23 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesanga Menuju Kedasa dan dari Campuhan, Taman, Menuju Batur | Formulasi Proses Penciptaan Rejang Baris Jong Pari Dengan Prinsip Gadamerian

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
May 13, 2023
in Khas
Kesanga Menuju Kedasa dan dari Campuhan, Taman, Menuju Batur | Formulasi Proses Penciptaan Rejang Baris Jong Pari Dengan Prinsip Gadamerian

TULISAN INI ingin mendeskripsikan mengenai proses penciptaan tari baris Jong Lelandep dan Jajar Pari yang digarap oleh Sekehe Teruna Udyana, Banjar Taman Kelod, Ubud.

Deskripsi tahap penciptaan tari baris Jong Lelandep dan Jajar Pari bertujuan untuk menginformasikan mengenai cara kerja penciptaan tari baris dan rejang ini secara kontekstualnya, sedangkan tekstualnya sudah pernah dipublikasikan pada artikel pendek yang dimuat pada laman Tatkala.co dan buku Macandetan terbitan Yayasan Janahita Mandala, Ubud.

Kontekstual yang ingin dijelaskan tidak lagi hanya fungsional pada upacara keagamaan Hindu kaitannya dengan upacara Pujawali di pura-pura sekitar Desa Ubud dan daerah lainnya.

Kontekstual yang ingin disampaikan pada tulisan ini adalah “serapan energi kosmologi Bali berupa sasih dan tempat” berelasi dengan konsep Desa, Kala, Patra: tempat, waktu dan situasi.

Dari ketiga variable tersebut unsur situasi adalah hal yang paling lumrah sebagai pemantik lahirnya karya seni di Bali terlebih yang berkaitan dengan ritual keagamaan. Maka tulisan ini lebih banyak mengulas mengenai pemantik dari unsur waktu (sasih/bulan) dan tempat (diciptakan dan disajikan).

Kesanga menuju Kedasa, dan dari Campuhan, Taman, menuju Batur adalah tajuk yang dipilih sebagai “goal” dalam eksplanasi tulisan ini. Kesanga dan Kedasa adalah representasi dari filosofi waktu di Bali dengan segala nilainya.

Campuhan, Taman, dan Batur, merupakan geografis alami serta bentangan pujian religius. Campuhan sebagai awal rembesan kuasa air yang dirasakan oleh Taman. Taman sendiri merujuk lokasi penciptaan tari baris Jong Lelandep dan rejang Jajar Pari tepatnya berlokasi di Banjar Taman Kelod, Ubud.

Secara filosofis, Taman sendiri merupakan sebuah tempat hidup segala puspa ragam bebungaan yang selalu menebarkan wewangian. Sedangkan Batur lebih dikenal dengan Batur adalah salah posisi sentral religius di Bali, bahkan jika melihat lebih luas dalam konteks kesejahteraan yang bersumber pada air.

Oleh sebab itu tidak berlebihan jika Batur diposisikan sebagai tempat yang penting dan sakral. Limpahan air sebagai pemantik puspa ragam Taman yang melahirkan kreativitas dari suntikan suplemen air Danau Batur sudah sepatutnya dihaturkan ketika jatuh Ngusaba Kedasa.

Kesanga menuju Kadasa

Kesanga dan Kadasa adalah nama sasih/bulan dalam perhitungan masa di Bali. Kesanga berarti bulan kesembilan dan Kedasa adalah bulan kesepuluh. Kedua sasih ini bahkan dapat dikatakan sebagai sasih/bulan yang spesial dalam siklus satu tahun di Bali.

Sasih Kesangga adalah bulan dimana dimaknai sebagai bulan “siaga atau waspada”. Sasih yang dianggap munculnya wabah dan penyakit. Dalam perhitungan iklim, sasih Kesanga masuk pada musim panca roba yang rentan menimbulkan penyakit sehingga juga disebut dengan sasih Bhuta.

Lebih jauh, Sasih Kesanga ini sebagai puncak dari bulan wabah yang dimulai dari sasih Kelima (lima) dan Keenem (enam) serta berakhir pada sasih Kesangga.

Desa Batuan, Sukawati, Gianyar bahkan menggelar serangkain ritual penolak bala seperti pertunjukan Rejang Sutri dan Sabung Ayam setiap hari selama sasih Kelima sampai sasih Kesanga (4 bulan) sesuai keyakinan Ratu Gede Nusa dari Nusa Penida menebar wabah.

Daerah peisir selatan Bali juga pada sasih Keenem menggelar ritual ngerebeg dan nangkluk dengan nedunin (mengeluarkan) pelawatan barong mengelilingi wilayah desa masing-masing untuk menetralisir kekuatan negatif yang dapat mendatangkan penyakit dan bencana.

Dalam konsep ritual di Batur juga pada sasih Kelima dan Keenem diselengarakan ritual penanggluk mrana. Sasih Kesanga kemudian menjadi puncak dari penetralisir energi negatifnya dengan upacara Tawur Agung tepat pada Tilem Sasih Kesanga.

Sebelumnya dilaksanakan upacara melasti ke segara (pantai), danau atau tempat sumber mata air untuk melarung segala kekotoran dan memohon tirta Amerta sebagai sarana untuk membersihkan makro dan mikro kosmos (bhuana agung dan bhuana alit).

Dari sederet penjabaran tersebut secara ritus dan filosofinya dala konteks imanen Sasih Kesangga adalah bulan yang mewajibkan manusia untuk waspada, memproteksi dan merenung sehingga dapat mewujudkan kebersihan jiwa dan badan (rohani dan jasmani) dalam bahasa Bali disebut kedas (bersih).

Sasih Kedasa yang juga dianggap sebagai sasih dewa. Kembali dilihat dari sisi iklim, akhir Maret atau April dikenal dengan musim kemarau/kering. Kalau dilihat dalam penanggalan Jawa bulan kesepuluh (kedasa) disebut wesakhamasa.

Wesakhamasa berasal dari kata wesakha dan masa. Kata Wesakha yang berasal kata Vaishaka atau Baisakh/Besakh yang dalam Vikram Samvat atau kalender Bikram atau kalender Hindu adalah bulan pertama. Bernama kedasa yang berarti sepuluh namun berurut satu adalah salah satu penanda bahwa sasih Kadasa merupakan sasih/bulan special (Ida Bagus Putu Putrayasa, 2022).

Penulis juga dalam kesempatan tangkil ke Pura Ulun Danu Batur sempat berdiskusi dengan Dane Pelinggih Penyarikan Duhuran Batur mengenai mengapa pujawali Ida Betari jatuh pada Purnama Kesangga?

Pertanyaan penulis ini terkait dengan mencoba menggali keutamaan sasih Kesanga yang juga bertepatan dengan proses penciptaan Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari. Dari diskusi tersebut penulis mendapat pengetahun mengenai siklus ritual tahunan yang diselenggarakan pengempon Pura Ulun Danu Batur mulai Sasih Kasa hingga bertemu Kasa lagi.

Menurut penuturan Pelinggih Dane Penyarikan Duhuran pujawali Ida Betari atau dengan dasanama lain Ida Bhatari Sakti Ayu Luwih jatuh pada purnama Kesanga. Alasannya mengingat sasih Kesanga merupakan pemagpag (menyongsong) sarin tahun dari Purnama Kadasa sebagai puncak ritual persembahan dari para subak yang tergabung dalam pasihan (koalisi) Batur.

Selain itu, pada Tilem Kesangga juga merupakan pujawali dari Ida Bhatara Maduwe Gumi. Perlu dicatat, antara Ida Bhatari Sakti Ayu Luwih dan Ida Bhatara Maduwe Gumi adalah entitas yang satu Ardanareswari namun berbeda manifestasi feminim dan maskulin.

Seperti umum kosmologi yang kita anut dan yakini bahwa segala sari/hasil akan terwujud jika pertemuan feminim dan maskulin ini bertemu. Sehingga di Sasih Kesanga pada purnama dan tilem dirayakan sebagai pertemuan Ardanareswari Ida Bhatari Sakti Ayu Luwih dan Ida Bhatara Maduwe Gumi sebagai sebuah legitimasi kesuburan yang menghasilkan sari terwujud, sehingga di Purnama Kedasa dilakukan ritual persembahan atas rasa syukur keberlimpahan sari/hasil dari Ida Bhatari Sakti Ayu Luwih dan Ida Bhatara Maduwe Gumi.

Dari hasil eksplanasi dari diskusi tersebut maka penulis mengunci hubungan Kesanga dan Kedasa adalah garis persiapan, turunnya berkah dan ungkapan syukur atas prinsip Ardanareswari sebagai “perabot bedah” dalam menganalisa proses penciptaan Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari yang secara kebetulan diciptakan pada sasih Kesangan dan dipentaskan di Pura Ulun Danu Batur pada sasih Kedasa.

Penciptaan Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari oleh Sekehe Teruna (ST) Udyana Banjar Taman Kelod bertujuan untuk melengkapi wali di pura-pura yang terdapat di wilayah lokal maupun di luar daerah Banjar Taman Kelod.

Baris dan rejang sebagai sebuah persembahan oleh tubuh kepada sang pencipta dalam media tari. Baris dalam tubuh maskulin dan rejang dalam tubuh feminim. Feminin dan maskulin juga sebagai aktualisasi konsep serta nilai Ardanareswari.

Hal menarik dari penciptaan Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari ini selain secara tekstual ternyata secara kontekstual utamanya dengan periode waktu sangat menarik diciptakan pada sasih Kesangga dan kemudian pada tahun ini tepat pada Purnama Kedasa dapat pentas ngaturang ayah di Pura Ulun Danu Batur.

Seperti ulasan di atas hubungan Kesanga dengan Kedasa yang begitu special di Pura Ulun Danu Batur juga secara tidak langsung juga menjadi sebuah nilai dalam proses penciptaan Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari. Apakah relasi ini ialah sebuah kebetulan? Atau cocoklogi?

Penulis mencoba mengesampingkan hal itu dengan menggunakan kaca mata analisis proses penciptaan yang dimulai dari periode waktunya. Ternyata secara faktual memang peristiwa itu terjadi dan hubungan Kesangan dan Kedasa tidak pernah terpikirkan oleh konseptor Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari yaitu Gusti Putu Dika Pratama: “Saya tidak pernah membayangkan akan hubungan ini, intinya saya dan adik-adik di pemuda bertekad membuat tari wali baris dan rejang yang unik dan bercirikan tentang kami di Banjar Taman Kelod”.

Dari pernyataan Dika Pratama tersebut mempertegas bahwa hal ini terjadi dengan mengalir selayaknya air yang mengalir dari hulu Danau Batur dan kemudian dimaknai di hilir, maka penafsir aliran Kesanga menuju Kedasa ditemukan setelah mengurai waktu penciptaannya hingga pementasannya di Pura Ulun Danu Batur.

Meskipun penciptaannya pada sasih Kesangan tahun 2022 dan dipentaskan di Pura Ulun Danu Batur pada sasih Kedasa tahun 2023 (selang setahun), namun spirit garis spiritual Kesangan menuju Kedasa ini menjadi salah satu peristiwa yang dapat menginjeksi nilai dari tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari.

Konsep pemagpag (menyongsong) melimpahnya sari (hasil) yang dilanjutkan pada ngaturang (mempersembahkan) yang tertuang secara kosmis pada hubungan Kesangan menuju Kedasa seperti yang telah mentradisi dalam adat Pura Ulun Danu Batur juga berelasi dengan tahapan proses Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari.

Pada sasih Kesanga dilakukan persiapan penggarapan tari dan gending hingga menjadi terwujud karya tari wali. Setelah berhasil diciptakan maka selanjutnya sesuai orientasi penciptaan Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari diawal difungsikan untuk menyertai upacara-upacara di pura sekitar Ubud maupun di luar Ubud.

Pada Purnama Sasih Kedasa bertepatan dengan Pujawlai Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari dipentaskan sebagai sebuah persembah (ngaturang ayah) tepat sebelum Ida Bhatari Sakti Ayu Luwih dan Ida Bhatara Maduwe Gumi (Ida Bhatara Makalihan) tedun melaksanakan prosesi Mapada Agung di bencingan pura.

Tiga skema magpag (persiapan), sari (hasil) dan maturan (persembahan) menjadi alur tahap penciptaan dari tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari merefleksikan hubungan sasih Kesangan menuju Kedasa yang menjadi fase waktu special sesuai dengan aktualisasi religi di Pura Ulun Danu Batur.

Dari Campuhan, Taman, menuju Batur

Eksplanasi bagian sub ini ingin dimulai dari Campuhan tempat bertemunya dua aliran sungai bernama Oos. Oos yang mengalir dari sisi barat dengan arus air yang agak tenang dan Oos aliran timur yang berarus kencang. Kedua aliran ini bertemu pada satu titik yang juga sebagai tempat meditasi Rsi Markandeya dan saat ini di sana berdiri sebuah pura yang bernama Pura Payogan Agung Gunung Lebah.

Menurut diskusi penulis dengan pengelingsir Puri Agung Ubud yaitu Tjokorda Gede Putra Sukawati bahwa Pura Payogan Agung Gunung Lebah merupakan representasi Pura Ulun Danu Batur di wilayah Dam Oos Ulu.

Sebagai tempat pemujaan Ida Betari Danu atas anugerah limpahan air untuk mengairi sawah-sawah di subak-subak yang tergabung dalam Dam Oos Ulu. Pura Payogan Agung Gunung Lebah sebagai representasi dari Pura Ulun Danu Batur diperkuat dengan pada saat digelar upacara Panca Wali Krama prelingga Ida Bhatari Batur tedun nodya (menyaksikan) seluruh rangkaian upacara.

Koneksi secara transenden dan imanen antara Campuhan Ubud dengan Pura Ulun Danu Batur atas kuasa airnya sangatlah jelas dan nyata. Koneksi air ini pula yang memberikan dampak pada daerah Taman di tepian Campuhan Ubud.

Taman yang dimaksud pada bagian ini merujuk pada nama wilayah yaitu Banjar Taman Kelod, Ubud. Banjar Taman Kelod yaitu tempat diciptakan tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari. Kemudian Batur merujuk secara spesifik pada Pura Ulun Danu Batur.

Masih dalam konteks tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari, daerah Taman Kelod yang secara filosofis sebagai tamannya Ubud tempat tersemainya tumbuhan di sawah maupun ladang sedangkan Batur sebagai hulu sumber lewat kuasa air danau merupakan sebuah hubungan ekologis yang tidak terpisahkan.

Sungai Oos dengan Campuhannya kemudian yang melintasi wilayah Ubud dan juga meresap hingga ke Taman bersumber dari Danau Batur. Hal ini juga menjadikan Ubud memiliki hubungan dengan Batur secara ekologis dan juga spiritual.

Limpahan air dari Danau Batur yang mengalir pada Sungai Oos menjadikan Ubud subur, subur dari segi pangan bahkan merembet karena tercukupi pangannya kreativitas juga menjadi subur. Kreativitas seni salah satunya.

Jika berbicara masalah kreativitas tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari adalah hasilnya. Jadi secara tidak langsung tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari tercipta berkat limpahan air Danau Batur, maka sudah sepatutnya apabila pada Pujawali Purnama Kedasa menghaturkan hasil limpahan anugrah dari Ida Bhatari Sakti Ayu Luwih dan Ida Bhatara Maduwe Gumi (Ida Bhatara Makalihan).

Air yang bersumber dari danau Batur menjadi apparatus utama nutrisi pembangkit energi termasuk energi dalam penciptaan. Energi yang dipasok oleh air danau Batur terserap dalam bentuk pangan yang dipanen serta dipetik oleh masyarakat di Taman, Ubud.

Dengan dimilikinya energi maka sistem kerja tubuh mulai dari otak sebagai supplier dan programer gagasan dan kinetis tubuh berawal bekerja dengan baik. Perintah menyublimasi gagasan oleh kinetis tubuh yang tertuang dalam proses usaha kreatif melahirkan karya-karya termasuk tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari.

Kekuatan menggali, ketajaman menganalisa serta kecermatan dalam mewujudkan karya seni tidak dapat dipungkuri oleh kuasa air. Kembali tanpa melebihkan dalam konteks di Ubud dengan Campuhan atas aliran Sungai Oos berkiblat pada hulu danau Batur.

Proses dari air (sumber) menjadi materi (bahan) dan melahirkan medium (wujud) adalah tiga skema yang terlahir dari melihat bentangan Campuhan dan Taman di Ubud menuju Batur. Air menjadi sumber untuk becocok tanam sehingga menghasilkan padi untuk konsumsi sehingga yang mengkonsumsi mendapatkan nilai apakah nilai nutrisi maupun nilai kebahagiaan.

Skema ini kemudian menjadi ideologis penciptaan tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari yaitu mulai dari memikirkan sumber (air) penciptaan gerak, gending, busana dan properti. Kemudian mulai meramu materi untuk dikomposisikan dalam gerak dan nada. Setelah terwujud tariannya beserta gendingnya secara pararel nilai makna maupun fungsi kemudian menyertainya.

Gadamerian Sebagai Pisau Bedah Analisis

Kesanga menuju Kedasa sebagai sebuah pemaknaan konsepsi masa waktu yang spesial dalam tradisi perayaan ritual keagamaan di Pura Ulun Danu Batur. Campuhan, Taman menuju Batur adalah bentangan geografis yang tidak hanya menjelaskan hubungan ekologis namun juga menyiratkan spiritual.

Kedua hal tersebut kemudian secara tidak langsung juga berelasi dengan proses penciptaan dan penyajian karya seni tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari oleh Sekehe Teruna Udyana Taman Kelod, Ubud.

Relasi tersebut sejatinya tidaklah terjadi dengan kesengajaan, namun terjadi beririsan serta menemukan benang merah dalam proses penciptaan dari sudut pandang waktu dan tempatnya secara tidak sengaja. Irisan dan benang merah tersebut kemudian menjadi sebuah tahapan penciptaan dibantu oleh “pisau bedah” gadamerian.

Gadamerian adalah salah satu aliran hermeutika (ilmu intepretasi) yang memberikan keleluasaan pemaknaan yang lebih melampaui makna asli dari obyek yang diintepretasi. Raharjo (2008:25-26) Gadamerian memandang makna bahwa makna harus dikontruksi dan direkontruksi oleh penafsir itu sendiri sesuai konteksnya, sehingga makna berada di depan teks (in front of the text).

Gadamerian juga menempatkan tindak dan produknya dalam konteks interpretif baru (Raharjo, 2008:78-79). Melaui gadamerian si interpreter (penulis) memaknai hubungan relasi Kesanga dan Kedasa, kemudian Campuhan, Taman dan Batur dengan penciptaan tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari dalam konsep tahapan penciptaan karya seni.

Keleluasaan intepretasi melampaui makna aslinya memberikan penulis ruang yang begitu luas dan lebar untuk menemukan simpul-simpul yang dapat dikonkritkan menjadi tahap penciptaan. Simpul-simpul berupa makna ekologis, religious dan filosofi yang didapat dari mengurai fase kesanga menuju kedasa, hubungan geografis Campuhan, Taman dan Batur kemudian dibangun kerangka berpikir baru seperti skema proses penciptaan yang tersaji pada tabel di atas.

Fase waktu kesanga dan kedasa dalam keyakinan di Batur dari hasil diskusi dengan Pelinggih Jero Penyarikan Duhuran Batur ditemukan makna persiapan (magpag) menuai hasil bumi (sari) yang kemudian dipersembahkan (maturan).

Tiga variabel magpag, sari dan maturan kemudian dengan prinsip gadamerian diformulasikan ke dalam tahapan penciptaan mapag yaitu persiapan penggalian materi dan proses penggarapan, sari merujuk pada bentuk karya dan maturan yang berarti persembahan adalah deseminasi penyajian karya itu sendiri.

Ketiga tahapan tersebut digunakan dengan riil oleh Sekehe Teruna Udyana Taman Kelod, Ubud dalam penciptaan tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari.

Begitu Pula dengan konsep bentangan geografis dan ekologi Campuhan, Taman dan Ubud yang penulis secara intens urai dengan Cokorda Gde Bayu Putra seorang pemerhati serta penggiat kesusastraan dari Puri Anyar, Ubud ditemukan relasi air sebagai sumber, taman sebagai medium dan Batur sebagai wujud. Bentangan sumber, medium dan wujud adalah kerangka sebuah penciptaan karya seni.

Tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari jelas dicipatakan dari proses menggali sumber-sumber rujukan seperti tari Baris Gede gaya Batur, Baris Jangkang dari Pelilit, Nusa Penida, Rejang Pala dari Desa Nongan serta Baris Cina Desa Renon, Denpasar.

Begitu halnya dengan gendingnya mengulik gending Bebonangan gaya Batur dan Sulahan, Gambang gaya Subagan, Baris Cina Renon dan repertoar lagu Sam Do dari ensambel Samulnori dari Korea Selatan. Setelah proses penggalian sumber maka proses selanjutnya memilih medium yaitu tari dan gamelan. Hal terakhir adalah wujud hasil dari proses menggali sumber dan mediumisasi dalam bentuk tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari.

Prinsip gadamerian membantu menemukan simpul konkret dari sesuatu yang tidak terpikirkan, terjamah atau belum tersuratkan dengan sudut pandang baru. Menjadikan yang tidak sengaja menjadi sebuah relasi yang dapat dimaknai.

Luasnya bentangan gadamerian bagaikan “teleskop” untuk dapat melihat mikro-mikro nilai tidak nampak dengan visi mata biasa. Oleh gadamerian, sebuah skema penciptaan karya seni dapat diformulasikan hasil dari menfasir relasi periode waktu serta hubungan ekologis.

Seperti halnya tahapan penciptaan dari Tari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari yang berelasi dengan peristiwa waktu Kesanga menuju Kedasa, dan hubungan tempat Campuhan, Taman dan Batur.[T]

Jong Pari, Sebuah Kreativitas Mudra Suara
Pawodakan Ida Ratu Lingsir di Padangtegal: Tetap Gunakan Warna Bali dari Tulang, Tanduk dan Batu-batuan
Tags: kesenian balitari baliTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu 2024: Nahdliyin Adalah Kunci

Next Post

Penutupan Pasamuhan Agung Basa Bali VIII, Ada 26 Butir Rekomendasi dan Tiga Buku Pedoman yang Disepakati

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
0
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

Read moreDetails

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails
Next Post
Penutupan Pasamuhan Agung Basa Bali VIII, Ada 26 Butir Rekomendasi dan Tiga Buku Pedoman yang Disepakati

Penutupan Pasamuhan Agung Basa Bali VIII, Ada 26 Butir Rekomendasi dan Tiga Buku Pedoman yang Disepakati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Oleh-Oleh dari Baduy Luar
Tualang

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini
Esai

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

by Hartanto
May 22, 2026
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara
Ulas Musik

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh
Panggung

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co