12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Simbiosis Mutualisme | Cerpen Erna Muti’rofianas

Erna Muti’rofianas by Erna Muti’rofianas
December 20, 2025
in Cerpen
Simbiosis Mutualisme | Cerpen Erna Muti’rofianas

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUBUNGAN Papa dan Mama sangat aneh. Mereka tidak pernah bertengkar, tapi juga tidak pernah tampil mesra. Mereka bersikap sopan terhadap satu sama lain. Mereka juga membagi pekerjaan rumah. Jika hari ini Mama belanja dan masak, Papa yang mencuci piring dan menyapu. Besoknya, gantian Papa belanja dan masak, sementara Mama mencuci piring dan menyapu. Jika bulan ini Papa yang membayar tagihan listrik dan air, bulan depan giliran Mama. Mereka mencuci dan menyetrika pakaian masing-masing. Pakaianku, mereka bagi jadwal. Uang sakuku juga diberikan sama rata dari mereka.

Sering aku berpikir, mereka dijodohkan sejak kecil atau nikah kontrak. Mungkin hubungan Papa-pacarnya dan Mama-pacarnya tidak direstui orang tua. Jadi, aku bertanya kepada Mama, kenapa ia menikah dengan Papa. 

Jawaban Mama malah membuatku bingung. Ia balik bertanya, “Bukankah semua orang menikah?”

Mana kutahu. Usiaku kan belum legal untuk menikah. 

“Lalu, kenapa Mama melahirkanku?”

“Tentu saja karena Mama mengandungmu. Memangnya kamu mau di dalam perut Mama selamanya?”

Aku salah mengajukan pertanyaan. “Kenapa Mama dan Papa memutuskan untuk punya anak?”

“Bukankah semua orang yang menikah akan punya anak?”

Mana kutahu. Tetangga sebelah rumah sudah menikah selama 5 tahun dan tidak punya anak. Oh, bukan tidak, tapi belum. Aku pernah mendengar pembicaraan mereka dengan Bu RT di warung. Bu RT bertanya dengan nada basa-basi, “Kapan punya anak?” Mereka menjawab sambil tersenyum, “Kami belum memutuskan untuk punya anak dalam waktu dekat.”

“Apakah Mama mencintai Papa?” Aku mengajukan pertanyaan lain. Aku penasaran sekali. Mereka tidak pernah terlihat bermesra-mesraan. Entah kalau melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuanku.

“Apa sih cinta itu?”

Aku mengangkat bahu. Mana kutahu. Mama selalu menjawab pertanyaan dengan balik bertanya. Membuatku semakin bingung saja. Karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Mama, aku ganti bertanya kepada Papa. “Kenapa Papa menikahi Mama?”

“Semua orang harus menikah.”

Haruskah? Bagaimana jika ada yang tidak mau menikah? 

“Kenapa Papa pilih Mama?”

Papa diam selama beberapa menit, sebelum menjawab, “Kami cocok satu sama lain.”

Aku masih memandang Papa, menunggu lanjutan kalimatnya. Tapi ternyata tidak ada keterangan tambahan. “Cocok bagaimana?”

“Papa mencari istri. Mama mencari suami. Kami sama-sama membutuhkan pasangan untuk syarat menikah.”

“Apakah Papa mencintai Mama?”

Papa diam lagi selama beberapa menit. Pertanyaanku seharusnya tidak sulit, cukup jawab “ya” atau “tidak”, tapi dahi Papa sampai berkerut-kerut. Ia akhirnya menjawab, “Entah.” 

Kupikir Papa akan menjawab “ya”. “Jadi, Papa tidak mencintai Mama?”

Papa menggeleng cepat-cepat. “Bukan begitu.” Ia diam lagi bermenit-menit, menyusun jawaban di kepala. Kali ini ia berhati-hati merangkai kalimat agar tidak kusalahpahami. “Kami tidak bisa dibilang saling mencintai. Tapi bukan saling membenci juga. Seperti yang Papa bilang tadi, kami cocok dan membutuhkan satu sama lain.”

“Seperti Rafflesia arnoldii yang menyediakan makanan untuk lalat agar lalat membantu penyerbukan Rafflesia arnoldii?”

“Ya, kira-kira seperti itu.” Kemudian Papa memberengut. “Jelek sekali analoginya. Kenapa tidak kupu-kupu dengan asoka?”

Aku mengangkat bahu. “Sama saja, kan? Bunga dengan serangga.”

“Kenapa Papa dan Mama memutuskan untuk punya aku? Maksudku, punya anak.”

“Eyang minta cucu.”

Aku menatap Papa bingung. “Kalian setuju begitu saja?”

“Yah, kami membicarakannya dan membuat kesepakatan. Bagaimanapun, Mama yang mengandung dan melahirkan.”

Jika tugas mengandung dan melahirkan bisa dibagi, Mama dan Papa pasti sudah membagi pekerjaan itu sama rata. 

Besoknya, aku bertanya lagi kepada Mama. “Kenapa Mama setuju ketika Eyang minta cucu?”

“Bukankah sudah Mama jawab kemarin?”

Aku mengingat-ingat. “Yang mana? Bukankah semua orang yang menikah akan punya anak?” Aku menirukan cara bicara Mama. Mama mengangguk sambil tertawa, menertawakan cara bicaraku yang mirip dirinya.

“Ma, bagaimana jika aku tidak mau menikah dan punya anak?”

“Mama tidak akan memaksamu. Tapi, sebaiknya kaupikirkan jawaban dari pertanyaan itu jika ditanya Eyang atau tetangga kelak.” 

***

Selama bertahun-tahun, aku memikirkan jawaban untuk pertanyaan: “Kenapa aku tidak mau menikah dan punya anak?” Hingga lulus kuliah, aku belum menemukan jawabannya. Belum ada yang bertanya juga, sih. Selama ini pertanyaan yang kuterima baru: “Sudah lulus?”, “Sampai bab berapa?”, atau “Kapan wisuda?”.

Berhubung sekarang aku sudah lulus, pertanyaan selanjutnya pasti: “Sudah kerja?”, “Kerja di mana?”, “Kerja apa?”, “Kapan nikah?”, lalu “Sudah ada calon?”.

Aku pusing memikirkan jawabannya. 

Seperti yang dilakukan Papa dan Mama dahulu, aku mencari orang yang bisa diajak simbiosis mutualisme. Ternyata susah sekali mencari orang yang cocok dan membutuhkan satu sama lain. Jadi, aku bertanya pada Papa bagaimana awal pertemuan ia dengan Mama.

“Kami berkenalan lewat aplikasi kencan, lalu membuat janji temu di coffee shop. Tiga bulan kemudian, kami menikah.”

“Secepat itu?”

“Yah, kami langsung cocok.”

Aku menginstal aplikasi kencan. Match-ku yang pertama, sebut saja Mr. A, tiga tahun lebih tua dariku. Ia mencari istri yang jago masak dan sanggup merawat mamanya. Kutanya, apa yang akan ia lakukan.

“Aku kerja. Cari uang,” demikian jawabnya.

“Bagaimana kalau kita sama-sama kerja dan memasak dan merawat mamamu?”

“Perkara mencari uang tidak perlu kamu pikirkan. Aku bisa menghidupi kalian berdua.”

Tidak cocok. Aku mau hubungan seperti Mama dan Papa. Ia tidak mau diajak bersimbiosis mutualisme. Jika aku harus merawat mamanya, lalu siapa yang akan merawat mamaku?

Match-ku yang kedua, panggil saja Mr. B, seumuran denganku. Ia juga baru mendapat kerja. Banyak kesamaan hobi di antara kami. Kami juga sefrekuensi ketika mengobrol. Yang membedakan adalah kondisi keluarga. Ia harus membiayai adiknya yang masih sekolah. Ayahnya meninggal tiga tahun lalu dan tidak meninggalkan banyak tabungan. Ibunya, yang sebelumnya di rumah saja dan tidak bekerja, harus banting tulang menghidupi keluarga.

“Dari kehidupan orang tuaku, aku jadi belajar bahwa perempuan harus punya keterampilan dan bekerja. Untuk jaga-jaga bila suami meninggal duluan.”

Ia ingin aku bekerja. Aku tidak keberatan. Masalahnya, ia ingin gajiku untuk menghidupi kami berdua, sebab gajinya akan dipakai untuk menghidupi keluarganya. Lalu, siapa yang akan menghidupi Mama-Papa jika mereka sudah pensiun nanti?

Match-ku yang ketiga, mari kita sapa dengan nama Mr. C, dua tahun lebih muda dariku. Ia sedang sibuk menyusun skripsi. Orang tuanya punya usaha toko bangunan. Setelah lulus nanti, ia langsung mewarisi bisnis orang tuanya. Katanya, aku lebih baik resign dan membantunya mengurus toko bangunan. Aku tidak keberatan.

“Bagaimana dengan pekerjaan rumah? Seperti memasak, cuci piring, bersih-bersih.”

“Tentu saja kamu. Bukankah itu kewajiban perempuan untuk mengurus rumah?”

Jika mengurus toko bangunan saja berdua, mengapa mengurus rumah hanya aku seorang?

Aku menceritakan semua match dari aplikasi kencan kepada Mama di Sabtu sore sepulang dari belanja bahan makanan. Minggu depan giliranku menemani Papa belanja.

“Menurut Mama, tidak usah pikirkan kata orang lain yang suka bertanya-tanya kapan nikah itu.”

“Tapi Mama memikirkan kata orang lain, kan? Jika tidak, buat apa Mama mencari suami?”

“Itu karena Eyang bersikeras Mama harus menikah. Dalam kasusmu, Mama membebaskanmu, tidak menuntutmu. Menikah seharusnya karena kamu mau dan siap, bukan karena pertanyaan orang lain. Toh, ini hidupmu.” [T]

Penulis: Erna Muti’rofianas
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Malam, Sketsa Luka, dan Sketsa Lainnya

Next Post

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Erna Muti’rofianas

Erna Muti’rofianas

Mendayagunakan waktu luang dengan membaca fiksi, terutama genre misteri dan fantasi, serta menulis puisi, cerpen, dan resensi di beberapa media online.

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co