3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Budaya Bertabrakan: Reaksi Psikologis dan Sosial terhadap Imigran India di Negara Maju

Isran Kamal by Isran Kamal
October 16, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

DALAM beberapa tahun terakhir, kehadiran imigran asal India di berbagai negara maju seperti Jepang, Prancis, dan Italia semakin menimbulkan perbincangan publik yang kompleks. Pemerintah Jepang, misalnya, sempat mengumumkan rencana untuk merekrut ratusan ribu pekerja dari India guna mengatasi krisis tenaga kerja akibat populasi yang menua.

Langkah ini secara ekonomi dianggap strategis, namun di sisi sosial justru memunculkan resistensi. Di media sosial Jepang, muncul tagar dan video yang memperlihatkan ketegangan kecil antara warga lokal dan imigran India, mulai dari perbedaan gaya hidup, kebersihan lingkungan, hingga perilaku di ruang publik.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Di sejumlah negara Eropa, sentimen serupa juga mulai muncul. Imigran India sering kali dipersepsikan tidak mudah beradaptasi dengan norma lokal, terutama dalam konteks perilaku sosial dan kebersihan publik. Namun di balik konflik permukaan tersebut, terdapat dinamika yang lebih dalam yakni ketegangan antara sistem nilai yang berbeda, persepsi tentang ancaman terhadap tatanan sosial, serta kegelisahan psikologis masyarakat lokal menghadapi perubahan budaya yang cepat.

Dengan demikian, isu imigrasi India bukan hanya persoalan ekonomi atau kebijakan tenaga kerja, melainkan juga persoalan psychological adjustment, baik bagi imigran yang berusaha menyesuaikan diri, maupun masyarakat lokal yang berusaha mempertahankan identitas sosialnya. Inilah konteks di mana pendekatan psikologi sosial menjadi penting untuk memahami reaksi publik terhadap fenomena imigran India di berbagai negara.

Clash of Culture: Norma Sosial yang Tidak Sinkron

Masyarakat Jepang dikenal memiliki norma sosial yang sangat ketat terhadap kebersihan, ketertiban, dan kesopanan di ruang publik. Prinsip “tidak mengganggu orang lain” (meiwaku o kakenai) menjadi salah satu pilar etika sosial yang dijunjung tinggi. Ketika imigran datang dari latar budaya di mana standar publiknya berbeda,  misalnya dalam hal kebersihan, kebisingan, atau ekspresi emosi, potensi gesekan sosial hampir tak terhindarkan.

Beberapa insiden kecil, seperti perilaku merokok di tempat umum, berbicara dengan suara keras di transportasi publik, atau membuang sampah tidak pada tempatnya, sering menjadi bahan sorotan media. Di era digital, insiden semacam ini cepat menjadi viral, membentuk persepsi kolektif seolah seluruh kelompok imigran berperilaku demikian.

Padahal dalam realitas sosial, perilaku negatif seperti itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil individu. Namun bias kognitif seperti availability heuristic, kecenderungan menilai sesuatu berdasarkan informasi yang paling mudah diingat atau paling sering terlihat, membuat publik cenderung menggeneralisasi perilaku minoritas menjadi citra kelompok secara keseluruhan.

Clash budaya semacam ini menunjukkan bahwa konflik sosial tidak semata-mata lahir dari perbedaan nilai, tetapi juga dari kesenjangan dalam interpretasi dan persepsi terhadap perilaku. Bagi masyarakat lokal yang terbiasa dengan keteraturan ekstrem, perilaku spontan atau ekspresif bisa dianggap mengganggu. Sebaliknya, bagi sebagian imigran yang datang dari kultur sosial yang lebih terbuka, aturan-aturan sosial Jepang bisa terasa terlalu restriktif. Ketegangan antara dua gaya hidup ini memperlihatkan betapa rentannya interaksi lintas budaya tanpa dukungan edukasi dan akulturasi yang memadai.

Ketika perbedaan budaya ini terus berulang dan dikonstruksi secara sosial lewat media, dampaknya bukan hanya pada relasi antarindividu, melainkan juga pada psikologi kolektif masyarakat lokal. Rasa cemas, kehilangan kendali, dan ketakutan terhadap perubahan mulai tumbuh, membentuk persepsi bahwa kehadiran imigran merupakan ancaman terhadap identitas budaya dan stabilitas sosial. Inilah yang akan dibahas lebih lanjut dalam bagian berikutnya tentang Psikologi Kolektif: Identitas, Ancaman Budaya, dan Kecemasan Sosial.

Psikologi Kolektif: Kecemasan Identitas dan Ancaman Budaya

Ketika gelombang imigran meningkat, masyarakat lokal kerap mengalami apa yang dalam psikologi sosial disebut sebagai cultural threat perception, yakni suatu perasaan bahwa identitas kolektif dan tatanan sosial mereka sedang terancam oleh nilai-nilai asing. Dalam konteks Jepang, Prancis, maupun negara-negara Eropa lainnya, reaksi semacam ini tidak muncul karena kebencian murni, tetapi lebih karena rasa cemas akan hilangnya keteraturan sosial yang selama ini menjadi dasar harmoni masyarakat. Masyarakat yang terbiasa dengan homogenitas budaya mendadak harus berhadapan dengan keberagaman nilai, gaya hidup, bahkan pola komunikasi yang kontras dengan norma lokal.

Dari sudut pandang psikologi sosial, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori social identity (Tajfel & Turner, 1979), yang menyatakan bahwa individu membentuk rasa aman dan harga diri melalui afiliasi dengan kelompok sosialnya. Ketika identitas kelompok seperti “orang Jepang” atau “masyarakat Eropa yang beradab dan tertib” dirasakan terganggu oleh perilaku kelompok lain, maka muncul reaksi defensif. Reaksi ini bisa berupa bentuk-bentuk halus seperti penghindaran sosial, hingga ekspresi eksplisit seperti keluhan publik, penolakan sosial, atau bahkan protes terhadap kebijakan imigrasi.

Media sosial memperkuat dinamika ini.  Algoritma yang menonjolkan konten emosional membuat kasus-kasus kecil tampak sistemik, menciptakan persepsi “invasi budaya” yang tidak proporsional. Akibatnya, kecemasan kolektif meningkat, bukan karena ancaman nyata, melainkan karena persepsi ancaman yang terus diperkuat secara digital. Fenomena digital dapat berperan sebagai amplification of fear, dapat menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya ketegangan antarbudaya di berbagai negara.

Kecemasan identitas semacam ini juga berdampak pada moral publik dan kepercayaan sosial (social trust). Masyarakat yang merasa identitasnya terancam cenderung memperkuat batas “kami” dan “mereka,” menurunkan empati lintas budaya, serta menolak integrasi sosial yang sebenarnya dapat memperkaya kehidupan bersama.

Dalam konteks kebijakan publik, hal ini berpotensi menurunkan efektivitas program integrasi karena warga lokal merasa bahwa pemerintah lebih berpihak pada imigran daripada pada mereka sendiri. Dengan kata lain, ancaman budaya sering kali lebih bersifat psikologis daripada faktual, namun dampaknya terhadap tatanan sosial bisa sangat nyata.

Namun ketegangan antarbudaya ini tidak hanya tumbuh dari faktor psikologis. Hal ini juga diperkuat oleh faktor ekonomi yang lebih konkret,  terutama ketika imigran dianggap “mengambil” ruang ekonomi yang semestinya dimiliki warga lokal. Dalam banyak kasus, rasa terancam terhadap identitas budaya sering berjalan seiring dengan rasa tersaingi dalam aspek pekerjaan dan kesejahteraan. Maka, untuk memahami dinamika sosial ini secara utuh, kita perlu melihat bagaimana cultural anxiety berinteraksi dengan economic anxiety.

Dimensi Ekonomi: Dari Kompetisi ke Ketegangan

Selain faktor identitas budaya, dimensi ekonomi memainkan peran besar dalam membentuk ketegangan antara masyarakat lokal dan kelompok imigran. Banyak masyarakat di negara maju merasa bahwa lapangan kerja yang semakin terbatas kini harus mereka bagi dengan pendatang baru.

Situasi ini menimbulkan apa yang disebut perceived economic competition, suatu persepsi bahwa keberadaan imigran mengancam stabilitas finansial dan mobilitas sosial warga lokal. Ketika seseorang merasa peluang hidupnya menyempit, rasa curiga terhadap “pesaing eksternal” menjadi semakin kuat, terutama jika para pendatang dinilai mendapat perlakuan istimewa dari pemerintah atau perusahaan.

Dalam konteks global saat ini, fenomena ini terlihat jelas. Banyak perusahaan teknologi besar di Barat mempekerjakan profesional dari India karena dianggap lebih efisien dan berpendidikan tinggi. Namun bagi sebagian warga lokal, kebijakan ini dibaca sebagai bentuk economic displacement, dimana tenaga kerja lokal digantikan oleh imigran dengan biaya lebih murah. Narasi ini kerap dipelintir oleh media atau tokoh populis untuk menumbuhkan sentimen “kami melawan mereka,” sehingga ekonomi yang semestinya jadi ruang kolaboratif berubah menjadi ajang kompetisi yang sarat emosi.

Namun, ketegangan ekonomi tidak selalu berakar dari perebutan pekerjaan semata. Hal ini juga muncul dari status gap yang terbentuk secara sosial. Ketika imigran tertentu berhasil menanjak secara ekonomi lebih cepat dari warga lokal, muncul disonansi psikologis, semacam rasa tidak adil yang membakar kecemburuan kolektif.

Hal ini memperkuat perasaan bahwa sistem ekonomi dan sosial “tidak berpihak pada orang dalam negeri,” padahal kenyataannya, perbedaan keberhasilan sering kali dipengaruhi oleh faktor seperti etos kerja, jaringan sosial, dan dukungan kebijakan. Di titik ini, persepsi menjadi lebih menentukan daripada fakta objektif.

Jika dibiarkan, ketegangan ekonomi ini mudah bergeser menjadi konflik sosial yang lebih dalam. Ia mengendap dalam bentuk komentar sinis, diskriminasi halus di lingkungan kerja, atau penolakan tidak langsung terhadap kebijakan imigrasi. Ketika tekanan ekonomi bertemu dengan kegelisahan identitas budaya, keduanya membentuk lingkaran psikologis yang sulit diputus: rasa takut kehilangan pekerjaan memperkuat stereotip budaya, dan stereotip itu sendiri memperburuk jurang sosial.

Di sinilah persoalan ekonomi berhimpitan dengan ranah psikologis yang lebih luas. Ketika kompetisi ekonomi berubah menjadi konflik identitas, masyarakat tidak hanya terbelah secara material, tetapi juga emosional. Dari titik ini, kita melihat munculnya gejala yang lebih dalam seperti polarisasi, stigma, dan rasa lelah hidup berdampingan dalam keberagaman, sebuah kondisi yang dapat disebut sebagai multicultural fatigue.

Refleksi dan Solusi: Dari Reaksi ke Adaptasis

Pada akhirnya, yang dihadapi bukan semata persoalan perilaku individu atau kebijakan ekonomi, melainkan tantangan adaptasi psikologis antarperadaban. Setiap kali dua sistem nilai yang berbeda bersinggungan, akan muncul gesekan, namun gesekan itu tidak selalu harus berakhir sebagai konflik.

Gesekan tersebut bisa menjadi ruang pembelajaran sosial jika dikelola dengan cerdas dan terbuka. Di sinilah pentingnya literasi lintas budaya atau cultural intelligence: kemampuan untuk memahami, menyesuaikan, dan berinteraksi secara efektif dengan mereka yang berasal dari latar belakang berbeda. Bukan hanya imigran yang perlu mempelajarinya, tetapi juga masyarakat lokal agar tidak terjebak pada ketakutan dan prasangka.

Dari sisi kebijakan, pemerintah di negara mana pun perlu bergerak melampaui pendekatan imigrasi yang semata berbasis ekonomi. Mengundang pekerja asing tidak cukup hanya dengan kontrak kerja dan visa melainkan harus ada strategi integrasi sosial yang jelas. Pendidikan publik, kursus budaya lokal bagi pendatang, hingga mekanisme mediasi komunitas dapat menjadi sarana membangun rasa saling memiliki. Kebijakan yang berpihak pada integrasi, bukan sekadar produktivitas, akan menurunkan potensi gesekan sosial dalam jangka panjang.

Di tingkat masyarakat, kampanye publik yang menekankan pentingnya shared civic norms, nilai-nilai kewargaan bersama seperti kebersihan, rasa hormat, dan tanggung jawab sosial, bisa menjadi jembatan di tengah perbedaan. Ketika orang dari berbagai latar budaya melihat diri mereka berbagi ruang dan aturan moral yang sama, “kami” dan “mereka” pelan-pelan larut menjadi “kita.”

Refleksinya sederhana, dunia global saat ini tidak lagi memberi kita pilihan antara menolak atau menerima perbedaan, melainkan menantang kita untuk mengelolanya dengan matang. Reaksi emosional mungkin tak terhindarkan, tapi masa depan bersama menuntut adaptasi yang cerdas, baik secara sosial maupun psikologis. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: imigranindiaPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Next Post

Ketika Guru Bertanya, Siswa Belajar: Menghidupkan Kelas dengan Keterampilan Bertanya Dasar

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Guru Bertanya, Siswa Belajar: Menghidupkan Kelas dengan Keterampilan Bertanya Dasar

Ketika Guru Bertanya, Siswa Belajar: Menghidupkan Kelas dengan Keterampilan Bertanya Dasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co