24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Simbiosis Mutualisme | Cerpen Erna Muti’rofianas

Erna Muti’rofianas by Erna Muti’rofianas
December 20, 2025
in Cerpen
Simbiosis Mutualisme | Cerpen Erna Muti’rofianas

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUBUNGAN Papa dan Mama sangat aneh. Mereka tidak pernah bertengkar, tapi juga tidak pernah tampil mesra. Mereka bersikap sopan terhadap satu sama lain. Mereka juga membagi pekerjaan rumah. Jika hari ini Mama belanja dan masak, Papa yang mencuci piring dan menyapu. Besoknya, gantian Papa belanja dan masak, sementara Mama mencuci piring dan menyapu. Jika bulan ini Papa yang membayar tagihan listrik dan air, bulan depan giliran Mama. Mereka mencuci dan menyetrika pakaian masing-masing. Pakaianku, mereka bagi jadwal. Uang sakuku juga diberikan sama rata dari mereka.

Sering aku berpikir, mereka dijodohkan sejak kecil atau nikah kontrak. Mungkin hubungan Papa-pacarnya dan Mama-pacarnya tidak direstui orang tua. Jadi, aku bertanya kepada Mama, kenapa ia menikah dengan Papa. 

Jawaban Mama malah membuatku bingung. Ia balik bertanya, “Bukankah semua orang menikah?”

Mana kutahu. Usiaku kan belum legal untuk menikah. 

“Lalu, kenapa Mama melahirkanku?”

“Tentu saja karena Mama mengandungmu. Memangnya kamu mau di dalam perut Mama selamanya?”

Aku salah mengajukan pertanyaan. “Kenapa Mama dan Papa memutuskan untuk punya anak?”

“Bukankah semua orang yang menikah akan punya anak?”

Mana kutahu. Tetangga sebelah rumah sudah menikah selama 5 tahun dan tidak punya anak. Oh, bukan tidak, tapi belum. Aku pernah mendengar pembicaraan mereka dengan Bu RT di warung. Bu RT bertanya dengan nada basa-basi, “Kapan punya anak?” Mereka menjawab sambil tersenyum, “Kami belum memutuskan untuk punya anak dalam waktu dekat.”

“Apakah Mama mencintai Papa?” Aku mengajukan pertanyaan lain. Aku penasaran sekali. Mereka tidak pernah terlihat bermesra-mesraan. Entah kalau melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuanku.

“Apa sih cinta itu?”

Aku mengangkat bahu. Mana kutahu. Mama selalu menjawab pertanyaan dengan balik bertanya. Membuatku semakin bingung saja. Karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Mama, aku ganti bertanya kepada Papa. “Kenapa Papa menikahi Mama?”

“Semua orang harus menikah.”

Haruskah? Bagaimana jika ada yang tidak mau menikah? 

“Kenapa Papa pilih Mama?”

Papa diam selama beberapa menit, sebelum menjawab, “Kami cocok satu sama lain.”

Aku masih memandang Papa, menunggu lanjutan kalimatnya. Tapi ternyata tidak ada keterangan tambahan. “Cocok bagaimana?”

“Papa mencari istri. Mama mencari suami. Kami sama-sama membutuhkan pasangan untuk syarat menikah.”

“Apakah Papa mencintai Mama?”

Papa diam lagi selama beberapa menit. Pertanyaanku seharusnya tidak sulit, cukup jawab “ya” atau “tidak”, tapi dahi Papa sampai berkerut-kerut. Ia akhirnya menjawab, “Entah.” 

Kupikir Papa akan menjawab “ya”. “Jadi, Papa tidak mencintai Mama?”

Papa menggeleng cepat-cepat. “Bukan begitu.” Ia diam lagi bermenit-menit, menyusun jawaban di kepala. Kali ini ia berhati-hati merangkai kalimat agar tidak kusalahpahami. “Kami tidak bisa dibilang saling mencintai. Tapi bukan saling membenci juga. Seperti yang Papa bilang tadi, kami cocok dan membutuhkan satu sama lain.”

“Seperti Rafflesia arnoldii yang menyediakan makanan untuk lalat agar lalat membantu penyerbukan Rafflesia arnoldii?”

“Ya, kira-kira seperti itu.” Kemudian Papa memberengut. “Jelek sekali analoginya. Kenapa tidak kupu-kupu dengan asoka?”

Aku mengangkat bahu. “Sama saja, kan? Bunga dengan serangga.”

“Kenapa Papa dan Mama memutuskan untuk punya aku? Maksudku, punya anak.”

“Eyang minta cucu.”

Aku menatap Papa bingung. “Kalian setuju begitu saja?”

“Yah, kami membicarakannya dan membuat kesepakatan. Bagaimanapun, Mama yang mengandung dan melahirkan.”

Jika tugas mengandung dan melahirkan bisa dibagi, Mama dan Papa pasti sudah membagi pekerjaan itu sama rata. 

Besoknya, aku bertanya lagi kepada Mama. “Kenapa Mama setuju ketika Eyang minta cucu?”

“Bukankah sudah Mama jawab kemarin?”

Aku mengingat-ingat. “Yang mana? Bukankah semua orang yang menikah akan punya anak?” Aku menirukan cara bicara Mama. Mama mengangguk sambil tertawa, menertawakan cara bicaraku yang mirip dirinya.

“Ma, bagaimana jika aku tidak mau menikah dan punya anak?”

“Mama tidak akan memaksamu. Tapi, sebaiknya kaupikirkan jawaban dari pertanyaan itu jika ditanya Eyang atau tetangga kelak.” 

***

Selama bertahun-tahun, aku memikirkan jawaban untuk pertanyaan: “Kenapa aku tidak mau menikah dan punya anak?” Hingga lulus kuliah, aku belum menemukan jawabannya. Belum ada yang bertanya juga, sih. Selama ini pertanyaan yang kuterima baru: “Sudah lulus?”, “Sampai bab berapa?”, atau “Kapan wisuda?”.

Berhubung sekarang aku sudah lulus, pertanyaan selanjutnya pasti: “Sudah kerja?”, “Kerja di mana?”, “Kerja apa?”, “Kapan nikah?”, lalu “Sudah ada calon?”.

Aku pusing memikirkan jawabannya. 

Seperti yang dilakukan Papa dan Mama dahulu, aku mencari orang yang bisa diajak simbiosis mutualisme. Ternyata susah sekali mencari orang yang cocok dan membutuhkan satu sama lain. Jadi, aku bertanya pada Papa bagaimana awal pertemuan ia dengan Mama.

“Kami berkenalan lewat aplikasi kencan, lalu membuat janji temu di coffee shop. Tiga bulan kemudian, kami menikah.”

“Secepat itu?”

“Yah, kami langsung cocok.”

Aku menginstal aplikasi kencan. Match-ku yang pertama, sebut saja Mr. A, tiga tahun lebih tua dariku. Ia mencari istri yang jago masak dan sanggup merawat mamanya. Kutanya, apa yang akan ia lakukan.

“Aku kerja. Cari uang,” demikian jawabnya.

“Bagaimana kalau kita sama-sama kerja dan memasak dan merawat mamamu?”

“Perkara mencari uang tidak perlu kamu pikirkan. Aku bisa menghidupi kalian berdua.”

Tidak cocok. Aku mau hubungan seperti Mama dan Papa. Ia tidak mau diajak bersimbiosis mutualisme. Jika aku harus merawat mamanya, lalu siapa yang akan merawat mamaku?

Match-ku yang kedua, panggil saja Mr. B, seumuran denganku. Ia juga baru mendapat kerja. Banyak kesamaan hobi di antara kami. Kami juga sefrekuensi ketika mengobrol. Yang membedakan adalah kondisi keluarga. Ia harus membiayai adiknya yang masih sekolah. Ayahnya meninggal tiga tahun lalu dan tidak meninggalkan banyak tabungan. Ibunya, yang sebelumnya di rumah saja dan tidak bekerja, harus banting tulang menghidupi keluarga.

“Dari kehidupan orang tuaku, aku jadi belajar bahwa perempuan harus punya keterampilan dan bekerja. Untuk jaga-jaga bila suami meninggal duluan.”

Ia ingin aku bekerja. Aku tidak keberatan. Masalahnya, ia ingin gajiku untuk menghidupi kami berdua, sebab gajinya akan dipakai untuk menghidupi keluarganya. Lalu, siapa yang akan menghidupi Mama-Papa jika mereka sudah pensiun nanti?

Match-ku yang ketiga, mari kita sapa dengan nama Mr. C, dua tahun lebih muda dariku. Ia sedang sibuk menyusun skripsi. Orang tuanya punya usaha toko bangunan. Setelah lulus nanti, ia langsung mewarisi bisnis orang tuanya. Katanya, aku lebih baik resign dan membantunya mengurus toko bangunan. Aku tidak keberatan.

“Bagaimana dengan pekerjaan rumah? Seperti memasak, cuci piring, bersih-bersih.”

“Tentu saja kamu. Bukankah itu kewajiban perempuan untuk mengurus rumah?”

Jika mengurus toko bangunan saja berdua, mengapa mengurus rumah hanya aku seorang?

Aku menceritakan semua match dari aplikasi kencan kepada Mama di Sabtu sore sepulang dari belanja bahan makanan. Minggu depan giliranku menemani Papa belanja.

“Menurut Mama, tidak usah pikirkan kata orang lain yang suka bertanya-tanya kapan nikah itu.”

“Tapi Mama memikirkan kata orang lain, kan? Jika tidak, buat apa Mama mencari suami?”

“Itu karena Eyang bersikeras Mama harus menikah. Dalam kasusmu, Mama membebaskanmu, tidak menuntutmu. Menikah seharusnya karena kamu mau dan siap, bukan karena pertanyaan orang lain. Toh, ini hidupmu.” [T]

Penulis: Erna Muti’rofianas
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Malam, Sketsa Luka, dan Sketsa Lainnya

Next Post

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Erna Muti’rofianas

Erna Muti’rofianas

Mendayagunakan waktu luang dengan membaca fiksi, terutama genre misteri dan fantasi, serta menulis puisi, cerpen, dan resensi di beberapa media online.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co