23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
March 11, 2023
in Cerpen
Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co

POHON WARU yang cukup besar seperti menari-nari saat diterpa angin, daun-daun yang berguguran membuat angina dan tanah berbahagia akan hari itu. Di sisi teluk, tepat di Selat Bali, dari kejauhan kapal-kapal ferry terlihat lalu-lalang. Kapal-kapal itu terlihat lumayan kecil dari pohon waru.

Senja juga sudah menampakkan keindahannya. Namun tak seindah perasaan dua orang yang sedang duduk di bawah pohon itu. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun. Setiap hari memang ada saja orang-orang yang sengaja menyendiri, sedang membuat janji atau sedang menangis dan duduk bersandar di bawah pohon itu. Mereka mencurahkan suka dukanya pada batang pohon, pada akar, atau pada daun-daunnya yang rimbun. 

Pohon itu tumbuh sendiri, di sekitarnya hanya ada padang savana. Di teluk itu, pohon waru tumbuh di atas karang yang dihiasi lumut-lumut.

Tak jarang para nelayan dan beberapa orang singgah hanya untuk berteduh di bawahnya. Kadang saat air laut pasang, akar-akar pohon itu selalu dipenuhi air. Kadang pohon itu seperti ingin terbawa arus air. Tetapi, untungnya karang-karang ini selalu setia menjaga. Beberapa kali ombak pasang menerjang, kadang membawa pasir-pasir laut sehingga menutupi karang di bawahnya lalu ditumbuhi rumput-rumput liar.

Saat karang tepat di depannya hilang ditelan pasir, setelahnya orang-orang datang berbondong-bondong untuk duduk di bawah pohon waru itu. Daun yang rimbun seakan membawa harap untuk mereka, menikmati senja dan seakan melepas kepergian seseorang.

Dari orang-orang yang datang ke sini, kedua orang itu selalu datang setiap hari. Mereka kadang bahagia, tertawa dan selalu bercanda, lalu pulang dengan rasa bahagia. Kadang salah satunya bersedih entah kenapa tepat saat duduk di bawah pohon waru. Mereka adalah orang yang paling sering berkunjung ke sana. 

Tapi saat ini, suasana tampak tak begitu mengenakkan. Mereka berdua biasanya terlihat baik-baik saja, bercengkrama, tertawa lalu berlarian di sekitaran padang rumput di atas karang sana lalu kembali duduk di bawah pohon waru. Tapi kali ini, isak tangis mereka berdua seakan mengalahkan bunyi-bunyi kapal dan jukung yang berlayar entah ke mana. 

“Jadi mau bagaimana, Ingkar? Aku tak dapat memaksa lagi,” ucap pria itu sembari menunduk.

“Tak ada yang pernah memaksa, Raga. Kita berdua saja yang berusaha memaksa hubungan ini,” ucap Ingkar menangis.

“Aku memaksa, Ingkar. Memaksa kebahagiaanmu yang seharusnya dimiliki lelaki yang pantas.”

“Kau lelaki yang pantas itu.”

“Iya bagi dirimu, tidak bagi orang tuamu.”

Raga menahan tangisnya yang sedari tadi seperti ingin ia keluarkan, sedangkan Ingkar masih saja terisak-isak. Mereka tak saling bercakap kembali. Raga lalu memandang laut Selat Bali, linangan air terlihat sangat jelas di matanya. Napasnya juga tak beraturan, seperti sesak yang tak kunjung usai. 

“Entah kapan lagi kita akan menikmati senja yang indah ini, Ingkar,” ucap Raga membuka percakapan kembali.

Ingkar tak menyahuti perkataan Raga, ia masih saja tenggelam dalam tangisannya.

“Kita sudah tidak bisa lagi bersama, jika ayah dan ibumu juga tak menginginkan aku, Ingkar.”

“Aku juga tak merestui perjodohan ini, Raga. Aku mengutuk mereka!”

“Itu keputusan orang tuamu. Jangan membuat karmamu sendiri, Ingkar.”

“Mereka yang membuat karma itu. Bukan aku, bukan aku!” teriak Ingkar dalam isaknya.

Setelah percakapan yang melelahkan dan tangis yang tak kunjung usai, mereka saling memeluk satu sama lain. Sembari mengelus kepala Ingkar, Raga akhirnya menangis. Menangis di dalam pelukan Ingkar yang hangat, untuk terakhir kalinya.

“Setelah ini kita tak lagi bertemu, Ingkar,” ucap Raga sembari memeluk Ingkar.

“Sampai kapanpun kita tak terpisahkan, Raga. Tak akan. Apapun yang terjadi setelah ini.”

“Tapi bagaimana dengan orang tuamu itu?”  Raga melepas pelukannya.

“Aku tak perduli lagi. Biarlah mereka tersiksa nasib.”

“Tapi kau harus turun kasta jika bersamaku. Itu akan memunculkan amarah keluarga besarmu.”

“Aku tegaskan lagi, Raga! Kita tak akan terpisahkan!” ucap Ingkar dengan muka yang sangat tegas kala itu.

Matahari semakin terbenam, mereka tak juga kunjung beranjak. Tak ada penerangan, hanya cahaya bulan yang segera menerangi mereka. Raga dan Ingkar mulai meredam tangis, mereka menari dalam kegelapan yang indah kala itu. Mereka menari, saling memeluk, kadang mereka tertidur di bawah pohon itu, kadang Raga menari di atas Ingkar begitu sebaliknya.

Mereka memuaskan setiap cinta untuk terakhir kalinya. Tanpa terlewat sedikitpun. Setiap cengkraman cinta-cinta itu ditumpahkan di bawah pohon Waru.

Pohon waru yang kokoh itu daunnya mulai bergoyang diterpa angin malam dari arah laut, seperti ikut menari bersama mereka. Dua orang yang menuntaskan cintanya dan pohon waru yang ikut senang dengan mereka. Tak lama kemudian, Ingkar kembali menangis. Ia menangis terisak di atas badan Raga. 

“Kita tak akan berpisah, Raga!” kata Ingkar sembari menangis.

“Mari tuntaskan, Ingkar.”

“Kita tak akan terpisah.”

“Ya! Aku tahu. Kita tak akan terpisah,” kata Raga.

Ingkar masih terisak dalam tangis, kemudian Raga mencoba menenangkannya. Sembari mengelus rambut lusuh Ingkar, Raga kembali mengungkapkan cintanya. Mereka kembali menari-nari dalam bayang bulan yang sedemikian terang. Angin bertiup semakin kencang, Pohon waru itu melambai ke sana kemari seperti mengikuti tarian Raga dan Ingkar. Mereka masih menari, menarikan cinta-cinta mereka. Hingga malam tak terasa semakin larut. 

Jukung-jukung nelayan terlihat dari kejauhan dengan lampu kunang-kunangnya. Ada yang sudah mulai menjala dan baru berangkat dari tepian. Saat fajar sudah mulai menampakkan dirinya, nelayan-nelayan itu bergegas menarik jala dan mengarahkan jukung-jukungnya untuk kembali ke tepi. Membawa sedikit harap agar ikan-ikan yang ditangkap bisa dijual setelahnya.

Beberapa nelayan juga tak langsung pulang ke rumah, tapi ada yang ingin bercengkrama dengan nelayan lainnya di bawah pohon waru. Karena dari sana, mereka dapat melihat keindahan teluk dan Selat Bali yang selalu mereka hampiri untuk menjala.

Pagi itu, salah seorang nelayan heran karena banyak orang berkerumun di sekitar pohon Waru itu. Tak seperti biasanya pohon itu dikerumuni banyak orang, biasanya hanya satu atau dua orang saja. Nelayan itu mendekat ke kerumunan.

Sampai di sana ia terkejut, seorang pria dan wanita sudah tergantung lemas di pohon waru itu. Mereka masih saling berpegangan tangan sangat erat dan tak memakai sehelai pakaianpun.

Dari kejadian yang menggemparkan itu, pohon waru yang kokoh di sisi teluk dipotong oleh nelayan karena dianggap sudah leteh. Tak ada lagi tempat untuk menikmati keindahan teluk senja dan Selat Bali. Tak ada lagi pohon untuk nelayan berteduh dan tidak ada lagi pohon Raga dan Ingkar untuk menikmati cinta. [T]

KLIK untuk BACA cerpen-cerpen lain

Pisah Ranjang | Cerpen AG Pramono
Rembulan di Bukit Asah | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Kebaya | Cerpen Ikrom F.
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu 2019, Ada Pelajaran

Next Post

Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co