25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 15, 2023
in Cerpen
Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

“Untuk apa kamu menjalin hubungan dengan orang jaba dan miskin itu? Bagaimana kehidupanmu nanti. Hidup bukan hanya perkara cinta!”

Itu kata Ibu kepadaku.

Ibu punya alasan kuno untuk melarangku berhubungan dengan Made Sila, kekasihku. Made Sila orang jaba. Aku orang berkasta. Aku tentu saja tak setuju perkataan Ibu. Membeda-bedakan kasta sudah bukan zamannya lagi. Aku tak pernah peduli dengan apa yang dikatakan Ibu.

“Apa salahnya, Bu? Bukankah ia juga manusia, sama-sama makan nasi, lalu apa yang membedakannya, Bu?” Aku membantah Ibu.

“Memang tidak ada salahnya, Ibu hanya ingin anak Ibu memiliki masa depan yang cerah dan hidupnya terjamin. Sekarang Dayu masih kelas tiga SMA, janganlah memikirkan asmara dahulu. Pikirkanlah sekolahmu, kau ini anak Ibu yang paling pintar, kamu pasti akan menjadi orang sukses nantinya,” kata Ibu.

Aku dipanggil Dayu, panggilan khas untuk gadis berkasta. Aku adalah anak Ibu yang paling disayang dan dimanja. Aku anak perempuan satu-satunya dalam keluarga, tiga adikku semuanya laki-laki. Aku memang termasuk murid unggulan di sekolah. Aku selalu mendapatkan ranking pertama, dan juga banyak menjuarai berbagai lomba-lomba. Banyak teman laki-laki yang mencoba mendekatiku namun tak satupun dari mereka kugubris, karena dalam hatiku, hanya ada nama Made Sila, anak kelas tiga jurusan IPS, gedung kelasnya tepat di depan gedungku, jurusan IPA.

Setiap bel waktu istirahat berbunyi, kami selalu memanfaatkan waktu untuk bercengkrama sembari makan nasi goreng di warung depan sekolah.

Made memang bukan berkasta. Ia juga bukan orang berada seperti diriku, dan ia juga bukan murid berprestasi di kelasnya. Namun aku tidak peduli dengan semua kekurangan itu, aku suka bagaimana ia memperlakukanku dengan romantis dan lembut, sama seperti serial drama korea yang sering aku tonton.

Entah mengapa aku sangat mudah luluh dengan Made, ia selalu saja merendahkan dirinya di depanku dan aku sangat tidak suka dengan hal itu.

“Dayu, kenapa sih kamu mau dengan orang yang serba kekurangan seperti diriku ini? Kita pun sepertinya tidak akan pernah bisa bersatu, karena sudah begitu jelas kita berbeda kasta. Aku hanya orang jaba yang miskin,” kata Made Sila suatu saat.

“Sudah ya Made, aku tidak pernah peduli dengan latar belakangmu, yang penting sekarang kita saling memiliki, cukup kita berdua saja,” kataku.

Aku dan Made menjalin hubungan sejak kelas dua semester awal. Ia merupakan murid pindahan, kabarnya ia murid yang bermasalah di sekolahnya terdahulu, namun menurutku dia orangnya baik, karena denganku ia tidak pernah macam-macam.

Suatu ketika Made datang ke kelasku saat bel waktu pulang sekolah berbunyi, ia membisik di telinga kananku.

“Dayu, tidakkah kau ingat ini hari apa?” tanya Made dengan tatapan riang.

“Ingat kok, hari ini kan hari di mana kita memulai semua perjalanan ini, tepat setahun sudah berlalu,” sahutku percaya diri.

“Iya betul, sebelum pulang ke rumah, ayo ikutlah denganku, kita rayakan dan nikmati hari ini berdua.”

“Tapi Ibu pasti akan khawatir Made kalau aku pulang terlalu sore!”

“Ahh, bilang saja kalau kamu ada kerja kelompok, pasti diizinkan!” kata Made meyakinkan diriku.

Awalnya aku ragu, namun karena desakan Made, aku memberanikan diri menelepon Ibu. Alangkah terkejutnya aku ternyata Ibu mengizinkan.

Akupun diajak Made ke suatu tempat yang sangat asing bagiku, aku tahu rumah Made, namun kali ini aku diajak kerumah yang berbeda, dan ia mengatakan bahwa itu adalah rumahnya.

Ternyata semua hal baik yang aku tahu dari Made sirna pada hari itu. Aku dinodai oleh Made, kekasihku sendiri. Aku telah masuk ke dalam jurang gelap dan melepas keperawananku di tangan Made. Aku merasa seperti bukan menjadi diriku, aku dengan mudahnya luluh dengan rayuannya, saking cintanya aku dengan Made. Walaupun Made bilang akan bertanggung jawab, tetap saja aku sangat takut pulang ke rumah.

Aku pulang dengan wajah penat dan muram, aku tidak menyapa Ibu sama sekali, tetapi mungkin Ibu berfikir bahwa aku sangat lelah, makanya ia tidak memarahiku. Aku tidak berani dan tak pernah memberitahu Ibu tentang hal itu.

Sebulan berlalu, aku telat haid. Namun menurutku itu hal wajar karena siklus haidku memang tidak bagus, namun aku merasakan nyeri dan mual-mual yang tidak biasa. Melihat hal itu Ibu pun tahu bahwa ada hal yang tidak wajar dari anaknya. Ibu membawaku ke dokter untuk diperiksa, dan alangkah terkejutnya Ibu, saat dokter menyatakan bahwa aku positif hamil.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Ibu hanya diam saja. Mungkin saja ia masih syok dengan hal tersebut.

Sesampainya di rumah Ibu marah sejadi-jadinya. Ayahku hanya diam saja dan tak peduli dengan apa yang terjadi, tapi tampak  Ayah dan Ibu sangat kecewa.

Aku mengabari Made tentang hal ini. Ia terkejut.

“Katakan padaku, ini semua hanya bercanda, Dayu!”

“Aku tidak bercanda kali ini Made. Ini serius. Ini semua karena perbuatanmu hari itu!” Aku kesal dan terisak-isak menangis.

“Baik Dayu, aku akan bertanggujawab. Jangan menangis, tidurlah dan beristirahat!” ucap Made sebelum menutup telepon.

Malam kelam itu pun berlalu, dan beesoknya Ayah dan Ibu mengusirku dari rumah, saking kesalnya mereka. Mereka kesal dengan aku, anaknya yang tidak pernah bisa diberitahu.

“Carilah kekasihmu, Made bajingan itu, dan mintalah ia menikahimu dan menghidupi dirimu,” ucap Ibu marah sembari menangis.

“Lupakan saja keluarga ini, jangan pernah kamu kembali ke sini lagi. Aku tak sudi memiliki putri seperti dirimu, membuat hancur dan buruk nama keluarga saja!” Ayah kali ini ikut bicara penuh kemarahan.

Aku pergi meninggalkan rumah dengan tertatih-tatih, dan menangis sejadi-jadinya. Aku pergi ke rumah Made. Aku disambut ibunya. Dahulu aku sering singgah di rumah itu sekadar untuk membantu ibu Made membuat banten, karena ibunya adalah seorang penjual banten.

Ia bertanya mengapa aku membawa tas besar dan menangis seperti ini.

“Yehh, Gek Sanjani, ada apa gerangan Gek datang menangis terisak seperti ini?” tanya ibunya Made. Aku memang biasa dipanggil Gek Sanjani.

“Aaa anuu Bu…” suaraku lemas menjawab pertanyaan ibunya Made.

“Apa yang terjadi, Gek, bilang saja pada Ibu?”

“Gek mengandung Bu, ini semua kesalahan Gek sama Made…” sahutku sembari menangis.

Ibu Made terkejut dengan apa yang ia dengar. Tak lama kemudian Made datang dari luar rumah. Ibunya langsung menarik Made dan memarahinya sejadi-jadinya, sehingga Made tak sanggup berkata-kata apapun. Aku hanya terdiam melihat semua itu.

Setelah kejadian itu ibu Made mulai menenangkan dirinya dan mengizinkan aku untuk tinggal di sana.

Karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan, aku dan Made putus sekolah. Kehidupan kami dibiayai oleh ibu Made. Aku selalu merasa kasihan dengan ibu Made, karena ia berjuang sendiri untuk menghidupi kami. Ayahnya Made telah tiada karena kecelakaan kerja sebagai kuli bangunan.

Tiga bulan berlalu kami akhirnya menikah dengan sederhana di sebuah griya. Setelah menikah Made pun mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami agar tidak selalu menggantungkan diri pada ibunya Made.

Ibu Made sering berpesan kepadaku. “Janganlah pernah menyerah dengan segala keadaan, Gek. Memang Made orang yang nakal, sering pulang malam, tetapi sekarang ia sudah mulai mau bekerja, Gek bersabar saja ya, semoga dia bisa mengubah dirinya!”

Dua bulan kemudian, ibu Made menghembuskan napas terakhirnya, karena penyakit jantung yang selama ini dideritanya. Aku merasa sangat kesepian, karena hanya ibu Made yang bisa aku ajak bercerita dan berbagi keluh kesah.

Setelah kepergian ibunya, Made mulai tidak terarah. Apalagi ia kemudian dipecat dari pekerjaannya. Kehidupan kami mulai kacau. Made selalu berbuat sesukanya terhadap diriku. Ia selalu pulang larut malam dan ia selalu pulang dengan keadaan mabuk. Bahkan suatu ketika ia pulang membawa wanita lain dan bermesraan di depan mataku sendiri.

Begitu teganya dia memperlakukan istrinya yang tengah hamil lima bulan ini. Bukannya memperbaiki hidupnya, ia justru membuat suasana menjadi semakin kacau dan tidak terkendali.

“Apa yang kau pikirkan Dayu, sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi! Kau pun sudah dibuang oleh keluargamu bukan? Ibuku pun sudah pergi meninggalkanmu, siapa lagi yang akan membelamu kini? Jika kau tidak kuat silakan pergi saja! Aku tidak peduli denganmu lagi!”

Aku sangat sakit hati mendengarkan semua perkataan kasar Made. Kepada siapa kini aku harus mengadu? Keluargaku sendiri telah mengusirku dan tidak menganggapku lagi. Ibu Made pun telah tiada, tidak ada lagi yang membela dan menguatkan diriku.

 Aku sangat menyesali apa yang sudah kuperbuat. Mungkin memang benar, kenikmatan dahulu yang kudapatkan hanyalah sesaat, namun penderitaannya sepanjang hayat kurasakan.

Aku sudah tidak berguna lagi kini, lebih baik aku pergi, karena tiada satupun yang peduli dengan diriku. Lebih baik aku menyakiti diri sendiri, daripada membunuh orang karena rasa benci yang tertanam di hati. Aku tidak bisa berpikir jernih lagi, di setiap langkahku hanya terdapat penyesalan tiada henti.

“Maafkan Ibumu ini, anakku sayang!” Aku mengelus perutku yang terasa sakit.  “Ibu sudah tidak kuat lagi untuk menghadapi segala penderitaan ini. Maafkanlah ibumu, anakku. Kita akan pergi bersama-sama, Nak!”

Catatan :

Jaba           : Sebutan untuk orang biasa, tidak berkasta

Banten        : Sarana upakara (sesajen)

Griya          : Istilah hunian kaum Brahmana

[][][]

KLIK untuk BACA cerpen-cerpen lain

Penghibur 204 | Cerpen Satria Aditya
Sang Meraga Melik | Cerpen Made Eva Trisna Dewi
Pura Subak | Cerpen DN Sarjana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awalnya Iseng, Dharma Sentosa Kini Jadi Seniman Bonsai dengan Banyak Penghargaan

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Menari, Menarilah Kau

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Menari, Menarilah Kau

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Menari, Menarilah Kau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co