22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tinggalkan Komang di Sini

Ayu Ugie Pratiwi by Ayu Ugie Pratiwi
June 16, 2019
in Cerpen
Tinggalkan Komang di Sini

Lukisan Komang Astiari

Cerpen: Ayu Sugiharti Pratiwi

___

“Bli De, Bli De…”

Sudah sejak bangun tidur Gek Istri menyebut-nyebut nama suaminya sambil memetik daun bambu dari pohon yang menyelinap ke jendela kamarnya. Sudah hampir dua hari Made Arya tak pulang ke rumah dan sejak saat itu Gek Istri hanya melihat keluar dari jendela kamarnya, memandangi awan yang berarak membentuk berbagai macam bayangan seperti benda-benda yang dikenalnya.

Kemarin gumpalan awan membentuk bebek yang berenang, kepala kuda, kuping gajah dan banyak lagi! Gek Istri bertepuk tangan riang, ia bagaikan anak kecil tumben pergi ke kebun binatang saja.

Dan hari ini awan membentuk wajah Komang, wajah Gek Istri takjub lalu berseri-seri

 “Mang, Komang!”

Komang yang lucu, berkulit eksotis, manis sekali. Gek Istri membelai rambut hitamnya. Sudah lama ia tak mengecup ubun-ubun Komang. Dulu hampir setiap pagi Gek Istri akan mengelus Komang dahulu bahkan sebelum membangunkan suaminya untuk berangkat bekerja.

Komang itu adiknya Made Arya, baru dikenalkan setelah mereka memadu kasih selama 3 bulan. Gek Istri sempat kaget sekali ketika pertama kali bertemu dengan Komang, karena Bli Made sangat berbeda dengan Komang yang mungil dan pemalu. Bli Made perawakannya kekar dan wajahnya tegas, sedangkan Komang manis sekali dan sayu seakan-akan ingin tertidur sepanjang hari.

Made sangat menyayangi Komang, kemana-mana ia selalu diajak. Made memperkenalkan Komang pada banyak wanita tapi tak ada satu pun yang benar-benar memikat hatinya sampai ia bertemu dengan Gek Istri, hingga Komang menyetujui pernikahan Bli-nya dengan gadis menak itu.

Ketika pertama kali melihat Gek Istri di Pasar Kalibukbuk, Komang-lah yang memberi tahu Made Arya tentang keberadaan gadis berkulit kuning itu. Komang tak mampu menahan diri betapa ia terpesona ketika gadis itu membelai rambut panjangnya sambil sesekali menyentuh-nyentuh timun di depannya dan menawar harga dengan pedagang.

Komang menarik-narik Made bagai anak kecil yang ingin dibelikan permen oleh bapaknya. Permen itu kali ini cantik sekali, sepertinya kalau digigit, manis tubuhnya akan lumer di lidahnya. Komang tak pernah menginginkan permen manapun tapi ia berpikir jika gadis ini adalah permen yang diinginkan kakaknya, si Made Arya. 

Made Arya perlahan turun dari sepeda motornya, melepaskan helm dan mengambil kunci motornya dengan mata yang masih melekat pada Gek Istri. Matanya bertualang dari rambut hitam Gek Istri sampai berlalu lalang di seputaran bibirnya yang merekah bagai delima masak. Made Arya berjalan lurus ke arah di mana Gek Istri sedang berbelanja. Saking lurusnya, Made berkali-kali tak sengaja menambrak rombong bakso dan dadong-dadong penjaja buah.

“Aduhh, ampura, Bu! Ampura!”

Walau sambil minta maaf tapi mata Arya masih tak ingin kehilangan sosok ranum Gek Istri yang sedang berpindah ke penjual daging ayam. Langkah dramatis Made Arya yang mendekati Gek Istri membuat Komang tegang. Ia ingin bersembunyi tapi ia tak sabar ingin mengintip pula apa yang akan terjadi. Komang sangat tidak tahan dengan adegan-adegan semacam ini, tubuhnya menjadi keras menegang karena gugup.

Pada malam Purnama sasih ke dasa, ketika seluruh keluarga besar Puri Agung bersembahyang di merajan, Made Arya melarikan Gek Istri. Selendang perada Gek Istri terjatuh di hadapan Ratu Betara Dewa Banaspati, seakan-akan beliau tak sanggup menahan Gek Istri, tak sanggup memisahkan tuan putrinya dari laki-laki titisan Arjuna itu. Pada malam itu juga, ketika penyeroan Gek Istri sudah tak mampu menemukannya di sekitaran Puri, dengan sambil menangis Dadong Taman bersimpuh menghadap Ratu Gung Biang hingga setelah mengungkapkan sebaris kalimat Ratu Biang pingsan seketika.

Setelah menikah selama dua tahun tanpa restu kedua orang tua Gek Istri, hubungan suami istri mereka tak lagi harmonis, apalagi romantis. Made belum bisa menghilangkan kebiasaannya yang bercinta dengan banyak gadis. Mencicip sana sini.

Dua hari yang lalu ketika malam tanpa bintang, Gek Istri menatap suaminya yang menghadap ke cermin yang cukup besar untuk memuat seluruh bayangnya di sana. Gek Istri mencoba acuh sambil melipat selimut.

“Mau ke mana, Bli?”

 Laki-laki itu tak menjawab terus bersiul-siul pelan sambil menyisir rambutnya yang pekat. Ia mendesah pelan, lalu duduk dengan selimut masih di dekapannya.

“Mau menemui siapa, Bli?”

Made Arya membenarkan kerah kemejanya kemudian berpaling ke meja sambil mengemasi dompet dan mengenakan jam tangannya.

“Aku tak pulang malam ini, jangan tunggu aku,” ujar Made hambar tak menatap Gek Istri. 

“Bli akan menemui wanita itu lagi?” suara Gek Istri meninggi,

Made menolehnya tapi tak bergeming

“Oh maaf, maksudku wanita-wanita itu!” ralat Gek Istri sambil tersenyum sarkastik

“Bukan urusanmu, dan pelankan suaramu,” Made mencari-cari jaketnya di lemari sambil mengumpat

“Kenapa bukan urusanku? Aku istrimu, Bli!” Gek Istri mengikuti langkah Made, kemudian suaminya berbalik menghadapnya

“Kamu sudah tahu kan aku akan ke mana, pelankan suaramu sebelum orang tuaku terbangun,” kata Made geram. Orang tua Made Arya, Pan Merta dan Men Merta tinggal bersama mereka di rumah mungil ini.

“Baiklah, tapi jangan ajak Komang,” suara Gek Istri memelan

“Kamu sudah gila? Aku tak bisa tinggalkan Komang hanya berduaan denganmu!”

“Mengapa begitu? Aku takkan membiarkan Komang menemui wanita-wanita sundal itu!”

 “Kamu gila!” Made mengancingkan jaketnya dengan kesal lalu menuju pintu.

“Bli De, tinggalkan Komang bersamaku!”

“Tidak akan!” Made menepis tangan Gek Istri dan menghempaskannya ke kursi.

“Bli De!! Tinggalkan Komang di sini!” teriak Gek Istri histeris.

Tiba-tiba petir menggelegar lalu hujan lebat berjatuhan, Gek Istri dengan berlinang air mata masih memeluk kursi menoleh ke jendela.

“Oh… jadi aku tak usah menangis ya,” kata Gek Istri sambil menyeringai perlahan.

Tuhan memang seniman yang sangat luar biasa, pelukis ulung. Langit adalah kanvasnya, awan menjadi catnya dan kuasnya adalah angin. Setelah puas melihat-lihat galeri lukisan-Nya, Gek Istri menggelung rambut panjangnya sambil menatap suaminya di atas tempat tidur. Rambut hitam Gek Istri yang tipis dan berkilau itu adalah warisan Ratunini Oma.

Dulu rambutnya sering diminyaki dengan akar tumbuhan yang digoreng untuk diambil minyaknya. Wangi rambutnya istimewa, ketika mencium harumnya maka kau bagaikan berada di hutan yang penuh dengan kayu-kayu besar. Rambut itu adalah satu-satunya warisan yang ia dapat dari keluarganya yang kaya raya, penguasa gumi Utara.

Pada pagi yang masih buta Made Arya datang dengan kepala sempoyongan dan bergumam yang tidak-tidak. Ia langsung berbaring di tempat tidur dan terlelap hanya dengan hitungan detik. Gek Istri pelan-pelan mengemasi kain-kain dan selendangnya, ia sudah hendak pergi lalu berbalik lagi.

“Ah, hampir aku melupakan Komang..” bisik Gek Istri.

Dengan berjingkat, dengan kaki-kakinya yang membisu, ia menggenggam Komang, tak ingin membangunkannya.

Made Arya terbangun dengan keadaan pening dan lemas, rasanya seluruh tubuhnya habis terkoyak badai. Tak seletih ketika ia pulang tadi pagi. Ada bagian yang perih. Ia merintih sambil mencoba bangkit dari tidurnya

 “Aduh..duh…!”

Sudah dua hari dua malam Made Arya berpesta dengan teman-teman wanitanya. Mabuk-mabukan semalam suntuk dan bercinta sampai larut. Pantas saja ia merasa badannya sangat lelah dan pedih. Made Arya perlahan membuka matanya dan berusaha bertumpu pada sikunya, sementara tangan kanannya mencoba memegang apa saja di dekatnya.

Sambil mengumpat pelan, Made berhasil meraih meja di samping tempat tidurnya. Ia mencoba turun dari tempat tidur tapi tak sanggup menggerakkan kakinya. Setelah menggeser pinggulnya, hampir saja Made terjatuh. Matanya meloncat. Ia melihat darah segar yang sempat mengalir ke ujung kakinya mulai mengering.

Ia merasa telah kehilangan sesuatu yang selama ini begitu perkasa di pangkal pahanya. Made meraba-raba dengan kasar dan kontan saja berteriak. Benda tumpulnya yang berharga telah direnggut oleh benda tajam.

“Arghhh! Komaannggg…!”

Pan Merta dan istrinya berhamburan ke kamar Made.

“Ada apa De? Ada apa?”

Wajah Meme-nya pucat pasi ketika melihat darah di tempat tidurnya.

“Darah siapa itu?” Meme bertanya dengan histeris.

“Komang hilang, Me! Tadi dia ada di sini!” Made berteriak menjadi-jadi dan hampir menangis.

“Siapa Komang?” Bapa tak mengerti tapi mencoba melepaskan sprai tempat tidur untuk membungkus Made yang berdarah.

“Adikku!”

 “Tapi kamu tidak punya adik, De!”

Mei-Juni 2014

Tags: Cerpen
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Prof. Gondrong vs Prof. Cepak (?) – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Pola Hidup Sedentari dan Cara Meninggalkannya

Ayu Ugie Pratiwi

Ayu Ugie Pratiwi

Lahir di Singaraja, tinggal di Tabanan. IG: @ayuugiepratiwi

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Pola Hidup Sedentari dan Cara Meninggalkannya

Pola Hidup Sedentari dan Cara Meninggalkannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co