12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tergerusnya Demokrasi Indonesia

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
March 3, 2021
in Opini
Hilangnya Peran Notaris Dalam Pendirian PT UMKM

Dr. I. Made Pria Dharsana. SH. M.Hum

Perjalanan Demokrasi Indonesia dari tahun ke tahun nampaknya menurun sebagaimana  hasil Indek demokrasi, dan ini terjadi di seluruh dunia, salah satu contoh juga terjadi di Amerika dengan  terpilihnya Donal Trumph yang memenangkan pemilihan Presiden dengan  populisme yang sangat kuat. Amerika sebagai sebuah negara demokrasi terbesar di dunia yang seharusnya dapat menguatkan  demokrasi akan tetapi justru Trumph melakukan  apa yang disebut membajak demokrasi. Demokrasi mati ditangan seorang demokrat.

Kultur politik di Indonesia begitu kuat, akan tetapi belakangan ini dikatakan semakin memburuk, yang menyebabkan kemunduran indeks demokrasi Indonesia 2020. sebagaimana disampaikan oleh The Economist Intelligence Unit (EIU) penurunan ini, menjadikan terendah sejak 14 tahun terakhir. Secara global juga terjadi penurunan nilai rata-rata indeks. Dengan skor Indonesia 6,30 di tahun 2020, yang sebelumnya 6,48 ditahun 2019. Dengan skor  rata-rata 6,30 Indonesia tergolong Flawed democracy (demokrasi yang cacat).

Dari lima aspek demokrasi yang diukur EIU, penurunan tajam dialami Indonesia pada indicator budaya politik yang hanya memperoleh 4,38 poin. Skor ini anjlok dari capaian tahun 2019 yakni 5,63. Aspek budaya politik indikator yang dikaji, antara lain, konsesus tentang demokrasi, persepsi atas kepemimpinan di legislative dan eksekutif , dan persepsi kepemimpinan militer. Selain itu ada persepsi lainnya termasuk soal ekonomi dan pemisahan institusi keagamaan dengan pemerintahan.

Sedangkan skor Indonesia stagnan di tiga aspek yakni partisipasi politik (6,11) proses electoral dan pluralisme (7,92), dan kebebasan sipil (5,59). Satu-satunya yang membaik ialah keberfungsian pemerintahan (7,50) naik dari 2019 yang 7,14. (kompas, 3 februari 2021).

Sejak Indonesia Merdeka di tahun 1945, negeri kita terus bergumul untuk mewujudkan kultur politik demokrasi. (Tjuk Atmadi dalam Bung Hatta, 2004). Presiden RI Pertama Ir. Soekarno, mencetuskan gagasan untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran rakyat, melalui Demokrasi Terpimpin. Sedangkan Presiden RI Kedua Jenderal Soeharto, ingin mewujudkan keadilan dan kemakmuran rakyat tersebut, dalam suasana pembangunan nasional dengan menerapkan apa yang disebut sebagai Demokrasi Pancasila.

Akan tetapi kita tahu bahwa gagasan , ide cemerlang yang  dilaksanakan kemudian tidak secemerlang hasilnya. Banyak hal yang di tengah jalan atau diujung jalan berbelok ke arah yang tidak diharapkan. Tjuk Atmadi mengatakan inilah celakanya, keindahan kultur politik tersebut selalu saja terjebak kultur kekuasaan yang dinilai koruptif, dalam arti sistem kekuasaan yang selalu saja membusuk pada sendi-sendi tertentu. Tjuk Admadi , melihat bahwa dalam hal ini, sistem kekuasaan siapapun diseluruh dunia ini sudah terperangkap oleh frasa yang diruangkan oleh sejarawan Inggris Lord Acton, yang mengatakan bahwa “power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”, kekuasaan itu cenderung membusuk, dan kekuasaan absolut akan membusuk total.

Jika demikian yang disampaikan Tjuk Atmadi dalam bukunya Bung Hatta, apakah kultur politik kita semakin buruk sehingga menyebabkan indeks demokrasi kita semakin menurun? Kajian yang mendalam sangat penting untuk terus dilakukan mengingat simpulan sampai sekarang semakin demokrasi sebuah bangsa maka rakyatnya semakin sejahtera. Walaupun teori ini sekarang mendapat tantangan yang kuat mengingat bagaimana negeri China yang menjalankan pemerintahan sosialis, tanpa “demokrasi” ternyata rakyatnya secara ekonomi sejahtera. China telah membalikkan apa arti demokrasi. Sehingga muncul ucapan untuk apa demokrasi jika kemiskinan dan korupsi merajalela?

Demokrasi tidak hanya procedural

Bagaimana membangun sebuah Negara demokrasi , tergantung type Negara demokrasi apa yang dijalankan sebuah bangsa. Ada beberapa type demokrasi  yaitu; Demokrasi secara Konstitutional (constitutional), Demokrasi secara Substantif (Substantive), Demokrasi secara Prosedural (Procedural) dan Demokrasi secara Orientasi Proses (process-oriented).  

1. Demokrasi secara Konstitusional. Dalam demokrasi ini kajian demokrasi dikonsentrasikan pada produk undang-undang yang dihasilkan suatu rezim (pemerintah yang berkuasa) dan berhubungan dengan dinamika proses aktivitas pada politik itu sendiri;

2. Demokrasi secara Substantif. Demokrasi pada tatanan ini difokuskan kepada kondisi kehidupan dan politik yang dikembangkan pada suatu rezim.  Rezim yang dimaksud mengenai kebebasan individual, keamanan, kesetaraan, kesejahteraan sosial, pilihan publik ataupun resolusi konflik secara damai;

3. Demokrasi secara Prosedural.  Demokrasi model ini lebih kepada memperhatikan prosedur-prosedur yang berjalan dan terjadi di pemerintahan yang dilakukan sendiri oleh pemerintah yang kajian berfokus pada aspek pemilihan umum;

4. Demokrasi secara Orientasi. Pada demokrasi ini secara Orientasi Proses sangat berbeda dengan tiga pengertian demokrasi sebelumnya, yang dimaksud disini merupakan pengidentifikasi sejumlah persyaratan minimum agar suatu pemerintahan atau Negara dinyatakan sebagai demokrasi. (CharlesTilly , Kelemahan dan Keterbatasan Demokrasi dalam Seta Basri ,2021)

Nanda Ayu AR menyebutkan Demokrasi Prosedural adalah (aturan, tata cara demokrasi), yaitu demokrasi merupakan sistem yang ditegaskan oleh prosedur-prosedur formal yang memungkinkan budaya demokrasi itu berjalan. Aspek prosedural demokrasi itu mencakup adanya Pemilu yang bebas dan adil, adanya DPR, dan adanya lembaga yudikatif yang independen. Sedangkan demokrasi substantif adalah (nilai hakiki demokrasi), yaitu menekankan demokrasi sebagai suatu nilai-nilai yang sesungguhnya. Beberapa nilai hakiki demokrasi adalah kebebasan, budaya menghormati hak dan kebebasan orang lain, adanya pluralisme budaya, adanya toleransi, anti kekerasan dan lain- lain.

Sejak Era Reformasi nampak demokrasi Indonesia dapat dikatakan telah memenuhi ketentuan demokrasi prosedural, dengan adanya PEMILU, adanya peralihan kekuasaan setiap 5 tahun sekali secara langsung, bebas dan rahasia, telah memiliki beberapa Presiden yang terpilih melalui Pilpres yang transparan yang dipercaya oleh rakyat, walaupun di dalam perjalanannya adanya gugatan hasil Pilpres ke Mahkamah Konstitusi, ini sangat bagus, karena sengketa pemilu ataupun Pilpres diselesaikan di ruang siding pengadilan, bukan diselesaikan lewat sadang jalanan. Dapat dikatakan Pilpres berjalan aman. Namun apakah demokrasi yang dijalankan tersebut sudah memenuhi  ketentuan demokrasi substansial, tidak cukup hanya pemenuhan syarat sebuah demokrasi procedural saja.

Dalam menjalan Demokrasi di sebuah negara sebesar Indonesia tidaklah dapat hanya menjalankan demokrasi prosedural ,dengan diadakannya Pemilu, Pilkada, Pilpres secara periodik yang hanya menghasilkan legislatif dan eksekutif yang kering tanpa arah yang jelas.   Demokrasi harus mengatasi proseduralnya yang sekarang, meskipun proseduralnya sendiri tidak dapat dihilangkan tetapi demokrasi substansial mutlak diperlukan. (Munawar Noor, 2018). Sependapat seperti apa yang dikatakan Charles Tilly, titik lemah dalam proses Pemilu ini krusial, oleh sebab lewat prosedur tersebut perubahan kebijakan dan personil pemerintahan akan terjadi, nah jika proses dan prosedur pelaksanaan Pemilu tidak mengandung nuansa kompetitif, maka cara prosedural ini suatu Negara tidaklah demokratis.

Jika mencontohkan beberapa pemilihan yang kompetitif yang dilaksanakan tanpa adanya tekanan dan upaya yang dapat dikatakan  demokrati prosedural seperti  dalam Pilkada DKI 2017 dan Pilpres 2019 terjadi pelaksanaan pilkada dan pemilihan Presiden yang yang dalam pelaksanaannya mengalami pembelahan pemilih. Hal ini terjadi apakah  disebabkan menguatnya politik identitas. Tidak dipahami adanya ruang terbuka kebebasan dalam menentukan pilihan dan menghargai setiap pilihan yang merupakan hak yang dilindungi oleh Undang-Undang.

Keterbelahan masyarakat pemilih yang disebabkan menguatnya polarisasi ditingkat elite kemudian lebih keras terjadi di masyarakat. adanya faksi faksi dan masih terus adanya saling hujatan di media social yang kita rasakan sampai saat ini, tentu tidak dapat dibiarkan karena akan berakibat buruk bagi Negara kita. Membangun kohesi keterhubungan yang sesungguhnya sebagai bangsa yang beradab memang tidak mudah, akan tetapi para elite politik di pusat, di daerah dan diakar rumput mesti terus menerus membangun pemahaman bahwa perbedaan pilihan adalah sehat dan berbeda tidak menjadikan permusuhan.

Kultur Demokrasi memberi ruang yang sama bagi perbedaan dan menghargai atas pilihan .Akan tetapi pemahaman tentang demokrasi belum sepenuhnya dimaknai sebagai hal yang biasa, kritik pada kekuasaan dianggap sebagai lawan yang mesti dibungkam, jika hal itu terjadi maka ini menjadi pertanda tidak sehatnya demokrasi kita. Inilah akan menjadi sebab menguatnya otoritarian.

Penurunan tingkat Demokrasi di dunia, begitu juga di Indonesia karena disebabkan banyak faktor. Apakah ini dapat disebabkan oleh menguat nya populisme di tengah masa pandemi, adanya kekuatan dinasti politik yang sedang berkuasa, adanya kekuatan ekonomi atau rente ekonomi yang berkolusi dengan penguasa. Apalagi biaya politik sangat tinggi sehingga diperlukan biaya yang tidak saja dipikul oleh partai politik , juga dapat dijadikan bagian negosiasi membiayai beban politik oleh politisi.  Terjadi simbiose mutualisme yang mencengkeram produk politik bagi kepentingan pelaku ekonomi tertentu.

Politik biaya tinggi tidak terlepas adanya  3 tipe pemilih di dalam masyarakat berdasarkan pilihan : pemilih berdasarkan kecerdasan. jadi memilih dengan nalar, rasionalitas. pemilih dengan hati, jadi memilih dengan rasa, apapun warnanya akan tetep memilih secara idiologi. memilih dengan  perut, yaitu pemilih yang menggunakan pertimbangan logistik. Jika dibayar maka akan memilih tanpa dasar pertimbangan rasionalitas, tanpa pertimbangan idiologi.

Jika diartikan sebagian besar hasil pilihan oleh kelompok masyarakat yang memilih karena ada barter logistic, maka seperti apakah hasil pilihannya tersebut, baik legislative maupun eksekutif? Jelas kwalitas tidak sepenuhnya dapat dihasilkan, jelas juga kemudian banyak anggota legislatif dan  eksekutif yang ditangkap KPK.

Salah satu sebab dari 5 faktor yang menyebabkan menurunnya Indek demokrasi.. Hal ini tidak saja di Indonesia tapi juga di dunia. Oleh karenanya patut semua stakeholder, akademisi untuk memberikan pembelajaran agar nilai2 pemilih makin meningkat, melalui penguatan partisipasi pemilih secara efektif, menyambapikan bahwa pemilih dan sebagai warga Negara mempunyai hak yang sama, melakukan upaya control atas semua kebijakan pemerintah apalagi yang menyangkut kehidupan masyarakat baik, politik, ekonomi serta budaya. Melakukan dekontruksi UU pemilu dan pemilihan Presiden agar dapat  dihasilkan anggota dewan, gubernur, bupati/walikota dan Presiden yang punya integritas, kapabelitas dan moralitas  yang mumpuni. Apalagi akan dilangsungkannya Pemilu serentak di tahun 2024.

Faktor lain dari penurunan demokrasi Indonesia disebabkan  adanya  dinasti politik, yang dapat menyebabkan penurunan indek demokrasi, walaupun di banyak Negara dinasti politik masih ada dan tumbuh subur. Tidak salah memang, akan tetapi harus perlahan dikurangi. Memang dimana mana terjadi.. apalagi dengan berkolusi dengan para pengusaha.. maka pemilih dengan perut akan semakin dijadikan peluang kolusi yang kemudian terjadi banyaknya korupsi. yang menyebabkan rusaknya  demokrasi yang telah dihasilkan melalui Pemilu yang dikeluarkan dengan biaya yang tidak kecil.

Oleh karena itu harus dilakukan modernisasi dan peningkatan peran-peran masyarakat, akademisi untuk  peduli memperbaharui perangkat demokrasi Indonesia , agar jangan hanya menghasilkan DEMOKRASI FORMALISTIK yang justru menggerus Demokrasi konstitusional, Substansial, dan kehilangan orientasi   untuk mencapai masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur. Semoga hal ini dapat terwujud sebagai cita-cita mulia. Bukan hanya utopia. [T]

Bali, Februari 2021

Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

12 Makna | 12 Bulan Covid-19

Next Post

Orang Bali Bukan Penganut Jam Karet, Tapi Plastik Kepanasan

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Orang Bali Bukan Penganut Jam Karet, Tapi Plastik Kepanasan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co