12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 23, 2025
in Esai
Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

“There is far more religious faith in (communist) Russia than in (Christian) England.” – Graham Greene

ARTIKEL ini merupakan tugas saat saya masih mengikuti pendidikan Magister Hukum sekitar 2012, namun dengan sedikit polesan kecil, ternyata masih relevan untuk dipublish dari pada hanya jadi arsip tak terbaca. Dosen saya saat itu malah minta ijin untuk dijadikan materi dalam sebuah diskusi tentang pembahasan korupsi.

Korupsi sering dikatakan sebagai kejahatan yang sudah setua peradaban. Hampir semua bangsa mengalaminya, hanya kadarnya yang berbeda. Transparansi Internasional berkali-kali menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara terkorup, dan kasus-kasus besar selalu menghiasi pemberitaan publik. Ironisnya, korupsi justru marak di negeri yang dikenal sangat taat dalam urusan agama, namun sayangnya hanya menyentuk aspek formalitas, sebatas ritual. Bahkan sektor yang selama ini dianggap steril dari praktik korupsi—agama—tak lagi kebal. Kita tentu masih ingat korupsi dana abadi umat di Departemen Agama, korupsi pengadaan Al-Qur’an, hingga kasus partai yang mengusung jargon kesalehan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: jika hampir semua koruptor memiliki agama, mengapa agama tidak berhasil mencegah mereka melakukan perbuatan tercela? Bagaimana mungkin sebuah provinsi dengan julukan Serambi Mekah (Aceh) bisa menduduki posisi teratas kedua daerah terkorup setelah DKI Jakarta? Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada refleksi mendalam tentang relasi antara agama, spiritualitas, dan kegagalan pendidikan.

Agama Tidak Pernah Menghalalkan Korupsi

Tidak ada satu pun agama di dunia yang membenarkan korupsi. Ajaran moralitas dasar dalam setiap tradisi menolak keras pencurian, penipuan, dan penyalahgunaan amanah. Namun, sejarah menunjukkan bahwa agama bagaikan pedang bermata dua: bisa menjadi sumber cinta dan perdamaian, bisa pula dijadikan tameng untuk pembenaran perilaku destruktif. Shakespeare pernah berkata—dan dikutip Charles Kimball—“Bahkan setan pun bisa mengutip kitab suci demi kepentingannya.”

Begitu pula dengan korupsi di Indonesia. Semakin banyak strategi pemberantasan korupsi digagas, semakin lihai pula modus-modus baru bermunculan. Di sinilah tampak paradoks besar: para koruptor rajin beribadah, tetapi gagal menghadirkan nilai-nilai transendental dalam tindakan sehari-hari. Dengan kata lain, keberagamaan di Indonesia sering kali bersifat ritualistik, formal, dan dangkal, belum menyentuh inti spiritualitas yang sesungguhnya.

Krisis Spiritualitas: Agama yang Kehilangan Jiwa

Krisis terbesar bangsa ini bukanlah semata krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis spiritualitas. Banyak orang beragama tetapi kehilangan kesadaran religius otentik. Guruji Anand Krishna, dalam berbagai tulisannya, menegaskan bahwa inti agama adalah spiritualitas—yakni upaya menjadi manusia baik yang menyadari keberadaan Ilahi dalam diri. Tanpa dimensi itu, agama tereduksi menjadi seremonial belaka.

Seorang spiritualis sejati berupaya menjelmakan “kesadaran dharma” dalam setiap tindakannya. Jika kesadaran hewani—rakus, serakah, penuh nafsu—lebih dominan, maka walaupun mengenakan jubah agama, seseorang bisa lebih rendah dari hewan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa negeri yang sarat simbol keagamaan bisa sekaligus menjadi sarang perilaku koruptif.

Dalai Lama pernah berkata, “I am a man of religion, but religion alone cannot solve all our problems.” Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa agama—tanpa disertai pendidikan, etika, dan kesadaran—tidak akan mampu menjadi solusi tunggal atas penyakit sosial seperti korupsi. Agama perlu dipadukan dengan pendidikan yang membentuk karakter, serta sistem sosial yang menumbuhkan integritas.

Kegagalan Pendidikan dalam Arti Luas

Di titik ini kita harus menengok akar persoalan lebih dalam: kegagalan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya schooling (pendidikan formal), melainkan education in the broadest sense—pendidikan dalam arti luas, yakni proses memanusiakan manusia secara utuh.

Pendidikan kita masih berfokus pada transfer ilmu, bukan transformasi karakter. Anak-anak diajari menghafal teks agama, tetapi jarang dibimbing untuk mengalami nilai-nilai etika dalam keseharian. Guru mengajarkan “kejujuran” di kelas, tetapi praktik pungutan liar masih mewarnai sekolah. Universitas mendidik calon pejabat, tetapi sering gagal menanamkan integritas. Inilah yang menjadikan kita menghasilkan “pintar tanpa benar”: generasi yang cerdas secara intelektual tetapi miskin secara etis.

Y.B. Mangunwijaya pernah mengingatkan bahwa religiositas sejati tidak terletak pada hafalan doa atau ritual, melainkan pada kepedulian dan keberpihakan kepada sesama. Ketika pendidikan kehilangan roh itu, agama pun terjebak dalam formalitas. Korupsi lalu dianggap lumrah karena tidak ada kesadaran mendalam akan konsekuensi moral dan spiritualnya.

Agama Masih Menjadi Harapan

Meski demikian, agama tetap menyimpan potensi besar sebagai benteng terakhir melawan korupsi. Robert Klitgaard menegaskan, tanpa integritas dan dukungan masyarakat sipil, mustahil memberantas korupsi. Integritas inilah yang dapat ditumbuhkan melalui internalisasi nilai-nilai agama dan spiritualitas.

Ada beberapa langkah penting:

  1. Pendidikan agama yang transformatif. Agama tidak boleh berhenti pada simbol dan doktrin, melainkan menjadi praksis dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Keteladanan moral. Baik di rumah, sekolah, maupun lembaga negara, teladan jauh lebih efektif daripada seribu ceramah.
  3. Penanaman nilai sejak dini. Anak-anak perlu dibimbing dengan contoh nyata atau keteladanan, bukan sekadar nasihat kosong.

Jika langkah-langkah ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, agama dapat kembali berperan sebagai benteng moral bangsa, dan pendidikan akan menjadi ladang subur bagi lahirnya manusia yang berintegritas.

Korupsi memang musuh bersama, tetapi cara kita melawannya harus dimulai dari hal paling mendasar: memperbaiki pendidikan yang gagal memanusiakan manusia. Agama sejatinya hadir untuk mencegah kebusukan moral, bukan menjadi pelengkap ritual semata. Dalai Lama benar, agama saja tidak cukup: ia harus ditopang oleh pendidikan karakter, kesadaran kritis, dan teladan nyata.

Selama pendidikan hanya mencetak manusia cerdas tetapi tidak jujur, korupsi akan terus merajalela meski doa menggema di masjid, gereja, pura, maupun vihara. Harapan kita ada pada integrasi agama dan pendidikan yang sejati: pendidikan yang melampaui sekadar knowledge transfer, menuju character transformation. Hanya dengan itu, bangsa ini bisa keluar dari ironi sebagai salah satu negara terkorup di dunia. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: agamaAnti KorupsiKorupsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Muda Merawat Tua: Mahasiswa Undiksha dan Perjuangan Melawan Lupa

Next Post

INSPIRATION 6.0 : Mosaic of Dreams — Grow to Fly, Grow to Be Wonderful

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
INSPIRATION 6.0 : Mosaic of Dreams — Grow to Fly, Grow to Be Wonderful

INSPIRATION 6.0 : Mosaic of Dreams -- Grow to Fly, Grow to Be Wonderful

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co