13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persoalan Absurditas Dunia dan Cara Pandang Seniman Gen-Z terhadap Kondisi Sosial Hari Ini

Made Chandra by Made Chandra
November 12, 2025
in Ulas Rupa
Persoalan Absurditas Dunia dan Cara Pandang Seniman Gen-Z terhadap Kondisi Sosial Hari Ini

Persoalan Absurditas Dunia dan Cara Pandang Seniman Gen-Z terhadap Kondisi Sosial Hari Ini

PERNAHKAH kita scrolling timeline instagram dan secara tak sadar menyimpan begitu banyak postingan yang sering kali kita anggap penting? Atau mungkin, kita adalah bagian dari mereka yang gemar menangkap ribuan image screenshot yang menumpuk tak karuan di galeri ponsel kita. Rasanya kita tak pernah benar-benar peduli dengan ratusan image yang pernah kita tangkap; semuanya seakan hilang ditelan oleh banjir informasi yang setiap hari kita konsumsi.

Persoalan kebermaknaan satu informasi seakan terasa abusrd. Ia menjadi ironi di antara peristiwa yang terus diproduksi dan membanjiri layer gadget kita setiap hari.  Kopi dan bacaan koran pagi, pelan-pelan tergantikan oleh berita viral dan informasi acak yang terpampang tanpa ujung di timeline sosial media kita. Di tengah hiruk pikuk itu, sepertinya kita tak benar-benar sadar di mana diri kita berada. Identitas menjadi sublim; persoalan sosial yang tak lagi berwujud fisik; informasi beradu kepentingan tanpa arah yang pasti.

Absurditas dunia 

Akses informasi yang semakin mudah, keterjangkauan teknologi, dan meleburnya budaya seakan mengaburkan makna identitas kita sehari-hari. Pertanyaan soal, siapa diri kita dan dari mana kita berasal, menjadi persoalan yang seolah tak lagi penting.

Persoalan absurditas dan krisis eksistensial ini Sejatinya telah lama dikemukakan oleh Frans Kafka, seorang novelis jerman pada akhir abad ke-19 dengan berbagai novel dan cerita pendeknya yang berhasil menggambarkan tentang kondisi alienasi manusia modern. Hal tersebut mewujud pada satu frasa bernama Kafkaesque yaitu Istilah yang diciptakan untuk mendeskripsikan situasi atau pengalaman yang membingungkan, rumit secara birokratis, dan menindas, sering kali dengan perasaan terjebak atau tidak berdaya. 

Kini, novel-novel karyanya seperi methamorfosis dan the Trial terasa semakin relevan bagi realitas Gen-Z hari ini. Krisis identitas yang dibalut fiksi absurd mencoba menggambarkan bagaimana Gen-Z yang lahir dari rahim globalisasi dan kemudahan teknologi malah mengalami disrupsi identitas dan kehilangan makna personal dalam dirinya. Kebermaknaan diri hari ini justru di nilai dari seberapa banyaknya likes dan comment yang kita dapatkan di dunia maya.

Ilustrasi Gregor Samsa dalam Novel Methamorfosis karya Franz Kafka

Informasi yang terlalu menyilang tanpa korelasi yang jelas secara tidak sadar menanamkan cara pandang yang keliru terhadap bagaimana dunia bekerja. Akses virtual memberi ruang bagi siapapun untuk menjadi pribadi yang diinginkan—berselimut identitas fiktif yang kita bangun setiap harinya. Dunia digital menciptakan realitas intersubjektif; dimana penilaian diri, bergantung pada validasi fiktif berupa views dan likes yang kita sepakati tanpa sadar. 

Apakah kita benar-benar pernah bertanya: bahwa diri kita yang kita tampilkan di dunia maya, adalah diri kita yang sesungguhnya? 

Terma Absurditas menjadi tepat untuk menerjemahkan bagaimana hari ini kita memandang identitas sosial. ketidakmampuan menjelaskan perasaan yang selama ini kita rasakan, melahirkan keterasingan baru—Alienasi eksistensial yang  membuat  Gen-Z yang semakin terlepas dari realitas fisik di sekitarnya. Tak jarang, kondisi keterasingan yang begitu jauh menjelaskan mengapa kita hari ini sering kali merasa depresi dan hampa di tengah dunia yang bising.  Hal tersebut menjadi dua kondisi yang saling bertolak belakang, di mana akses kita terhadap dunia yang semakin lebar dan luas, justru kesepian terasan yang semakin nyata. 

Seniman Gen-Z 

Istilah Gen-Z merujuk pada generasi yang tumbuh pada awal milenium ke-3, generasi yang tumbuh dan besar beriringan dengan perkembangan teknologi media digital. Kita bisa melihat dimana smartphone pertama kali diluncurkan, kehadirannya seakan menjadi pertanda perubahan dunia dalam menerima dan memaknai informasi. Akses data yang dahulu dimiliki oleh orang-orang tertentu kini, bisa dimiliki oleh setiap individu.

Kita merasa dimana hari ini kita tak benar-benar lagi menonton tayangan televisi seperti generasi sebelumnya, namun berpindah pada konsumsi media streaming digital seperti youtube yang memberikan akses penuh terhadap berbagai individu untuk meyiarkan dirinya sendiri.

Lalu, bagaimana dengan para seniman Gen-Z mendefiniskan aktivitas berkeseniannya di tengah banjir informasi dan absurditas informasi yang semakin tak terkontrol? Bagaimana mereka menciptakan karya di antara objek dan wacana yang saling bertabrakan?

Karya Urubingwaru “ Waktu Bermain Rahasia’the Business” | Sumber : Instagram @urubingwaru

Pertanyaan tersebut menemukan jawabannya dalam berbagai karya dari para seniman muda hari ini—yang menangkap berbagai wacana dan persoalan terkait kecemasan eksistensial, rasa keterasingan, dan ketidak berdayaan individu melawan sistem yang telah semakin korup, hingga pesimisme terhadap krisis lingkungan yang semakin menampakan dirinya dengan tidak malu-malu.

Lihat karya Ilham Karim dan Hudan Seltan misalnya. Dua karya seniman muda tersebut memiliki keterhubungan narasi, yang terlihat dari bagaimana mereka menghasilkan karya mereka. Karya Ilham karim umpamanya, ia seakan berusaha menggambarkan rasa keterasingan, kehilangan dan makna kehadiran dengan warna-warna jenuh dan disorsi kromatik. Ia seolah berusaha menjembatani kegelisahan Gen-Z yang sering merasa lelah dan jenuh dengan tumpukan notifikasi dan informasi yang tiada henti. Dalam hiruk pikuk algoritma yang terasa asing, ia mengajak kita untuk berhenti sejenak, dan melepaskan diri dari kemelekatan dunia digital yang sering kali menuntut kita untuk harus terkoneksi.

Karya Ilham Karim “Hypnotized” | Sumber : Instagram @edsu_house

Sementara itu, Hudan menyelami pola-pola kasual dan tema-tema urban, dimana konteks yang biasa dan sehari-hari ditransformasi ke sesuatu yang luar biasa. Karyanya sering kali mencampurkan berbagai benda-benda urban gang terasa familiar, namun ditempatkan dalam kondisi yang tak seharusnya, hal tersebut menggambarkan sisi absurditas, dan bobot eksistensial generasi kita hari ini. Dibanding memusatkan pada satu objek, ia justru menghadirkan berbagai objek dan situasi tersebut pada kondisi di antara, kondisi di mana kita tak bisa memilih dalam satu posisi yang tetap, ia harus dibaca sebagai sesuatu yang minim identitas dan tak terdefinisikan, sebuah kondisi yang terus hadir belakangan ini.

Seperti karya di bawah yang menangkap prilaku media sosial yang membentuk cara kita memproduksi memori visual, dengan menempatkan beberapa gambar acak yang tersusun secara vertikal, layaknya timeline feed instagram yang memanjang tanpa ujung. Ia mengingatkan kita betapa tak berurutannya informasi yang sebenarnya kita terima, namun pada kenyataannya ia terhubung dalam satu algoritma yang kita ciptakan sendiri.

Karya Hudan Seltan “Stolen Memories” | Sumber : Instagram @edsu_house

Sebenarnya banyak sekali karya-karya para seniman muda yang mengangkat problematika absurditas sosial hari ini, umumnya ia yang berasal dan tinggal di daerah urban yang terkesan individual. Seniman lain seperti urubingwaru dengan pendekatan cross identity dan realisme magis, mencampurkan antara realitas dan mitologi fiksi di berbagai tempat, Pandu wijaya yang mengeksplorasi kegamangan keseharian kita dalam mereplikasi meme-meme virtual yang kita konsumsi setiap hari. 

Karya Avif Ziadi | Sumber : Instagram @avifn

Karya Pandu Wijaya | Sumber:  @gregor.g.soenny

Mereka mungkin tak mewakili semua lapisan seniman yang muncul hari ini, namun mereka menjadi cermin bagaimana kondisi sosial yang terlihat remeh temeh, justru menjadi poin penting untuk terus dikritisi. Pada akhirnya, di tengah derasnya arus informasi dan identitas yang terus terfragmentasi, karya para seniman Gen-Z ini menjadi upaya untuk menegaskan keberadaan diri—sebuah perlawanan sunyi terhadap absurditas dunia yang kian kehilangan makna, sekaligus pencarian akan kehadiran yang benar-benar nyata di antara lapisan realitas, data, notifikasi dan informasi yang terus bergeser.

Seperti yang disiratkan oleh Kafka, jawaban atas absurditas bukanlah untuk dipahami—melainkan untuk dihadapi. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali
Tags: absurditasGen ZSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sentralisasi vs Desentralisasi Perizinan dan Peralihan Tanah: Kritik atas Pelemahan Otonomi Daerah

Next Post

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co