2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Jaswanto by Jaswanto
November 12, 2025
in Ulas Pentas
“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Aktor perempuan dalam pertunjukan "Aguru Waktra" yang dipentaskan di panggung B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

CAHAYA temaram menimpa sesosok yang duduk bersila sambil memegang sebuah lontar tua lalu merapal semacam matra purba, tubuhnya nyaris menyatu dengan lantai pertunjukan. Dalam kesunyian, suara dengung mengalun pelan—lebih seperti napas daripada musik. Dari situ Aguru Waktra dimulai, bukan dengan letupan narasi, melainkan dengan panggilan lembut yang mengajak penonton kembali mendengar sesuatu yang telah lama mereka abaikan: suara alam.

Karya ini ditulis dan disutradarai oleh I Putu Ardiyasa, seorang dalang dan akademisi di IAHN Mpu Kuturan Singaraja, yang dalam beberapa tahun terakhir konsisten menjembatani tradisi pewayangan Bali dengan praktik teater kontemporer. Aguru Waktra adalah salah satu upaya terpentingnya—sebuah pertunjukan yang berangkat dari tradisi pengobatan kuno (pengusadhan), namun menjelma menjadi ruang renung tentang pengetahuan, spiritualitas, dan krisis ekologi hari ini.

Sore itu, di Masa Masa Beranda, Gianyar, Bali, dalam program “Panggung Hidup” serangkaian Bali Performing Arts Meeting (B-PART) 2025, Selasa (4/11/2025), Aguru Waktra menjadi pusat perhatian. Aguru Waktra berangkat dari naskah lontar Buda Kecapi.

Gunungan, properti pertunjukan “Aguru Waktra” oleh Komunitas Seni Lemah Tulis di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pertunjukan ini dipentaskan pertama kali di Singaraja Literary Festival (SLF) yang digelar Yayasan Mahima Indonesia di Singaraja (Juli 2025) dengan tema Buda Kecapi. Dan Komunitas Seni Lemah Tulis—komunitas yang memproduksi dan mementaskan Aguru Waktra—mendapat kesempatan untuk melakukan proses alihwahana dan memanggungkan kisah dari lontar Buda Kecapi itu pada sesi pertunjukan di SLF. Dari situlah, Aguru Waktra beranjak ke Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025 sebelum dipanggungkan di pembukaan B-PART 2025.

Repertoar ini turut menggandeng beberapa nama dan grup, seperti Gung Surya, Adit, Anang, Mang Nila, dan Dina (aktor); Made Adnyana Ole (dramaturg); Batria Dama (koreografer); Renggama (komposer); dan Juliawan, Edi, Abdhi, MK Lomos CS (artistik dan crew); lalu Hari Mukti dan Ria (kesekretariatan).

Antara Spiritual dan Ekologi

Di tangan Ardi, tubuh menjadi teks yang dibaca dengan kesunyian. Para pemain tak banyak berbicara; mereka justru mengucapkan sesuatu lewat cara mereka bergerak. Tubuh Kalimosadha dan Kalimosadhi—dua murid Buda Kecapi dalam narasi—bergerak pelan, terukur, bahkan di batas diam. Dari tubuh-tubuh itu kita belajar bahwa pengetahuan tidak selalu diturunkan lewat kata, melainkan lewat ritme, pernapasan, dan kesadaran akan ruang.

Sebagaimana ditulis Michael H.B. Raditya (2019), tubuh dalam pertunjukan tradisi adalah “arsip hidup”—penyimpan pengetahuan yang tak tercatat, tapi terus diwariskan. Dalam Aguru Waktra, tubuh itu bukan sekadar simbol, melainkan jembatan antara dunia material dan spiritual. Ketika tangan para pemain menyentuh tanah, kita seperti menyaksikan manusia yang tengah belajar kembali berbahasa dengan bumi.

Para aktor dalam pertunjukan “Aguru Waktra” yang dipentaskan di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Yang menarik, Ardi tidak terjebak dalam bentuk teater simbolik yang kering. Ia menjaga ritus sebagai inti dari pengalaman menonton. Seperti catatan Zen Hae (2009), pertunjukan yang baik “tidak perlu banyak bicara, asal mampu menyalakan getar kehidupan.” Di sini, Aguru Waktra berbicara lewat kesederhanaannya. Cahaya, suara gamelan, tarian yang berakar dari Gambuh dan Arja, narasi puitik, menjadi bagian dari tubuh pertunjukan yang utuh—sebuah peristiwa yang lebih dekat dengan meditasi daripada tontonan.

Tema besar yang diangkat Ardi berakar dari pertanyaan-pertanyaan sederhana namun mendasar: Dari mana sumber obat? Apakah masih ada kekuatan alam yang menjaga kemanjurannya? Apakah manusia modern masih pantas disebut penyembuh ketika ia sendiri telah melukai bumi?

Lewat kisah Kalimosadha dan Kalimosadhi yang belajar pada Buda Kecapi, Aguru Waktra memvisualisasikan proses belajar yang spiritual dan ekologis sekaligus. Ia mengingatkan bahwa obat tidak hanya lahir dari tumbuhan, melainkan dari hubungan yang harmonis antara manusia, tanah, dan air. Ketika air keruh, tanah gersang, dan tumbuhan kehilangan taksu-nya, maka hilang pula daya penyembuh yang sejati.

Sebagaimana kerangka pemikiran Fritjof Capra dalam The Web of Life (1996), Ardi menampilkan krisis ekologi sebagai krisis kesadaran: manusia kehilangan rasa keterhubungan dengan jaringan kehidupan yang lebih luas. Aguru Waktra menjadi panggung di mana pengetahuan lokal Bali—yang melihat alam sebagai makhluk hidup—berdialog dengan keresahan global tentang degradasi lingkungan.

Repertoar yang Potensial

Pementasan Aguru Waktra oleh Komunitas Lemah Tulis menegaskan pentingnya kolaborasi antara riset budaya dan kepekaan artistik. Tata panggungnya sederhana namun sarat simbol yang ditampilkan sebuah gunungan dalam pewayangan yang tertancap di panggung. Gunungan itu menampilkan gambaran dunia modern dengan gedung-gedung bertingkat yang merangsek rerimbunan hutan.

Aktor perempuan dalam pertunjukan “Aguru Waktra” yang dipentaskan di panggung B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pertunjukan ini tak berjarak dari ritual. Ia terasa seperti upacara kecil—bukan dalam arti liturgi agama, melainkan dalam makna ritus perenungan. Penonton tidak diajak menilai, tapi mengalami. Seperti dalam konsep “deep ecology” yang diuraikan oleh Arne Naess, kesadaran ekologis sejati lahir dari pengalaman spiritual langsung, bukan dari pengetahuan rasional. Ardi menghadirkan pengalaman itu di panggung, membuat seni menjadi wahana pembelajaran spiritual tentang hubungan manusia dan alam.

Lewat karya ini, Ardi sepertinya tidak sedang mengajarkan pengetahuan baru, melainkan mengingatkan kita pada pengetahuan purba yang telah lama kita tinggalkan. Alam adalah guru, tubuh adalah teks, dan pertunjukan adalah ruang belajar di mana keduanya kembali bersatu. Dalam dunia yang semakin bising, Aguru Waktra mengajak kita mendengarkan kembali sesuatu yang paling sunyi: suara bumi itu sendiri.

Namun, menurut saya, meski kuat dalam konsepsi dan atmosfer, Aguru Waktra menyisakan beberapa ruang untuk dikembangkan. Keheningan yang menjadi kekuatannya terkadang berbalik menjadi jarak—terutama bagi penonton yang tidak familiar dengan simbol dan terminologi pengusadhan. Beberapa bagian terasa terlalu lambat, membuat tensi dramaturgi menurun di tengah pertunjukan.

Aktor dalam pertunjukan “Aguru Waktra” yang dipentaskan di panggung B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selain itu, narasi antara Kalimosadha, Kalimosadhi, dan Buda Kecapi yang begitu potensial secara filosofis, belum sepenuhnya digarap sebagai relasi dinamis. Ada saat-saat ketika dialog tubuh mereka seakan kehilangan arah, padahal relasi guru-murid ini bisa menjadi jantung dramaturgi yang memperkuat alur spiritual karya.

Ardi tampaknya lebih memilih menekankan pengalaman rasa daripada alur cerita. Keputusan itu menarik, namun tetap memerlukan keseimbangan antara simbolisme dan emosi agar pesan ekologis tidak terperangkap dalam keindahan yang terlalu sunyi.

Aktor perempuan dalam pertunjukan “Aguru Waktra” yang dipentaskan di panggung B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sepertinya, dengan sedikit perbaikan pada ritme dan eksplorasi emosi antartokoh, Aguru Waktra berpotensi menjadi karya yang lebih menggugah—tidak hanya menyentuh lapisan kesadaran intelektual, tetapi juga menggetarkan sisi afektif penonton.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
 ‘Aguru Waktra: Reimagining Lontar Budha Kecapi’ Garapan Komunitas Lemah Tulis: Dari Lontar ke Seni Pertunjukan
Tags: B-Partbuda kecapikomunitas lemah tulisseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Persoalan Absurditas Dunia dan Cara Pandang Seniman Gen-Z terhadap Kondisi Sosial Hari Ini

Next Post

Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co