4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Made Chandra by Made Chandra
September 30, 2025
in Esai
Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Foto: Made Chandra

TAK bisa dipungkiri, dengan segala akses yang dimiliki Bali sebagai sebuah melting pot pertemuan wisatawan dari berbagai penjuru dunia, membuat Bali begitu rentan dijadikan lahan bernaung bagi para investor demi mendapat keuntungan semata dari kekayaan alam dan budayanya. Problematika ini kerap menghadirkan dua sisi yang saling berlawanan: di satu pihak, pariwisata berperan dalam menopang pembangunan ekonomi lokal; namun di pihak lain, ia dapat menjadi pemicu dekadensi budaya dan terkikisnya nilai-nilai kelokalan yang dikorbankan demi keuntungan segelintir pihak saja.  

Source : Indozone/ M Fadli

Parawisata berbasis kelokalan kini seakan menjelma menjadi tren yang menjamur di berbagai sudut Bali, Dalam banyak kasus, strategi ini justru menjadi siasat cerdas untuk berkelak dari stigma negatif masyrakat terhadap industri parawisata yang selama ini kerap dianggap mengorbankan budaya lokal serta mendorong dekadensi nilai-nilai yang telah lama mengakar di masyrakat sekitar.

Tidak jarang, cara untuk meredam kritik publik hanyalah dengan membungkus program pariwisata dalam kulit “kelokalan,” semata-mata demi membangun simpati publik yang positif. Sementara itu, narasi tentang tumbuhnya lapangan kerja dan meningkatnya ekonomi lokal kerap dijadikan tameng untuk menutupi kenyataan: pembangunan yang marak justru mencaplok sebagian besar wilayah Bali, yang banyak dimiliki investor luar, hingga perlahan menjadikan masyarakat Bali sebagai “turis” di tanahnya sendiri.

Seni Ruang Publik

karya patung I Ketut Putrayasa | Source : baliexpress.jawapos.com

Salah satu instrumen utama yang sering digunakan dalam menggerakan industri pariwisata Bali adalah pemanfaatan seni di ruang publik. Dengan luasnya bentangan lanskap yang dimiliki bali—mulai dari pesisir yang landai hingga tebing-tebing kapur menjulang—menjadi ruang yang seksi untuk diolah sebagai destinasi wisata berbasis seni dan tradisi. Tak jarang kehadiran objek-objek monumental menjadi pilihan utama dalam menarik perhatian masyarakat luas, sekaligus membangun citra “ikon” parawisata baru.

Namun disisi lain, seni berbasis objek gigantik yang dibangun demi parawisata lebih sering hadir sebagai simbol kapital ketimbang ruang dialog antara masyarakat dan budayanya. Akibatnya, ikon yang selayaknya dirancang sebagai ruang komunikasi antar masyarakat, hanya menjadi komoditas turistik yang tak berpihak pada masyarakat lokal.

Source : Detik.com, Rachman_haryanto

Kasus GWK menjadi contoh paling hype dimana seni di ruang publik menjadi titik panas konflik antara kepentingan para pemodal dan warga lokal yang perlahan-lahan diambil haknya. di balik megahnya patung yang menjulang tinggi di atas bukit kapur, hadir polemik antara kehadiran GWK sebagai ruang publik dan realitas tempat tinggal masyarakat Bali di sekitarnya.

Pembangunan kawasan wisata sedikit demi sedikit menggeser ruang tempat tinggal, dan identitas kultural masyarakat lokal yang terkadang terpinggirkan oleh kebutuhan pariwisata massal. Kehadiran GWK juga menimbulkan pertanyaan tentang kesetaraan ruang publik. Apakah GWK menjadi milik bersama yang memberi manfaat bagi warga lokal, atau justru lebih menguntungkan investor dan turis? Polemik ini memperlihatkan adanya tarik menarik antara kepentingan seni monumental, pariwisata global, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang masih berpegang pada tradisi.

Polemik ini menjadi tamparan keras bagaimana ikon-ikon monumental yang awalnya diharapkan mewakili identitas kultural masyrakat lokal justru menjadi pedang yang perlahan mengikis dan meminggirkan masyarakat dari tanahnya sendiri. Ironi ini mengingatkan kita tentang  bagaimana Pembangunan yang selalu dijanjikan manis dan menawarkan utopia, sering kali berbicara sebaliknya. Bangunan yang menjulang tinggi kadang menjadi tembok yang justru mendukung privatisasi akses ruang publik.

Konflik penutupan akses jalan warga lokal sekitar GWK | Source : Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

Masyrakat Apatis

Kini kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan mendasar: apakah pariwisata ada untuk Bali, atau justru Bali dikorbankan untuk pariwisata? Tanah yang dahulu bebas dinikmati masyarakat kini perlahan beralih menjadi milik segelintir elite bermodal tak terbatas. Dalam situasi ini, masyarakat lokal sepatutnya berperan sebagai alarm pengingat—untuk tetap kritis terhadap perubahan yang terjadi, dan untuk memastikan bagaimana tanah dikelola, baik demi kelestarian tradisi adiluhung maupun demi kesejahteraan yang mengutamakan kepentingan publik secara luas.

Source : Made Chandra

Dalam pusaran persoalan ini, masyarakat lokal sepatutnya menjadi alarm pengingat—bukan hanya untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan tradisi, tetapi juga untuk menegaskan kembali bagaimana tanah seharusnya dikelola. Tanah bukan semata ruang fisik yang bisa dipindahtangankan, melainkan warisan kultural yang mengandung memori kolektif, nilai adiluhung, sekaligus sumber kesejahteraan yang semestinya mementingkan kepentingan publik. Jika kontrol atas tanah sepenuhnya lepas ke tangan pemodal, maka yang hilang bukan hanya ruang hidup, tetapi juga identitas kelokalan.  

Berbagai problematika yang muncul tidak hanya menyangkut kelonggaran kebijakan pemerintah, tetapi juga sikap sebagian masyarakat yang memilih “tone deaf,” bersikap seolah tak ada yang terjadi. Realitas hari ini justru memperlihatkan bahwa orang bodoh yang pandai beretorika dapat dengan mudah mengalahkan orang pintar yang memilih berdiam diri.

Pada akhirnya, risiko terbesar dari semua ini adalah masa depan. Jangan salahkan siapa pun jika di kemudian hari anak cucu kita hanya bisa menjadi “turis” di tanah leluhurnya sendiri—membayar untuk tinggal, menyewa untuk hidup, dan sekadar menonton dari jauh bagaimana identitas mereka perlahan dijual atas nama pariwisata. Pertanyaan yang harus dijawab sejak hari ini adalah: apakah kita rela mewariskan tanah leluhur sebagai aset yang terasing dari generasi penerus, ataukah kita memilih menjaga agar Bali tetap menjadi rumah bagi mereka yang lahir dan tumbuh di dalamnya? [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Tags: baliruang publikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pola Konsumsi Gula Pada Lansia

Next Post

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co