23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Cerpen

Nyoman Wirata, Perahu Bulan, 2011, 25x30cm, kanvas, akrelik

Cerpen: Made Adnyana Ole

TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tepi Kota Kecil menjadi lebih cerah. Balutan putih di seluruh tubuh memperjelas semua geraknya. Gadis itu melompat, seakan terbang, dari rimbun ke rimbun. Dari rimbun kesembilan ia melompati gerbang kota, lalu melompati tembok padas, dan menyelinap ke dalam tempat suci di tengah kota.

Tangan kanan menggenggam tongkat kecil kayu cempaka. Di tangan kiri mangkuk tanah liat. Di dalam mangkuk tergumpal adonan kapur sirih putih yang kemudian dicungkil ujung tongkat. Tubuh diputar tiga kali. Melambai tangannya serupa layang-layang daun kering. Adonan kapur sirih tergurat pada dinding bangunan. Gadis itu melukis bintang – satu gumpalan agak besar bersegi lima tak terlalu rapi. Bintang putih.

Ia melompat lagi, seakan terbang, dari tempat suci ke tempat suci. Dan ketika langit timur mulai terang, lukisan bintang pun tertera di seluruh tempat suci. Gadis itu memandang sekilas pada lukisan terakhir di tempat suci terakhir, kemudian tergesa melompat, seakan terbang. Ia melompati gerbang kota, kemudian melompat lagi dari rimbun ke rimbun. Dari rimbun kesembilan, ia menghilang.

***

PAGI, warga kota gempar. Mereka kaget menyaksikan gambar bintang di seluruh tempat suci. Awalnya pemandangan itu hanya dilihat satu dua orang. Tapi Kota Kecil memang kecil. Kabar meluap ke seluruh kota. Semua orang memeriksa tempat suci dan menemukan bintang putih di semua tempat suci.

“Bintang putih kapur sirih. Ini tanda suci dari Gadis Suci!” seru Tetua Kota.

Darah beberapa orang seakan terisap. Firasat buruk menjalar seperti sebaris ulat merayapi kulit dari dasar kaki hingga ke ujung kepala. Mereka tahu, bila Gadis Suci menggoreskan tanda suci di semua tempat suci, artinya bencana besar segera tiba. Biasanya warga menggelar doa bersama di semua tempat suci agar bencana bisa urung, atau jika terjadi bencana maka dimohon  tak ada korban jiwa.

Tapi Kota Kecil bukan lagi kota kuno. Keyakinan-keyakinan berulangkali diuji. Hanya beberapa orang tetap percaya Gadis Suci. Sebagian besar justru suka berpikir. Bencana apa yang hendak tiba di kota modern ini? Gedung dibangun dengan arsitektur antigempa, gunung api dipasangi alat canggih, saluran air terus direhabilitasi, sekolah bertambah dan tingkat pendidikan warga makin tinggi

Jadi, tak ada doa bersama. Diskusi berkembang. Dugaan beragam. Kesimpulan dimatangkan. Kota Kecil akhirnya gaduh. Diskusi jadi pertengkaran, dugaan jadi kecurigaan, kesimpulan jadi tuduhan.

“Sudah jelas ini teror. Serangan teroris. Inilah satu-satunya bencana yang mungkin terjadi. Kita harus lapor polisi!” kata seorang tokoh.

***

PERWIRA di Kepolisian Kota Kecil kaget sekaligus heran begitu menerima laporan warga. Perwira itu, dan seluruh polisi di kota itu, sejak awal memang sudah mencatat informasi munculnya tanda suci di tempat suci. Tapi tak ada penyelidikan. Alasannya, polisi tak ingin ikut campur soal keyakinan warga tentang mitos Gadis Suci. Apalagi, polisi sangat paham, setelah tanda itu muncul akan ada doa bersama. Setelah itu, masalah selesai. Polisi hanya membuat laporan.

Kini polisi salah duga. Warga tak langsung berdoa tapi melapor. Itu berarti polisi harus bergerak. Apalagi diketahui kemudian, warga juga melakukan penyelidikan sendiri. Hasilnya, warga menemukan tiga tempat suci tanpa tanda suci. Bentuk tiga tempat suci itu berbeda dengan tempat suci umumnya di Kota Kecil.

Tiga tempat suci itu milik sembilan keluarga pendatang yang tata-cara berdoanya jauh beda dengan tata-cara berdoa warga asli di kota itu. Tuduhan muncul. Dengan dalil sederhana, warga menyimpulkan umat pengusung tiga tempat suci itu adalah penyebar teror dengan maksud rahasia menyebarkan keyakinan baru dan menguasai Kota Kecil. Teriakan pun terdengar dari sejumlah sudut kota: “Serbu dan bakar tiga tempat suci itu!”

Maka, tiba saat polisi cemas. Kepala Kepolisian Kota Kecil memanggil seluruh perwira. Mereka rapat gelar kasus. Kesimpulan polisi: ada pihak-pihak yang dengan sengaja melukis bintang putih di tempat suci dengan tujuan membuat warga resah dan rusuh. Lalu terdengar perintah tegas: “Ini provokasi. Tangkap provokatornya sekarang juga!”

***

PURNAMA lewat. Namun cahaya bulan tetap memperjelas sosok gadis mungil yang bertengger di atas gerbang kota. Gadis itu memang Gadis Suci. Ia memandang hamparan Kota Kecil yang disadari kini penuh gedung megah. Lampu selalu terang dan jalanan ramai sepanjang siang dan malam. Gadis Suci menangis.

Ia terkenang lima abad lampau. Saat itu, sembilan keluarga mengayuh perahu kayu dari Pulau Seberang. Di antara sembilan keluarga terdapat sembilan bocah; empat lelaki dan lima perempuan. Mereka diusir dari Pulau Seberang hanya karena bentuk tempat suci mereka berbeda dengan tempat suci warga lain di pulau itu.

Bersandar di satu pulau, sembilan keluarga itu merabas hutan dan membangun tempat mukim. Mereka mengawali hidup baru. Sembilan pasang suami-istri membesarkan sembilan bocah bersama-sama. Begitu para bocah jadi remaja, mereka saling jatuh cinta. Tentu, dari sembilan remaja, hanya empat pasang akhirnya jadi kekasih. Tersisa satu perempuan. Itu adalah ia yang kemudian menjelma Gadis Suci.

Perihal bagaimana ia menjadi Gadis Suci terjadi tengah malam di tengah hutan gelap. Setelah empat pasang kekasih secara bergiliran menikah, ia tetap jadi gadis perawan dan menyisihkan diri ke tengah hutan di tepi pemukiman. Sehari-hari duduk di bawah pohon cendana. Seringkali tanpa makan, seringkali hingga tengah malam. Pada satu tengah malam, bulan mati, ia seperti terpanggil untuk menyanyikan lagu kuno, mirip mantera, yang diajarkan neneknya.

Ia menyanyi berulang-ulang. Pada ulangan ke-108, ia merasa begitu ringan. Tubuhnya terangkat, melayang. Ketika berupaya melompat  ia seakan terbang di sela-sela pepohonan. Ia berlari dengan tubuh melayang, ketakutan, pulang. Di pemukiman tak ada orang bisa melihatnya. Ia menangis.

Tak ada orang mendengar tangisnya. Hingga tiga hari kemudian, ayah-ibunya dan semua warga di pemukiman sepakat menyatakan ia hilang. Mereka juga sepakat, ia hilang untuk sebuah tugas mulia sebagai penjaga pemukiman sepanjang zaman. Warga menyebutnya dengan penuh puja-puji sebagai Gadis Suci. Jika terjadi bencana Gadis Suci akan melukis tanda suci di tempat suci. Dan begitu tanda itu muncul, warga cukup berdoa agar mereka dan pemukiman tetap selamat.

Gadis Suci hidup abadi. Dengan gigitan sepi yang selalu terasa ngilu, ia melihat empat pasangan suami-istri, yang semua teman sebayanya, melahirkan anak-anak. Lalu anak-anak mereka saling jatuh cinta, menikah, dan melahirkan anak-anak lagi. Pemukiman berkembang, garis keturunan memanjang. Pohon silsilah makin rimbun.

Sampai lima abad, pemukiman jadi kota modern dengan nama Kota Kecil. Selama itu, Gadis Suci sudah tujuh kali menorehkan tanda suci di tempat suci. Ia melukis tanda suci sebelum Gunung Sang Api meletus. Warga berdoa, dan pemukinan seakan ditutupi payung tebal. Tak satu pun batu panas jatuh di pemukiman.

Lima puluh tahun lalu, ketika terjadi rusuh politik di Negeri Seribu Pulau, ia menorehkan tanda suci di semua tempat suci. Ia berharap kerusuhan tak menjalar ke Kota Kecil. Warga berdoa. Tapi, aneh, Kota Kecil yang menjadi bagian dari negeri besar itu ikut rusuh. Hampir dua ratus orang terbunuh.

Saat itu Gadis Suci bersedih. Bukan semata karena Kota Kecil turut dilanda rusuh, melainkan karena sebagian besar warga sudah merasa amat pintar. Tanda suci tak dipercaya lagi sebagai sebuah pesan dari alam yang tak terpikirkan. Warga memang berdoa bersama. Namun ia tahu, doa itu hanya gerakan tubuh. Hati mereka dibajak rasa sombong karena merasa sudah sadar akal dan sehat nalar.

Kini, tanda suci bukan hanya diabaikan, tapi justru mengundang bibit bencana. Gadis Suci sedih. Lebih dari itu, ada rasa bersalah tak terkira besarnya. Keputusan melukis tanda suci diambil karena ia melihat dengan mata saktinya Kota Kecil bakal didera rusuh massal. Kelompok massa mengamuk dan membakar tempat suci. Dan seperti lingkaran sebab-akibat tanpa ujung, ternyata justru tanda suci yang dilukisnya jadi penyubur rasa curiga hingga muncul niat warga membakar tempat suci.

Memang benar, Gadis Suci tak melukis tanda suci pada tiga tempat suci milik sembilan keluarga pendatang di Kota Kecil. Aturannya jelas, tanda suci hanya untuk warga yang percaya tanda suci. Tapi siapa sesungguhnya yang percaya pada tanda suci? Zaman berubah. Kepercayaan berulangkali diuji. Ia makin sedih. Ia merasa zaman kini tak memerlukan Gadis Suci. Maka ia melompat ke tengah hutan dengan tekad bulat tak akan melukis tanda suci lagi, sebesar apa pun bencana yang akan tiba.

***

 “AKU harus menolong Gadis Suci!” ujar Tetua Kota.

Ia orang paling tua di Kota Kecil. Dulu Tetua Kota paling dipercaya untuk hampir semua hal. Kini ia hanya orang tua kesepian. Warga yang dibakar amarah tak mendengar lagi kata-katanya. Maka, malam sebelum warga bergerak membakar tiga tempat suci, Tetua Kota bergerak lebih cepat. Tangan kanan menggenggam tongkat kecil kayu cempaka.

Di tangan kiri mangkuk tanah liat. Di dalam mangkuk tergumpal adonan kapur sirih putih yang kemudian dicungkil ujung tongkat. Adonan kapur sirih kemudian diguratkan pada dinding bangunan. Ia melukis bintang di tiga tempat suci itu. Bintang putih. Begitu keluar dari tempat suci, ia ditangkap polisi.

Pagi, Kota Kecil cerah. Sembilan keluarga pendatang yang menemukan tanda suci di tiga tempat suci mereka, tanpa aba-aba menggelar doa bersama, tepat ketika sekelompok warga menyerbu mereka dengan senjata tajam dan molotov. Melihat apa yang terjadi, kelompok warga yang dibakar amarah seketika terhenyak seakan tak percaya. Mereka langsung berbalik. Seperti teringat sesuatu, mereka menuju tempat suci. Mereka berdoa bersama di seluruh tempat suci.

Kepala Kepolisian Kota Kecil yang tak henti tersenyum lega menyaksikan peristiwa itu tiba-tiba didatangi seorang anak buahnya.

“Lapor Komandan. Provokator sudah ditangkap!”

Sang kepala polisi memandang anak buahnya sekilas. “Lepaskan! Itu pasti salah tangkap!”

 

Tags: Cerpen
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Nanoq da Kansas# Igau, Rumah Lukisan, Menempuh Waktu

Next Post

Selamat Datang Mahasiswa Baru: OKK itu Keras, Perkuliahan Lebih Keras

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post

Selamat Datang Mahasiswa Baru: OKK itu Keras, Perkuliahan Lebih Keras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co