2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
October 16, 2025
in Khas
Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Prosesi Nangun Betara Bagia

SERANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal, Ubud, Gianyar, Bali, panitia dan krama desa ngadegang piranti upakara penting yang disebut dengan Bagia Pula Kerti.

Bagia Pula Kerti adalah salah satu bentuk rangkaian bebantenan yang berisikan isi alam semesta. Bagia Pula Kerti dihadirkan hanya pada tingkatan upacara dengan tingkatan utama atau utamaning utama.

Bagia Pula Kerti yang kemudian disebut Betara Bagia (setelah dipelaspas) memiliki peran yang sangat penting dalam upacara dengan tingkatan upacara utama atau utamaning utama dari segi makna dan proses pembuatannya. Makna dari Bagia Pula Kerti sesuai dengan Lontar Siwa Sesana sebagai lambing Dewa Siwa.

Selain itu jika dilihat elemen-elemen penyusunnya Bagia Pula Kerti adalah miniatur dari Bhuana Agung (alam semesta). Mengapa dimaknai sebagai miniatur Bhuana Agung? Karena isi dari Bagia Pule Kerti mencakup isi alam semesta seperti segala jenis beras, segala jenis rempah, segala jenis kelapa, beragam jenis pisang, segala jenis buah-buahan, beragam jenis tumbuh-tumbuhan, segala jenis sayur mayur, ragam kacang-kacangan, seluruh jenis bebungaan, tembaga, emas, perak, besi, hingga batu mulia.

Kemudian pada akhirnya Bagia dengan seluruh isinya akan dipendam sebagai simbol pengembalian ke alam semesta bertujuan dianugrahi kebahagian sejati bagi seluruh isi alam semesta. Menghasilkan kebahagian sejati untuk seluruh isi alam semesta merupakan tujuan utama dari penyelenggaraan upacara Yadnya dengan tingkatan utamaning utama seperti Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal.

Mengingat begitu pentingnya peran dari Bagia maka Desa Adat Padangtegal atas arahan serta restu dari Yajamana karya mempersiapkan proses perwujudan, mendak, melaspas hingga mendem Bagia dengan cermat dan tepat sesuai kepatutan.

Dalam pemikiran yang lebih baru perwujudan Bagia Pule Kerti juga sebagai upaya melakukan sensus terhadap keberadaan ragam flora yang digunakan sebagai isi bebantenannya. Sensus terhadap ragam flora secara otomatis dilakukan pada saat pengadaan untuk pemenuhan kebutuhan isi bebantenan.

Maksudnya adalah jika ragam flora yang dibutuhkan untuk isi bebantenan dapat diperoleh maka dipastikan keberadaan flora tersebut masih lestari tumbuhnya di alam. Sebaliknya jika dalam proses pencariannya ragam flora tersebut susah ditemukan atau bahkan tidak dapat ditemukan maka flora tersebut telah langka atau bahkan sudah punah.

Jika dalam kondisi langka maka harus dilakukan upaya untuk melestarikan keberadaan flora tersebut agar tidak sampai punah. Memang sejatinya seluruh ritual dan sarana upacara Hindu di Bali mengandung implementasi langsung yang menandakan situasi nyata mengenai ekosistem alam.

Proses perwujudan dari Bagia telah dipersiapkan dengan matang mulai memohon kesediaan sang meraga welaka (dari golongan Brahmana yang belum Medwijati) sebagai pemandu nanding Bagia, menunjuk serati sebagai pelaksana dan penyedia segala jenis upakara sekaligus metanding, tutus bangunan sebagai pelaksana teknis wujud dan dekorasi dari Bagia.

Selain itu pelibatan krama desa, yowana dan seniman yang tergabung dalam komunitas seniman Padangtegal juga dilakukan untuk membantu membuat alat kelengkapan Bagia sesuai dengan instruksi dari welaka dan tutus bangunan. Adapun yang ditunjuk sebagai welaka adalah Ida Bagus Putra Manuaba dari Griya Demayu. Proses pembuatan tatakan Bagia telah dimulai dari bulan Juli oleh tutus bangunan.

Kemudian pada tanggal 3 September 2025 dilaksanakan upacara Ngendag Bagia untuk mengawali metanding isian dari Bagia. Upacara ngendag dipimpin oleh Yajamana Karya yaitu Ida Pedanda Gede Jungutan Manuaba. Pada upacara Ngendag ini juga diikuti oleh Pengerajeg Karya Tjokorda Putra Nindia, SH., MH selaku Pengelingsir Puri Agung Peliatan, seluruh pemangku, prejuru dan panitia karya.

Kemudian peran serta krama desa turut memberikan jatu berupa sarana kwangen yang telah dikumpulkan sebelumnya kemudian diletakkan pada seluruh Bagia. Isian dari Bagia yang digunakan pada saat upacara Ngendag adalah: Tampak/Kulit Sayut, Kubal Mesurat Senjata Nawa Sangga, Beras Putih, Beras Mewarna Mewadah Ceper, Tetebus pengideran, Base Tampel, Jinah Bolong, Kelapa Mewarna, Buah Panca Pala, Suci Ageng, Suci Alit, Caraken, Rantasan Mewarna nganutin genah pengideran soang-soang, canang, pesucian dan pedagingan.

Pada hari Kamis tanggal 4 September 2025 menyusul rauh ngaturang jatu pada Bagia oleh pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud yaitu Drs. Tjokorda Gde Putra Sukawati selaku pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud didampingi pengelingsir Puri Kemuda Sari. Setelah rawuhnya pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud maka telah lengkaplah “yasa kerthi” seluruh elemen dari prawartaka karya hingga krama untuk menyusun kelengkapan Bagia Pulekerthi dengan utuh dari segi  bentuk dan makna.

Pada tanggal 26 September 2025 dilaksanakan upacara pemelaspas Bagia yang digelar di Pura Puseh Desa Adat Ubud. Pemelaspas Bagia dipuput oleh Ida Pedanda Jelantik Giri dari Griya Gunung Sari Peliatan serta dihadiri oleh Pengerajeg Karya dari Puri Agung Peliatan, Pengerajeg dari Puri Agung Ubud, Prejuru Desa Adat Padangtegal, Prejuru Desa Adat Ubud, krama Desa Adat Padangtegal dan krama Desa Adat Ubud.

Tujuan upacara pemelaspas ini ialah untuk menyucikan seluruh piranti dan elemen yang menyusun Bagia sehingga dapat digunakan sebagai sarana upakara-upacara. Selain itu setelah upacara pemelaspas maka Bagia akan bergelar Betara Bagia dengan beberapa jenis dan fungsi yaitu Penyegjeg/Penyejer, Bagia, Pulakerti, Bagia Pengiring Lanang, Bagia Pengiring Istri, Pulo Sakadaton, Sri Sadana, Srianti, Ibu/Wibuh Sugih, Paningkeb dan Pengenteg.

Setelah tiba di Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal setelah kapendak di Pura Puseh Desa Adat Ubud maka Ida Betara Bagia ditempatkan pada: 1) Penyegjeg/Penyejer di Ayun Widhi dan Tawur, 2) Bagia di Ayun Widhi, Paselang, Pangusaban, Sanggar Tawang Tawur dan Pedanan, 3) Pulekerti Ayun Widhi, Paselang, Pangusaban, Sanggar Tawang Tawur dan Pedanan 4) Bagia Pengiring Lanang di Ayun Widhi, 5) Bagia Pengiring Istri di Ayun Widhi, 6) Pulo Sakadaton di Peselang, 7) Sri Sadana di Peselang, 8) Srianti di Peselang, 9) Ibu Sugih di Peselang, 10) Peningkeb untuk pekelem Segara, Gunung, Danu dan Pengerayungan dan 11) Pengenteg di Ayun Widhi.

Pemendak Betara Bagia dilakukan dengan prosesi peed agung yang meriah namun penuh makna. Diawali dengan uperangga pengawin lelontek, bandrangan, payung-pagut dan kober Dewata Nawa Sangga yang dipundut oleh alit-alit Sebale Agung Desa Adat Padangtegal. Peed Agung didandani dengan hadirnya sutra-sutri, deha truna-truni dan busana rias agung.

Para krama istri dengan anggun bersanggul begitu padu memundut lantaran putih-kuning. Sarana upacara seperti pasepan, canang rebong, canang oyod, pesucian, teterag dan rantasan dipundut oleh yowana istri. Sedangkan yowana lanang turut berbaris rapi berjalan di depan Bungan Jaja dari Angga Griya. Krama desa lanang juga turut memundut 25 pasang tedung agung berwarna-warni yang akan digunakan nedungin Betara Bagia nantinya.

Adapun tetangguran yang menyertai peed agung yaitu Gong Beri dari Desa Laplapan, Gong Suling oleh Nangun Semita Liang dan Baleganjur pengiring oleh STT Santi Graha Banjar Ubud Kaja serta STT. Putra Sesana dari Banjar Ubud Kelod. Panjang prosesi mencapai 1 kilometer menandakan Sradha Bhakti krama Desa Adat Padangtegal untuk memendak Betara Bagia sangat tinggi serta khidmat.

Setelah selesai dipelaspas di Pura Puseh Desa Adat Ubud, maka selanjutnya Betara Bagia diiring kembali menuju Pura Desa dan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk dapat dilanjutkan pada rangkaian upacara selanjutnya. Dalam perjalanan kembali ke Pura Desa dan Puseh Desa Adat Padangtegal, Betara Bagia dipundut oleh Yowana dan Krama Desa Adat Padangtegal serta dibantu oleh krama Banjar Keliki Kawan, Kelusa, Payangan.

Adapun pembagian pemundut Betara Bagia adalah sebagai berikut

  • Betara Bagia Tetingkeb Pengerayungan dan Tetingkeb Segara dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Kelod.
  • Betara Bagia Tetingkeb Danu dan Tetingkeb Gunung dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Mekarsari
  • Betara Bagia Sri Yanti dan Sri Sedana Pengusaban dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Kaja
  • Betara Bagia Sri Yanti Peselang dipundut oleh ST. Terena Kencana
  • Betara Bagia Pulo Kedaton, Sri Sedana Peselang, Wibuh Sugih, Tawur Lanang-Istri dan Pedanan Istri dipundut oleh Krama Desa Keliki Kawan
  • Betara Bagia Pedanan Lanang, Pengusaban Lanang-Istri dan Peselang Istri dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Bale Agung
  • Betara Bagia Peselang Lanang, Ayun Lanang-Istri dan Pengiring Lanang dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Puseh
  • Betara Bagia Pengiring Lanang, Pengenteg Linggih, Penyejer Tawur dan Penyejer Jeroan dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Dalem Gede

Dalam perjalanan dari Pura Puseh Desa Adat Ubud tempat pemelaspas menuju Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal prosesi berjalan dengan sangat khidmat. Sepanjang jalan masyarakat umum dan turis mancanegara juga menyaksikan prosesi pemargi Betara Bagia dengan antusias. Setelah hampir 1 jam perjalanan, Betara Bagia tiba di Bencingah Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk kemudian dihaturkan upakara Pesegeh Agung yang dipuput oleh Jero Mangku Dalem Agung Padangtegal didampingi oleh seluruh prejuru adat.

Pada saat upacara pesegeh agung berlangsung seluruh pemundut Betara Bagia duduk bersila sehingga hanya Betara Bagia yang menjulang agung dengan penuh aura kesucian. Setelah selesasi dihaturkan pesegeh agung kemudian Betara Bagia keiring menuju utamaning dan madya mandala Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk kemudian ditempatkan pada posisi yang telah disesuaikan sesuai dengan kebutuhan upakara serta upacaranya.

Ekspresi Seni Pada Pengadeg Betara Bagia Desa Adat Padangtegal

Betara Bagia bagi serati dan tutus Desa Adat Padangtegal tidak hanya sebagai perwujudan piranti sakral namun juga bagian dari estetika (keindahan) persembahan. Logika sederhana mengenai masuknya unsur keindahan adalah untuk melengkapi unsur Tattwa, Etika dan Upacara. Dengan dilengkapi keindahan maka filosofi, etika dan ritual dapat terbungkus apik melalui sentuhan seni.

Seni yang juga diartikan sebagai sani yang berarti persembahan menjadi landasan kuat bagi serati dan tutus Desa Adat Padangtegal dalam mendandani kesucian dan kepatutan upakara dari Batara Bagia dalam bentuk sentuhan seni. Sentuhan seni yang dilakukan oleh serati dan tutus adalah menguatkan tata letak upakara dengan hiasan yang terkonsep dan terencana agar tidak menghilangkan esensi utama dari Betara Bagia. Hiasan yang dikonsep dengan membagi menjadi tiga struktur pengawak konvensional Bali yaitu ulu, awak, dasar. Bagian ulu meliputi murda Betara Bagia yang terbuat dari rangkaian uang kepeng berbentuk atap.

Kemudian bagian awak Betara bagia adalah tempat dari seluruh isi alam semesta, upakara serta simbol-simbol alam semesta berupa sesuratan dan tuwasan lontar. Lalu pada bagian dasar secara konvensional menggunakan jeding dan beti sebagai tempat penyangga jeding dan awak Betara Bagia.

Bagian ulu yang kemudian disebut dengan mIurda terdapat dua jenis dari segi bahan yaitu murda berbahan uang kepeng dan berbahan daun lontar. Murda yang berbahan uang kepeng kemudian dihias dengan pemugbug yang ditatah pada bahan kulit sapi kemudian dilapisi dengan prada emas 22 karat.

Ujung atasnya berhias batu amenetis putih bening dengan dasar ukiran tembaga. Tepi bawah murda dihiasi utah-utah dengan bentuk rangkaian mote tetes emas sehingga menambah kesan luwes-manis murda yang kokoh. Kemudian murda yang berbahan daun lontar dihiasi dengan bunga plendo putih yang menambah kesan klasik dari tuwasan lontar membentuk pola cecandian.

Awak Betara Bagia menjadi bagian yang paling padat secara proporsi, karena pada bagian itu seluruh elemen inti disusun. Pada bagian awak memiliki bidang paling luas untuk kemudian diisi dengan sarana upakara berupa bebantenan, isen gumi dan hiasan. Pada bagian Awak Betara Bagia dalam penyusunannya secara teknis dibagi atas tiga yaitu bagian isi upakara (dalam), bagian tengah berupa orti-orti, tuwasan lontar seperti rambut dan rajutan benang berwarna-warni sesuai arah mata angin dengan visual seperti matahari dan bulan.

Bagian terluar berupa hiasan dari pemasangan leluur, kober, umbul-umbul, tedung dan lelamak. Pada bagian terluar Betara Bagia di Desa Adat Padangtegal kali ini dihiasi dengan prerai lanang-istri yang disematkan sesuai dengan jenis Betara Bagia. Penyematan prerai lanang-istri sebagai penanda identitas jenis Betara Bagia merupakan salah satu terobosan terbaru yang dilakukan oleh serati dan tutus. Terobosan ini tentu dengan pertimbangan kepatutan filosofis dengan sentuhan rasa indah-estetika-seni yang ingin diwujudkan oleh serati dan tutus Desa Adat Padangtegal.

Tatakan Bagia untuk Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal digarap dengan bahan dan bentuk spesial. Spesialnya adalah tatakannya berkomposisi pepalihan dengan megunung gelut yang dihiasi dengan karang tapel bentulu dan karang gajah pada setiap sudut pepalihan dan gunung gelut.

Disamping itu pada bagian depan tatakan Bagia dihiasi dengan ukiran Bedawang Nala yang diapit dengan Naga Basuki dan Naga Anantabhoga. Tatakan bagia dengan pepalihan megunung gelut mebedawang nala serta hiasan karang bentulu dan karang gajah adalah hal yang baru. Semua ukiran ini diprada emas dengan prada air agar memberikan ruang pemuliaan pada bagian murda yang dilapisi dengan prada emas 22 karat. Lalu yang tidak kalah spesial pada bagian tatakan adalah wastra untuk melapisi jeding.

Wastra Betara Bagia disusun dari wastra, kampuh, petet, awir dan lamak. Wastra Betara Bagia menggunakan kain jenis Cepuk tenunan asli Desa Tanglad, Nusa Penida. Kampuh dan petet Betara Bagia dari jenis songket. Awir menggunakan kain pepledoan dan lamak memilih kain Gringsing dari Desa Tenganan, Karangasem. Badan gunung gelut dan seluruh pekeled dibungkus dengan kain beludru dan songket Palembang yang diberikan aksen piku-piku emas.

Hiasan pada bagian tatakan Betara Bagia di Desa Adat Padangtegal serangkaian Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh menjadi sentuhan seni yang paling banyak digarap. Mengapa pada bagian tatakan mendapat fokus garapan seni yang paling banyak? Karena pada bagian tatakan hampir tidak ada bagian upakara sehingga memberikan ruang bebas dalam menghiasnya sesuai dengan imajinasi terbaik oleh para serati dan tutus. Dapat dikatakan bahwa tatakan Betara Bagia Desa Adat Padangtegal saat ini menjadi yang berbeda dengan pengadeg (wujud) Betara Bagia di desa lain pada saat menyelenggarkan upacara tingkatan utamaning utama.

Betara Bagia oleh serati dan tutus Desa Adat Padangtegal pada serangkaian Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh adalah implementasi Tri Kerangkan Agama Hindu yaitu Tattwa, Etika, Upacara ditambah Estetika. Estetika menjadi nilai tambah untuk melengkapi Tri Kerangkan Agama Hindu adalah potensi dari Desa Adat Padangtegal. Desa Adat Padangtegal terkenal dengan potensi seni perundagiannya disamping disangga oleh seni lukis kemudian saat ini sedang tumbuh seniman tari dan seniman tabuh.

Serati dan tutus Desa Adat Padangtegal sebagian besar merupakan seniman perundagian dan seniman lukis sehingga ekspresi seni yang telah mendarah daging menyebabkan sentuhan seni muncul untuk mendandani sesuatu yang bersifat sakral seperti halnya Pengadeg Betara Bagia dengan sentuhan seni. [T]

Penulis : Wayan Diana Putra
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menggurat Ratu Kompyang, Memaknai Ida Ratu Lingsir: Catatan Pertalian Spiritual Melalui Media Pelawatan Barong Desa Adat Padangtegal dengan Desa Adat Kebon
Kesanga Menuju Kedasa dan dari Campuhan, Taman, Menuju Batur | Formulasi Proses Penciptaan Rejang Baris Jong Pari Dengan Prinsip Gadamerian
Pawodakan Ida Ratu Lingsir di Padangtegal: Tetap Gunakan Warna Bali dari Tulang, Tanduk dan Batu-batuan
Tags: Desa Adat PadangtegalHindu BaliUbudupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [36]: Pencuri Terjebak di Gudang Kampus

Next Post

Ketika Budaya Bertabrakan: Reaksi Psikologis dan Sosial terhadap Imigran India di Negara Maju

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Ketika Budaya Bertabrakan: Reaksi Psikologis dan Sosial terhadap Imigran India di Negara Maju

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co