23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
October 16, 2025
in Khas
Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Prosesi Nangun Betara Bagia

SERANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal, Ubud, Gianyar, Bali, panitia dan krama desa ngadegang piranti upakara penting yang disebut dengan Bagia Pula Kerti.

Bagia Pula Kerti adalah salah satu bentuk rangkaian bebantenan yang berisikan isi alam semesta. Bagia Pula Kerti dihadirkan hanya pada tingkatan upacara dengan tingkatan utama atau utamaning utama.

Bagia Pula Kerti yang kemudian disebut Betara Bagia (setelah dipelaspas) memiliki peran yang sangat penting dalam upacara dengan tingkatan upacara utama atau utamaning utama dari segi makna dan proses pembuatannya. Makna dari Bagia Pula Kerti sesuai dengan Lontar Siwa Sesana sebagai lambing Dewa Siwa.

Selain itu jika dilihat elemen-elemen penyusunnya Bagia Pula Kerti adalah miniatur dari Bhuana Agung (alam semesta). Mengapa dimaknai sebagai miniatur Bhuana Agung? Karena isi dari Bagia Pule Kerti mencakup isi alam semesta seperti segala jenis beras, segala jenis rempah, segala jenis kelapa, beragam jenis pisang, segala jenis buah-buahan, beragam jenis tumbuh-tumbuhan, segala jenis sayur mayur, ragam kacang-kacangan, seluruh jenis bebungaan, tembaga, emas, perak, besi, hingga batu mulia.

Kemudian pada akhirnya Bagia dengan seluruh isinya akan dipendam sebagai simbol pengembalian ke alam semesta bertujuan dianugrahi kebahagian sejati bagi seluruh isi alam semesta. Menghasilkan kebahagian sejati untuk seluruh isi alam semesta merupakan tujuan utama dari penyelenggaraan upacara Yadnya dengan tingkatan utamaning utama seperti Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal.

Mengingat begitu pentingnya peran dari Bagia maka Desa Adat Padangtegal atas arahan serta restu dari Yajamana karya mempersiapkan proses perwujudan, mendak, melaspas hingga mendem Bagia dengan cermat dan tepat sesuai kepatutan.

Dalam pemikiran yang lebih baru perwujudan Bagia Pule Kerti juga sebagai upaya melakukan sensus terhadap keberadaan ragam flora yang digunakan sebagai isi bebantenannya. Sensus terhadap ragam flora secara otomatis dilakukan pada saat pengadaan untuk pemenuhan kebutuhan isi bebantenan.

Maksudnya adalah jika ragam flora yang dibutuhkan untuk isi bebantenan dapat diperoleh maka dipastikan keberadaan flora tersebut masih lestari tumbuhnya di alam. Sebaliknya jika dalam proses pencariannya ragam flora tersebut susah ditemukan atau bahkan tidak dapat ditemukan maka flora tersebut telah langka atau bahkan sudah punah.

Jika dalam kondisi langka maka harus dilakukan upaya untuk melestarikan keberadaan flora tersebut agar tidak sampai punah. Memang sejatinya seluruh ritual dan sarana upacara Hindu di Bali mengandung implementasi langsung yang menandakan situasi nyata mengenai ekosistem alam.

Proses perwujudan dari Bagia telah dipersiapkan dengan matang mulai memohon kesediaan sang meraga welaka (dari golongan Brahmana yang belum Medwijati) sebagai pemandu nanding Bagia, menunjuk serati sebagai pelaksana dan penyedia segala jenis upakara sekaligus metanding, tutus bangunan sebagai pelaksana teknis wujud dan dekorasi dari Bagia.

Selain itu pelibatan krama desa, yowana dan seniman yang tergabung dalam komunitas seniman Padangtegal juga dilakukan untuk membantu membuat alat kelengkapan Bagia sesuai dengan instruksi dari welaka dan tutus bangunan. Adapun yang ditunjuk sebagai welaka adalah Ida Bagus Putra Manuaba dari Griya Demayu. Proses pembuatan tatakan Bagia telah dimulai dari bulan Juli oleh tutus bangunan.

Kemudian pada tanggal 3 September 2025 dilaksanakan upacara Ngendag Bagia untuk mengawali metanding isian dari Bagia. Upacara ngendag dipimpin oleh Yajamana Karya yaitu Ida Pedanda Gede Jungutan Manuaba. Pada upacara Ngendag ini juga diikuti oleh Pengerajeg Karya Tjokorda Putra Nindia, SH., MH selaku Pengelingsir Puri Agung Peliatan, seluruh pemangku, prejuru dan panitia karya.

Kemudian peran serta krama desa turut memberikan jatu berupa sarana kwangen yang telah dikumpulkan sebelumnya kemudian diletakkan pada seluruh Bagia. Isian dari Bagia yang digunakan pada saat upacara Ngendag adalah: Tampak/Kulit Sayut, Kubal Mesurat Senjata Nawa Sangga, Beras Putih, Beras Mewarna Mewadah Ceper, Tetebus pengideran, Base Tampel, Jinah Bolong, Kelapa Mewarna, Buah Panca Pala, Suci Ageng, Suci Alit, Caraken, Rantasan Mewarna nganutin genah pengideran soang-soang, canang, pesucian dan pedagingan.

Pada hari Kamis tanggal 4 September 2025 menyusul rauh ngaturang jatu pada Bagia oleh pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud yaitu Drs. Tjokorda Gde Putra Sukawati selaku pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud didampingi pengelingsir Puri Kemuda Sari. Setelah rawuhnya pengerajeg karya dari Puri Agung Ubud maka telah lengkaplah “yasa kerthi” seluruh elemen dari prawartaka karya hingga krama untuk menyusun kelengkapan Bagia Pulekerthi dengan utuh dari segi  bentuk dan makna.

Pada tanggal 26 September 2025 dilaksanakan upacara pemelaspas Bagia yang digelar di Pura Puseh Desa Adat Ubud. Pemelaspas Bagia dipuput oleh Ida Pedanda Jelantik Giri dari Griya Gunung Sari Peliatan serta dihadiri oleh Pengerajeg Karya dari Puri Agung Peliatan, Pengerajeg dari Puri Agung Ubud, Prejuru Desa Adat Padangtegal, Prejuru Desa Adat Ubud, krama Desa Adat Padangtegal dan krama Desa Adat Ubud.

Tujuan upacara pemelaspas ini ialah untuk menyucikan seluruh piranti dan elemen yang menyusun Bagia sehingga dapat digunakan sebagai sarana upakara-upacara. Selain itu setelah upacara pemelaspas maka Bagia akan bergelar Betara Bagia dengan beberapa jenis dan fungsi yaitu Penyegjeg/Penyejer, Bagia, Pulakerti, Bagia Pengiring Lanang, Bagia Pengiring Istri, Pulo Sakadaton, Sri Sadana, Srianti, Ibu/Wibuh Sugih, Paningkeb dan Pengenteg.

Setelah tiba di Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal setelah kapendak di Pura Puseh Desa Adat Ubud maka Ida Betara Bagia ditempatkan pada: 1) Penyegjeg/Penyejer di Ayun Widhi dan Tawur, 2) Bagia di Ayun Widhi, Paselang, Pangusaban, Sanggar Tawang Tawur dan Pedanan, 3) Pulekerti Ayun Widhi, Paselang, Pangusaban, Sanggar Tawang Tawur dan Pedanan 4) Bagia Pengiring Lanang di Ayun Widhi, 5) Bagia Pengiring Istri di Ayun Widhi, 6) Pulo Sakadaton di Peselang, 7) Sri Sadana di Peselang, 8) Srianti di Peselang, 9) Ibu Sugih di Peselang, 10) Peningkeb untuk pekelem Segara, Gunung, Danu dan Pengerayungan dan 11) Pengenteg di Ayun Widhi.

Pemendak Betara Bagia dilakukan dengan prosesi peed agung yang meriah namun penuh makna. Diawali dengan uperangga pengawin lelontek, bandrangan, payung-pagut dan kober Dewata Nawa Sangga yang dipundut oleh alit-alit Sebale Agung Desa Adat Padangtegal. Peed Agung didandani dengan hadirnya sutra-sutri, deha truna-truni dan busana rias agung.

Para krama istri dengan anggun bersanggul begitu padu memundut lantaran putih-kuning. Sarana upacara seperti pasepan, canang rebong, canang oyod, pesucian, teterag dan rantasan dipundut oleh yowana istri. Sedangkan yowana lanang turut berbaris rapi berjalan di depan Bungan Jaja dari Angga Griya. Krama desa lanang juga turut memundut 25 pasang tedung agung berwarna-warni yang akan digunakan nedungin Betara Bagia nantinya.

Adapun tetangguran yang menyertai peed agung yaitu Gong Beri dari Desa Laplapan, Gong Suling oleh Nangun Semita Liang dan Baleganjur pengiring oleh STT Santi Graha Banjar Ubud Kaja serta STT. Putra Sesana dari Banjar Ubud Kelod. Panjang prosesi mencapai 1 kilometer menandakan Sradha Bhakti krama Desa Adat Padangtegal untuk memendak Betara Bagia sangat tinggi serta khidmat.

Setelah selesai dipelaspas di Pura Puseh Desa Adat Ubud, maka selanjutnya Betara Bagia diiring kembali menuju Pura Desa dan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk dapat dilanjutkan pada rangkaian upacara selanjutnya. Dalam perjalanan kembali ke Pura Desa dan Puseh Desa Adat Padangtegal, Betara Bagia dipundut oleh Yowana dan Krama Desa Adat Padangtegal serta dibantu oleh krama Banjar Keliki Kawan, Kelusa, Payangan.

Adapun pembagian pemundut Betara Bagia adalah sebagai berikut

  • Betara Bagia Tetingkeb Pengerayungan dan Tetingkeb Segara dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Kelod.
  • Betara Bagia Tetingkeb Danu dan Tetingkeb Gunung dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Mekarsari
  • Betara Bagia Sri Yanti dan Sri Sedana Pengusaban dipundut oleh ST. Suka Duka Padangtegal Kaja
  • Betara Bagia Sri Yanti Peselang dipundut oleh ST. Terena Kencana
  • Betara Bagia Pulo Kedaton, Sri Sedana Peselang, Wibuh Sugih, Tawur Lanang-Istri dan Pedanan Istri dipundut oleh Krama Desa Keliki Kawan
  • Betara Bagia Pedanan Lanang, Pengusaban Lanang-Istri dan Peselang Istri dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Bale Agung
  • Betara Bagia Peselang Lanang, Ayun Lanang-Istri dan Pengiring Lanang dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Puseh
  • Betara Bagia Pengiring Lanang, Pengenteg Linggih, Penyejer Tawur dan Penyejer Jeroan dipundut oleh Krama Desa Adat Padangtegal tempekan Dalem Gede

Dalam perjalanan dari Pura Puseh Desa Adat Ubud tempat pemelaspas menuju Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal prosesi berjalan dengan sangat khidmat. Sepanjang jalan masyarakat umum dan turis mancanegara juga menyaksikan prosesi pemargi Betara Bagia dengan antusias. Setelah hampir 1 jam perjalanan, Betara Bagia tiba di Bencingah Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk kemudian dihaturkan upakara Pesegeh Agung yang dipuput oleh Jero Mangku Dalem Agung Padangtegal didampingi oleh seluruh prejuru adat.

Pada saat upacara pesegeh agung berlangsung seluruh pemundut Betara Bagia duduk bersila sehingga hanya Betara Bagia yang menjulang agung dengan penuh aura kesucian. Setelah selesasi dihaturkan pesegeh agung kemudian Betara Bagia keiring menuju utamaning dan madya mandala Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal untuk kemudian ditempatkan pada posisi yang telah disesuaikan sesuai dengan kebutuhan upakara serta upacaranya.

Ekspresi Seni Pada Pengadeg Betara Bagia Desa Adat Padangtegal

Betara Bagia bagi serati dan tutus Desa Adat Padangtegal tidak hanya sebagai perwujudan piranti sakral namun juga bagian dari estetika (keindahan) persembahan. Logika sederhana mengenai masuknya unsur keindahan adalah untuk melengkapi unsur Tattwa, Etika dan Upacara. Dengan dilengkapi keindahan maka filosofi, etika dan ritual dapat terbungkus apik melalui sentuhan seni.

Seni yang juga diartikan sebagai sani yang berarti persembahan menjadi landasan kuat bagi serati dan tutus Desa Adat Padangtegal dalam mendandani kesucian dan kepatutan upakara dari Batara Bagia dalam bentuk sentuhan seni. Sentuhan seni yang dilakukan oleh serati dan tutus adalah menguatkan tata letak upakara dengan hiasan yang terkonsep dan terencana agar tidak menghilangkan esensi utama dari Betara Bagia. Hiasan yang dikonsep dengan membagi menjadi tiga struktur pengawak konvensional Bali yaitu ulu, awak, dasar. Bagian ulu meliputi murda Betara Bagia yang terbuat dari rangkaian uang kepeng berbentuk atap.

Kemudian bagian awak Betara bagia adalah tempat dari seluruh isi alam semesta, upakara serta simbol-simbol alam semesta berupa sesuratan dan tuwasan lontar. Lalu pada bagian dasar secara konvensional menggunakan jeding dan beti sebagai tempat penyangga jeding dan awak Betara Bagia.

Bagian ulu yang kemudian disebut dengan mIurda terdapat dua jenis dari segi bahan yaitu murda berbahan uang kepeng dan berbahan daun lontar. Murda yang berbahan uang kepeng kemudian dihias dengan pemugbug yang ditatah pada bahan kulit sapi kemudian dilapisi dengan prada emas 22 karat.

Ujung atasnya berhias batu amenetis putih bening dengan dasar ukiran tembaga. Tepi bawah murda dihiasi utah-utah dengan bentuk rangkaian mote tetes emas sehingga menambah kesan luwes-manis murda yang kokoh. Kemudian murda yang berbahan daun lontar dihiasi dengan bunga plendo putih yang menambah kesan klasik dari tuwasan lontar membentuk pola cecandian.

Awak Betara Bagia menjadi bagian yang paling padat secara proporsi, karena pada bagian itu seluruh elemen inti disusun. Pada bagian awak memiliki bidang paling luas untuk kemudian diisi dengan sarana upakara berupa bebantenan, isen gumi dan hiasan. Pada bagian Awak Betara Bagia dalam penyusunannya secara teknis dibagi atas tiga yaitu bagian isi upakara (dalam), bagian tengah berupa orti-orti, tuwasan lontar seperti rambut dan rajutan benang berwarna-warni sesuai arah mata angin dengan visual seperti matahari dan bulan.

Bagian terluar berupa hiasan dari pemasangan leluur, kober, umbul-umbul, tedung dan lelamak. Pada bagian terluar Betara Bagia di Desa Adat Padangtegal kali ini dihiasi dengan prerai lanang-istri yang disematkan sesuai dengan jenis Betara Bagia. Penyematan prerai lanang-istri sebagai penanda identitas jenis Betara Bagia merupakan salah satu terobosan terbaru yang dilakukan oleh serati dan tutus. Terobosan ini tentu dengan pertimbangan kepatutan filosofis dengan sentuhan rasa indah-estetika-seni yang ingin diwujudkan oleh serati dan tutus Desa Adat Padangtegal.

Tatakan Bagia untuk Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padangtegal digarap dengan bahan dan bentuk spesial. Spesialnya adalah tatakannya berkomposisi pepalihan dengan megunung gelut yang dihiasi dengan karang tapel bentulu dan karang gajah pada setiap sudut pepalihan dan gunung gelut.

Disamping itu pada bagian depan tatakan Bagia dihiasi dengan ukiran Bedawang Nala yang diapit dengan Naga Basuki dan Naga Anantabhoga. Tatakan bagia dengan pepalihan megunung gelut mebedawang nala serta hiasan karang bentulu dan karang gajah adalah hal yang baru. Semua ukiran ini diprada emas dengan prada air agar memberikan ruang pemuliaan pada bagian murda yang dilapisi dengan prada emas 22 karat. Lalu yang tidak kalah spesial pada bagian tatakan adalah wastra untuk melapisi jeding.

Wastra Betara Bagia disusun dari wastra, kampuh, petet, awir dan lamak. Wastra Betara Bagia menggunakan kain jenis Cepuk tenunan asli Desa Tanglad, Nusa Penida. Kampuh dan petet Betara Bagia dari jenis songket. Awir menggunakan kain pepledoan dan lamak memilih kain Gringsing dari Desa Tenganan, Karangasem. Badan gunung gelut dan seluruh pekeled dibungkus dengan kain beludru dan songket Palembang yang diberikan aksen piku-piku emas.

Hiasan pada bagian tatakan Betara Bagia di Desa Adat Padangtegal serangkaian Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh menjadi sentuhan seni yang paling banyak digarap. Mengapa pada bagian tatakan mendapat fokus garapan seni yang paling banyak? Karena pada bagian tatakan hampir tidak ada bagian upakara sehingga memberikan ruang bebas dalam menghiasnya sesuai dengan imajinasi terbaik oleh para serati dan tutus. Dapat dikatakan bahwa tatakan Betara Bagia Desa Adat Padangtegal saat ini menjadi yang berbeda dengan pengadeg (wujud) Betara Bagia di desa lain pada saat menyelenggarkan upacara tingkatan utamaning utama.

Betara Bagia oleh serati dan tutus Desa Adat Padangtegal pada serangkaian Karya Pedudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Ring Pura Desa lan Puseh adalah implementasi Tri Kerangkan Agama Hindu yaitu Tattwa, Etika, Upacara ditambah Estetika. Estetika menjadi nilai tambah untuk melengkapi Tri Kerangkan Agama Hindu adalah potensi dari Desa Adat Padangtegal. Desa Adat Padangtegal terkenal dengan potensi seni perundagiannya disamping disangga oleh seni lukis kemudian saat ini sedang tumbuh seniman tari dan seniman tabuh.

Serati dan tutus Desa Adat Padangtegal sebagian besar merupakan seniman perundagian dan seniman lukis sehingga ekspresi seni yang telah mendarah daging menyebabkan sentuhan seni muncul untuk mendandani sesuatu yang bersifat sakral seperti halnya Pengadeg Betara Bagia dengan sentuhan seni. [T]

Penulis : Wayan Diana Putra
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menggurat Ratu Kompyang, Memaknai Ida Ratu Lingsir: Catatan Pertalian Spiritual Melalui Media Pelawatan Barong Desa Adat Padangtegal dengan Desa Adat Kebon
Kesanga Menuju Kedasa dan dari Campuhan, Taman, Menuju Batur | Formulasi Proses Penciptaan Rejang Baris Jong Pari Dengan Prinsip Gadamerian
Pawodakan Ida Ratu Lingsir di Padangtegal: Tetap Gunakan Warna Bali dari Tulang, Tanduk dan Batu-batuan
Tags: Desa Adat PadangtegalHindu BaliUbudupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [36]: Pencuri Terjebak di Gudang Kampus

Next Post

Ketika Budaya Bertabrakan: Reaksi Psikologis dan Sosial terhadap Imigran India di Negara Maju

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Ketika Budaya Bertabrakan: Reaksi Psikologis dan Sosial terhadap Imigran India di Negara Maju

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co