12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
October 16, 2025
in Khas
Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Prosesi Nangun Betara Bagia

SERANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal, Ubud, Gianyar, Bali, panitia dan krama desa ngadegang piranti upakara penting yang disebut dengan Bagia Pula Kerti.

Bagia Pula Kerti adalah salah satu bentuk rangkaian bebantenan yang berisikan isi alam semesta. Bagia Pula Kerti dihadirkan hanya pada tingkatan upacara dengan tingkatan utama atau utamaning utama.

Bagia Pula Kerti yang kemudian disebut Betara Bagia (setelah dipelaspas) memiliki peran yang sangat penting dalam upacara dengan tingkatan upacara utama atau utamaning utama dari segi makna dan proses pembuatannya. Makna dari Bagia Pula Kerti sesuai dengan Lontar Siwa Sesana sebagai lambing Dewa Siwa.

Selain itu jika dilihat elemen-elemen penyusunnya Bagia Pula Kerti adalah miniatur dari Bhuana Agung (alam semesta). Mengapa dimaknai sebagai miniatur Bhuana Agung? Karena isi dari Bagia Pule Kerti mencakup isi alam semesta seperti segala jenis beras, segala jenis rempah, segala jenis kelapa, beragam jenis pisang, segala jenis buah-buahan, beragam jenis tumbuh-tumbuhan, segala jenis sayur mayur, ragam kacang-kacangan, seluruh jenis bebungaan, tembaga, emas, perak, besi, hingga batu mulia.

Kemudian pada akhirnya Bagia dengan seluruh isinya akan dipendam sebagai simbol pengembalian ke alam semesta bertujuan dianugrahi kebahagian sejati bagi seluruh isi alam semesta. Menghasilkan kebahagian sejati untuk seluruh isi alam semesta merupakan tujuan utama dari penyelenggaraan upacara Yadnya dengan tingkatan utamaning utama seperti Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal.

Mengingat begitu pentingnya peran dari Bagia maka Desa Adat Padangtegal atas arahan serta restu dari Yajamana karya mempersiapkan proses perwujudan, mendak, melaspas hingga mendem Bagia dengan cermat dan tepat sesuai kepatutan.

Dalam pemikiran yang lebih baru perwujudan Bagia Pule Kerti juga sebagai upaya melakukan sensus terhadap keberadaan ragam flora yang digunakan sebagai isi bebantenannya. Sensus terhadap ragam flora secara otomatis dilakukan pada saat pengadaan untuk pemenuhan kebutuhan isi bebantenan.

Maksudnya adalah jika ragam flora yang dibutuhkan untuk isi bebantenan dapat diperoleh maka dipastikan keberadaan flora tersebut masih lestari tumbuhnya di alam. Sebaliknya jika dalam proses pencariannya ragam flora tersebut susah ditemukan atau bahkan tidak dapat ditemukan maka flora tersebut telah langka atau bahkan sudah punah.

Jika dalam kondisi langka maka harus dilakukan upaya untuk melestarikan keberadaan flora tersebut agar tidak sampai punah. Memang sejatinya seluruh ritual dan sarana upacara Hindu di Bali mengandung implementasi langsung yang menandakan situasi nyata mengenai ekosistem alam.

Proses perwujudan dari Bagia telah dipersiapkan dengan matang mulai memohon kesediaan sang meraga welaka (dari golongan Brahmana yang belum Medwijati) sebagai pemandu nanding Bagia, menunjuk serati sebagai pelaksana dan penyedia segala jenis upakara sekaligus metanding, tutus bangunan sebagai pelaksana teknis wujud dan dekorasi dari Bagia.

Selain itu pelibatan krama desa, yowana dan seniman yang tergabung dalam komunitas seniman Padangtegal juga dilakukan untuk membantu membuat alat kelengkapan Bagia sesuai dengan instruksi dari welaka dan tutus bangunan. Adapun yang ditunjuk sebagai welaka adalah Ida Bagus Putra Manuaba dari Griya Demayu. Proses pembuatan tatakan Bagia telah dimulai dari bulan Juli oleh tutus bangunan.

Kemudian pada tanggal 3 September 2025 dilaksanakan upacara Ngendag Bagia untuk mengawali metanding isian dari Bagia. Upacara ngendag dipimpin oleh Yajamana Karya yaitu Ida Pedanda Gede Jungutan Manuaba. Pada upacara Ngendag ini juga diikuti oleh Pengerajeg Karya Tjokorda Putra Nindia, SH., MH selaku Pengelingsir Puri Agung Peliatan, seluruh pemangku, prejuru dan panitia karya.

Kemudian peran serta krama desa turut memberikan jatu berupa sarana kwangen yang telah dikumpulkan sebelumnya kemudian diletakkan pada seluruh Bagia. Isian dari Bagia yang digunakan pada saat upacara Ngendag adalah: Tampak/Kulit Sayut, Kubal Mesurat Senjata Nawa Sangga, Beras Putih, Beras Mewarna Mewadah Ceper, Tetebus pengideran, Base Tampel, Jinah Bolong, Kelapa Mewarna, Buah Panca Pala, Suci Ageng, Suci Alit, Caraken, Rantasan Mewarna nganutin genah pengideran soang-soang, canang, pesucian dan pedagingan.

Pada hari Kamis tanggal 4 September 2025 menyusul rauh ngaturang jatu pada Bagia oleh pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud yaitu Drs. Tjokorda Gde Putra Sukawati selaku pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud didampingi pengelingsir Puri Kemuda Sari. Setelah rawuhnya pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud maka telah lengkaplah “yasa kerthi” seluruh elemen dari prawartaka karya hingga krama untuk menyusun kelengkapan Bagia Pulekerthi dengan utuh dari segi  bentuk dan makna.

Pada tanggal 26 September 2025 dilaksanakan upacara pemelaspas Bagia yang digelar di Pura Puseh Desa Adat Ubud. Pemelaspas Bagia dipuput oleh Ida Pedanda Jelantik Giri dari Griya Gunung Sari Peliatan serta dihadiri oleh Pengerajeg Karya dari Puri Agung Peliatan, Pengerajeg dari Puri Agung Ubud, Prejuru Desa Adat Padangtegal, Prejuru Desa Adat Ubud, krama Desa Adat Padangtegal dan krama Desa Adat Ubud.

Tujuan upacara pemelaspas ini ialah untuk menyucikan seluruh piranti dan elemen yang menyusun Bagia sehingga dapat digunakan sebagai sarana upakara-upacara. Selain itu setelah upacara pemelaspas maka Bagia akan bergelar Betara Bagia dengan beberapa jenis dan fungsi yaitu Penyegjeg/Penyejer, Bagia, Pulakerti, Bagia Pengiring Lanang, Bagia Pengiring Istri, Pulo Sakadaton, Sri Sadana, Srianti, Ibu/Wibuh Sugih, Paningkeb dan Pengenteg.

Setelah tiba di Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal setelah kapendak di Pura Puseh Desa Adat Ubud maka Ida Betara Bagia ditempatkan pada: 1) Penyegjeg/Penyejer di Ayun Widhi dan Tawur, 2) Bagia di Ayun Widhi, Paselang, Pangusaban, Sanggar Tawang Tawur dan Pedanan, 3) Pulekerti Ayun Widhi, Paselang, Pangusaban, Sanggar Tawang Tawur dan Pedanan 4) Bagia Pengiring Lanang di Ayun Widhi, 5) Bagia Pengiring Istri di Ayun Widhi, 6) Pulo Sakadaton di Peselang, 7) Sri Sadana di Peselang, 8) Srianti di Peselang, 9) Ibu Sugih di Peselang, 10) Peningkeb untuk pekelem Segara, Gunung, Danu dan Pengerayungan dan 11) Pengenteg di Ayun Widhi.

Pemendak Betara Bagia dilakukan dengan prosesi peed agung yang meriah namun penuh makna. Diawali dengan uperangga pengawin lelontek, bandrangan, payung-pagut dan kober Dewata Nawa Sangga yang dipundut oleh alit-alit Sebale Agung Desa Adat Padangtegal. Peed Agung didandani dengan hadirnya sutra-sutri, deha truna-truni dan busana rias agung.

Para krama istri dengan anggun bersanggul begitu padu memundut lantaran putih-kuning. Sarana upacara seperti pasepan, canang rebong, canang oyod, pesucian, teterag dan rantasan dipundut oleh yowana istri. Sedangkan yowana lanang turut berbaris rapi berjalan di depan Bungan Jaja dari Angga Griya. Krama desa lanang juga turut memundut 25 pasang tedung agung berwarna-warni yang akan digunakan nedungin Betara Bagia nantinya.

Adapun tetangguran yang menyertai peed agung yaitu Gong Beri dari Desa Laplapan, Gong Suling oleh Nangun Semita Liang dan Baleganjur pengiring oleh STT Santi Graha Banjar Ubud Kaja serta STT. Putra Sesana dari Banjar Ubud Kelod. Panjang prosesi mencapai 1 kilometer menandakan Sradha Bhakti krama Desa Adat Padangtegal untuk memendak Betara Bagia sangat tinggi serta khidmat.

Setelah selesai dipelaspas di Pura Puseh Desa Adat Ubud, maka selanjutnya Betara Bagia diiring kembali menuju Pura Desa dan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk dapat dilanjutkan pada rangkaian upacara selanjutnya. Dalam perjalanan kembali ke Pura Desa dan Puseh Desa Adat Padangtegal, Betara Bagia dipundut oleh Yowana dan Krama Desa Adat Padangtegal serta dibantu oleh krama Banjar Keliki Kawan, Kelusa, Payangan.

Adapun pembagian pemundut Betara Bagia adalah sebagai berikut

  • Betara Bagia Tetingkeb Pengerayungan dan Tetingkeb Segara dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Kelod.
  • Betara Bagia Tetingkeb Danu dan Tetingkeb Gunung dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Mekarsari
  • Betara Bagia Sri Yanti dan Sri Sedana Pengusaban dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Kaja
  • Betara Bagia Sri Yanti Peselang dipundut oleh ST. Terena Kencana
  • Betara Bagia Pulo Kedaton, Sri Sedana Peselang, Wibuh Sugih, Tawur Lanang-Istri dan Pedanan Istri dipundut oleh Krama Desa Keliki Kawan
  • Betara Bagia Pedanan Lanang, Pengusaban Lanang-Istri dan Peselang Istri dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Bale Agung
  • Betara Bagia Peselang Lanang, Ayun Lanang-Istri dan Pengiring Lanang dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Puseh
  • Betara Bagia Pengiring Lanang, Pengenteg Linggih, Penyejer Tawur dan Penyejer Jeroan dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Dalem Gede

Dalam perjalanan dari Pura Puseh Desa Adat Ubud tempat pemelaspas menuju Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal prosesi berjalan dengan sangat khidmat. Sepanjang jalan masyarakat umum dan turis mancanegara juga menyaksikan prosesi pemargi Betara Bagia dengan antusias. Setelah hampir 1 jam perjalanan, Betara Bagia tiba di Bencingah Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk kemudian dihaturkan upakara Pesegeh Agung yang dipuput oleh Jero Mangku Dalem Agung Padangtegal didampingi oleh seluruh prejuru adat.

Pada saat upacara pesegeh agung berlangsung seluruh pemundut Betara Bagia duduk bersila sehingga hanya Betara Bagia yang menjulang agung dengan penuh aura kesucian. Setelah selesasi dihaturkan pesegeh agung kemudian Betara Bagia keiring menuju utamaning dan madya mandala Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk kemudian ditempatkan pada posisi yang telah disesuaikan sesuai dengan kebutuhan upakara serta upacaranya.

Ekspresi Seni Pada Pengadeg Betara Bagia Desa Adat Padangtegal

Betara Bagia bagi serati dan tutus Desa Adat Padangtegal tidak hanya sebagai perwujudan piranti sakral namun juga bagian dari estetika (keindahan) persembahan. Logika sederhana mengenai masuknya unsur keindahan adalah untuk melengkapi unsur Tattwa, Etika dan Upacara. Dengan dilengkapi keindahan maka filosofi, etika dan ritual dapat terbungkus apik melalui sentuhan seni.

Seni yang juga diartikan sebagai sani yang berarti persembahan menjadi landasan kuat bagi serati dan tutus Desa Adat Padangtegal dalam mendandani kesucian dan kepatutan upakara dari Batara Bagia dalam bentuk sentuhan seni. Sentuhan seni yang dilakukan oleh serati dan tutus adalah menguatkan tata letak upakara dengan hiasan yang terkonsep dan terencana agar tidak menghilangkan esensi utama dari Betara Bagia. Hiasan yang dikonsep dengan membagi menjadi tiga struktur pengawak konvensional Bali yaitu ulu, awak, dasar. Bagian ulu meliputi murda Betara Bagia yang terbuat dari rangkaian uang kepeng berbentuk atap.

Kemudian bagian awak Betara bagia adalah tempat dari seluruh isi alam semesta, upakara serta simbol-simbol alam semesta berupa sesuratan dan tuwasan lontar. Lalu pada bagian dasar secara konvensional menggunakan jeding dan beti sebagai tempat penyangga jeding dan awak Betara Bagia.

Bagian ulu yang kemudian disebut dengan mIurda terdapat dua jenis dari segi bahan yaitu murda berbahan uang kepeng dan berbahan daun lontar. Murda yang berbahan uang kepeng kemudian dihias dengan pemugbug yang ditatah pada bahan kulit sapi kemudian dilapisi dengan prada emas 22 karat.

Ujung atasnya berhias batu amenetis putih bening dengan dasar ukiran tembaga. Tepi bawah murda dihiasi utah-utah dengan bentuk rangkaian mote tetes emas sehingga menambah kesan luwes-manis murda yang kokoh. Kemudian murda yang berbahan daun lontar dihiasi dengan bunga plendo putih yang menambah kesan klasik dari tuwasan lontar membentuk pola cecandian.

Awak Betara Bagia menjadi bagian yang paling padat secara proporsi, karena pada bagian itu seluruh elemen inti disusun. Pada bagian awak memiliki bidang paling luas untuk kemudian diisi dengan sarana upakara berupa bebantenan, isen gumi dan hiasan. Pada bagian Awak Betara Bagia dalam penyusunannya secara teknis dibagi atas tiga yaitu bagian isi upakara (dalam), bagian tengah berupa orti-orti, tuwasan lontar seperti rambut dan rajutan benang berwarna-warni sesuai arah mata angin dengan visual seperti matahari dan bulan.

Bagian terluar berupa hiasan dari pemasangan leluur, kober, umbul-umbul, tedung dan lelamak. Pada bagian terluar Betara Bagia di Desa Adat Padangtegal kali ini dihiasi dengan prerai lanang-istri yang disematkan sesuai dengan jenis Betara Bagia. Penyematan prerai lanang-istri sebagai penanda identitas jenis Betara Bagia merupakan salah satu terobosan terbaru yang dilakukan oleh serati dan tutus. Terobosan ini tentu dengan pertimbangan kepatutan filosofis dengan sentuhan rasa indah-estetika-seni yang ingin diwujudkan oleh serati dan tutus Desa Adat Padangtegal.

Tatakan Bagia untuk Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal digarap dengan bahan dan bentuk spesial. Spesialnya adalah tatakannya berkomposisi pepalihan dengan megunung gelut yang dihiasi dengan karang tapel bentulu dan karang gajah pada setiap sudut pepalihan dan gunung gelut.

Disamping itu pada bagian depan tatakan Bagia dihiasi dengan ukiran Bedawang Nala yang diapit dengan Naga Basuki dan Naga Anantabhoga. Tatakan bagia dengan pepalihan megunung gelut mebedawang nala serta hiasan karang bentulu dan karang gajah adalah hal yang baru. Semua ukiran ini diprada emas dengan prada air agar memberikan ruang pemuliaan pada bagian murda yang dilapisi dengan prada emas 22 karat. Lalu yang tidak kalah spesial pada bagian tatakan adalah wastra untuk melapisi jeding.

Wastra Betara Bagia disusun dari wastra, kampuh, petet, awir dan lamak. Wastra Betara Bagia menggunakan kain jenis Cepuk tenunan asli Desa Tanglad, Nusa Penida. Kampuh dan petet Betara Bagia dari jenis songket. Awir menggunakan kain pepledoan dan lamak memilih kain Gringsing dari Desa Tenganan, Karangasem. Badan gunung gelut dan seluruh pekeled dibungkus dengan kain beludru dan songket Palembang yang diberikan aksen piku-piku emas.

Hiasan pada bagian tatakan Betara Bagia di Desa Adat Padangtegal serangkaian Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh menjadi sentuhan seni yang paling banyak digarap. Mengapa pada bagian tatakan mendapat fokus garapan seni yang paling banyak? Karena pada bagian tatakan hampir tidak ada bagian upakara sehingga memberikan ruang bebas dalam menghiasnya sesuai dengan imajinasi terbaik oleh para serati dan tutus. Dapat dikatakan bahwa tatakan Betara Bagia Desa Adat Padangtegal saat ini menjadi yang berbeda dengan pengadeg (wujud) Betara Bagia di desa lain pada saat menyelenggarkan upacara tingkatan utamaning utama.

Betara Bagia oleh serati dan tutus Desa Adat Padangtegal pada serangkaian Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh adalah implementasi Tri Kerangkan Agama Hindu yaitu Tattwa, Etika, Upacara ditambah Estetika. Estetika menjadi nilai tambah untuk melengkapi Tri Kerangkan Agama Hindu adalah potensi dari Desa Adat Padangtegal. Desa Adat Padangtegal terkenal dengan potensi seni perundagiannya disamping disangga oleh seni lukis kemudian saat ini sedang tumbuh seniman tari dan seniman tabuh.

Serati dan tutus Desa Adat Padangtegal sebagian besar merupakan seniman perundagian dan seniman lukis sehingga ekspresi seni yang telah mendarah daging menyebabkan sentuhan seni muncul untuk mendandani sesuatu yang bersifat sakral seperti halnya Pengadeg Betara Bagia dengan sentuhan seni. [T]

Penulis : Wayan Diana Putra
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menggurat Ratu Kompyang, Memaknai Ida Ratu Lingsir: Catatan Pertalian Spiritual Melalui Media Pelawatan Barong Desa Adat Padangtegal dengan Desa Adat Kebon
Kesanga Menuju Kedasa dan dari Campuhan, Taman, Menuju Batur | Formulasi Proses Penciptaan Rejang Baris Jong Pari Dengan Prinsip Gadamerian
Pawodakan Ida Ratu Lingsir di Padangtegal: Tetap Gunakan Warna Bali dari Tulang, Tanduk dan Batu-batuan
Tags: Desa Adat PadangtegalHindu BaliUbudupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [36]: Pencuri Terjebak di Gudang Kampus

Next Post

Ketika Budaya Bertabrakan: Reaksi Psikologis dan Sosial terhadap Imigran India di Negara Maju

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Ketika Budaya Bertabrakan: Reaksi Psikologis dan Sosial terhadap Imigran India di Negara Maju

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co