26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penghibur 204 | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
January 7, 2023
in Cerpen
Penghibur 204 | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

MALAM DI SEBUAH tempat karaoke. Sedari jam sepuluh malam lelaki-lelaki pengunjung sudah pada datang. Mereka perlu hiburan.

Seorang perempuan berdiri di satu sudut. Gaun ketat merah membalut lekuk tubuhnya. Ia menyalakan rokok dan sesekali mengecek telepon genggam. Perempuan itu dipanggil dengan nama Asih. Entah siapa nama panjangnya.

Di sudut kota, ia mencari uang dengan menunggu lelaki. Tentu saja lelaki yang butuh hiburan dengan cara bermalam dengan Adih. Tarif Asih mahal. Meski hanya untuk beberapa jam. Dan lebih mahal lagi jika bermalam sampai esok pagi.

Asih, dulu, hanya seorang gadis desa. Ia luntang-lantung cari kerja, tak dapat-dapat. Lama menganggur, ia memilih ikut bibinya, bekerja di kota. Dengan iming-iming gaji yang besar, Asih tergoda untuk bekerja di kota. Ia bertekad mengangkat ekonomi keluarga di kampung halaman.

Tetapi ia tak menyangka,  seperti inilah akhirnya. Ia menjadi perempuan penghibur. Menghibur pria kesepian.

Seorang lelaki dengan mobil hitam mewah memasuki halaman tempat karaoke. Asih tak banyak bicara, ia langsung mematikan rokok yang baru saja dihisap dan menghampiri mobil hitam itu. Tampak dari kaca mobil yang setengah terbuka, seorang lelaki muda tersenyum ke arah Asih, melambaikan tangan, mengucapkan salam hangat bagai seorang kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.

Lelaki itu adalah pelanggan Asih yang setiap minggu selalu datang untuk bertemu dengannya. Menggenggam gagang pintu dan masuk, Asih duduk sembari merapikan rambutnya. Lelaki itu tak melepas pandang menatap Asih sedari beranjak, berjalan hingga memasuki mobil. Lelaki itu mengagumi Asih.

Di tempat karaoke inilah, kali pertama lelaki itu bertemu Asih. Lelaki itu sebenarnya tak terlalu suka dengan dunia malam. Namun dua tahun lalu ia diajak oleh teman-teman kantornya, pikirnya hanya untuk menghibur diri untuk melepas lelah dari pekerjaan yang cukup membuat penat. Saat itulah matanya beradu dengan dua mata indah milik Asih. Hanya dari melihat tempatnya bekerja, ia bisa menebak latar belakang Asih. Tapi, ada hal lain yang membuatnya terpikat. Bukan tentang kecantikan, atau kemolekan tubuh, tetapi aura yang terpancar dalam diri Asih membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung terpikat. 

“Ke tempat biasa?” tanya lelaki itu.

Sembari tersenyum manis Asih menyandarkan kepalanya pada pundak si lelaki dan menjawab, “Ya, seperti biasa. Hari ini kau mau berapa malam?”

“Satu malam saja. Ada yang harus aku bicarakan!”

“Baiklah, jangan membuang waktu.”

 Mobil hitam itu keluar, melaju, menjauh dari tempat tempat karaoke. Tak seperti teman-teman penghibur lain yang bekerja sama dengan pemilik hotel di sekitaran tempat karaoke itu, Asih dan lelaki itu memilih tempat yang lumayan jauh untuk menikmati waktu bersama mereka. Entah dalam hitungan jam atau hanya semalam seperti permintaan si lelaki.

Di sebuah hotel yang terbilang besar di sudut kota, Asih dan lelaki itu turun dari mobil dan saling merangkul dengan hangat memasuki lobi hotel. Kamar 204, yang selalu dipesan mereka berdua, bahkan jika kamar itu sudah disewa, lelaki itu akan membayar berapa pun agar kamar itu diberikan kepadanya.

Di dalam kamar, Asih langsung berbaring di atas kasur yang sangat lembut. Lelaki itu tak langsung ikut berbaring seperti biasanya. Ia menghentikan langkah, berdiri, hanya menatap keluar jendela kamar yang cukup besar.

Asih tampak heran, dari kasur tempatnya berbaring, ia bisa melihat tubuh lelaki tinggi dengan balutan kemeja putih itu. “Kenapa? Mendekatlah, tidak seperti biasanya,” ucap Asih lembut.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Kali ini bukan nafsu,” tegas lelaki itu.

“Lalu apa? Apa hal serius yang ingin kau bicarakan pada seorang pelacur?” Asih yang mulai duduk dan mencerna situasi.

“Tapi aku tidak menganggapmu sebagai pelacur, Asih! Berhenti bicara seperti itu.” 

“Orang-orang yang mengatakan begitu, bukan mauku tapi ini memang pekerjaanku!” Nada bicara Asih semakin meninggi. 

Asih dan lelaki itu tak saling menatap. Tak seperti biasanya, lelaki itu cukup serius kali ini. Asih pun tak tahu menahu apa yang dipikirkan lelaki itu, ia hanya menjalankan pekerjaannya seperti biasa. Memuaskan nafsu pelanggan dan mendapatkan uang. 

“Kau tak mau menikah denganku?” tanya pria itu.

Asih tahu, saat ini ritme nafasnya mulai tak beraturan, pikirannya tidak bisa menjelaskan maksud dari lelaki ini. 

“Apa kau sedang mengujiku?” ujarnya.

“Tentu tidak.  Tapi aku mencintaimu, Asih!” 

“Aku pelacur. Apa yang kau pikirkan. Apa yang kau harapkan dari wanita yang setiap malam menjajakan dirinya?” ucap Asih sembari menatap punggung lelaki itu. “Apa ada cinta di dalam hati pelacur seperti ini?” sambungnya.

“Apa yang kau ragukan? Dari awal, aku jatuh cinta. Entah kau pelacur atau bukan, aku tetap mencintaimu,” ucap lelaki itu yang masih menatap gemerlap lampu kota dari balik jendela.

“Sadarlah! Aku ini pelacur, wanita yang menemanimu hanya untuk nafsu.”

“Tapi Aku mencintaimu, Asih. Sudah aku pikirkan dan jawaban yang aku temukan dari semua kekuranganmu adalah aku mencintaimu. Karena itu, aku akan mulai menjagamu.”

“Tapi kita tidak bisa bersama seperti maumu. Kita tidak saling mencintai, hanya kau! Aku tidak!” tegas Asih. “Kau tidak akan mengerti. Aku hanya butuh hidup di kota yang jahat ini. Di kampung aku dikucilkan dan di sini aku bisa mendapatkan apapun meski harus merelakan tubuhku!” teriak Asih dengan muka yang memerah dan air mata yang mulai berlinang.

Dalam tangis Asih yang pecah di malam itu, bukan tentang cinta, bahkan ia tahu tak pantas lagi untuk mendapatkan cinta tulus dari seorang lelaki. Tak hanya lelaki ini, sudah beberapa dari pelanggannya yang ingin menjadikannya seorang istri sah, tapi ia selalu menolak. Semua dari pelanggannya berlatar belakang pengusaha kaya, seperti lelaki ini. Tapi, selama ini belum pernah sekalipun muncul dalam benak Asih untuk berhenti menjadi penghibur.

Melihat Asih larut dalam tangis, lelaki itu menghampiri dan mendekap Asih dalam pelukan dan mengusap lembut kepalanya tanpa berkata sepatah katapun. Ia tak tega melihat wanita yang dicintainya menangis begitu pilu.

“Jika ada pilihan lain saat itu, aku tidak akan mengambil jalan ini. Penyesalanku sudah terpendam karena yang aku miliki adalah harapan membahagiakan keluargaku.” Asih yang semakin terhanyut dalam pelukan pada malam yang panjang, dihabiskan dengan perdebatan dan air mata, tanpa sadar matahari sudah memasuki celah-celah gorden jendela kamar. 

Lelaki itu terbangun dari tidur yang melelahkan karena perdebatan malam kemarin dan melihat Asih yang masih tertidur pulas dengan balutan selimut putih di tubuh lembutnya. Lelaki itu menyeka rambut tipis di dahi Asih lalu mengecup keningnya dengan lembut lalu ia bergegas beranjak dari tempat tidur itu dan langsung memakai pakaiannya kembali.

Lelaki  itu lantas menaruh beberapa lembar uang di atas meja yang berada tepat di sebelah tempat tidur dan meninggalkan Asih sendiri di dalam kamar  sebelum ia terbangun. Hal ini sudah biasa ia lakukan di hari kerjanya. Jika ia bermalam dengan Asih saat hari libur, lelaki itu akan mengantar Asih pulang setelah bermalam beberapa hari. 

Lelaki itu sudah tahu apa yang akan Asih lakukan setelahnya. Ia tahu, Asih bukan hanya melayani dirinya saja, akan ada banyak pelanggan yang harus dia temani entah itu di tempat karaoke atau di tempat lain. 

Di kamar hotel, Asih bangun. Ia meregangkan tubuhnya, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia merenungkan nasibnya. Ia memikirkan perkataan lelaki diajaknya berdebat dan tidur tadi malam. Lalu, tiba-tiba ia tersenyum. Ia berubah pikiran, “Bagaimana kalau aku terima saja ajakan lelaki itu untuk menikah, hidup berumah tangga, tinggal di sebuah rumah dengan nyaman?” bisiknya.

Cepat-cepat ia ke kamar mandi, cuci muka, lalu memakai baju. Ia hendak menemui lelaki itu, pagi itu juga. Ia akan menerima lamaran lelaki itu, Ia sudah bertekad akan menikah.

Seminggu kemudian, si lelaki sedang sibuk mencari Asih. Sudah seminggu sejak pertemuan terakhir di kamar 204, lelaki itu tak sempat bertemu lagi dengan Asih. Bahkan saat lelaki itu menghubungi Asih, ia tak mendapat jawaban. Satu panggilan pun tak dijawab, dan pesan yang dikirim juga tak terbalas.

Malam hari lelaki itu sempat menyambangi tempat bekerja Asih dan menanyakan kepada wanita penghibur lainnya apakah Asih masih bekerja di tempat itu. Jawaban dari beberapa temannya dan pemilik tempat itu tidak tahu di mana Asih sekarang berada. Bahkan ia tak lagi bekerja di tempat karaoke itu sejak seminggu lalu. 

Lelaki itu mulai khawatir. Ia mencari ke indekos tempat Asih tinggal, tetapi Adih tak ditemukan. Lelaki itu terus mencari tetapi tak ada satu pesan pun yang menunjukkan bahwa Asih sedang berada di mana dan baik-baik saja.

Lelaki itu masih menunggu dan terus menunggu kabar. Sesekali waktu, ia mengirimkan pesan kepada Asih bahwa ia sangat merindukannya, dan seperti biasa tak ada jawaban lagi. 

Lelaki itu mengunjungi hotel tempat biasa ia singgahi dengan Asih. Seperti biasa, kamar 204 ia pesan dan saat itu ada orang yang sudah menempati kamar itu. Lelaki itu lantas menanyakan siapa nama yang memesan kamar itu sebelumnya, dan tak ada nama Asih. Kamar itu hanya dipesan oleh tamu-tamu yang berlibur biasa. 

Sampai kemudian lelaki itu membaca berita di surat kabar kota, halaman paling depan, tertulis judul dengan huruf yang cukup besar “PSK Ditemukan Tewas Membusuk di Gorong-Gorong Kota”. Dari keterangan polisi pada berita diketahui PSK itu diduga dibunuh oleh seorang tukang ojek, pada suatu pagi, seminggu yang lalu. Gara-garanya PSK itu menolak untuk diajak kencan. [T]

BACA cerpen-cerpen lain

Rahasia Gambuh | Cerpen Made Adnyana Ole
Sang Meraga Melik | Cerpen Made Eva Trisna Dewi
Pura Subak | Cerpen DN Sarjana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura Paninjoan di Kawasan Pura Bukit Sinunggal: Meninjau Laut Bali Utara, Melihat Tuhan dalam Diri

Next Post

Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Cerita Bagus Ibu Muda: Pandemi, Inspirasi ARMY dan BTS

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co