23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
March 11, 2023
in Cerpen
Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co

POHON WARU yang cukup besar seperti menari-nari saat diterpa angin, daun-daun yang berguguran membuat angina dan tanah berbahagia akan hari itu. Di sisi teluk, tepat di Selat Bali, dari kejauhan kapal-kapal ferry terlihat lalu-lalang. Kapal-kapal itu terlihat lumayan kecil dari pohon waru.

Senja juga sudah menampakkan keindahannya. Namun tak seindah perasaan dua orang yang sedang duduk di bawah pohon itu. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun. Setiap hari memang ada saja orang-orang yang sengaja menyendiri, sedang membuat janji atau sedang menangis dan duduk bersandar di bawah pohon itu. Mereka mencurahkan suka dukanya pada batang pohon, pada akar, atau pada daun-daunnya yang rimbun. 

Pohon itu tumbuh sendiri, di sekitarnya hanya ada padang savana. Di teluk itu, pohon waru tumbuh di atas karang yang dihiasi lumut-lumut.

Tak jarang para nelayan dan beberapa orang singgah hanya untuk berteduh di bawahnya. Kadang saat air laut pasang, akar-akar pohon itu selalu dipenuhi air. Kadang pohon itu seperti ingin terbawa arus air. Tetapi, untungnya karang-karang ini selalu setia menjaga. Beberapa kali ombak pasang menerjang, kadang membawa pasir-pasir laut sehingga menutupi karang di bawahnya lalu ditumbuhi rumput-rumput liar.

Saat karang tepat di depannya hilang ditelan pasir, setelahnya orang-orang datang berbondong-bondong untuk duduk di bawah pohon waru itu. Daun yang rimbun seakan membawa harap untuk mereka, menikmati senja dan seakan melepas kepergian seseorang.

Dari orang-orang yang datang ke sini, kedua orang itu selalu datang setiap hari. Mereka kadang bahagia, tertawa dan selalu bercanda, lalu pulang dengan rasa bahagia. Kadang salah satunya bersedih entah kenapa tepat saat duduk di bawah pohon waru. Mereka adalah orang yang paling sering berkunjung ke sana. 

Tapi saat ini, suasana tampak tak begitu mengenakkan. Mereka berdua biasanya terlihat baik-baik saja, bercengkrama, tertawa lalu berlarian di sekitaran padang rumput di atas karang sana lalu kembali duduk di bawah pohon waru. Tapi kali ini, isak tangis mereka berdua seakan mengalahkan bunyi-bunyi kapal dan jukung yang berlayar entah ke mana. 

“Jadi mau bagaimana, Ingkar? Aku tak dapat memaksa lagi,” ucap pria itu sembari menunduk.

“Tak ada yang pernah memaksa, Raga. Kita berdua saja yang berusaha memaksa hubungan ini,” ucap Ingkar menangis.

“Aku memaksa, Ingkar. Memaksa kebahagiaanmu yang seharusnya dimiliki lelaki yang pantas.”

“Kau lelaki yang pantas itu.”

“Iya bagi dirimu, tidak bagi orang tuamu.”

Raga menahan tangisnya yang sedari tadi seperti ingin ia keluarkan, sedangkan Ingkar masih saja terisak-isak. Mereka tak saling bercakap kembali. Raga lalu memandang laut Selat Bali, linangan air terlihat sangat jelas di matanya. Napasnya juga tak beraturan, seperti sesak yang tak kunjung usai. 

“Entah kapan lagi kita akan menikmati senja yang indah ini, Ingkar,” ucap Raga membuka percakapan kembali.

Ingkar tak menyahuti perkataan Raga, ia masih saja tenggelam dalam tangisannya.

“Kita sudah tidak bisa lagi bersama, jika ayah dan ibumu juga tak menginginkan aku, Ingkar.”

“Aku juga tak merestui perjodohan ini, Raga. Aku mengutuk mereka!”

“Itu keputusan orang tuamu. Jangan membuat karmamu sendiri, Ingkar.”

“Mereka yang membuat karma itu. Bukan aku, bukan aku!” teriak Ingkar dalam isaknya.

Setelah percakapan yang melelahkan dan tangis yang tak kunjung usai, mereka saling memeluk satu sama lain. Sembari mengelus kepala Ingkar, Raga akhirnya menangis. Menangis di dalam pelukan Ingkar yang hangat, untuk terakhir kalinya.

“Setelah ini kita tak lagi bertemu, Ingkar,” ucap Raga sembari memeluk Ingkar.

“Sampai kapanpun kita tak terpisahkan, Raga. Tak akan. Apapun yang terjadi setelah ini.”

“Tapi bagaimana dengan orang tuamu itu?”  Raga melepas pelukannya.

“Aku tak perduli lagi. Biarlah mereka tersiksa nasib.”

“Tapi kau harus turun kasta jika bersamaku. Itu akan memunculkan amarah keluarga besarmu.”

“Aku tegaskan lagi, Raga! Kita tak akan terpisahkan!” ucap Ingkar dengan muka yang sangat tegas kala itu.

Matahari semakin terbenam, mereka tak juga kunjung beranjak. Tak ada penerangan, hanya cahaya bulan yang segera menerangi mereka. Raga dan Ingkar mulai meredam tangis, mereka menari dalam kegelapan yang indah kala itu. Mereka menari, saling memeluk, kadang mereka tertidur di bawah pohon itu, kadang Raga menari di atas Ingkar begitu sebaliknya.

Mereka memuaskan setiap cinta untuk terakhir kalinya. Tanpa terlewat sedikitpun. Setiap cengkraman cinta-cinta itu ditumpahkan di bawah pohon Waru.

Pohon waru yang kokoh itu daunnya mulai bergoyang diterpa angin malam dari arah laut, seperti ikut menari bersama mereka. Dua orang yang menuntaskan cintanya dan pohon waru yang ikut senang dengan mereka. Tak lama kemudian, Ingkar kembali menangis. Ia menangis terisak di atas badan Raga. 

“Kita tak akan berpisah, Raga!” kata Ingkar sembari menangis.

“Mari tuntaskan, Ingkar.”

“Kita tak akan terpisah.”

“Ya! Aku tahu. Kita tak akan terpisah,” kata Raga.

Ingkar masih terisak dalam tangis, kemudian Raga mencoba menenangkannya. Sembari mengelus rambut lusuh Ingkar, Raga kembali mengungkapkan cintanya. Mereka kembali menari-nari dalam bayang bulan yang sedemikian terang. Angin bertiup semakin kencang, Pohon waru itu melambai ke sana kemari seperti mengikuti tarian Raga dan Ingkar. Mereka masih menari, menarikan cinta-cinta mereka. Hingga malam tak terasa semakin larut. 

Jukung-jukung nelayan terlihat dari kejauhan dengan lampu kunang-kunangnya. Ada yang sudah mulai menjala dan baru berangkat dari tepian. Saat fajar sudah mulai menampakkan dirinya, nelayan-nelayan itu bergegas menarik jala dan mengarahkan jukung-jukungnya untuk kembali ke tepi. Membawa sedikit harap agar ikan-ikan yang ditangkap bisa dijual setelahnya.

Beberapa nelayan juga tak langsung pulang ke rumah, tapi ada yang ingin bercengkrama dengan nelayan lainnya di bawah pohon waru. Karena dari sana, mereka dapat melihat keindahan teluk dan Selat Bali yang selalu mereka hampiri untuk menjala.

Pagi itu, salah seorang nelayan heran karena banyak orang berkerumun di sekitar pohon Waru itu. Tak seperti biasanya pohon itu dikerumuni banyak orang, biasanya hanya satu atau dua orang saja. Nelayan itu mendekat ke kerumunan.

Sampai di sana ia terkejut, seorang pria dan wanita sudah tergantung lemas di pohon waru itu. Mereka masih saling berpegangan tangan sangat erat dan tak memakai sehelai pakaianpun.

Dari kejadian yang menggemparkan itu, pohon waru yang kokoh di sisi teluk dipotong oleh nelayan karena dianggap sudah leteh. Tak ada lagi tempat untuk menikmati keindahan teluk senja dan Selat Bali. Tak ada lagi pohon untuk nelayan berteduh dan tidak ada lagi pohon Raga dan Ingkar untuk menikmati cinta. [T]

KLIK untuk BACA cerpen-cerpen lain

Pisah Ranjang | Cerpen AG Pramono
Rembulan di Bukit Asah | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Kebaya | Cerpen Ikrom F.
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu 2019, Ada Pelajaran

Next Post

Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co