2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 1, 2025
in Esai
Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

TEMBOK selalu memiliki makna simbolis yang lebih besar daripada sekadar deretan batu bata dan semen. Ia bisa menjadi pelindung, tapi sekaligus bisa berubah menjadi penghalang. Ia dapat menghadirkan rasa aman, namun pada saat yang sama juga menimbulkan rasa keterasingan. Ketika berita tentang pembangunan tembok di sekitar kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali, merebak, banyak warga terkejut. Tembok itu bukan sekadar fisik, melainkan tembok yang memisahkan akses masyarakat lokal terhadap ruang hidupnya sendiri.

Ironisnya, dunia sudah belajar banyak dari sejarah tembok. Tembok Berlin, yang berdiri tegak dari tahun 1961 hingga 1989, menjadi simbol pemisahan yang paling terkenal dalam abad ke-20. Ia memisahkan orang-orang yang sebenarnya satu bangsa, memisahkan keluarga, memisahkan mimpi, dan bahkan memisahkan cinta. Ketika akhirnya runtuh pada November 1989, dunia menyambutnya sebagai kemenangan kemanusiaan, kemenangan atas sekat-sekat yang memisahkan manusia. Maka pertanyaannya: mengapa kini, di era keterbukaan global, kita justru menyaksikan pembangunan tembok baru di Bali?

Tembok yang Menghalangi Nafas Sosial

Bali dikenal sebagai pulau dengan filosofi Tri Hita Karana, keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam. Filosofi ini telah menjadi ruh kehidupan masyarakat Bali. Akses jalan, jalan setapak, bahkan jalur kecil di sawah bukanlah sekadar infrastruktur, melainkan juga bagian dari ruang sosial yang memungkinkan interaksi. Jalan adalah perpanjangan dari halaman rumah, tempat di mana orang saling menyapa.

Ketika akses itu terhalang oleh tembok, yang hilang bukan hanya jalur transportasi, tetapi juga ruang sosial budaya masyarakat. Bayangkan warga yang sejak kecil terbiasa lewat jalan tertentu menuju pura, ladang, pasar, kantor atau rumah kerabatnya, tiba-tiba mendapati jalan itu tertutup oleh beton tinggi. Apa yang dirasakan? Jelas ada perasaan terasing dan terkurung di tanah sendiri.

GWK: Dari Cita-cita Bersama Menjadi Simbol Ketidakberdayaan

Garuda Wisnu Kencana (GWK) dibangun dengan cita-cita besar: menghadirkan mahakarya kebanggaan bangsa, monumen budaya yang menunjukkan keagungan nusantara. Saya masih ingat, awalnya beberapa tokoh Bali, kalau tidak salah, pernah menggagas agar GWK bisa dimiliki bersama melalui semacam “Bali Corporation”. Mimpi itu indah—GWK bukan hanya monumen, tetapi juga aset rakyat Bali.

Namun kenyataan kini berbeda. GWK memang megah, dikunjungi wisatawan, menjadi ikon global. Tetapi bagaimana dengan rakyat kecil di sekitarnya? Apakah mereka turut merasakan manfaatnya, atau justru merasa dipisahkan oleh dinding beton?

Tembok di GWK bukanlah sekadar penghalang fisik, ia menyuarakan jarak yang semakin lebar antara cita-cita awal dan realitas hari ini. Masyarakat sekitar yang seharusnya menjadi bagian dari denyut hidup GWK justru merasa tersisih.

Belajar dari Runtuhnya Tembok Berlin

Tembok Berlin roboh bukan semata karena palu dan linggis para demonstran, melainkan karena kesadaran kolektif bahwa tembok itu tidak lagi relevan. Dunia bergerak menuju keterbukaan, orang ingin bebas bergerak, bebas berinteraksi, bebas bermimpi. Tembok Berlin adalah simbol kegagalan sebuah rezim untuk memahami aspirasi rakyatnya sendiri.

Kini, apakah kita sedang mengulang sejarah dengan cara lain? Mungkin niat pembangunan tembok di GWK adalah untuk menata kawasan, menjaga keamanan, atau alasan teknis lainnya. Tetapi pesan simboliknya jauh lebih dalam: tembok itu memperlihatkan ketidakpekaan terhadap kebutuhan dasar masyarakat—akses.

Sejarah sudah memberi pelajaran: tembok yang dibangun tanpa mempertimbangkan kemanusiaan pada akhirnya akan runtuh, entah secara fisik, entah secara simbolis.

Membangun Tanpa Memisahkan

Apakah mungkin menata kawasan wisata megah seperti GWK tanpa harus memisahkan warga lokal dari ruang hidupnya? Sangat mungkin. Dunia modern mengenal konsep inclusive development—pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada investor atau wisatawan, tetapi juga melibatkan dan memberdayakan masyarakat lokal.

Alih-alih membangun tembok yang menutup akses, mengapa tidak membangun gerbang, jalur khusus, atau bahkan ruang publik bersama? Dengan begitu, GWK tetap terjaga keindahannya, tetapi masyarakat sekitar tidak merasa terasing. Bukankah lebih indah bila wisatawan yang datang ke GWK bisa menyaksikan kehidupan lokal yang hidup dan harmonis, bukan wajah murung warga yang jalannya terhalang tembok?

Refleksi untuk Bali dan Indonesia

Bali sedang menghadapi banyak tantangan: over-turisasi, kerusakan lingkungan, alih funsi lahan, masalah sampah, macet, dan ketimpangan ekonomi. Pembangunan tembok di GWK hanyalah satu contoh kecil dari masalah besar: kurangnya keseimbangan antara kepentingan global dan kepentingan lokal. Jika dibiarkan, hal-hal kecil seperti ini bisa menumpuk menjadi bom sosial.

Seperti kata pepatah, “penyesalan selalu datang terlambat.” Berlin menyesal setelah puluhan tahun rakyatnya menderita akibat tembok. Apakah Bali juga akan menyesal di kemudian hari, ketika harmoni sosialnya benar-benar terkoyak?

Tembok GWK seharusnya mengingatkan kita bahwa Bali tidak boleh kehilangan rohnya. Monumen boleh menjulang setinggi langit, tetapi jangan sampai meruntuhkan jembatan hati antara warga lokal dan ruang hidup mereka.

Penutup

Ini tembok GWK, bukan tembok Berlin. Tetapi pesan sejarah sama jelasnya: tembok yang memisahkan manusia dengan tanah kelahirannya, dengan budaya yang diwarisinya, dengan sesama saudaranya, pada akhirnya tidak akan pernah berdiri tegak selamanya.

Mungkin tembok GWK masih baru, masih kokoh, masih bersih. Tetapi ia sudah rapuh dalam makna—karena ia dibangun di atas jurang pemisahan. Maka sebelum terlambat, mari kita belajar dari Berlin: tembok bukanlah solusi, melainkan masalah itu sendiri. Yang dibutuhkan Bali bukan tembok, melainkan jembatan—jembatan fisik, jembatan sosial, jembatan hati, menuji Harmoni. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan
Tags: baliGaruda Wisnu Kencana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Next Post

ISI Bali dan Sanggar Lokananta Pentaskan Drama Tari “The Search for Sita” di International Ramayana Festival 2025, India

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
ISI Bali dan Sanggar Lokananta Pentaskan Drama Tari “The Search for Sita” di International Ramayana Festival 2025, India

ISI Bali dan Sanggar Lokananta Pentaskan Drama Tari "The Search for Sita" di International Ramayana Festival 2025, India

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co