24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Budaya Bertabrakan: Reaksi Psikologis dan Sosial terhadap Imigran India di Negara Maju

Isran Kamal by Isran Kamal
October 16, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

DALAM beberapa tahun terakhir, kehadiran imigran asal India di berbagai negara maju seperti Jepang, Prancis, dan Italia semakin menimbulkan perbincangan publik yang kompleks. Pemerintah Jepang, misalnya, sempat mengumumkan rencana untuk merekrut ratusan ribu pekerja dari India guna mengatasi krisis tenaga kerja akibat populasi yang menua.

Langkah ini secara ekonomi dianggap strategis, namun di sisi sosial justru memunculkan resistensi. Di media sosial Jepang, muncul tagar dan video yang memperlihatkan ketegangan kecil antara warga lokal dan imigran India, mulai dari perbedaan gaya hidup, kebersihan lingkungan, hingga perilaku di ruang publik.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Di sejumlah negara Eropa, sentimen serupa juga mulai muncul. Imigran India sering kali dipersepsikan tidak mudah beradaptasi dengan norma lokal, terutama dalam konteks perilaku sosial dan kebersihan publik. Namun di balik konflik permukaan tersebut, terdapat dinamika yang lebih dalam yakni ketegangan antara sistem nilai yang berbeda, persepsi tentang ancaman terhadap tatanan sosial, serta kegelisahan psikologis masyarakat lokal menghadapi perubahan budaya yang cepat.

Dengan demikian, isu imigrasi India bukan hanya persoalan ekonomi atau kebijakan tenaga kerja, melainkan juga persoalan psychological adjustment, baik bagi imigran yang berusaha menyesuaikan diri, maupun masyarakat lokal yang berusaha mempertahankan identitas sosialnya. Inilah konteks di mana pendekatan psikologi sosial menjadi penting untuk memahami reaksi publik terhadap fenomena imigran India di berbagai negara.

Clash of Culture: Norma Sosial yang Tidak Sinkron

Masyarakat Jepang dikenal memiliki norma sosial yang sangat ketat terhadap kebersihan, ketertiban, dan kesopanan di ruang publik. Prinsip “tidak mengganggu orang lain” (meiwaku o kakenai) menjadi salah satu pilar etika sosial yang dijunjung tinggi. Ketika imigran datang dari latar budaya di mana standar publiknya berbeda,  misalnya dalam hal kebersihan, kebisingan, atau ekspresi emosi, potensi gesekan sosial hampir tak terhindarkan.

Beberapa insiden kecil, seperti perilaku merokok di tempat umum, berbicara dengan suara keras di transportasi publik, atau membuang sampah tidak pada tempatnya, sering menjadi bahan sorotan media. Di era digital, insiden semacam ini cepat menjadi viral, membentuk persepsi kolektif seolah seluruh kelompok imigran berperilaku demikian.

Padahal dalam realitas sosial, perilaku negatif seperti itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil individu. Namun bias kognitif seperti availability heuristic, kecenderungan menilai sesuatu berdasarkan informasi yang paling mudah diingat atau paling sering terlihat, membuat publik cenderung menggeneralisasi perilaku minoritas menjadi citra kelompok secara keseluruhan.

Clash budaya semacam ini menunjukkan bahwa konflik sosial tidak semata-mata lahir dari perbedaan nilai, tetapi juga dari kesenjangan dalam interpretasi dan persepsi terhadap perilaku. Bagi masyarakat lokal yang terbiasa dengan keteraturan ekstrem, perilaku spontan atau ekspresif bisa dianggap mengganggu. Sebaliknya, bagi sebagian imigran yang datang dari kultur sosial yang lebih terbuka, aturan-aturan sosial Jepang bisa terasa terlalu restriktif. Ketegangan antara dua gaya hidup ini memperlihatkan betapa rentannya interaksi lintas budaya tanpa dukungan edukasi dan akulturasi yang memadai.

Ketika perbedaan budaya ini terus berulang dan dikonstruksi secara sosial lewat media, dampaknya bukan hanya pada relasi antarindividu, melainkan juga pada psikologi kolektif masyarakat lokal. Rasa cemas, kehilangan kendali, dan ketakutan terhadap perubahan mulai tumbuh, membentuk persepsi bahwa kehadiran imigran merupakan ancaman terhadap identitas budaya dan stabilitas sosial. Inilah yang akan dibahas lebih lanjut dalam bagian berikutnya tentang Psikologi Kolektif: Identitas, Ancaman Budaya, dan Kecemasan Sosial.

Psikologi Kolektif: Kecemasan Identitas dan Ancaman Budaya

Ketika gelombang imigran meningkat, masyarakat lokal kerap mengalami apa yang dalam psikologi sosial disebut sebagai cultural threat perception, yakni suatu perasaan bahwa identitas kolektif dan tatanan sosial mereka sedang terancam oleh nilai-nilai asing. Dalam konteks Jepang, Prancis, maupun negara-negara Eropa lainnya, reaksi semacam ini tidak muncul karena kebencian murni, tetapi lebih karena rasa cemas akan hilangnya keteraturan sosial yang selama ini menjadi dasar harmoni masyarakat. Masyarakat yang terbiasa dengan homogenitas budaya mendadak harus berhadapan dengan keberagaman nilai, gaya hidup, bahkan pola komunikasi yang kontras dengan norma lokal.

Dari sudut pandang psikologi sosial, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori social identity (Tajfel & Turner, 1979), yang menyatakan bahwa individu membentuk rasa aman dan harga diri melalui afiliasi dengan kelompok sosialnya. Ketika identitas kelompok seperti “orang Jepang” atau “masyarakat Eropa yang beradab dan tertib” dirasakan terganggu oleh perilaku kelompok lain, maka muncul reaksi defensif. Reaksi ini bisa berupa bentuk-bentuk halus seperti penghindaran sosial, hingga ekspresi eksplisit seperti keluhan publik, penolakan sosial, atau bahkan protes terhadap kebijakan imigrasi.

Media sosial memperkuat dinamika ini.  Algoritma yang menonjolkan konten emosional membuat kasus-kasus kecil tampak sistemik, menciptakan persepsi “invasi budaya” yang tidak proporsional. Akibatnya, kecemasan kolektif meningkat, bukan karena ancaman nyata, melainkan karena persepsi ancaman yang terus diperkuat secara digital. Fenomena digital dapat berperan sebagai amplification of fear, dapat menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya ketegangan antarbudaya di berbagai negara.

Kecemasan identitas semacam ini juga berdampak pada moral publik dan kepercayaan sosial (social trust). Masyarakat yang merasa identitasnya terancam cenderung memperkuat batas “kami” dan “mereka,” menurunkan empati lintas budaya, serta menolak integrasi sosial yang sebenarnya dapat memperkaya kehidupan bersama.

Dalam konteks kebijakan publik, hal ini berpotensi menurunkan efektivitas program integrasi karena warga lokal merasa bahwa pemerintah lebih berpihak pada imigran daripada pada mereka sendiri. Dengan kata lain, ancaman budaya sering kali lebih bersifat psikologis daripada faktual, namun dampaknya terhadap tatanan sosial bisa sangat nyata.

Namun ketegangan antarbudaya ini tidak hanya tumbuh dari faktor psikologis. Hal ini juga diperkuat oleh faktor ekonomi yang lebih konkret,  terutama ketika imigran dianggap “mengambil” ruang ekonomi yang semestinya dimiliki warga lokal. Dalam banyak kasus, rasa terancam terhadap identitas budaya sering berjalan seiring dengan rasa tersaingi dalam aspek pekerjaan dan kesejahteraan. Maka, untuk memahami dinamika sosial ini secara utuh, kita perlu melihat bagaimana cultural anxiety berinteraksi dengan economic anxiety.

Dimensi Ekonomi: Dari Kompetisi ke Ketegangan

Selain faktor identitas budaya, dimensi ekonomi memainkan peran besar dalam membentuk ketegangan antara masyarakat lokal dan kelompok imigran. Banyak masyarakat di negara maju merasa bahwa lapangan kerja yang semakin terbatas kini harus mereka bagi dengan pendatang baru.

Situasi ini menimbulkan apa yang disebut perceived economic competition, suatu persepsi bahwa keberadaan imigran mengancam stabilitas finansial dan mobilitas sosial warga lokal. Ketika seseorang merasa peluang hidupnya menyempit, rasa curiga terhadap “pesaing eksternal” menjadi semakin kuat, terutama jika para pendatang dinilai mendapat perlakuan istimewa dari pemerintah atau perusahaan.

Dalam konteks global saat ini, fenomena ini terlihat jelas. Banyak perusahaan teknologi besar di Barat mempekerjakan profesional dari India karena dianggap lebih efisien dan berpendidikan tinggi. Namun bagi sebagian warga lokal, kebijakan ini dibaca sebagai bentuk economic displacement, dimana tenaga kerja lokal digantikan oleh imigran dengan biaya lebih murah. Narasi ini kerap dipelintir oleh media atau tokoh populis untuk menumbuhkan sentimen “kami melawan mereka,” sehingga ekonomi yang semestinya jadi ruang kolaboratif berubah menjadi ajang kompetisi yang sarat emosi.

Namun, ketegangan ekonomi tidak selalu berakar dari perebutan pekerjaan semata. Hal ini juga muncul dari status gap yang terbentuk secara sosial. Ketika imigran tertentu berhasil menanjak secara ekonomi lebih cepat dari warga lokal, muncul disonansi psikologis, semacam rasa tidak adil yang membakar kecemburuan kolektif.

Hal ini memperkuat perasaan bahwa sistem ekonomi dan sosial “tidak berpihak pada orang dalam negeri,” padahal kenyataannya, perbedaan keberhasilan sering kali dipengaruhi oleh faktor seperti etos kerja, jaringan sosial, dan dukungan kebijakan. Di titik ini, persepsi menjadi lebih menentukan daripada fakta objektif.

Jika dibiarkan, ketegangan ekonomi ini mudah bergeser menjadi konflik sosial yang lebih dalam. Ia mengendap dalam bentuk komentar sinis, diskriminasi halus di lingkungan kerja, atau penolakan tidak langsung terhadap kebijakan imigrasi. Ketika tekanan ekonomi bertemu dengan kegelisahan identitas budaya, keduanya membentuk lingkaran psikologis yang sulit diputus: rasa takut kehilangan pekerjaan memperkuat stereotip budaya, dan stereotip itu sendiri memperburuk jurang sosial.

Di sinilah persoalan ekonomi berhimpitan dengan ranah psikologis yang lebih luas. Ketika kompetisi ekonomi berubah menjadi konflik identitas, masyarakat tidak hanya terbelah secara material, tetapi juga emosional. Dari titik ini, kita melihat munculnya gejala yang lebih dalam seperti polarisasi, stigma, dan rasa lelah hidup berdampingan dalam keberagaman, sebuah kondisi yang dapat disebut sebagai multicultural fatigue.

Refleksi dan Solusi: Dari Reaksi ke Adaptasis

Pada akhirnya, yang dihadapi bukan semata persoalan perilaku individu atau kebijakan ekonomi, melainkan tantangan adaptasi psikologis antarperadaban. Setiap kali dua sistem nilai yang berbeda bersinggungan, akan muncul gesekan, namun gesekan itu tidak selalu harus berakhir sebagai konflik.

Gesekan tersebut bisa menjadi ruang pembelajaran sosial jika dikelola dengan cerdas dan terbuka. Di sinilah pentingnya literasi lintas budaya atau cultural intelligence: kemampuan untuk memahami, menyesuaikan, dan berinteraksi secara efektif dengan mereka yang berasal dari latar belakang berbeda. Bukan hanya imigran yang perlu mempelajarinya, tetapi juga masyarakat lokal agar tidak terjebak pada ketakutan dan prasangka.

Dari sisi kebijakan, pemerintah di negara mana pun perlu bergerak melampaui pendekatan imigrasi yang semata berbasis ekonomi. Mengundang pekerja asing tidak cukup hanya dengan kontrak kerja dan visa melainkan harus ada strategi integrasi sosial yang jelas. Pendidikan publik, kursus budaya lokal bagi pendatang, hingga mekanisme mediasi komunitas dapat menjadi sarana membangun rasa saling memiliki. Kebijakan yang berpihak pada integrasi, bukan sekadar produktivitas, akan menurunkan potensi gesekan sosial dalam jangka panjang.

Di tingkat masyarakat, kampanye publik yang menekankan pentingnya shared civic norms, nilai-nilai kewargaan bersama seperti kebersihan, rasa hormat, dan tanggung jawab sosial, bisa menjadi jembatan di tengah perbedaan. Ketika orang dari berbagai latar budaya melihat diri mereka berbagi ruang dan aturan moral yang sama, “kami” dan “mereka” pelan-pelan larut menjadi “kita.”

Refleksinya sederhana, dunia global saat ini tidak lagi memberi kita pilihan antara menolak atau menerima perbedaan, melainkan menantang kita untuk mengelolanya dengan matang. Reaksi emosional mungkin tak terhindarkan, tapi masa depan bersama menuntut adaptasi yang cerdas, baik secara sosial maupun psikologis. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: imigranindiaPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Next Post

Ketika Guru Bertanya, Siswa Belajar: Menghidupkan Kelas dengan Keterampilan Bertanya Dasar

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Guru Bertanya, Siswa Belajar: Menghidupkan Kelas dengan Keterampilan Bertanya Dasar

Ketika Guru Bertanya, Siswa Belajar: Menghidupkan Kelas dengan Keterampilan Bertanya Dasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co