16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 12, 2025
in Esai
Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SELAMA berabad-abad, manusia hidup dalam keyakinan bahwa alam semesta dapat dijelaskan secara pasti.
Isaac Newton, dengan hukum-hukum geraknya, menunjukkan bahwa setiap benda di alam ini mengikuti aturan yang jelas: jika kita tahu posisi dan kecepatannya, kita bisa memprediksi masa depannya.

Planet-planet berputar mengikuti garis edar yang teratur, apel jatuh dengan gaya gravitasi yang terukur, dan setiap sebab selalu menghasilkan akibat yang pasti. Dunia seperti jam raksasa — berjalan teratur tanpa kejutan.

Kepastian itu memberi kita rasa aman. Kita membangun sistem pendidikan, ekonomi, bahkan hubungan sosial berdasarkan asumsi yang sama: bahwa jika kita bekerja keras, kita akan sukses; jika kita jujur, kita akan dipercaya; jika kita menanam, pasti akan menuai.

Namun, ternyata semesta tidak sesederhana itu. Di balik keteraturan dunia makroskopik, ada lapisan halus realitas yang tak tunduk pada kepastian.

Dunia yang Tak Pasti: Pelajaran dari Quantum

Ketika para ilmuwan menengok ke dunia atom dan partikel, mereka menemukan sesuatu yang mengguncang keyakinan lama: hukum-hukum Newton tidak berlaku di sana.

Dalam dunia kuantum, elektron bisa berada di dua tempat sekaligus, bergerak seperti gelombang sekaligus partikel. Kita tidak bisa mengetahui posisi dan kecepatannya secara bersamaan.

Yang bisa kita ketahui hanyalah peluang atau probabilitas — bukan kepastian.

Fisikawan Niels Bohr dan Werner Heisenberg menyadarkan kita bahwa kenyataan tidak selalu hitam putih. Alam semesta bekerja dalam ketidakpastian yang harmonis, dan justru di sanalah letak keindahannya.

Realitas bukan sekadar “apa yang ada di luar sana”, tetapi juga “bagaimana kita mengamatinya.” Pengamat memengaruhi yang diamati.

Kita bukan sekadar penonton pasif di panggung semesta — kita ikut menciptakan realitas melalui kesadaran kita.

Hidup dalam Ketidakpastian

Jika hukum alam pun tidak pasti, bagaimana dengan kehidupan kita?

Kita sering gelisah ketika sesuatu tak berjalan sesuai rencana. Kita ingin semua hal dapat diprediksi, seperti rumus matematika. Namun kehidupan lebih menyerupai dunia kuantum: dinamis, berubah-ubah, dan penuh kemungkinan.

Ketika seseorang menanam benih kebaikan, hasilnya tidak selalu langsung tampak. Ada kalanya alam “mengacak” prosesnya — menunda, memutar arah, bahkan membawa kita melalui jalan yang tidak kita rencanakan.

Tapi di balik itu semua, seperti gelombang yang terus berinterferensi, kehidupan tetap mencari keseimbangannya sendiri.

Ketidakpastian dalam hidup bukanlah hukuman, melainkan ruang bagi pertumbuhan kesadaran. Kita belajar melepaskan kontrol yang berlebihan dan mulai mempercayai proses.

Seperti elektron yang tak bisa dipaksa memilih posisi pasti, jiwa manusia pun tumbuh ketika diberi ruang untuk menemukan jalannya sendiri.

Dari Sains ke Kesadaran

Pelajaran besar dari mekanika kuantum bukan sekadar bahwa alam semesta rumit, tetapi bahwa segala sesuatu saling terhubung. Foton di ujung galaksi bisa “terbelit” (entangled) dengan foton lain di bumi, seolah tak ada jarak di antara mereka. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa pada tingkat terdalam, semua kehidupan — manusia, hewan, tumbuhan, bahkan planet — terhubung dalam jalinan energi yang sama.

Dalam keseharian, keterhubungan itu bisa kita rasakan sebagai empati, cinta kasih, dan kesadaran ekologis. Ketika kita mencemari sungai, kita sebenarnya sedang mencemari tubuh kita sendiri. Ketika kita menebang hutan tanpa kendali, kita sedang memutus aliran napas bumi yang menopang hidup kita.

Hukum kuantum mengajarkan: tidak ada tindakan kecil yang benar-benar terpisah dari keseluruhan. Setiap pikiran, kata, dan perbuatan adalah getaran energi yang memengaruhi keseluruhan jaring kehidupan.

Menemukan Harmoni dalam Ketidakpastian

Di tengah ketidakpastian, kita justru menemukan makna baru tentang harmoni. Hidup bukan sekadar menaklukkan alam, melainkan menyatu dengannya. Bukan sekadar mencari kepastian, melainkan menari di antara kemungkinan.

Ketika kita belajar menerima bahwa masa depan tidak bisa dipastikan, kita menjadi lebih rendah hati. Kita mulai menghargai setiap momen sekarang — detik ini, napas ini — sebagai keajaiban. Kita mulai menyadari bahwa seperti gelombang kuantum, hidup tidak harus tetap, melainkan boleh berubah, bergetar, dan berevolusi.

Ketika kesadaran ini tumbuh, kita akan memperlakukan bumi bukan sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, tetapi sebagai tubuh semesta yang hidup. Kita tidak lagi merasa terpisah dari sesama, karena dalam level energi yang terdalam, kita semua hanyalah satu kesadaran yang sedang bereksperimen dalam bentuk yang berbeda.

Menuju Masa Depan yang Sadar

Mekanika klasik mengajarkan kita berpikir logis dan teratur. Mekanika kuantum mengajarkan kita berjiwa lembut dan sadar. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi — seperti kepala dan hati, seperti sains dan spiritualitas.

Masa depan umat manusia akan bergantung pada kemampuan kita memadukan keduanya: menggunakan sains untuk memahami dunia luar, dan kesadaran untuk menata dunia dalam. Ketika kedua aspek ini berjalan seiring, kita bisa membangun peradaban yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbelas kasih.

Kita Adalah Gelombang Kesadaran

Jika dunia klasik Descartes berkata “aku berpikir maka aku ada”, maka dunia kuantum berbisik lembut: “aku sadar maka aku menyatu.”

Dalam setiap diri ada percikan kesadaran semesta — cahaya kecil dari sumber yang sama. Tugas kita bukan menaklukkan alam, melainkan menjaga harmoni dalam tarian energi ini.

Sains membantu kita memahami bagaimana semesta bekerja, tapi kesadaran membantu kita hidup selaras dengannya. Dan di situlah, mungkin, Semesta sedang berbicara — tidak lewat kepastian, melainkan lewat keajaiban yang tersembunyi di balik ketidakpastian itu sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: alamIsaac Newton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Next Post

Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta — Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta — Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta -- Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co