25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penghibur 204 | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
January 7, 2023
in Cerpen
Penghibur 204 | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

MALAM DI SEBUAH tempat karaoke. Sedari jam sepuluh malam lelaki-lelaki pengunjung sudah pada datang. Mereka perlu hiburan.

Seorang perempuan berdiri di satu sudut. Gaun ketat merah membalut lekuk tubuhnya. Ia menyalakan rokok dan sesekali mengecek telepon genggam. Perempuan itu dipanggil dengan nama Asih. Entah siapa nama panjangnya.

Di sudut kota, ia mencari uang dengan menunggu lelaki. Tentu saja lelaki yang butuh hiburan dengan cara bermalam dengan Adih. Tarif Asih mahal. Meski hanya untuk beberapa jam. Dan lebih mahal lagi jika bermalam sampai esok pagi.

Asih, dulu, hanya seorang gadis desa. Ia luntang-lantung cari kerja, tak dapat-dapat. Lama menganggur, ia memilih ikut bibinya, bekerja di kota. Dengan iming-iming gaji yang besar, Asih tergoda untuk bekerja di kota. Ia bertekad mengangkat ekonomi keluarga di kampung halaman.

Tetapi ia tak menyangka,  seperti inilah akhirnya. Ia menjadi perempuan penghibur. Menghibur pria kesepian.

Seorang lelaki dengan mobil hitam mewah memasuki halaman tempat karaoke. Asih tak banyak bicara, ia langsung mematikan rokok yang baru saja dihisap dan menghampiri mobil hitam itu. Tampak dari kaca mobil yang setengah terbuka, seorang lelaki muda tersenyum ke arah Asih, melambaikan tangan, mengucapkan salam hangat bagai seorang kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.

Lelaki itu adalah pelanggan Asih yang setiap minggu selalu datang untuk bertemu dengannya. Menggenggam gagang pintu dan masuk, Asih duduk sembari merapikan rambutnya. Lelaki itu tak melepas pandang menatap Asih sedari beranjak, berjalan hingga memasuki mobil. Lelaki itu mengagumi Asih.

Di tempat karaoke inilah, kali pertama lelaki itu bertemu Asih. Lelaki itu sebenarnya tak terlalu suka dengan dunia malam. Namun dua tahun lalu ia diajak oleh teman-teman kantornya, pikirnya hanya untuk menghibur diri untuk melepas lelah dari pekerjaan yang cukup membuat penat. Saat itulah matanya beradu dengan dua mata indah milik Asih. Hanya dari melihat tempatnya bekerja, ia bisa menebak latar belakang Asih. Tapi, ada hal lain yang membuatnya terpikat. Bukan tentang kecantikan, atau kemolekan tubuh, tetapi aura yang terpancar dalam diri Asih membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung terpikat. 

“Ke tempat biasa?” tanya lelaki itu.

Sembari tersenyum manis Asih menyandarkan kepalanya pada pundak si lelaki dan menjawab, “Ya, seperti biasa. Hari ini kau mau berapa malam?”

“Satu malam saja. Ada yang harus aku bicarakan!”

“Baiklah, jangan membuang waktu.”

 Mobil hitam itu keluar, melaju, menjauh dari tempat tempat karaoke. Tak seperti teman-teman penghibur lain yang bekerja sama dengan pemilik hotel di sekitaran tempat karaoke itu, Asih dan lelaki itu memilih tempat yang lumayan jauh untuk menikmati waktu bersama mereka. Entah dalam hitungan jam atau hanya semalam seperti permintaan si lelaki.

Di sebuah hotel yang terbilang besar di sudut kota, Asih dan lelaki itu turun dari mobil dan saling merangkul dengan hangat memasuki lobi hotel. Kamar 204, yang selalu dipesan mereka berdua, bahkan jika kamar itu sudah disewa, lelaki itu akan membayar berapa pun agar kamar itu diberikan kepadanya.

Di dalam kamar, Asih langsung berbaring di atas kasur yang sangat lembut. Lelaki itu tak langsung ikut berbaring seperti biasanya. Ia menghentikan langkah, berdiri, hanya menatap keluar jendela kamar yang cukup besar.

Asih tampak heran, dari kasur tempatnya berbaring, ia bisa melihat tubuh lelaki tinggi dengan balutan kemeja putih itu. “Kenapa? Mendekatlah, tidak seperti biasanya,” ucap Asih lembut.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Kali ini bukan nafsu,” tegas lelaki itu.

“Lalu apa? Apa hal serius yang ingin kau bicarakan pada seorang pelacur?” Asih yang mulai duduk dan mencerna situasi.

“Tapi aku tidak menganggapmu sebagai pelacur, Asih! Berhenti bicara seperti itu.” 

“Orang-orang yang mengatakan begitu, bukan mauku tapi ini memang pekerjaanku!” Nada bicara Asih semakin meninggi. 

Asih dan lelaki itu tak saling menatap. Tak seperti biasanya, lelaki itu cukup serius kali ini. Asih pun tak tahu menahu apa yang dipikirkan lelaki itu, ia hanya menjalankan pekerjaannya seperti biasa. Memuaskan nafsu pelanggan dan mendapatkan uang. 

“Kau tak mau menikah denganku?” tanya pria itu.

Asih tahu, saat ini ritme nafasnya mulai tak beraturan, pikirannya tidak bisa menjelaskan maksud dari lelaki ini. 

“Apa kau sedang mengujiku?” ujarnya.

“Tentu tidak.  Tapi aku mencintaimu, Asih!” 

“Aku pelacur. Apa yang kau pikirkan. Apa yang kau harapkan dari wanita yang setiap malam menjajakan dirinya?” ucap Asih sembari menatap punggung lelaki itu. “Apa ada cinta di dalam hati pelacur seperti ini?” sambungnya.

“Apa yang kau ragukan? Dari awal, aku jatuh cinta. Entah kau pelacur atau bukan, aku tetap mencintaimu,” ucap lelaki itu yang masih menatap gemerlap lampu kota dari balik jendela.

“Sadarlah! Aku ini pelacur, wanita yang menemanimu hanya untuk nafsu.”

“Tapi Aku mencintaimu, Asih. Sudah aku pikirkan dan jawaban yang aku temukan dari semua kekuranganmu adalah aku mencintaimu. Karena itu, aku akan mulai menjagamu.”

“Tapi kita tidak bisa bersama seperti maumu. Kita tidak saling mencintai, hanya kau! Aku tidak!” tegas Asih. “Kau tidak akan mengerti. Aku hanya butuh hidup di kota yang jahat ini. Di kampung aku dikucilkan dan di sini aku bisa mendapatkan apapun meski harus merelakan tubuhku!” teriak Asih dengan muka yang memerah dan air mata yang mulai berlinang.

Dalam tangis Asih yang pecah di malam itu, bukan tentang cinta, bahkan ia tahu tak pantas lagi untuk mendapatkan cinta tulus dari seorang lelaki. Tak hanya lelaki ini, sudah beberapa dari pelanggannya yang ingin menjadikannya seorang istri sah, tapi ia selalu menolak. Semua dari pelanggannya berlatar belakang pengusaha kaya, seperti lelaki ini. Tapi, selama ini belum pernah sekalipun muncul dalam benak Asih untuk berhenti menjadi penghibur.

Melihat Asih larut dalam tangis, lelaki itu menghampiri dan mendekap Asih dalam pelukan dan mengusap lembut kepalanya tanpa berkata sepatah katapun. Ia tak tega melihat wanita yang dicintainya menangis begitu pilu.

“Jika ada pilihan lain saat itu, aku tidak akan mengambil jalan ini. Penyesalanku sudah terpendam karena yang aku miliki adalah harapan membahagiakan keluargaku.” Asih yang semakin terhanyut dalam pelukan pada malam yang panjang, dihabiskan dengan perdebatan dan air mata, tanpa sadar matahari sudah memasuki celah-celah gorden jendela kamar. 

Lelaki itu terbangun dari tidur yang melelahkan karena perdebatan malam kemarin dan melihat Asih yang masih tertidur pulas dengan balutan selimut putih di tubuh lembutnya. Lelaki itu menyeka rambut tipis di dahi Asih lalu mengecup keningnya dengan lembut lalu ia bergegas beranjak dari tempat tidur itu dan langsung memakai pakaiannya kembali.

Lelaki  itu lantas menaruh beberapa lembar uang di atas meja yang berada tepat di sebelah tempat tidur dan meninggalkan Asih sendiri di dalam kamar  sebelum ia terbangun. Hal ini sudah biasa ia lakukan di hari kerjanya. Jika ia bermalam dengan Asih saat hari libur, lelaki itu akan mengantar Asih pulang setelah bermalam beberapa hari. 

Lelaki itu sudah tahu apa yang akan Asih lakukan setelahnya. Ia tahu, Asih bukan hanya melayani dirinya saja, akan ada banyak pelanggan yang harus dia temani entah itu di tempat karaoke atau di tempat lain. 

Di kamar hotel, Asih bangun. Ia meregangkan tubuhnya, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia merenungkan nasibnya. Ia memikirkan perkataan lelaki diajaknya berdebat dan tidur tadi malam. Lalu, tiba-tiba ia tersenyum. Ia berubah pikiran, “Bagaimana kalau aku terima saja ajakan lelaki itu untuk menikah, hidup berumah tangga, tinggal di sebuah rumah dengan nyaman?” bisiknya.

Cepat-cepat ia ke kamar mandi, cuci muka, lalu memakai baju. Ia hendak menemui lelaki itu, pagi itu juga. Ia akan menerima lamaran lelaki itu, Ia sudah bertekad akan menikah.

Seminggu kemudian, si lelaki sedang sibuk mencari Asih. Sudah seminggu sejak pertemuan terakhir di kamar 204, lelaki itu tak sempat bertemu lagi dengan Asih. Bahkan saat lelaki itu menghubungi Asih, ia tak mendapat jawaban. Satu panggilan pun tak dijawab, dan pesan yang dikirim juga tak terbalas.

Malam hari lelaki itu sempat menyambangi tempat bekerja Asih dan menanyakan kepada wanita penghibur lainnya apakah Asih masih bekerja di tempat itu. Jawaban dari beberapa temannya dan pemilik tempat itu tidak tahu di mana Asih sekarang berada. Bahkan ia tak lagi bekerja di tempat karaoke itu sejak seminggu lalu. 

Lelaki itu mulai khawatir. Ia mencari ke indekos tempat Asih tinggal, tetapi Adih tak ditemukan. Lelaki itu terus mencari tetapi tak ada satu pesan pun yang menunjukkan bahwa Asih sedang berada di mana dan baik-baik saja.

Lelaki itu masih menunggu dan terus menunggu kabar. Sesekali waktu, ia mengirimkan pesan kepada Asih bahwa ia sangat merindukannya, dan seperti biasa tak ada jawaban lagi. 

Lelaki itu mengunjungi hotel tempat biasa ia singgahi dengan Asih. Seperti biasa, kamar 204 ia pesan dan saat itu ada orang yang sudah menempati kamar itu. Lelaki itu lantas menanyakan siapa nama yang memesan kamar itu sebelumnya, dan tak ada nama Asih. Kamar itu hanya dipesan oleh tamu-tamu yang berlibur biasa. 

Sampai kemudian lelaki itu membaca berita di surat kabar kota, halaman paling depan, tertulis judul dengan huruf yang cukup besar “PSK Ditemukan Tewas Membusuk di Gorong-Gorong Kota”. Dari keterangan polisi pada berita diketahui PSK itu diduga dibunuh oleh seorang tukang ojek, pada suatu pagi, seminggu yang lalu. Gara-garanya PSK itu menolak untuk diajak kencan. [T]

BACA cerpen-cerpen lain

Rahasia Gambuh | Cerpen Made Adnyana Ole
Sang Meraga Melik | Cerpen Made Eva Trisna Dewi
Pura Subak | Cerpen DN Sarjana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura Paninjoan di Kawasan Pura Bukit Sinunggal: Meninjau Laut Bali Utara, Melihat Tuhan dalam Diri

Next Post

Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co