2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 1, 2025
in Esai
Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

TEMBOK selalu memiliki makna simbolis yang lebih besar daripada sekadar deretan batu bata dan semen. Ia bisa menjadi pelindung, tapi sekaligus bisa berubah menjadi penghalang. Ia dapat menghadirkan rasa aman, namun pada saat yang sama juga menimbulkan rasa keterasingan. Ketika berita tentang pembangunan tembok di sekitar kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali, merebak, banyak warga terkejut. Tembok itu bukan sekadar fisik, melainkan tembok yang memisahkan akses masyarakat lokal terhadap ruang hidupnya sendiri.

Ironisnya, dunia sudah belajar banyak dari sejarah tembok. Tembok Berlin, yang berdiri tegak dari tahun 1961 hingga 1989, menjadi simbol pemisahan yang paling terkenal dalam abad ke-20. Ia memisahkan orang-orang yang sebenarnya satu bangsa, memisahkan keluarga, memisahkan mimpi, dan bahkan memisahkan cinta. Ketika akhirnya runtuh pada November 1989, dunia menyambutnya sebagai kemenangan kemanusiaan, kemenangan atas sekat-sekat yang memisahkan manusia. Maka pertanyaannya: mengapa kini, di era keterbukaan global, kita justru menyaksikan pembangunan tembok baru di Bali?

Tembok yang Menghalangi Nafas Sosial

Bali dikenal sebagai pulau dengan filosofi Tri Hita Karana, keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam. Filosofi ini telah menjadi ruh kehidupan masyarakat Bali. Akses jalan, jalan setapak, bahkan jalur kecil di sawah bukanlah sekadar infrastruktur, melainkan juga bagian dari ruang sosial yang memungkinkan interaksi. Jalan adalah perpanjangan dari halaman rumah, tempat di mana orang saling menyapa.

Ketika akses itu terhalang oleh tembok, yang hilang bukan hanya jalur transportasi, tetapi juga ruang sosial budaya masyarakat. Bayangkan warga yang sejak kecil terbiasa lewat jalan tertentu menuju pura, ladang, pasar, kantor atau rumah kerabatnya, tiba-tiba mendapati jalan itu tertutup oleh beton tinggi. Apa yang dirasakan? Jelas ada perasaan terasing dan terkurung di tanah sendiri.

GWK: Dari Cita-cita Bersama Menjadi Simbol Ketidakberdayaan

Garuda Wisnu Kencana (GWK) dibangun dengan cita-cita besar: menghadirkan mahakarya kebanggaan bangsa, monumen budaya yang menunjukkan keagungan nusantara. Saya masih ingat, awalnya beberapa tokoh Bali, kalau tidak salah, pernah menggagas agar GWK bisa dimiliki bersama melalui semacam “Bali Corporation”. Mimpi itu indah—GWK bukan hanya monumen, tetapi juga aset rakyat Bali.

Namun kenyataan kini berbeda. GWK memang megah, dikunjungi wisatawan, menjadi ikon global. Tetapi bagaimana dengan rakyat kecil di sekitarnya? Apakah mereka turut merasakan manfaatnya, atau justru merasa dipisahkan oleh dinding beton?

Tembok di GWK bukanlah sekadar penghalang fisik, ia menyuarakan jarak yang semakin lebar antara cita-cita awal dan realitas hari ini. Masyarakat sekitar yang seharusnya menjadi bagian dari denyut hidup GWK justru merasa tersisih.

Belajar dari Runtuhnya Tembok Berlin

Tembok Berlin roboh bukan semata karena palu dan linggis para demonstran, melainkan karena kesadaran kolektif bahwa tembok itu tidak lagi relevan. Dunia bergerak menuju keterbukaan, orang ingin bebas bergerak, bebas berinteraksi, bebas bermimpi. Tembok Berlin adalah simbol kegagalan sebuah rezim untuk memahami aspirasi rakyatnya sendiri.

Kini, apakah kita sedang mengulang sejarah dengan cara lain? Mungkin niat pembangunan tembok di GWK adalah untuk menata kawasan, menjaga keamanan, atau alasan teknis lainnya. Tetapi pesan simboliknya jauh lebih dalam: tembok itu memperlihatkan ketidakpekaan terhadap kebutuhan dasar masyarakat—akses.

Sejarah sudah memberi pelajaran: tembok yang dibangun tanpa mempertimbangkan kemanusiaan pada akhirnya akan runtuh, entah secara fisik, entah secara simbolis.

Membangun Tanpa Memisahkan

Apakah mungkin menata kawasan wisata megah seperti GWK tanpa harus memisahkan warga lokal dari ruang hidupnya? Sangat mungkin. Dunia modern mengenal konsep inclusive development—pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada investor atau wisatawan, tetapi juga melibatkan dan memberdayakan masyarakat lokal.

Alih-alih membangun tembok yang menutup akses, mengapa tidak membangun gerbang, jalur khusus, atau bahkan ruang publik bersama? Dengan begitu, GWK tetap terjaga keindahannya, tetapi masyarakat sekitar tidak merasa terasing. Bukankah lebih indah bila wisatawan yang datang ke GWK bisa menyaksikan kehidupan lokal yang hidup dan harmonis, bukan wajah murung warga yang jalannya terhalang tembok?

Refleksi untuk Bali dan Indonesia

Bali sedang menghadapi banyak tantangan: over-turisasi, kerusakan lingkungan, alih funsi lahan, masalah sampah, macet, dan ketimpangan ekonomi. Pembangunan tembok di GWK hanyalah satu contoh kecil dari masalah besar: kurangnya keseimbangan antara kepentingan global dan kepentingan lokal. Jika dibiarkan, hal-hal kecil seperti ini bisa menumpuk menjadi bom sosial.

Seperti kata pepatah, “penyesalan selalu datang terlambat.” Berlin menyesal setelah puluhan tahun rakyatnya menderita akibat tembok. Apakah Bali juga akan menyesal di kemudian hari, ketika harmoni sosialnya benar-benar terkoyak?

Tembok GWK seharusnya mengingatkan kita bahwa Bali tidak boleh kehilangan rohnya. Monumen boleh menjulang setinggi langit, tetapi jangan sampai meruntuhkan jembatan hati antara warga lokal dan ruang hidup mereka.

Penutup

Ini tembok GWK, bukan tembok Berlin. Tetapi pesan sejarah sama jelasnya: tembok yang memisahkan manusia dengan tanah kelahirannya, dengan budaya yang diwarisinya, dengan sesama saudaranya, pada akhirnya tidak akan pernah berdiri tegak selamanya.

Mungkin tembok GWK masih baru, masih kokoh, masih bersih. Tetapi ia sudah rapuh dalam makna—karena ia dibangun di atas jurang pemisahan. Maka sebelum terlambat, mari kita belajar dari Berlin: tembok bukanlah solusi, melainkan masalah itu sendiri. Yang dibutuhkan Bali bukan tembok, melainkan jembatan—jembatan fisik, jembatan sosial, jembatan hati, menuji Harmoni. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan
Tags: baliGaruda Wisnu Kencana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Next Post

ISI Bali dan Sanggar Lokananta Pentaskan Drama Tari “The Search for Sita” di International Ramayana Festival 2025, India

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
ISI Bali dan Sanggar Lokananta Pentaskan Drama Tari “The Search for Sita” di International Ramayana Festival 2025, India

ISI Bali dan Sanggar Lokananta Pentaskan Drama Tari "The Search for Sita" di International Ramayana Festival 2025, India

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co