26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 12, 2025
in Esai
Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SELAMA berabad-abad, manusia hidup dalam keyakinan bahwa alam semesta dapat dijelaskan secara pasti.
Isaac Newton, dengan hukum-hukum geraknya, menunjukkan bahwa setiap benda di alam ini mengikuti aturan yang jelas: jika kita tahu posisi dan kecepatannya, kita bisa memprediksi masa depannya.

Planet-planet berputar mengikuti garis edar yang teratur, apel jatuh dengan gaya gravitasi yang terukur, dan setiap sebab selalu menghasilkan akibat yang pasti. Dunia seperti jam raksasa — berjalan teratur tanpa kejutan.

Kepastian itu memberi kita rasa aman. Kita membangun sistem pendidikan, ekonomi, bahkan hubungan sosial berdasarkan asumsi yang sama: bahwa jika kita bekerja keras, kita akan sukses; jika kita jujur, kita akan dipercaya; jika kita menanam, pasti akan menuai.

Namun, ternyata semesta tidak sesederhana itu. Di balik keteraturan dunia makroskopik, ada lapisan halus realitas yang tak tunduk pada kepastian.

Dunia yang Tak Pasti: Pelajaran dari Quantum

Ketika para ilmuwan menengok ke dunia atom dan partikel, mereka menemukan sesuatu yang mengguncang keyakinan lama: hukum-hukum Newton tidak berlaku di sana.

Dalam dunia kuantum, elektron bisa berada di dua tempat sekaligus, bergerak seperti gelombang sekaligus partikel. Kita tidak bisa mengetahui posisi dan kecepatannya secara bersamaan.

Yang bisa kita ketahui hanyalah peluang atau probabilitas — bukan kepastian.

Fisikawan Niels Bohr dan Werner Heisenberg menyadarkan kita bahwa kenyataan tidak selalu hitam putih. Alam semesta bekerja dalam ketidakpastian yang harmonis, dan justru di sanalah letak keindahannya.

Realitas bukan sekadar “apa yang ada di luar sana”, tetapi juga “bagaimana kita mengamatinya.” Pengamat memengaruhi yang diamati.

Kita bukan sekadar penonton pasif di panggung semesta — kita ikut menciptakan realitas melalui kesadaran kita.

Hidup dalam Ketidakpastian

Jika hukum alam pun tidak pasti, bagaimana dengan kehidupan kita?

Kita sering gelisah ketika sesuatu tak berjalan sesuai rencana. Kita ingin semua hal dapat diprediksi, seperti rumus matematika. Namun kehidupan lebih menyerupai dunia kuantum: dinamis, berubah-ubah, dan penuh kemungkinan.

Ketika seseorang menanam benih kebaikan, hasilnya tidak selalu langsung tampak. Ada kalanya alam “mengacak” prosesnya — menunda, memutar arah, bahkan membawa kita melalui jalan yang tidak kita rencanakan.

Tapi di balik itu semua, seperti gelombang yang terus berinterferensi, kehidupan tetap mencari keseimbangannya sendiri.

Ketidakpastian dalam hidup bukanlah hukuman, melainkan ruang bagi pertumbuhan kesadaran. Kita belajar melepaskan kontrol yang berlebihan dan mulai mempercayai proses.

Seperti elektron yang tak bisa dipaksa memilih posisi pasti, jiwa manusia pun tumbuh ketika diberi ruang untuk menemukan jalannya sendiri.

Dari Sains ke Kesadaran

Pelajaran besar dari mekanika kuantum bukan sekadar bahwa alam semesta rumit, tetapi bahwa segala sesuatu saling terhubung. Foton di ujung galaksi bisa “terbelit” (entangled) dengan foton lain di bumi, seolah tak ada jarak di antara mereka. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa pada tingkat terdalam, semua kehidupan — manusia, hewan, tumbuhan, bahkan planet — terhubung dalam jalinan energi yang sama.

Dalam keseharian, keterhubungan itu bisa kita rasakan sebagai empati, cinta kasih, dan kesadaran ekologis. Ketika kita mencemari sungai, kita sebenarnya sedang mencemari tubuh kita sendiri. Ketika kita menebang hutan tanpa kendali, kita sedang memutus aliran napas bumi yang menopang hidup kita.

Hukum kuantum mengajarkan: tidak ada tindakan kecil yang benar-benar terpisah dari keseluruhan. Setiap pikiran, kata, dan perbuatan adalah getaran energi yang memengaruhi keseluruhan jaring kehidupan.

Menemukan Harmoni dalam Ketidakpastian

Di tengah ketidakpastian, kita justru menemukan makna baru tentang harmoni. Hidup bukan sekadar menaklukkan alam, melainkan menyatu dengannya. Bukan sekadar mencari kepastian, melainkan menari di antara kemungkinan.

Ketika kita belajar menerima bahwa masa depan tidak bisa dipastikan, kita menjadi lebih rendah hati. Kita mulai menghargai setiap momen sekarang — detik ini, napas ini — sebagai keajaiban. Kita mulai menyadari bahwa seperti gelombang kuantum, hidup tidak harus tetap, melainkan boleh berubah, bergetar, dan berevolusi.

Ketika kesadaran ini tumbuh, kita akan memperlakukan bumi bukan sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, tetapi sebagai tubuh semesta yang hidup. Kita tidak lagi merasa terpisah dari sesama, karena dalam level energi yang terdalam, kita semua hanyalah satu kesadaran yang sedang bereksperimen dalam bentuk yang berbeda.

Menuju Masa Depan yang Sadar

Mekanika klasik mengajarkan kita berpikir logis dan teratur. Mekanika kuantum mengajarkan kita berjiwa lembut dan sadar. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi — seperti kepala dan hati, seperti sains dan spiritualitas.

Masa depan umat manusia akan bergantung pada kemampuan kita memadukan keduanya: menggunakan sains untuk memahami dunia luar, dan kesadaran untuk menata dunia dalam. Ketika kedua aspek ini berjalan seiring, kita bisa membangun peradaban yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbelas kasih.

Kita Adalah Gelombang Kesadaran

Jika dunia klasik Descartes berkata “aku berpikir maka aku ada”, maka dunia kuantum berbisik lembut: “aku sadar maka aku menyatu.”

Dalam setiap diri ada percikan kesadaran semesta — cahaya kecil dari sumber yang sama. Tugas kita bukan menaklukkan alam, melainkan menjaga harmoni dalam tarian energi ini.

Sains membantu kita memahami bagaimana semesta bekerja, tapi kesadaran membantu kita hidup selaras dengannya. Dan di situlah, mungkin, Semesta sedang berbicara — tidak lewat kepastian, melainkan lewat keajaiban yang tersembunyi di balik ketidakpastian itu sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: alamIsaac Newton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Next Post

Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta — Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta — Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta -- Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co