21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 4, 2023
in Ulas Film
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Foto diambil dari poster film Inang

HANTU. Masyarakat Indonesia─walaupun tidak semua, tapi kebanyakan─masih memegang erat kepercayaan bahwa hantu itu ada. Di era yang serba modern, canggihan, materialistis, kepercayaan akan hantu tidak pernah pupus. Bahkan, bagi sebagian orang, hantu menjadi komoditas yang laris manis di dunia hiburan. Sejauh yang saya ingat, film bergenre horor─tentu selain film drama cinta dan laga─masih menjadi pilihan yang sangat diminati masyarakat Indonesia untuk ditonton di waktu senggang.

Tempo dulu banyak film horor yang diputar di stasiun TV─ya, dan kita semua tahu itu. Seperti, misalnya, yang melekat dalam ingatan saya, film-film horor yang dibintangi Sang Legenda, Suzana.

Mengingat nama Suzana, khususnya generasi 90-an–2000-an, sudah pasti terbayang bagaimana seramnya perawakan hantu yang diperankannya dalam film Malam Satu Suro (1988), Beranak dalam Kubur (1971), Malam Jumat Kliwon (1986), dan Ratu Buaya Putih (1988), misalnya. Atau, tentu saja, penggalan scene yang sangat melekat dalam benak, “Bang, sate, Bang. Satenya 200 tusuk, makan di sini”. Sungguh, pada zaman itu, sensasi takutnya susah untuk digambarkan.

Sepertinya semua sepakat bahwa Suzana adalah sosok memiliki jiwa magis. Bukan hanya saat bersandiwara menjadi hantu, tetapi juga dalam kehidupan nyata─setidaknya menurut rumor yang beredar.

Dalam memerankan hantu, sulit rasanya untuk menandingi akting Suzana─meskipun belakangan muncul nama seperti Julia Perez, Dewi Persik, Ayu Azhari dan sederet nama top lainnya.

***

Tetapi, seiring perjalanan zaman, saat saya masih SMP, film horor Indonesia di produksi seakan-akan hanya mengeksploitasi bagian tubuh wanita saja, terkesan jorok, porno, saru. Benar. Alih-alih tegang dengan adegan horornya, malah justru tegang karena adegan ranjangnya. Alih-alih fokus alur ceritanya, malah justru fokus ke yang lainnya. Sederet nama seperti Julia Perez, Dewi Persik, atau Ayu Azhari, hampir selalu berhasil menjadi bahan fantasi─oh, lupakan saja bagian ini.

Terlepas dari apa yang saya sampaikan di atas, sadar atau tidak, dalam film horor, perempuan hampir selalu menjadi hantunya. Tak hanya di Indonesia, produksi film-film horor luar negeri pun sering menjadikan perempuan sebagai pemeran hantunya. Mengapa demikian?

>>>

Remotivi berusaha menjawabnya. Pertama, hantu perempuan seringkali tercipta dari kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadapnya. Teror hantu perempuan menggambarkan kondisi ironis, di mana untuk menghukum pelaku kekerasan, perempuan harus turun tangan sendiri.

Kedua, teror hantu perempuan sebagai tindakan balas dendam. Gagasan bahwa seorang perempuan ketika masih hidup tidak berdaya, dan menjadi marah ketika ia mati terdengar lebih “realistis” bagi kita, sebab laki-laki ketika disakiti akan melakukan balas dendam seketika itu juga, atau saat masih hidup. berbeda dengan perempuan, untuk balas dendam saja mereka harus menjadi hantu terlebih dahulu.

Ketiga, coba kita lihat teori Freudian tentang kembalinya kaum tertindas. Menurut Freud, pikiran sadar kita menekan pikiran-prikiran traumatis ke dalam alam bawah sadar kita. Suatu saat pikiran-pikiran itu akan muncul lagi dengan cara yang lebih terdistorsi atau simbolis. Interpretasi Freud dalam film horor biasanya berpendapat bahwa tokoh hantu dalam film horor mewakili kembalinya mereka yang tertindas, tapi kali ini tampil dalam bentuk yang lebih kuat. Dan perempuanlah yang sering berada di posisi tersebut; tertindas, namun ujung-ujungnya cuma disurruh “sabar”

Keempat, perempuan−entah manusia atau hantu− menjadi komoditi kapital dalam dunia hiburan. Fisik wanita seakan-akan lebih pantas untuk memerankan sosok hantu, rambut yang menjuntai panjang, suara tangisan bahkan bagian-bagian tubuh yang sebenarnya tak mesti ditonjolkan dalam film horor. Dalam hal ini lebih cenderung kepada pemenuhan esek-esek kaum laki-laki.

Saya kira, budaya patriarki yang masih mengakar di kehidupan masyarakat Indonesia juga menjadi alasan kenapa perempuan seakan-akan “pantas” untuk memerankan sosok astral itu. Rasanya memang kurang pas jika laki-laki berperan menjadi hantu, kecuali pocong. Bayangkan saja, mana mungkin ada sosok hantu muncul dari atas pohon dengan kumis tebal dan badan yang sedikit berotot, menggoda pedagang sate kemudian berkata, “Bang, sate, Bang. Satenya 200 tusuk, makan di sini”. Wagu. Alih-alih seram malah terlihat aneh dan menarik gelak tawa penonton. Meskipun tidak menutup kemungkinan, kalau laki-laki mati juga bisa menjadi hantu. Itu tergantung amal ibadahnya saja.

***

Produksi film horor tahun 80-an identik dengan narasi horor yang berasal dari folklore (cerita rakyat atau budaya) yang melegenda. Sementara, sejak tahun 2000-an, narasinya lebih identik dengan urban legend (legenda urban dan kontemporer). Sedangkan pada era ini juga, banyak film horor yang mewarnai dunia perfilman tanah air seperti Jelangkung (2001), Pocong (2006), Hantu Jembatan Ancol (2008) Rumah Dara (2010), atau yang terbaru, KKN di Desa Penari (2022) dan sederet film horor lainnya.

Berbicara film horor, sudah barang tentu juga berbicara sutradaranya. Dan menurut awam saya, sutradara seperti Joko Anwar, Fajar Nugros, serta Azhar Kinoi Lubis, menggarap film horor secara totalitas dan epik.  Saya selalu dibuat kaget dan takut ketika menonton film horor garapan mereka. Oleh sebab itu, biasanya, saya selalu mengajak teman untuk ikut menonton bersama─untuk meminimalisir ketakutan saya yang berlebihan.

Film-film mereka memiliki alur cerita yang tidak membosankan. Sound effect, pencahayan dan latar tempatnya juga selalu menarik. Enggan untuk melewatkannya, sedetik pun.

***

Maka, pada kesempatan kali ini, sebagai bonus, saya rekomendasikan 5 film terbaik menurut saya─yang pasti membuat bulu roma Anda berdiri. Tenang, di sini tak ada kata “nomor lima bikin pingsan”. Oke, berikut daftarnya:

1. Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Film yang di sutradarai Joko Anwar ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Maya (Tara Basro) yang sedang bersusah payah hidup di kota tanpa keluarga, hanya ditemani satu sahabatnya yang bernama Dini.

>>>

Ketika usaha mereka di kota mengalami masa-masa sulit dan sedang membutuhkan modal lebih, Maya teringat warisan dari orang tuanya yang berada di desa. Maya─ditemani Dini─ memutuskan pergi ke kampung halamannya untuk mengurusi warisan tersebut. Sesampainya di kampung, mereka menginap di rumah besar yang sudah terbengkalai bertahun-tahun. Sedangkan di sekitar rumah itu terlihat aneh─dan angker tentu saja. Banyak kuburan anak-anak di sana.

Malam harinya Maya mendengar suara jeritan seorang perempuan yang hendak melahirkan. Maya menuju asal suara tersebut. Dari situlah, sedikit demi sedikit, misteri di kampungnya mulai terungkap.

Film ini saya beri nilai 8/10

2. Pengabdi Setan 1 (2017) dan 2 (2022)

Film yang masih di sutradarai Joko Anwar ini menceritakan tentang 1 keluarga yang awalnya tinggal di sebuah desa yang asri dan sejuk harus pindah kerumah susun di Jakarta semenjak ibu mereka meninggal dan hilangnya Ian, adik paling bungsu.

>>>

Kehidupan Rini, Bapak dan adik-adiknya yang awalnya baik-baik saja mendadak dipenuhi kekhawatiran semenjak adanya ancaman badai yang akan melanda daerah tempat tinggal mereka. Kemudian muncul kejadian-kejadian aneh yang mereka rasakan setelah adanya tragedi lift yang macet dan menelan korban jiwa.

Film ini saya beri nilai 9/10

3. Mangkujiwo (2020)

Film besutan Azhar Kinoi Lubis ini diperankan oleh Sujiwo Tejo sebagai Brotoseno. Setelah Brotoseno disingkirkan dari keraton oleh Cokrokusumo, ia berencana balas dendam dengan menggunakan pusaka cermin yang ia miliki. Dengan penuh tipu daya, Brotoseno sangat berambisi untuk membalaskan dendamnya terhadap Cokrokusumo.

>>>

Film ini saya beri nilai 8/10

4. Inang (2022)

Film yang disutradari Fajar Nugros ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Wulan, yang sehari-hari bekerja sebagai kasir supermarket─yang harus menelan kepahitan ketika sang pacar meninggalkannya dan tidak bertanggung jawab atas kehamilannya.

>>>

Wulan yang kebingungan pun sempat mempunyai niatan ingin melakukan aborsi. Namun niatan itu ia urungkan dan mencoba mencari solusi di media online. Keanehan-keanehan mulai dirasa ketika Wulan tinggal bersama keluarga yang mau mengadopsi anak yang dikandungnya itu.

Film ini saya beri nilai 9/10

5. The Medium (2021)

Ini film Thailand. Film bergenre semi dokumenter  horor ini di sutradari oleh Banjong Pisanthanakun yang juga menggarap film bergenre horor lainnya seperti Pee Mak (2013) dan Shutter (2004). The Medium bercerita tentang seorang dukun bernama Nim dari daerah Isan-Thailand yang sebagian masyarakatnya masih percaya dengan adanya kekuatan roh leluhur sebagai pelindung. Nim merupakan orang yang terpilih dari garis keluarganya sebagai dukun yang dirasuki oleh roh leluhur.

>>>

Namun kejadian aneh dimulai ketika Min, ponakan dari Nim mengalami gejala-gejala aneh seperti Nim ketika pertama kali akan terpilih dirasuki oleh roh Bayan. Nampaknya Min akan mewarisi bakat dukun dari keluarga mereka.

Film ini saya beri nilai 10/10

***

Itulah lima film horor yang saya rekomendasikan. Saya yakin, film-film yang beredar sekarang ini selalu memiliki pesan moral di dalamnya. Sekalipun itu film horor.

Hari ini film horor tidak hanya sebatas tontonan saja melainkan juga diharapkan sebagai tuntunan bagi masyarakat untuk lebih mencintai budaya sendiri dan kembali ke kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Pada dasarnya, horor dan humor nampaknya memang memiliki perbedaan yang sangat tipis. Ada kalanya yang horor menjadi humor dan sebaliknya, humor bisa menjadi horor. [T]

Laut Menyatukan Kita | Catatan tentang Film Avatar: The Way of Water
Balimakarya Film Festival, Peluang Bagi Bangkitnya Karya Film di Bali
Beda Agama, Menikah, dan Setelah Itu | Dari Pemutaran dan Diskusi Film Pendek “Ratna” di Mash Denpasar
Tags: filmfilm hororFilm Indonesiahantu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perbandingan “Kita dan Dunia”, Dari Banjo Hingga Menit yang Saya Suka

Next Post

“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co