6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penghibur 204 | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
January 7, 2023
in Cerpen
Penghibur 204 | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

MALAM DI SEBUAH tempat karaoke. Sedari jam sepuluh malam lelaki-lelaki pengunjung sudah pada datang. Mereka perlu hiburan.

Seorang perempuan berdiri di satu sudut. Gaun ketat merah membalut lekuk tubuhnya. Ia menyalakan rokok dan sesekali mengecek telepon genggam. Perempuan itu dipanggil dengan nama Asih. Entah siapa nama panjangnya.

Di sudut kota, ia mencari uang dengan menunggu lelaki. Tentu saja lelaki yang butuh hiburan dengan cara bermalam dengan Adih. Tarif Asih mahal. Meski hanya untuk beberapa jam. Dan lebih mahal lagi jika bermalam sampai esok pagi.

Asih, dulu, hanya seorang gadis desa. Ia luntang-lantung cari kerja, tak dapat-dapat. Lama menganggur, ia memilih ikut bibinya, bekerja di kota. Dengan iming-iming gaji yang besar, Asih tergoda untuk bekerja di kota. Ia bertekad mengangkat ekonomi keluarga di kampung halaman.

Tetapi ia tak menyangka,  seperti inilah akhirnya. Ia menjadi perempuan penghibur. Menghibur pria kesepian.

Seorang lelaki dengan mobil hitam mewah memasuki halaman tempat karaoke. Asih tak banyak bicara, ia langsung mematikan rokok yang baru saja dihisap dan menghampiri mobil hitam itu. Tampak dari kaca mobil yang setengah terbuka, seorang lelaki muda tersenyum ke arah Asih, melambaikan tangan, mengucapkan salam hangat bagai seorang kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.

Lelaki itu adalah pelanggan Asih yang setiap minggu selalu datang untuk bertemu dengannya. Menggenggam gagang pintu dan masuk, Asih duduk sembari merapikan rambutnya. Lelaki itu tak melepas pandang menatap Asih sedari beranjak, berjalan hingga memasuki mobil. Lelaki itu mengagumi Asih.

Di tempat karaoke inilah, kali pertama lelaki itu bertemu Asih. Lelaki itu sebenarnya tak terlalu suka dengan dunia malam. Namun dua tahun lalu ia diajak oleh teman-teman kantornya, pikirnya hanya untuk menghibur diri untuk melepas lelah dari pekerjaan yang cukup membuat penat. Saat itulah matanya beradu dengan dua mata indah milik Asih. Hanya dari melihat tempatnya bekerja, ia bisa menebak latar belakang Asih. Tapi, ada hal lain yang membuatnya terpikat. Bukan tentang kecantikan, atau kemolekan tubuh, tetapi aura yang terpancar dalam diri Asih membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung terpikat. 

“Ke tempat biasa?” tanya lelaki itu.

Sembari tersenyum manis Asih menyandarkan kepalanya pada pundak si lelaki dan menjawab, “Ya, seperti biasa. Hari ini kau mau berapa malam?”

“Satu malam saja. Ada yang harus aku bicarakan!”

“Baiklah, jangan membuang waktu.”

 Mobil hitam itu keluar, melaju, menjauh dari tempat tempat karaoke. Tak seperti teman-teman penghibur lain yang bekerja sama dengan pemilik hotel di sekitaran tempat karaoke itu, Asih dan lelaki itu memilih tempat yang lumayan jauh untuk menikmati waktu bersama mereka. Entah dalam hitungan jam atau hanya semalam seperti permintaan si lelaki.

Di sebuah hotel yang terbilang besar di sudut kota, Asih dan lelaki itu turun dari mobil dan saling merangkul dengan hangat memasuki lobi hotel. Kamar 204, yang selalu dipesan mereka berdua, bahkan jika kamar itu sudah disewa, lelaki itu akan membayar berapa pun agar kamar itu diberikan kepadanya.

Di dalam kamar, Asih langsung berbaring di atas kasur yang sangat lembut. Lelaki itu tak langsung ikut berbaring seperti biasanya. Ia menghentikan langkah, berdiri, hanya menatap keluar jendela kamar yang cukup besar.

Asih tampak heran, dari kasur tempatnya berbaring, ia bisa melihat tubuh lelaki tinggi dengan balutan kemeja putih itu. “Kenapa? Mendekatlah, tidak seperti biasanya,” ucap Asih lembut.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Kali ini bukan nafsu,” tegas lelaki itu.

“Lalu apa? Apa hal serius yang ingin kau bicarakan pada seorang pelacur?” Asih yang mulai duduk dan mencerna situasi.

“Tapi aku tidak menganggapmu sebagai pelacur, Asih! Berhenti bicara seperti itu.” 

“Orang-orang yang mengatakan begitu, bukan mauku tapi ini memang pekerjaanku!” Nada bicara Asih semakin meninggi. 

Asih dan lelaki itu tak saling menatap. Tak seperti biasanya, lelaki itu cukup serius kali ini. Asih pun tak tahu menahu apa yang dipikirkan lelaki itu, ia hanya menjalankan pekerjaannya seperti biasa. Memuaskan nafsu pelanggan dan mendapatkan uang. 

“Kau tak mau menikah denganku?” tanya pria itu.

Asih tahu, saat ini ritme nafasnya mulai tak beraturan, pikirannya tidak bisa menjelaskan maksud dari lelaki ini. 

“Apa kau sedang mengujiku?” ujarnya.

“Tentu tidak.  Tapi aku mencintaimu, Asih!” 

“Aku pelacur. Apa yang kau pikirkan. Apa yang kau harapkan dari wanita yang setiap malam menjajakan dirinya?” ucap Asih sembari menatap punggung lelaki itu. “Apa ada cinta di dalam hati pelacur seperti ini?” sambungnya.

“Apa yang kau ragukan? Dari awal, aku jatuh cinta. Entah kau pelacur atau bukan, aku tetap mencintaimu,” ucap lelaki itu yang masih menatap gemerlap lampu kota dari balik jendela.

“Sadarlah! Aku ini pelacur, wanita yang menemanimu hanya untuk nafsu.”

“Tapi Aku mencintaimu, Asih. Sudah aku pikirkan dan jawaban yang aku temukan dari semua kekuranganmu adalah aku mencintaimu. Karena itu, aku akan mulai menjagamu.”

“Tapi kita tidak bisa bersama seperti maumu. Kita tidak saling mencintai, hanya kau! Aku tidak!” tegas Asih. “Kau tidak akan mengerti. Aku hanya butuh hidup di kota yang jahat ini. Di kampung aku dikucilkan dan di sini aku bisa mendapatkan apapun meski harus merelakan tubuhku!” teriak Asih dengan muka yang memerah dan air mata yang mulai berlinang.

Dalam tangis Asih yang pecah di malam itu, bukan tentang cinta, bahkan ia tahu tak pantas lagi untuk mendapatkan cinta tulus dari seorang lelaki. Tak hanya lelaki ini, sudah beberapa dari pelanggannya yang ingin menjadikannya seorang istri sah, tapi ia selalu menolak. Semua dari pelanggannya berlatar belakang pengusaha kaya, seperti lelaki ini. Tapi, selama ini belum pernah sekalipun muncul dalam benak Asih untuk berhenti menjadi penghibur.

Melihat Asih larut dalam tangis, lelaki itu menghampiri dan mendekap Asih dalam pelukan dan mengusap lembut kepalanya tanpa berkata sepatah katapun. Ia tak tega melihat wanita yang dicintainya menangis begitu pilu.

“Jika ada pilihan lain saat itu, aku tidak akan mengambil jalan ini. Penyesalanku sudah terpendam karena yang aku miliki adalah harapan membahagiakan keluargaku.” Asih yang semakin terhanyut dalam pelukan pada malam yang panjang, dihabiskan dengan perdebatan dan air mata, tanpa sadar matahari sudah memasuki celah-celah gorden jendela kamar. 

Lelaki itu terbangun dari tidur yang melelahkan karena perdebatan malam kemarin dan melihat Asih yang masih tertidur pulas dengan balutan selimut putih di tubuh lembutnya. Lelaki itu menyeka rambut tipis di dahi Asih lalu mengecup keningnya dengan lembut lalu ia bergegas beranjak dari tempat tidur itu dan langsung memakai pakaiannya kembali.

Lelaki  itu lantas menaruh beberapa lembar uang di atas meja yang berada tepat di sebelah tempat tidur dan meninggalkan Asih sendiri di dalam kamar  sebelum ia terbangun. Hal ini sudah biasa ia lakukan di hari kerjanya. Jika ia bermalam dengan Asih saat hari libur, lelaki itu akan mengantar Asih pulang setelah bermalam beberapa hari. 

Lelaki itu sudah tahu apa yang akan Asih lakukan setelahnya. Ia tahu, Asih bukan hanya melayani dirinya saja, akan ada banyak pelanggan yang harus dia temani entah itu di tempat karaoke atau di tempat lain. 

Di kamar hotel, Asih bangun. Ia meregangkan tubuhnya, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia merenungkan nasibnya. Ia memikirkan perkataan lelaki diajaknya berdebat dan tidur tadi malam. Lalu, tiba-tiba ia tersenyum. Ia berubah pikiran, “Bagaimana kalau aku terima saja ajakan lelaki itu untuk menikah, hidup berumah tangga, tinggal di sebuah rumah dengan nyaman?” bisiknya.

Cepat-cepat ia ke kamar mandi, cuci muka, lalu memakai baju. Ia hendak menemui lelaki itu, pagi itu juga. Ia akan menerima lamaran lelaki itu, Ia sudah bertekad akan menikah.

Seminggu kemudian, si lelaki sedang sibuk mencari Asih. Sudah seminggu sejak pertemuan terakhir di kamar 204, lelaki itu tak sempat bertemu lagi dengan Asih. Bahkan saat lelaki itu menghubungi Asih, ia tak mendapat jawaban. Satu panggilan pun tak dijawab, dan pesan yang dikirim juga tak terbalas.

Malam hari lelaki itu sempat menyambangi tempat bekerja Asih dan menanyakan kepada wanita penghibur lainnya apakah Asih masih bekerja di tempat itu. Jawaban dari beberapa temannya dan pemilik tempat itu tidak tahu di mana Asih sekarang berada. Bahkan ia tak lagi bekerja di tempat karaoke itu sejak seminggu lalu. 

Lelaki itu mulai khawatir. Ia mencari ke indekos tempat Asih tinggal, tetapi Adih tak ditemukan. Lelaki itu terus mencari tetapi tak ada satu pesan pun yang menunjukkan bahwa Asih sedang berada di mana dan baik-baik saja.

Lelaki itu masih menunggu dan terus menunggu kabar. Sesekali waktu, ia mengirimkan pesan kepada Asih bahwa ia sangat merindukannya, dan seperti biasa tak ada jawaban lagi. 

Lelaki itu mengunjungi hotel tempat biasa ia singgahi dengan Asih. Seperti biasa, kamar 204 ia pesan dan saat itu ada orang yang sudah menempati kamar itu. Lelaki itu lantas menanyakan siapa nama yang memesan kamar itu sebelumnya, dan tak ada nama Asih. Kamar itu hanya dipesan oleh tamu-tamu yang berlibur biasa. 

Sampai kemudian lelaki itu membaca berita di surat kabar kota, halaman paling depan, tertulis judul dengan huruf yang cukup besar “PSK Ditemukan Tewas Membusuk di Gorong-Gorong Kota”. Dari keterangan polisi pada berita diketahui PSK itu diduga dibunuh oleh seorang tukang ojek, pada suatu pagi, seminggu yang lalu. Gara-garanya PSK itu menolak untuk diajak kencan. [T]

BACA cerpen-cerpen lain

Rahasia Gambuh | Cerpen Made Adnyana Ole
Sang Meraga Melik | Cerpen Made Eva Trisna Dewi
Pura Subak | Cerpen DN Sarjana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura Paninjoan di Kawasan Pura Bukit Sinunggal: Meninjau Laut Bali Utara, Melihat Tuhan dalam Diri

Next Post

Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co