12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persoalan Absurditas Dunia dan Cara Pandang Seniman Gen-Z terhadap Kondisi Sosial Hari Ini

Made Chandra by Made Chandra
November 12, 2025
in Ulas Rupa
Persoalan Absurditas Dunia dan Cara Pandang Seniman Gen-Z terhadap Kondisi Sosial Hari Ini

Persoalan Absurditas Dunia dan Cara Pandang Seniman Gen-Z terhadap Kondisi Sosial Hari Ini

PERNAHKAH kita scrolling timeline instagram dan secara tak sadar menyimpan begitu banyak postingan yang sering kali kita anggap penting? Atau mungkin, kita adalah bagian dari mereka yang gemar menangkap ribuan image screenshot yang menumpuk tak karuan di galeri ponsel kita. Rasanya kita tak pernah benar-benar peduli dengan ratusan image yang pernah kita tangkap; semuanya seakan hilang ditelan oleh banjir informasi yang setiap hari kita konsumsi.

Persoalan kebermaknaan satu informasi seakan terasa abusrd. Ia menjadi ironi di antara peristiwa yang terus diproduksi dan membanjiri layer gadget kita setiap hari.  Kopi dan bacaan koran pagi, pelan-pelan tergantikan oleh berita viral dan informasi acak yang terpampang tanpa ujung di timeline sosial media kita. Di tengah hiruk pikuk itu, sepertinya kita tak benar-benar sadar di mana diri kita berada. Identitas menjadi sublim; persoalan sosial yang tak lagi berwujud fisik; informasi beradu kepentingan tanpa arah yang pasti.

Absurditas dunia 

Akses informasi yang semakin mudah, keterjangkauan teknologi, dan meleburnya budaya seakan mengaburkan makna identitas kita sehari-hari. Pertanyaan soal, siapa diri kita dan dari mana kita berasal, menjadi persoalan yang seolah tak lagi penting.

Persoalan absurditas dan krisis eksistensial ini Sejatinya telah lama dikemukakan oleh Frans Kafka, seorang novelis jerman pada akhir abad ke-19 dengan berbagai novel dan cerita pendeknya yang berhasil menggambarkan tentang kondisi alienasi manusia modern. Hal tersebut mewujud pada satu frasa bernama Kafkaesque yaitu Istilah yang diciptakan untuk mendeskripsikan situasi atau pengalaman yang membingungkan, rumit secara birokratis, dan menindas, sering kali dengan perasaan terjebak atau tidak berdaya. 

Kini, novel-novel karyanya seperi methamorfosis dan the Trial terasa semakin relevan bagi realitas Gen-Z hari ini. Krisis identitas yang dibalut fiksi absurd mencoba menggambarkan bagaimana Gen-Z yang lahir dari rahim globalisasi dan kemudahan teknologi malah mengalami disrupsi identitas dan kehilangan makna personal dalam dirinya. Kebermaknaan diri hari ini justru di nilai dari seberapa banyaknya likes dan comment yang kita dapatkan di dunia maya.

Ilustrasi Gregor Samsa dalam Novel Methamorfosis karya Franz Kafka

Informasi yang terlalu menyilang tanpa korelasi yang jelas secara tidak sadar menanamkan cara pandang yang keliru terhadap bagaimana dunia bekerja. Akses virtual memberi ruang bagi siapapun untuk menjadi pribadi yang diinginkan—berselimut identitas fiktif yang kita bangun setiap harinya. Dunia digital menciptakan realitas intersubjektif; dimana penilaian diri, bergantung pada validasi fiktif berupa views dan likes yang kita sepakati tanpa sadar. 

Apakah kita benar-benar pernah bertanya: bahwa diri kita yang kita tampilkan di dunia maya, adalah diri kita yang sesungguhnya? 

Terma Absurditas menjadi tepat untuk menerjemahkan bagaimana hari ini kita memandang identitas sosial. ketidakmampuan menjelaskan perasaan yang selama ini kita rasakan, melahirkan keterasingan baru—Alienasi eksistensial yang  membuat  Gen-Z yang semakin terlepas dari realitas fisik di sekitarnya. Tak jarang, kondisi keterasingan yang begitu jauh menjelaskan mengapa kita hari ini sering kali merasa depresi dan hampa di tengah dunia yang bising.  Hal tersebut menjadi dua kondisi yang saling bertolak belakang, di mana akses kita terhadap dunia yang semakin lebar dan luas, justru kesepian terasan yang semakin nyata. 

Seniman Gen-Z 

Istilah Gen-Z merujuk pada generasi yang tumbuh pada awal milenium ke-3, generasi yang tumbuh dan besar beriringan dengan perkembangan teknologi media digital. Kita bisa melihat dimana smartphone pertama kali diluncurkan, kehadirannya seakan menjadi pertanda perubahan dunia dalam menerima dan memaknai informasi. Akses data yang dahulu dimiliki oleh orang-orang tertentu kini, bisa dimiliki oleh setiap individu.

Kita merasa dimana hari ini kita tak benar-benar lagi menonton tayangan televisi seperti generasi sebelumnya, namun berpindah pada konsumsi media streaming digital seperti youtube yang memberikan akses penuh terhadap berbagai individu untuk meyiarkan dirinya sendiri.

Lalu, bagaimana dengan para seniman Gen-Z mendefiniskan aktivitas berkeseniannya di tengah banjir informasi dan absurditas informasi yang semakin tak terkontrol? Bagaimana mereka menciptakan karya di antara objek dan wacana yang saling bertabrakan?

Karya Urubingwaru “ Waktu Bermain Rahasia’the Business” | Sumber : Instagram @urubingwaru

Pertanyaan tersebut menemukan jawabannya dalam berbagai karya dari para seniman muda hari ini—yang menangkap berbagai wacana dan persoalan terkait kecemasan eksistensial, rasa keterasingan, dan ketidak berdayaan individu melawan sistem yang telah semakin korup, hingga pesimisme terhadap krisis lingkungan yang semakin menampakan dirinya dengan tidak malu-malu.

Lihat karya Ilham Karim dan Hudan Seltan misalnya. Dua karya seniman muda tersebut memiliki keterhubungan narasi, yang terlihat dari bagaimana mereka menghasilkan karya mereka. Karya Ilham karim umpamanya, ia seakan berusaha menggambarkan rasa keterasingan, kehilangan dan makna kehadiran dengan warna-warna jenuh dan disorsi kromatik. Ia seolah berusaha menjembatani kegelisahan Gen-Z yang sering merasa lelah dan jenuh dengan tumpukan notifikasi dan informasi yang tiada henti. Dalam hiruk pikuk algoritma yang terasa asing, ia mengajak kita untuk berhenti sejenak, dan melepaskan diri dari kemelekatan dunia digital yang sering kali menuntut kita untuk harus terkoneksi.

Karya Ilham Karim “Hypnotized” | Sumber : Instagram @edsu_house

Sementara itu, Hudan menyelami pola-pola kasual dan tema-tema urban, dimana konteks yang biasa dan sehari-hari ditransformasi ke sesuatu yang luar biasa. Karyanya sering kali mencampurkan berbagai benda-benda urban gang terasa familiar, namun ditempatkan dalam kondisi yang tak seharusnya, hal tersebut menggambarkan sisi absurditas, dan bobot eksistensial generasi kita hari ini. Dibanding memusatkan pada satu objek, ia justru menghadirkan berbagai objek dan situasi tersebut pada kondisi di antara, kondisi di mana kita tak bisa memilih dalam satu posisi yang tetap, ia harus dibaca sebagai sesuatu yang minim identitas dan tak terdefinisikan, sebuah kondisi yang terus hadir belakangan ini.

Seperti karya di bawah yang menangkap prilaku media sosial yang membentuk cara kita memproduksi memori visual, dengan menempatkan beberapa gambar acak yang tersusun secara vertikal, layaknya timeline feed instagram yang memanjang tanpa ujung. Ia mengingatkan kita betapa tak berurutannya informasi yang sebenarnya kita terima, namun pada kenyataannya ia terhubung dalam satu algoritma yang kita ciptakan sendiri.

Karya Hudan Seltan “Stolen Memories” | Sumber : Instagram @edsu_house

Sebenarnya banyak sekali karya-karya para seniman muda yang mengangkat problematika absurditas sosial hari ini, umumnya ia yang berasal dan tinggal di daerah urban yang terkesan individual. Seniman lain seperti urubingwaru dengan pendekatan cross identity dan realisme magis, mencampurkan antara realitas dan mitologi fiksi di berbagai tempat, Pandu wijaya yang mengeksplorasi kegamangan keseharian kita dalam mereplikasi meme-meme virtual yang kita konsumsi setiap hari. 

Karya Avif Ziadi | Sumber : Instagram @avifn

Karya Pandu Wijaya | Sumber:  @gregor.g.soenny

Mereka mungkin tak mewakili semua lapisan seniman yang muncul hari ini, namun mereka menjadi cermin bagaimana kondisi sosial yang terlihat remeh temeh, justru menjadi poin penting untuk terus dikritisi. Pada akhirnya, di tengah derasnya arus informasi dan identitas yang terus terfragmentasi, karya para seniman Gen-Z ini menjadi upaya untuk menegaskan keberadaan diri—sebuah perlawanan sunyi terhadap absurditas dunia yang kian kehilangan makna, sekaligus pencarian akan kehadiran yang benar-benar nyata di antara lapisan realitas, data, notifikasi dan informasi yang terus bergeser.

Seperti yang disiratkan oleh Kafka, jawaban atas absurditas bukanlah untuk dipahami—melainkan untuk dihadapi. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali
Tags: absurditasGen ZSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sentralisasi vs Desentralisasi Perizinan dan Peralihan Tanah: Kritik atas Pelemahan Otonomi Daerah

Next Post

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co