24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tinggalkan Komang di Sini

Ayu Sugiharti Pratiwi by Ayu Sugiharti Pratiwi
June 16, 2019
in Cerpen
Tinggalkan Komang di Sini

Lukisan Komang Astiari

Cerpen: Ayu Sugiharti Pratiwi

___

“Bli De, Bli De…”

Sudah sejak bangun tidur Gek Istri menyebut-nyebut nama suaminya sambil memetik daun bambu dari pohon yang menyelinap ke jendela kamarnya. Sudah hampir dua hari Made Arya tak pulang ke rumah dan sejak saat itu Gek Istri hanya melihat keluar dari jendela kamarnya, memandangi awan yang berarak membentuk berbagai macam bayangan seperti benda-benda yang dikenalnya.

Kemarin gumpalan awan membentuk bebek yang berenang, kepala kuda, kuping gajah dan banyak lagi! Gek Istri bertepuk tangan riang, ia bagaikan anak kecil tumben pergi ke kebun binatang saja.

Dan hari ini awan membentuk wajah Komang, wajah Gek Istri takjub lalu berseri-seri

 “Mang, Komang!”

Komang yang lucu, berkulit eksotis, manis sekali. Gek Istri membelai rambut hitamnya. Sudah lama ia tak mengecup ubun-ubun Komang. Dulu hampir setiap pagi Gek Istri akan mengelus Komang dahulu bahkan sebelum membangunkan suaminya untuk berangkat bekerja.

Komang itu adiknya Made Arya, baru dikenalkan setelah mereka memadu kasih selama 3 bulan. Gek Istri sempat kaget sekali ketika pertama kali bertemu dengan Komang, karena Bli Made sangat berbeda dengan Komang yang mungil dan pemalu. Bli Made perawakannya kekar dan wajahnya tegas, sedangkan Komang manis sekali dan sayu seakan-akan ingin tertidur sepanjang hari.

Made sangat menyayangi Komang, kemana-mana ia selalu diajak. Made memperkenalkan Komang pada banyak wanita tapi tak ada satu pun yang benar-benar memikat hatinya sampai ia bertemu dengan Gek Istri, hingga Komang menyetujui pernikahan Bli-nya dengan gadis menak itu.

Ketika pertama kali melihat Gek Istri di Pasar Kalibukbuk, Komang-lah yang memberi tahu Made Arya tentang keberadaan gadis berkulit kuning itu. Komang tak mampu menahan diri betapa ia terpesona ketika gadis itu membelai rambut panjangnya sambil sesekali menyentuh-nyentuh timun di depannya dan menawar harga dengan pedagang.

Komang menarik-narik Made bagai anak kecil yang ingin dibelikan permen oleh bapaknya. Permen itu kali ini cantik sekali, sepertinya kalau digigit, manis tubuhnya akan lumer di lidahnya. Komang tak pernah menginginkan permen manapun tapi ia berpikir jika gadis ini adalah permen yang diinginkan kakaknya, si Made Arya. 

Made Arya perlahan turun dari sepeda motornya, melepaskan helm dan mengambil kunci motornya dengan mata yang masih melekat pada Gek Istri. Matanya bertualang dari rambut hitam Gek Istri sampai berlalu lalang di seputaran bibirnya yang merekah bagai delima masak. Made Arya berjalan lurus ke arah di mana Gek Istri sedang berbelanja. Saking lurusnya, Made berkali-kali tak sengaja menambrak rombong bakso dan dadong-dadong penjaja buah.

“Aduhh, ampura, Bu! Ampura!”

Walau sambil minta maaf tapi mata Arya masih tak ingin kehilangan sosok ranum Gek Istri yang sedang berpindah ke penjual daging ayam. Langkah dramatis Made Arya yang mendekati Gek Istri membuat Komang tegang. Ia ingin bersembunyi tapi ia tak sabar ingin mengintip pula apa yang akan terjadi. Komang sangat tidak tahan dengan adegan-adegan semacam ini, tubuhnya menjadi keras menegang karena gugup.

Pada malam Purnama sasih ke dasa, ketika seluruh keluarga besar Puri Agung bersembahyang di merajan, Made Arya melarikan Gek Istri. Selendang perada Gek Istri terjatuh di hadapan Ratu Betara Dewa Banaspati, seakan-akan beliau tak sanggup menahan Gek Istri, tak sanggup memisahkan tuan putrinya dari laki-laki titisan Arjuna itu. Pada malam itu juga, ketika penyeroan Gek Istri sudah tak mampu menemukannya di sekitaran Puri, dengan sambil menangis Dadong Taman bersimpuh menghadap Ratu Gung Biang hingga setelah mengungkapkan sebaris kalimat Ratu Biang pingsan seketika.

Setelah menikah selama dua tahun tanpa restu kedua orang tua Gek Istri, hubungan suami istri mereka tak lagi harmonis, apalagi romantis. Made belum bisa menghilangkan kebiasaannya yang bercinta dengan banyak gadis. Mencicip sana sini.

Dua hari yang lalu ketika malam tanpa bintang, Gek Istri menatap suaminya yang menghadap ke cermin yang cukup besar untuk memuat seluruh bayangnya di sana. Gek Istri mencoba acuh sambil melipat selimut.

“Mau ke mana, Bli?”

 Laki-laki itu tak menjawab terus bersiul-siul pelan sambil menyisir rambutnya yang pekat. Ia mendesah pelan, lalu duduk dengan selimut masih di dekapannya.

“Mau menemui siapa, Bli?”

Made Arya membenarkan kerah kemejanya kemudian berpaling ke meja sambil mengemasi dompet dan mengenakan jam tangannya.

“Aku tak pulang malam ini, jangan tunggu aku,” ujar Made hambar tak menatap Gek Istri. 

“Bli akan menemui wanita itu lagi?” suara Gek Istri meninggi,

Made menolehnya tapi tak bergeming

“Oh maaf, maksudku wanita-wanita itu!” ralat Gek Istri sambil tersenyum sarkastik

“Bukan urusanmu, dan pelankan suaramu,” Made mencari-cari jaketnya di lemari sambil mengumpat

“Kenapa bukan urusanku? Aku istrimu, Bli!” Gek Istri mengikuti langkah Made, kemudian suaminya berbalik menghadapnya

“Kamu sudah tahu kan aku akan ke mana, pelankan suaramu sebelum orang tuaku terbangun,” kata Made geram. Orang tua Made Arya, Pan Merta dan Men Merta tinggal bersama mereka di rumah mungil ini.

“Baiklah, tapi jangan ajak Komang,” suara Gek Istri memelan

“Kamu sudah gila? Aku tak bisa tinggalkan Komang hanya berduaan denganmu!”

“Mengapa begitu? Aku takkan membiarkan Komang menemui wanita-wanita sundal itu!”

 “Kamu gila!” Made mengancingkan jaketnya dengan kesal lalu menuju pintu.

“Bli De, tinggalkan Komang bersamaku!”

“Tidak akan!” Made menepis tangan Gek Istri dan menghempaskannya ke kursi.

“Bli De!! Tinggalkan Komang di sini!” teriak Gek Istri histeris.

Tiba-tiba petir menggelegar lalu hujan lebat berjatuhan, Gek Istri dengan berlinang air mata masih memeluk kursi menoleh ke jendela.

“Oh… jadi aku tak usah menangis ya,” kata Gek Istri sambil menyeringai perlahan.

Tuhan memang seniman yang sangat luar biasa, pelukis ulung. Langit adalah kanvasnya, awan menjadi catnya dan kuasnya adalah angin. Setelah puas melihat-lihat galeri lukisan-Nya, Gek Istri menggelung rambut panjangnya sambil menatap suaminya di atas tempat tidur. Rambut hitam Gek Istri yang tipis dan berkilau itu adalah warisan Ratunini Oma.

Dulu rambutnya sering diminyaki dengan akar tumbuhan yang digoreng untuk diambil minyaknya. Wangi rambutnya istimewa, ketika mencium harumnya maka kau bagaikan berada di hutan yang penuh dengan kayu-kayu besar. Rambut itu adalah satu-satunya warisan yang ia dapat dari keluarganya yang kaya raya, penguasa gumi Utara.

Pada pagi yang masih buta Made Arya datang dengan kepala sempoyongan dan bergumam yang tidak-tidak. Ia langsung berbaring di tempat tidur dan terlelap hanya dengan hitungan detik. Gek Istri pelan-pelan mengemasi kain-kain dan selendangnya, ia sudah hendak pergi lalu berbalik lagi.

“Ah, hampir aku melupakan Komang..” bisik Gek Istri.

Dengan berjingkat, dengan kaki-kakinya yang membisu, ia menggenggam Komang, tak ingin membangunkannya.

Made Arya terbangun dengan keadaan pening dan lemas, rasanya seluruh tubuhnya habis terkoyak badai. Tak seletih ketika ia pulang tadi pagi. Ada bagian yang perih. Ia merintih sambil mencoba bangkit dari tidurnya

 “Aduh..duh…!”

Sudah dua hari dua malam Made Arya berpesta dengan teman-teman wanitanya. Mabuk-mabukan semalam suntuk dan bercinta sampai larut. Pantas saja ia merasa badannya sangat lelah dan pedih. Made Arya perlahan membuka matanya dan berusaha bertumpu pada sikunya, sementara tangan kanannya mencoba memegang apa saja di dekatnya.

Sambil mengumpat pelan, Made berhasil meraih meja di samping tempat tidurnya. Ia mencoba turun dari tempat tidur tapi tak sanggup menggerakkan kakinya. Setelah menggeser pinggulnya, hampir saja Made terjatuh. Matanya meloncat. Ia melihat darah segar yang sempat mengalir ke ujung kakinya mulai mengering.

Ia merasa telah kehilangan sesuatu yang selama ini begitu perkasa di pangkal pahanya. Made meraba-raba dengan kasar dan kontan saja berteriak. Benda tumpulnya yang berharga telah direnggut oleh benda tajam.

“Arghhh! Komaannggg…!”

Pan Merta dan istrinya berhamburan ke kamar Made.

“Ada apa De? Ada apa?”

Wajah Meme-nya pucat pasi ketika melihat darah di tempat tidurnya.

“Darah siapa itu?” Meme bertanya dengan histeris.

“Komang hilang, Me! Tadi dia ada di sini!” Made berteriak menjadi-jadi dan hampir menangis.

“Siapa Komang?” Bapa tak mengerti tapi mencoba melepaskan sprai tempat tidur untuk membungkus Made yang berdarah.

“Adikku!”

 “Tapi kamu tidak punya adik, De!”

Mei-Juni 2014

Tags: Cerpen
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Prof. Gondrong vs Prof. Cepak (?) – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Pola Hidup Sedentari dan Cara Meninggalkannya

Ayu Sugiharti Pratiwi

Ayu Sugiharti Pratiwi

Lahir di Singaraja. Penulis, pemain teater, guru. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Pola Hidup Sedentari dan Cara Meninggalkannya

Pola Hidup Sedentari dan Cara Meninggalkannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co