2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
October 16, 2025
in Khas
Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Prosesi Nangun Betara Bagia

SERANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal, Ubud, Gianyar, Bali, panitia dan krama desa ngadegang piranti upakara penting yang disebut dengan Bagia Pula Kerti.

Bagia Pula Kerti adalah salah satu bentuk rangkaian bebantenan yang berisikan isi alam semesta. Bagia Pula Kerti dihadirkan hanya pada tingkatan upacara dengan tingkatan utama atau utamaning utama.

Bagia Pula Kerti yang kemudian disebut Betara Bagia (setelah dipelaspas) memiliki peran yang sangat penting dalam upacara dengan tingkatan upacara utama atau utamaning utama dari segi makna dan proses pembuatannya. Makna dari Bagia Pula Kerti sesuai dengan Lontar Siwa Sesana sebagai lambing Dewa Siwa.

Selain itu jika dilihat elemen-elemen penyusunnya Bagia Pula Kerti adalah miniatur dari Bhuana Agung (alam semesta). Mengapa dimaknai sebagai miniatur Bhuana Agung? Karena isi dari Bagia Pule Kerti mencakup isi alam semesta seperti segala jenis beras, segala jenis rempah, segala jenis kelapa, beragam jenis pisang, segala jenis buah-buahan, beragam jenis tumbuh-tumbuhan, segala jenis sayur mayur, ragam kacang-kacangan, seluruh jenis bebungaan, tembaga, emas, perak, besi, hingga batu mulia.

Kemudian pada akhirnya Bagia dengan seluruh isinya akan dipendam sebagai simbol pengembalian ke alam semesta bertujuan dianugrahi kebahagian sejati bagi seluruh isi alam semesta. Menghasilkan kebahagian sejati untuk seluruh isi alam semesta merupakan tujuan utama dari penyelenggaraan upacara Yadnya dengan tingkatan utamaning utama seperti Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal.

Mengingat begitu pentingnya peran dari Bagia maka Desa Adat Padangtegal atas arahan serta restu dari Yajamana karya mempersiapkan proses perwujudan, mendak, melaspas hingga mendem Bagia dengan cermat dan tepat sesuai kepatutan.

Dalam pemikiran yang lebih baru perwujudan Bagia Pule Kerti juga sebagai upaya melakukan sensus terhadap keberadaan ragam flora yang digunakan sebagai isi bebantenannya. Sensus terhadap ragam flora secara otomatis dilakukan pada saat pengadaan untuk pemenuhan kebutuhan isi bebantenan.

Maksudnya adalah jika ragam flora yang dibutuhkan untuk isi bebantenan dapat diperoleh maka dipastikan keberadaan flora tersebut masih lestari tumbuhnya di alam. Sebaliknya jika dalam proses pencariannya ragam flora tersebut susah ditemukan atau bahkan tidak dapat ditemukan maka flora tersebut telah langka atau bahkan sudah punah.

Jika dalam kondisi langka maka harus dilakukan upaya untuk melestarikan keberadaan flora tersebut agar tidak sampai punah. Memang sejatinya seluruh ritual dan sarana upacara Hindu di Bali mengandung implementasi langsung yang menandakan situasi nyata mengenai ekosistem alam.

Proses perwujudan dari Bagia telah dipersiapkan dengan matang mulai memohon kesediaan sang meraga welaka (dari golongan Brahmana yang belum Medwijati) sebagai pemandu nanding Bagia, menunjuk serati sebagai pelaksana dan penyedia segala jenis upakara sekaligus metanding, tutus bangunan sebagai pelaksana teknis wujud dan dekorasi dari Bagia.

Selain itu pelibatan krama desa, yowana dan seniman yang tergabung dalam komunitas seniman Padangtegal juga dilakukan untuk membantu membuat alat kelengkapan Bagia sesuai dengan instruksi dari welaka dan tutus bangunan. Adapun yang ditunjuk sebagai welaka adalah Ida Bagus Putra Manuaba dari Griya Demayu. Proses pembuatan tatakan Bagia telah dimulai dari bulan Juli oleh tutus bangunan.

Kemudian pada tanggal 3 September 2025 dilaksanakan upacara Ngendag Bagia untuk mengawali metanding isian dari Bagia. Upacara ngendag dipimpin oleh Yajamana Karya yaitu Ida Pedanda Gede Jungutan Manuaba. Pada upacara Ngendag ini juga diikuti oleh Pengerajeg Karya Tjokorda Putra Nindia, SH., MH selaku Pengelingsir Puri Agung Peliatan, seluruh pemangku, prejuru dan panitia karya.

Kemudian peran serta krama desa turut memberikan jatu berupa sarana kwangen yang telah dikumpulkan sebelumnya kemudian diletakkan pada seluruh Bagia. Isian dari Bagia yang digunakan pada saat upacara Ngendag adalah: Tampak/Kulit Sayut, Kubal Mesurat Senjata Nawa Sangga, Beras Putih, Beras Mewarna Mewadah Ceper, Tetebus pengideran, Base Tampel, Jinah Bolong, Kelapa Mewarna, Buah Panca Pala, Suci Ageng, Suci Alit, Caraken, Rantasan Mewarna nganutin genah pengideran soang-soang, canang, pesucian dan pedagingan.

Pada hari Kamis tanggal 4 September 2025 menyusul rauh ngaturang jatu pada Bagia oleh pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud yaitu Drs. Tjokorda Gde Putra Sukawati selaku pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud didampingi pengelingsir Puri Kemuda Sari. Setelah rawuhnya pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud maka telah lengkaplah “yasa kerthi” seluruh elemen dari prawartaka karya hingga krama untuk menyusun kelengkapan Bagia Pulekerthi dengan utuh dari segi  bentuk dan makna.

Pada tanggal 26 September 2025 dilaksanakan upacara pemelaspas Bagia yang digelar di Pura Puseh Desa Adat Ubud. Pemelaspas Bagia dipuput oleh Ida Pedanda Jelantik Giri dari Griya Gunung Sari Peliatan serta dihadiri oleh Pengerajeg Karya dari Puri Agung Peliatan, Pengerajeg dari Puri Agung Ubud, Prejuru Desa Adat Padangtegal, Prejuru Desa Adat Ubud, krama Desa Adat Padangtegal dan krama Desa Adat Ubud.

Tujuan upacara pemelaspas ini ialah untuk menyucikan seluruh piranti dan elemen yang menyusun Bagia sehingga dapat digunakan sebagai sarana upakara-upacara. Selain itu setelah upacara pemelaspas maka Bagia akan bergelar Betara Bagia dengan beberapa jenis dan fungsi yaitu Penyegjeg/Penyejer, Bagia, Pulakerti, Bagia Pengiring Lanang, Bagia Pengiring Istri, Pulo Sakadaton, Sri Sadana, Srianti, Ibu/Wibuh Sugih, Paningkeb dan Pengenteg.

Setelah tiba di Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal setelah kapendak di Pura Puseh Desa Adat Ubud maka Ida Betara Bagia ditempatkan pada: 1) Penyegjeg/Penyejer di Ayun Widhi dan Tawur, 2) Bagia di Ayun Widhi, Paselang, Pangusaban, Sanggar Tawang Tawur dan Pedanan, 3) Pulekerti Ayun Widhi, Paselang, Pangusaban, Sanggar Tawang Tawur dan Pedanan 4) Bagia Pengiring Lanang di Ayun Widhi, 5) Bagia Pengiring Istri di Ayun Widhi, 6) Pulo Sakadaton di Peselang, 7) Sri Sadana di Peselang, 8) Srianti di Peselang, 9) Ibu Sugih di Peselang, 10) Peningkeb untuk pekelem Segara, Gunung, Danu dan Pengerayungan dan 11) Pengenteg di Ayun Widhi.

Pemendak Betara Bagia dilakukan dengan prosesi peed agung yang meriah namun penuh makna. Diawali dengan uperangga pengawin lelontek, bandrangan, payung-pagut dan kober Dewata Nawa Sangga yang dipundut oleh alit-alit Sebale Agung Desa Adat Padangtegal. Peed Agung didandani dengan hadirnya sutra-sutri, deha truna-truni dan busana rias agung.

Para krama istri dengan anggun bersanggul begitu padu memundut lantaran putih-kuning. Sarana upacara seperti pasepan, canang rebong, canang oyod, pesucian, teterag dan rantasan dipundut oleh yowana istri. Sedangkan yowana lanang turut berbaris rapi berjalan di depan Bungan Jaja dari Angga Griya. Krama desa lanang juga turut memundut 25 pasang tedung agung berwarna-warni yang akan digunakan nedungin Betara Bagia nantinya.

Adapun tetangguran yang menyertai peed agung yaitu Gong Beri dari Desa Laplapan, Gong Suling oleh Nangun Semita Liang dan Baleganjur pengiring oleh STT Santi Graha Banjar Ubud Kaja serta STT. Putra Sesana dari Banjar Ubud Kelod. Panjang prosesi mencapai 1 kilometer menandakan Sradha Bhakti krama Desa Adat Padangtegal untuk memendak Betara Bagia sangat tinggi serta khidmat.

Setelah selesai dipelaspas di Pura Puseh Desa Adat Ubud, maka selanjutnya Betara Bagia diiring kembali menuju Pura Desa dan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk dapat dilanjutkan pada rangkaian upacara selanjutnya. Dalam perjalanan kembali ke Pura Desa dan Puseh Desa Adat Padangtegal, Betara Bagia dipundut oleh Yowana dan Krama Desa Adat Padangtegal serta dibantu oleh krama Banjar Keliki Kawan, Kelusa, Payangan.

Adapun pembagian pemundut Betara Bagia adalah sebagai berikut

  • Betara Bagia Tetingkeb Pengerayungan dan Tetingkeb Segara dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Kelod.
  • Betara Bagia Tetingkeb Danu dan Tetingkeb Gunung dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Mekarsari
  • Betara Bagia Sri Yanti dan Sri Sedana Pengusaban dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Kaja
  • Betara Bagia Sri Yanti Peselang dipundut oleh ST. Terena Kencana
  • Betara Bagia Pulo Kedaton, Sri Sedana Peselang, Wibuh Sugih, Tawur Lanang-Istri dan Pedanan Istri dipundut oleh Krama Desa Keliki Kawan
  • Betara Bagia Pedanan Lanang, Pengusaban Lanang-Istri dan Peselang Istri dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Bale Agung
  • Betara Bagia Peselang Lanang, Ayun Lanang-Istri dan Pengiring Lanang dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Puseh
  • Betara Bagia Pengiring Lanang, Pengenteg Linggih, Penyejer Tawur dan Penyejer Jeroan dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Dalem Gede

Dalam perjalanan dari Pura Puseh Desa Adat Ubud tempat pemelaspas menuju Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal prosesi berjalan dengan sangat khidmat. Sepanjang jalan masyarakat umum dan turis mancanegara juga menyaksikan prosesi pemargi Betara Bagia dengan antusias. Setelah hampir 1 jam perjalanan, Betara Bagia tiba di Bencingah Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk kemudian dihaturkan upakara Pesegeh Agung yang dipuput oleh Jero Mangku Dalem Agung Padangtegal didampingi oleh seluruh prejuru adat.

Pada saat upacara pesegeh agung berlangsung seluruh pemundut Betara Bagia duduk bersila sehingga hanya Betara Bagia yang menjulang agung dengan penuh aura kesucian. Setelah selesasi dihaturkan pesegeh agung kemudian Betara Bagia keiring menuju utamaning dan madya mandala Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk kemudian ditempatkan pada posisi yang telah disesuaikan sesuai dengan kebutuhan upakara serta upacaranya.

Ekspresi Seni Pada Pengadeg Betara Bagia Desa Adat Padangtegal

Betara Bagia bagi serati dan tutus Desa Adat Padangtegal tidak hanya sebagai perwujudan piranti sakral namun juga bagian dari estetika (keindahan) persembahan. Logika sederhana mengenai masuknya unsur keindahan adalah untuk melengkapi unsur Tattwa, Etika dan Upacara. Dengan dilengkapi keindahan maka filosofi, etika dan ritual dapat terbungkus apik melalui sentuhan seni.

Seni yang juga diartikan sebagai sani yang berarti persembahan menjadi landasan kuat bagi serati dan tutus Desa Adat Padangtegal dalam mendandani kesucian dan kepatutan upakara dari Batara Bagia dalam bentuk sentuhan seni. Sentuhan seni yang dilakukan oleh serati dan tutus adalah menguatkan tata letak upakara dengan hiasan yang terkonsep dan terencana agar tidak menghilangkan esensi utama dari Betara Bagia. Hiasan yang dikonsep dengan membagi menjadi tiga struktur pengawak konvensional Bali yaitu ulu, awak, dasar. Bagian ulu meliputi murda Betara Bagia yang terbuat dari rangkaian uang kepeng berbentuk atap.

Kemudian bagian awak Betara bagia adalah tempat dari seluruh isi alam semesta, upakara serta simbol-simbol alam semesta berupa sesuratan dan tuwasan lontar. Lalu pada bagian dasar secara konvensional menggunakan jeding dan beti sebagai tempat penyangga jeding dan awak Betara Bagia.

Bagian ulu yang kemudian disebut dengan mIurda terdapat dua jenis dari segi bahan yaitu murda berbahan uang kepeng dan berbahan daun lontar. Murda yang berbahan uang kepeng kemudian dihias dengan pemugbug yang ditatah pada bahan kulit sapi kemudian dilapisi dengan prada emas 22 karat.

Ujung atasnya berhias batu amenetis putih bening dengan dasar ukiran tembaga. Tepi bawah murda dihiasi utah-utah dengan bentuk rangkaian mote tetes emas sehingga menambah kesan luwes-manis murda yang kokoh. Kemudian murda yang berbahan daun lontar dihiasi dengan bunga plendo putih yang menambah kesan klasik dari tuwasan lontar membentuk pola cecandian.

Awak Betara Bagia menjadi bagian yang paling padat secara proporsi, karena pada bagian itu seluruh elemen inti disusun. Pada bagian awak memiliki bidang paling luas untuk kemudian diisi dengan sarana upakara berupa bebantenan, isen gumi dan hiasan. Pada bagian Awak Betara Bagia dalam penyusunannya secara teknis dibagi atas tiga yaitu bagian isi upakara (dalam), bagian tengah berupa orti-orti, tuwasan lontar seperti rambut dan rajutan benang berwarna-warni sesuai arah mata angin dengan visual seperti matahari dan bulan.

Bagian terluar berupa hiasan dari pemasangan leluur, kober, umbul-umbul, tedung dan lelamak. Pada bagian terluar Betara Bagia di Desa Adat Padangtegal kali ini dihiasi dengan prerai lanang-istri yang disematkan sesuai dengan jenis Betara Bagia. Penyematan prerai lanang-istri sebagai penanda identitas jenis Betara Bagia merupakan salah satu terobosan terbaru yang dilakukan oleh serati dan tutus. Terobosan ini tentu dengan pertimbangan kepatutan filosofis dengan sentuhan rasa indah-estetika-seni yang ingin diwujudkan oleh serati dan tutus Desa Adat Padangtegal.

Tatakan Bagia untuk Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal digarap dengan bahan dan bentuk spesial. Spesialnya adalah tatakannya berkomposisi pepalihan dengan megunung gelut yang dihiasi dengan karang tapel bentulu dan karang gajah pada setiap sudut pepalihan dan gunung gelut.

Disamping itu pada bagian depan tatakan Bagia dihiasi dengan ukiran Bedawang Nala yang diapit dengan Naga Basuki dan Naga Anantabhoga. Tatakan bagia dengan pepalihan megunung gelut mebedawang nala serta hiasan karang bentulu dan karang gajah adalah hal yang baru. Semua ukiran ini diprada emas dengan prada air agar memberikan ruang pemuliaan pada bagian murda yang dilapisi dengan prada emas 22 karat. Lalu yang tidak kalah spesial pada bagian tatakan adalah wastra untuk melapisi jeding.

Wastra Betara Bagia disusun dari wastra, kampuh, petet, awir dan lamak. Wastra Betara Bagia menggunakan kain jenis Cepuk tenunan asli Desa Tanglad, Nusa Penida. Kampuh dan petet Betara Bagia dari jenis songket. Awir menggunakan kain pepledoan dan lamak memilih kain Gringsing dari Desa Tenganan, Karangasem. Badan gunung gelut dan seluruh pekeled dibungkus dengan kain beludru dan songket Palembang yang diberikan aksen piku-piku emas.

Hiasan pada bagian tatakan Betara Bagia di Desa Adat Padangtegal serangkaian Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh menjadi sentuhan seni yang paling banyak digarap. Mengapa pada bagian tatakan mendapat fokus garapan seni yang paling banyak? Karena pada bagian tatakan hampir tidak ada bagian upakara sehingga memberikan ruang bebas dalam menghiasnya sesuai dengan imajinasi terbaik oleh para serati dan tutus. Dapat dikatakan bahwa tatakan Betara Bagia Desa Adat Padangtegal saat ini menjadi yang berbeda dengan pengadeg (wujud) Betara Bagia di desa lain pada saat menyelenggarkan upacara tingkatan utamaning utama.

Betara Bagia oleh serati dan tutus Desa Adat Padangtegal pada serangkaian Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh adalah implementasi Tri Kerangkan Agama Hindu yaitu Tattwa, Etika, Upacara ditambah Estetika. Estetika menjadi nilai tambah untuk melengkapi Tri Kerangkan Agama Hindu adalah potensi dari Desa Adat Padangtegal. Desa Adat Padangtegal terkenal dengan potensi seni perundagiannya disamping disangga oleh seni lukis kemudian saat ini sedang tumbuh seniman tari dan seniman tabuh.

Serati dan tutus Desa Adat Padangtegal sebagian besar merupakan seniman perundagian dan seniman lukis sehingga ekspresi seni yang telah mendarah daging menyebabkan sentuhan seni muncul untuk mendandani sesuatu yang bersifat sakral seperti halnya Pengadeg Betara Bagia dengan sentuhan seni. [T]

Penulis : Wayan Diana Putra
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menggurat Ratu Kompyang, Memaknai Ida Ratu Lingsir: Catatan Pertalian Spiritual Melalui Media Pelawatan Barong Desa Adat Padangtegal dengan Desa Adat Kebon
Kesanga Menuju Kedasa dan dari Campuhan, Taman, Menuju Batur | Formulasi Proses Penciptaan Rejang Baris Jong Pari Dengan Prinsip Gadamerian
Pawodakan Ida Ratu Lingsir di Padangtegal: Tetap Gunakan Warna Bali dari Tulang, Tanduk dan Batu-batuan
Tags: Desa Adat PadangtegalHindu BaliUbudupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [36]: Pencuri Terjebak di Gudang Kampus

Next Post

Ketika Budaya Bertabrakan: Reaksi Psikologis dan Sosial terhadap Imigran India di Negara Maju

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Ketika Budaya Bertabrakan: Reaksi Psikologis dan Sosial terhadap Imigran India di Negara Maju

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co