6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 12, 2025
in Esai
Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SELAMA berabad-abad, manusia hidup dalam keyakinan bahwa alam semesta dapat dijelaskan secara pasti.
Isaac Newton, dengan hukum-hukum geraknya, menunjukkan bahwa setiap benda di alam ini mengikuti aturan yang jelas: jika kita tahu posisi dan kecepatannya, kita bisa memprediksi masa depannya.

Planet-planet berputar mengikuti garis edar yang teratur, apel jatuh dengan gaya gravitasi yang terukur, dan setiap sebab selalu menghasilkan akibat yang pasti. Dunia seperti jam raksasa — berjalan teratur tanpa kejutan.

Kepastian itu memberi kita rasa aman. Kita membangun sistem pendidikan, ekonomi, bahkan hubungan sosial berdasarkan asumsi yang sama: bahwa jika kita bekerja keras, kita akan sukses; jika kita jujur, kita akan dipercaya; jika kita menanam, pasti akan menuai.

Namun, ternyata semesta tidak sesederhana itu. Di balik keteraturan dunia makroskopik, ada lapisan halus realitas yang tak tunduk pada kepastian.

Dunia yang Tak Pasti: Pelajaran dari Quantum

Ketika para ilmuwan menengok ke dunia atom dan partikel, mereka menemukan sesuatu yang mengguncang keyakinan lama: hukum-hukum Newton tidak berlaku di sana.

Dalam dunia kuantum, elektron bisa berada di dua tempat sekaligus, bergerak seperti gelombang sekaligus partikel. Kita tidak bisa mengetahui posisi dan kecepatannya secara bersamaan.

Yang bisa kita ketahui hanyalah peluang atau probabilitas — bukan kepastian.

Fisikawan Niels Bohr dan Werner Heisenberg menyadarkan kita bahwa kenyataan tidak selalu hitam putih. Alam semesta bekerja dalam ketidakpastian yang harmonis, dan justru di sanalah letak keindahannya.

Realitas bukan sekadar “apa yang ada di luar sana”, tetapi juga “bagaimana kita mengamatinya.” Pengamat memengaruhi yang diamati.

Kita bukan sekadar penonton pasif di panggung semesta — kita ikut menciptakan realitas melalui kesadaran kita.

Hidup dalam Ketidakpastian

Jika hukum alam pun tidak pasti, bagaimana dengan kehidupan kita?

Kita sering gelisah ketika sesuatu tak berjalan sesuai rencana. Kita ingin semua hal dapat diprediksi, seperti rumus matematika. Namun kehidupan lebih menyerupai dunia kuantum: dinamis, berubah-ubah, dan penuh kemungkinan.

Ketika seseorang menanam benih kebaikan, hasilnya tidak selalu langsung tampak. Ada kalanya alam “mengacak” prosesnya — menunda, memutar arah, bahkan membawa kita melalui jalan yang tidak kita rencanakan.

Tapi di balik itu semua, seperti gelombang yang terus berinterferensi, kehidupan tetap mencari keseimbangannya sendiri.

Ketidakpastian dalam hidup bukanlah hukuman, melainkan ruang bagi pertumbuhan kesadaran. Kita belajar melepaskan kontrol yang berlebihan dan mulai mempercayai proses.

Seperti elektron yang tak bisa dipaksa memilih posisi pasti, jiwa manusia pun tumbuh ketika diberi ruang untuk menemukan jalannya sendiri.

Dari Sains ke Kesadaran

Pelajaran besar dari mekanika kuantum bukan sekadar bahwa alam semesta rumit, tetapi bahwa segala sesuatu saling terhubung. Foton di ujung galaksi bisa “terbelit” (entangled) dengan foton lain di bumi, seolah tak ada jarak di antara mereka. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa pada tingkat terdalam, semua kehidupan — manusia, hewan, tumbuhan, bahkan planet — terhubung dalam jalinan energi yang sama.

Dalam keseharian, keterhubungan itu bisa kita rasakan sebagai empati, cinta kasih, dan kesadaran ekologis. Ketika kita mencemari sungai, kita sebenarnya sedang mencemari tubuh kita sendiri. Ketika kita menebang hutan tanpa kendali, kita sedang memutus aliran napas bumi yang menopang hidup kita.

Hukum kuantum mengajarkan: tidak ada tindakan kecil yang benar-benar terpisah dari keseluruhan. Setiap pikiran, kata, dan perbuatan adalah getaran energi yang memengaruhi keseluruhan jaring kehidupan.

Menemukan Harmoni dalam Ketidakpastian

Di tengah ketidakpastian, kita justru menemukan makna baru tentang harmoni. Hidup bukan sekadar menaklukkan alam, melainkan menyatu dengannya. Bukan sekadar mencari kepastian, melainkan menari di antara kemungkinan.

Ketika kita belajar menerima bahwa masa depan tidak bisa dipastikan, kita menjadi lebih rendah hati. Kita mulai menghargai setiap momen sekarang — detik ini, napas ini — sebagai keajaiban. Kita mulai menyadari bahwa seperti gelombang kuantum, hidup tidak harus tetap, melainkan boleh berubah, bergetar, dan berevolusi.

Ketika kesadaran ini tumbuh, kita akan memperlakukan bumi bukan sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, tetapi sebagai tubuh semesta yang hidup. Kita tidak lagi merasa terpisah dari sesama, karena dalam level energi yang terdalam, kita semua hanyalah satu kesadaran yang sedang bereksperimen dalam bentuk yang berbeda.

Menuju Masa Depan yang Sadar

Mekanika klasik mengajarkan kita berpikir logis dan teratur. Mekanika kuantum mengajarkan kita berjiwa lembut dan sadar. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi — seperti kepala dan hati, seperti sains dan spiritualitas.

Masa depan umat manusia akan bergantung pada kemampuan kita memadukan keduanya: menggunakan sains untuk memahami dunia luar, dan kesadaran untuk menata dunia dalam. Ketika kedua aspek ini berjalan seiring, kita bisa membangun peradaban yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbelas kasih.

Kita Adalah Gelombang Kesadaran

Jika dunia klasik Descartes berkata “aku berpikir maka aku ada”, maka dunia kuantum berbisik lembut: “aku sadar maka aku menyatu.”

Dalam setiap diri ada percikan kesadaran semesta — cahaya kecil dari sumber yang sama. Tugas kita bukan menaklukkan alam, melainkan menjaga harmoni dalam tarian energi ini.

Sains membantu kita memahami bagaimana semesta bekerja, tapi kesadaran membantu kita hidup selaras dengannya. Dan di situlah, mungkin, Semesta sedang berbicara — tidak lewat kepastian, melainkan lewat keajaiban yang tersembunyi di balik ketidakpastian itu sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: alamIsaac Newton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Next Post

Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta — Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta — Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta -- Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co