2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nanoq da Kansas# Igau, Rumah Lukisan, Menempuh Waktu

Nanoq da Kansas by Nanoq da Kansas
February 2, 2018
in Puisi

Wayan Redika, Hard Gate 1, 1998

IGAU

andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru laras ganda berpeluru coklat muda. sementara itu di televisi presiden kita berpidato tentang rencana kenaikan harga warna-warna. anak-anak, anak-anak kita, berpendaran ditelan cahaya matahari putih pucat.

pagi-pagi, pagi-pagi sekali tuhan turun di halaman belakang rumahku yang berwarna tanah. aku suguhkan segelas kopi merah muda + sebungkus rokok bermerek abu-abu + cerita kesedihanku yang tak begitu cermat. alam sekitar terasa ungu. kadang hijau kelon. sesekali berwarna cemas.

tuhan adalah seksama yang menerima ceritaku, atau mungkin cerita kita. segalanya dimasukkan dan disimpannya di dalam tas plastik berwarna hitam. mungkin warna misteri, karena hanya nabi-nabi yang tulang lidahnya dilenturkan. kita, kita diberi lidah tanpa tulang yang sekaligus tanpa berdaya.

nabi-nabi, nabi-nabi tidaklah secermat tuhan. tapi nabi-nabi jelas lebih cendekia. mereka menciptakan tuhan di mana-mana dengan satu nama: kegagalan. di situlah persoalan(nya).

 

RUMAH LUKISAN
kepada pelukis made wianta

di manakah asalku ketika kau buka pintu?
halaman kecil itu pun telah menjadi cakrawala
menelan atmosfir di luar tubuhku
aku datang bergelimang biji-biji tumbuhan
tunas-tunas bunga ajaib, bahkan
debu yang sebagiannya tak kukenali

siapa di antara kita yang menggali
atau tergali?
di tembok putih – tempat sebagian langit
melabuh, hal-hal kecil berbiak liar
pikran-pikiran besar merunduk
tertinggal jauh oleh diam yang
diciptakan riuh rindu percakapan warna

sementara itu
usiaku yang terlambat menancapkan akarnya
selalu tersipu di atas garis gairah
kelahiran yang ditinggalkan tanah
perjalanan yang digoda
banyak sekali persimpangan
sebelum usai kanvas terbingkai

di manakah asalku ketika keluar
dari pintu itu?

 

MENEMPUH WAKTU

ketika usia jadi ruang tunggu senyap nan kaku
waktu tak pasti
perasaan tak menjanjikan apa-apa
: aku terlempar lagi dalam kerinduan padamu

dunia
seperti cermin tua tak jernih lagi
dan patah-patah
tiba-tiba memantulkan seraut wajah
seseorang yang baru saja belajar bersisir sendiri
pada masa di mana ia mulai tersipu-sipu
melihat bayangan dirinya telanjang.

“alangkah menyenangkan wajah nakal
di cermin itu,” – gumamku suatu ketika.

waktu menjadi tak pasti
sesaat merayap bagai cecak kurus dan merana
mengendap-endap mencoba bertahan
di sela-sela baju kotor yang tersisih
di dinding
bagai kecoa terseok-seok
di kaleng-kaleng bekas kehilangan bentuk
di sepanjang lorong-lorong, pantai, trotoar
parit, kali, rel kereta api
stasiun bus, pedagang kaki lima
rumah-rumah pelacuran, kantor, lipatan dasi
sepatu, kaos kaki
sampah-sampah yang tak selesai dibakar

waktu menjadi tak pasti
sesaat berlari
melampaui seluruh pemikiran dan kata-kata
meninggalkan luka-luka dan memar
di sekujur tubuh yang mulai membiasakan diri meniru
binatang-binatang peliharaan
berciuman di jalan-jalan umum
di pusat-pusat pertokoan
dengan bangga dan sepenuh cinta

o, apa lagi
yang harus aku rahasiakan di sini?
aku tak yakin untuk memalingkan muka
sebab semuanya telah membangkitkan kembali
kerinduanku padamu

engkau pernah tak menangis
tetapi pucat dan gemetar mendengar mimpi-mimpi
yang ingin kujadikan kenyataan
betapa aku lupa memandang wajahmu lebih seksama saat itu
satu hal yang akhirnya harus aku sesali
setiap kali aku ingin melukis dirimu
di setiap permukaan air yang kutemui

ketika waktu berlari
betapa cepat segalanya berlari
jalan-jalan raya yang megah
berita-berita, sanak saudara semuanya berlari
dan aku tak pernah dapat mengejarnya

tiang-tiang listrik berlari
jauh mendahuluiku tiba di bukit-bukit
sebelum sempat kuperingatkan burung-burung
agar paham dan menepi
jeritanku pun tak sekuat yang pernah aku duga
betapa gemuruhnya suara-suara

pohon-pohon yang terbanting
beradu dengan tangis hutan yang setiap hari
merasa kehilangan sesuatu
siapa sih pencurinya?
kenyataan-kenyataan diam dan kaku
membentur tembok-tembok

wahai tembok-tembok!
tembok-tembok tak pernah aku duga bisa berlari
bahkan lebih cepat dari mahluk-mahluk berkaki
aku kehilangan arah
seperti seseorang yang
memegang gagang telepon umum
pada saat ia tak tahu harus bicara dengan siapa
sementara nomor-nomor tersambung sendiri

halo, di manakah engkau?
sudah membaca beritakah engkau hari ini?
aku membaca iklan saja
aku menyukainya
sebab iklan lebih memberi harapan
daripada membaca berita-berita buruk
yang kadangkala berakhir dengan timbulnya
kebencian kepada siapa-siapa
dan berita buruk pun
telah berlari dari segala macam penyelesaian

berperanglah! berperanglah sampai jemu
biar ada kerjamu yang berarti! – inilah iklan
yang paling aku suka
di mana setelah membacanya
aku dapat merasakan dan memahami bahwa sesungguhnya
setiap orang adalah calon seorang pahlawan
dengan perasaan seperti ini
aku jadi lebih bisa menghargai dan menghormati sesama
niat yang pada mulanya ingin menyalah-nyalahkan orang
seketika sirna
dari setiap wajah akhirnya dapat kutangkap
cahaya keakraban
kemesraan dalam mencari kesempatan
untuk lebih dulu menikamkan belati

aku juga paling suka iklan kematian
– telah mati dengan gagah:
nenek moyang – buyut – kakek – bapak
paman – suami – kakak – ipar – adik kami!
semoga tuhan…

o, alangkah mulianya kematian
sebuah kesempatan di mana segala kesalahan
kekeliruan dan penyesalan berakhir
segala kecantikan, kecurangan
angan-angan dan cita-cita berakhir
segala kebencian berakhir
di mana segala-galanya berakhir
alangkah mulianya kematian

kalau aku mati
biarlah mati seperti aliran listrik yang putus
pada saat televisi sedang menyala
dimana orang-orang sedang mewarnai mimpinya
biar mereka untuk terakhir kali masih sempat memaki
mengumpat dan melampiaskan
segala beban hatinya yang menggumpal
biar orang-orang untuk terakhir kali
sempat merenungkan kembali
apa-apa yang dikiranya telah beres
kematian seperti ini
tentu tak terlalu buruk
untuk diiklankan atau diberitaacarakan
atau diagendakan dalam kalender kerja

waktu menjadi tak pasti
dan aku terlempar dalam kerinduan padamu
terkutuk sebagai seorang anak nakal pongah dan kacau
dan sekarang sedang belajar menjadi santun
di tengah-tengah suara gemuruh

tunggu!
jangan kau kira aku sedang putus asa
aku biasa-biasa saja
bahwa aku sedang mencoba belajar santun
dengan satu cara
yang tak akan mengganggu siapa-siapa
: aku sedang menertawakan diri sendiri.

menertawakan diri sendiri
kaleng-kaleng bekas yang aku tendangi
di sepanjang trotoar, rel kereta api, stasiun bus
kali, parit, pantai, rumah-rumah pelacuran
juga menertawakan dirinya sendiri

kenapa mereka hanya menjadi kaleng-kaleng bekas
di situ?

begitu jauhkah bedanya dengan
botol-botol bekas parfum, bekas anggur
bekas pinisilin, bekas endrin
yang terpajang anggun di etalase selebritis?
seorang naturalis tentu akan melukis semua ini
lalu memberinya judul life style
kemudian pemilik galeri akan memasanginya
harga sebanding status sosial pembelinya
sementara si pelukis
terpeleset oleh sakit maag di masa muda
dan mayatnya nyasar
menjadi kaleng-kaleng bekas yang kutendangi
di sepanjang trotoar waktu
oh!
aku jadi ingin menelepon engkau untuk hal ini
tapi aku telah lupa nomor-nomor
yang kau katakan dulu
seseorang telah mengambilnya diam-diam
dari bilik jantungku ketika aku muntah-muntah mabuk
karena tak begitu tahan berdesakan
di pintu-pintu bus kota
pintu-pintu kereta api, pintu taksi
pintu supermarket
pintu hati para pelacur
pintu segala pintu
aku tak tahu entah untuk apa
angka-angka itu diambilnya
barangkali ia jatuh cinta padaku
atau angka-angka itu telah dijualnya
di pasar-pasar yang dihuni
orang-orang pintar berspekulasi
memainkan hidup dengan hitung-hitungan

baiklah. aku kira ini
tak perlu terlalu dirisaukan
dengan kehilangan angka-angka itu
aku jadi merasa diriku
telah pernah menjadi seorang dermawan
dan tanpa menelepon engkau pun
nyatanya aku mampu merindukanmu lebih sempurna
tapi pernahkah engkau juga merindukan aku?
astaga! engkau tak pernah menjawab pertanyaan yang kutulis
dalam setiap kartu pos hari raya
: bahwa masihkah engkau menari?
masih? tentu saja.
tapi tentunya ini juga merupakan saat-saat
yang sulit bagimu
sebab aku ingat
engkau tak dapat lagi menari di kampungmu sendiri
meskipun engkau tak perlu dibayar
tak seorang pun akan punya waktu
menontonmu
engkau harus menari di luar negeri sekarang
jika ingin ditonton dan dihargai
iya, kan? iya,kan?

sepanjang trotoar waktu
aku tendangi kaleng-kaleng bekas
suaranya gemuruh melengking-lengking
menertawakan dirinya sendiri
sesekali terbentur pada tiang-tiang
atau rambu-rambu.
o, ya, ini adalah kesenangan baruku
kaleng-kaleng bekas itu ketika membentur
akan cukup untuk menarik perhatian
orang-orang yang kaku dalam penantiannya
beberapa saat mereka akan menoleh
dan yakin bahwa sebenarnya akulah yang gila
bukan mereka
bukan mereka!

engkau pikir untuk menjadi gila sama mudahnya
seperti berbasa-basi di depan para dewa
nanti dulu!
menjadi gila juga memerlukan
keberanian dan keuletan yang tak sepele
salah langkah engkau bisa terperangkap
dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
tapi ini masih lebih beruntung
daripada engkau terjaring lsm atau lembaga ham
sebab di sana engkau terus akan menjadi objek
penyaluran rasa belas kasihan atas nama masyarakat
maukah engkau dikasihani terus-menerus?

dalam kegilaan waktu menjadi tak pasti
setiap tarikan nafas
berarti usaha untuk tak terperangkap
setiap kedipan mata
berarti perjuangan hitam dan putih
seperti permainan sepak bola
orang-orang menendang, mengejar, mengganjal
menangkap dan berusaha menguasai permainan
kalau engkau beruntung
sempat menggiring bola dan membobol gawang
engkau akan menjadi bintang
engkau dirangkul, digotong keliling arena
tapi jika permainanmu jelek dan banyak kesalahan
maka engkau di-kartu merah
dikeluarkan dari arena
maka jadilah engkau semacam ban serep
pada sebuah truk pengangkut barang
sebuah ban yang digantung begitu saja
tidak ikut berputar
tapi ikut kecipratan
apabila truk melindas lumpur atau tai

aku tak bisa bermain sepak bola
maka aku tendangi kaleng-kaleng bekas
yang kehilangan bentuk di sepanjang trotoar waktu
di sampah-sampah yang tak selesai dibakar

waktu menjadi tak pasti
sesaat berlari
melampaui seluruh pemikiran dan kata-kata
menjelmakan kaleng-kaleng bekas
dan dari sudut ke sudut jalan
aku hindari seluruh kesangsian
bahwa aku sedang menempuh waktu
pulang ke pelukanmu

Tags: Puisi
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Habis KKN Terbitlah Cinta Segitiga, LDR, atau Cinta Bubar Jalan Graaakkk…

Next Post

Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci

Nanoq da Kansas

Nanoq da Kansas

Dramawan, penulis puisi dan cerpen. Pendiri Komunitas Kertas Budaya di Jembrana. Kini nyambi jadi tukang cuci piring di Romprok Kopi, Negara, Bali

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post

Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co