6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Goyang Tiktok STAH Mpu Kuturan dan Upaya Baik Menciptakan Media Seksi Pendidikan

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 17, 2022
in Khas
Goyang Tiktok STAH Mpu Kuturan dan Upaya Baik Menciptakan Media Seksi Pendidikan

Sejumlah tangkapan layar video pendek karya mahasiswa MPU Kuturan untuk memperkenlakan kampus mereka

STAH Mpu Kuturan, Singaraja, Bali, memilih tiktok sebagai media promosi, sebagai perangsang minat calon mahasiswa untuk kuliah di kampus itu. Pilihan ini bisa disebut kreatif sekaligus juga punya resiko.

Pilihan penggunaan tiktok atau video-video pendek sebagai media promosi tentu saja bukan pilihan baru. Banyak lembaga, formal atau non formal, menggunakan aplikasi tiktok untuk “menjual” apa pun yang hendak dijual.

Tentu, pilihan jatuh pada tiktok, reel, atau aplikasi video pendek lain, karena pengguna tiktok dan aplikasi sejenis itu memang jumlahnya melimpah, bahkan kini jauh lebih melimpah dari media sosial lain yang lebih dulu dikenal.

Begitu larisnya tiktok, hingga banyak kampus ikut kepincut mempromosikan program-program studinya lewat aplikasi itu. Termasuk STAH Mpu Kuturan.

***

Kenapa STAH Mpu Kuturan memilih video pendek untuk diunggah di aplikasi tiktok atau aplikasi sejenis itu?

Pandemi. Karena pandemi, terbataslah gerak panitia penerimaan mahasiswa baru di STAH Mpu Kuturan untuk memperkenalkan kampus kepada calon mahasiswa baru secara luring. Selain tak bisa ramai-ramai, juga harus menerapkan protocol kesehatan secara ketat.

“Kami kemudian berpikir untuk mengoptimalkan penggunaan media sosial,” kata Gede Yoga Satria Wibawa, ketua panitia penerimaan mahasiswa baru di STAH Mpu Kuturan.

Sosialisasi lewat media sosial, pada zaman kini, tentu dirasa lebih efektif, ketimbang misalnya menyebarkan brosur atau pamphlet tercetak secara manual di tempat-tempat umum.   

“Kadang anak-anak muda sekarang susah diajak untuk membaca brosur, flyer atau pamplet. Kalau pun dibaca, itu sambil lalu saja,” kata Yoga.

Belum lama ini, cerita Yoga, mahasiswa dan dosen STAH Mpu Kuturan melakukan acara bersih-bersih terkait Dies Natalis di Pelabuhan Tua Buleleng. Dalam acara itu diisi juga kegiatan penyebaran brosur. Yang terjadi kemudian sungguh menggelikan.

 “Selain membersihkan sampah di pelabuhan, kami juga membersihkan brosur yang sebelumnya kami sebarkan kepada pengunjung pelabuhan,” kata Yoga sambil tertawa.

Iya, iyalah. Bagi anak millennial, brosur itu tak jelas jenis kelaminnya. Jadi, brosur sudah mahal, sasarannya belum tentu tercapai.

Kenapa tiktok?

“Kami sebenarnya punya video yang di-share di youtubue,” kata Yoga.

Nah, masalahnya untuk mengalihkan perhatian nitizen ke kanal youtube STAH Mpu Kuturan atau Mpu Kuturan TV itu agak susah. Cuplikannya diunggah di media sosial lain, tapi untuk kemudian menonton secara lengkap di youtube, hanya beberapa saja yang mau.

Tentu lain dengan tiktok. Video pendek dibuat dengan konsep khas anak muda. Isinya gerakan tubuh yang energik. Bisa berupa goyang, bisa tarian, biasa saja gerakan-gerakan senam yang menggairahkan. Pendek dan ringkas. Itu menarik. Anak muda tertarik, calon mahasiswa baru bisa lebih terangsang minatnya untuk masuk ke STAH Mpu Kuturan.

“Video pendek semacam tiktok itu lebih mudah dibagikan dalam bentuk story dan postingan di media sosial seperti facebook atau IG,” kata Yoga.

Apalagi, menurut Yoga, penyimak tiktok, memang sebagian besar anak muda, rentang umurnya mulai dari  14 hingga 35 tahun. Dan anak-anak semuda itu adalah pasar bagi lembaga pendidikan tinggi, termasuk STAH Mpu Kuturan.

Pastilah tiktok bagi STAH Mpu Kuturan bukan barang baru. Banyak mahasiswa, pegawai dan juga dosen yang suka memainkan tiktok. Bahkan sejumlah mahasiswa yang main tiktok juga dikenal sebagai selebgram yang punya banyak penggemar. Sehingga, untuk membuat konten tiktok, bagi STAH Mpu Kuturan bukan hal sulit.

“Konten-kontennya murni dibuat dengan memberdayakan mahasiswa dan dosen,” ujar Yoga.  

***

Jadi, tiktok adalah pilihan sadar bagi kampus, bukan sekadar ikut-ikutan. Termasuk juga STAH Mpu Kuturan. Namun, boleh jadi, tiktok STAH Mpu Kuturan menjadi lebih menarik perhatian dari  tiktok kampus lain, tentu karena STAH Mpu Kuturan adalah lembaga pendidikan berbasis agama dengan nama sakral Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH).

Mungkin akan tampak biasa jika tiktok dimanfaatkan oleh kampus yang memang punya basis pendidikan tekhnologi informasi, atau basis pendidikan aplikasi media digital. Tapi, ini, STAH, kampus berbasis agama. Agama Hindu.

Di satu sisi lembaga itu dituntut menjaga citra sebagai pemegang mandat besar dalam pendidikan dan pelestarian nilai-nilai agama atau nilai-nilai moral kemanusiaan. Di sisi lain, saat tiktokan, lembaga ini harus mengadopsi daya tarik tiktok itu sendiri.       

Nah, sialnya, salah satu daya tarik tiktok, bahkan bisa disebut sebagai nyawa dari tiktok, adalah goyang tubuh. Goyang personal, goyang bersama, goyang biasa, goyang seksi, goyang erotis. Tak usah dibantah, banyak nitizen kecanduan buka tiktok, ya, itu, karena ingin melihat goyang seksi di layar HP. Sekali lagi, ini susah dibantah.    

BACA JUGA:

HINDU & KEJAWEN BERHALA?
BALI PERLU KESADARAN UGRAŚRAWA

Dan, ini adalah tantangan bagi dunia pendidikan, termasuk STAH Mpu Kuturan. Tantangan terbesar adalah menundukkan citraan yang sudah terbentuk sejak awal aplikasi itu diciptakan. Lembaga pendidikan pengguna aplikasi tiktok, atau aplikasi sejenisnya, sebagai media promosi, termasuk juga sebagai media pendidikan dan pelestari seni-budaya, dituntut juga untuk melesakkan citraan baru, Sehingga pendidikan pun bisa menjadi seksi, diminati, dan menggairahkan.     

Tentu bukan kerja mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa. Dulu, radio siaran niaga isinya hanya lagu-lagu dan iklan. Radio, dulu, semata-mata dianggap sebagai media penghibur. Tapi, sejak sekitar tahun 1990-an radio kemudian dikenal juga sebagai media pendidikan dan pelestari budaya Bali.

Munculnya acara Gadang Gantal di RRI Denpasar dan acara Sudah Lepet Jukut Undis di RRI Singaraja adalah bukti bahwa citraan radio sebagai media semata-mata penghidur bisa dibanting setirnya menjadi media pendidikan. Acara Dagang Gantal dan acara Sudang Lepet Jukut Undis adalah acara yang menyiarkan kegiatan pesantian seperti mageguritan, makidung, macapat, dan sejenisnya. Acara itu sangat terkenal dan diminati di Bali sekira tahun 1990-an.

Acara itu kemudian ditiru oleh radio-radio swasta niaga. Bahkan banyak radio swasta kemudian menyediakan program acara dengan penyiar berbahasa Bali. Bahkan lagi, ada radio yang secara penuh menyiarkan acaranya dengan bahasa Bali, termasuk siaran berita.

Pemahaman tentang hiburan pun berubah Sebelumnya, yang dianggap hiburan hanya lagu-lagu pop, namun kemudian geguritan, bahkan berita dan program pendidikan pun dianggap hiburan.

BACA JUGA:

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA
MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

Di dunia tiktok, saat ini yang dianggap paling menghibur mungkin adalah goyang seksi, tapi suatu bsaat nanti bisa saja tari-tarian tradisional yang diciptakan dengan sedemikian rupa menjadi hal paling menghibur pada aplikasi itu.

Atau, pendidikan moral dan spiritual, pun bisa jadi hal yang paling dicari jika video pendek itu digarap dengan konsep yang  serius dan kreatif.  Jadi, aplikasi boleh lumrah, tapi konsep harus original. Bukan ikut-ikut, tapi ikut menciptakan.

***

STAH Mpu Kuturan tentu saja sudah memikirkan pertentangan dua citraan itu. Citraan tiktok dan citraan lembaga.  

“Kami tetap memikirkan konsep penciptaan video itu agar tidak kebablasan yang justru bisa menimbulkan citraan yang tak baik,” kata Gede Yoga Satria Wibawa.

Kata Yoga, dirinya selaku panitia selalu mewanti-wanti mahasiswa agar memperhatikan pemilihan kostum dan memperhatikan koreagrafi gerakan-gerakannya. Kostum tidak boleh terbuka, dan lebih banyak menggunakan pakaian adat.

Kalau pun tak menggunakan pakaian adat, tetap harus dipilih kostum yang sopan dan tidak menimbulkan persepsi negatif. Gerakan tubuh juga disesuaikan dengan gerakan-gerakan tari.

“Agar yang menonjol adalah nilai seninya, bukan nilai pornonya,” kata Yoga.

Menurut Yoga, melalui media tiktok ini mahasiswa STAH Mpu Kuturan juga ingin menunjukkan kepada nitizen tentang penggunaan media sosial yang baik.

Memang, diakui, nitizen sebagian besar mencari artis dan gerakan erotis. Namun sebagai kampus berbasis agama, STAH harus mengedukasi masyarakat. Apalagi, dalam video itu dimunculkan logo STAH yang bisa diartikan sebagai simbol agama.

“Kami harus melakukan edukasi, ini lho media sosial yang juga bisa dipakai sebagai fungsi edukasi,” kata Yoga.

***

Video pendek dengan konten seleb berpakaian adat atau pakaian nasional, dengan gerakan tari tradisi, plus kata-kata bijak, sesungguhnya bukan hal baru di media sosial. Banyak lembaga atau seleb media sosial di Bali sudah berupaya menciptakan konten semacam itu di tiktok, , IG atau facebook.

BACA JUGA:

Parade Pelegongan di DNA Denpasar | Esensi Legong Kembang Ura, Benarkah Membuat Rakyat Sejahtera?
Parade Pelegongan di DNA Denpasar | Esensi Legong Kembang Ura, Benarkah Membuat Rakyat Sejahtera?

Upaya-upaya semacam itu bisa diartikan sebagai upaya menciptakan citraan baru, misalnya citraan pendidikan, atau citraan sebagai pelestari seni-budaya, dan sejenisnya, di tengah citraan erotis yang jadi daya tarik konten-konten selebritis di dunia hiburan, atau seleb yang memang bertujuan memamerkan keseksian tubuh mereka.

Namun upaya itu masih terkesan iseng-iseng, pengisi waktu luang, atau paling serius untuk mengejar endorse agar mendapatkan cuan. Pemanfaatan aplikasi video-video pendek itu belum menjadi semacam gerakan serius, misalnya sebagai sarana pendidikan agama, seni dan budaya dengan konsep yang terukur, terpadu, dan tetap menarik bagi kaum millennial sebagaimana kaum millennial menggandrungi goyang seksi dan video lucu-lucuan tanpa makna.

Ini pasti saja pekerjaan sulit. Meski sulit, lembaga-lembaga pendidikan, termasuk STAH Mpu Kuturan, harus memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Jika pengetahuan agama dan kebaikan-kebaikan hidup sudah ada di lontar dan buku-buku, kini pengetahuan agama dan pengetahuan bijak sebagai pedoman hidup sebaiknya ada pada aplikasi-aplikasi digital yang ringan dan menghibur. Dengan begitu, nanti, yang seksi bukan hanya tubuh, tapi pengetahuan.  [T]    

BACA JUGA:

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan
Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Tags: media sosialPendidikanSTAH Mpu KuturanSTAHN Mpu Kuturantiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mie Instan, Susu, dan Masa Depan

Next Post

Dilema SMA Bali Mandara | Ketika Marhaen Lupakan Kaum Marjinal

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Dilema SMA Bali Mandara | Ketika Marhaen Lupakan Kaum Marjinal

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co