25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta

Krisna Wiryasuta by Krisna Wiryasuta
June 24, 2023
in Cerpen
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta

Ilustrasi Krisna Wiryasuta

ANGIN PESISIR mengantar debu, menerbangkan rambut Ketut Sujana. Rambut yang selalu disisir rapi itu pun kini tak rapi lagi. Ketut Sujana harus merapikan lagi, berkali-kali.

Belakangan ini Ketut Sujana memang harus menjaga pemapilannya. Dalam tiga bulan mendatang ia akan melangsungkan pernikahan, tentu penampilan akan menjadi penting baginya demi menjaga keyakinan keluarga mempelai perempuan.

Sujana akan meminang Nengah Surni,  seorang gadis asal Desa Sebuli, sebuah desa dingin  yang terletak di kaki Gunung Merbuk di Jembrana. Sementara Sujana sendiri lahir di daerah pesisir, Desa Ambuhan. Masyarakat Jembrana memiliki sebutan unik untuk pasangan semacam ini: pasangan “nyegara gunung”. Artinya, pasangan yang berasal dari daerah pesisir dan juga pegunungan.

Ketut Sujana baru saja menyelesaikan pendidikannya di sebuah kampus di Bali Utara. Empat tahun merantau membuat Ketut Sujana meninggalkan sebagian kewajibanya sebagai pemuda hindu di Desa Ambuhan. Sebagai desa kecil, Ambuhan memberikan kewajiban tidak tertulis kepada setiap penduduknya, semacam budaya yang diwariskan oleh leluhurnya, kemudian disempurnakan menjadi sebuah aturan tertulis, yang kemudian disebut sebagai awig-awig oleh masyarakat Ambuhan

Persiapan pernikahan Sujana dan Nengah Surni tinggal sebulan lagi. Sujana telah memesan lima ekor babi dari tetangganya sebagai bahan olahan untuk menu utama resepsi mereka. Keluarga Sujana terlihat sangat bersemangat dengan perayaan yang mereka bayangkan akan berlangsung meriah.

Surat undangan akan segera disebar oleh Sujana. Melalui panggilan telepon, ayah Ketut Sujana menanyakan persiapan mereka. Ayah Sujana adalah seorang anggota dewan yang bertugas di ibu kota, sehingga jarang pulang ke rumah. Dia hanya pulang saat Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Masyarakat Ambuhan merasa kesal dan dendam terhadap keluarga Sujana. Tidak tanpa alasan, keluarga Sujana jarang berbaur dan membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan.  Warga Ambuhan menilai awig-awig (aturan desa) sudah menjadi buku sejarah bagi keluarga Sujana. Ayah Sujana yang jarang pulang dan Sujana yang lama merantau merupakan senjata bagi warga Desa Ambuhan untuk membenci keluarga Sujana.

Resepsi pernikahan tinggal dua minggu lagi, dan keluarga besar Ketut Sujana mulai menetap di rumahnya untuk membantu persiapan acara itu.

Lalu tibalah hari di mana Ketut Sujana harus ngidih busung. Ngidih busung adalah hak setiap warga Desa Ambuhan untuk meminta janur kepada seluruh kepala keluarga yang tinggal di sana. Ini adalah salah satu rangkaian acara pernikahan yang tertulis dalam awig-awig atau aturan desa Ambuhan.

Seperti aturan-aturan lainnya, ngidih busung bersifat mengikat bagi semua warga. Namun, keanehan mulai muncul ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dan belum ada satupun warga yang datang membawa busung untuk Ketut Sujana.

Sujana mulai merasa cemas.

“Bagaimana jika tidak ada yang membawa busung? Upacara ini membutuhkan banyak busung. Berapa banyak uang yang harus saya keluarkan untuk membeli busung jika tidak ada yang membawanya?” ucap Sujana kepada ayahnya yang sudah tiba di rumah sejak pagi.

Ketakutan itupun menjadi kenyataan. Sampai pukul sembilan malam, hanya ada empat orang yang membawa busung. Mereka adalah tetangga yang tinggal paling dekat dengan rumah Ketut Sujana. Sujana yakin bahwa mereka mematuhi awig-awig karena merasa tidak enak kepada Ketut Sujana, mengingat rumah mereka sangat dekat.

Malam semakin larut, rumah Ketut Sujana dikunjungi oleh Komang Sulir yang menjadi kelian banjar. Komang Sulir menyampaikan rasa prihatinnya kepada Ketut Sujana.

“Tut, saya turut prihatin. Sebagai ketua, saya merasa bertanggung jawab dalam situasi ini,” ucapnya setelah meneguk kopi yang disajikan oleh Sujana.

“Tidak apa-apa, Pak. Kami mungkin akan membeli busung di pasar untuk upacara nanti,” jawab Sujana dengan sedikit senyuman yang menandakan kekecewaannya terhadap warga desa.

Setelah beberapa tegukan kopi dan dua potong pisang goreng, Komang Sulir pamit pulang. Raut kekhawatiran dan ketakutan juga terlihat di wajah Komang Sulir, tidak ada yang tahu apa yang ada di pikirannya.

Setelah itu, Ketut Sujana meneteskan air mata. “Apa salahku kepada warga desa? Mengapa mereka seolah-olah membenciku?” ucapnya dengan lirih.

Malam itu, beralaskan selembar tikar daun pandan disusul dengan wajah cemas, keluarga Sujana berkumpul dan mencari solusi. Diskusi ditutup dengan kesepakatan keluarga mereka akan membeli busung dan perlengkapan lainnya sendiri tanpa bantuan warga desa.

Sejak saat itu, keluarga Sujana mulai sibuk berbelanja, membuat banten dalam jumlah yang sangat banyak, dan menyiapkan dekorasi yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya dari sebuah perusahaan dekorasi. Sujana  takut bahwa tidak akan ada warga yang membantunya jika ia membuat dekorasi sendiri.

Langit mulai memerah, embun-embun di ujung dedaunan mulai terlihat. Keluarga Ketut Sujana sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan resepsi sejak pagi. Pagi ini, mereka akan melaksanakan ngayah sesuai dengan awig-awig yang ada, setiap warga wajib datang pagi-pagi sekali ke rumah warga yang memiliki upacara.

Mereka bertugas memotong babi, membuat lawar, dan melakukan persiapan lainnya yang diperlukan. Namun, ketika matahari sudah berada di atas kepala, belum ada warga yang datang membantu. Padahal, esok hari adalah kedatangan mempelai wanita dan malamnya akan diadakan resepsi.

Hari sudah sore, namun persiapan belum selesai. Dari kejauhan, terlihat rombongan bus datang dan berhenti tepat di depan rumah Sujana. Ternyata, keluarga mempelai wanita sudah datang bersama keluarga besar mereka. Keluarga Nengah Surni kaget melihat suasana yang sangat sepi.

Mereka menyimpulkan bahwa Sujana adalah pemuda yang tidak dihargai oleh warga desa karena jarang berada di rumah dan tidak pernah membantu upacara warga lain.

Tanpa pikir panjang, keluarga Nengah Surni tiba-tiba membatalkan acara pernikahan anak mereka. Mereka tidak ingin menikahkan anak mereka dengan keluarga yang tidak disukai oleh warga desa. Mereka takut anak mereka akan menjadi korban kebengisan warga desa.

Suasana yang seharusnya bahagia berubah menjadi tegang ketika keluarga Nengah Surni bergegas meninggalkan rumah Ketut Sujana. Sujana hanya bisa menangis melihat keadaan ini. Keluarga Nyoman Sujana satu persatu meneteskan air mata.

“Mengapa warga desa begitu kejam?” teriak Nyoman Sujana.

Teriakan ini didengar oleh tetangganya yang kemudian mendekat.

“Sujana, ini semua karena dirimu sendiri dan ayahmu,” ucap tetangganya.

“Apa yang salah, Bli?” Tanya Sujana.

“Kalian adalah warga desa yang tidak peduli dengan aturan dan kondisi desa ini. Kalian tidak pernah melakukan ngayah dan memberikan busung, padahal itu tercantum dalam awig-awig desa,”  sahut tetangga Ketut Sujana.

“Tapi kami selalu membayar jika ada kegiatan ngayah dan ngidih busung. Uangnya selalu saya titipkan kepada Pak Kelian Banjar, Pak Komang Sulir,” ucap Sujana dengan jelas.

“Tapi uangnya tidak pernah sampai ke sana,” sahut tetangga lainnya.

Semua orang di sana saling bertatap-tatapan bingung. Sujana merasa bahwa dia telah menjalankan kewajibannya sebagai warga desa dan mengikuti peraturan desa. Dia merasa kesal dan bertanya-tanya.

Terungkap bahwa Nyoman Sulir-lah yang menjadi dalang di balik semua ini. Uang yang selama ini dititipkan oleh Nyoman Sujana tidak pernah sampai ke warga, melainkan digunakan untuk kepentingan pribadi Nyoman Sulir. Warga yang ada di sana merasa bersalah kepada Ketut Sujana yang sekarang harus menerima keadaan ini.

Jadilah, Ketut Sujana menjatuhkan pilihanya untuk menjadi bujang seumur hidup, dan Komang Sulir terkurung di jeruji besi lapas Jembrana. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
Komang | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Taufikur Rahman Al Habsyi | Membicarakan Jarak; Mengundang Rindu, Membenci Waktu

Next Post

Sugesti dan Pengaruhnya untuk Kesehatan

Krisna Wiryasuta

Krisna Wiryasuta

Penulis, tinggal di Jembrana, Bali

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Sugesti dan Pengaruhnya untuk Kesehatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co