3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Santos dan Oppenheimer, Refleksi atas Eden in the East dan The Lost Continent Finally Found

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 15, 2025
in Ulas Buku
Pertemuan Santos dan Oppenheimer, Refleksi atas Eden in the East dan The Lost Continent Finally Found

Refleksi atas Eden in the East dan The Lost Continent Finally Found

Dua Dunia, Satu Akar

Dalam sejarah peradaban, sering kali kita terjebak pada dikotomi: Timur sebagai wilayah mitos dan spiritualitas, Barat sebagai ranah sains dan rasionalitas. Namun dua buku penting—Eden in the East karya Stephen Oppenheimer dan The Lost Continent Finally Found karya Arysio Santos—menggugat pembelahan ini. Keduanya bertemu dalam satu titik reflektif: bahwa peradaban manusia memiliki akar yang jauh lebih tua, lebih maju, dan lebih timur dari yang selama ini diakui sejarah arus utama. Dalam pertemuan gagasan inilah, secara metaforis, “Santos dan Oppenheimer” saling berjabat tangan.

Oppenheimer: Sains yang Membuka Pintu Mitos

Stephen Oppenheimer, seorang dokter dan genetikus, menulis Eden in the East dengan pendekatan ilmiah yang ketat. Melalui data genetika, arkeologi, dan geologi, ia mengajukan tesis radikal namun terukur: pusat peradaban awal manusia bukanlah Timur Tengah, melainkan Asia Tenggara, khususnya kawasan Sundaland yang kini tenggelam akibat kenaikan permukaan laut pasca Zaman Es.

Oppenheimer tidak sedang membangun mitologi baru. Ia justru mengajak sains untuk jujur pada temuannya sendiri. Migrasi manusia, penyebaran bahasa, tanaman pangan, dan teknologi menunjukkan arah dari timur ke barat, bukan sebaliknya. Dengan demikian, “Eden” bukanlah simbol teologis semata, melainkan memori kolektif atas sebuah tanah subur yang hilang ditelan air.

Santos: Atlantis sebagai Ingatan Kultural

Jika Oppenheimer berbicara dengan bahasa sains, Arysio Santos berbicara dengan bahasa keberanian imajinatif yang terstruktur. Dalam The Lost Continent Finally Found, ia mengidentifikasi Atlantis—yang selama ini dianggap legenda Plato—sebagai Sundaland. Bagi Santos, Atlantis bukan dongeng, melainkan catatan simbolik tentang kehancuran sebuah peradaban maju akibat bencana alam global.

Yang menarik, Santos tidak menolak sains. Ia justru memadukan geografi, mitologi, teks kuno, dan data geologi untuk menunjukkan konsistensi narasi Atlantis dengan kondisi Asia Tenggara purba. Di sinilah Santos dan Oppenheimer bertemu: satu membawa bukti, yang lain membawa makna.

Pertemuan Indah: Ketika Data Bertemu Ingatan

Pertemuan gagasan Santos dan Oppenheimer adalah pertemuan indah antara rasionalitas dan intuisi sejarah. Oppenheimer menunjukkan “bagaimana” peradaban itu ada dan menyebar; Santos menjelaskan “mengapa” ingatan tentangnya bertahan dalam mitos global—dari Atlantis hingga kisah banjir besar dalam berbagai tradisi.

Keduanya mengingatkan kita bahwa mitos bukan kebohongan, melainkan arsip ingatan manusia yang dibungkus simbol. Ketika sains membuka lapisan faktualnya, mitos menemukan kembali martabatnya sebagai pengetahuan purba.

Pelajaran untuk Bali: Pulau Kecil dengan Ingatan Besar

Bali, dengan sistem subak, kosmologi Tri Hita Karana, dan ritual yang menyelaraskan manusia-alam-Tuhan, tampak seperti fragmen hidup dari peradaban yang lebih tua. Jika Sundaland benar merupakan pusat peradaban awal, maka Bali bukan sekadar daerah “pinggiran”, melainkan pewaris etika ekologis yang pernah menopang dunia.

Pelajaran terpenting bagi Bali adalah kesadaran akan keseimbangan. Atlantis/Sundaland runtuh bukan karena perang, melainkan karena bencana yang diperparah oleh ketidakseimbangan relasi manusia dan alam. Bali hari ini menghadapi tantangan serupa: alih fungsi lahan, krisis air, dan pariwisata yang melampaui daya dukung.

Pelajaran untuk Indonesia: Dari Konsumen Sejarah menjadi Subjek

Bagi Indonesia secara keseluruhan, pertemuan Santos dan Oppenheimer menantang mentalitas pascakolonial yang terlalu lama menganggap diri sebagai penerima peradaban. Jika Asia Tenggara adalah sumber, maka Indonesia bukan halaman kaki sejarah, melainkan bab pembuka yang terlupakan.

Namun pengakuan ini bukan untuk kebanggaan kosong. Ia menuntut tanggung jawab intelektual dan intelijensia: membangun ilmu pengetahuan sendiri, menafsir ulang tradisi dengan kritis, serta menjaga alam sebagai arsip hidup peradaban.

Sains, Spiritualitas, dan Masa Depan

Pertemuan Santos dan Oppenheimer juga relevan untuk masa depan global. Dunia modern yang teknologis namun rapuh membutuhkan integrasi antara sains dan kebijaksanaan ekologis. Atlantis runtuh karena lupa batas; dunia hari ini berada di tepi risiko yang sama.

Indonesia—dengan kekayaan budaya, biodiversitas, dan ingatan kosmologis—berpotensi menjadi jembatan antara sains modern dan spiritualitas bumi. Namun hanya jika kita mampu belajar, bukan sekadar bernostalgia.

Mengingat untuk Bertanggung Jawab

Pertemuan indah Santos dan Oppenheimer bukan tentang siapa yang benar, melainkan tentang keberanian mengingat. Mengingat bahwa peradaban bisa tenggelam. Mengingat bahwa kemajuan tanpa kesadaran ekologis adalah ilusi. Dan mengingat bahwa Bali dan Indonesia bukan hanya pewaris tanah, tetapi pewaris budaya luhur yang nilai-nilainya terpateri dalam Pancasila.

Menariknya, kedua buku ini pernah diseminarkan di LIPI Jakarta di hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2010, dengan menghadirkan langsung Stephen Oppenheimer, penulis Eden in The East. Sayang, Prof. Santos sudah berpulang sehingga diwakili oleh Frank Joseph Hoff, dari University of Washington.

Jika Atlantis adalah peringatan, maka Nusantara hari ini adalah kesempatan kedua. Apakah kita akan mengulang tenggelamnya Eden, atau menjaga agar ia tetap hidup—itulah pertanyaan sejati yang ditinggalkan oleh pertemuan dua penulis buku ini. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuOppenheimerrefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pentingnya Komunikasi Publik Bagi Pejabat Publik

Next Post

Pakuwon Mall Surabaya dan Jebakan Kapitalisme yang Melenakan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Pakuwon Mall Surabaya dan Jebakan Kapitalisme yang Melenakan

Pakuwon Mall Surabaya dan Jebakan Kapitalisme yang Melenakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co