2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

I Made Argawa by I Made Argawa
December 20, 2025
in Esai
Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

Ilustrasi tatkala.co

Ini merupakan tulisan yang bersumber dari lubuk hati saya. Mungkin sebagai orangtua, saya cukup perasa dan sangat menikmati sesi bersama anak. Mulai dari memandikan, menyuapi makan, mengganti baju sekolah, mengantar sekolah bahkan mungkin mengambil rapor.

Kegiatan tadi bagi sebagian orang merupakan hal remeh temeh. Bahkan cenderung tidak produktif. Saya pastikan itu iya. Karena tidak ada uang atau keuntungan materi yang dihasilkan dari kegiatan itu.

Tapi, bagi saya itu sangat menyenangkan. Saya memiliki kenangan dan menciptakan jalinan emosi dengan anak. Bahkan, saya cenderung memposisikan anak saya sejajar dengan saya. Bisa dibilang, saya menjadikannya teman. Posisi saya bukan orang yang disegani atau harus dihormati dan dijunjung tinggi.

Saya lebih senang jika anak saya bisa mengatakan, FUCK. Sambil menunjukkan jari tengahnya ke saya. Saya akan balas dengan kepalan tangan. Lalu menunjukkan jempol, lantas jempol itu akan saya putar ke bawah.

Seketika anak saya akan protes dengan merengek. Ini bagi saya momen yang lucu.

Hal seperti tadi memang sengaja saya ciptakan. Ini bukan hanya soal interaksi dengan anak. Tapi, menumbuhkan sikap setara dan bisa saling menerima dan memahami. Anak saya berusia sekitar 7 tahun, saat ini sedang berada di kelas 1 sekolah dasar.

Saat pagi, ketika anak saya akan berangkat ke sekolah. Saat baru mengenakan pakaian tanpa celana, dia akan naik ke kepala saya sambil mendekatkan titit-nya. Saya akan spontan mengatakan, “araah”.

Lantas, istri saya akan menegur. “Jangan begitu dengan orangtua”

Kegiatan atau prilaku tadi sangat saya nikmati sebagai orangtua. Saya enjoy saja.

Mungkin bagi sebagian orangtua, anak saya berlebihan. Bahkan mungkin tidak ada sikap hormat. Tapi, ketika di luar rumah, atau di tempat yang membutuhkan sikap saling menghormati, saya nilai anak saya bisa dan mengerti hal itu.

Bisa jadi, saya bukan tipe orangtua yang keras dan kaku pada anak. Peran itu diambil oleh istri saya. Ketika istri saya membentak, anak saya seketika akan diam. Jika saya yang berbicara dengan nada keras, anak saya akan berusaha membantah.

Ada sebuah momen yang membuat saya cukup terkejut sekaligus haru. Saat itu, saya harus buru-buru ke luar rumah. Di waktu itu, anak saya ada les-pelajaran tambahan.

Karena berkaitan dengan orang banyak, saya lebih memilih mendahulukan pekerjaan saya. Ketika itu, anak saya mengeluh sekaligus marah. Ia sempat berteriak. “Biar saja, dia (maksudnya saya) tidak ngurus anak. Hanya ngurus pekerjaan saja”

Saya terkejut dan terdiam beberapa saat mendengar itu. Anak saya yang baru kelas 1 sekolah dasar bisa mengungkapkan hal tadi! Saya terharu.

Meski, akhirnya berangkat les batal karena urusan pekerjaan tadi.

Tapi, bisa mengungkapkan hal kritis tadi bagi saya sudah lebih dari cukup. Dibandingkan pelajaran tambahan atau nilai-nilai semu di sekolah. Eureka….!!!!

Sampai saat ini, saya merasa bukan sebagai orangtua yang ketat, tegas dan disiplin pada anak. Misalkan, pada pelajaran. Saya ingat ketika beranjak dari sekolah PAUD ke sekolah dasar, saya tidak mengharuskan anak untuk ikut pelajaran tambahan atau les.

Dia sendiri yang ingin ikut. Karena baginya, itu perlu agar bisa mengimbangi teman-temannya di sekolah dalam pelajaran.

Saya sempat khawatir dengan pandangan ini. Karena saat saya sekolah dasar sama sekali tidak pernah punya pemikiran seperti ini.

Ikut pelajaran tambahan pun karena instruksi sekolah untuk persiapan ujian nasional pada kelas enam. Sisanya, saya sekolah mengerjakan pelajaran dan bermain.

Pola saya dalam mendidikan anak bisa dikatakan santai. Sangat santai. Karena bagi saya tumbuh kembang anak perlu dinikmati. Bagi si anak dan orangtuanya, karena ini bukan kompetisi.

Sama seperti ketika ada imbauan mengambil rapot bagi orangtua, terutama ayah. Ini mungkin hal remeh dan bagi sebagian orang tidak penting.

Tapi, perlu dilihat lagi. Riset yang dilakukan oleh Kompas dan dipublikasi pada 8 Oktober 2025 menyebutkan, sekitar seperlima anak Indonesia tanpa pengasuhan ayah atau fatherless. https://www.kompas.id/artikel/anak-anak-yang-berpotensi-fatherless-dari-keluarga-terpisah-hl-h1

“Fatherless dapat menimbulkan masalah identitas diri, gangguan orientasi seksual, dan sulitnya berinteraksi sosial. Namun, fatherless juga dapat menjadi titik balik seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dari perlakuan ayahnya.”

Apakah ini ada kaitannya dengan imbauan pemerintah yang meminta orangtua (ayah) untuk mengambil rapor anaknya, saya tidak tahu.
Tapi, komentar netizen soal pengambilan rapor ini cukup seram saya lihat di media sosial. Apalagi dikaitkan dengan kebijakan publik, mengatasi sampah, banjir dan soal lain-lainnya.

Mungkin bagi sebagian besar publik, pemerintah harus mengutamakan hal-hal besar dan berat. Iya, itu benar saya setuju seratus persen.
Tapi, mengambil rapor anak bagi saya juga hal yang sangat penting! [T]

Tags: anak-anakayahPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Simbiosis Mutualisme | Cerpen Erna Muti’rofianas

Next Post

Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan — [Bagian 2]

I Made Argawa

I Made Argawa

Selalu berusaha santai di tengah dunia yang makin cepat

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan — [Bagian 2]

Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan -- [Bagian 2]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co