17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penghibur 204 | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
January 7, 2023
in Cerpen
Penghibur 204 | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

MALAM DI SEBUAH tempat karaoke. Sedari jam sepuluh malam lelaki-lelaki pengunjung sudah pada datang. Mereka perlu hiburan.

Seorang perempuan berdiri di satu sudut. Gaun ketat merah membalut lekuk tubuhnya. Ia menyalakan rokok dan sesekali mengecek telepon genggam. Perempuan itu dipanggil dengan nama Asih. Entah siapa nama panjangnya.

Di sudut kota, ia mencari uang dengan menunggu lelaki. Tentu saja lelaki yang butuh hiburan dengan cara bermalam dengan Adih. Tarif Asih mahal. Meski hanya untuk beberapa jam. Dan lebih mahal lagi jika bermalam sampai esok pagi.

Asih, dulu, hanya seorang gadis desa. Ia luntang-lantung cari kerja, tak dapat-dapat. Lama menganggur, ia memilih ikut bibinya, bekerja di kota. Dengan iming-iming gaji yang besar, Asih tergoda untuk bekerja di kota. Ia bertekad mengangkat ekonomi keluarga di kampung halaman.

Tetapi ia tak menyangka,  seperti inilah akhirnya. Ia menjadi perempuan penghibur. Menghibur pria kesepian.

Seorang lelaki dengan mobil hitam mewah memasuki halaman tempat karaoke. Asih tak banyak bicara, ia langsung mematikan rokok yang baru saja dihisap dan menghampiri mobil hitam itu. Tampak dari kaca mobil yang setengah terbuka, seorang lelaki muda tersenyum ke arah Asih, melambaikan tangan, mengucapkan salam hangat bagai seorang kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.

Lelaki itu adalah pelanggan Asih yang setiap minggu selalu datang untuk bertemu dengannya. Menggenggam gagang pintu dan masuk, Asih duduk sembari merapikan rambutnya. Lelaki itu tak melepas pandang menatap Asih sedari beranjak, berjalan hingga memasuki mobil. Lelaki itu mengagumi Asih.

Di tempat karaoke inilah, kali pertama lelaki itu bertemu Asih. Lelaki itu sebenarnya tak terlalu suka dengan dunia malam. Namun dua tahun lalu ia diajak oleh teman-teman kantornya, pikirnya hanya untuk menghibur diri untuk melepas lelah dari pekerjaan yang cukup membuat penat. Saat itulah matanya beradu dengan dua mata indah milik Asih. Hanya dari melihat tempatnya bekerja, ia bisa menebak latar belakang Asih. Tapi, ada hal lain yang membuatnya terpikat. Bukan tentang kecantikan, atau kemolekan tubuh, tetapi aura yang terpancar dalam diri Asih membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung terpikat. 

“Ke tempat biasa?” tanya lelaki itu.

Sembari tersenyum manis Asih menyandarkan kepalanya pada pundak si lelaki dan menjawab, “Ya, seperti biasa. Hari ini kau mau berapa malam?”

“Satu malam saja. Ada yang harus aku bicarakan!”

“Baiklah, jangan membuang waktu.”

 Mobil hitam itu keluar, melaju, menjauh dari tempat tempat karaoke. Tak seperti teman-teman penghibur lain yang bekerja sama dengan pemilik hotel di sekitaran tempat karaoke itu, Asih dan lelaki itu memilih tempat yang lumayan jauh untuk menikmati waktu bersama mereka. Entah dalam hitungan jam atau hanya semalam seperti permintaan si lelaki.

Di sebuah hotel yang terbilang besar di sudut kota, Asih dan lelaki itu turun dari mobil dan saling merangkul dengan hangat memasuki lobi hotel. Kamar 204, yang selalu dipesan mereka berdua, bahkan jika kamar itu sudah disewa, lelaki itu akan membayar berapa pun agar kamar itu diberikan kepadanya.

Di dalam kamar, Asih langsung berbaring di atas kasur yang sangat lembut. Lelaki itu tak langsung ikut berbaring seperti biasanya. Ia menghentikan langkah, berdiri, hanya menatap keluar jendela kamar yang cukup besar.

Asih tampak heran, dari kasur tempatnya berbaring, ia bisa melihat tubuh lelaki tinggi dengan balutan kemeja putih itu. “Kenapa? Mendekatlah, tidak seperti biasanya,” ucap Asih lembut.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Kali ini bukan nafsu,” tegas lelaki itu.

“Lalu apa? Apa hal serius yang ingin kau bicarakan pada seorang pelacur?” Asih yang mulai duduk dan mencerna situasi.

“Tapi aku tidak menganggapmu sebagai pelacur, Asih! Berhenti bicara seperti itu.” 

“Orang-orang yang mengatakan begitu, bukan mauku tapi ini memang pekerjaanku!” Nada bicara Asih semakin meninggi. 

Asih dan lelaki itu tak saling menatap. Tak seperti biasanya, lelaki itu cukup serius kali ini. Asih pun tak tahu menahu apa yang dipikirkan lelaki itu, ia hanya menjalankan pekerjaannya seperti biasa. Memuaskan nafsu pelanggan dan mendapatkan uang. 

“Kau tak mau menikah denganku?” tanya pria itu.

Asih tahu, saat ini ritme nafasnya mulai tak beraturan, pikirannya tidak bisa menjelaskan maksud dari lelaki ini. 

“Apa kau sedang mengujiku?” ujarnya.

“Tentu tidak.  Tapi aku mencintaimu, Asih!” 

“Aku pelacur. Apa yang kau pikirkan. Apa yang kau harapkan dari wanita yang setiap malam menjajakan dirinya?” ucap Asih sembari menatap punggung lelaki itu. “Apa ada cinta di dalam hati pelacur seperti ini?” sambungnya.

“Apa yang kau ragukan? Dari awal, aku jatuh cinta. Entah kau pelacur atau bukan, aku tetap mencintaimu,” ucap lelaki itu yang masih menatap gemerlap lampu kota dari balik jendela.

“Sadarlah! Aku ini pelacur, wanita yang menemanimu hanya untuk nafsu.”

“Tapi Aku mencintaimu, Asih. Sudah aku pikirkan dan jawaban yang aku temukan dari semua kekuranganmu adalah aku mencintaimu. Karena itu, aku akan mulai menjagamu.”

“Tapi kita tidak bisa bersama seperti maumu. Kita tidak saling mencintai, hanya kau! Aku tidak!” tegas Asih. “Kau tidak akan mengerti. Aku hanya butuh hidup di kota yang jahat ini. Di kampung aku dikucilkan dan di sini aku bisa mendapatkan apapun meski harus merelakan tubuhku!” teriak Asih dengan muka yang memerah dan air mata yang mulai berlinang.

Dalam tangis Asih yang pecah di malam itu, bukan tentang cinta, bahkan ia tahu tak pantas lagi untuk mendapatkan cinta tulus dari seorang lelaki. Tak hanya lelaki ini, sudah beberapa dari pelanggannya yang ingin menjadikannya seorang istri sah, tapi ia selalu menolak. Semua dari pelanggannya berlatar belakang pengusaha kaya, seperti lelaki ini. Tapi, selama ini belum pernah sekalipun muncul dalam benak Asih untuk berhenti menjadi penghibur.

Melihat Asih larut dalam tangis, lelaki itu menghampiri dan mendekap Asih dalam pelukan dan mengusap lembut kepalanya tanpa berkata sepatah katapun. Ia tak tega melihat wanita yang dicintainya menangis begitu pilu.

“Jika ada pilihan lain saat itu, aku tidak akan mengambil jalan ini. Penyesalanku sudah terpendam karena yang aku miliki adalah harapan membahagiakan keluargaku.” Asih yang semakin terhanyut dalam pelukan pada malam yang panjang, dihabiskan dengan perdebatan dan air mata, tanpa sadar matahari sudah memasuki celah-celah gorden jendela kamar. 

Lelaki itu terbangun dari tidur yang melelahkan karena perdebatan malam kemarin dan melihat Asih yang masih tertidur pulas dengan balutan selimut putih di tubuh lembutnya. Lelaki itu menyeka rambut tipis di dahi Asih lalu mengecup keningnya dengan lembut lalu ia bergegas beranjak dari tempat tidur itu dan langsung memakai pakaiannya kembali.

Lelaki  itu lantas menaruh beberapa lembar uang di atas meja yang berada tepat di sebelah tempat tidur dan meninggalkan Asih sendiri di dalam kamar  sebelum ia terbangun. Hal ini sudah biasa ia lakukan di hari kerjanya. Jika ia bermalam dengan Asih saat hari libur, lelaki itu akan mengantar Asih pulang setelah bermalam beberapa hari. 

Lelaki itu sudah tahu apa yang akan Asih lakukan setelahnya. Ia tahu, Asih bukan hanya melayani dirinya saja, akan ada banyak pelanggan yang harus dia temani entah itu di tempat karaoke atau di tempat lain. 

Di kamar hotel, Asih bangun. Ia meregangkan tubuhnya, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia merenungkan nasibnya. Ia memikirkan perkataan lelaki diajaknya berdebat dan tidur tadi malam. Lalu, tiba-tiba ia tersenyum. Ia berubah pikiran, “Bagaimana kalau aku terima saja ajakan lelaki itu untuk menikah, hidup berumah tangga, tinggal di sebuah rumah dengan nyaman?” bisiknya.

Cepat-cepat ia ke kamar mandi, cuci muka, lalu memakai baju. Ia hendak menemui lelaki itu, pagi itu juga. Ia akan menerima lamaran lelaki itu, Ia sudah bertekad akan menikah.

Seminggu kemudian, si lelaki sedang sibuk mencari Asih. Sudah seminggu sejak pertemuan terakhir di kamar 204, lelaki itu tak sempat bertemu lagi dengan Asih. Bahkan saat lelaki itu menghubungi Asih, ia tak mendapat jawaban. Satu panggilan pun tak dijawab, dan pesan yang dikirim juga tak terbalas.

Malam hari lelaki itu sempat menyambangi tempat bekerja Asih dan menanyakan kepada wanita penghibur lainnya apakah Asih masih bekerja di tempat itu. Jawaban dari beberapa temannya dan pemilik tempat itu tidak tahu di mana Asih sekarang berada. Bahkan ia tak lagi bekerja di tempat karaoke itu sejak seminggu lalu. 

Lelaki itu mulai khawatir. Ia mencari ke indekos tempat Asih tinggal, tetapi Adih tak ditemukan. Lelaki itu terus mencari tetapi tak ada satu pesan pun yang menunjukkan bahwa Asih sedang berada di mana dan baik-baik saja.

Lelaki itu masih menunggu dan terus menunggu kabar. Sesekali waktu, ia mengirimkan pesan kepada Asih bahwa ia sangat merindukannya, dan seperti biasa tak ada jawaban lagi. 

Lelaki itu mengunjungi hotel tempat biasa ia singgahi dengan Asih. Seperti biasa, kamar 204 ia pesan dan saat itu ada orang yang sudah menempati kamar itu. Lelaki itu lantas menanyakan siapa nama yang memesan kamar itu sebelumnya, dan tak ada nama Asih. Kamar itu hanya dipesan oleh tamu-tamu yang berlibur biasa. 

Sampai kemudian lelaki itu membaca berita di surat kabar kota, halaman paling depan, tertulis judul dengan huruf yang cukup besar “PSK Ditemukan Tewas Membusuk di Gorong-Gorong Kota”. Dari keterangan polisi pada berita diketahui PSK itu diduga dibunuh oleh seorang tukang ojek, pada suatu pagi, seminggu yang lalu. Gara-garanya PSK itu menolak untuk diajak kencan. [T]

BACA cerpen-cerpen lain

Rahasia Gambuh | Cerpen Made Adnyana Ole
Sang Meraga Melik | Cerpen Made Eva Trisna Dewi
Pura Subak | Cerpen DN Sarjana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura Paninjoan di Kawasan Pura Bukit Sinunggal: Meninjau Laut Bali Utara, Melihat Tuhan dalam Diri

Next Post

Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co