12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Cerpen

Nyoman Wirata, Perahu Bulan, 2011, 25x30cm, kanvas, akrelik

Cerpen: Made Adnyana Ole

TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tepi Kota Kecil menjadi lebih cerah. Balutan putih di seluruh tubuh memperjelas semua geraknya. Gadis itu melompat, seakan terbang, dari rimbun ke rimbun. Dari rimbun kesembilan ia melompati gerbang kota, lalu melompati tembok padas, dan menyelinap ke dalam tempat suci di tengah kota.

Tangan kanan menggenggam tongkat kecil kayu cempaka. Di tangan kiri mangkuk tanah liat. Di dalam mangkuk tergumpal adonan kapur sirih putih yang kemudian dicungkil ujung tongkat. Tubuh diputar tiga kali. Melambai tangannya serupa layang-layang daun kering. Adonan kapur sirih tergurat pada dinding bangunan. Gadis itu melukis bintang – satu gumpalan agak besar bersegi lima tak terlalu rapi. Bintang putih.

Ia melompat lagi, seakan terbang, dari tempat suci ke tempat suci. Dan ketika langit timur mulai terang, lukisan bintang pun tertera di seluruh tempat suci. Gadis itu memandang sekilas pada lukisan terakhir di tempat suci terakhir, kemudian tergesa melompat, seakan terbang. Ia melompati gerbang kota, kemudian melompat lagi dari rimbun ke rimbun. Dari rimbun kesembilan, ia menghilang.

***

PAGI, warga kota gempar. Mereka kaget menyaksikan gambar bintang di seluruh tempat suci. Awalnya pemandangan itu hanya dilihat satu dua orang. Tapi Kota Kecil memang kecil. Kabar meluap ke seluruh kota. Semua orang memeriksa tempat suci dan menemukan bintang putih di semua tempat suci.

“Bintang putih kapur sirih. Ini tanda suci dari Gadis Suci!” seru Tetua Kota.

Darah beberapa orang seakan terisap. Firasat buruk menjalar seperti sebaris ulat merayapi kulit dari dasar kaki hingga ke ujung kepala. Mereka tahu, bila Gadis Suci menggoreskan tanda suci di semua tempat suci, artinya bencana besar segera tiba. Biasanya warga menggelar doa bersama di semua tempat suci agar bencana bisa urung, atau jika terjadi bencana maka dimohon  tak ada korban jiwa.

Tapi Kota Kecil bukan lagi kota kuno. Keyakinan-keyakinan berulangkali diuji. Hanya beberapa orang tetap percaya Gadis Suci. Sebagian besar justru suka berpikir. Bencana apa yang hendak tiba di kota modern ini? Gedung dibangun dengan arsitektur antigempa, gunung api dipasangi alat canggih, saluran air terus direhabilitasi, sekolah bertambah dan tingkat pendidikan warga makin tinggi

Jadi, tak ada doa bersama. Diskusi berkembang. Dugaan beragam. Kesimpulan dimatangkan. Kota Kecil akhirnya gaduh. Diskusi jadi pertengkaran, dugaan jadi kecurigaan, kesimpulan jadi tuduhan.

“Sudah jelas ini teror. Serangan teroris. Inilah satu-satunya bencana yang mungkin terjadi. Kita harus lapor polisi!” kata seorang tokoh.

***

PERWIRA di Kepolisian Kota Kecil kaget sekaligus heran begitu menerima laporan warga. Perwira itu, dan seluruh polisi di kota itu, sejak awal memang sudah mencatat informasi munculnya tanda suci di tempat suci. Tapi tak ada penyelidikan. Alasannya, polisi tak ingin ikut campur soal keyakinan warga tentang mitos Gadis Suci. Apalagi, polisi sangat paham, setelah tanda itu muncul akan ada doa bersama. Setelah itu, masalah selesai. Polisi hanya membuat laporan.

Kini polisi salah duga. Warga tak langsung berdoa tapi melapor. Itu berarti polisi harus bergerak. Apalagi diketahui kemudian, warga juga melakukan penyelidikan sendiri. Hasilnya, warga menemukan tiga tempat suci tanpa tanda suci. Bentuk tiga tempat suci itu berbeda dengan tempat suci umumnya di Kota Kecil.

Tiga tempat suci itu milik sembilan keluarga pendatang yang tata-cara berdoanya jauh beda dengan tata-cara berdoa warga asli di kota itu. Tuduhan muncul. Dengan dalil sederhana, warga menyimpulkan umat pengusung tiga tempat suci itu adalah penyebar teror dengan maksud rahasia menyebarkan keyakinan baru dan menguasai Kota Kecil. Teriakan pun terdengar dari sejumlah sudut kota: “Serbu dan bakar tiga tempat suci itu!”

Maka, tiba saat polisi cemas. Kepala Kepolisian Kota Kecil memanggil seluruh perwira. Mereka rapat gelar kasus. Kesimpulan polisi: ada pihak-pihak yang dengan sengaja melukis bintang putih di tempat suci dengan tujuan membuat warga resah dan rusuh. Lalu terdengar perintah tegas: “Ini provokasi. Tangkap provokatornya sekarang juga!”

***

PURNAMA lewat. Namun cahaya bulan tetap memperjelas sosok gadis mungil yang bertengger di atas gerbang kota. Gadis itu memang Gadis Suci. Ia memandang hamparan Kota Kecil yang disadari kini penuh gedung megah. Lampu selalu terang dan jalanan ramai sepanjang siang dan malam. Gadis Suci menangis.

Ia terkenang lima abad lampau. Saat itu, sembilan keluarga mengayuh perahu kayu dari Pulau Seberang. Di antara sembilan keluarga terdapat sembilan bocah; empat lelaki dan lima perempuan. Mereka diusir dari Pulau Seberang hanya karena bentuk tempat suci mereka berbeda dengan tempat suci warga lain di pulau itu.

Bersandar di satu pulau, sembilan keluarga itu merabas hutan dan membangun tempat mukim. Mereka mengawali hidup baru. Sembilan pasang suami-istri membesarkan sembilan bocah bersama-sama. Begitu para bocah jadi remaja, mereka saling jatuh cinta. Tentu, dari sembilan remaja, hanya empat pasang akhirnya jadi kekasih. Tersisa satu perempuan. Itu adalah ia yang kemudian menjelma Gadis Suci.

Perihal bagaimana ia menjadi Gadis Suci terjadi tengah malam di tengah hutan gelap. Setelah empat pasang kekasih secara bergiliran menikah, ia tetap jadi gadis perawan dan menyisihkan diri ke tengah hutan di tepi pemukiman. Sehari-hari duduk di bawah pohon cendana. Seringkali tanpa makan, seringkali hingga tengah malam. Pada satu tengah malam, bulan mati, ia seperti terpanggil untuk menyanyikan lagu kuno, mirip mantera, yang diajarkan neneknya.

Ia menyanyi berulang-ulang. Pada ulangan ke-108, ia merasa begitu ringan. Tubuhnya terangkat, melayang. Ketika berupaya melompat  ia seakan terbang di sela-sela pepohonan. Ia berlari dengan tubuh melayang, ketakutan, pulang. Di pemukiman tak ada orang bisa melihatnya. Ia menangis.

Tak ada orang mendengar tangisnya. Hingga tiga hari kemudian, ayah-ibunya dan semua warga di pemukiman sepakat menyatakan ia hilang. Mereka juga sepakat, ia hilang untuk sebuah tugas mulia sebagai penjaga pemukiman sepanjang zaman. Warga menyebutnya dengan penuh puja-puji sebagai Gadis Suci. Jika terjadi bencana Gadis Suci akan melukis tanda suci di tempat suci. Dan begitu tanda itu muncul, warga cukup berdoa agar mereka dan pemukiman tetap selamat.

Gadis Suci hidup abadi. Dengan gigitan sepi yang selalu terasa ngilu, ia melihat empat pasangan suami-istri, yang semua teman sebayanya, melahirkan anak-anak. Lalu anak-anak mereka saling jatuh cinta, menikah, dan melahirkan anak-anak lagi. Pemukiman berkembang, garis keturunan memanjang. Pohon silsilah makin rimbun.

Sampai lima abad, pemukiman jadi kota modern dengan nama Kota Kecil. Selama itu, Gadis Suci sudah tujuh kali menorehkan tanda suci di tempat suci. Ia melukis tanda suci sebelum Gunung Sang Api meletus. Warga berdoa, dan pemukinan seakan ditutupi payung tebal. Tak satu pun batu panas jatuh di pemukiman.

Lima puluh tahun lalu, ketika terjadi rusuh politik di Negeri Seribu Pulau, ia menorehkan tanda suci di semua tempat suci. Ia berharap kerusuhan tak menjalar ke Kota Kecil. Warga berdoa. Tapi, aneh, Kota Kecil yang menjadi bagian dari negeri besar itu ikut rusuh. Hampir dua ratus orang terbunuh.

Saat itu Gadis Suci bersedih. Bukan semata karena Kota Kecil turut dilanda rusuh, melainkan karena sebagian besar warga sudah merasa amat pintar. Tanda suci tak dipercaya lagi sebagai sebuah pesan dari alam yang tak terpikirkan. Warga memang berdoa bersama. Namun ia tahu, doa itu hanya gerakan tubuh. Hati mereka dibajak rasa sombong karena merasa sudah sadar akal dan sehat nalar.

Kini, tanda suci bukan hanya diabaikan, tapi justru mengundang bibit bencana. Gadis Suci sedih. Lebih dari itu, ada rasa bersalah tak terkira besarnya. Keputusan melukis tanda suci diambil karena ia melihat dengan mata saktinya Kota Kecil bakal didera rusuh massal. Kelompok massa mengamuk dan membakar tempat suci. Dan seperti lingkaran sebab-akibat tanpa ujung, ternyata justru tanda suci yang dilukisnya jadi penyubur rasa curiga hingga muncul niat warga membakar tempat suci.

Memang benar, Gadis Suci tak melukis tanda suci pada tiga tempat suci milik sembilan keluarga pendatang di Kota Kecil. Aturannya jelas, tanda suci hanya untuk warga yang percaya tanda suci. Tapi siapa sesungguhnya yang percaya pada tanda suci? Zaman berubah. Kepercayaan berulangkali diuji. Ia makin sedih. Ia merasa zaman kini tak memerlukan Gadis Suci. Maka ia melompat ke tengah hutan dengan tekad bulat tak akan melukis tanda suci lagi, sebesar apa pun bencana yang akan tiba.

***

 “AKU harus menolong Gadis Suci!” ujar Tetua Kota.

Ia orang paling tua di Kota Kecil. Dulu Tetua Kota paling dipercaya untuk hampir semua hal. Kini ia hanya orang tua kesepian. Warga yang dibakar amarah tak mendengar lagi kata-katanya. Maka, malam sebelum warga bergerak membakar tiga tempat suci, Tetua Kota bergerak lebih cepat. Tangan kanan menggenggam tongkat kecil kayu cempaka.

Di tangan kiri mangkuk tanah liat. Di dalam mangkuk tergumpal adonan kapur sirih putih yang kemudian dicungkil ujung tongkat. Adonan kapur sirih kemudian diguratkan pada dinding bangunan. Ia melukis bintang di tiga tempat suci itu. Bintang putih. Begitu keluar dari tempat suci, ia ditangkap polisi.

Pagi, Kota Kecil cerah. Sembilan keluarga pendatang yang menemukan tanda suci di tiga tempat suci mereka, tanpa aba-aba menggelar doa bersama, tepat ketika sekelompok warga menyerbu mereka dengan senjata tajam dan molotov. Melihat apa yang terjadi, kelompok warga yang dibakar amarah seketika terhenyak seakan tak percaya. Mereka langsung berbalik. Seperti teringat sesuatu, mereka menuju tempat suci. Mereka berdoa bersama di seluruh tempat suci.

Kepala Kepolisian Kota Kecil yang tak henti tersenyum lega menyaksikan peristiwa itu tiba-tiba didatangi seorang anak buahnya.

“Lapor Komandan. Provokator sudah ditangkap!”

Sang kepala polisi memandang anak buahnya sekilas. “Lepaskan! Itu pasti salah tangkap!”

 

Tags: Cerpen
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Nanoq da Kansas# Igau, Rumah Lukisan, Menempuh Waktu

Next Post

Selamat Datang Mahasiswa Baru: OKK itu Keras, Perkuliahan Lebih Keras

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post

Selamat Datang Mahasiswa Baru: OKK itu Keras, Perkuliahan Lebih Keras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co