3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
in Panggung
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

Pementasan "Sumpah Drupadi" oleh Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: Festival Seni Bali Jani

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton, terutama mereka yang tumbuh pada era 1970-an hingga 1980-an. Gaya pementasan yang memadukan sastra, dialog, gerak, humor, dan pesan moral seolah menghidupkan kembali kejayaan drama klasik yang pernah menjadi tontonan favorit di layar kaca.

Namun, kali ini drama klasik itu hadir dalam kemasan berbeda. Dipentaskan secara kolosal di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Sabtu (11/7/2026), pertunjukan menghadirkan pengalaman artistik yang lebih megah sekaligus membuka ruang bagi penonton lintas generasi untuk berimajinasi dan berefleksi.

Usai Gubernur Bali Wayan Koster menutup Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII sekaligus membuka Festival Seni Bali Jani VIII dengan pemukulan gong, bunyi gamelan pun mengalun mengiringi dimulainya kisah. Suasana seketika berubah. Penonton yang memadati arena pertunjukan seolah diajak kembali ke masa ketika drama klasik menjadi hiburan yang dinantikan masyarakat Bali.

Pementasan “Sumpah Drupadi” oleh Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: Festival Seni Bali Jani

Meski tetap mempertahankan ciri khasnya, penampilan Sanggar Teater Mini kali ini tampil dengan skala yang jauh lebih besar. Jumlah pemain meningkat drastis, dipadukan dengan koreografi tari, tata artistik, dan iringan gamelan kolosal yang membuat pertunjukan terasa lebih dinamis sekaligus spektakuler.

Lebih dari sekadar hiburan, pementasan ini mengajak penonton merenungkan nilai-nilai kehidupan yang kian tergerus zaman. Melalui lakon “Sumpah Drupadi” yang diangkat dari epos Mahabharata, pertunjukan menghadirkan refleksi tentang keberanian melawan ketidakadilan, mempertahankan martabat, serta keyakinan bahwa dharma pada akhirnya akan mengalahkan adharma. Tak heran, penonton tetap bertahan memenuhi arena hingga kisah berakhir.

Agar alur cerita mudah dipahami, sutradara memanfaatkan teknik elidi sehingga perpindahan adegan berlangsung lebih ringkas tanpa mengurangi esensi cerita. Di sela-sela ketegangan, kelompok Celekontong Mas melalui tokoh Tompel, Sokir, dan Cedil menghadirkan humor segar yang mengundang gelak tawa. Sementara itu, kelompok Bli Ciaaattt mempersembahkan kolaborasi Gamelan Mulut (Gamut) dengan musik genggong, disusul atraksi pencak silat yang semakin memperkaya dinamika pertunjukan. Perpaduan berbagai unsur seni tersebut membuat sajian tidak hanya menghibur, tetapi juga kaya makna.

Di bawah arahan sutradara sekaligus penulis naskah I.B. Anom Ranuara, kisah dimulai dari perjudian antara Pandawa dan Korawa. Kekalahan Pandawa membuat mereka kehilangan kerajaan, harta benda, bahkan kehormatan. Bersama permaisurinya, Drupadi, mereka pun ditetapkan sebagai budak Korawa.

Konflik mencapai puncaknya ketika Duryadana, yang masih menyimpan dendam terhadap Pandawa, memerintahkan Dursasana menyeret Drupadi ke balairung Astina dan mempermalukannya dengan menanggalkan busananya di hadapan para bangsawan. Dalam keadaan tak berdaya, Drupadi memohon perlindungan Sang Hyang Widhi. Keajaiban pun terjadi. Kain yang dikenakannya terus memanjang tanpa habis meski berkali-kali ditarik Dursasana. Upaya penghinaan itu akhirnya gagal.

Pementasan “Sumpah Drupadi” oleh Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: Festival Seni Bali Jani

Peristiwa tersebut menggugah Prabu Drestarasta untuk menghentikan tindakan putranya. Raja Astina kemudian membatalkan keputusan menjadikan Pandawa sebagai budak. Sebagai gantinya, Pandawa dijatuhi hukuman menjalani pengasingan di hutan selama 13 tahun, dengan syarat apabila pada tahun terakhir mereka dikenali, masa pengasingan harus diulang dari awal.

Sebagai kesatria, Pandawa menerima keputusan itu. Namun sebelum meninggalkan Astina, Drupadi mengucapkan sumpah yang menjadi inti cerita. Ia bertekad menegakkan kembali keadilan, menghancurkan Korawa beserta sekutu-sekutunya yang adharma, sekaligus membalas penghinaan yang telah mencoreng kehormatannya.

Penyucian Jiwa

I.B. Anom Ranuara mengatakan, “Sumpah Drupadi” bukan sekadar kisah kepahlawanan. Lakon ini menjadi refleksi bahwa kezaliman tidak akan pernah menang selamanya. Kesabaran, keteguhan hati, dan keyakinan terhadap kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya.

“Awalnya kami bertolak dari tema Atma Kerthi atau penyucian jiwa. Karena ini drama klasik pewayangan, temanya sangat dekat dengan ajaran Karma Phala dan penyucian diri. Dari sana kami memilih kisah Sumpah Drupadi karena belum pernah kami pentaskan,” ujar Anom Ranuara.

Menurutnya, kisah bermula ketika Pandawa kalah berjudi sehingga seluruh kekayaan mereka dirampas dan mereka dijadikan budak. Drupadi kemudian diseret ke persidangan sebagai simbol bahwa dirinya juga menjadi milik Korawa. Rambutnya yang terurai menjadi lambang penghinaan terhadap kehormatan seorang perempuan.

Penghinaan itulah yang melahirkan sumpah Drupadi. Ia bertekad menuntut keadilan dan mencari darah Dursasana sebagai simbol penyucian atas martabat yang telah dinodai.

Pementasan “Sumpah Drupadi” oleh Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: Festival Seni Bali Jani

“Pada akhirnya, setelah mendapatkan darah Dursasana, darah itu digunakan untuk keramas sebagai simbol penyucian diri. Dalam pandangan masyarakat pada masa itu, perempuan yang telah bersuami tidak boleh disentuh laki-laki lain. Karena itu penyucian menjadi lambang pemulihan kehormatan dirinya,” jelas Anom.

Tema penyucian jiwa, lanjutnya, disisipkan hampir di setiap adegan. Salah satu yang paling kuat muncul melalui tokoh Gandari yang menyesali kegagalannya mendidik anak-anaknya sejak kecil.

“Aku menyesal tidak mampu mendidik anak-anakku. Seharusnya sejak kecil mereka dibimbing agar memiliki jiwa yang bersih. Karena itu tidak kulakukan, mereka tumbuh menjadi pribadi yang serakah dan pendendam.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa pendidikan karakter harus dimulai sejak usia dini agar seseorang memiliki hati yang bersih, mampu membedakan benar dan salah, serta tidak mudah dikuasai keserakahan maupun kebencian.

Memadukan Beragam Unsur Seni

Pentas di Panggung Terbuka Ardha Candra pada penutupan PKB XLVIII sekaligus pembukaan FSBJ VIII menjadi tantangan tersendiri bagi Sanggar Teater Mini. Ruang pertunjukan yang luas menuntut garapan dengan skala yang jauh lebih besar dibandingkan pementasan reguler.

Jika biasanya drama klasik hanya dimainkan sekitar 10 hingga 12 orang, kali ini hampir 100 seniman dilibatkan. Sanggar Teater Mini menggandeng berbagai kelompok seni, mulai dari sanggar karawitan, sanggar tari, kelompok musik tradisional, hingga komunitas pencak silat. Seluruh unsur tersebut kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan dramatik yang saling menguatkan.

Pementasan “Sumpah Drupadi” oleh Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: Festival Seni Bali Jani

Anom Ranuara menjelaskan, ritme pertunjukan sengaja dibangun naik turun agar penonton tidak merasa jenuh. Ketegangan cerita diselingi humor, tari, dan musik sehingga emosi penonton terus terjaga dari awal hingga akhir pertunjukan.

“Kalau tegang terus penonton akan jenuh. Lucu terus juga membosankan. Karena itu kami memadukan berbagai unsur seni agar pertunjukan tetap hidup, menghibur, sekaligus menyampaikan pesan moral kepada penonton,” ujarnya.

Melalui pendekatan tersebut, “Sumpah Drupadi” tidak hanya menjadi tontonan yang memikat secara visual, tetapi juga menjadi ruang refleksi mengenai martabat manusia, pentingnya pendidikan karakter, serta keyakinan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026Sanggar Teater MiniSumpah Drupadi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Next Post

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co