12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [36]: Pencuri Terjebak di Gudang Kampus

Chusmeru by Chusmeru
October 16, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MENCARI pekerjaan saat ini tidak semudah yang dibayangkan. Banyak faktor yang ikut menentukan seseorang mendapat pekerjaan. Salah satunya faktor pendidikan dan keterampilan. Persaingan di dunia kerja sangat ketat. Selain memiliki ijazah pendidikan tinggi, orang juga dituntut memiliki keterampilan yang selaras dengan perkembangan zaman.

Jaringan dan koneksi kadang juga ikut menentukan. Memiliki pendidikan tinggi dan keterampilan tetapi tidak mempunyai jaringan yang baik juga sulit mendapat pekerjaan. Meski kini era transparansi dan digitalisasi, koneksi turut mewarnai penerimaan pegawai.

Tak kalah penting adalah faktor nasib. Tidak sedikit orang yang mudah mendapatkan pekerjaan karena nasib baik. Tentu saja nasib baik seseorang juga dibarengi dengan usaha, ikhtiar, dan perilaku yang baik, sehingga dimudahkan dalam mencari pekerjaan.

Persaingan yang ketat dalam dunia kerja dan terbatasnya lapangan kerja membuat mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan keterampilan tersisih. Banyak cerita, mereka yang menyandang gelar sarjana, lulusan S1 bekerja sebagai Satpam. Bahkan ada pula cerita yang berijazah S2 bekerja sebagai pengemudi ojek online. Ironis memang, tapi itulah keadaan zaman sekarang.

Apalagi bagi mereka yang hanya tamat SMA atau SMP. Mendapatkan pekerjaan yang bisa menghidupi diri dan keluarga amatlah sulit. Hal itu dirasakan betul oleh Kamiso dan Sapon, dua orang yang bersahabat sejak kecil. Mereka berdua hanya tamat SMP, dan hingga kini belum mendapat pekerjaan yang tetap. Kerja mereka serabutan. Kadang seminggu bekerja, kadang hingga lama menganggur.

Mereka masih lajang. Usia mereka sama, 23 tahun. Nama Kamiso merupakan singkatan dari hari lahir dan waktu lahirnya, Kamis sore. Orang tuanya tak ingin sulit-sulit mencari nama untuk anaknya, diberilah nama Kamiso, anak yang lahir di hari Kamis sore. Begitu pula dengan Sapon yang merupakan singkatan dari hari lahir dan wetonnya, Selasa Pon.

Kamiso dan Sapon sebenarnya mau disuruh orang bekerja apa saja. Membersihkan rumput dan tanaman liar di halaman rumah tetangga mereka kerjakan. Memperbaiki genting yang pecah juga mereka kerjakan. Bahkan mereka berdua tidak memasang tarif upah buruhnya. Berapa pun yang diberikan tetangga akan mereka terima.

Hanya saja, tidak setiap hari pekerjaan seperti itu mereka dapatkan dari para tetangga. Jika sudah demikian mereka akan menganggur. Menongkrong sambil mengobrol di poskamling, itulah yang akan mereka lakukan. Atau kadang mereka akan memancing ikan di sungai yang tidak jauh dari rumah mereka.

***

Entah setan apa yang merasuki pikiran Kamiso. Ketika sedang mengobrol dengan Sapon, tiba-tiba muncul gagasan Kamiso untuk mengajak Sapon mencuri di gudang kampus yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Tentu saja Sapon terkejut.

“Mencuri..??? Nggak mau ah !” tolak Sapon.

“Kenapa?” tanya Kamiso saat Sapon tak mau diajak mencuri.

“Mencuri itu dosa,” kata Sapon memberi alasan.

“Tapi kita berdua lama menganggur. Nggak bisa beli rokok..,” Kamiso mencoba membujuk Sapon.

“Tapi aku takut kalau ketahuan, kita akan ditangkap dan dihukum,” kata Sapon tetap menolak.

“Ya jangan sampai ketahuan. Kita curi barang-barang bekas di gudang kampus yang bisa dijual. Itu kan barang-barang yang sudah tidak terpakai,” ujar Kamiso meyakinkan Sapon.

“Tapi kampus itu kata orang angker. Banyak hantunya..,” Sapon berusaha tetap menolak ajakan Kamiso.

Kamiso tampak agak kesal dengan penolakan berkali-kali dari Sapon. Ia hampir kehilangan akal lagi untuk membujuk Sapon. Meski Kamiso juga sering mendengar jika kampus di dekat rumahnya dikenal banyak hantunya.

“Memangnya kamu takut sama hantu. Kamu pernah melihat hantu..??!!” tanya Kamiso bernada kesal.

Sapon terdiam. Ia merasa tidak enak hati dengan sahabatnya. Ia tahu Kamiso anak yang pemberani. Teman-teman di kampungnya tidak ada yang berani usil kepada Kamiso, karena tubuhnya juga kekar. Kamiso juga sangat baik kepada Sapon. Waktu mereka masih kecil, bila ada anak yang nakal atau usil kepada Sapon, pasti Kamiso akan turun tangan membelanya.

“Baiklah, aku ikut kamu saja,” ujar Sapon menuruti ajakan Kamiso.

“Nah gitu dong.. besok malam Minggu kita ke kampus. Biasanya kalau hari Sabtu kampus sepi, tidak ada yang kuliah,” kata Kamiso menyusun rencana.

Malam Minggu yang ditunggu pun tiba. Kamiso dan Sapon bersiap ke kampus untuk mencuri barang-barang bekas di gudang yang masih bisa untuk dijual di pasar loak. Tidak ada persiapan khusus untuk melakukan aksi mereka. Kamiso hanya membawa beberapa perlengkapan seperti obeng dan tang kombinasi untuk membuka kunci gudang, serta kain bekas spanduk untuk membungkus barang yang akan mereka curi.

Malam sudah larut. Kamiso memperkirakan Satpam penjaga kampus sudah istirahat dan tidak mungkin keliling kampus untuk memeriksa keadaan. Kamiso dengan tenang memasuki halaman kampus lewat pintu gerbang belakang. Sedangkan Sapon mengikuti langkah Kamiso dengan hati berdebar-debar, antara takut ketahuan Satpam dan takut melihat hantu di kampus.

Tiba di depan gudang, mereka mengamati sekeliling. Tidak ada tanda-tanda orang melintas. Perlahan Kamiso membuka gembok pintu gudang. Tidak terlalu sulit. Pintu gudang terbuka. Beruntung lampu di gudang menyala, meski agak redup. Kamiso dan Sapon mengamati beberapa barang bekas yang ada di gudang.

Begitu banyak barang bekas yang tersimpan di gudang kampus. Fakultas memang tidak boleh menjual barang yang sudah tidak terpakai, karena semua barang inventaris negara tidak boleh dijual. Karenanya gudang penuh dengan barang bekas.

Kamiso tertarik dengan komputer dan TV bekas yang tergeletak di sudut gudang. Ia memerintahkan Sapon untuk mengambilnya. Komputer dan TV segera dibungkus oleh Sapon dengan kain bekas spanduk. Mereka berhasil menggasak barang elektronik di gudang.

Baru saja hendak mengangkut barang curian, mereka dikejutkan oleh munculnya sosok perempuan berambut panjang di dalam gudang. Berbarengan dengan itu, tercium bau wangi daun pandan. Kamiso kaget bukan kepalang. Sapon berdiri gemetaran. Wajah perempuan itu layu, namun tatapan matanya tajam tertuju ke arah Kamiso dan Sapon.

Kaki Sapon gemetaran. Keringat dingin ia rasakan di kening dan telapak tangannya. Ia memandang Kamiso untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Kamiso masih bingung, kaget, dan sedikit ciut nyalinya. Kamiso tak menduga akan melihat hantu perempuan di gudang kampus. Tampak jelas di bawah sorot lampu gudang, hantu perempuan berambut panjang itu terus menatap mereka.

“Ayo kabur.. cepat..!!!” perintah Kamiso kepada Sapon.

“Bawa barangnya..!” Kamiso mengingatkan Sapon yang masih memegangi barang curian mereka.

Hantu perempuan itu masih memandangi Kamiso dan Sapon ketika mereka bergegas keluar dari gudang. Suasana kampus semakin sunyi seiring larutnya malam. Kamiso dan Sapon berhasil membawa kabur barang curian. Namun suasana mencekam dan menakutkan masih membututi mereka. Sosok perempuan di dalam gudang seolah mengikuti setiap langkah mereka.

***

 Dua minggu sudah Kamiso dan Sapon menikmati hasil curian mereka di gudang kampus. Komputer dan TV bekas telah dijual di pasar loak. Meski tetap dibayangi kecemasan, mereka masih bisa mengobrol sambil mengisap rokok. Uang hasil curian mereka bagi berdua. Tidak terlalu banyak, tapi bisa untuk mengobati rasa jenuh lantaran lama menganggur.

Di sela obrolan mereka, kembali muncul gagasan Kamiso untuk mencuri barang bekas di gudang kampus. Tentu saja tidak segera disetujui Sapon. Ia masih menyisakan rasa takut saat melihat hantu perempuan di dalam gudang.

“Aku nggak mau lagi ketemu hantu perempuan itu. Seram..,” ucap Sapon menolak ajakan Kamiso.

“Tenang saja.. nanti aku bawa sambetan,” kata Kamiso menyakinkan temannya.

“Sambetan..???” tanya Sapon seolah ragu.

“Iya.. untuk tolak bala. Hantu perempuan itu pasti takut kita bawa sambetan,” jawab Kamiso.

Sapon tidak segera menyetujui usulan Kamiso. Meski ia tahu apa yang akan dibawa Kamiso. Sambetan dalam masyarakat Jawa adalah rangkaian rempah-rempah yang terdiri dari dringo, bengle, lengkuas, jahe, kunir, dan bawang merah. Sambetan dipercaya dapat menolak bala, menjauhkan manusia dari godaan makhluk halus.

“Bagaimana? Mau nggak?” tanya Kamiso saat melihat Sapon masih ragu.

“Oke dech..,” jawab Sapon menyetujui usulan Kamiso untuk kembali mencuri di gudang kampus.

Raut wajah gembira ditunjukkan Kamiso. Ia segera membuat rencana untuk mencuri barang bekas di gudang kampus. Walau sempat sedikit takut lantaran bertemu hantu perempuan di gudang, namun Kamiso memerlukan uang untuk jajan dan beli rokok. Ia berharap akan kembali berhasil membawa barang elektronik untuk dijual di pasar loak.

Berbekal sambetan yang dirangkai Kamiso, dua teman akrab itu kembali mendatangi gudang kampus di tengah malam. Suasana kampus tampak lengang. Tidak terlihat orang melintas di seputaran halaman dan gudang kampus. Sementara Sapon tetap saja merasa takut akan muncul hantu perempuan, meskipun Kamiso sudah berbekal rempah-rempah tolak bala.

Perlahan Kamiso mencongkel gembok gudang. Sapon mengamati sekeliling. Dirasa aman, mereka memasuki gudang. Mereka melihat ke sekeliling gudang. Tidak tercium aroma wangi daun pandan. Tak terlihat hantu perempuan di dalam gudang.

“Ambil mesin printer saja,” kata Kamiso kepada Sapon.

Sapon mengambil mesin printer dan membungkusnya dengan kain bekas spanduk. Lumayan masih belum begitu rusak. Kamiso mencoba melihat-lihat barang bekas lain yang masih layak jual. Ketika hendak mengambil proyektor bekas, tiba-tiba lampu di gudang padam. Kamiso dan Sapon kaget. Mereka mencoba menerangi gudang dengan senter yang ada di ponsel.

Ketika mereka akan keluar dari gudang, mendadak pintu gudang menutup dengan sendirinya. Sudah pasti mereka terkejut. Padahal tidak ada angin yang bertiup ke arah gudang. Sapon gemetaran. Bulu kuduknya berdiri. Berkali-kali Kamiso mencoba membuka pintu gudang, namun tetap saja tidak bisa dibuka. Seolah ada yang menguncinya dari luar gudang.

Kamiso dan Sapon terjebak di dalam gudang kampus. Suasana gudang yang gelap menjadi tambah menyeramkan. Sapon juga berusaha menarik pintu gudang, namun tak berhasil. Mereka benar-benar terjebak di dalam gudang dalam keadaan gelap. Kamiso dan Sapon bertambah takut saat terdengar lengkingan suara tawa perempuan di luar gudang. Hantu perempuan itu telah mengunci Kamiso dan Sapon di dalam gudang.

Cukup lama mereka terjebak di gudang. Hari sudah menjelang pagi. Mereka masih berusaha membuka gudang, dan tetap tak berhasil. Udara yang pengap di dalam gudang ditambah suasana yang menyeramkan membuat mereka tegang dan berkeringat dingin.

Hari bertambah terang. Semburat sinar menembus masuk ke dalam gudang. Wajah Kamiso dan Sapon tampak pucat dan tubuhnya terasa lemas. Sayup terdengar langkah orang di sekitar gudang. Satpam kampus melakukan pemeriksaan di area fakultas.

“Tolong.. tooloong!!!” teriak Kamiso dan Sapon.

Satpam kampus terkejut mendengar teriakan minta tolong dari dalam gudang. Ia lihat gudang tidak terkunci. Gemboknya sudah terlepas. Cepat-cepat ia buka pintu gudang. Tampak Kamiso dan Sapon terduduk lemas di gudang. Wajahnya pucat ketakutan. Melalui radio panggil, Satpam kampus memanggil rekan yang lain.

Kamiso dan Sapon ditangkap dan diinterogasi oleh Satpam kampus. Mereka dibawa ke pos Satpam. Kamiso mengakui apa yang mereka lakukan. Sementara Sapon tampak gelagapan saat ditanya. Ia takut akan dilaporkan polisi dan dipenjara.

Pihak fakultas tidak memproses hukum Kamiso dan Sapon dengan alasan kemanusiaan. Namun Kamiso dan Sapon diminta untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Menurut pihak fakultas, meskipun barang-barang yang ada di gudang sudah tidak terpakai, namun masih tercatat sebagai inventaris yang harus dipertanggungjawabkan kepada negara.

Sejak peristiwa pencurian di gudang kampus, pihak fakultas memasang kamera pengintai di sekitar gudang. Harapannya, orang akan berpikir dua kali ketika berniat mencuri barang-barang di gudang. Apakah hantu perempuan di dalam gudang juga akan terekam kamera pengintai? Entahlah. [T]   

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

       

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

9 Mata Lomba, 370 Peserta — Utsawa Dharma Gita se-Bali Digelar 24-29 Oktober 2025

Next Post

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Betara Bagia Desa Adat Padangtegal Dibuat dengan Sentuhan Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co