16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 12, 2025
in Esai
Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SELAMA berabad-abad, manusia hidup dalam keyakinan bahwa alam semesta dapat dijelaskan secara pasti.
Isaac Newton, dengan hukum-hukum geraknya, menunjukkan bahwa setiap benda di alam ini mengikuti aturan yang jelas: jika kita tahu posisi dan kecepatannya, kita bisa memprediksi masa depannya.

Planet-planet berputar mengikuti garis edar yang teratur, apel jatuh dengan gaya gravitasi yang terukur, dan setiap sebab selalu menghasilkan akibat yang pasti. Dunia seperti jam raksasa — berjalan teratur tanpa kejutan.

Kepastian itu memberi kita rasa aman. Kita membangun sistem pendidikan, ekonomi, bahkan hubungan sosial berdasarkan asumsi yang sama: bahwa jika kita bekerja keras, kita akan sukses; jika kita jujur, kita akan dipercaya; jika kita menanam, pasti akan menuai.

Namun, ternyata semesta tidak sesederhana itu. Di balik keteraturan dunia makroskopik, ada lapisan halus realitas yang tak tunduk pada kepastian.

Dunia yang Tak Pasti: Pelajaran dari Quantum

Ketika para ilmuwan menengok ke dunia atom dan partikel, mereka menemukan sesuatu yang mengguncang keyakinan lama: hukum-hukum Newton tidak berlaku di sana.

Dalam dunia kuantum, elektron bisa berada di dua tempat sekaligus, bergerak seperti gelombang sekaligus partikel. Kita tidak bisa mengetahui posisi dan kecepatannya secara bersamaan.

Yang bisa kita ketahui hanyalah peluang atau probabilitas — bukan kepastian.

Fisikawan Niels Bohr dan Werner Heisenberg menyadarkan kita bahwa kenyataan tidak selalu hitam putih. Alam semesta bekerja dalam ketidakpastian yang harmonis, dan justru di sanalah letak keindahannya.

Realitas bukan sekadar “apa yang ada di luar sana”, tetapi juga “bagaimana kita mengamatinya.” Pengamat memengaruhi yang diamati.

Kita bukan sekadar penonton pasif di panggung semesta — kita ikut menciptakan realitas melalui kesadaran kita.

Hidup dalam Ketidakpastian

Jika hukum alam pun tidak pasti, bagaimana dengan kehidupan kita?

Kita sering gelisah ketika sesuatu tak berjalan sesuai rencana. Kita ingin semua hal dapat diprediksi, seperti rumus matematika. Namun kehidupan lebih menyerupai dunia kuantum: dinamis, berubah-ubah, dan penuh kemungkinan.

Ketika seseorang menanam benih kebaikan, hasilnya tidak selalu langsung tampak. Ada kalanya alam “mengacak” prosesnya — menunda, memutar arah, bahkan membawa kita melalui jalan yang tidak kita rencanakan.

Tapi di balik itu semua, seperti gelombang yang terus berinterferensi, kehidupan tetap mencari keseimbangannya sendiri.

Ketidakpastian dalam hidup bukanlah hukuman, melainkan ruang bagi pertumbuhan kesadaran. Kita belajar melepaskan kontrol yang berlebihan dan mulai mempercayai proses.

Seperti elektron yang tak bisa dipaksa memilih posisi pasti, jiwa manusia pun tumbuh ketika diberi ruang untuk menemukan jalannya sendiri.

Dari Sains ke Kesadaran

Pelajaran besar dari mekanika kuantum bukan sekadar bahwa alam semesta rumit, tetapi bahwa segala sesuatu saling terhubung. Foton di ujung galaksi bisa “terbelit” (entangled) dengan foton lain di bumi, seolah tak ada jarak di antara mereka. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa pada tingkat terdalam, semua kehidupan — manusia, hewan, tumbuhan, bahkan planet — terhubung dalam jalinan energi yang sama.

Dalam keseharian, keterhubungan itu bisa kita rasakan sebagai empati, cinta kasih, dan kesadaran ekologis. Ketika kita mencemari sungai, kita sebenarnya sedang mencemari tubuh kita sendiri. Ketika kita menebang hutan tanpa kendali, kita sedang memutus aliran napas bumi yang menopang hidup kita.

Hukum kuantum mengajarkan: tidak ada tindakan kecil yang benar-benar terpisah dari keseluruhan. Setiap pikiran, kata, dan perbuatan adalah getaran energi yang memengaruhi keseluruhan jaring kehidupan.

Menemukan Harmoni dalam Ketidakpastian

Di tengah ketidakpastian, kita justru menemukan makna baru tentang harmoni. Hidup bukan sekadar menaklukkan alam, melainkan menyatu dengannya. Bukan sekadar mencari kepastian, melainkan menari di antara kemungkinan.

Ketika kita belajar menerima bahwa masa depan tidak bisa dipastikan, kita menjadi lebih rendah hati. Kita mulai menghargai setiap momen sekarang — detik ini, napas ini — sebagai keajaiban. Kita mulai menyadari bahwa seperti gelombang kuantum, hidup tidak harus tetap, melainkan boleh berubah, bergetar, dan berevolusi.

Ketika kesadaran ini tumbuh, kita akan memperlakukan bumi bukan sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, tetapi sebagai tubuh semesta yang hidup. Kita tidak lagi merasa terpisah dari sesama, karena dalam level energi yang terdalam, kita semua hanyalah satu kesadaran yang sedang bereksperimen dalam bentuk yang berbeda.

Menuju Masa Depan yang Sadar

Mekanika klasik mengajarkan kita berpikir logis dan teratur. Mekanika kuantum mengajarkan kita berjiwa lembut dan sadar. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi — seperti kepala dan hati, seperti sains dan spiritualitas.

Masa depan umat manusia akan bergantung pada kemampuan kita memadukan keduanya: menggunakan sains untuk memahami dunia luar, dan kesadaran untuk menata dunia dalam. Ketika kedua aspek ini berjalan seiring, kita bisa membangun peradaban yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbelas kasih.

Kita Adalah Gelombang Kesadaran

Jika dunia klasik Descartes berkata “aku berpikir maka aku ada”, maka dunia kuantum berbisik lembut: “aku sadar maka aku menyatu.”

Dalam setiap diri ada percikan kesadaran semesta — cahaya kecil dari sumber yang sama. Tugas kita bukan menaklukkan alam, melainkan menjaga harmoni dalam tarian energi ini.

Sains membantu kita memahami bagaimana semesta bekerja, tapi kesadaran membantu kita hidup selaras dengannya. Dan di situlah, mungkin, Semesta sedang berbicara — tidak lewat kepastian, melainkan lewat keajaiban yang tersembunyi di balik ketidakpastian itu sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: alamIsaac Newton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Next Post

Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta — Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta — Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta -- Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010
Gaya

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

PADA 30 Januari 2018, Canon Indonesia merilis printer terbaru yakni Printer PIXMA Ink Efficient G series.  Ada lima tipe printer...

by tatkala
July 16, 2026
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa
Panggung

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik
Panggung

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co