3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 23, 2025
in Esai
Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

“There is far more religious faith in (communist) Russia than in (Christian) England.” – Graham Greene

ARTIKEL ini merupakan tugas saat saya masih mengikuti pendidikan Magister Hukum sekitar 2012, namun dengan sedikit polesan kecil, ternyata masih relevan untuk dipublish dari pada hanya jadi arsip tak terbaca. Dosen saya saat itu malah minta ijin untuk dijadikan materi dalam sebuah diskusi tentang pembahasan korupsi.

Korupsi sering dikatakan sebagai kejahatan yang sudah setua peradaban. Hampir semua bangsa mengalaminya, hanya kadarnya yang berbeda. Transparansi Internasional berkali-kali menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara terkorup, dan kasus-kasus besar selalu menghiasi pemberitaan publik. Ironisnya, korupsi justru marak di negeri yang dikenal sangat taat dalam urusan agama, namun sayangnya hanya menyentuk aspek formalitas, sebatas ritual. Bahkan sektor yang selama ini dianggap steril dari praktik korupsi—agama—tak lagi kebal. Kita tentu masih ingat korupsi dana abadi umat di Departemen Agama, korupsi pengadaan Al-Qur’an, hingga kasus partai yang mengusung jargon kesalehan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: jika hampir semua koruptor memiliki agama, mengapa agama tidak berhasil mencegah mereka melakukan perbuatan tercela? Bagaimana mungkin sebuah provinsi dengan julukan Serambi Mekah (Aceh) bisa menduduki posisi teratas kedua daerah terkorup setelah DKI Jakarta? Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada refleksi mendalam tentang relasi antara agama, spiritualitas, dan kegagalan pendidikan.

Agama Tidak Pernah Menghalalkan Korupsi

Tidak ada satu pun agama di dunia yang membenarkan korupsi. Ajaran moralitas dasar dalam setiap tradisi menolak keras pencurian, penipuan, dan penyalahgunaan amanah. Namun, sejarah menunjukkan bahwa agama bagaikan pedang bermata dua: bisa menjadi sumber cinta dan perdamaian, bisa pula dijadikan tameng untuk pembenaran perilaku destruktif. Shakespeare pernah berkata—dan dikutip Charles Kimball—“Bahkan setan pun bisa mengutip kitab suci demi kepentingannya.”

Begitu pula dengan korupsi di Indonesia. Semakin banyak strategi pemberantasan korupsi digagas, semakin lihai pula modus-modus baru bermunculan. Di sinilah tampak paradoks besar: para koruptor rajin beribadah, tetapi gagal menghadirkan nilai-nilai transendental dalam tindakan sehari-hari. Dengan kata lain, keberagamaan di Indonesia sering kali bersifat ritualistik, formal, dan dangkal, belum menyentuh inti spiritualitas yang sesungguhnya.

Krisis Spiritualitas: Agama yang Kehilangan Jiwa

Krisis terbesar bangsa ini bukanlah semata krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis spiritualitas. Banyak orang beragama tetapi kehilangan kesadaran religius otentik. Guruji Anand Krishna, dalam berbagai tulisannya, menegaskan bahwa inti agama adalah spiritualitas—yakni upaya menjadi manusia baik yang menyadari keberadaan Ilahi dalam diri. Tanpa dimensi itu, agama tereduksi menjadi seremonial belaka.

Seorang spiritualis sejati berupaya menjelmakan “kesadaran dharma” dalam setiap tindakannya. Jika kesadaran hewani—rakus, serakah, penuh nafsu—lebih dominan, maka walaupun mengenakan jubah agama, seseorang bisa lebih rendah dari hewan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa negeri yang sarat simbol keagamaan bisa sekaligus menjadi sarang perilaku koruptif.

Dalai Lama pernah berkata, “I am a man of religion, but religion alone cannot solve all our problems.” Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa agama—tanpa disertai pendidikan, etika, dan kesadaran—tidak akan mampu menjadi solusi tunggal atas penyakit sosial seperti korupsi. Agama perlu dipadukan dengan pendidikan yang membentuk karakter, serta sistem sosial yang menumbuhkan integritas.

Kegagalan Pendidikan dalam Arti Luas

Di titik ini kita harus menengok akar persoalan lebih dalam: kegagalan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya schooling (pendidikan formal), melainkan education in the broadest sense—pendidikan dalam arti luas, yakni proses memanusiakan manusia secara utuh.

Pendidikan kita masih berfokus pada transfer ilmu, bukan transformasi karakter. Anak-anak diajari menghafal teks agama, tetapi jarang dibimbing untuk mengalami nilai-nilai etika dalam keseharian. Guru mengajarkan “kejujuran” di kelas, tetapi praktik pungutan liar masih mewarnai sekolah. Universitas mendidik calon pejabat, tetapi sering gagal menanamkan integritas. Inilah yang menjadikan kita menghasilkan “pintar tanpa benar”: generasi yang cerdas secara intelektual tetapi miskin secara etis.

Y.B. Mangunwijaya pernah mengingatkan bahwa religiositas sejati tidak terletak pada hafalan doa atau ritual, melainkan pada kepedulian dan keberpihakan kepada sesama. Ketika pendidikan kehilangan roh itu, agama pun terjebak dalam formalitas. Korupsi lalu dianggap lumrah karena tidak ada kesadaran mendalam akan konsekuensi moral dan spiritualnya.

Agama Masih Menjadi Harapan

Meski demikian, agama tetap menyimpan potensi besar sebagai benteng terakhir melawan korupsi. Robert Klitgaard menegaskan, tanpa integritas dan dukungan masyarakat sipil, mustahil memberantas korupsi. Integritas inilah yang dapat ditumbuhkan melalui internalisasi nilai-nilai agama dan spiritualitas.

Ada beberapa langkah penting:

  1. Pendidikan agama yang transformatif. Agama tidak boleh berhenti pada simbol dan doktrin, melainkan menjadi praksis dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Keteladanan moral. Baik di rumah, sekolah, maupun lembaga negara, teladan jauh lebih efektif daripada seribu ceramah.
  3. Penanaman nilai sejak dini. Anak-anak perlu dibimbing dengan contoh nyata atau keteladanan, bukan sekadar nasihat kosong.

Jika langkah-langkah ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, agama dapat kembali berperan sebagai benteng moral bangsa, dan pendidikan akan menjadi ladang subur bagi lahirnya manusia yang berintegritas.

Korupsi memang musuh bersama, tetapi cara kita melawannya harus dimulai dari hal paling mendasar: memperbaiki pendidikan yang gagal memanusiakan manusia. Agama sejatinya hadir untuk mencegah kebusukan moral, bukan menjadi pelengkap ritual semata. Dalai Lama benar, agama saja tidak cukup: ia harus ditopang oleh pendidikan karakter, kesadaran kritis, dan teladan nyata.

Selama pendidikan hanya mencetak manusia cerdas tetapi tidak jujur, korupsi akan terus merajalela meski doa menggema di masjid, gereja, pura, maupun vihara. Harapan kita ada pada integrasi agama dan pendidikan yang sejati: pendidikan yang melampaui sekadar knowledge transfer, menuju character transformation. Hanya dengan itu, bangsa ini bisa keluar dari ironi sebagai salah satu negara terkorup di dunia. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: agamaAnti KorupsiKorupsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Muda Merawat Tua: Mahasiswa Undiksha dan Perjuangan Melawan Lupa

Next Post

INSPIRATION 6.0 : Mosaic of Dreams — Grow to Fly, Grow to Be Wonderful

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
INSPIRATION 6.0 : Mosaic of Dreams — Grow to Fly, Grow to Be Wonderful

INSPIRATION 6.0 : Mosaic of Dreams -- Grow to Fly, Grow to Be Wonderful

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co