan campuran.

Dalam dunia bahasa, kata rujak pun mengalami transformasi. Ia tidak lagi hanya menunjuk makanan, tetapi juga menjadi metafora untuk hal-hal yang campur-aduk, semrawut, atau bahkan konflik. Ungkapan “dirujak” sering dipakai dalam konteks seseorang yang habis dikritik, diserang, atau ditelanjangi kesalahannya, terutama di media sosial. Sementara “saling rujak” menunjuk pada suasana debat yang tidak lagi sekadar argumentatif, melainkan penuh serangan balik.

Fenomena semacam ini lazim dalam bahasa. Kata yang semula netral atau konkrit, melalui asosiasi sosial dan budaya, beralih menjadi abstrak. Dalam linguistik, ini disebut sebagai perluasan makna (semantic broadening). Dari sekadar makanan, ia melebar menjadi kategori pengalaman sosial.

Bahasa Indonesia kaya akan metafora kuliner. Kita mengenal istilah gado-gado politik, gado-gado budaya, asin-manis kehidupan, atau panas-dingin hubungan. Kuliner dijadikan rujukan karena sifatnya dekat dengan keseharian dan mudah dipahami.

Rujak punya posisi khusus karena secara konseptual ia merepresentasikan campuran rasa:, yaitu pedas, manis, asam, asin. Kombinasi itu menjadikannya simbol untuk sesuatu yang penuh warna, kompleks, bahkan chaos. Ketika seseorang berkata, “diskusi tadi kayak rujak,” maka maksudnya adalah diskusi itu penuh campuran argumen, mungkin enak, mungkin bikin kening berkerut.

Kata “dirujak” lalu berkembang menjadi metafora untuk kondisi dihajar habis-habisan. Analoginya sederhana, buah dalam cobek yang ditumbuk bersama bumbu hingga lumat. Itulah yang terjadi pada seseorang yang diserang opini publik. Sedangkan “saling rujak” menggambarkan dua pihak atau lebih yang saling melumat satu sama lain, sebagaimana buah dan bumbu yang saling bertemu dalam ulekan.

Dalam linguistik kognitif, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori metaphor conceptual mapping (Lakoff & Johnson). Manusia memahami hal-hal abstrak dengan meminjam domain pengalaman konkret. Rujak sebagai pengalaman kuliner menjadi basis untuk memahami pengalaman sosial berupa konflik dan interaksi keras.

Dari Slang ke Bahasa Formal

Istilah “dirujak” mula-mula muncul dalam percakapan santai, terutama di media sosial dan forum daring. Ia bagian dari slang perkotaan, bahasa gaul yang cair, kadang dianggap tidak baku. Namun, cepat sekali ia naik kelas. Kini, wartawan politik, akademisi, bahkan pejabat bisa dengan santai memakai kata itu dalam forum resmi.

Proses ini disebut sebagai register shift, yakni ketika suatu bentuk bahasa berpindah dari register informal ke formal. Kasus serupa juga terjadi pada istilah seperti “curhat”, “baper”, “julid”, atau “ngegas”. Semula slang, lama-lama diterima luas, bahkan masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

KBBI edisi V, misalnya, sudah memasukkan “curhat” dan “baper”. Tidak menutup kemungkinan, pada edisi berikutnya “dirujak” juga akan masuk sebagai entri baru. Hal ini menunjukkan bagaimana kamus bukanlah sumber mutlak, melainkan refleksi dari pemakaian nyata masyarakat.

Mengapa istilah seperti rujak cepat populer? Dalam perspektif sosiolinguistik, jawabannya terletak pada prestise bahasa dan komunitas tutur. Media sosial mempercepat penyebaran istilah, sementara tokoh publik yang memakainya memberi legitimasi.

Ketika Dahlan Iskan menulis “saling rujak”, istilah itu mendapat pengakuan. Seorang mantan menteri dan bos media memakainya tanpa tanda kutip, seolah-olah semua orang sudah tahu artinya. Inilah mekanisme enregisterment: sebuah bentuk bahasa diidentifikasi, diberi label, lalu dipahami sebagai ciri gaya tertentu.

Selain itu, ada unsur humor dan ironi. Bahasa gaul sering bertahan karena mengandung efek lucu, nyeleneh, atau ringan. Kata rujak tidak hanya tepat secara semantik, tetapi juga mengundang senyum ketika dipakai dalam konteks politik.

Rujak dan Dinamika Identitas

Dalam kajian antropologi linguistik, metafora kuliner seperti rujak juga merefleksikan identitas budaya. Rujak adalah makanan Nusantara yang lintas etnis: ada di Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi. Variasi resepnya menandakan keragaman lokal, namun kata “rujak” tetap menjadi payung nasional.

Ketika istilah itu dipakai dalam percakapan nasional, ia membawa serta nuansa inklusif. Semua orang merasa mengenalnya. Ini berbeda misalnya dengan istilah makanan lokal yang spesifik seperti tinoransak atau papeda, yang mungkin hanya dimengerti sebagian kelompok.

Dengan demikian, rujak tidak hanya sekadar metafora linguistik, tetapi juga simbol kebangsaan yang cair. Ia mencerminkan masyarakat Indonesia yang plural, penuh campuran, kadang riuh, kadang harmonis.

Fenomena serupa bisa ditemukan di banyak bahasa. Dalam bahasa Inggris, ada ungkapan salad bowl atau melting pot untuk menggambarkan masyarakat multikultural. Dalam bahasa Tionghoa, istilah luàn (乱) berarti kacau, campur aduk, sering juga disandingkan dengan metafora makanan.

Namun, yang khas dari bahasa Indonesia adalah pilihan kata rujak dengan citra rasa pedas-manis-asam. Metafora ini lebih emosional daripada sekadar salad. Salad netral, sehat, rapi. Rujak justru berantakan, menimbulkan sensasi lidah yang campur aduk. Maka, “dirujak” punya efek makna yang lebih tajam, bukan sekadar campuran, melainkan penghancuran, pelumatan, bahkan perlawanan rasa.

Dalam ranah akademik, sudah ada beberapa studi linguistik yang mengamati bagaimana bahasa gaul masuk ke bahasa baku. Penelitian tentang “bahasa media sosial” memperlihatkan bahwa kata-kata slang punya umur panjang bila memenuhi tiga syarat, yakni mudah diingat, relevan dengan pengalaman bersama, dan memiliki nilai ekspresif tinggi.

Rujak memenuhi semuanya. Ia sederhana, dekat dengan keseharian, sekaligus kaya asosiasi. Maka, tidak berlebihan jika ke depan ia menjadi objek kajian serius di bidang semantik maupun pragmatik.

Ketika kita makan rujak, lidah merasakan pedas, manis, asam, asin, bahkan getir. Sensasi itu bercampur, saling bertubrukan, namun justru menghadirkan kenikmatan. Demikian pula bahasa: kata-kata saling bertubrukan, makna bercampur, slang merembes ke formal. Hasilnya adalah bahasa Indonesia yang terus hidup, segar, penuh rasa.

Esai singkat Dahlan Iskan hanyalah pintu masuk untuk melihat fenomena lebih besar: bagaimana bahasa terus menciptakan metafora dari hal-hal sederhana. Dari buah di cobek, lahirlah istilah sosial. Dari rujak, kita belajar bahwa bahasa bukan benda mati, melainkan organisme yang selalu bergerak mengikuti denyut zaman.

Dan mungkin, ketika kelak anak-anak sekolah membaca kamus lalu menemukan entri “dirujak” atau “saling rujak”, mereka akan tersenyum. Betapa bahasa Indonesia tidak pernah kehilangan kreativitasnya, selalu mampu meracik bumbu kata seperti rujak di pinggir jalan.

Bahasa Indonesia adalah rujak besar, dengan campuran dialek, serapan, slang, formal, dan gaul. Setiap hari, kata-kata saling rujak dalam ruang publik. Ada yang tumbang, ada yang bertahan, ada pula yang naik kelas. Kata rujak sendiri adalah bukti: dari cobek dapur, ia meloncat ke meja rapat, ke ruang politik, ke dunia akademik.

Mungkin, seperti makan rujak, berbahasa pun perlu keberanian. Menikmati pedas, menerima asam, menghargai manis, dan merangkul asin. Semua itu adalah bagian dari perjalanan kita sebagai bangsa yang lidahnya tak pernah lelah bereksperimen dengan kata. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasabuahrujak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Kader Terdampak Banjir, DPC IPeKB bersama Forum GenRe Denpasar pun Hadir Membawa Bantuan

Next Post

BALI MENGALAMI STROKE

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Glosarium Krisis Sampah Bali

by I Made Sudiana
April 17, 2026
0
Glosarium Krisis Sampah Bali

BALI sedang berada di titik nadir. Bali sedang tidak baik-baik saja dalam hal sampah. Pulau yang konon disebut The Last Paradise (Surga...

Read moreDetails

Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

by I Made Sudiana
April 13, 2026
0
Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

DALAM percakapan sehari-hari, kerap kali digunakan kata pelindungan dan perlindungan secara bergantian. Namun, dalam ranah hukum dan kebijakan publik di...

Read moreDetails

‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

by I Made Sudiana
April 6, 2026
0
‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

SEBAGAI orang sipil, pernahkah Anda mengirim pesan santai dan personal, lalu dibalas dengan kode angka yang terdengar seperti sandi agen...

Read moreDetails

Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan

by I Made Sudiana
March 18, 2026
0
Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, Nyepi merupakan nomina (kata benda) yang bermakna hari suci umat Hindu untuk memperingati...

Read moreDetails

Takjil

by Ahmadul Faqih Mahfudz
February 22, 2026
0
Takjil

MASJID-MASJID di kota atau masjid-masjid di sisi jalan raya menggelar buka puasa Bersama selama Ramadan. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga...

Read moreDetails

Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

by I Made Sudiana
February 14, 2026
0
Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

Wira, seorang pegiat TikTok dengan nama Si Bli Wira, melalui konten media sosialnya belakangan ini sering mengungkapkan tabik sugra dalam...

Read moreDetails

Sudahkah Bahasa Kita Berdaulat?

by Ahmad Sihabudin
July 30, 2025
0
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Dalam  tulisan ini yang maksud kedaulatan bahasa adalah, digunakannya suatu bahasa dalam hal ini bahasa Indonesia secara sadar dan bertanggung...

Read moreDetails

Sebaiknya Anak Dipanggil dengan Nama Dirinya

by I Ketut Suar Adnyana
July 21, 2025
0
Sebaiknya Anak Dipanggil dengan Nama Dirinya

MASYARAKAT Bali  pada umumnya berkomunikasi dengan anaknya dengan menggunakan nama diri. Misalnya anak perempuannya bernama  Indah, orang tua akan memanggilnya...

Read moreDetails

Istilah Pertanian yang Hilang: “Slisihan”,  Sistem Gotong Royong dalam Menggarap Tegalan Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
July 18, 2025
0
Istilah Pertanian yang Hilang: “Slisihan”,  Sistem Gotong Royong dalam Menggarap Tegalan Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

DESA Pucaksari, yang terletak di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi robusta di wilayah...

Read moreDetails

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

by I Ketut Suar Adnyana
July 18, 2025
0
Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

PERKEMBANGAN bahasa Bali  saat ini sangat dinamis. Hal itu diakibatkan adanya kontak  dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kontak bahasa...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

BALI MENGALAMI STROKE

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co