4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Made Chandra by Made Chandra
September 30, 2025
in Esai
Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Foto: Made Chandra

TAK bisa dipungkiri, dengan segala akses yang dimiliki Bali sebagai sebuah melting pot pertemuan wisatawan dari berbagai penjuru dunia, membuat Bali begitu rentan dijadikan lahan bernaung bagi para investor demi mendapat keuntungan semata dari kekayaan alam dan budayanya. Problematika ini kerap menghadirkan dua sisi yang saling berlawanan: di satu pihak, pariwisata berperan dalam menopang pembangunan ekonomi lokal; namun di pihak lain, ia dapat menjadi pemicu dekadensi budaya dan terkikisnya nilai-nilai kelokalan yang dikorbankan demi keuntungan segelintir pihak saja.  

Source : Indozone/ M Fadli

Parawisata berbasis kelokalan kini seakan menjelma menjadi tren yang menjamur di berbagai sudut Bali, Dalam banyak kasus, strategi ini justru menjadi siasat cerdas untuk berkelak dari stigma negatif masyrakat terhadap industri parawisata yang selama ini kerap dianggap mengorbankan budaya lokal serta mendorong dekadensi nilai-nilai yang telah lama mengakar di masyrakat sekitar.

Tidak jarang, cara untuk meredam kritik publik hanyalah dengan membungkus program pariwisata dalam kulit “kelokalan,” semata-mata demi membangun simpati publik yang positif. Sementara itu, narasi tentang tumbuhnya lapangan kerja dan meningkatnya ekonomi lokal kerap dijadikan tameng untuk menutupi kenyataan: pembangunan yang marak justru mencaplok sebagian besar wilayah Bali, yang banyak dimiliki investor luar, hingga perlahan menjadikan masyarakat Bali sebagai “turis” di tanahnya sendiri.

Seni Ruang Publik

karya patung I Ketut Putrayasa | Source : baliexpress.jawapos.com

Salah satu instrumen utama yang sering digunakan dalam menggerakan industri pariwisata Bali adalah pemanfaatan seni di ruang publik. Dengan luasnya bentangan lanskap yang dimiliki bali—mulai dari pesisir yang landai hingga tebing-tebing kapur menjulang—menjadi ruang yang seksi untuk diolah sebagai destinasi wisata berbasis seni dan tradisi. Tak jarang kehadiran objek-objek monumental menjadi pilihan utama dalam menarik perhatian masyarakat luas, sekaligus membangun citra “ikon” parawisata baru.

Namun disisi lain, seni berbasis objek gigantik yang dibangun demi parawisata lebih sering hadir sebagai simbol kapital ketimbang ruang dialog antara masyarakat dan budayanya. Akibatnya, ikon yang selayaknya dirancang sebagai ruang komunikasi antar masyarakat, hanya menjadi komoditas turistik yang tak berpihak pada masyarakat lokal.

Source : Detik.com, Rachman_haryanto

Kasus GWK menjadi contoh paling hype dimana seni di ruang publik menjadi titik panas konflik antara kepentingan para pemodal dan warga lokal yang perlahan-lahan diambil haknya. di balik megahnya patung yang menjulang tinggi di atas bukit kapur, hadir polemik antara kehadiran GWK sebagai ruang publik dan realitas tempat tinggal masyarakat Bali di sekitarnya.

Pembangunan kawasan wisata sedikit demi sedikit menggeser ruang tempat tinggal, dan identitas kultural masyarakat lokal yang terkadang terpinggirkan oleh kebutuhan pariwisata massal. Kehadiran GWK juga menimbulkan pertanyaan tentang kesetaraan ruang publik. Apakah GWK menjadi milik bersama yang memberi manfaat bagi warga lokal, atau justru lebih menguntungkan investor dan turis? Polemik ini memperlihatkan adanya tarik menarik antara kepentingan seni monumental, pariwisata global, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang masih berpegang pada tradisi.

Polemik ini menjadi tamparan keras bagaimana ikon-ikon monumental yang awalnya diharapkan mewakili identitas kultural masyrakat lokal justru menjadi pedang yang perlahan mengikis dan meminggirkan masyarakat dari tanahnya sendiri. Ironi ini mengingatkan kita tentang  bagaimana Pembangunan yang selalu dijanjikan manis dan menawarkan utopia, sering kali berbicara sebaliknya. Bangunan yang menjulang tinggi kadang menjadi tembok yang justru mendukung privatisasi akses ruang publik.

Konflik penutupan akses jalan warga lokal sekitar GWK | Source : Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

Masyrakat Apatis

Kini kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan mendasar: apakah pariwisata ada untuk Bali, atau justru Bali dikorbankan untuk pariwisata? Tanah yang dahulu bebas dinikmati masyarakat kini perlahan beralih menjadi milik segelintir elite bermodal tak terbatas. Dalam situasi ini, masyarakat lokal sepatutnya berperan sebagai alarm pengingat—untuk tetap kritis terhadap perubahan yang terjadi, dan untuk memastikan bagaimana tanah dikelola, baik demi kelestarian tradisi adiluhung maupun demi kesejahteraan yang mengutamakan kepentingan publik secara luas.

Source : Made Chandra

Dalam pusaran persoalan ini, masyarakat lokal sepatutnya menjadi alarm pengingat—bukan hanya untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan tradisi, tetapi juga untuk menegaskan kembali bagaimana tanah seharusnya dikelola. Tanah bukan semata ruang fisik yang bisa dipindahtangankan, melainkan warisan kultural yang mengandung memori kolektif, nilai adiluhung, sekaligus sumber kesejahteraan yang semestinya mementingkan kepentingan publik. Jika kontrol atas tanah sepenuhnya lepas ke tangan pemodal, maka yang hilang bukan hanya ruang hidup, tetapi juga identitas kelokalan.  

Berbagai problematika yang muncul tidak hanya menyangkut kelonggaran kebijakan pemerintah, tetapi juga sikap sebagian masyarakat yang memilih “tone deaf,” bersikap seolah tak ada yang terjadi. Realitas hari ini justru memperlihatkan bahwa orang bodoh yang pandai beretorika dapat dengan mudah mengalahkan orang pintar yang memilih berdiam diri.

Pada akhirnya, risiko terbesar dari semua ini adalah masa depan. Jangan salahkan siapa pun jika di kemudian hari anak cucu kita hanya bisa menjadi “turis” di tanah leluhurnya sendiri—membayar untuk tinggal, menyewa untuk hidup, dan sekadar menonton dari jauh bagaimana identitas mereka perlahan dijual atas nama pariwisata. Pertanyaan yang harus dijawab sejak hari ini adalah: apakah kita rela mewariskan tanah leluhur sebagai aset yang terasing dari generasi penerus, ataukah kita memilih menjaga agar Bali tetap menjadi rumah bagi mereka yang lahir dan tumbuh di dalamnya? [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Tags: baliruang publikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pola Konsumsi Gula Pada Lansia

Next Post

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co