3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Simbiosis Mutualisme | Cerpen Erna Muti’rofianas

Erna Muti’rofianas by Erna Muti’rofianas
December 20, 2025
in Cerpen
Simbiosis Mutualisme | Cerpen Erna Muti’rofianas

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUBUNGAN Papa dan Mama sangat aneh. Mereka tidak pernah bertengkar, tapi juga tidak pernah tampil mesra. Mereka bersikap sopan terhadap satu sama lain. Mereka juga membagi pekerjaan rumah. Jika hari ini Mama belanja dan masak, Papa yang mencuci piring dan menyapu. Besoknya, gantian Papa belanja dan masak, sementara Mama mencuci piring dan menyapu. Jika bulan ini Papa yang membayar tagihan listrik dan air, bulan depan giliran Mama. Mereka mencuci dan menyetrika pakaian masing-masing. Pakaianku, mereka bagi jadwal. Uang sakuku juga diberikan sama rata dari mereka.

Sering aku berpikir, mereka dijodohkan sejak kecil atau nikah kontrak. Mungkin hubungan Papa-pacarnya dan Mama-pacarnya tidak direstui orang tua. Jadi, aku bertanya kepada Mama, kenapa ia menikah dengan Papa. 

Jawaban Mama malah membuatku bingung. Ia balik bertanya, “Bukankah semua orang menikah?”

Mana kutahu. Usiaku kan belum legal untuk menikah. 

“Lalu, kenapa Mama melahirkanku?”

“Tentu saja karena Mama mengandungmu. Memangnya kamu mau di dalam perut Mama selamanya?”

Aku salah mengajukan pertanyaan. “Kenapa Mama dan Papa memutuskan untuk punya anak?”

“Bukankah semua orang yang menikah akan punya anak?”

Mana kutahu. Tetangga sebelah rumah sudah menikah selama 5 tahun dan tidak punya anak. Oh, bukan tidak, tapi belum. Aku pernah mendengar pembicaraan mereka dengan Bu RT di warung. Bu RT bertanya dengan nada basa-basi, “Kapan punya anak?” Mereka menjawab sambil tersenyum, “Kami belum memutuskan untuk punya anak dalam waktu dekat.”

“Apakah Mama mencintai Papa?” Aku mengajukan pertanyaan lain. Aku penasaran sekali. Mereka tidak pernah terlihat bermesra-mesraan. Entah kalau melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuanku.

“Apa sih cinta itu?”

Aku mengangkat bahu. Mana kutahu. Mama selalu menjawab pertanyaan dengan balik bertanya. Membuatku semakin bingung saja. Karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Mama, aku ganti bertanya kepada Papa. “Kenapa Papa menikahi Mama?”

“Semua orang harus menikah.”

Haruskah? Bagaimana jika ada yang tidak mau menikah? 

“Kenapa Papa pilih Mama?”

Papa diam selama beberapa menit, sebelum menjawab, “Kami cocok satu sama lain.”

Aku masih memandang Papa, menunggu lanjutan kalimatnya. Tapi ternyata tidak ada keterangan tambahan. “Cocok bagaimana?”

“Papa mencari istri. Mama mencari suami. Kami sama-sama membutuhkan pasangan untuk syarat menikah.”

“Apakah Papa mencintai Mama?”

Papa diam lagi selama beberapa menit. Pertanyaanku seharusnya tidak sulit, cukup jawab “ya” atau “tidak”, tapi dahi Papa sampai berkerut-kerut. Ia akhirnya menjawab, “Entah.” 

Kupikir Papa akan menjawab “ya”. “Jadi, Papa tidak mencintai Mama?”

Papa menggeleng cepat-cepat. “Bukan begitu.” Ia diam lagi bermenit-menit, menyusun jawaban di kepala. Kali ini ia berhati-hati merangkai kalimat agar tidak kusalahpahami. “Kami tidak bisa dibilang saling mencintai. Tapi bukan saling membenci juga. Seperti yang Papa bilang tadi, kami cocok dan membutuhkan satu sama lain.”

“Seperti Rafflesia arnoldii yang menyediakan makanan untuk lalat agar lalat membantu penyerbukan Rafflesia arnoldii?”

“Ya, kira-kira seperti itu.” Kemudian Papa memberengut. “Jelek sekali analoginya. Kenapa tidak kupu-kupu dengan asoka?”

Aku mengangkat bahu. “Sama saja, kan? Bunga dengan serangga.”

“Kenapa Papa dan Mama memutuskan untuk punya aku? Maksudku, punya anak.”

“Eyang minta cucu.”

Aku menatap Papa bingung. “Kalian setuju begitu saja?”

“Yah, kami membicarakannya dan membuat kesepakatan. Bagaimanapun, Mama yang mengandung dan melahirkan.”

Jika tugas mengandung dan melahirkan bisa dibagi, Mama dan Papa pasti sudah membagi pekerjaan itu sama rata. 

Besoknya, aku bertanya lagi kepada Mama. “Kenapa Mama setuju ketika Eyang minta cucu?”

“Bukankah sudah Mama jawab kemarin?”

Aku mengingat-ingat. “Yang mana? Bukankah semua orang yang menikah akan punya anak?” Aku menirukan cara bicara Mama. Mama mengangguk sambil tertawa, menertawakan cara bicaraku yang mirip dirinya.

“Ma, bagaimana jika aku tidak mau menikah dan punya anak?”

“Mama tidak akan memaksamu. Tapi, sebaiknya kaupikirkan jawaban dari pertanyaan itu jika ditanya Eyang atau tetangga kelak.” 

***

Selama bertahun-tahun, aku memikirkan jawaban untuk pertanyaan: “Kenapa aku tidak mau menikah dan punya anak?” Hingga lulus kuliah, aku belum menemukan jawabannya. Belum ada yang bertanya juga, sih. Selama ini pertanyaan yang kuterima baru: “Sudah lulus?”, “Sampai bab berapa?”, atau “Kapan wisuda?”.

Berhubung sekarang aku sudah lulus, pertanyaan selanjutnya pasti: “Sudah kerja?”, “Kerja di mana?”, “Kerja apa?”, “Kapan nikah?”, lalu “Sudah ada calon?”.

Aku pusing memikirkan jawabannya. 

Seperti yang dilakukan Papa dan Mama dahulu, aku mencari orang yang bisa diajak simbiosis mutualisme. Ternyata susah sekali mencari orang yang cocok dan membutuhkan satu sama lain. Jadi, aku bertanya pada Papa bagaimana awal pertemuan ia dengan Mama.

“Kami berkenalan lewat aplikasi kencan, lalu membuat janji temu di coffee shop. Tiga bulan kemudian, kami menikah.”

“Secepat itu?”

“Yah, kami langsung cocok.”

Aku menginstal aplikasi kencan. Match-ku yang pertama, sebut saja Mr. A, tiga tahun lebih tua dariku. Ia mencari istri yang jago masak dan sanggup merawat mamanya. Kutanya, apa yang akan ia lakukan.

“Aku kerja. Cari uang,” demikian jawabnya.

“Bagaimana kalau kita sama-sama kerja dan memasak dan merawat mamamu?”

“Perkara mencari uang tidak perlu kamu pikirkan. Aku bisa menghidupi kalian berdua.”

Tidak cocok. Aku mau hubungan seperti Mama dan Papa. Ia tidak mau diajak bersimbiosis mutualisme. Jika aku harus merawat mamanya, lalu siapa yang akan merawat mamaku?

Match-ku yang kedua, panggil saja Mr. B, seumuran denganku. Ia juga baru mendapat kerja. Banyak kesamaan hobi di antara kami. Kami juga sefrekuensi ketika mengobrol. Yang membedakan adalah kondisi keluarga. Ia harus membiayai adiknya yang masih sekolah. Ayahnya meninggal tiga tahun lalu dan tidak meninggalkan banyak tabungan. Ibunya, yang sebelumnya di rumah saja dan tidak bekerja, harus banting tulang menghidupi keluarga.

“Dari kehidupan orang tuaku, aku jadi belajar bahwa perempuan harus punya keterampilan dan bekerja. Untuk jaga-jaga bila suami meninggal duluan.”

Ia ingin aku bekerja. Aku tidak keberatan. Masalahnya, ia ingin gajiku untuk menghidupi kami berdua, sebab gajinya akan dipakai untuk menghidupi keluarganya. Lalu, siapa yang akan menghidupi Mama-Papa jika mereka sudah pensiun nanti?

Match-ku yang ketiga, mari kita sapa dengan nama Mr. C, dua tahun lebih muda dariku. Ia sedang sibuk menyusun skripsi. Orang tuanya punya usaha toko bangunan. Setelah lulus nanti, ia langsung mewarisi bisnis orang tuanya. Katanya, aku lebih baik resign dan membantunya mengurus toko bangunan. Aku tidak keberatan.

“Bagaimana dengan pekerjaan rumah? Seperti memasak, cuci piring, bersih-bersih.”

“Tentu saja kamu. Bukankah itu kewajiban perempuan untuk mengurus rumah?”

Jika mengurus toko bangunan saja berdua, mengapa mengurus rumah hanya aku seorang?

Aku menceritakan semua match dari aplikasi kencan kepada Mama di Sabtu sore sepulang dari belanja bahan makanan. Minggu depan giliranku menemani Papa belanja.

“Menurut Mama, tidak usah pikirkan kata orang lain yang suka bertanya-tanya kapan nikah itu.”

“Tapi Mama memikirkan kata orang lain, kan? Jika tidak, buat apa Mama mencari suami?”

“Itu karena Eyang bersikeras Mama harus menikah. Dalam kasusmu, Mama membebaskanmu, tidak menuntutmu. Menikah seharusnya karena kamu mau dan siap, bukan karena pertanyaan orang lain. Toh, ini hidupmu.” [T]

Penulis: Erna Muti’rofianas
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Malam, Sketsa Luka, dan Sketsa Lainnya

Next Post

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Erna Muti’rofianas

Erna Muti’rofianas

Mendayagunakan waktu luang dengan membaca fiksi, terutama genre misteri dan fantasi, serta menulis puisi, cerpen, dan resensi di beberapa media online.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co