10 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tinggalkan Komang di Sini

Ayu Ugie Pratiwi by Ayu Ugie Pratiwi
June 16, 2019
in Cerpen
Tinggalkan Komang di Sini

Lukisan Komang Astiari

Cerpen: Ayu Sugiharti Pratiwi

___

“Bli De, Bli De…”

Sudah sejak bangun tidur Gek Istri menyebut-nyebut nama suaminya sambil memetik daun bambu dari pohon yang menyelinap ke jendela kamarnya. Sudah hampir dua hari Made Arya tak pulang ke rumah dan sejak saat itu Gek Istri hanya melihat keluar dari jendela kamarnya, memandangi awan yang berarak membentuk berbagai macam bayangan seperti benda-benda yang dikenalnya.

Kemarin gumpalan awan membentuk bebek yang berenang, kepala kuda, kuping gajah dan banyak lagi! Gek Istri bertepuk tangan riang, ia bagaikan anak kecil tumben pergi ke kebun binatang saja.

Dan hari ini awan membentuk wajah Komang, wajah Gek Istri takjub lalu berseri-seri

 “Mang, Komang!”

Komang yang lucu, berkulit eksotis, manis sekali. Gek Istri membelai rambut hitamnya. Sudah lama ia tak mengecup ubun-ubun Komang. Dulu hampir setiap pagi Gek Istri akan mengelus Komang dahulu bahkan sebelum membangunkan suaminya untuk berangkat bekerja.

Komang itu adiknya Made Arya, baru dikenalkan setelah mereka memadu kasih selama 3 bulan. Gek Istri sempat kaget sekali ketika pertama kali bertemu dengan Komang, karena Bli Made sangat berbeda dengan Komang yang mungil dan pemalu. Bli Made perawakannya kekar dan wajahnya tegas, sedangkan Komang manis sekali dan sayu seakan-akan ingin tertidur sepanjang hari.

Made sangat menyayangi Komang, kemana-mana ia selalu diajak. Made memperkenalkan Komang pada banyak wanita tapi tak ada satu pun yang benar-benar memikat hatinya sampai ia bertemu dengan Gek Istri, hingga Komang menyetujui pernikahan Bli-nya dengan gadis menak itu.

Ketika pertama kali melihat Gek Istri di Pasar Kalibukbuk, Komang-lah yang memberi tahu Made Arya tentang keberadaan gadis berkulit kuning itu. Komang tak mampu menahan diri betapa ia terpesona ketika gadis itu membelai rambut panjangnya sambil sesekali menyentuh-nyentuh timun di depannya dan menawar harga dengan pedagang.

Komang menarik-narik Made bagai anak kecil yang ingin dibelikan permen oleh bapaknya. Permen itu kali ini cantik sekali, sepertinya kalau digigit, manis tubuhnya akan lumer di lidahnya. Komang tak pernah menginginkan permen manapun tapi ia berpikir jika gadis ini adalah permen yang diinginkan kakaknya, si Made Arya. 

Made Arya perlahan turun dari sepeda motornya, melepaskan helm dan mengambil kunci motornya dengan mata yang masih melekat pada Gek Istri. Matanya bertualang dari rambut hitam Gek Istri sampai berlalu lalang di seputaran bibirnya yang merekah bagai delima masak. Made Arya berjalan lurus ke arah di mana Gek Istri sedang berbelanja. Saking lurusnya, Made berkali-kali tak sengaja menambrak rombong bakso dan dadong-dadong penjaja buah.

“Aduhh, ampura, Bu! Ampura!”

Walau sambil minta maaf tapi mata Arya masih tak ingin kehilangan sosok ranum Gek Istri yang sedang berpindah ke penjual daging ayam. Langkah dramatis Made Arya yang mendekati Gek Istri membuat Komang tegang. Ia ingin bersembunyi tapi ia tak sabar ingin mengintip pula apa yang akan terjadi. Komang sangat tidak tahan dengan adegan-adegan semacam ini, tubuhnya menjadi keras menegang karena gugup.

Pada malam Purnama sasih ke dasa, ketika seluruh keluarga besar Puri Agung bersembahyang di merajan, Made Arya melarikan Gek Istri. Selendang perada Gek Istri terjatuh di hadapan Ratu Betara Dewa Banaspati, seakan-akan beliau tak sanggup menahan Gek Istri, tak sanggup memisahkan tuan putrinya dari laki-laki titisan Arjuna itu. Pada malam itu juga, ketika penyeroan Gek Istri sudah tak mampu menemukannya di sekitaran Puri, dengan sambil menangis Dadong Taman bersimpuh menghadap Ratu Gung Biang hingga setelah mengungkapkan sebaris kalimat Ratu Biang pingsan seketika.

Setelah menikah selama dua tahun tanpa restu kedua orang tua Gek Istri, hubungan suami istri mereka tak lagi harmonis, apalagi romantis. Made belum bisa menghilangkan kebiasaannya yang bercinta dengan banyak gadis. Mencicip sana sini.

Dua hari yang lalu ketika malam tanpa bintang, Gek Istri menatap suaminya yang menghadap ke cermin yang cukup besar untuk memuat seluruh bayangnya di sana. Gek Istri mencoba acuh sambil melipat selimut.

“Mau ke mana, Bli?”

 Laki-laki itu tak menjawab terus bersiul-siul pelan sambil menyisir rambutnya yang pekat. Ia mendesah pelan, lalu duduk dengan selimut masih di dekapannya.

“Mau menemui siapa, Bli?”

Made Arya membenarkan kerah kemejanya kemudian berpaling ke meja sambil mengemasi dompet dan mengenakan jam tangannya.

“Aku tak pulang malam ini, jangan tunggu aku,” ujar Made hambar tak menatap Gek Istri. 

“Bli akan menemui wanita itu lagi?” suara Gek Istri meninggi,

Made menolehnya tapi tak bergeming

“Oh maaf, maksudku wanita-wanita itu!” ralat Gek Istri sambil tersenyum sarkastik

“Bukan urusanmu, dan pelankan suaramu,” Made mencari-cari jaketnya di lemari sambil mengumpat

“Kenapa bukan urusanku? Aku istrimu, Bli!” Gek Istri mengikuti langkah Made, kemudian suaminya berbalik menghadapnya

“Kamu sudah tahu kan aku akan ke mana, pelankan suaramu sebelum orang tuaku terbangun,” kata Made geram. Orang tua Made Arya, Pan Merta dan Men Merta tinggal bersama mereka di rumah mungil ini.

“Baiklah, tapi jangan ajak Komang,” suara Gek Istri memelan

“Kamu sudah gila? Aku tak bisa tinggalkan Komang hanya berduaan denganmu!”

“Mengapa begitu? Aku takkan membiarkan Komang menemui wanita-wanita sundal itu!”

 “Kamu gila!” Made mengancingkan jaketnya dengan kesal lalu menuju pintu.

“Bli De, tinggalkan Komang bersamaku!”

“Tidak akan!” Made menepis tangan Gek Istri dan menghempaskannya ke kursi.

“Bli De!! Tinggalkan Komang di sini!” teriak Gek Istri histeris.

Tiba-tiba petir menggelegar lalu hujan lebat berjatuhan, Gek Istri dengan berlinang air mata masih memeluk kursi menoleh ke jendela.

“Oh… jadi aku tak usah menangis ya,” kata Gek Istri sambil menyeringai perlahan.

Tuhan memang seniman yang sangat luar biasa, pelukis ulung. Langit adalah kanvasnya, awan menjadi catnya dan kuasnya adalah angin. Setelah puas melihat-lihat galeri lukisan-Nya, Gek Istri menggelung rambut panjangnya sambil menatap suaminya di atas tempat tidur. Rambut hitam Gek Istri yang tipis dan berkilau itu adalah warisan Ratunini Oma.

Dulu rambutnya sering diminyaki dengan akar tumbuhan yang digoreng untuk diambil minyaknya. Wangi rambutnya istimewa, ketika mencium harumnya maka kau bagaikan berada di hutan yang penuh dengan kayu-kayu besar. Rambut itu adalah satu-satunya warisan yang ia dapat dari keluarganya yang kaya raya, penguasa gumi Utara.

Pada pagi yang masih buta Made Arya datang dengan kepala sempoyongan dan bergumam yang tidak-tidak. Ia langsung berbaring di tempat tidur dan terlelap hanya dengan hitungan detik. Gek Istri pelan-pelan mengemasi kain-kain dan selendangnya, ia sudah hendak pergi lalu berbalik lagi.

“Ah, hampir aku melupakan Komang..” bisik Gek Istri.

Dengan berjingkat, dengan kaki-kakinya yang membisu, ia menggenggam Komang, tak ingin membangunkannya.

Made Arya terbangun dengan keadaan pening dan lemas, rasanya seluruh tubuhnya habis terkoyak badai. Tak seletih ketika ia pulang tadi pagi. Ada bagian yang perih. Ia merintih sambil mencoba bangkit dari tidurnya

 “Aduh..duh…!”

Sudah dua hari dua malam Made Arya berpesta dengan teman-teman wanitanya. Mabuk-mabukan semalam suntuk dan bercinta sampai larut. Pantas saja ia merasa badannya sangat lelah dan pedih. Made Arya perlahan membuka matanya dan berusaha bertumpu pada sikunya, sementara tangan kanannya mencoba memegang apa saja di dekatnya.

Sambil mengumpat pelan, Made berhasil meraih meja di samping tempat tidurnya. Ia mencoba turun dari tempat tidur tapi tak sanggup menggerakkan kakinya. Setelah menggeser pinggulnya, hampir saja Made terjatuh. Matanya meloncat. Ia melihat darah segar yang sempat mengalir ke ujung kakinya mulai mengering.

Ia merasa telah kehilangan sesuatu yang selama ini begitu perkasa di pangkal pahanya. Made meraba-raba dengan kasar dan kontan saja berteriak. Benda tumpulnya yang berharga telah direnggut oleh benda tajam.

“Arghhh! Komaannggg…!”

Pan Merta dan istrinya berhamburan ke kamar Made.

“Ada apa De? Ada apa?”

Wajah Meme-nya pucat pasi ketika melihat darah di tempat tidurnya.

“Darah siapa itu?” Meme bertanya dengan histeris.

“Komang hilang, Me! Tadi dia ada di sini!” Made berteriak menjadi-jadi dan hampir menangis.

“Siapa Komang?” Bapa tak mengerti tapi mencoba melepaskan sprai tempat tidur untuk membungkus Made yang berdarah.

“Adikku!”

 “Tapi kamu tidak punya adik, De!”

Mei-Juni 2014

Tags: Cerpen
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Prof. Gondrong vs Prof. Cepak (?) – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Pola Hidup Sedentari dan Cara Meninggalkannya

Ayu Ugie Pratiwi

Ayu Ugie Pratiwi

Lahir di Singaraja, tinggal di Tabanan. IG: @ayuugiepratiwi

Related Posts

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails
Next Post
Pola Hidup Sedentari dan Cara Meninggalkannya

Pola Hidup Sedentari dan Cara Meninggalkannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan
Esai

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan
Ulas Pentas

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

by Rezky Chiki
June 9, 2026
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  
Esai

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan
Pendidikan

Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk...

by Wahyu Mahaputra
June 9, 2026
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong
Esai

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa
Pendidikan

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan...

by tatkala
June 8, 2026
Sihir Tiga Kode Huruf
Bahasa

Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

by I Made Sudiana
June 8, 2026
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari
Panggung

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne,...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam
Pariwisata

International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam

Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia
Pameran

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang...

by Nyoman Budarsana
June 9, 2026
Spesies Bapak Pongah | Etnosentris di Parade PKB 2022
Panggung

Peed Aya PKB 2026 Dirancang Tampil Lebih Dinamis Sebagai Pertunjukan Seni Berjalan

PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co