23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Simbiosis Mutualisme | Cerpen Erna Muti’rofianas

Erna Muti’rofianas by Erna Muti’rofianas
December 20, 2025
in Cerpen
Simbiosis Mutualisme | Cerpen Erna Muti’rofianas

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUBUNGAN Papa dan Mama sangat aneh. Mereka tidak pernah bertengkar, tapi juga tidak pernah tampil mesra. Mereka bersikap sopan terhadap satu sama lain. Mereka juga membagi pekerjaan rumah. Jika hari ini Mama belanja dan masak, Papa yang mencuci piring dan menyapu. Besoknya, gantian Papa belanja dan masak, sementara Mama mencuci piring dan menyapu. Jika bulan ini Papa yang membayar tagihan listrik dan air, bulan depan giliran Mama. Mereka mencuci dan menyetrika pakaian masing-masing. Pakaianku, mereka bagi jadwal. Uang sakuku juga diberikan sama rata dari mereka.

Sering aku berpikir, mereka dijodohkan sejak kecil atau nikah kontrak. Mungkin hubungan Papa-pacarnya dan Mama-pacarnya tidak direstui orang tua. Jadi, aku bertanya kepada Mama, kenapa ia menikah dengan Papa. 

Jawaban Mama malah membuatku bingung. Ia balik bertanya, “Bukankah semua orang menikah?”

Mana kutahu. Usiaku kan belum legal untuk menikah. 

“Lalu, kenapa Mama melahirkanku?”

“Tentu saja karena Mama mengandungmu. Memangnya kamu mau di dalam perut Mama selamanya?”

Aku salah mengajukan pertanyaan. “Kenapa Mama dan Papa memutuskan untuk punya anak?”

“Bukankah semua orang yang menikah akan punya anak?”

Mana kutahu. Tetangga sebelah rumah sudah menikah selama 5 tahun dan tidak punya anak. Oh, bukan tidak, tapi belum. Aku pernah mendengar pembicaraan mereka dengan Bu RT di warung. Bu RT bertanya dengan nada basa-basi, “Kapan punya anak?” Mereka menjawab sambil tersenyum, “Kami belum memutuskan untuk punya anak dalam waktu dekat.”

“Apakah Mama mencintai Papa?” Aku mengajukan pertanyaan lain. Aku penasaran sekali. Mereka tidak pernah terlihat bermesra-mesraan. Entah kalau melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuanku.

“Apa sih cinta itu?”

Aku mengangkat bahu. Mana kutahu. Mama selalu menjawab pertanyaan dengan balik bertanya. Membuatku semakin bingung saja. Karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Mama, aku ganti bertanya kepada Papa. “Kenapa Papa menikahi Mama?”

“Semua orang harus menikah.”

Haruskah? Bagaimana jika ada yang tidak mau menikah? 

“Kenapa Papa pilih Mama?”

Papa diam selama beberapa menit, sebelum menjawab, “Kami cocok satu sama lain.”

Aku masih memandang Papa, menunggu lanjutan kalimatnya. Tapi ternyata tidak ada keterangan tambahan. “Cocok bagaimana?”

“Papa mencari istri. Mama mencari suami. Kami sama-sama membutuhkan pasangan untuk syarat menikah.”

“Apakah Papa mencintai Mama?”

Papa diam lagi selama beberapa menit. Pertanyaanku seharusnya tidak sulit, cukup jawab “ya” atau “tidak”, tapi dahi Papa sampai berkerut-kerut. Ia akhirnya menjawab, “Entah.” 

Kupikir Papa akan menjawab “ya”. “Jadi, Papa tidak mencintai Mama?”

Papa menggeleng cepat-cepat. “Bukan begitu.” Ia diam lagi bermenit-menit, menyusun jawaban di kepala. Kali ini ia berhati-hati merangkai kalimat agar tidak kusalahpahami. “Kami tidak bisa dibilang saling mencintai. Tapi bukan saling membenci juga. Seperti yang Papa bilang tadi, kami cocok dan membutuhkan satu sama lain.”

“Seperti Rafflesia arnoldii yang menyediakan makanan untuk lalat agar lalat membantu penyerbukan Rafflesia arnoldii?”

“Ya, kira-kira seperti itu.” Kemudian Papa memberengut. “Jelek sekali analoginya. Kenapa tidak kupu-kupu dengan asoka?”

Aku mengangkat bahu. “Sama saja, kan? Bunga dengan serangga.”

“Kenapa Papa dan Mama memutuskan untuk punya aku? Maksudku, punya anak.”

“Eyang minta cucu.”

Aku menatap Papa bingung. “Kalian setuju begitu saja?”

“Yah, kami membicarakannya dan membuat kesepakatan. Bagaimanapun, Mama yang mengandung dan melahirkan.”

Jika tugas mengandung dan melahirkan bisa dibagi, Mama dan Papa pasti sudah membagi pekerjaan itu sama rata. 

Besoknya, aku bertanya lagi kepada Mama. “Kenapa Mama setuju ketika Eyang minta cucu?”

“Bukankah sudah Mama jawab kemarin?”

Aku mengingat-ingat. “Yang mana? Bukankah semua orang yang menikah akan punya anak?” Aku menirukan cara bicara Mama. Mama mengangguk sambil tertawa, menertawakan cara bicaraku yang mirip dirinya.

“Ma, bagaimana jika aku tidak mau menikah dan punya anak?”

“Mama tidak akan memaksamu. Tapi, sebaiknya kaupikirkan jawaban dari pertanyaan itu jika ditanya Eyang atau tetangga kelak.” 

***

Selama bertahun-tahun, aku memikirkan jawaban untuk pertanyaan: “Kenapa aku tidak mau menikah dan punya anak?” Hingga lulus kuliah, aku belum menemukan jawabannya. Belum ada yang bertanya juga, sih. Selama ini pertanyaan yang kuterima baru: “Sudah lulus?”, “Sampai bab berapa?”, atau “Kapan wisuda?”.

Berhubung sekarang aku sudah lulus, pertanyaan selanjutnya pasti: “Sudah kerja?”, “Kerja di mana?”, “Kerja apa?”, “Kapan nikah?”, lalu “Sudah ada calon?”.

Aku pusing memikirkan jawabannya. 

Seperti yang dilakukan Papa dan Mama dahulu, aku mencari orang yang bisa diajak simbiosis mutualisme. Ternyata susah sekali mencari orang yang cocok dan membutuhkan satu sama lain. Jadi, aku bertanya pada Papa bagaimana awal pertemuan ia dengan Mama.

“Kami berkenalan lewat aplikasi kencan, lalu membuat janji temu di coffee shop. Tiga bulan kemudian, kami menikah.”

“Secepat itu?”

“Yah, kami langsung cocok.”

Aku menginstal aplikasi kencan. Match-ku yang pertama, sebut saja Mr. A, tiga tahun lebih tua dariku. Ia mencari istri yang jago masak dan sanggup merawat mamanya. Kutanya, apa yang akan ia lakukan.

“Aku kerja. Cari uang,” demikian jawabnya.

“Bagaimana kalau kita sama-sama kerja dan memasak dan merawat mamamu?”

“Perkara mencari uang tidak perlu kamu pikirkan. Aku bisa menghidupi kalian berdua.”

Tidak cocok. Aku mau hubungan seperti Mama dan Papa. Ia tidak mau diajak bersimbiosis mutualisme. Jika aku harus merawat mamanya, lalu siapa yang akan merawat mamaku?

Match-ku yang kedua, panggil saja Mr. B, seumuran denganku. Ia juga baru mendapat kerja. Banyak kesamaan hobi di antara kami. Kami juga sefrekuensi ketika mengobrol. Yang membedakan adalah kondisi keluarga. Ia harus membiayai adiknya yang masih sekolah. Ayahnya meninggal tiga tahun lalu dan tidak meninggalkan banyak tabungan. Ibunya, yang sebelumnya di rumah saja dan tidak bekerja, harus banting tulang menghidupi keluarga.

“Dari kehidupan orang tuaku, aku jadi belajar bahwa perempuan harus punya keterampilan dan bekerja. Untuk jaga-jaga bila suami meninggal duluan.”

Ia ingin aku bekerja. Aku tidak keberatan. Masalahnya, ia ingin gajiku untuk menghidupi kami berdua, sebab gajinya akan dipakai untuk menghidupi keluarganya. Lalu, siapa yang akan menghidupi Mama-Papa jika mereka sudah pensiun nanti?

Match-ku yang ketiga, mari kita sapa dengan nama Mr. C, dua tahun lebih muda dariku. Ia sedang sibuk menyusun skripsi. Orang tuanya punya usaha toko bangunan. Setelah lulus nanti, ia langsung mewarisi bisnis orang tuanya. Katanya, aku lebih baik resign dan membantunya mengurus toko bangunan. Aku tidak keberatan.

“Bagaimana dengan pekerjaan rumah? Seperti memasak, cuci piring, bersih-bersih.”

“Tentu saja kamu. Bukankah itu kewajiban perempuan untuk mengurus rumah?”

Jika mengurus toko bangunan saja berdua, mengapa mengurus rumah hanya aku seorang?

Aku menceritakan semua match dari aplikasi kencan kepada Mama di Sabtu sore sepulang dari belanja bahan makanan. Minggu depan giliranku menemani Papa belanja.

“Menurut Mama, tidak usah pikirkan kata orang lain yang suka bertanya-tanya kapan nikah itu.”

“Tapi Mama memikirkan kata orang lain, kan? Jika tidak, buat apa Mama mencari suami?”

“Itu karena Eyang bersikeras Mama harus menikah. Dalam kasusmu, Mama membebaskanmu, tidak menuntutmu. Menikah seharusnya karena kamu mau dan siap, bukan karena pertanyaan orang lain. Toh, ini hidupmu.” [T]

Penulis: Erna Muti’rofianas
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Malam, Sketsa Luka, dan Sketsa Lainnya

Next Post

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Erna Muti’rofianas

Erna Muti’rofianas

Mendayagunakan waktu luang dengan membaca fiksi, terutama genre misteri dan fantasi, serta menulis puisi, cerpen, dan resensi di beberapa media online.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co