13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Made Chandra by Made Chandra
September 30, 2025
in Esai
Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Foto: Made Chandra

TAK bisa dipungkiri, dengan segala akses yang dimiliki Bali sebagai sebuah melting pot pertemuan wisatawan dari berbagai penjuru dunia, membuat Bali begitu rentan dijadikan lahan bernaung bagi para investor demi mendapat keuntungan semata dari kekayaan alam dan budayanya. Problematika ini kerap menghadirkan dua sisi yang saling berlawanan: di satu pihak, pariwisata berperan dalam menopang pembangunan ekonomi lokal; namun di pihak lain, ia dapat menjadi pemicu dekadensi budaya dan terkikisnya nilai-nilai kelokalan yang dikorbankan demi keuntungan segelintir pihak saja.  

Source : Indozone/ M Fadli

Parawisata berbasis kelokalan kini seakan menjelma menjadi tren yang menjamur di berbagai sudut Bali, Dalam banyak kasus, strategi ini justru menjadi siasat cerdas untuk berkelak dari stigma negatif masyrakat terhadap industri parawisata yang selama ini kerap dianggap mengorbankan budaya lokal serta mendorong dekadensi nilai-nilai yang telah lama mengakar di masyrakat sekitar.

Tidak jarang, cara untuk meredam kritik publik hanyalah dengan membungkus program pariwisata dalam kulit “kelokalan,” semata-mata demi membangun simpati publik yang positif. Sementara itu, narasi tentang tumbuhnya lapangan kerja dan meningkatnya ekonomi lokal kerap dijadikan tameng untuk menutupi kenyataan: pembangunan yang marak justru mencaplok sebagian besar wilayah Bali, yang banyak dimiliki investor luar, hingga perlahan menjadikan masyarakat Bali sebagai “turis” di tanahnya sendiri.

Seni Ruang Publik

karya patung I Ketut Putrayasa | Source : baliexpress.jawapos.com

Salah satu instrumen utama yang sering digunakan dalam menggerakan industri pariwisata Bali adalah pemanfaatan seni di ruang publik. Dengan luasnya bentangan lanskap yang dimiliki bali—mulai dari pesisir yang landai hingga tebing-tebing kapur menjulang—menjadi ruang yang seksi untuk diolah sebagai destinasi wisata berbasis seni dan tradisi. Tak jarang kehadiran objek-objek monumental menjadi pilihan utama dalam menarik perhatian masyarakat luas, sekaligus membangun citra “ikon” parawisata baru.

Namun disisi lain, seni berbasis objek gigantik yang dibangun demi parawisata lebih sering hadir sebagai simbol kapital ketimbang ruang dialog antara masyarakat dan budayanya. Akibatnya, ikon yang selayaknya dirancang sebagai ruang komunikasi antar masyarakat, hanya menjadi komoditas turistik yang tak berpihak pada masyarakat lokal.

Source : Detik.com, Rachman_haryanto

Kasus GWK menjadi contoh paling hype dimana seni di ruang publik menjadi titik panas konflik antara kepentingan para pemodal dan warga lokal yang perlahan-lahan diambil haknya. di balik megahnya patung yang menjulang tinggi di atas bukit kapur, hadir polemik antara kehadiran GWK sebagai ruang publik dan realitas tempat tinggal masyarakat Bali di sekitarnya.

Pembangunan kawasan wisata sedikit demi sedikit menggeser ruang tempat tinggal, dan identitas kultural masyarakat lokal yang terkadang terpinggirkan oleh kebutuhan pariwisata massal. Kehadiran GWK juga menimbulkan pertanyaan tentang kesetaraan ruang publik. Apakah GWK menjadi milik bersama yang memberi manfaat bagi warga lokal, atau justru lebih menguntungkan investor dan turis? Polemik ini memperlihatkan adanya tarik menarik antara kepentingan seni monumental, pariwisata global, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang masih berpegang pada tradisi.

Polemik ini menjadi tamparan keras bagaimana ikon-ikon monumental yang awalnya diharapkan mewakili identitas kultural masyrakat lokal justru menjadi pedang yang perlahan mengikis dan meminggirkan masyarakat dari tanahnya sendiri. Ironi ini mengingatkan kita tentang  bagaimana Pembangunan yang selalu dijanjikan manis dan menawarkan utopia, sering kali berbicara sebaliknya. Bangunan yang menjulang tinggi kadang menjadi tembok yang justru mendukung privatisasi akses ruang publik.

Konflik penutupan akses jalan warga lokal sekitar GWK | Source : Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

Masyrakat Apatis

Kini kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan mendasar: apakah pariwisata ada untuk Bali, atau justru Bali dikorbankan untuk pariwisata? Tanah yang dahulu bebas dinikmati masyarakat kini perlahan beralih menjadi milik segelintir elite bermodal tak terbatas. Dalam situasi ini, masyarakat lokal sepatutnya berperan sebagai alarm pengingat—untuk tetap kritis terhadap perubahan yang terjadi, dan untuk memastikan bagaimana tanah dikelola, baik demi kelestarian tradisi adiluhung maupun demi kesejahteraan yang mengutamakan kepentingan publik secara luas.

Source : Made Chandra

Dalam pusaran persoalan ini, masyarakat lokal sepatutnya menjadi alarm pengingat—bukan hanya untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan tradisi, tetapi juga untuk menegaskan kembali bagaimana tanah seharusnya dikelola. Tanah bukan semata ruang fisik yang bisa dipindahtangankan, melainkan warisan kultural yang mengandung memori kolektif, nilai adiluhung, sekaligus sumber kesejahteraan yang semestinya mementingkan kepentingan publik. Jika kontrol atas tanah sepenuhnya lepas ke tangan pemodal, maka yang hilang bukan hanya ruang hidup, tetapi juga identitas kelokalan.  

Berbagai problematika yang muncul tidak hanya menyangkut kelonggaran kebijakan pemerintah, tetapi juga sikap sebagian masyarakat yang memilih “tone deaf,” bersikap seolah tak ada yang terjadi. Realitas hari ini justru memperlihatkan bahwa orang bodoh yang pandai beretorika dapat dengan mudah mengalahkan orang pintar yang memilih berdiam diri.

Pada akhirnya, risiko terbesar dari semua ini adalah masa depan. Jangan salahkan siapa pun jika di kemudian hari anak cucu kita hanya bisa menjadi “turis” di tanah leluhurnya sendiri—membayar untuk tinggal, menyewa untuk hidup, dan sekadar menonton dari jauh bagaimana identitas mereka perlahan dijual atas nama pariwisata. Pertanyaan yang harus dijawab sejak hari ini adalah: apakah kita rela mewariskan tanah leluhur sebagai aset yang terasing dari generasi penerus, ataukah kita memilih menjaga agar Bali tetap menjadi rumah bagi mereka yang lahir dan tumbuh di dalamnya? [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Tags: baliruang publikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pola Konsumsi Gula Pada Lansia

Next Post

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co